Khamis, 27 Ogos 2015

KENALI ASAL USUL KEJADIAN NABI ADAM

KENALI ASAL USUL KEJADIAN NABI ADAM

Berkata Imam Ats-Tsa’labi Bahawa Ketika Allah Ta’ala Hendak Menciptakan Adam Dari Tanah, Terlebih Dahulu Allah Mengkhabarkan Kepada Bumi: “Hai Bumi, Aku Akan Ciptakan Manusia Dari SaripatiMu. Sebahagian Mereka Ada Yang Taat Kepada-Ku Dan Sebahagian LainNya Durhaka Kepada-Ku. Siapa Yang Taat Kepada-Ku Maka Akan Aku Masukkan Dia Ke Dalam Syurga-Ku, Dan Siapa Yang Durhaka Kepada-Ku Akan Aku Masukkan Dia Ke Dalam Neraka-Ku”. 

Kemudian Allah Ta’ala Mengutus Kepada Malaikat Jibril Untuk Turun Ke Bumi Mengambil Segenggam Tanah. Ketika Malaikat Jibril Hendak Mengambil Sebahagian Tanah Itu, Bumi Menolak Dan Bersumpah: ”Demi Allah, Aku Berlindung Kepada-Mu Dari Utusan-Mu, Agar Engkau Tidak Mengambil Sebahagian Dari Kami Jika Nantinya Akan Menjadi Penghuni Neraka”. Kerana Sumpah Itu, Akhirnya Malaikat Jibril Membatalkan Niat Untuk Mengambil Tanah Itu Dan Melaporkan Kejadian Tersebut Kepada Allah Ta’ala. Kemudian Allah Ta’ala Menyuruh Malaikat Mikail Untuk Mengambilnya. Bumi Bersumpah Lagi Dan Malaikat Mikail Pun Tijadi Mengambil Tanah Itu.

Kemudian Allah Ta’ala Menyuruh Malikat Izrail Pula Mengambil Tanah Itu. Ketika Malaikat Izrail Turun Ke Bumi, Ia Langsung Memukul Bumi Dengan PedangNya Dan Bumi Pun Bergetar Ketakutan. Lantas Malaikat Izrail Pun Mencabut Tanah Segenggam. Tanah Yang Diambil Oleh Malaikat Izrail Berasal Dari Tanah Yang Beragam Dan Di Ambil Satu Genggam : Tinggi Rendahnya (Mula Dari Tanah Dataran Tinggi Dan Dataran Rendah); Sifatnya (Dari Tanah Liat Dan Tanah Gembur); Warnanya (Ada Yang Hitam Dan Putih); Dan Penjurunya (Ada Yang Dari Bumi Paling Barat, Timur, Utara Dan Selatan). 

Sepertimana Sabda Nabi SAW : “Sesungguhnya Allah Ta’ala Menciptakan Adam AS Dari Segenggam Tanah Dari Seluruh Penjuru Bumi, Maka Kemudian Manusia Pun Seperti Itu, Yakni Ada Yang Baik Dan Ada Yang Buruk, Lemah Lembut Kasar, Senang, Sedih Dan Lainnya” (HR Tirmidzi - Hadis Marfu’)

Kemudian Tanah Itu DiBawa Menghadap Allah Ta’ala. Lalu Allah Ta’ala Berfirman Kepada Malaikat Izrail: “Mengapa Engkau Tidak Mengikuti SumpahNya (Bumi) ? Jawab Malaikat Izrail: ”Perintah-Mu Lebih Aku Ikuti Dan Aku Takuti Daripada SumpahNya”. Kemudian Allah Ta’ala Berfirman: “Engkaulah Malaikat Pencabut Nyawa (Malakul Maut)” 

Ketika Malaikat Izrail Mengambil Paksa (Mencabut) Sebahagian Dari Bumi, Bumipun Menangis Merasa Kehilangan. Kemudian Allah Ta’ala Berfirman Kepada Bumi : “Sesungguhnya Kelak Akan Aku Kembalikan Kepadamu Apa Yang Aku Ambil DariMu Itu.” Dalam Surah Thaha : 55 - Allah Ta’ala Berfirman: “Dari Bumi (Tanah) Kami Jadikan Kamu Dan KepadaNya Kami Akan Kembalikan Kamu Dan DaripadaNya Kami Akan Keluarkan Kamu Pada Kali Yang Lain’.

Kemudian Allah Ta’ala Menyuruh Malaikat Izrail Membawa Tanah Itu Ke Syurga Agar DiSerahkan Kepada Malaikat Ridhwan (Penjaga Syurga), Kecuali Tanah Warna Putih. Untuk Tanah Putih Ini Allah Ta’ala Menyuruh Malaikat Jibril Yang Menyerahkannya Kepada Malaikat Ridhwan. Dari Tanah Putih Ini Allah Ta’ala Ciptakan Para Nabi. Lantas Allah Ta’ala Menyuruh Malaikat Ridhwan Untuk Mencampur Tanah Itu Dengan Air Tasnim Sampai Jadilah Sebuah Cairan Tanah Yang Sangat Besar.
==============
PROSES PEMBENTUKAN JASMANI

