Khamis, 4 Februari 2016

Muzakarah 2hari 1mlm di atas kapal persiaran Star Cruise


Assalamualaikum sahabat,

Saya akan mengadakan muzakarah selama 2hari 1mlm di atas kapal persiaran Star Cruise pada tarikh yang akan dimaklumkan nanti.

Dengan ini saya menjemput para sahabat yang berhajat untuk bersama dengan saya menyertai program muzakarah ini.

Untuk keterangan lanjut boleh hubungi saya di talian
017 - 246 3769

Sekian, wassalam.

PAK HABIB SYED PADZIL BARAKBAH

Muzakarah 2hari 1mlm di atas kapal persiaran Star Cruise

Assalamualaikum sahabat,

Saya akan mengadakan muzakarah selama 2hari 1mlm di atas kapal persiaran Star Cruise pada tarikh yang akan dimaklumkan nanti.

Dengan ini saya menjemput para sahabat yang berhajat untuk bersama dengan saya menyertai program muzakarah ini.

Untuk keterangan lanjut boleh hubungi saya di talian
017 - 246 3769

Sekian, wassalam.

PAK HABIB SYED PADZIL BARAKBAH

Ahad, 27 Disember 2015

Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.

Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."

Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)

CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.

Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.

Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.

Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”

Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.

Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.

Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.

Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?

Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.

Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”

Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”

Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.

Subhanallah

Rabu, 16 Disember 2015

BAPAK DR BAGINDA MUCHTAR DIKURNIAKAN PHD DARI SAINT OLAV'S ACADEMY, PERANCIS


BAPAK DR BAGINDA MUCHTAR DIKURNIAKAN PHD DARI SAINT OLAV'S ACADEMY, PERANCIS


Pada 12th June 1971 Bapak Baginda Muchtar 

telah dikurniakan Doktor Falsafah dari Saint Olav's Academy, France.



Dari Padang, Bapak Dr. Baginda Muchtar beliau berpindah pula ke Palembang. Di sana beliau terus mengajar dan memberi pimpinan kepada orang-orang yang berminat dengan ilmunya. 

Di Palembang lah, (kira-kira tahun 1958) beliau mula menulis/mengarang bukunya ‘Diriku Yang Kukenal.’ (Penulisan buku ini tamat kira-kira 10 atau 11 tahun kemudian dan dikemukakan ke St Olav’s Academy, Perancis, sebagai tesis untuk melayakkanya memperoleh ijazah ‘Doctor of Philosophy’ yang diterimanya pada hari Sabtu 12 



BAPAK BAGINDA MUCHTAR @ BBM: Apa itu tenaga batin?

BAPAK BAGINDA MUCHTAR @ BBM: Apa itu tenaga batin?

Apa itu tenaga batin dari mana asalnya dan bagaimana cara memperdapatnya, setidak-tidaknya merasakannya?

Tenaga batin ialah tenaga Rohani yang berasal dari Satu Tenaga Hidup yang tidak mati melalui jalannya tenaga jasmani.

Perpaduan tenaga hidup dan tenaga jasmani, mendatangkan tenaga rohani. Isi tenaga jasmani ialah tenaga hidup yang akan mati, berasal dari benda dan tenaga Rohani berisi tenaga hidup yang tidak mati berasal dari yang Hidup.

Kalau itu hidup telah meninggalkan kita, maka matilah kita namanya. Umumnya orang menganggap adalah kehidupan di dalam itu tidak begitu penting untuk diketahui, kerana semua orang tahu bahawa di dalam batang-tubuh kita ada roh.

Selagi dia masih ada bersama kita, kita akan hidup terus. Mereka terlampau banyak melihat dan memikirkan ke luar, dan terlalu sedikit ke dalam:
mereka memikirkan apa yang dalam diri mereka sendiri?”
(Al-Quran Surat Ar Ruum Ayat 8)

Kelemahan dan kekurangan letaknya ialah pada badan diri
kita. Kemahuan, keinginan dan kehendak sangat banyak. Nafsu
kuat, akan tetapi daya (tenaga) lemah.

Jadi yang kurang pada kita ialah tenaga (energy). Kita kekurangan tenaga untuk mencapai yang diidam-idamkan. Dan kesalahan letaknya pada kita sendiri kerana tak mahu menyelidiki dan mempelajari keadaan kita sendiri.


Mempelajari keadaan sendiri bererti mempelajari apa yang ada pada kita. Tidak
sia-sia Tuhan Mencipta kita. Dijadikannya kita dalam keadaan cukup, akan tetapi kenapa kita berasa kekurangan? Bukan Tuhan yang salah, melainkan kita yang bodoh.


Diberinya kita modal untuk hidup, adakah kita pergunakan modal itu? Di mana letaknya modal itu? Modal tersebut letaknya pada kita terahsia. Rahsia itu yang
akan kita pecah kalau mahu hidup dengan erti yang sebenarnya hidup. Bagi kita, adalah modal itu mempunyai tenaga yang tersembunyi, iaitu tenaga ghaib.


Tenaga ghaib yang berisikan nikmat, bukan yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bagaimana pula dia akan dimurkai dan sesat? Asalnya dari modal yang diberikan-Nya pada kita untuk hidup, kerana datangnya dari Dia langsung.

Selama ini kita berfikir, berbuat, bekerja, bergerak dan lain sebagainya dengan tenaga lahir. Tempoh-tempoh di luar kemampuan kita, kita paksakan juga sedangkan perjuangan hidup kita di luar, selain dengan yang lahir, juga dengan yang batin.

