Selasa, 25 April 2017

MAKNA DAN ARTI TAFAKUR

MAKNA DAN ARTI TAFAKUR

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Tafakkuruu fii khalqiLlahi wa laa tafakkaruu fiiLlahi, berpikirlah kamu tentang ciptaan Allah, dan janganlah kamu berpikir tentang Dzat Allah.”
Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas ini menurut Syaikh Nashiruddin Al-Bani dalam kitab Shahihul Jami’ish Shaghir dan Silsilahtu Ahadits Ash-Shahihah berderajat hasan.

Hadits itu berbicara tentang salah satu ciri khas manusia yang membedakanya dari makhluk yang lain, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir. Dengan kemampuan itulah manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan, dan kebaikan. Namun, sejarah juga mencatat bahwa tidak sedikit manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan akibat berpikir.

Karena itu, Rasulullah saw. menghendaki kita, kaum muslimin, untuk punya budaya tafakur yang akan bisa mengantarkan kita kepada kemajuan, kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan, dan ketundukan kepada Allah Ta’ala.

Agar tujuan itu tercapai, Rasulullah saw. memberi rambu-rambu agar kita tidak salah dalam bertafakur. Rasulullah saw. memerintahkan kita untuk bertafakur mengenai makhluk ciptaan Allah swt.

Beliau melarang kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan mampu menjangkaunya, dan berpikir tentang Dzat Alllah bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan.

FADHAAILUT TAFAKKURI (KEUTAMAAN TAFAKUR)

Setidaknya ada empat keutamaan tafakur, yaitu:

1. Allah memuji orang-orang yang senantiasa bertafakur dan berdzikir dalam setiap situasi dan kondisi dengan menceritakannya secara khusus dalam Al-Qur’an di surat Ali Imran ayat 190-191. Sa’id Hawa dalam Al-Mustakhlash Fi Tazkiyatil Anfus halaman 93 berkata, “Dari ayat ini kita memahami bahwa kemampuan akal tidak akan terwujud kecuali dengan perpaduan antara dzikir dan pikir pada diri manusia.

Apabila kita mengetahui bahwa kesempurnaan akal berarti kesempurnaan seorang manusia, maka kita bisa memahami peran penting dzikir dan pikir dalam menyucikan jiwa manusia.

Oleh karena itu, para ahli suluk yang berupaya mendekatkan diri kepada Allah senantiasa memadukan antara dzikir dan pikir di awal perjalanannya menuju Allah. Sebagai contoh, di saat bertafakur tentang berbagai hal, mereka mengiringinya dengan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.”

2. Tafakur termasuk amal yang terbaik dan bisa mengungguli ibadah. Ada atsar yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban berbunyi,

“Berpikir sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.”

Kenapa begitu? Karena, berpikir bisa memberi manfaat-manfaat yang tidak bisa dihasilkan oleh suatu ibadah yang dilakukan selama setahun.

Abu Darda’ seorang sahabat yang terkenal sangat abid pernah ditanya tentang amalan yang paling utama, ia menjawab, “Tafakur.”

Dengan tafakur seseorang bisa memahami sesuatu hingga hakikat, dan mengerti manfaat dari yang membahayakan.

Dengan tafakur, kita bisa melihat potensi bahaya hawa nafsu yang tersembunyi di dalam diri kita, mengetahui tipu daya setan, dan menyadari bujuk rayu duniawi.

3. Tafakur bisa mengantarkan kita kepada kemuliaan dunia dan akhirat. Ka’ab bin Malik berkata, “Barangsiapa menghendaki kemuliaan akhirat, maka hendaknyalah ia memperbanyak tafakur.”

Hatim menambahkan, “Dengan merenungi perumpamaan, bertambahlah ilmu pengetahuan; dengan mengingat-ingat nikmat Allah, bertambahlah kecintaan kepadaNya; dan dengan bertafakur, bertambahlah ketakwaan kepadaNya.”

Imam Syafi’i menegaskan, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.” (lihat Mau’idhatul Mu’minin)

4. Tafakur adalah pangkal segala kebaikan. Ibnul Qayyim berkata, “Berpikir akan membuahkan pengetahuan, pengetahuan akan melahirkan perubahan keadaan yang terjadi pada hati, perubahan keadaan hati akan melahirkan kehendak, kehendak akan melahirkan amal perbuatan.

Jadi, berpikir adalah asas dan kunci semua kebaikan. Hal ini bisa menunjukkan kepadamu keutamaan dan kemuliaan tafakur, dan bahwasanya tafakur termasuk amalan hati yang paling utama dan bermanfaat sampai-sampai dikatakan, ‘Tafakur sesaat lebih baik daripada ibadah setahun’.

Tafakur bisa mengubah dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari hal-hal yang dibenci Allah menuju hal-hal yang dicintaiNya, dari ambisi dan keserakahan menuju zuhud dan qana’ah, dari penjara dunia menuju keluasan akhirat, dari kesempitan kejahilan menuju bentangan ilmu pengetahuan, dari penyakit syahwat dan cinta kepada dunia menuju kesembuhan ruhani dan pendekatan diri kepada Allah, dari bencana buta, tuli, dan bisu menuju nikmat penglihatan, pendengaran, dan pemahaman tentang Allah, dan dari berbagai penyakit syubhat menuju keyakinan yang menyejukkan hati dan keimanan yang menentramkan.”
(Miftah Daris Sa’adah: 226).

