Pages

Memaparkan catatan dengan label munafik. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label munafik. Papar semua catatan

Sabtu, 15 Julai 2017

MUSRYIK, SYIRIK, KAFIR

MUSYRIK

Musyrik adalah orang yang mempersekutukan Allah, mengaku akan adanya Tuhan selain Allah atau menyamakan sesuatu dengan Allah. Perbuatan itu disebut musyrik.
Firman Allah: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Q.S. Luqman [31]:13)

Dengan demikian orang musyrik disamping menyembah Allah mengabdikan kepada Allah, juga mengabdikan dirinya kepada yang selain Allah. Jadi org musyrik itu ialah mereka yg mempersekutukan Allah baik dalam bentuk I’tikad (kepercayaan), ucapan maupun dalam bentuk amal perbuatan. Mereka (orang musyrik) menjadikan mahkluk yang diciptakan Allah ini baik yang berupa benda maupun manusia sebagai Tuhan dan menjadikan sebagai An dad, Alihah, Thoughut dan Arbab…..
  • Alihah ialah suatu kepercayaan terhadap benda dan binatang yang menurut keyakinannya dapat memberikan manfaat serta dapat menolak bahaya. Misalnya kita memakai cincin merah delima, dan kita yakin bahawa dengan memakainya dapat menghindarkan bahaya. Adapun kepercayaan memelihara burung Terkukur dapat memberikan kemajuan dalam bidang perniagaannya. Dan itulah dinamakan Alihah, yakni menyekutukan Allah dengan binatang dan benda (Kepada Makhluk).

  • Andad, sesuatu perkara yang mencintai dan menghormati makhluk melebihi daripada cintanya kepada Allah, sehingga dapat memalingkan seseorang dari melaksanakan ketaatan terhadap Allah dan RasulNya. Misalnya saja seorang yang senang mencintai kepada benda, keluarga, rumah dan sebagainya, dimana cintanya melebihi cintai terhadap Allah dan RasulNya, sehingga mereka melalaikan dalam melaksanakan kewajiban agama, disebabkan terlalu cintanya terhadap benda (makhluk) tersebut.

  • Thoghut ialah orang yang ditakuti dan ditaati seperti takut kepada Allah, bahkan melebihi rasa takut dan taatnya kepada Allah, walaupun keinginan dan perintahnya itu harus berbuat durhaka kepadaNya.

  • Arbab, ialah para pemuka agama (ulama, ustad) yang suka memberikan fatwa, nasihat yang menyalahi ketentuan (perintah dan Larangan) Allah dan RasulNya, kemudian ditaati oleh para pengikutnya tanpa diteliti sumber perintah tersebut. Para pemuka agama itu telah menjadikan dirinya dan dijadikan para pengikutnya Arbab (Tuhan selain Allah).
  • Bentuk musyrik ini menyesatkan terhadap perilaku manusia. Dan dengan memiliki aqidah seperti itu dapat menghilangkan Keimanan.
    SYIRIK
    Syirik adalah perbuatan menyembah atau menyekutukan sesuatu selai Allah, perbuatan ini termasuk dalam dosa besar.

    Contoh-contoh Syirik:

    a. Menyembah sesuatu selain Allah
    Menyembah sesuatu selain Allah adalah termasuk syrik yang paling berat dan tinggi. Mereka ini menyembah benda-benda, patung, batu, kayu, kubur bahkan manusia dan lain-lainnya. Mereka percaya bahwa benda-benda (makhluk) tersebut adalah tuhan-tuhan yang dapat mendatangkan kebaikan dan keburukan. Termasuk dalam tahap syrik seperti ini adalah mengadakan pemujaan seseorang tokoh pepimpin.

    b. Mempersekutukan Allah.
    Mempercayai bahwa makhluk selain Allah itu mempunyai sifat-sifat seperti yang ada pada Allah. Dalam kategori mempersekutukan Allah ini adalah faham Trintas menurut kepercayaan Kristian, begitu faham Trimurti menurut kepercayaan agama Hindu, yang mempercayai bahawa Tuhan itu ada tiga, Brahman (tuhan menciptakan alam seisinya), Wisnu (tuhan yang memelihara Alam) dan Syiwa (tuhan yang menghancurkan alam).

    c. Mempertuhankan Manusia.
    Mempertuhankan manusia atau menjadikan manusia sebagai tuhannya adalah termasuk syrik atau mempersekutukan Allah. Termasuk didalam mengtuhankan manusia itu adalah pemuka-pemuka agama, ulama, pendeta, para auliya’, para solehin dan sebagainya.
    Dalam ajaran ilmu Tauhid terlalu mengagungkan, mendewakan seseorang itu dinamakan Ghuluwwun, artinya terlalu mengagungkan dan meninggikan derajat makhluk sehingga ditempatkan pada kedudukan yang bukan sepatutnya menempati kedudukan itu kecuali Allah.


    Bahaya Syirik

    Firman Allah:
    maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka Jahannam tempat tinggal bagi orang-orang kafir. (Q.S. Al-Kahfi [18]:102)

    Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Q.S. An-Nisa [4]:48)
    Sabda Rasulullah:
    Sesuatu yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik asghar”. Lalu beliau ditanya tentang (maksud) hal tersebut (syirik asghar), maka beliau menjawab “Riya’. [HR. Ahmad, hasan]

    Dalam Sunan Tirmidzi, dari Anas Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:
    Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian engkau datang kepada-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunah sepenuh bumi pula.

    MUNAFIK
    Munafik adalah golongan orang yang tidak mendapat hidayah atau petunjuk dari Allah, sehingga jalan hidupnya yang ditempuhi tidaklah mengandungi nilai-nilai ibadah dan segala amal yang dikerjakan tidak mencari keridhaan Allah.