Setelah Tanah Tadi Menjadi Cairan, Kemudian Malaikat Jibril DiPerintah Oleh Allah Ta’ala Agar Cairan Itu Didiamkan Melalui Tiga Tahap. TAHAP 1 - DiDiamkan Selama 40 Tahun Sampai Akhirnya Menjadi Tanah Liat (Thin Laazib). Inilah Yang Allah Ta’ala Sebutkan Dalam Surah As-Shaffat : 11 - “Sesungguhnya Kami Telah Menciptakan Mereka Dari Tanah Liat”. TAHAP 2 - DiDiamkan Lagi Selama 40 Tahun Sampai Menjadi Tanah Kering Yang Berbentuk Manusia (Shalshal). Ini Yang Allah Ta’ala Sebutkan Dalam Surah Al-Hijr : 28 - “Dan (Ingatlah), Ketika Tuhanmu Berfirman Kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya Aku Akan Menciptakan Seorang Manusia Dari Tanah Liat Kering (Yang Berasal) Dari Lumpur Hitam Yang Diberi Bentuk”. TAHAP 3 - DiDiamkan Kembali Selama 40 Tahun Dalam Posisi Telentang Di Jalanan Tempat Lalu-Lalangnya Para Malaikat Naik Dan Turun Dari Langit Ke Bumi. 

Menurut Ibnu Abbas RA: Pada Suatu Ketika, Iblis Melewati Tanah Berbentuk Nabi Adam Itu. Tiba-Tiba Iblis Menampar Perut Nabi Adam Hingga Berbekas. Sampai Akhirnya Jadilah Wujud Nabi Adam AS Dengan Sempurna, Tinggi 60 Dzira’ Dan Lengkap Dengan Anggota Tubuhnya Namun Belum DiBeri Ruh. 

Menurut Imam Ats-Tsa’labi : Selama Dalam Tahapan Ketiga, Allah Ta’ala Menghujaninya Dengan Dua Macam Hujan: Selama 40 Tahun Berupa Hujan Kesedihan Dan Satu Tahun Berupa Hujan Kesenangan. Menurut Abu Musa Al-Asy’ari: Ketika Allah Ta’ala Menciptakan Qubul Nabi Adam, Allah Ta’ala Telah Berfirman: “Sesungguhnya Ini Adalah Amanat-Ku Pada Dirimu. Jangan Sekali-Kali Engkau Tempatkan Ini Kecuali Pada Haqnya”. 


PROSES PENIUPAN RUH

Setelah Jasad Nabi Adam AS Sempurna, Maka Allah Ta’ala Meniupkan Ruh KepadaNya. Sepertimana Tersebut Dalam Surah Al-Hijr : 28 - “Maka Apabila Aku Telah Menyempurnakan Kejadiannya Dan Telah Meniupkan Kedalamnya Ruh (Ciptaan)-Ku, Maka Tunduklah Kamu Kepadanya Dengan Bersujud.” 

Berkata Imam Azizi : Roh Pertama Kali DiTiupkan Ke Tubuh Nabi Adam AS Pada Hari Jumaat Siang. Roh DiTiupkan Ke Tubuh Nabi Adam AS Melalui Kepala, Yakni Ubun-Ubun. Dalam Suatu Riwayat : Allah Ta’ala Mewahyukan Kepada Roh Agar Masuk Ke Tubuh Nabi Adam AS Melalui Kepala Namun Roh Menolaknya. Akhirnya Allah Ta’ala Memaksanya Dan Akhirnya Roh Pun Masuk Dengan Terpaksa. Kemudian Allah Ta’ala Berfirman Kepada Roh : “Seandainya Engkau Masuk Dengan Mudah Niscaya Engkau Akan Keluar Dengan Mudah (Tanpa DiCabut), Maka Masuklah Dengan Terpaksa Dan Keluarlah Dengan Terpaksa ” 
.
Di Ubun-Ubun, Roh Berputar-Putar Selama 100 Tahun Didalamnya. Kemudian Roh Tersebut Pun Turun Ke Kedua Belah Mata, Nabi Adam AS Pun Langsung Mampu Melihat. Lalu Roh Turun Pula Ke Rongga Hidung Dan Nabi Adam Langsung Dapat Mencium Udara Dan Terus Bersin. Lantas Roh Itu Pula Turun Ke Mulut Dan Lidah. Saat Itu Pula Allah Ta’ala Mewahyukan Kepada Nabi Adam AS Doa Pujian Dan Nabi Adam Langsung Mengucapkan : “Alhamdu Lillaahi Robbil ‘Aalamiin” (Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam). Kemudian Allah Menjawabnya : “Yarhamuka Robbuka Ya Adam, Haadzaa Laka Wadzurriyyatika” (Semoga TuhanMu MerahmatiMu Wahai Adam, Ini Buatmu Dan Anak Cucumu).

Kemudian Roh Turun Pula Ke Dada. Dalam Satu Riwayat : Ketika Roh Masuk Ke Bahagian Tubuh, Lantas Nabi Adam AS Menyaksikan Langsung Perubahan Tubuhnya Sendiri Yang Mulanya Berupa Tanah Tiba-Tiba Berubah Dengan Sendirinya Menjadi Daging Lengkap Dengan Kulit, Tulang, Otot, Urat Dan Darah. Kemudian Roh Turun Lagi Ke Lutut Dan Seketika Itu Nabi Adam AS Bernafsu Dan TerBuru-Buru Hendak Berdiri Dan Berjalan Tetapi Dia Tidak Kuasa. Ketika Roh Sudah Sampai Ke Seluruh Jasad, Maka Jadilah Manusia Sempurna Dan Langsung Berdiri Serta Bergerak Meliuk-Liukkan Badannya.Berkata Al-Hafidz Ismail As-Suda : Dalam Sehari-Semalam (24 Jam) Adalah Nabi Adam AS Bernafas Sebanyak 30,000 Kali Atau 1,292 Kali Setiap Satu Jam.