NATAAIJUT TAFAKKURI (BUAH TAFAKUR)

1. Kita akan mengetahui hikmah dan tujuan penciptaan semua makhluk di langit dan bumi sehingga menambah keimanan dan rasa syukur.

Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya. [Ar-Ruum, 8]

2. Kita bisa membedakan mana yang bermanfaat sehingga bersemangat untuk meraihnya, mana yang berbahaya hingga berusaha mengindarinya.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. (Al-Baqarah: 219)

3. Kita bisa memiliki keyakinan yang kuat mengenai sesuatu, dan menghindari diri dari sikap ikut-ikutan terhadap opini yang berkembang.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba: 46)

4. Kita bisa memperhatikan hak-hak diri kita untuk mendapatkan kebaikan, sehingga tidak hanya berusaha memperbaiki orang lain dan lupa pada diri sendiri.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (Al-Baqarah: 44)

5. Kita bisa memahami bahwa akhirat itu lebih utama, dan dunia hanya sarana untuk membangun kebahagiaan akhirat.

Kami tidak mengutus sebelum kamu, melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul), dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf: 109)

Dan apa saja[1130] yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka Apakah kamu tidak memahaminya? (Al-Qashash: 60). [1130] Maksudnya: hal-hal yang berhubungan dengan duniawi seperti, pangkat kekayaan keturunan dan sebagainya.

6. Kita bisa menghindari diri dari kebinasaan yang pernah menimpa orang-orang sebelum kita.

Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. (Muhammad: 10)

7. Bisa menghindari diri dari siksa neraka karena bia memahami dan mengamalkan ajaran agama dan meninggalkan kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama syirik.

Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Al-Mulk: 10)

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka Apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiyaa’ : 67)

DHAWABITHUT TAFAKKURI (BATASAN TAFAKUR)

Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa semua yang ada di alam semesta, selain Allah, adalah ciptaan dan karya Allah Ta’ala. Setiap atom dan partikel, apapun memiliki keajaiban dan keunikan yang menunjukkan kebijaksanaan, kekuasaan, dan keagungan Allah Ta’ala. Mendata semuanya adalah sesuatu yang mustahil, karena seandainya lautan adalah tinta untuk menuliskan semua itu niscaya akan habis sebelum menuliskan sepersepuluhnya saja dari semua ciptaan dan karya-Nya.”

Jadi, tafakur adalah ibadah yang bebas dan terlepas dari ikatan segala sesuatu kecuali satu ikatan saja, yaitu tafakur mengenai Dzat Allah.

Saat bertafakur sebenarnya seorang muslim sedang berusaha meningkatkan ketaatan, menghentikan kemaksiatan, menghancurkan sifat-sifat destruktif dan menumbuhkembangkan sifat-sifat konstruktif yang ada dalam dirinya. Berhasil tidaknya hal itu dicapai sangat dipengaruhi banyak faktor, di antaranya:

Kedalaman ilmu
Konsentrasi pikiran
Kondiri emosional dan rasional
Faktor lingkungan
Tingkat pengetahuan tentang objek tafakur
Teladan dan pergaulan
Esensi sesuatu
Faktor kebiasaan

KENAPA KITA DILARANG TAFAKKUR MENGENAI DZAT ALLAH SWT.?

Setidaknya ada dua alasan, yaitu:

1. Kita tidak akan sanggup menjangkau kadar keagunganNya.

Allah swt. tidak terikat ruang dan waktu. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Bagi Tuhanmu tidak ada malam, tidak pula siang. Cahaya seluruh langit dan bumi berasal dari cahaya wajah-Nya, dan Dia-lah cahaya langit dan bumi. Pada hari kiamat, ketika Allah datang untuk memberikan keputusan bumi akan tenang oleh cahayaNya.

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat. (Asy-syuuraa: 11)

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui.
(Al-An’am: 103)

Ibnu Abbas berkata, “Dzat Allah terhalang oleh tirai sifat-sifat-Nya, dan sifat-sifat-Nya terhalang oleh tirai karya-karya-Nya. Bagaimana kamu bisa membayangkan keindahan Dzat yang ditutupi dengan sifat-sifat kesempurnaan dan diselimunti oleh sifat-sifat keagungan dan kebesaran.”

2. Kita akan terjerumus dalam kesesatan dan kebinasan.

Memberlakukan hukum Sang Khalik terhadap makhluk ini adalah sikap ghulluw (berlebihan). Itulah yang terjadi di kalangan kaum Rafidhah terhadap Ali r.a. Sebaliknya, memberlakukan hukum makhluk terhadap Sang Khalik ini sikap taqshir.

Perbuatan ini dilakukan oleh aliran sesat musyabihhah yang mengatakan Allah memiliki wajah yang sama dengan makhluk, kaki yang sama dengan kaki makhluk, dan seterusnya. Semoga kita bisa terselamatkan dari kesesatan yang seperti ini. Amiin.