Segala-galanya telah diatur oleh Yang Maha Pengatur iaitu Yang Maha Ghaib. Bahkan yang musuh besar kita di bidang kehidupan ialah yang tidak nampak? Bukankah hawa nafsu, syaitan, iblis itu tidak nyata dan memohon kepada Tuhan meminta dihidupkan sampai hari kiamat untuk memperdayakan kita manusia ini?

Pada perjuangan hidup sehari-hari, lebih banyak kita merasakan batin daripada yang lahir. Jadi adalah untuk kebahagiaan hidup kita, selain kita mempergunakan tenaga lahir, mestinya juga tenaga batin. Daya tenaga itu telah ada bersama kita
semenjak kita diadakan, akan tetapi tak pernah dipergunakan lantaran tidak tahu.


Tenaga ghaib yang ada pada kita itu mengaliri seluruh batang-tubuh kita di dalam, yang merupakan tenaga yang tersembunyi bagi kita. Dan dialah yang datang dari ‘yang sedikit,’ yang dikatakan iblis dikecualikannya, kerana si iblis tak sanggup memperdayakannya, dan itulah pula dia yang berasal dari ‘yang sedikit,’ kata Muhammad Rasulullah kepada mereka sewaktu mereka bertanya kepada beliau tentang Roh.

“Mereka bertanya kepada engkau (Muhammad) mengenai Roh. Jawablah, tiada aku diberitahu oleh Tuhan-ku tentang itu, kecuali hanya sedikit.”

Tenaga yang tersembunyi itu ialah tenaga ghaib yang dikurniakan Tuhan langsung kepada kita yang mula pertama sekali kepada nenek-moyang kita, Adam a.s., dengan Firman-Nya,

“Aku tiup Roh-Ku!” yang kita warisi turun temurun.

Dia memberi hak hidup kepada kita; kehidupan yang terbatas dan batasnya pada kita ialah bulu dan kulit, dan hak mati ada pada Yang Memberi iaitu Tuhan. Bila Yang Punya datang menjemput, maka gugurlah hak yang memakainya. Keadaannya tidak bererti lagi, kerana telah mati.

Letaknya bagi kita di dalam, dan tenaganya bagi kita tersembunyi. Tenaganya amat dahsyat kerana bukankah itu Kudrattullah? Untuk kelanjutan kehidupan kita di luar, untuk mengharungi lautan hidup, mahu tak mahu guna mencapai tujuan kita sepenuhnya, kita harus dapat menguasai dan mempunyai itu tenaga ghaib, itu Kudratullah, kerana lautan hidup yang akan kita lalui  bergelombang dan beralun, berbukit dan berlurah, berduri dan berbatu dan sangat banyak lekuk-likunya.

Hanya dengan diikut sertakan itu tenaga ghaib, segala halangan dan rintangan bisa tertimbus dan teratasi kerana seluruh kejadian yang dijadikan, seluruh keadaan yang diadakan, seluruh isi alam semesta ialah ciptaan Yang Maha Ghaib, Yang Maha Esa iaitu Allah.

Itu tenaga ada di dirimu, bukan di badanmu. Dari itu pelajarilah dirimu. Temuilah dia dan pergunakanlah tenaganya yang banyak mengandung rahsia itu. Rahsia Ghaib padanya, letaknya. Dia ada padamu dan banyak di luar.

Alam di luarmu beranekaragam, berwarna-warni. Pelajarilah pula keadaan alammu sendiri iaitu badanmu. Langit bagimu ialah kepalamu, bumi bagimu ialah perutmu dan hidupmu ialah antara bumi dan langit. Kaki, tanganmu adalah untuk menyampaikan maksudmu.

Orang padamu ialah badanmu, dan untuk itu pergunakanlah otakmu. Engkau berpijak di bumi Tuhan, tempat jasadmu dikembalikan nanti. Hidupmu di bawah lindungan Tuhan; tempatmu kembali ke asal. Bagimu adalah kenyataannya.

Satu kembali ke bawah iaitu ke tanah, satu kembali ke atas iaitu kepada
Allah. Sama-sama kembali atau dikembalikan ke asal. Dua kejadian menjadi satu sama kita; satu nyata satu tersembunyi. Kedua-duanya mempunyai tenaga. Yang manakah pegangan kita yang benar?

Yang akan pulang ke atas atau yang akan kembali ke bawah? Kalau kita perhatikan akan pembawaan hidup kita di luar pada masa yang sudah-sudah, dengan tak malu-malu kita akan mengatakan bahawa pegangan hidup yang telah kita bawakan ialah
ke bawah, padahal yang benar ialah yang ke atas.


Sebagai seorang manusia, tidaklah bisa bahagia pula kehidupan yang akan kita rasakan kalau kehidupan kita sematamata kita pergantungkan kepada yang akan pulang ke atas kerana dia selalu benar dan terlampau benar, lagi benar sekali.

Dengannya sahaja kita tidak akan mengecap nikmat hidup di dunia, kerana alam fikiran kita selalu dibawanya kepada Yang Maha Benar. Sebaiknya dan seharusnya, kita mesti dapat mempergunakan kedua-duanya sejalan, dan jalan yang ke atas menjadi pegangan kita sebagai pedoman.