Rabu, 26 Ogos 2015

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS an-Nuur [24]:35).*

5 FAKTOR PENTINGNYA MENJAGA WAKTU DALAM HIDUP.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين و على آله وصحبه اجمعين. أما بعد:

TAZKIRAH HARI INI UNTUK RENUNGAN BERSAMA.  
(Shah Alam, Isnin 24 Ogos 2015).

5 FAKTOR PENTINGNYA MENJAGA WAKTU DALAM  HIDUP.

Banyak manusia di akhir zaman seperti sekarang ini, yang hidupnya menyia-nyiakan waktu dan umurnya dengan perkara-perkara yang tidak  berfaedah.

Kebanyakan manusia sekarang  ini hanya mengisi waktunya dengan melakukan dosa dan maksiat, lalai dari ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT, gemar melakukan hal yang sia-sia serta  perkara  yang melalaikan dari mengingat Allah SWT.

Padahal kita mengetahui bahawa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah di berikan  Allah SWT secara percuma.

Pada TAZKIRAH hari  ini, USM ingin  membincangkan sedikit   mengenai pentingnya menjaga waktu. Semoga dengan merenungkan hal yang demikian,  kita dapat menjadi insan yang  lebih baik dan tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu.

Adapun perkara  yang perlu kita ketahui mengenai waktu  tersebut dalam kehidupan  seorang  muslim adalah:

1. Bahawa Hidup Manusia Itu Seperti Hari-hari Yang di Gunakannya.

Imam Hasan Al-Bashri mengatakan:

يابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك.

Ertinya:
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan dari hari-hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebahagian dirimu (umur dan nyawamu).” (Hilyatul Awliya’, 2/148).

2. Waktu Pasti Akan Berlalu, Maka Beramallah Untuk  Bekalan Hidup di Akhirat Kelak.

Ja’far bin Sulaiman berkata bahawa dia mendengar Rabi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri:

إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.

Ertinya:
“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah (untuk bekal akhirat nanti).” (Kitab Shifatush Shofwah, 1/405).

3. Waktu Itu Bagaikan Pedang.

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan:

صحبت الصوفية فلم أستفد منهم سوى حرفين أحدهما قولهم الوقت سيف فإن لم تقطعه قطعك

Ertinya:
“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua perkara. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia.

Imam Asy Syafi’i berkata, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain:

ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل.

Ertinya:
Jika dirimu tidak di sibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan di sibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”
(Kitab Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

5. Waktu Berlalu Begitu Cepatnya.

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan:
“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih.

Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah SWT, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya.

Selain dari pada itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun ianya hanya di anggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an  Surah Al-Araf, ayat 179:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ.

Ertinya:
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat AllahSWT). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai". (QS. Al-Araf : 179).

Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu:
“Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar memperturutkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan dengan perkara yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: perkara yang sia-sia), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya" (Kitab Jawabul Kafi, 109).

Wahai saudaraku sekalian,
Janganlah Sia-siakan umurmu dan Waktu mudamu Selain untuk Mengingat Allah SWT serta melakukan perkara-perkara yang  positif sebagai  bekalan untuk  kehidupan akhiratmu.

Janganlah Sia-siakan Waktumu untuk bersosial, face book, membaca whatsApp, telegram, instagram serta perkara-perkara lain yang bersifat melalaikan hidupmu.

Ya Allah, mudahkanlah kami sebagai hamba-Mu untuk memanfaatkan waktu ini dalam ketaatan, dan dijauhkan kami dari perbuatan yang melalaian serta  melakukan perkara dosa dan kemungkaran. Mudah-Mudahan taufik dan hidayah-Mu sentiasa mengiringi setiap langkah dan helaan nafas kami. Aamiinn Yaa Robbal 'Aalamiin !!!!!

Wallahu A'lam.
Doakan istiqamah serta Sehat wal Afiat.
Wassalam USM. (Ustaz Sihabuddin Muhaemin).

Catatan:
ILMU ITU HANYA MILIK ALLAH SWT UNTUK DISEBARKAN.
SILA KONGSIKAN DENGAN SESAMA SAUDARA.
Mudah-Mudahan bermanfaat Untuk Semua.
Di Dunia Dan Di Akhirat Nanti. Insya-Allah. Aamiinn !!!!!

Kritik Dan Saran Yang Membina Sangat Dialu-alukan.
Sila tlp/sms kami, USM (012-6653988).
Atau layari laman facebook:
http://www.facebook.com:
USM - Sihabuddin Muhaemin.

TERIMA KASIH. 
(Shah Alam, Isnin 9 Dzulkaedah  1436 H).

Tausiyah oleh Habib Abu Bakar Al-Adni

Sedikit nota Ringkas Tausiyah oleh Habib Abu Bakar Al-Adni sempena Majlis Haul Imam Abdullah Ibn Alawi Al-Hadad 2015 di Masjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam. (Diterjemahkan oleh Habib Ali Zainal Abidin).

Habib Abu Bakar memuji kepada Allah, Rasulullah saw, para Sahabat, dan Imam Abdullah Ibn Alawi Al-Hadad. Katanya, kita berada dalam malam yg indah, agung, yang mengenalkan kita pada semua manusia dan alam, nilai kedamaian, simbol keamanan, budi pekerti yg ditunjukkan oleh golongan yg berjalan dengan petunjuk Rasulullah s.a.w. ....