    Orang munafik adalah orang yang bermuka dua, mengaku beriman padahal hatinya ingkar. Perbuatan orang munafik disebut Nifaq. Perbuatannya hanya sebatas perkataan saja. Segala amal perbuatan yang dikerjakan itu bukan ditegakkan di atas dasar keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah, akan tetapi hanya didasarkan pada perasaan dan hawa nafsunya semata-mata untuk mencari muka, penampilan, mengambil hati dalam masyarakat dan pandangan orang belaka. Segala perbuatan baiknya itu hanya dijadikan tempat berlindung untuk menutupi segala keburukan I’tikad dan niatnya.

    Tanda-tanda munafik.

    a. Ingin menipu daya Allah.

    Firman Allah: Dan diantara manusia ada yang mengatakan, aku beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang yang beriman. Mereka itu hendak menipu Allah berserta orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 8-9)

    b. Lebih suka memilih orang kafir sebagai pepimpinnya.
    Allah berfirman:
    (yaitu) orang yang mengambil orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan disisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. (Q.S. An-Nisa’ [4]:139)

    c. Tidak ingin diajak berhukum dengan hukum Allah dan RasulNya.
    Firman Allah:
    Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (Q.S. An-Nisa [4]:61)

    d. Malas menegakkan solat, kecuali untuk riya
    Firman Allah: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Q.S. An-Nisa [4]:142)

    e. Berdusta apabila berkata, menyalahi janji dan khinat.
    Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat”

    KAFIR
    Kafir bermakna orang yang ingkar,yang tidak beriman (tidak percaya) atau tidak beragama Islam. Dengan kata lain orang kafir adalah orang yang tidak mahu memperhatikan serta menolak terhadap segala hukum Allah atau hukum Islam disampaikan melalui para Rasul (Muhammad SAW) atau para penyampai dakwah/risalah. Perbuatan yang semacam ini disebut dengan kufur.
    Kufur pula bermaksud menutupi dan menyamarkan sesuatu perkara. Sedangkan menurut istilah ialah menolak terhadap sesuatu perkara yang telah diperjelaskan adanya perkara yang tersebut dalam Al Quran. Penolakan tersebut baik langsung terhadap kitabnya ataupun menolak terhadap rasul sebagai pembawanya.
    Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), ● merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Q.S. An-Nisa [4]:151-151)
    Pembahagian Kafir.
    a. Kafir yang sama sekali tidak percaya akan adanya Allah, baik dari segi zahir dan batin seperti Raja Namrud dan Firaun.

    b. Kafir jumud (membantah). Orang kafir jumud ini pada hatinya (pemikirannya) mengakui akan adanya Allah TAPI tidak mengakui dengan lisannya, seperti Iblis dan sebagainya.
    c. Kafir ‘Inad. Orang kafir ‘Inad ini, adalah mereka pada hati (pemikiran) dan lisannya (sebutannya) mengakui terhadap kebenaran Allah, TAPI tidak mahu mengamalkannya, mengikuti atau mengerjakannya seperti Abu Talib.
    d. Kafir Nifaq yaitu orang yang munafik. Yang mengakui pada lisannya saja terhadap adanya Allah dan Hukum Allah, bahkan suka mengerjakannya Perintah Allah, TAPI hatinya (pemikirannya) atau batinnya TIDAK mempercayainya.
    Tanda Orang Kafir.
    a. Suka memecahbelah antara perintah dan larangan Allah dengan RasulNya.
    b. Kafir (ingkar) akan perintah dan larangan Allah dan RasulNya.
    c. Iman kepada sebahagian perintah dan larangan Allah (dari Ayat Al Quran), tapi menolak sebagian darinya.
    d. Suka berperang dijalan Syaitan (Thoghut).
    e. Mengatakan Nabi Isa AL Masih adalah anak Tuhan.
    f. Agama menjadi bahan senda gurau atau permainan .
    g. Lebih suka kehidupan duniawi sehingga apapun yang dikerjakan hanya mengikut hawa nafsu saja, tanpa menghiraukan hukum Allah.
    h. Mengingkari adanya hari Akhirat, hari pembalasan, syurga dan neraka.
    i. Menghalangi manusia untuk kembali ke jalan Allah.

    Seorang Muslim tidak dilarang berhubungan baik (bersahabat) dengan orang kafir bahkan hal itu di anjurkan dalam Islam karena hal itu juga bisa dijadikan sarana berdakwah. Hal yang dilarang adalah adanya hubungan yang bertujuan untuk memusuhi Allah dan RasulNya (Hukum Allah), termasuk merusakkan aqidah Islam.
    MURTAD
    Ialah orang Islam yang keluar dari Islam yakni mengingkari semua ajaran Islam, baik dari segi Keyakinan, ucapan dan/atau perbuatannya. Semua amalan orang murtad akan dimusnahkan dan tidak dinilai pada hari akhirat nanti. Apabila ia tidak segera kembali kepada Islam serta bertaubat bersungguh-sungguh.
    NAMIMAH
    Namimah adalah menukilkan perkataan dua orang yang bertujuan untuk berbuat kerusakan, menimbulkan permusuhan dan kebencian kepada sesama mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, ● yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, (QS. al-Qalam [68]:10-11)
    Contoh dari Namimah ini: ketika si A berkata kepada si B tentang si C; bahwa si C itu orangnya tamak, rakus. Kemudian si B tanpa tabayyun (klarifikasi) menyampaikan kepada si C perkataan si A dengan tujuan agar si C marah dan benci kepada si A. Maka dengan demikian si B dapat dikatakan sebagai orang yang berbuat Fitnah (Namimah) yaitu sebagai penyebar fitnah.
    Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. (Q.S. Al-Muzzammil [73]:4)
    ● Demi masa. ● Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, ● kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Asr [103]:1-3)
     
    Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (Q.S. Ibrahim [14]:35)
     
    Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (Q.S. Aal-Imran [3]:8)
     
    Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Q.S. Ibrahim [14]:40)

    Khamis, 3 November 2016

    Ciri-ciri Dan Doktrin Munafik

    Ciri-ciri Dan Doktrin Munafik

    Gerakan munafik bermula di Madinah di bawah pimpinan Abdullah bin Ubai. Abdullah bin Ubai, sebelum kedatangan Rasulullah s.a.w ke Madinah, merupakan seorang yang sangat berpengaruh di sana sebagaimana kedudukan Abu Sufyan di Makkah.