Sebar Dakwatuna, semoga yang berbuat baik dalam tulisan ini selalu dalam karunia-Nya. Amin

Insya Allah, bila berkeyakinan pada-Nya melalui tafakur kita semua akan selalu dalam kebaikan sehingga menggapai keridhoan-Nya. Amin

MUSYAHADAH (MENYAKSIKAN ALLAH)

MUSYAHADAH (MENYAKSIKAN ALLAH)

Musyahadah adalah Menyaksikan dan Bertemu dengan Dzat Wajibul Wujud yaitu Allah.

Musyahadah ini adalah Awal Mengenal-Nya, karena Mustahil kita Mengenal Allah bila tidak pernah Menemui-Nya.

Seperti kata Pepatah;
“Tak jumpa Maka Tak Kenal,
Tak Kenal Maka Tak Cinta”.

Menyaksikan Allah disini bukan Menyaksikan dengan Mata, karena Dia Tak dapat dijangkau dengan Panca Indera.

Menyaksikan Allah disini pun bukan dengan Akal Pikiran, maupun Perasaan. Karena Dia diluar jangkauan Akal Pikiran, dan Perasaan.

Menyaksikan Allah disini adalah Dengan Hati. karena Hanya Hatilah yang selalu menjadi Pusat Pandangan Allah, sehingga Hati mendapatkan Pancaran Cahaya-Nya.

Tanpa Cahaya seseorang tidak akan bisa Melihat apapun, karena Mata tidak akan berfungsi apa-apa bila tidak ada Cahaya sedikit pun.

Begitulah juga Mata Hati tidak akan bisa Menyaksikan Allah tanpa Nur (Cahaya), Nur itu adalah dari Allah sendiri, karena hanya Dia sendirilah yang bisa Memperkenalkan Diri-Nya kepada Hamba-Hamba-Nya.

Semoga kita Mendapatkan Nur tersebut, sehingga Mata Hati kita tidak buta dalam Menyaksikan Al HAQ (Allah SWT).

Allah Ta’ala berfirman;
Maka sesungguhnya bukanlah matanya yang buta, tetapi Mata Hati yang berada di rongga Dadanya.(Qs.22:46)

Barangsiapa Buta di Dunia, maka di Akhirat lebih Buta dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.(Qs.17:72)

Dari ayat-ayat ini, dapat dipahami bahwa apabila di Dunia ini Mata Hati Buta terhadap Diri Allah Ta’ala, Maka di Akhirat akan lebih Buta lagi terhadap Allah, sehingga kita menjadi lebih tertutup atau terhalang untuk Melihat Allah.

Sebagaimana Firman-Nya;
Sesungguhnya mereka pada Hari itu benar-benar Tertutup dari Tuhan mereka.(Qs.83:15)

Matilah sebelum mati

Matilah sebelum mati, itulah yang menjadi salah satu nasihat dari Rasulullah SAW. Tentu nasihat tersebut tidak sembarang diucapkan tanpa adanya makna dibalik kata-kata tersebut.

Banyak orang Islam sendiri yang mungkin bingung dengan apa yang harus dilakukan bila manusia mati sebelum ajal menjemput. Mati pada pembahasan kali ini bukan mengajarkan manusia untuk bunuh diri dan semacamnya, namun lebih kepada mati secara hawa nafsu.

Intinya adalah bahwa urusan duniawi seharusnya menjadi hal yang tidak diutamakan karena manusia dengan sifat duniawinya memiliki hawa nafsu yang besar. Berikut adalah penjelasan hakikat mati serta cara mati sebelum kematian yang sebenarnya datang.

Pesan dari Rasulullah, Matilah Sebelum Mati yang Sebenarnya

Mati memang pada dasarnya merupakan sebuah peristiwa di mana ruh manusia terbebas dari jasadnya, sehingga perlu diupayakan untuk tidak membuat ruh terkukung oleh hawa nafsu dan jasmani.

Manusia memegang kendali atas hawa nafsunya sehingga seharusnya hawa nafsu dapat dikontrol oleh ruh manusia, dan bukannya ruh manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu.

Mematikan diri seringkali dianggap sebagai bunuh diri, padahal bukan mati tersebut yang dimaksudkan oleh Rasulullah, namun lebih ke memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Hakikat mati menurut Islam dan mematikan diri sebelum benar-benar meninggal atas sabda Rasulullah adalah dengan menutup mata sejenak dan mengimajinasikan bahwa jenazah Anda ada di atas keranda mayat dimana para pengantar jenazah turut mengiringi.

Intinya, keadaan bagaimana yang diinginkan sesudah meninggal, maka jadilah seperti yang diinginkan ketika Anda sekarang tengah hidup di dunia. Memperbaiki segala kesalahan adalah yang terutama berikut juga tingkah laku.

Bertaubat adalah jalan yang kemudian bisa ditempuh apapun perbuatan maksiat yang telah dilakukan. Ada lembaran baru yang bisa dibuka di kemudian hari untuk kemudian melanjutkan hidup dengan mendekatkan diri kepada Allah disertai hidup dengan budi pekerti yang benar.

Membersihkan diri dari pengkhianatan, iri hati dan dengki juga penting. Jika nantinya para saksi, yaitu makhluk ibarat pena Allah bersaksi baik, kesaksian tersebut akan Allah terima di sisi-Nya. Itulah cara belajar mati sebelum mati.