Tidak dinafikan di dunia ini ramai ulama', tidak akan sunyi setiap zaman kecuali ada ulama' yang hidup pada zaman itu. Setiap zaman terdapat ramai ulama' untuk kita dapatkan ilmu, jadi kenapa Kita raikan Ulama' yg meninggalkan berkurun2 lamanya? (Tujuan mengadakan Majlis Haul)

Ia adalah untuk mengenangkan kita kepada seseorang yang meninggalkan lama seperti Imam Abdullah Ibn Alawi al-Hadad. Kita ingin mengambil keberkesanan dan contoh- mendidik anak-anak, wanita dan ummah dgn kedamaian dan akhlak yg indah.

2 objektif penting dalam menghadiri Haul.

1) Mengambil keberkatan dari orang-orang yang dekat dgn Allah SWT. Mengambil pengajaran daripada para auliya' & orang soleh. Dalam mengingati org soleh, Allah akan menurunkan rahmat.

2) Mengenalkan generasi dahulu kepada generasi sekarang supaya anak muda generasi sekarang mempunyai keterikatan yg kuat dgn manhaj dari Hadhramaut, adat, tasawwuf, manhaj Asyairah. Kita menghadapi cabaran dahsyat pada zaman banyak perubahan sehingga mengancam kehormatan orang yg bersyahadah.

Mengingatkan contoh yang menjadi teladan kepada kita. Mengingati kepada satu sifat, golongan yang bersungguh-sungguh menepati janji Allah.
Kita perlu kaji sirah mereka seperti bagaimana mereka atur waktu mereka, wirid mereka dan sebagainya.

Supaya diperbaharui pemahaman kita dengan orang orang mulia seperti Imam Al-Haddad. Imam Al-Hadad ialah seorang yang mempunyai rahsia ilmu Allah bersambung nasabnya kepada Rasulullah. Kita perlu warisan ilmu tersebut.

Imam Al-Haddad yg perbaharui dakwah Nabi dgn sanad yg bersambung, mewarisi ilmu dari Nabi Muhammad. Nendanya, Imam Ahmad Isa Al-Muhajir berhijrah dari Iraq ke Hadhramaut, membawa risalah perdamaian.

Nendanya di atas lagi, Ali Al-Uraidhi menghidupkan ajaran perdamaian di Kota Madinah, belajar dari Imam Zainal Abidin yang diwarisi dari Hasan dan Hussin seterusnya diwarisi daripada sahabat.

Sanad yg disebut sebentar tadi dalam bait-bait syair asal-usul ajaran beliau tentang guru-gurunya iaitu Imam Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir dll.
Sanadnya yang bersambung, kata Imam al-Hadad, "Guru-guru yang aku ambil ilmu daripadanya mendapat hidayah dan sentiasa beriringan dengan Quran (akhlaknya). Imam al-Hadad mewarisi ilmunya,

5 Perkara penting ajran Imam al-Hadad :
1) Ilmu
2) Amal
3) Ikhlas
4) Rasa takut kepada Allah
5) Wara'

Pentingnya kita menjaga lisan daripada memaki orang lain. Elakkan diri kita daripada tergelincir dalam fitnah yang menumpahkan darah.

Acara Haul diraikan untuk mengkaji apa yang diletakkan oleh Imam Al-Hadad yang kuat dengan pegangan syariat. Beliau mengatur gaya hidup melalui kitab-kitabnya, karya2, syair2 - membawa konsep perdamaian. Maka tidaklah menakjubkan kita mengatakan Imam Abdullah Ibn Alawi Al-Haddad ialah Mujaddid abad ke-13.

Di manakah mereka yang mengajak kepada kedamaian, keselamatan yg dilaungkan di Timur dan Barat? Zaman sekarang banyak orang mencaci maki orang lain. Bacalah Kitab Imam Abdullah bin Alawi al-Hadad , isinya supaya menjaga lisan dan tangan. Juga terkandung dalam Wirdul Latifnya, doanya. Ajarannya menyesuaikan dengan hak Allah dan manusia seimbang.

Dalam menghadiri Majlis Haul, saya menyeru kpd semua yg hadir untuk kita serius membaca kitab-kitab Imam Al-Haddad, pada hakikatnya isi kandungannya adalah satu manhaj dalam hidup dan kesan tulisannya adalah manfaat untuk seluruh manusia dalam dunia ini. Pegangan Imam al Haddad yang diwarisi ialah perdamaian pada setiap keadaan. Kita perlu memperbaharui pemahaman kita, baik anak muda, mahupun ibu bapa.

Harta, engkaulah yang menjaganya manakala ilmu ia pula yang menjaga kamu.

Kata al-Muhaddith Syaikh Abdullah al-Harari al-Habasyi :

" Harta, engkaulah yang menjaganya manakala ilmu ia pula yang menjaga kamu. Walaupun kamu memiliki makanan yang mewah lagi banyak, kamu tidak boleh memakannya melainlan apa yang terdaya sahaja. Walaupun kamu mempunyai pakaian yang megah lagi banyak kamu tidak dapat untuk memakai kesemuanya dalam satu masa. Justeru, sediakanlah bekalan di dunia yang binasa ini untuk hari akhirat yang kekal abadi. Kematian amatlah dekat dengan kita manakala Tuhan sentiasa mengawasi kita. Ingatlah  umur yang ada pada manusia tidak mampu memuatkan segala sesuatu maka mulakan dengan perkara yang paling penting untuk perkara yang manfaat kepadanya di hari akhirat dan ia menjadi keuntungan pahala kepadanya. Beramallah untuk akhirat kamu seolah oleh kamu akan berpisah dengan dunia ini keesokannya dan beramallah untuk duniamu bagaikan kamu tingal di dalamnya selama lamanya. Dunia ini hanyalah sesaat, penuhikanlah ia dengan ketaatan. Hawa nafsu sentiasa tamak haloba, ajarilah ia dengan qanaah( bercukup-cukupan dengan rezeki yang sedikit)"..