    Selepas Perang Bu'as tamat penduduk Madinah (nama asalnya Yasrib) sudah sepakat untuk melantik Abdullah bin Ubai sebagai raja di Madinah, malah mahkotanya pun sudah siap dibuat.

    Masyarakat Madinah bersetuju melantik Abdullah bin Ubai menjadi raja menunjukkan dia memiliki sifat-sifat yang menyebabkan dia dihormati dan dimuliakan.

    Sebelum Nabi Muhammad s.a.w berhijrah ke Madinah, kaum Yahudi sudah lama bertapak di sana. Kaum Yahudi dikenali sebagai ahli Kitab, orang beragama yang memiliki peradaban yang mulia.

    Kaum Yahudi juga menguasai bidang ekonomi dan mempunyai kekuatan dalam bidang ketenteraan. Kaum Yahudi yang dikenali sebagai ahli agama, ahli ilmu, ahli ekonomi dan ahli ketenteraan menyebabkan mereka dipandang tinggi oleh orang Arab Madinah.

    Orang Arab Madinah memandang kaum Yahudi sebagai manusia yang berjaya dan disegani. Kedudukan kaum Yahudi yang demikian menyebabkan orang Arab Madinah suka meniru peradaban Yahudi tetapi mereka tidak memeluk agama Yahudi.

    Bagi orang Arab agama Yahudi dilihat sebagai khusus untuk orang Yahudi sahaja. Walaupun tidak menerima agama Yahudi tetapi banyak daripada nilai-nilai moral Yahudi diterima pakai oleh orang Arab Madinah.

    Golongan Arab Madinah yang berilmu merupakan orang yang paling banyak menceduk peradaban Yahudi dan meng-Arabkan peradaban tersebut. Di antara mereka adalah Abdullah bin Ubai.

    Kumpulan Abdullah bin Ubai mempraktikkan nilai-nilai moral yang lebih tinggi daripada orang Arab Madinah yang lain. Oleh kerana itu mereka dipandang tinggi dan dihormati.

    Ketika Perang Bu'as hampir berlaku di antara dua puak terbesar di Madinah, kumpulan Abdullah bin Ubai menentang suku-suku mereka yang mahu berperang itu. Bila peperangan berlaku juga Abdullah bin Ubai tidak ikut serta dalam peperangan tersebut.

    Sikap berkecualinya itulah yang menyebabkan dia dicadangkan untuk menjadi raja setelah kedua-dua pihak yang berperang itu berdamai.

    Walaupun menimba dari telaga Yahudi namun ahli fikir Arab Madinah mempertahankan ke-Araban mereka. Sikap yang demikian menyebabkan terbentuk aliran pemikiran yang kabur. Ia bukan Yahudi dan bukan juga Arab.

    Mereka menganggap diri mereka setaraf dengan orang Yahudi yang berilmu dan mereka lebih mulia daripada umat Arab yang jahil.

    Oleh kerana apa yang terbentuk dalam aliran pemikiran mereka tidak jelas, maka tidak ada satu bentuk kepercayaan atau akidah yang mereka pertahankan.

    Mereka mempertahankan satu perkara sahaja, iaitu merekalah golongan Arab yang paling pintar dan apa sahaja yang datang daripada orang Arab yang lain tidak sama dengan apa yang ada dengan mereka.

    Apabila agama Islam datang ke Madinah dibawa oleh orang Arab Makkah, kumpulan Abdullah bin Ubai itu sudah ada keputusan sejak awal-awal lagi untuk menolaknya.

    Mereka menganggap apa yang baharu datang itu lebih rendah daripada apa yang ada dengan mereka. Mereka menjadi golongan yang tidak mempertahankan sebarang kepercayaan dan juga tidak ada satu kepercayaan yang mereka terima.

    Sebagaimana puak Yahudi yang menganggap semua bangsa di dunia lebih rendah daripada mereka, begitu juga kumpulan Abdullah bin Ubai yang meminum air daripada telaga Yahudi menganggap semua orang Arab lebih rendah daripada mereka.

    Mereka memandang rendah apa sahaja yang datang daripada orang Arab yang lain. Mereka adalah puak yang sudah ada keputusan untuk mengunci mata, telinga dan hati mereka daripada segala agama yang datang kepada mereka.

    Arus perkembangan Islam melanda Madinah dengan deras dan menyeluruh. Dalam masa kurang daripada satu tahun hampir keseluruhan penduduk Madinah sudah memeluk agama Islam.

    Segala aktiviti berpusat kepada Nabi Muhammad s.a.w dan agama Islam. Kumpulan Abdullah bin Ubai yang memandang diri mereka sebagai lebih mulia itu tidak ada pilihan melainkan ikut serta di dalam rentak perkembangan Madinah, jika tidak mereka akan tersisih.

    Penyertaan mereka di dalam arus tersebut juga bertujuan mencari jalan merampas semula kekuasaan di Madinah sebagaimana sebelum kedatangan agama Islam dan Nabi Muhammad s.a.w ke sana. Mereka mahu orang-orang Makkah meninggalkan Madinah.

    Oleh kerana mereka tidak mempunyai satu bentuk kepercayaan yang jelas dan tidak ada satu agama yang mereka pertahankan, maka mereka boleh bergerak cergas dalam apa juga medan kepercayaan atau agama.

    Istilah dosa, pahala, syurga, neraka, hari kiamat, halal dan haram tidak ada pada mereka. Akhirat tidak ada dalam pandangan mereka.

    Apabila tidak ada agama yang diperjuangkan dan tidak ada kepercayaan kepada perkara ghaib, kumpulan tersebut menyertai kegiatan agama orang lain dalam keadaan yang dipanggil munafik.

    Mereka memakai baju agama padahal mereka tidak ikhlas berbuat demikian dan tidak merelakannya.

    Munafik berbeza daripada kafir. Orang kafir tidak percaya kepada agama Islam kerana mereka mempunyai kepercayaan sendiri dan mereka pertahankan kepercayaan tersebut. Penentangan mereka terhadap Islam adalah jelas.

