Pages

Memaparkan catatan dengan label qanaah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label qanaah. Papar semua catatan

Rabu, 1 November 2017

dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan KECUKUPAN

Isilah titik-titik di bawah ini dan mohon dijawab dengan jujur.

1. Allah menciptakan tertawa dan ............... ??
2. Allah itu mematikan dan ............... ??
3. Allah itu menciptakan laki-laki dan ............... ??
4. Allah itu memberikan kekayaan dan ................ ??

Bagaimana jawabanya ?

Gampang kan ?
Sebagian besar jawaban ternyata memang benar, tapi hanya untuk nomor 1, 2 dan 3 saja.
Sedang untuk jawaban Nomor 4, Ternyata mayoritas salah.

KENAPA ???

Sekarang mari kita bahas.
Mayoritas kita tentu akan dengan mudah menjawab :
1. Tertawa dan (Menangis)
2. Mematikan dan (Menghidupkan)
3. Laki laki dan (Perempuan)

Tapi bagaimana dengan no.4 ?
Apakah benar jawabannya adalah Kemiskinan..?

Nah untuk mengetahui jawabannya, mari kita lihat rangkaian firman Allah dalam Surah An-Najm ayat 43-45, dan 48, sbb:

Jawaban no 1

:ﻭَﺃَﻧَّﻪ ﻫُﻮَ ﺃَﺿْﺤَﻚَ ﻭَﺃَﺑْﻜَﻰ

"dan Dia-lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis."
(QS. An-Najm: 43)

Jawaban no 2

:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻣَﺎﺕَ ﻭَﺃَﺣْﻴَﺎ

"dan Dia-lah yang mematikan dan menghidupkan."
(QS. An-Najm:44)

Jawaban no 3

:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺰَّﻭْﺟَﻴْﻦِ ﺍﻟﺬَّﻛَﺮَ ﻭَﺍﻟْﺄُﻧﺜَﻰ

"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan. "
(QS. An-Najm:45)

Jawaban no 4

:ﻭَﺃَﻧَّﻪُ ﻫُﻮَ ﺃَﻏْﻨَﻰ ﻭَﺃَﻗْﻨَﻰ

"dan Dia-lah yang memberikan kekayaan dan KECUKUPAN."
(QS. An-Najm:48)

Ternyata jawaban yang no 4 kita sdh berburuk sangka kpd Allah.

Sesungguhnya Allah hanya memberikan kekayaan dan kecukupan kepada hamba-hamba Nya BUKAN kemiskinan seperti yang telah kita sangkakan.

استغفرالله العظيم

Ternyata yang menciptakan kemiskinan adalah diri kita sendiri.

Kemiskinan itu selalu kita bentuk dalam pola pikir kita.

Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang pandai bersyukur walaupun hidup cuma pas-pasan tapi ia tetap bisa tersenyum😊BAHAGIA???

Karena ia merasa cukup, bukan merasa miskin seperti kebanyakan orang lainnya.

Semoga kita termasuk dari golongan orang-orang yang selalu merasa cukup dan selalu bersyukur dalam segala hal

Aamiin Allahumma Aamiin..

Ahad, 4 Januari 2015

Jangan Taksub Kepada Cawan Hingga Kopi Tertumpah

Jangan Taksub Kepada Cawan Hingga Kopi Tertumpah...


Aku bersama rakan alumniku yang dikira berjaya dalam kerjaya, balik melawat ustaz kesayangan kami di universiti.
Ustaz Abu Khari menghampiri umur persaraan. Seorang peramah dan terkenal dengan rendah dirinya.
Perbualan bersama Ustaz Abu Khari membawa balik kembali seribu satu nostalgia.
Di tengah-tengah kerancakan, perbualan kami bertukar arus kepada rintihan mengenai tekanan di tempat kerja dan kehidupan. Kami semua, walaupun dikira berjaya, tetap menghadapi kesukaran mengemudi tekanan kerja dan kehidupan seharian.
Ustaz Abu Khari bingkas bangun dan pergi ke dapur untuk menyediakan air kepada kami. Air kopi kesukaannya dibancuh di dalam satu teko dan pelbagai jenis cawan disediakan untuk kami – porselin, plastik, kaca, kristal, yg biasa, yg mahal, yg unik rekabentuknya – dan dia menyuruh kami untuk menghidangkannya sendiri.
Kami semua mengambil giliran masing-masing untuk mengambil air kopi yang dihidangkan. Ada secawan terlebih.
“Jika anta semua perasaan, semua cawan yang elok dan mahal semua diambil, yang tinggal hanyalah cawan yang biasa. Adalah normal bagi anta semua nak yang terbaik untuk diri sendiri, tapi itulah juga punca kepada segala tekanan dan masalah anta semua.
Kita tahu cawan tidak akan "mengenakkan" lagi rasa kopi. Dalam kebanyakan keadaan, ia cuma lebih mahal, malah ada dalam situasi tertentu ia "memendamkan" apa yang kita minum.
Apa yang diperlukan anta semua ialah kopi, dan bukan cawan, tapi secara sedar, anta semua berebut untuk cawan yang terbaik, dan selepas itu, anta semua saling melihat cawan yang ada pada orang lain.
Sekarang, bayangkan kehidupan ialah kopi, kerja, duit dan pangkat di dunia ini sebagai cawan - Ia cumalah alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Tapi jenis cawan tidak akan mengubah, mahupun memberikan makna kepada kualiti kopi yang ada. Kadangkala kerana cawan, kita lupa untuk menikmati kopi yang dibuat Allah ini. Ana tukang bancuh saja,” kata Ustaz Abu Khari.
Kami semua terpegun dan tersentak. Dengan seteko kopi, Ustaz Abu Khari menjawab segala persoalan di minda kami.
“ORANG YANG GEMBIRA DAN BAHAGIA, TIDAK MEMILIKI SEGALANYA. MEREKA CUMA MEMANFAATKAN APA YANG ADA,” tambah Ustaz Abu Khari lagi sebelum kami meminta izin untuk beredar.

Wahai anakku...
Dalam hidup ini, jangan taksub pada cawan sehingga tertumpah kopi. Jangan pula terlalu fokus pada kopi tapi terlupa ia perlukan cawan untuk diminum...

Renungkan...
Sampaikan...