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI

BAPAK DR. BAGINDA MUCHTAR @ BBM

Ajaran Ajaran & Ilmu Pengetahuan Bapak Dr. Baginda Muchtar Phd
BAPAK BAGINDA MUCHTAR @ BBM: Kisah Kerbau Dengan Pedati

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI

Orang tua-tua kita dahulu, tatkala belum kenal akan mesin, memakai kerbau dan pedati sebagai alat perhubungan untuk membawa barang dagangannya dari satu kota ke satu kota, dari kalangan ke kalangan (hari pekan), dari dusun ke kota atau dari dusun ke pelabuhan.

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI  KISAH KERBAU DENGAN PEDATI

Perjalanan itu kadang-kadang memakan waktu berhari-hari melalui jalan yang berliku-liku, menurun dan mendaki dan berjalan siang malam. Pedati yang ditarik kerbau itu sarat bermuat barang dagangan. Berisikan hasil bumi untuk diperjual belikan atau ditukarkan.

Pada suatu kali dalam perjalanan, kerbau yang menarik pedati itu setelah berkali-kali mendaki dan menurun, pada pendakian yang memanjat dengan ayun langkah yang guntai sambil air ludah berbuih di mulut, melihat ke kiri dan ke kanan, seolah-olah dia bertanya kepada pedati. Apa pertanyaan itu? Yang ditanyakan ialah, "Jauhkah lagi perhentian??????????"

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI  KISAH KERBAU DENGAN PEDATI
    Dan apa pula jawab pedati? Wahai kawan, engkau salah duga, salah anggapan kenapa pada ku engkau hadapkan pertanyaan itu? Ketahuilah oleh mu, bahawa adalah aku benda mati sungguhpun mempunyai kaki. Dan kaki ku tidak sebanyak kakimu. Kaki engkau empat dan kaki ku dua. Akan tetapi kalau tidak kerana engkau, aku tak berjalan dan tak bisa berjalan. Aku tak bisa jalan sendiri. Bukankah engkau yang menarik - makanya aku sampai ke mari?

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI  KISAH KERBAU DENGAN PEDATI
Engkau masih baik nasibmu, kerana nanti kalau sudah sampai di perhentian, aku engkau tinggalkan begitu sahaja. Dan engkau diberi makan minum, bahkan kadang-kadang dimandikan dan digosok. Persiapan-persiapan untuk makan mu sentiasa diadakan.

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI  KISAH KERBAU DENGAN PEDATI
Aku sesampainya di perhentian ditinggalkan begitu saja. Aku mengandung beban, bawaan, akan tetapi dipikulkan pada pundakmu dan engkaulah yang menarik ku. Kalau engkau hendak bertanyakan juga tentang itu perhentian, tanyalah pada orang yang duduk dibelakangmu, mungkin dia tahu.”

KISAH KERBAU DENGAN PEDATI  KISAH KERBAU DENGAN PEDATI
Sang kerbau mengangkat kepalanya untuk melihat orang yang duduk di belakangnya itu. Belum sempat dia melihat orangnya yang ditunjuk itu, tahu-tahu dia dengar suara yang berarti terus jalan. Dia hanya sempat waktu itu melihat api sebesar api rokok membayang di belakangnya. Dan dia berjalan terus menarik beban yang terpikul di pundaknya. Adapun api yang nampak sekilas oleh kerbau itu ialah api rokok tukang pedati yang waktu itu dalam malam gelap gulita merokok sambil duduk di tempatnya dan pakaiannya serba hitam sampai ke destarnya hitam.

Itulah dia tiga jenis; jalan bersama untuk satu arah dan tujuan, kerbau bergerak dengan kakinya empat, pedati dengan rodanya yang dua dan si tukang pedati berjalan dengan duduk di tempatnya. Ketiga-tiganya menuju ke tempat perhentian dan konon khabarnya di tempat perhentian itu mereka berpisah satu sama lain; si kerbau tinggal dikerbaunya, pedati tinggal tergelitak sebagai pedati dan si tukang pedati balik ke rumahnya.

Dan begitulah pula kisah kerbau dan pedati itu dari dahulu sampai sekarang selagi dia masih dipakai sebagai alat pengangkutan.

PSemoga menjadi buah renungan bagi kita bersama akan duduknya tiga jenis yang sejalan itu.

Aku yang berdiri dengan sendirinya itu mempunyai alam sendiri pula. Alamnya ialah apa yang di sekelilingnya,  iaitu yang dinamakan Badan. Kita yang terdiri dari badan dan diri, keluar mempunyai alam pula iaitu alam bersama, alam Besar, alam semesta.

Jadi adalah kita manusia terkandung dalam alam yang besar. Dan pada kita sendiri terdapat pula beberapa alam; iaitu alam jasmani, alam Rohani dan alam diri.

Diri Rohani dan jasmani keluarnya menjadikan manusia (lengkap) hidup. Dan berjalanlah manusia pada jalan kehidupan yang ada dengan tidak mempelajari jalannya kehidupan di dalam lebih dahulu.

Adalah ini suatu kekeliruan Besar dalam pandangan hidup kita yang sudah- sudah. Dan oleh kerana itulah pula makanya bermacam-macam caranya kita manusia membawakan jalannya kehidupan kita di luar dan coraknya hidup kita perdapat sangat bergantung pada jalannya pemikiran masing-masing, dengan tidak pula mengetahui selok-beloknya isi kepala kita yang banyak tali temalinya
(alat penghubung) antara yang satu dengan yang lain.