    Orang munafik pula di samping tidak beriman kepada agama Islam, mereka tidak mendatangkan kepercayaan yang menjadi alternatif dan mereka tidak menyebarkan sebarang bentuk kepercayaan.

    Oleh yang demikian mereka boleh menyertai kegiatan Islam seolah-olah mereka adalah orang Islam sejati dan mereka boleh menentang Islam seolah-olah mereka adalah orang kafir tulen.

    Mereka menganggapkan Islam sebagai baju yang boleh dipakai dan ditanggalkan menurut keadaan yang membawa keuntungan kepada mereka.

    Al-Quran menceritakan keadaan puak munafik:
    Dan sebahagian daripada manusia ada yang berkata: "Kami telah beriman kepada Allah dan Hari Kemudian".

    Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak memperdayakan Allah dan orang yang beriman, padahal mereka tidak perdayakan melainkan diri mereka sendiri sedangkan mereka tidak sedar.

    Di hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambahkan penyakit kepada mereka dan adalah bagi mereka seksaan yang pedih sebab mereka telah berdusta.

    Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerosakan di bumi", mereka menjawab: "Kami tidak lain melainkan orang yang membuat kebaikan".

    Ketahuilah bahawa mereka itu adalah orang yang membuat kerosakan tetapi mereka tidak sedar.

    Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah sebagaimana orang yang telah beriman". Mereka berkata, "Apakah harus kami beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman?"

    Ketahuilah mereka itulah orang-orang yang bodoh tetapi mereka tidak ketahui. Dan apabila mereka bertemu dengan orang yang beriman mereka berkata, "Kami telah beriman".

    Apabila bersendirian dengan syaitan-syaitan mereka, mereka berkata, "Kami beserta kamu. Kami tidak lain melainkan memperolok-olokkan (orang yang beriman)".
    ( Ayat 8-14 : Surah al-Baqarah )

    Yang tuli, yang bisu, yang buta. Lantaran itu mereka tidak akan kembali.
    ( Ayat 18 : Surah al-Baqarah )

    Orang munafik sangat berbeza daripada orang kafir. Orang kafir dengan tegas menyatakan tidak beriman baik secara terang atau pun secara bersembunyi.

    Ancaman azab neraka dan pujukan nikmat syurga tidak menarik orang kafir kepada iman.

    Orang munafik pula mengucap dua Kalimah Syahadah dengan lidah mereka dan tidak keberatan menyertai amalan ibadat bersama-sama orang Islam yang lain, tetapi ucapan dan ibadat yang dilakukan itu tidak berbekas pada hati mereka.

    Mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah s.w.t dan hari akhirat tetapi hati mereka kufur. Mereka adalah orang yang Islam pada zahir tetapi kafir pada hati.

    Perbuatan zahir mereka sesuai dengan perbuatan orang yang beriman kerana mereka mahu menyembunyikan apa yang ada dalam hati mereka. Ada kepentingan diri yang mereka mahu jaga.

    Puak munafik tidak mengakui kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad s.a.w. Bagi mereka Nabi Muhammad s.a.w hanyalah seorang lelaki Arab yang sama dengan lelaki Arab yang lain, yang tergolong dalam kalangan bangsa Arab yang mereka pandang lebih rendah daripada mereka.

    Mereka menolak kepimpinan Nabi Muhammad s.a.w. Mereka mahu agar baginda s.a.w mengikuti kepimpinan mereka. Mereka juga tidak mempunyai perasaan hormat kepada Nabi Muhammad s.a.w. Oleh kerana mereka menganggapkan Nabi Muhammad s.a.w, maka mereka tidak menerima kedudukan wahyu sebagai Kalam Allah s.w.t.

    Mereka menganggap wahyu hanyalah perkataan Nabi Muhammad s.a.w yang sama dengan perkataan orang lain yang boleh dihujah dan ditolak. Puak munafik, dengan kerjasama kaum Yahudi, sangat aktif di dalam mempertikaikan wahyu dan hadis Nabi Muhammad s.a.w.

    Tuhan memperingatkan Rasulullah s.a.w supaya berwaspada terhadap puak munafik yang akan mencuba untuk membawa baginda s.a.w tunduk kepada pemimpin mereka. Baginda s.a.w diperingatkan bahawa puak munafik itu tidak suka kepada baginda s.a.w.

    Wahai Nabi! Berbaktilah kepada Allah dan jangan engkau taat kepada kafir-kafir dan munafik-munafik, sesungguhnya Allah adalah Mengetahui, Bijaksana.
    ( Ayat 1 : Surah al-Ahzaab )

    Dan jangan engkau tunduk kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan biarkanlah gangguan mereka. Dan berserah dirilah kepada Allah kerana cukuplah Allah sebagai Pengawal.
    ( Ayat 48 : Surah al-Ahzaab )

    Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya", kamu melihat orang munafik berpaling daripadamu sungguh-sungguh.
    (ayat 61 : Surah an-Nisaa' )

    Dan dari kalangan mereka ada yang menyakiti Nabi dan mereka berkata, "Dia itu pendengar!" (Maksudnya mengiyakan sahaja apa yang orang lain kata).

    Katakanlah: "Dia memang pendengar kebaikan kamu, dia beriman kepada Allah dan dia percaya kepada mereka yang beriman, dan jadi rahmat bagi orang yang beriman di antara kamu". Dan mereka yang menyakiti Rasul Allah bagi mereka azab yang pedih.
    ( Ayat 61 : Surah at-Taubah )

    Sangat sukar menangani puak munafik kerana secara terangnya mereka mengaku beriman walaupun hati mereka menolak. Mereka juga sanggup bersumpah bagi menegakkan benang basah.

    Mereka akan bersumpah dengan Nama Allah kepada kamu untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang lebih patut mereka sukakan jika adalah mereka orang yang beriman.
    ( Ayat 62 : Surah at-Taubah )

    Oleh kerana puak munafik hidup dalam kepura-puraan mereka sangat takut jika rahsia mereka diketahui oleh orang lain.