Isnin, 24 Ogos 2015

Kitab Hindu Kuno Menyebutkan Ciri-Ciri Nabi Muhammad

Kitab suci umat Hindu terbagi menjadi tiga kategori, yaitu Veda, Upanishad, and Purana. Terdapat perbedaan pendapat mengenai umur kitab-kitab tersebut, beberapa pihak meyakini bahwa kitab tersebut berasal dari sekitar 4.000 tahun yang lalu.
 
Salah satu nubuat yang mengagumkan pada kitab-kitab suci tersebut adalah sebagaimana disebutkan oleh Maharshi Vyasa, seorang suci umat Hindu, yang mengatakan bahwa jazirah Arab akan dirusak oleh para pelaku keburukan/maksiat-kemungkinan merujuk pada kaum pagan sebelum “kedatangan” Islam-, dan Mahamad -sedikit perubahan ejaan dari nama Muhammad- akan datang dan menuntun orang-orang yang sesat.
 
Dia akan disunat, berjenggot, fasih, dia akan membuat revolusi besar, dia akan mengumumkan panggilan untuk shalat (adzan), dia akan makan daging hewan halal tapi mengecualikan babi, dan dia akan melawan bangsa yang tidak beragama. Semua penjelasan ini mengarah pada ciri-ciri Rasulullah Muhammad SAW.
 
Bhavishya Purana yang merupakan salah satu Purana terpenting, memberikan nubuat lainnya yang menyebutkan bahwa di negeri asing akan datang seorang guru spiritual yang bernama Muhammad. Dimana dia akan menjadi penghuni Arabia, dia akan mengumpulkan kekuatan besar untuk melawan atau membunuh iblis dan Allah akan melindunginya dari lawan-lawannya.

Nabi Muhammad dalam Upanishad

Kitab Upanishad, dianggap oleh banyak pemuka Hindu berkedudukan lebih tinggi daripada Veda karena dalam kitab tersebut terdapat pengetahuan yang bersifat ketuhanan yang mengajarkan bagaimana mendekatkan diri kepada sang Khaliq.
 
Nubuwat paling penting yang disebutkan dalam kitab ini adalah disebutkannya nama Nabi Muhammad dan kedatangannya di masa depan dan peryataan syahadah seorang muslim yaitu “tidak ada tuhan kecuali Allah”, dan hal ini disebutkan lebih dari sekali.
 
Sebagai akibat dari kejelasan dan eksplisitnya nubuat ini, banyak orang Hindu yang kembali ke pangkuan Islam, sehingga menyebabkan beberapa pemuka Hindu mengklaim bahwa kemungkinan nubuat ini ditulis oleh pendeta Hindu yang kembali ke Islam. Namun hal ini terbantahkan karena nubuat ini merujuk ke dalam beberapa buku Hindu kuno yang mendahului kedatangan Islam atau Muslim ke India.
 
Dalam Allo Upanishad disebutkan pula deskripsi untuk Allah, yaitu nama Tuhan adalah Allah, Dia adalah satu (ahad), Raja seluruh dunia, Dia adalah yang Terbesar dari semua, Terbaik, Maha Sempurna, Maha suci dari semua, Pemelihara dari seluruh dunia, yang merupakan pengejawantahan bumi dan ruang, dan Tuhan dari semua makhluk.
 
Dia menciptakan matahari, bulan, bintang-bintang, dan surga. Dia Memelihara semua burung, binatang, hewan yang hidup di laut dan mereka yang tidak terlihat oleh mata. Dia adalah Penghapus segala kejahatan dan bencana, dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Nabi Muhammad dalam kitab Veda

Kitab Hindu dalam kategori ketiga adalah Veda. Dalam Atharva Veda disebutkan “yang patut dipuji” diantara manusia harus dipuji, dan diketahui bahwa ternyata nama Muhammad dalam bahasa Arab bermakna “yang patut dipuji”.
 
Disebutkan pula bahwa nabi yang dijanjikan kedatangannya itu adalah sosok penunggang unta. Menariknya, para nabi India dilarang untuk menunggang unta. Dan nabi Isa menurut Perjanjian Lama disebutkan mengendarai keledai bukan unta. Namun telah luas diketahui bahwa nabi Muhammad adalah pengendara unta.
 
Pada mantra ketujuh menyebutkan ada orang yang akan menuntun semua manusia, dan nabi Muhammad selalu menegaskan bahwa ia tidak dikirim untuk bangsa tertentu, bukan hanya bangsa Israel ataupun bangsa Arab saja, melainkan seluruh umat.
 
Kemudian mantra keenam menjelaskan tentang kaum pemberani yang menang tanpa pertempuran dan jumlah lawan mereka adalah 10 ribu orang. Hal ini bisa dikaitkan dengan perang al Ahzab atau perang Khandaq yang berlangsung pada masa Nabi Muhammad. Jumlah orang-orang yang melakukan pengepungan terhadap Madinah (dalam perang al Ahzab) memang berjumlah 10 ribu, dan mereka dikalahkan tanpa pertempuran karena Allah mengirimkan badai yang akhirnya, setelah pengepungan panjang, memaksa mereka untuk mundur.
 