Mati yang dinasihatkan oleh Rasulullah sebenarnya adalah mati yang meninggalkan segala kemauan hawa nafsu dan kebiasaan buruk. Selain dari tabiat buruk yang perlu ditinggalkan, manusia juga dinasihatkan untuk meninggalkan makhluk dengan tidak bersandar serta mengikuti mereka.

Selain dari Allah, hendaknya manusia tidak berharap kepada makhluk lainnya. Amal yang diperbuat hendaknya hanya untuk Allah secara ikhlas. Bahkan dalam beramal pun manusia tidak boleh melakukannya hanya demi mengharap pahala dan nikmat-Nya semata, tapi karena memang Allah menjadi nomor satu dalam hidup seseorang. Belajarlah mati sebelum kematian itu datang secara sesungguhnya.

Manusia juga diharapkan untuk senantiasa ridha akan segala tindakan, qadha dan pengaturan dari Allah. Bila manusia bisa ridha dalam segala hal, maka hidup dan mati tidak akan perlu dikhawatirkan karena manusia akan selalu bersama-Nya.

Dengan melakukan mati sebelum meninggal yang sebenarnya, ada ketentraman yang akan memenuhi kalbu. Kalbu manusia akan dapat selalu dekat kepada Allah dan mengandalkan-Nya daripada ke sesama manusia.

Berbagai keuntungan bisa didapat dengan mematikan diri sebelum mati, yaitu diri kita akan dicukupkan dengan ma’unah atau pertolongan di dunia dan akhirat. Allah-lah yang akan memberikan perlindungan, senantiasa menjaga umat-Nya dalam kehidupan dan kematian serta di segala kondisi.

Poin utama mematikan diri adalah untuk bisa memahami yang baik dan yang buruk. Demi hidup yang lebih baik di dunia dan akhirat, maka coba untuk matilah sebelum mati.

KEHIDUPAN MANUSIA TAK UBAH SEPERTI SIFIR 7

*KEHIDUPAN MANUSIA TAK UBAH SEPERTI SIFIR 7 YG AKAN BERHENTI DITANGGA SEMBILAN FIKIR2KAN DAN BERMUHASABAH*

Kita, kehidupan kita  dan umur kita adalah seperti SIFIR 7. Sifir ini akan berhenti di tangga ke 9.
Kenapa?
Jom renungkan.

*7 x 1 = 7*
Ketika umur di sifir 7x1,  kita percaya bahawa bermain merupakan perkara sangat penting. Sebab itu kita suka bermain. Pagi petang siang malam mahu bermain. Kita belum kenal dosa pahala. Kita belum fikir tentang masa depan.

*7 x 2 = 14*
Ketika umur kita belasan tahun pula, kita merasakan kebebasan itu lebih penting. Sebab itu kita ingin menyuarakan pendapat sendiri. Ingin suara didengari. Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala. Kita menjadi degil dan tidak mahu mendengar kata.

*7 x 3 = 21*
Beranjak kepada umur 20-an, kita berasakan pendidikan dan kerjaya pula penting. Sebab itu kita belajar bersungguh-sungguh untuk memperoleh kerjaya yang setimpal. Kadang-kadang kita berasa menyesal tidak belajar bersungguh-sungguh dahulu. Melihat kawan-kawan mendapat pekerjaan yang baik kita berasa cemburu. Alangkah ruginya kita mempersiakan hidup sebelum ini.

*7 x 4 = 28*
Meningkat kepada umur ini, kita semakin sedar bahawa kewangan itu pula penting. Masa inilah kita sedang membina hidup.

*7 x 5 = 35*
Tahap penting utk membina keluarga. Ingin membeli kereta,  rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.

*7 x 6 = 42*
Namun akhirnya, kita akur tatkala memasuki fasa ini. Bahawa usia semakin meningkat. Ini bukan lagi masa untuk berehat. Saat ini saat yg genting. Kita berlumba2 mengumpul harta.

*7 x 7 = 49*
Kita sedar perkara yang paling penting dalam hidup ialah kesihatan. Kekayaaan dan lain-lain tidak bermakna dengan tahap kesihatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, kencing manis, jantung sakit  dan lain-lain sedang cuba melamar. Masa inilah kita menyesal kerana sibuk dengan kerjaya sehingga lupa untuk bersenam, menjaga kesihatan ketika umur remaja dan meningkat dewasa.

*7 x 8 = 56*
Memasuki era 50-an, tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sedar bahawa perkara yang lagi penting dalam hidup ialah kasih sayang. Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berkahwin dan tinggal di tempat lain. Anak-anak yang sibuk dengan kerjaya menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka di usia kecil. Rumah banglo besar, kereta besar seakan-akan tidak lagi bermakna. Rumah besar kosong dan sunyi sepi.

*7 x 9 = 63*
Kehidupan mesti diteruskan. Tatkala memasuki usia 60-an, kita semakin sedar bahawa hanya amal ibadat perkara yang cukup bermakna sebagai bekalan menuju ke sana. Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna. Kubur bakal menjemput bila-bila masa. Rumah hampir setiap hari menyatakan selamat tinggal. Mujurlah Allah masih membuka pintu dan menerima taubat yang kita pohon.