    Amat takut orang munafik itu bahawa akan diturunkan atas mereka suatu surah yang mengkhabarkan kepada mereka apa yang ada dalam hati mereka.

    Katakanlah: "Perolok-olokkanlah! Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan apa yang kamu takutkan itu".
    (Ayat 64 : Surah at-Taubah )

    Apabila tembelang mereka pecah puak munafik itu akan berdalih secara selamba dan mudah. Bila bertembung dengan kebenaran yang tidak dapat dielakkan puak munafik tidak akan mempertahankan kesesatan dan kebohongan yang mereka telah lakukan.

    Dan jika engkau tanyakan kepada mereka tentu mereka akan berkata, "Kami ini hanya bergurau senda dan bermain-main". Katakanlah: "Apakah dengan Allah dan ayat-ayat-Nya dan (dengan) Rasul-Nya kamu hendak berolok-olok?"
    ( Ayat 65 : Surah at-Taubah )

    Puak munafik menyebarkan ajaran yang menyalahi syariat Islam. Apabila syariat meletakkan peraturan amal makruf dan mencegah yang munkar, puak munafik akan menilai yang makruf sebagai keuntungan duniawi dan yang munkar pula sebagai kerugiannya.

    Mereka menganggap zakat dan sedekah sebagai bukan amal makruf kerana ia merugikan dari segi keduniaan.

    Laki-laki munafik dan perempuan munafik yang sebahagian mereka adalah dari yang sebahagian, mereka menyuruh yang munkar dan melarang dari yang makruf dan mereka genggamkan tangan mereka (bakhil). Mereka telah melupakan Allah dan Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang munafik itu adalah orang yang fasik (melewati batas).
    ( Ayat 67 : Surah at-Taubah )

    Puak munafik pandai berdolak-dalih. Mereka berani menggunakan nama Allah bagi menutup kesesatan dan kekufuran mereka. Tuhan memerintahkan Nabi s.a.w agar berjihad memerangi orang munafik kerana mereka adalah orang yang kufur.

    Wahai Nabi! Berjihadlah terhadap kaum kafir dan munafik dan berlaku keraslah terhadap mereka.

    Tempat kembali mereka adalah jahanam dan itulah yang seburuk-buruk kesudahan.

    Mereka akan bersumpah dengan Nama Allah bahawa mereka tidak pernah berkata, padahal mereka pernah mengatakan kalimat kufur dan mereka telah kafir sesudah Islam dan mereka sangat mengingini apa yang tidak dapat mereka capai.

    Dan tidaklah kebencian mereka itu melainkan kerana Allah dan Rasul-Nya telah memperkayakan orang yang beriman dengan kurnia-Nya.

    Tetapi jika mereka bertaubat adalah baik bagi mereka dan jika mereka berpaling, Allah akan azabkan mereka dengan satu azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan tidak ada bagi mereka pembantu di bumi dan tidak ada penolong.
    ( Ayat 73 - 74 : Surah at-Taubah )

    Al-Quran memberi peringatan tentang ancaman puak munafik terhadap keselamatan dan kepercayaan orang yang beriman.

    Tuhan menamakan satu surah al-Quran dengan nama surah al-Munafiqun, bagi menyedarkan kaum Muslimin betapa bahayanya kehadiran puak munafik di dalam masyarakat kaum Muslimin.

    Tuhan menggesa Nabi Muhammad s.a.w dan kaum Muslimin semua zaman agar berwaspada terhadap tipu daya dan fitnah yang datang daripada puak munafik.

    Apabila orang munafik datang kepada kamu mereka akan berkata, "Kami mengakui bahawasanya kamu Rasul Allah," padahal Allah mengetahui bahawasanya engkau pesuruh-Nya dan Allah menyaksikan bahawasanya kaum munafik itu adalah orang yang berdusta.

    Mereka jadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perlindungan, lalu mereka halangi manusia dari jalan Allah. Sesungguhnya jelek apa yang telah mereka kerjakan.

    Yang demikian (adalah) lantaran beriman kemudian mereka kufur, lalu dimetrai atas hati mereka; oleh itu mereka tidak dapat memahami.
    ( Ayat 1 - 3 : Surah al-Munafiquun )

    Dan apabila engkau lihat mereka, menghairankan kamu tubuh-tubuh mereka; dan jika mereka berkata-kata, engkau dengarkan perkataan mereka. Mereka seolah-olah kayu yang disandarkan. Tiap-tiap teriakan mereka sangka buat membahayakan mereka. Mereka adalah musuh; maka hendaklah engkau awasi mereka. Allah laknati mereka! Ke manakah mereka dipalingkan?
    ( Ayat 4 : Surah al-Munafiquun )

    Tuhan memperingatkan sungguh-sungguh kepada Nabi s.a.w dan kaum Muslimin sekaliannya pada semua zaman, supaya jangan membiarkan racun yang ditabur oleh golongan munafik memusnahkan umat. Sekali lagi Tuhan memberi peringatan!

    Wahai Nabi! Berjihadlah menentang kaum kafir dan munafik dan berlaku keraslah terhadap mereka dan tempat kembali mereka itu adalah jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
    ( Ayat 9 : Surah at-Tahrim )

    Tuhan memberi peringatan kepada kaum Muslimin, sekiranya kegiatan puak munafik yang mencampur adukkan kesesatan dan kekufuran ke dalam akidah Islam tidak dibendung, nescaya umat Islam akan menemui kehancuran.

    Setiap umat Islam mestilah berwaspada terhadap orang munafik yang berada di tengah-tengah mereka. Tanda munafik mudah dikenal melalui keengganan mereka berjuang pada jalan Allah s.w.t.

    Dan supaya dibuktikan-Nya pula keadaan orang-orang munafik. Dikatakan kepada mereka:

    "Marilah berperang pada jalan Allah atau pertahankanlah." Mereka menjawab, "Kalau kami tahu berperang nescaya kami ikut kamu (berperang)."

    Mereka itu pada hari tersebut lebih hampir kepada kufur daripada kepada iman. Mereka berkata dengan mulut mereka apa yang tidak ada dalam hati mereka.