Coraknya masyarakat sangat bergantung kepada jalannya alam pemikiran masyarakat itu dan hasilnya tidak semua orang dapat mengecap nikmat hidup yang dicita-citakan, bahkan kenyataan si kuat memakan yang lemah, si bodoh menjadi mangsa si pintar dan si tidak punya menjadi korban yang punya dan lain sebagainya. Kalau tidak diperalat tentu memperalat. Undang-undang tinggal di atas kertas. Yang tak bersalah menjadi bersalah. Manusia menghisap manusia, bangsa menghisap bangsa.

Corak hidup semacam ini sudah tua umurnya, sudah usang, sudah lapuk dan sudah patut ditinggalkan dengan menimbulkan cara berfikir baru dengan melahirkan alat baru atau bahan baru, tenaga baru supaya tercipta Dunia baru. Kita harus melahirkan manusia baru.

Untuk memperbaharui keseluruhannya itu, kita harus pelajari jalannya alam pemikiran yang sudah-sudah alat dan bahannya yang dipergunakan, untuk jadi pengalaman supaya kesalahan yang sudah-sudah bisa diperdapat. Dan, kelemahan atau kekurangan harus dicari sampai dapat dan perubahan-perubahan kalau perlu harus diadakan.

Alat-alat yang telah ada pada kita, selain tak dapat juga tak boleh membuangnya kesemuanya yang telah ada sangat berguna untuk kebaikan, keindahan dan keelokan badan diri kita.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup kita harus berjuang dengan gigih dan tabah dan buat itu kita harus mempergunakan tenaga, iaitu tenaga lahir yang berasal dari zat-zat bahan makanan yang kita makan.

Pada kita ada tenaga lahir dan ada pula tenaga batin. Tenaga lahir ialah tenaga yang berasal dari zat-zat bahan makanan yang kita makan, yang mana dari dalam meisi aliran dari jalannya kehidupan kita. Tenaga batin ialah tenaga yang tersembunyi, yang selama ini belum pernah kita ketahui dan kita kuasai apalagi mempergunakannya.


Selasa, 15 Disember 2015

Wajib Mentaati Imam Mahdi

Wajib Mentaati Imam Mahdi

A. Ibnu Masud RA meriwayatkan bahawa,

“Kami mendatangi Rasulullah SAW dan baginda keluar dengan membawa berita gembira, dan kegembiraan itu terbayang pada wajahnya. Kami bertanya kepada baginda perkara yang menggembirakan itu dan kami tidak sabar untuk mendengarnya. Tiba-tiba datanglah sekumpulan anak-anak muda Bani Hasyim yang di antaranya adalah al-Hasan dan al-Husain RA. Apabila terpandangkan mereka, tiba-tiba kedua-dua mata baginda berlinangan lalu kami pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kami melihat sesuatu yang kami tidak sukai pada wajahmu.” Baginda menjawab, “Kami Ahlulbait, telah Allah pilih akhirat kami lebih dari dunia kami. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehingga datanglah Panji-panji Hitam dari Timur. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan. Sesiapa di antara kamu atau keturunan kamu yang hidup pada masa itu, datangilah Imam yang dari ahli keluargaku walau terpaksa merangkak di atas salji. Sungguh, mereka adalah pembawa Panji-panji yang mendapat hidayah. Mereka akan menyerahkannya kepada seorang lelaki dari ahli keluargaku yang namanya seperti namaku, dan nama bapanya seperti nama bapaku. Dia akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan dan kesaksamaan.”
(Abu Daud, At-Tarmizi, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Abus Syeikh, Ibnu Adi, Abu Dhabi, Ibnu Asakir & Abu Nuaim)

Mereka yang dimaksudkan oleh hadis ini tidak lain dan tidak bukan adalah Ikhwan dan Asoib, yang ketua mereka adalah Syuaib bin Saleh Pemuda Bani Tamim itu. Salah satu keramat terbesar Pemuda Bani Tamim ialah membawa hidayah yang merata kepada seluruh umat Islam dan semua manusia.

Melaluinya, Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepada semua manusia, sama seperti yang diperbuat oleh Allah melalui Rasulullah SAW. Hanya bezanya Rasulullah SAW membawa hidayah sebagai suatu mukjizat, sedangkan Pemuda Bani Tamim membawa hidayah sebagai suatu keramat. Dan peranannya membawa hidayah ini sudah dinyatakan oleh baginda SAW dalam hadis di atas.

Rasulullah SAW menyebutkan bahawa golongan Ahlulbait akan menerima dua ujian iaitu pertama, bencana dibunuh dan ditekan oleh pemerintah-pemerintah mereka, dan yang kedua ialah disingkirkan dari tanah air mereka.

Ujian pertama itu sudah berlaku sejak awal Islam lagi, dimulai dengan terbunuhnya Sayidina al-Husain RA di Padang Karbala dan seterusnya hinggalah berakhir zaman pemerintahan Bani Abbasiah di Baghdad. Yang kedua iaitu disingkir dari tanah air mereka telah juga berlaku iaitu sejak Bani Saud mengambil alih kekuasaan di seluruh Hijaz dan sebahagian besar Semenanjung Tanah Arab.