Kenapa berhenti di sifir 7 x 9? Sebab, kita umat Muhammad saw . Banyak yang berakhir di usia ini. Jika ada pun yang sampai ke sifir seterusnya, ia adalah bonus.

Demikianlah kitaran hidup. Kanak-kanak akan menjadi remaja. Remaja akan menjadi dewasa. Dan dewasa akan melangkah ke alam usia emas. Usia hanyalah pinjaman. Dunia hanyalah pinjaman. Amatlah rugi jika kita mempersiakan hidup dengan perkara yang merugikan dan melalaikan. Terlibat dengan gejala dadah, berkawan dengan rakan yang melalaikan, atau terlalu sibuk dengan kebendaan.

*Ingat!! Berapa ramai pula yg tak lepas banyak sifir 7. Ada yg berhenti di tangga 1, byk juga yg umurnya ditangga ke 3.*

■ Hidup ini hanya sementara sahabat2ku. Kejarlah akhirat sebelum tertiarap. Dunia juga penting. Kerana dengan dunialah kita akan ke akhirat.

■ Umur yg kita dapat hari ini adalah anugerah dari Allah. 

■ Hargailah dengan banyak mengingati Allah. Kumpulkan bekalan yang akan kita bawa 'ke sana'. Walau di tangga mana pun kita sekarang, jangan tangguh kerana mati itu misteri, tidak akan cepat atau lewat walau sesaat..

Iktibar Daripada Kisah Israk Dan Mikraj

Iktibar Daripada Kisah Israk Dan Mikraj

Peristiwa Israk Mikraj perlu dijadikan iktibar bagi seluruh umat Islam yang menggambarkan betapa pentingnya proses tarbiah (pendidikan) jiwa ke arah kesempurnaan.

Israk Mikraj turut membuktikan kehebatan dan kekuasaan Allah. Bukti paling nyata Dia berkuasa ‘membenarkan’ Rasulullah diangkat ke langit untuk bertemu-Nya dalam masa yang singkat.

Ketika diisrakkan pada malam itu, Rasulullah SAW terlebih dulu menjalani pembedahan dada yang dilakukan Malaikat Jibril dengan mengeluarkan segala kotoran, dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan was-was.

Diisi dengan iman dan hikmah, kemudian dibersihkan hati baginda dengan air zamzam dan dicantumkan semula.

Selesai pembedahan, bermulalah perjalanan luar biasa Nabi (Israk) dengan menunggang binatang yang bernama Buraq. Ketika perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu, Rasulullah diiringi malaikat Jibril dan Israfil.

Apabila tiba di tempat tertentu iaitu tempat yang mulia dan bersejarah, malaikat Jibril mengarahkan Rasulullah bersolat dua rakaat. Antara tempat berkenaan adalah Thaibah (Madinah), tempat Rasulullah melakukan hijrah, Bukit Tursina dan Baitul Laham iaitu tempat Nabi Isa dilahirkan.

Setibanya Rasulullah SAW di Masjidil Aqsa, Baitulmaqdis, Rasulullah SAW mengerjakan solat sebelum Jibril menghidangkan dua jenis minuman kepada baginda. Lantas baginda memilih susu.

Jibril berkata: “Benar, engkau telah memilih air susu adalah lambang kesucian dan seandainya engkau mengambil minuman keras nescaya akan tersesatlah engkau dan umat engkau.”

Dalam peristiwa Mikraj pula, baginda naik ke langit sampai ke Sidratul Muntaha, bahkan ke Mustawa dan sampai di bawah Arasy Allah dengan melalui tujuh lapis langit.

Beberapa tanda kebesaran diperlihatkan kepada Rasulullah SAW ketika Israk, antaranya ialah baginda melihat orang yang sedang memotong padi dan selepas tiap potongan, pokok padi itu tumbuh lagi dan demikian seterusnya tanpa henti.

Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril: “Siapakah gerangan itu?” Jibril menjawab: “Itulah contohnya umatmu yang suka bersedekah, maka harta yang disedekahkah itu tidak hilang bahkan kian bertambah di sisi Tuhan yang diterima oleh umatmu yang rajin beramal di kemudian hari dengan berlipat ganda.”


Rasulullah SAW turut melihat orang yang memukul kepala dengan besi. Selepas pecah kepala, ia bercantum semula. Kemudian, dipukul lagi dan pecah semula, begitulah seterusnya berulang kali.

Selepas Rasulullah SAW bertanya, Jibril pun menjawab: “Inilah orang yang malas dan enggan mengerjakan solat, kepalanya tidak mahu sujud kepada Allah maka di kemudian hari, dia akan merasakan sendiri kemalasannya itu.”


Ketika Mikraj pula, Rasulullah SAW menempuh perjalanan melalui tujuh lapisan langit, malah ke tempat lebih tinggi dari langit ketujuh itu. Di tempat mulia itulah, Allah SWT menyampaikan perintah mulia untuk baginda dan umatnya, iaitu mengerjakan solat. Nabi mendapat perintah solat secara langsung daripada Allah tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril.