Dalam Rig Veda, dinyatakan tentang seseorang yang digambarkan sebagai jujur ​​dan dapat dipercaya, kuat dan murah hati yang akan menjadi terkenal dengan 10 ribu. Semua ini adalah karakteristik dari Nabi Muhammad, dan jumlah 10 ribu mungkin dimaksudkan untuk jumlah para sahabat Nabi Muhammad yang masuk dalam Fathul Makkah. (sbb/dakwatuna)
Pustaka:
 
Vidyarthi, Abdul Haq. Muhammad in World Scriptures. New Delhi: Adam Publishers, 1990.
Artikel Jamal Badawi, diterjemahkan dari onislam.net

6 Dosa yang tidak diampun Allah SWT walaupun dengan Taubat

https://i2.wp.com/www.inshad.com/forum/upload/userimages/13157/87456273.jpg
 
1- Makan harta anak yatim secara haram.
( untuk menghapuskan dosa tersebut pemakan harta anak yatim mesti membayar kembali harta yang telah digunakan serta memohon maaf kepada anak yatim tersebut . Jika anat yatim tersebut memaafkan perbuatannya, barulah boleh bertaubat kepada Allah SWT. Seandainya anak yatim tersebut tidak memaafkan perbuatannya maka  dosanya tidak terhapus).
 
2- Menuduh wanita solehah berzina.
( Orang yang menuduh wanita solehah hendaklah memohon maaf kepada wanita tersebut, jika wanita solehah tersebut memaafkan, maka terhapuslah dosa tersebut dan bolehlah penuduh bertaubat kepada Allah SWT. sekiranya wanita solehah tidak memaafkannya maka dosa tidak terhapus dan tidak boleh bertaubat kepada Allah SWT ).
 
3- Lari dari medan Jihad yang memperjuangkan kalimah Allah SWT.
( Mereka yang lari dari medan jihad adalah mereka yang dayus dan tidak layak memasuki Syurga, cuba kaji dalam sejarah Islam hukuman mereka yang lari dari medan Jihad sehingga Rasulullah SAW terpaksa menunggu Arahan Allah SWT untuk memaafkan kesalahan tersebut ).
 
4- Melakukan sihir.
( Mereka belayar sihir dan pengamal sihir adalah mereka yang Syirik kepada Allah SWT, memang tidak layak bertaubat kepada Allah SWT melainkan mengucap kembali kalimah Syahadah dan mesti menyerah kepada kerajaan Islam untuk melaksanakan hukuman yang sewajarnya ).
 
5- Bersyirik kepada Allah SWT atau menyamakan kedudukan Allah SWT dengan makhluk.
( Dosa syirik atau menyamakan Allah SWT dengan makhluk samada melalui niat,percakapan dan perbuatan yang disedari atau tidak disedari  maka dosa ini tidak boleh bertaubat kecuali dengan mengucap kembali kedua Kalimah Syahadah dan pemerintah Islam mesti melaksanakan hukuman hudud barulah Allah SWT rela menerima kembali amal ibadat seseorang hamba yang telah menduakan Allah SWT atau menyamakan Allah SWT atau menyengutukan Allah SWT).
6- Membunuh Para Nabi yang diutuskan oleh Allah SWT.
( Mereka yang membunuh Para Nabi hendaklah dihukum bunuh dan terserah kepada Allah SWT untuk mengazab mereka. Rasulullah SAW pernah mengutuskan utusan untuk membuuh mereka yang menghina atau mengejek Allah SWT dan Rasulullah SAW semasa penubuhan Negara Islam Madinah).
Kitab Tanbihul  Ghafilin , Jilid 1 & 2.  M/S : 532.

Allah: Kalimah Tauhid



Allah: Kalimah Tauhid
Oleh: Lokman Ab. Rahman
Dalam Islam, kalimah Allah itu adalah terlalu suci. Kalimah Allah bukanlah lambang atau simbol seperti agama-agama lain yang boleh dicipta mengikut imaginasi dan kreativiti manusia sesuka hati. Nama Allah itu sendiri merujuk kepada zat dan sifat kepada yang maha pencipta alam semesta. Dalam ketuhanan Islam, Allah sendiri telah memperkenalkan sifat-sifat kesempurnaanNya. Orang Islam dengan mudah memahami sifa-sifat tuhanNya sungguhpun baru sehari memeluk Islam. Dalam surah yang sangat pendek Allah telah mengisytiharkan sifatNya adalah tunggal, tempat pergantungan, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sekutu bagiNya (al-Ikhlas). Selain kalimah yang kudus itu, terdapat nama-nama Allah yang terkandung di dalam Asma al-Husna yang menerangkan sifat keagunganNya. Di alam nusantara untuk mengenali keagungan sifat dan keesaan Allah melalui pengajian sifat dua puluh ini, walaupun sebenarnya sifat keagunganNya tidak terbatas. Malahan kesemua penganut agama tauhid akan menyebut dan menulis perkataan Allah secara selaras tanpa mengira puak, bangsa dan budaya. Untuk mengekal sebutan dan tulisan dengan tepat lazimnya perkataan Allah akan dikekalkan di dalam perkataan Arab. Sekiranya perkataan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa lain, kalimah akan ditulis beriringan dalam bahasa Arab. Malah Allah sendiri telah memberi jaminan bahawa al-Quran akan terpelihara dari sebarang pencemaran dan pengubahsuaian yang kekal di dalam bahasa Arab. Oleh sebab itulah kalimah Allah kekal disebut dan ditulis dalam bahasa Arab oleh kesemua bangsa manusia sehingga ke hari ini. Ini menunjukkan bahawa dari segi lafaz dan sebutan serta sifat Allah adalah jelas di kalangan umat Islam kerana ia merupakan pokok akidah tauhid. Ia sangat mudah difahami dan terlalu rapat kepada penganutnya. Kukuh dan jelasnya kepercayaan dalam Islam mampu berdiri sendiri tanpa perlu melihat dan meniru. Jauh sekali untuk meminjam apa-apa perkataan dan konsep dari agama-agama lain.