    Dan Allah lebih Mengetahui apa-apa yang mereka sembunyikan. (Adalah) mereka yang berkata kepada saudara-saudara mereka sambil mundur, "Kalau mereka ikut kami tentu mereka tidak terbunuh."

    Katakanlah: "Kalau begitu tolakkanlah kematian daripada kamu jika memang kamu orang yang benar."
    ( Ayat 167 - 168 : Surah a-Li ‘Imraan )

    Kemunafikan lebih ketara melalui amalan yang mereka lakukan sambil lewa sahaja, semata-mata sebagai pameran.

    Orang munafik menipu Allah dan Allah pun (balas) menipu mereka. Dan apabila mereka berdiri kepada sembahyang mereka berdiri dalam keadaan malas.

    Mereka menunjuk-nunjuk kepada manusia dan tidaklah mereka mengingati Allah kecuali sedikit. Keadaan mereka terumbang ambing di antara yang demikian itu, tidak kepada mereka itu, tidak kepada mereka ini; kerana barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak akan engkau dapat satu jalan (keselamatan) baginya.
    ( Ayat 142 - 143 : Surah an-Nisaa' )

    Tuhan memberi amaran yang keras kepada orang munafik:

    Sesungguhnya jika tidak berhenti juga orang munafik itu dan orang yang dalam hatinya ada penyakit dan pengacau-pengacau di Madinah, nescaya Kami akan kerahkan engkau terhadap mereka.

    Kemudian itu tidaklah mereka akan bertetangga lagi dengan engkau di situ kecuali bagi masa yang singkat.

    Mereka di dalam keadaan terkutuk di mana sahaja mereka dijumpai dan mereka akan dibunuh sampai semusnah-musnahnya.

    Sunah Allah yang telah berlaku pada orang-orang yang terdahulu. Dan sekali-kali tidak akan didapati bagi Sunnatullah itu satu pengganti.
    ( Ayat 60 -62 : Surah al-Ahzaab )

    Al-Quran telah memberi gambaran yang jelas tentang orang munafik. Rasulullah s.a.w dan kaum Muslimin mengenali puak munafik yang ada di dalam masyarakat mereka. Mereka dapat menunjukkan dengan jelas bahawa Abdullah bin Ubai adalah pemimpin puak munafik.

    Keterangan yang telah diberikan oleh al-Quran memberi manfaat bagi kaum Muslimin dalam mengawasi pergerakan puak munafik agar perpaduan, keselamatan dan kesejahteraan kaum Muslimin dapat dipelihara.

    Umat Islam yang datang kemudian mestilah memerhatikan petunjuk daripada al-Quran bagi mengenali musuh-musuh mereka.

    Abdullah bin Ubai telah pun mati. Markas puak munafik, sebuah masjid yang dibina di Zu Awan, sudah pun dibakar oleh kaum Muslimin pada zaman Rasulullah s.a.w. Tetapi kaum Muslimin perlu berwaspada kerana racun munafik masih berjalan hingga ke hari ini.

    Puak munafik terdiri daripada orang-orang yang sangat licik. Mereka hidup bersama-sama orang Islam, mengaku sebagai orang Islam dan melibatkan diri dalam kegiatan kaum Muslimin, malah mereka merasakan yang mereka lebih Islam daripada orang-orang Islam yang lain.

    Memang sukar untuk mengenali hati yang munafik, sedangkan mulutnya mengucapkan dua Kalimah Syahadah dan anggotanya melakukan ibadat bersama-sama kaum Muslimin yang lain.

    Orang munafik bergerak di dalam masyarakat orang Islam, sebagai orang Islam dan menggunakan ajaran Islam. Orang munafik melakukan apa yang sudah dibuat oleh kaum Yahudi dan Nasrani, iaitu mengubah maksud kitab Allah dan meminda syariat Islam.

    Mereka mengadakan tafsiran al-Quran menurut cara mereka sendiri. Puak munafik adalah ilmuan yang mengeluarkan al-Quran tiruan dan Hadis palsu, terutamanya dalam soal yang bersangkutan dengan akidah dan kebatinan.

    Daripada puak yang demikianlah muncul istilah kebudayaan Islam yang ditampalkan kepada kegiatan maksiat yang berlawanan dengan syariat Tuhan.

    Lahir pula persatuan Islam pada nama tetapi bergiat memecah-belahkan perpaduan umat Islam. Ada pula istilah seni bina Islam diletakkan pada bangunan yang digunakan sebagai sarang perjudian dan pelacuran.

    Lebih buruk lagi timbul akidah syirik yang dikatakan sebagai akidah Islam yang sebenarnya. Racun yang dikeluarkan oleh Abdullah bin Ubai dan kawan-kawannya sudah meresap ke dalam darah daging umat Islam di seluruh dunia pada masa kini.

    Hanya bimbingan daripada Allah s.w.t dapat menyelamatkan umat Islam daripada fitnah puak munafik itu.

    Orang munafik tidak mempunyai kepercayaan dan pegangan yang jelas. Mereka sendiri tidak pasti apakah yang mereka pegang dan imankan.

    Mereka bergerak berlandaskan kepercayaan dan pegangan orang lain dengan mengadakan perubahan kepada yang asli, tetapi mereka tetap menggunakan label yang asli, seperti lembu yang mati di tepi jalan diletakkan label halal.

    Orang munafik bergerak di dalam masyarakat orang Islam, bercakap pasal Islam, tetapi apa yang mereka bawa adalah perkara yang sudah diselewengkan.

    Orang yang berilmu dapat melihat penyelewengan tersebut tetapi orang jahil akan keliru kerana si munafik bercakap tentang Allah s.w.t dan agama Islam.

    Lebih-lebih lagi si munafik itu pandai menggunakan hujah keagamaan, terutamanya secara usul yang tidak ada kesudahan. Mereka suka menggunakan cara berteka teki yang sukar dimengerti.

    Lebih mengelirukan lagi apabila si munafik berhujah dengan menyandarkan kepada Hadis Nabi s.a.w, perkataan sahabat dan wali-wali yang mereka gubah sendiri, yang tidak diketahui oleh orang jahil.