Pada mulanya, perintah solat wajib itu menghendaki ia dilaksanakan 50 kali sehari semalam tetapi selepas Rasulullah SAW bersoal jawab dengan Nabi Musa as, akhirnya Baginda mendapat keringanan Allah SWT untuk mengerjakan solat fardu daripada 50 kali sehari menjadi lima kali sehari semalam, namun dalam penilaian sebenar, Allah tetap memberi 50 ganjaran pahala.

Rasulullah SAW bersabda: “(Selain daripada apa yang aku saksikan ketika aku dibawa Israk dan Mikraj pada malam itu), maka Allah fardukan (atasku) dan atas umatku lima puluh solat, lalu aku memohon kepada-Nya (supaya dikurangkan lagi bilangan solat itu yang sudah pun dikurangkan hingga tinggal lima saja); maka Allah berfirman yang bermaksud: “Solat fardu (sehari semalam) itu tetap lima (dari segi bilangannya) dan ia juga tetap lima puluh (dari segi pahalanya); keputusan-Ku itu tidak dapat diubah atau ditukar ganti.” (Hadis riwayat Bukhari).

Solat adalah amalan yang paling awal dihitung di akhirat kelak. Justeru, ia menunjukkan solat memiliki kelebihan berbanding ibadat lain.

Selepas perintah solat itu, Nabi kembali turun ke langit dunia seterusnya ke Baitul Maqdis dengan menunggang Buraq dan pulang pada malam yang sama ke Makkah sebelum waktu Subuh. Kecepatan Buraq membolehkan Rasulullah SAW pergi antara dua tempat hanya dengan sekelip mata.

Sebuah hadis yang diriwayatkan daripada Anas bin Malik katanya, Rasulullah SAW bersabda: “Aku didatangi buraq. Iaitu seekor binatang yang putih rupanya, panjang (tinggi) lebih besar daripada keldai, tetapi lebih kecil daripada baghal. Ia merendahkan tubuhnya hinggalah perut buraq mencecah bumi.”

Baginda SAW bersabda lagi: “Tanpa membuang masa, aku terus menungganginya, ia melangkah kakinya cepatnya sejauh penghabisan mata memandang hinggalah sampai ke Baitul Maqdis.”

Begitulah perjalanan dari Makkah ke Palestin, kemudian naik ke langit dan lebih tinggi dari itu sebelum menerima perintah solat.

Diikuti pula pertemuan dengan Rasul terutama bersoal jawab dengan Nabi Musa as, menyaksikan keanehan Sidratul-Muntaha, melihat keindahan syurga.

Dalam ‘pengembaraan luar biasa’ itu, Rasulullah SAW menyaksikan banyak perkara dahsyat terutama balasan dan seksaan yang diterima manusia kerana melakukan kemungkaran di dunia.dan sebagainya, terus kembali ke alam dunia hingga ke Makkah dengan perjalanan yang singkat.

Peristiwa ini berlaku ketika Nabi berada di puncak kesedihan yang memerlukan sokongan dalaman. Tahun itu dikenali sebagai ‘Aam al Huzni’ (tahun berduka cita).

Berdasarkan catatan sejarah, Nabi Muhammad menghadapi dua musibah iaitu kehilangan dua insan yang amat berjasa dan sangat baginda kasihi iaitu wafatnya isteri tercinta, Siti Khadijah serta bapa saudaranya Abu Talib.

Sesungguhnya, mukjizat Israk dan Mikraj memperlihatkan kekuasaan Allah SWT. Segala peristiwa tercatat seharusnya lebih menguatkan keimanan dan keyakinan manusia terhadap Allah SWT.

Peristiwa ini membawa misi penting iaitu bermulalah kewajipan melaksanakan perintah menunaikan solat dan pengajaran yang dapat diambil daripada peristiwa Israk Mikraj ialah seluruh umat Islam bertanggungjawab membebaskan dan memelihara kesucian Masjid al-Aqsa yang menjadi lambang kebesaran serta tempat suci bagi umat Islam daripada cengkaman Yahudi.

Justeru, mereka perlu berkorban menerbitkan keyakinan manusia terhadap kekuasaan Allah SWT dan kebenaran kenabian Muhammad SAW.

والله أعلم بالصواب

Ingat mengingati dan nasihat menasihati.

Untuk renungan bersama.....

Eloklah sama2 kita ingat mengingati dan nasihat menasihati..

Ramai antara kita yang dah lama   pencen, baru pencen dan juga yg akan berpencen..

Boleh renung2 kan plan dibawah ni sebelum kita yang pencen atau yg akan berpencen tidak menderita hidup kita sebab tidak merancang!

Kalau derita sekadar didunia ini tidaklah mengapa tetapi yang kita semua takuti adalah derita dunia dan akhirat.

Justeru, dengan pengalaman kawan kawan senior saya dan juga nasihat dari para Tuk Tuk Guru, saya panjangkan planning saya ini untuk sahabat2 semua.

Diusia pencen ini tak usah lah sibuk nak bela kucing, atau cari Pokemon dan ralit main  facebook atau apa saja yang tak faedah.

Badan dah nak mati tu elok lah buat plan ibadah agar mati dalam akidah/ibadah yang betul.

Kalau di KL dan Selangor ni banyak majlis ilmu. Oleh itu mengajilah. Refresh balik ilmu yang telah kita tinggalkan sejak sekolah dulu.

