Ahlul Bid’ah Adalah Orang-Orang Munafik
Bila kita amati kriteria munafik yang disebutkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 1/347-356 maka akan kita dapati kriteria tersebut ada pada ahlul bid’ah. Seluruhnya atau sebagiannya di antaranya adalah :
[1] Pada hati munafiqin dan ahli bid’ah sama-sama memiliki penyakit, baik penyakit syahwat maupun syubhat serta berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 7)
Disebutkan dalam sebuah riwayat bahawa Abu Ghalib pernah bercerita, "Dahulu tatkala saya berada di Syam, Al Muhallab mengirimkan 80 kepala orang khawarij lalu digantung di tiang-tiang kota Damasqus. Suatu hari saya berada di loteng rumahku. Terlihat Abu Umamah Al Bahili radliyallahu 'anhu melalui tempat itu. Maka saya turun mengikutinya. Tatkala beliau sampai di hadapan mereka (yakni kepala orang-orang khawarij yang digantung), beliau menitiskan air mata lalu berkata :
“Subhanallah! Apa yang telah diperbuat syaitan terhadap Bani Adam!" (Beliau mengatakannya tiga kali).
كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ
“Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” (Tiga kali) "Seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah naungan langit! Sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka (khawarij) bunuh. Beruntunglah bagi orang yang membunuh mereka atau orang yang mereka bunuh.”
Lalu beliau menoleh kepada saya sambil mengatakan : “Wahai Abu Ghalib, sesungguhnya engkau berada di suatu daerah yang banyak terdapat orang seperti mereka (khawarij). Mudah-mudahan Allah melindungimu.” Saya bertanya, “Lalu kenapa Anda menangis tatkala memandang mereka?” Beliau menjawab, “Saya menangis tatkala melihat mereka sebagai rasa kasih sayang kerana mereka adalah Ahlul Islam (Muslimin)? Apakah engkau hafal surah Ali Imran?” Saya menjawab, “Betul.” Maka beliau membaca (ayat di atas).
Beliau menjelaskan, “Sesungguhnya pada hati mereka ada penyimpangan maka Allah Ta'ala menyelewengkan mereka.” Lalu beliau membaca ayat,
يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
“Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram.” (Ali 'Imran: 106) Sampai akhir ayat.
Saya bertanya : “Apakah mereka yang dimaksud dalam ayat ini, wahai Abu Umamah?” Beliau menjawab, “Benar.” Saya bertanya lagi,
أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ: هَؤُلاَءِ كِلاَبُ الناَّرِ، أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
“Ini dari pendapat Anda semata ataukah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam?”
Beliau menjawab,
إِنِّي لَجَرِيْءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ
“Kalau begitu saya sangat lancang! Namun saya mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak hanya sekali, dua kali, tiga kali, … .” (Beliau menghitungnya sampai tujuh kali).(Riwayat Al Lalikai dalam Syarah Ushul 151-152, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 68, Al Baihaqi 8/188, Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 8035, dan Ibnu Nash dalam As Sunnah 16-17. Riwayat ini dihasankan Syaikh Al Albani dalam Dhilalul Jannah halaman 34 nombor 68 dan Syaikh Al Hilali dalam Tahqiq Al I’tisham karya Asy Syathibi).
Tiada ulasan:
Catat Ulasan
Nota: Hanya ahli blog ini sahaja yang boleh mencatat ulasan.