SELAMA 17 TAHUN TINGGAL DIKUBURAN

 
 
 
SELAMA 17 TAHUN TINGGAL DIKUBURAN
...
Pernahkah Anda mendengar kisah ini? Kisah seorang pemuda yang hidup selama 17 tahun dalam kuburan?
Anda mungkin mengira bahwa ia tinggal di daerah dekat kuburan. Tidak! Dia tidak tinggal di daerah dekat kuburan, tapi ia tinggal di dalam kuburan itu sendiri.
Bagaimana kisahnya? Anda mungkin tidak akan mempercayai kisah ini, karena pemuda ini lahir dari keluarga berada. Ayah dan Ibunya orang yang terpandang dan memiliki kekayaan yang berlimpah.
Dalam pandangan masyarakat sekitar, kedua orang tua ini adalah orang tua yang sempurna, namun orang hanya bisa menilai apa yang tampak. Orang-orang tidak tahu bahwa kedua orang tua terpandang inilah yang memasukkan anaknya ke dalam kuburan dan menjalani hidup selama 17 tahun di dalam kuburan!
Setiap hari, sang anak makan, minum dan tidur di dalam kuburan, yang penuh kegelapan. Sang Anak juga hanya bisa menjalani apa yang diberikan kedua orang tuanya, tanpa perlawanan.
Menjelang ulang tahun pemuda itu yang ke-17, orang tuanya berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan si pemuda sebagai hadiah ulang tahunnya.
Sang pemuda berpikir, inilah saatnya dia akan mengajukan permintaannya, ia tidak ingin lagi tinggal di kuburan, tapi apakah orang tuanya benar-benar akan mengabulkan permintaannya?
Hari itu pun tiba. Sang pemuda berulang tahun yang ke-17. Kedua orang tuanya datang menghampiri dan menanyakan hadiah apa yang ia inginkan. Sang pemuda menjawab, “Ayah, Ibu… saya tidak meminta banyak, saya hanya minta satu hal..” sang ibu menjawab: “Apa, Nak? katakanlah, Ayah dan Ibu pasti akan mengabulkan permintaanmu.”
Anak: “Ayah dan Ibu berjanji?”
“Tentu, Nak. Ayah dan Ibu berjanji akan memenuhi permintaanmu, selama kami mampu.”
Anak: “Ayah… Ibu… saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan.” “Apa? Apa maksud permintaanmu itu, Nak?”
Anak: “Ayah sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku,
dan hanya itu permohonanku, Yah.”

“Iya, Nak. Ayah sudah berjanji… tapi… tapi… Ayah tidak mengerti, Nak.”
Anak: “Ayah, sudah 17 tahun saya tinggal di sini, tapi tidak seharipun saya mendengar Ayah atau Ibu membaca Al-Qur’an. Sedangkan Rasulullah pernah mengatakan bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya adalah seperti kuburan. Saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan, Yah..”
Ayah dan Ibu sang pemuda terdiam.
Anak: “Ayah dan Ibu bahkan tidak pernah mengajariku bagaimana membaca Al-Qur’an. Memang rumah ini mewah, besar dan orang-orang melihatnya sebagai istana. Tapi mereka tidak tahu, bahwa di mata Rasulullah, rumah ini seperti kuburan. Jika Ayah dan Ibu mau menepati janji mengabulkan permintaanku, tolong Yah… Aku tidak ingin lagi tinggal di kuburan. Ajarilah aku membaca Al-Qur’an, agar rumah ini bercahaya dengan cahaya Al-Qur’an..”
Renungan di manakah kalian selama ini makan, minum, tidur dan menetap? di rumahkah? di kos kah? di kontrakan kah? atau kah di kuburan?
karena Rasulullah mengibaratkan rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya, seperti kuburan… Jadi, di manakah sebenarnya kalian tinggal saat ini?
Jika menurut kalian artikel ini bermanfaat, silahkan di share kepada teman dan keluarga anda.

Kerohanian Islam dan ahli Sufi

Kerohanian Islam dan ahli Sufi
 
Sufi adalah perkataan Arab - saf, yang bererti tulen. Alam batin sufi dipersucikan, menjadi tulen dan diterangi oleh cahaya makrifat, penyatuan dan keesaan.

Istilah sufi dikaitkan juga dengan bidang kerohanian mereka yang sentiasa berhubung dengan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w yang dikenali sebagai ‘puak yang memakai baju bulu'.  Saf, pakaian bulu yang kasar menggambarkan keadaan mereka yang miskin lagi hina. Kehidupan dunia di dalam kesempatan. Mereka berjimat cermat di dalam makanan, minuman dan lain-lain. Dalam buku ‘al-Majm' ada dikatakan, "Apa yang terjadi kepada ahli suluk yang suci ialah pakaian dan kehidupan mereka sangat sederhana dan hina". Walaupun mereka kelihatan tidak menarik secara keduniaan tetapi hikmah kebijaksanaan (makrifat) mereka ternyata pada sifat mereka yang lemah lembut dan halus, yang menjadikan mereka menarik kepada sesiapa yang mengenali mereka. Mereka menjadi contoh kepada alam manusia. Mereka berpandukan ilmu Ilahi. Pada pandangan Tuhan mereka berada pada martabat pertama kemanusiaan. Dalam pandangan mereka yang mencari Tuhan puak sufi ini kelihatan cantik walaupun pada zahirnya buruk. Mereka mesti dikenali dan berupaya mengenali, dan mereka dengan mesti dengan cara itu iaitu satu dan semua, kerana mereka semua berada pada makam keesaan dan mesti nyata sebagai satu.