Cadangan saya ;

1. Mantapkan ilmu aqidah/ Tauhid. Ini untuk memastikan aqidah kita benar dan betul sebab kalau aqidah kita salah/syirik/kufur tanpa sedar pun kita akan termasuk golongan neraka. Akidah lah kunci syurga.

Selain itu mantapkan ilmu feqah dan tasauf.

Jangan asyik nak belajar tajwid dan taranum saja sedangkan kita dah fasih baca quran. Lain lah kalau tak pandai baca quran, wajiblah kita belajar.

Bagi yang dah mahir baca, ingatlah tak der siapa nak dengar suara tua kita yang merdu tu. Yang penting banyak tadabbur quran dan bukan hanya baca saja tanpa faham isi alquran.

2. Banyakkan taubat. Taubat tak kira tempat. Dimana pun boleh taubat. Bukan dimekah saja. Kita ni banyak dosa. Oleh jangan abaikan taubat walau sehari.

3. Perbaiki ilmu solat agar betul. Jangan pulak masa terluang yang banyak tu kita asyik nak tengok drama bersiri dan drama cinta, Sayangku kapten mukhris atau hindustan dan yang lain lain pulak. Ingat, kita semua dah kerepot. Tak ada siapa nak main cinta dah!

4. Dapat duit pencen tu, jangan sibuk nak shopping bergaya macam orang kaya kaya. Itulah penyambung nyawa kita 10 ke 15 tahun lagi. Dan jangan pulak asyik belikan cucu cucu baju pulak. Sesekali tak apalah! Yang penting, guna duit tu untuk settle  fidyah puasa dan qodha puasa kita. Itu semua hutang kita pada Allah. Dan jangan lupa pulak hutang pada manusia yang belum kita bayar. Jangan nak lupakan pulak.

5. Kalau belum ke Mekah dan ada duit gratuiti tu, pergilah ke Mekah dan jangan sibuk nak renovate rumah. Duduk lah rumah yang ada tu seada nya. Kalau nak repair pun repair bumbung saja sebab takut kita kena hujan. Tentukan mengambil bahagian dalam ibadah Korban setiap tahun walaupun satu bahagian.

6. Banyakkan sedekah jariah dan juga wakaf. Bukan sedekah pada orang buta yang ada sindikit tu tapi jariah tu maksudnya sedekah pada orang nak buat masjid ke, pondok ngaji ke dan sebagainya. Sedekah jariah itu nanti akan mengalir pahala nya bila kita dah dikambus tanah nanti.

7. Pagi dan petang jangan lupa buat senaman dan juga jangan lupa check up hospital selalu. Supaya kita tak sakit dan menyusahkan anak anak nak jaga kita waktu tua. Mereka pun bergelut dengan kehidupan mereka sendiri. Kesian dekat anak anak. Dan kalau tak sakit, mudah nak buat ibadat kita.

8. Jangan banyak tidur sebab kita pun tak lama lagi nak tidur lama.

9. Jangan jadi kuli anak waktu tua. Waktu inilah anak anak durhaka ini suka landingkan anak anak mereka pada kita untuk kesenangan mereka melaram pergi kenduri kawin dan shopping. Lainlah kalau sesak sesekali kerana kerja dan hal2 penting sebagainya. Tapi bukan selalu. Ingat tu!

10. Jangan sesekali terlibat dengan bisnes dah! Cukup lah pencen dan simpanan yang ada tu untuk makan kita yang dah tak berapa selera ni, sebab hidup kita pun tak lama. Andai kalau bangkrap, jawabnya jadi cleaner atau pak guard lah sampai mati.

11. Berhati hati bagi anak pinjam duit kita untuk perkara yang tidak penting bagi mereka. Kalau penting sangat tu boleh lah beri tapi pastikan mereka bayar balik. Itu duit hari tua kita. Jangan sampai kita mengemis sebab kerakusan anak anak. Sayang anak biar bertempat. Jangan sekali kita diperbodohkan.

Mereka sepatutnya perlu bijak uruskan keewangan seperti mana kita dulu yang sanggup ikat perut nak besarkan mereka. Terkadang anak dan menantu kita ni mereka hidup ikut nafsu. Pantang ada duit sikit, shoppinglah mereka tanpa pikir masa depan anak anak mereka. Baju penuh almari. Mekap yang mahal mahal. Kalau boleh perhatikan mereka dan nasihatkan mereka.

12. Berziarahlah kawan kawan dan sedara mara kita, sebab usia kita pun tak panjang. Apa lagi mungkin kita pun banyak dosa dengan mereka waktu muda dulu. Mengumpat, gosip, pinjam duit tak bayar. Waktu ini lah masanya kita tebus segala dosa kita agar kita selesaikan semua urusan dengan manusia bila mati nanti.

13. Akhirnya, bersabarlah hidup dihari tua. Ujian macam kelkatu. Banyak ingat Allah dan baca quran. Agar kita selalu tenang hingga lah bertemu Allah.

Rasa2 macam plan ini boleh di menafaatkan... boleh teruskan. Tapi kalau  rasa macam tak mengikut citarasa sahabat2.. Abaikanlahh..