Pemuda Bani Tamim juga disebutkan menerima ujian yang sangat berat dan tugas yang sangat besar, mengikut tahap yang telah disebutkan oleh hadis, berjumlah tujuh tahap. Kesukaran antara setiap tahap itu adalah berbeza-beza. Tahap berikutnya adalah jauh lebih berat daripada tahap-tahap yang telah dilalui sebelumnya. Ketujuh-tujuh tahap yang disebutkan oleh hadis itu adalah;

1.Mereka meminta kebaikan. Maksudnya mereka menyeru manusia kembali kepada ajaran Islam yang sebenar, iaitu Islam yang diasaskan pada tiga ilmu yang fardhu (tauhid, fekah dan tasawuf) sehingga manusia menjadi baik zahir dan batinnya. Itulah yang dimaksudkan dengan kebaikan di sini. Juga boleh dimaksudkan dengan beliau membina jemaah Islamnya sendiri sehingga menjadi sebuah jemaah yang besar dan hebat, sebuah jemaah yang mampu menzahirkan kebenaran, bukan semata-mata mampu memperkatakannya.

Dari sini beliau mendirikan sebuah kerajaan dalam kerajaan, iaitu kerajaan Islam bayangan. Apabila mendapat kuasa kelak, bentuk itulah yang akan diperluaskan ke seluruh negara dan kawasan serantau, seterusnya ke seluruh dunia. Islam mereka adalah Islam praktikal, bukan Islam teori. Maksudnya ialah Islam yang hidup dalam dunia nyata, bukan sekadar Islam tempel atau Islam kulit. Islam itu adalah Islam yang menyeimbangkan antara syariat zahir dengan syariat batin, melalui rasa bertuhan yang tinggi.

Juga Islam yang menyeimbangkan antara keperluan dunia dengan keutamaan akhirat. Maksudnya setiap yang mereka buat adalah untuk akhirat, tetapi dunia yang tidak sia-sia tetap dibuat, dengan niat untuk akhirat. Tamadun akhirat menjadi keutamaan bagi mereka, dan sebagai hasilnya tamadun dunia akan terbina dengan sendirinya tanpa perlu bersusah-susah memikirkan mengenainya. Itulah sebahagian kecil erti mereka meminta kebaikan seperti yang disebutkan oleh hadis Nabi SAW.

..
2.Tidak diberikannya. Nya di sini menunjukkan seorang atau sekumpulan orang, tidak melibatkan orang lain atau pihak lain. Dan Nya yang dimaksudkan bukanlah orang atau sekumpulan orang yang biasa, melainkan orang atau orang-orang yang mempunyai kuasa atau ilmu atau cantuman kedua-duanya sekali. Jika orang biasa, mustahil mereka dapat menghalang usaha dakwah yang memang sentiasa mampu menarik manusia kembali kepada ajaran Islam sebenar itu.

Maka orang inilah atau kumpulan inilah yang berusaha keras menentang usaha-usaha dakwah Pemuda Bani Tamim, sehingga mereka sanggup menyeksa dan memperlakukannya sedemikian kejam sedangkan mereka sendiri tiada bukti dan alasan untuk memperlakukannya demikian. Namun, itulah kehendak Allah SWT seperti yang tersurat di dalam takdir-Nya. Dan hal ini memang telah pun berlaku dan sekali gus membenarkan apa yang disabdakan oleh baginda SAW.

Mereka ini pula datang dengan berbagai-bagai rupa dan cara. Ada yang berbentuk pemerintah sebenar, yang menggunakan kaedah kuku besi untuk menindas perjuangan suci ini. Ada yang berupa orang baik lagi bersih tetapi mendalangi perbuatannya pada orang lain, iaitu berselindung di balik nama orang lain. Dialah dalang sebenar dan terbesar, kerana ada niat tersembunyi dan besar.

Ada yang berupa orang alim dalam hal ehwal agama, iaitu menggunakan agama sebagai alat untuk membunuh usaha dakwah berkenaan. Ada yang berupa pihak penyampai, iaitu menggunakan media mereka sebagai alat untuk menabur fitnah dan berita bohong mengenai keburukan Pemuda Bani Tamim dan perjuangannya itu.

3.Mereka pun berjuang. Berjuang di sini bukan bermaksud berjuang dengan pedang atau senjata moden yang lain. Islam tidak akan dapat ditegakkan oleh sesiapa pun dengan menggunakan senjata pedang semata-mata. Belum pernah lagi terjadi dalam sejarah, ajaran Islam dapat ditegakkan semata-mata dengan pedang, iaitu memaksa-maksa orang lain menerima Islam.

Sebenarnya ada senjata yang lebih berkuasa dan lebih tajam dari pedang iaitu dakwah yang berhikmah dan bi lisanul hal. Maksud berjuang juga adalah berjuang memperbaiki diri dan ibadat kepada Allah SWT sambil berusaha bersungguh-sungguh meninggalkan setiap yang boleh mendatangkan dosa sehingga menghijab hubungan antara mereka dengan Allah. Mereka takut dikeranakan dosa mereka itu, perjuangan mereka tidak dibantu oleh Allah lalu mereka Allah biar dikalahkan oleh musuh-musuh mereka.