    Si munafik boleh bersumpah bohong dengan menggunakan nama Allah bagi memerangkap orang yang jahil. Orang Islam yang jahil mudah terperangkap dengan ajaran sesat orang munafik.

    Kegiatan orang munafik menjadi lebih mudah setelah berlaku proses asimilasi agama-agama lain seperti Buddha, Hindu dan Keristian ke dalam agama Islam.

    Setiap kaum Muslimin yang insaf berkewajipan menyelak setiap hamparan dan membongkar setiap tutupan bagi mencari racun munafik yang bersembunyi di dalam kalangan umat Islam. Racun tersebut mestilah dikeluarkan. Inilah jihad kaum Muslimin zaman ini!

    Rabu, 22 Jun 2016

    Jalan kekufuran


    *السلام عليكم ورحمة الله وبركاته*
    *بسم الله الرحمن الرحيم*

    Surah Aal-e-Imran, ayat 176:_
    *وَلَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ*

    *Dan janganlah engkau berdukacita (wahai Muhammad), disebabkan orang-orang yang segera menceburkan diri dalam kekufuran; kerana sesungguhnya mereka tidak sekali-kali akan dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun. Allah menetapkan tidak memberi kepada mereka (balasan baik syurga) pada hari akhirat kelak, dan mereka pula beroleh azab seksa yang amat besar*

    _Surah Aal-e-Imran, ayat 177:_
    *إِنَّ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ شَيْئًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ*

    *Sesungguhnya orang-orang yang membeli (memilih) kufur dengan meninggalkan iman tidak sekali-kali mereka akan dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun, dan mereka pula beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya.*

    _Surah Aal-e-Imran, ayat 178:_
    *وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ خَيْرٌ لِّأَنفُسِهِمْ إِنَّمَا نُمْلِي لَهُمْ لِيَزْدَادُوا إِثْمًا وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّهِينٌ*

    *Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahawa Kami membiarkan (mereka hidup lama) itu baik bagi diri mereka; kerana sesungguhnya Kami biarkan mereka hanyalah supaya mereka bertambah dosa (di dunia), dan mereka pula beroleh azab seksa yang menghina (di akhirat kelak).*

    _Surah Aal-e-Imran, t 179:_
    *مَّا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَجْتَبِي مِن رُّسُلِهِ مَن يَشَاءُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَإِن تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ*

    *Allah tidak sekali-kali akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan yang kamu ada seorang (bercampur aduk mukmin dan munafik, bahkan Ia tetap menguji kamu) sehingga Ia memisahkan yang buruk (manufik) daripada yang baik (beriman). Dan Allah tidak sekali-kali akan memperlihatkan kepada kamu perkara-perkara yang Ghaib akan tetapi Allah memilih dari RasulNya sesiapa yang dikehendakiNya (untuk memperlihatkan kepadanya perkara-perkara yang Ghaib). Oleh itu berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasulNya; dan kamu beriman dan bertaqwa, maka kamu akan beroleh pahala yang besar.*

    _Surah Aal-e-Imran, ayat 180:_
    *وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَّهُم بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ*

    *Dan jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil dengan harta benda yang telah dikurniakan Allah kepada mereka dari kemurahanNya - menyangka bahawa keadaan bakhilnya itu baik bagi mereka. Bahkan ia adalah buruk bagi mereka. Mereka akan dikalongkan (diseksa) dengan apa yang mereka bakhilkan itu pada hari kiamat kelak. Dan bagi Allah jualah hak milik segala warisan (isi) langit dan bumi. Dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui dengan mendalam akan segala yang kamu kerjakan.

    Ahad, 16 Ogos 2015

    SYAITAN SELALU TURUN KEPADA MEREKA YANG MEMPERKATAKAN APA YANG MEREKA TIDAK MELAKUKAN (BERDUSTA)

    SYAITAN SELALU TURUN KEPADA MEREKA YANG MEMPERKATAKAN APA YANG MEREKA TIDAK MELAKUKAN (BERDUSTA)

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 221)
    هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ

    Mahukah, Aku khabarkan kepada kamu, kepada siapakah Syaitan-syaitan itu selalu turun?

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 222)
    تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ

    Mereka selalu turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa,

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 223)
    يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ

    Yang mendengar bersungguh-sungguh (apa yang disampaikan oleh Syaitan-syaitan itu), sedang kebanyakan beritanya adalah dusta.

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 224)
    وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ

    Dan Ahli-ahli syair itu, diturut oleh golongan yang sesat - tidak berketentuan hala.

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 225)
    أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ

    Tidakkah engkau melihat bahawa mereka merayau-rayau dengan tidak berketentuan hala dalam tiap-tiap lembah (khayal dan angan-angan kosong)?

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 226)
    وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ

    Dan bahawa mereka memperkatakan apa yang mereka tidak melakukannya?

    26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 227)
    إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانتَصَرُوا مِن بَعْدِ مَا ظُلِمُواۗ وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

    Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh (dari kalangan penyair-penyair itu), dan mereka pula mengingati Allah banyak-banyak, serta mereka membela diri sesudah mereka dianiaya. Dan (ingatlah), orang-orang yang melakukan sebarang kezaliman, akan mengetahui kelak, ke tempat mana, mereka akan kembali.

    Ahad, 20 April 2014

    Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani


    SAPAAN MALAM DARI SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI


    “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa merendahkan dirinya terhadap orang kaya karena menginginkan apa yang ada padanya, maka hilanglah dua pertiga agamanya,” (HR Ahmad)

    Dengarlah wahai orang-orang munafik! 
    Ini adalah peringatan bagi orang yang merendahkan diri terhadap orang kaya. Bagaimana mungkin seseorang yang telah mengerjakan shalat, puasa dan haji akan mendapatkan bagiannya sedangkan ia belum bisa melepaskan dari wataknya yang seperti itu? 