Waullahualam. 🙂 sama2 kita audit diri kita..masing2 ada level - kelebihan , kekuatan dan kelemahan serta kekurangan diri..yg penting terus perbaiki diri sediakan diri utk kembali kepadaNYA..

Isnin, 24 April 2017

MATI SEBELUM MATI

MATI SEBELUM MATI

Ada satu istilah Sufi,
Iaitu mati sebelum mati,

Apakah maksud mati Si Sufi,
Bukan bercerai nyawa dari badan,

Bercerai nyawa dari badan,
Itu hanya perpindahan,

Berpindah dari alam benda,
Masuk ke dalam alam nyawa,

Namun kita hidup juga,
Hanya berpindah alam saja,

Hidup terus wujud,
Kerana ia pancaran Al-Wujud,

Di alam sana kita wujud juga,
Melihat tanpa mata,
Mendengar tanpa telinga,

Lebih jelas dan nyata,
Kerana dinding badaniah tidak ada,

Apakah mati menurut Si Sufi,
Dengarlah huraian di bawah ini,

Mati di sini dalam khayalan,
Dalam khayalan dan perasaan,

Khayalan dan perasaan,
Sangat penting dalam Kesufian,

Matikan ego mu,
Matikan nafsu amarahmu,

Matikan kepentingan diri,
Tegakkan kepentingan Ilahi,

Nafikan dirimu ithbatkan Allah,
Hingga terasa tiada wujud selain Allah,

Hingga terasa dirimu kosong belaka,
Hanya Allah segala gala,

Hingga terasa tidak ada segala sesuatu,
Yang ada hanya zat yang maha satu,

Bila allah terdiri dalam hati,
Terasa lenyap diri sendiri,

Nafi yang lain ithbatkan Allah,
Itulah rahsia Laailaha'illallah,

Terasalah dalam perasaan Si Sufi,
Dia telah binasa dan mati,

Yang hidup hanya Allah,
Yang wujud hanya Allah,

Inilah dalam perasaan,
Inilah dalam khayalan,

Orang Sufi orang ruhani,
Merenung jauh ke dalam diri,

Berbagai ilham mereka perolehi,
Orang bukan Sufi sukar mempercayai,

Bukan senang menjadi Sufi,
Perlu latihan secara rohani,

Mereka bersembahyang mereka berpuasa,
Mereka berzikir segenap masa,

Bersihkan hati hingga bergilap,
Bercahaya bersinar tiada lagi gelap,

Hati dicuci dengan zikrullah,
Jiwa yang kembali mengadap Allah,

Guru itu sebagai pembimbing,
Menuju makrifat yang hening,

Makrifat itu pengenalan,
Mengenal Allah mengenal insan,

Apabila sampai ke makrifat suci,
Terasalah ia hampirnya Rabbi,

Terlalu hampir terlalu nyata,
Lidah kelu hendak berkata,

Tidak dapat dikatakan,
Hanya terasa dalam khayalan,

Orang Sufi hampir dengan Rabbi,
Mereka kosong dari ego sendiri,

Mereka menjadi cermin Allah,
Mereka menjadi tanda tanda Allah,

Mereka itu sudah kembali,
Kembali ke hadrat Ilahi,

Badan di dunia tapi roh disisi Allah,
Mati pada diri..tapi hidup dalam Allah,

Mereka itu hamba Allah sejati,
Mereka itu hanya manifestasi,

Kalau kau perangi Wali Allah,
Kau sebenarnya memerangi Allah,

Kalau kau wali Allah,
Lontaranmu lontaran Allah,

Pukulanmu pukulan Allah,
Bukan kau yang melakukan...
sebenarnya Allah,

Wali Allah Sufi sejati,
Doanya makbul di restui Ilahi,

Mereka menjadi Khalifah Allah,
Mereka hanya ayat ayat Allah,

Belajarlah pada Syeikh Sufi,
Agar kau diberkati Ilahi,

Terlalu hampir sekali,
Terasa diri tiada lagi,

Matilah diri hiduplah Allah,
Semata mata yang ada hanya Zat Allah

Sudut pandanganmu

BELAJAR DARI KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE

BELAJAR DARI KATA-KATA HIKMAH IMAM AS-SYAFIE

"Bila kamu tak tahan penatnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan."
- (Imam asSyafie)

"Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian, sedangkan kain kafannya sedang ditenun".
- (Imam asSyafie)

"Orang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu, merantaulah ke negeri orang"
- (Imam asSyafie)

"Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah. Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu"
- (Imam asSyafie)

"Barangsiapa yang menginginkan Husnul Khatimah, hendaklah ia selalu bersangka baik dengan manusia".
- (Imam Syafie)

"Doa disaat tahajud  adalah umpama panah yang tepat mengenai sasaran."
- (Imam Syafie)

"Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat.”
- (Imam Syafie)

"Seorang sufi tidak menjadi sufi jika ada pada dirinya 4 perkara: malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan".
- (Imam asSyafie)

"Siapa yang menasihatimu secara sembunyi-sembunyi maka ia benar-benar menasihatimu. Siapa yang menasihatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu''
- (Imam asSyafie)

"Jadikan akhirat dihatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk  matamu"
- (Imam asSyafie)

SUMBER:OMBAK73