4.Mereka memperoleh kejayaan. Hasil mujahadah nafsu dan muhasabah dosa mereka itu, Allah berkenan membantu mereka sehingga perjuangan mereka itu berjaya. Berjaya di sini dimaksudkan dengan berjaya mengalahkan nafsu jahat mereka sendiri sehingga nafsu mereka dapat ditundukkan kepada Allah, berjaya mencapai taraf soleh dan solehah malah ada yang menjadi wali Allah, sangat berjaya dalam setiap bidang yang diceburi, berjaya membina tamadun mereka yang tersendiri, dan berjaya mengajak masyarakat agar kembali kepada Allah dan mengamalkan ajaran agama Islam yang sebenar dalam diri masing-masing.

Pemimpinnya  iaitu Syuaib bin Saleh berjaya menyiapkan seluruh jentera pentadbiran awal yang bakal diserahkannya kepada Imam Mahdi kelak. Sebahagian jentera pentadbiran awalnya ini akan dikekalkan di bawah pentadbirannya sendiri dan sebahagiannya lagi akan berkhidmat untuk Imam Mahdi. Semuanya dipilih dan ditentukan oleh Allah SWT sendiri, diilhamkan kepada Imam Mahdi dan Imam Mahdi pula menyampaikannya kepada Syuaib bin Saleh.

Melalui arahan itulah Syuaib bin Saleh memilih dan melantik barisan kepemimpinannya. Kedudukan mereka dalam pentadbiran adalah berdasarkan taraf takwanya kepada Allah SWT, bukan semata-mata ilmu yang tinggi atau amal yang banyak siang malam, dan jauh sekali melalui pengalaman berpolitik sebelum ini. Semakin tinggi takwa mereka kepada Allah, semakin tinggilah kedudukan yang akan Allah serah kepadanya untuk membantu menguruskan seluruh umat Islam ini.

Semua masalah yang selama ini amat kronik, berjaya disembuhkan, kerana adanya pertolongan terus daripada Allah yang didatangkan melalui tangan-tangan mereka yang bertakwa ini. Mereka juga berjaya kerana pada masa inilah semua orang sudahpun mengetahui siapa sebenarnya peribadi yang disebutkan sebagai Pemuda Bani Tamim atau Syuaib bin Saleh itu. Orang ramai juga sudahpun mengetahui siapa peribadi sebenar yang bakal menjadi Imam Mahdi itu. Itulah antara maksud hadis dengan memperoleh kejayaan.

..
5.Diberikanlah apa yang mereka minta itu. Mereka diserahkan urusan pemerintahan dan pentadbiran umat Islam di Timur, dimulai di Malaysia, insya-Allah. Keadaan ini amat menggemparkan seluruh dunia terutama Barat kerana ternyata usaha-usaha mereka selama ini untuk menyekat kebangkitan semula Islam di dunia ini telah gagal. Islam yang dibendung-bendung dengan pelbagai cara dan sekatan itu tetap bangkit juga. Jika dahulu oleh Nabi Muhammad SAW, kini oleh Muhammad III iaitu Muhammad bin Abdullah al-Mahdi. Pada waktu ini, seluruh sistem Barat yang sedang digunakan di Timur lumpuh terus. Perdagangan, perekonomian, pendidikan, politik dan pemikiran Barat yang sedang asyik digunakan menjadi lumpuh. Jalan-jalan dagang tersekat kerana tidak dapat beroperasi dengan betul.
Selepas itu wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Singapura, Brunei Darussalam, seluruh Indonesia, Thailand selatan, Filipina selatan, Kampuchea dan Vietnam selatan. Kawasan-kawasan ini adalah fasa pertama kebangkitan semula Islam kali kedua ini. Pada masa ini taraf Ummah Kedua masih belum siap sepenuhnya, masih lagi dalam proses permulaan atau pemulihan. Tugas Pemuda Bani Tamim hanyalah membuang seluruh sistem Barat dan membersihkan saki-baki karatnya, kemudian menyediakan tapak hati yang telah dibersihkan tadi supaya bersedia menerima suatu hidayah baru yang selama ini tertutup rapat sejak kewafatan baginda SAW kira-kira seribu empat ratus tahun dahulu. Hidayah itu tidak dimiliki oleh Pemuda Bani Tamim, atau Allah tidak memberikan kelebihan itu kepada beliau. Kelebihan yang satu ini hanya dimiliki oleh Imam Mahdi sahaja, selain Rasulullah SAW sendiri. Hidayah yang dibawa oleh Pemuda Bani Tamim adalah hidayah yang bersifat umum, iaitu membawa manusia meninggalkan sistem jahiliyah Barat kepada sistem Islam. Yang seterusnya adalah tugas Imam Mahdi pula.

Rasulullah SAW pula memiliki kedua-dua bentuk hidayah ini, dan hanya baginda SAW seorang sahaja yang benar-benar diberikan hidayah jenis ini. Kedua-dua bentuk hidayah itu adalah hidayah untuk membuang segala sistem jahiliyah sehingga hati dan fikiran mereka menjadi bersih sebersih-bersihnya, kemudian menyediakan tapak hati yang telah dibersihkan itu untuk menerima hidayah seterusnya.

Hidayah yang seterusnya adalah hidayah untuk menerima Pendidikan Rasulullah SAW, yang bersifat sangat suci dan amat tinggi, serta amat halus sehingga mampu melahirkan orang-orang yang bersifat samikna wa ata’na (kami mendengar dan kami taat akan segala perintah) dan menjadikan mereka orang-orang yang bertaraf wali-wali Allah yang tinggi, sentiasa mengamalkan cara hidup ruhbanu fil lail wa fursanu binnahar (umpama rahib pada malamnya dan umpama singa pada siangnya). Kedua-dua hidayah ini, pada zaman ini hanya ada pada mereka berdua sahaja, tidak diberikan kepada orang lain. Sesiapa yang menginginkan kedua-dua hidayah itu, mahu tidak mahu hendaklah melalui mereka berdua ini sahaja, tidak didapat melalui orang lain lagi.