    Wahai orang-orang musyrik!
    Dengarkan! Tidakkah engkau menerima berita dari Allah dan dari rasul-Nya? Menyerahlah engkau, dan bersikap ikhlaslah dalam bertobat agar imanmu pulih, keyakinanmu tumbuh, dan tauhidmu berkembang, sehingga cabang-cabangnya dapat menjulang tinggi mencapai Arasy.

    Wahai anak muda!
    Apabila imanmu tumbuh dan pohonnya telah tinggi, maka Allah Azza wa Jalla akan membuatmu berkecukupan dari makhluk, melalui usaha dan penghasilanmu. Allah Azza wa Jalla akan mengenyangkan nafsumu, hati dan batinmu. Dia akan menghentikanmu di pintu-Nya dan menjadikanmu kaya dengan mengingat-Nya, dan engkau tidak peduli dengan orang yang makan dari dunia dan menyibukkan diri dengannya. Engkau tidak peduli dengan orang yang meraih kesuksesan duniawi, bahkan engkau melihat mereka dengan iba dan belas kasihan.

    Wahai orang yang mengaku berilmu namun mencari dunia dan merendahkan diri kepada penghuninya! Engkau telah sesat karena ilmumu. Berkah ilmu telah hilang. Isinya telah hilang, hingga yang tersisa hanya kulitnya saja.

    Wahai engkau yang mengaku menjalankan ibadah, sementara hatinya menyembah makhluk, takut kepada mereka dan menaruh harapaan terhadap mereka! Pada lahirnya ibadahmu untuk Allah, namun batinnya untuk makhluk.

    --Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani

    Khamis, 10 April 2014

    JANGAN KATAKAN APA YANG TIDAK DILAKUKAN

    JANGAN KATAKAN APA YANG TIDAK DILAKUKAN

    61.Surah Aş-Şaf (Verse 1)

    سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

    Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, tetap mengucap tasbih kepada Allah; dan Dia lah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

    61.Surah Aş-Şaf (Verse 2)

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

    Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya!

    61.Surah Aş-Şaf (Verse 3)

    كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

    Amat besar kebenciannya di sisi Allah - kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya.

    Sabtu, 22 Mac 2014

    Ahlul Bid’ah Adalah Orang-Orang Munafik

    Ahlul Bid’ah Adalah Orang-Orang Munafik
    Bila kita amati kriteria munafik yang disebutkan Ibnul Qayyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 1/347-356 maka akan kita dapati kriteria tersebut ada pada ahlul bid’ah. Seluruhnya atau sebagiannya di antaranya adalah :
    [1] Pada hati munafiqin dan ahli bid’ah sama-sama memiliki penyakit, baik penyakit syahwat maupun syubhat serta berbagai bentuk penyimpangan lainnya.
    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
    هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ
    Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran : 7)
    Disebutkan dalam sebuah riwayat bahawa Abu Ghalib pernah bercerita, "Dahulu tatkala saya berada di Syam, Al Muhallab mengirimkan 80 kepala orang khawarij lalu digantung di tiang-tiang kota Damasqus. Suatu hari saya berada di loteng rumahku. Terlihat Abu Umamah Al Bahili radliyallahu 'anhu melalui tempat itu. Maka saya turun mengikutinya. Tatkala beliau sampai di hadapan mereka (yakni kepala orang-orang khawarij yang digantung), beliau menitiskan air mata lalu berkata :
    “Subhanallah! Apa yang telah diperbuat syaitan terhadap Bani Adam!" (Beliau mengatakannya tiga kali).
    كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ، كِلاَبُ النَّارِ. هَؤُلاَءِ شَرَّ قَتْلَى قُتِلُوْا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ وَخَيْرَ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ الَّذِيْنَ قَتَلَهُمْ هَؤُلاَءِ
    “Anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka, anjing-anjing neraka!” (Tiga kali) "Seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah naungan langit! Sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka (khawarij) bunuh. Beruntunglah bagi orang yang membunuh mereka atau orang yang mereka bunuh.”
    Lalu beliau menoleh kepada saya sambil mengatakan : “Wahai Abu Ghalib, sesungguhnya engkau berada di suatu daerah yang banyak terdapat orang seperti mereka (khawarij). Mudah-mudahan Allah melindungimu.” Saya bertanya, “Lalu kenapa Anda menangis tatkala memandang mereka?” Beliau menjawab, “Saya menangis tatkala melihat mereka sebagai rasa kasih sayang kerana mereka adalah Ahlul Islam (Muslimin)? Apakah engkau hafal surah Ali Imran?” Saya menjawab, “Betul.” Maka beliau membaca (ayat di atas).
    Beliau menjelaskan, “Sesungguhnya pada hati mereka ada penyimpangan maka Allah Ta'ala menyelewengkan mereka.” Lalu beliau membaca ayat,
    يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوْهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوْهٌ
    “Pada hari yang di waktu itu ada wajah-wajah yang putih berseri dan ada pula wajah yang hitam muram.” (Ali 'Imran: 106) Sampai akhir ayat.
    Saya bertanya : “Apakah mereka yang dimaksud dalam ayat ini, wahai Abu Umamah?” Beliau menjawab, “Benar.” Saya bertanya lagi,
    أَبِرَأْيِكَ قُلْتَ: هَؤُلاَءِ كِلاَبُ الناَّرِ، أَوْ شَيْءٌ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟
    “Ini dari pendapat Anda semata ataukah hadits yang Anda dengar dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam?”
    Beliau menjawab,
    إِنِّي لَجَرِيْءٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ ثِنْتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثٍ
    “Kalau begitu saya sangat lancang! Namun saya mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam tidak hanya sekali, dua kali, tiga kali, … .” (Beliau menghitungnya sampai tujuh kali).(Riwayat Al Lalikai dalam Syarah Ushul 151-152, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah 68, Al Baihaqi 8/188, Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 8035, dan Ibnu Nash dalam As Sunnah 16-17. Riwayat ini dihasankan Syaikh Al Albani dalam Dhilalul Jannah halaman 34 nombor 68 dan Syaikh Al Hilali dalam Tahqiq Al I’tisham karya Asy Syathibi).