Sambil menghapuskan seluruh sistem Barat yang telah lama berkarat di seluruh negara, Pemuda Bani Tamim mempunyai tugas yang cukup besar dan sangat berat iaitu mengemaskan seluruh negara dengan iman yang tinggi, akhlak yang mulia, akidah yang benar-benar mantap, mempersiapkan seluruhnya untuk menerima ketibaan Imam Mahdi yang sangat ditunggu-tunggu, sangat dirindu, yang sangat disayangi dan sangat dicintai itu.

Seluruh hati yang beriman sudah berbunga, dengan bunga-bunga yang kembang biak mewangi di seluruh negara. Yang kafir dan munafik, ketika itu sangat menderita, hatinya terbakar hangus oleh kemarahan dirinya sendiri yang tidak terbendung-bendung lagi sehingga membakar hangus akal dan pertimbangan warasnya. Sangatlah sakit hatinya ketika itu. Allah sahajalah yang tahu keadaan mereka ini. Wajah mereka berkerut seribu dan masam mencuka, tanda tidak suka.

Selepas itu, wilayah-wilayah Islam semakin merebak dan meluas. Kini mula memasuki seluruh Thailand, seluruh Filipina, seluruh Laos, seluruh Viertnam, seluruh Myanmar, mula masuk ke wilayah-wilayah di China dan seterusnya sampai ke Khurasan.

Penyebaran Islam kali ini sudah memasuki tahap kedua, dengan sampainya Islam ke Khurasan, tempat yang dijanjikan akan munculnya Panji-panji Hitam yang sebenar dan tempat seorang lelaki menanti Pemuda Bani Tamim. Ketika ini, Panji-panji Hitam dan Pedang Zulfakar sudah pun berada di tangan Pemuda Bani Tamim. Kedua-duanya ditancapkan tinggi-tinggi ke udara, sebagai lambang tingginya kedudukan Islam dan tingginya cita-cita besar mereka.

6.Mereka tidak menerimanya. Maksud tidak menerimanya bukanlah dengan erti tidak menerima terus urusan pemerintahan yang diserahkan kepada mereka. Maksud sebenarnya ialah mereka menyatakan secara tegas dan tetap bahawa pemerintahan ini adalah hak mutlak Imam Mahdi, dan mereka hanyalah bertindak sebagai pengurus atau pemegang sementara sahaja, iaitu sementara pemilik sebenarnya muncul ke dunia ini.

Apabila pemilik yang sebenar berhak ke atas pemerintahan itu, mereka akan segera menyerahkannya kepada orang itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Imam Mahdi al-Alawi. Oleh itu, pemerintahan mereka adalah sebagai pemegang amanah atau pemangku sahaja, ketika pemimpinnya tiada di situ. Penjelasannya sudah dibuat di atas tadi.

..
7.Mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari Ahlulbait. Menurut hadis-hadis, orang itu adalah Imam Mahdi sendiri, tidak lain dan tidak bukan. Tempat penyerahan itu boleh sahaja berlaku di Makkah atau jika mereka terlambat sedikit, mereka akan terus sahaja ke Baitulmaqdis. Di sanalah mereka akan menyerahkan Panji-panji Hitam itu kepada orang yang paling berhak menerimanya.

Beliau adalah waris terakhir dari kalangan Ahlulbait yang akan diserahi tugas dan tanggungjawab memimpin seluruh manusia kepada Islam. Dengan penyerahan ini, lengkaplah tugas Pemuda Bani Tamim. Tugas seterusnya adalah tertanggung kepada Imam Mahdi. Namun, Imam Mahdi tetap memberikan Pemuda Bani Tamim tugas yang sesuai dengan jasanya kepada Islam dan kedudukannya yang sangat tinggi pada sisi Allah SWT dan beliau tetap terus menabur jasa yang tidak terhingga kepada seluruh umat Islam dan dunia.

Ketika ini, tahap ketiga yang dikehendaki oleh Jadual Allah itu selesailah sudah iaitu dengan tunduknya seluruh Tanah Arab di bawah pemerintahan Pemuda Bani Tamim dan Imam Mahdi. Dan dengan ini, seluruh dunia Islam yang meliputi tiga tahap itu, dan nama baru bagi seluruh dunia Islam yang meliputi ketiga-tiga tahap ialah Malaysia Raya! Ini adalah mengambil sempena nama negara kita yang tercinta ini, disebabkan oleh faktor-faktor berikut;

a.Di situlah tempat kelahiran Pemuda Bani Tamim. Pemuda Bani Tamim yang digelar sebagai Syuaib bin Saleh itu dilahir dan dibesarkan di Malaysia, tidak di tempat lain.

b.Di situlah Pemuda Bani Tamim memulakan pendidikannya sehingga besar dan dewasa. Beliau tidak belajar di tempat-tempat lain seperti yang lazim berlaku pada ulama-ulama lain sejak dahulu hingga kini. Jika beliau pergi ke luar negara pun, adalah untuk berdakwah sambil belajar, bukan semata-mata dengan tujuan belajar.

c.Di situlah Pemuda Bani Tamim memula dan mengasaskan perjuangannya dari mula sehingga berkembang ke seluruh negara dan seterusnya berjaya pula di peringkat antara bangsa. Kebangkitan semula Islam di seluruh negara dan kemudian merebak ke seluruh dunia adalah bermula di Malaysia, tidak di tempat-tempat lain.
d.Di situlah mula-mula tapak daulah Islamiah didirikan dan seterusnya menjadi tapak bagi pembentukan Ummah Kedua.

e.Di situlah tempat Imam Mahdi menetap sehinggalah beliau ghaib. Beliau dikatakan ghaib di Malaysia dan sentiasa berada di sekitar Malaysia untuk melihat-lihat keadaan seluruh negara, di samping di tempat-tempat lain di Indonesia dan Singapura.

f.Golongan Asoib paling ramai datang dari Malaysia. Golongan Asoib adalah generasi yang sama taraf dengan golongan Sahabat RA, bezanya Asoib adalah untuk akhir zaman dan Sahabat RA untuk zaman awal Islam. Dan di Malaysialah golongan ini paling ramai muncul.

g.Di situlah pusat pemerintahan Imam Mahdi didirikan. Di Malaysia ada pusat pentadbiran yang akan menjadi pusat pemerintahan seluruh dunia bagi Imam Mahdi. Di pusat pentadbiran itulah Imam Mahdi akan mentadbir seluruh dunia, dalam suasana pemerintahan Islam sebenar.

Dan seperti yang dijanjikan oleh baginda SAW sendiri, kemunculan Pemuda Bani Tamim adalah menandakan akan segera pula munculnya Imam Mahdi. Ertinya, Imam Mahdi tidak akan muncul sendirian, melainkan telah didahului oleh kemunculan orang kanannya yang setia itu.

Pemuda Bani Tamim Menerima Ujian Paling Berat

Pemuda Bani Tamim Menerima Ujian Paling Berat

A. Dari Ibnu Mas’ud RA, katanya,

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang sekumpulan anak muda dari kalangan Bani Hasyim. Apabila terlihatkan mereka, maka kedua-dua mata baginda SAW dilinangi air mata dan air muka baginda kelihatan berubah. Aku pun bertanya, “Mengapakah kami melihat pada wajah Tuan sesuatu yang tidak kami sukai?” Baginda menjawab, “Kami Ahlul Bait telah Allah pilih untuk kami akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran selepasku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari sebelah Timur yang membawa bersama-sama mereka Panji-panji Hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya, maka mereka pun berjuang dan beroleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima sehinggalah mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang akan memenuhkan bumi ini dengan keadilan seperti halnya bumi ini dipenuhi dengan kedurjanaan sebelumnya. Sesiapa di antara kamu yang sempat menemuinya, maka datangilah mereka itu walaupun terpaksa merangkak di atas salji. Sesungguhnya dia adalah al-Mahdi.” (Ibnu Majah)

Memang Pemuda Bani Tamim akan menerima ujian yang cukup berat dan besar. Jika tidak, bagaimana pula Rasulullah SAW sendiri boleh menitiskan air mata mengenangkan apa yang bakal dilalui oleh beliau. Baginda SAW masih boleh bersabar dan tidak menunjukkan reaksi yang nyata apabila mengetahui (melalui ilham dan kasyaf) bahawa cucu kesayangannya akan syahid dibunuh oleh tentera Bani Umaiyah suatu masa kelak. Tetapi apabila mengetahui ujian besar yang bakal dilalui oleh Pemuda Bani Tamim dan Ahlulbaitnya pada akhir zaman, baginda SAW tidak dapat menahan emosinya lalu menangis di hadapan para sahabat RA, sehingga  menyebabkan para sahabat RA sendiri turut menangis dan berasa marah kepada sesiapa yang menyusahkan Pemuda Bani Tamim itu.

Jelaslah di sini juga bahawa Rasulullah SAW sebenarnya amat sayangkan Pemuda Bani Tamim itu, sehingga lebih disayanginya daripada cucu-cucu kesayangannya sendiri. Ini dikeranakan Pemuda Bani Tamim itulah yang akan menaikkan semula Islam ke puncak kejayaan dan kegemilangan, seperti mula-mula dahulu sedangkan sebelumnya Islam jatuh teruk, dipandang hina dan diremeh-remehkan. Dan sanggup pula menderita menerima ujian yang sangat berat, demi menegakkan semula Islam ke puncak kegemilangannya, yang ujian itu sebenarnya pada zaman dahulu, hanya mampu diterima oleh para rasul yang muqarrabin sahaja, bukannya orang biasa seperti dia.

Isnin, 14 Disember 2015

MAULANA JALALUDDIN AR-RUMI

"MAULANA JALALUDDIN AR-RUMI DAN SEBUAH BOTOL MINUMAN YANG DIBAWANYA"

Suatu malam, Maulana Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Maulana. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi;

“Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Maulana kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.

“Iya”, jawab Syams.

Maulana masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Maulana memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Maulana di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Maulana. Khalayak melihat botol yang dipegang Maulana. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Maulana dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih mengelak;

“Ini bukan cuka, ini arak”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Maulana. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Maulana hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat.

Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.

( Dari kumpulan kisah Maulana Jalaluddin Rumi )