Dalam bahasa Arab perkataan tasawwuf, kerohanian Islam, terdiri daripada empat huruf - ‘ta', ‘sin', ‘wau' dan ‘pa' (t,s,w,f). Huruf pertama, t, bermaksud taubat. Ini adalah langkah pertama perlu diambil pada jalan ini. Ia adalah seolah-olah dua langkah, satu zahir dan satu batin. Taubat zahir dalam perkataan, perbuatan dan perasaan, menjaga kehidupan agar bebas daripada dosa dan kesalahan dan cenderung untuk berbuat kebaikan dan ketaatan; meninggalkan keingkaran dan penentangan, mencari kesejahteraan dan kedamaian. Taubat batin dilakukan oleh hati. Penyucian hati daripada hawa nafsu duniawi yang huru hara dan hati bulat berazam mahu mencapai alam ketuhanan. Taubat - mengawasi kesalahan dan meninggalkannya, menyedari kebenaran dan berjuang ke arahnya - membawa seseorang kepada langkah kedua.

Langkah kedua ialah keadaan aman dan sejahtera, safa. Huruf ‘s' adalah simbolnya. Dalam peringkat ini juga ada dua langkah perlu diambil. Pertama ialah ke arah kesucian di dalam hati dan kedua pula ke arah pusat hati. Hati yang tenang datang daripada hati yang bebas daripada kesusahan, keresahan yang disebabkan oleh masalah semua kebendaan ini, masalah makan, minum, tidur, perkataan yang sia-sia. Dunia ini seumpama tenaga tarikan bumi, menarik hati ke bawah, dan untuk membebaskan hati daripada masalah tersebut menyebabkan berlaku tekankan kepada hati. Di sana ada pula ikatan-ikatan - hawa nafsu dan kehendak, pemilikan, kasihkan keluarga dan anak-anak - yang mengikat hati seni kepada bumi dan menghalangnya terbang tinggi.

Cara membebaskan hati, bagi menyucikannya, adalah dengan mengingati Allah. Pada permulaan ingatkan ini berlaku secara luaran, dengan mengulangi nama-nama Tuhan, menyebutnya kuat-kuat sehingga kamu dan orang lain boleh mendengarnya. Apabila ingatkan kepada-Nya sudah berterusan ingatkan tersebut masuk ke dalam hati dan berlaku di dalam senyap. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang mukmin itu ialah mereka yang apabila disebut (nama) Allah, takutlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah menambahkan lagi keimanan mereka, dan kepada Tuhan merekalah mereka kembali". (Surah Anfaal, ayat 2).

Takutkan Allah dalam ayat tersebut bermaksud takut dan harap, hormat dan kasihkan Allah. Dengan ingatan dan ucapan nama-nama Allah hati menjadi jaga dari ketiduran dan kelalaian, menjadi suci bersih dan bersinar. Kemudian bentuk dan rupa dari alam ghaib menyata di dalam hati. Nabi s.a.w bersabda, "Ahli ilmu zahir mendatangi dan menerkam sesuatu dengan akal fikirannya sementara ahli ilmu batin sibuk membersihkan dan menggilap hati mereka".

Kesejahteraan pada pusat rahsia bagi hati diperolehi dengan membersihkan hati daripada segala sesuatu dan menyediakannya untuk menerima Zat Allah semata-mata yang memenuhi ruang hati apabila hati sudah diperindahkan dengan kecintaan Allah. Alat pembersihannya ialah berterusan mengingati dan menyebut di dalam hati, dengan lidah rahsia akan kalimah tauhid "La ilaha illa Llah". Bila hati dan pusat hati berada dalam suasana tenang dan damai maka peringkat kedua yang disimbolkan sebagai huruf ‘s' selesai.

Huruf ketiga ‘w' bermaksud wilayah, suasana kesucian dan keaslian pencinta-pencinta Allah dan sahabat-sahabat-Nya. Keadaan ini bergantung kepada kesucian batin. Allah menggambarkan sahabat-sahabat-Nya dengan firman-Nya:
"Ketahuilah, sesungguhnya pembantu-pembantu Allah tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak mereka berdukacita. Bagi merekalah kegembiraan di penghidupan dunia dan akhirat...". (Surah Yunus, ayat 62 - 64).

Seseorang yang di dalam kesucian menyedari sepenuhnya tentang Allah, mencintai-Nya fan berhubungan dengan-Nya. Hasilnya dia diperelokkan dengan peribadi, akhlak dan perangai yang terbaik. Ini merupakan hadiah suci yang dikurniakan kepada mereka. Nabi s.a.w bersabda, "Perhatikanlah akhlak yang mulia dan berbuatlah sesuai dengannya". Dalam peringkat ini orang yang di dalam kesedaran tersebut meninggalkan sifat-sifat keduniaannya yang sementara dan kelihatanlah dia diliputi oleh sifat-sifat Ilahi yang suci. Dalam hadis Qudsi Allah berfirman:
"Bila Aku kasihkan hamba-Ku, Aku menjadi pendengarannya, penglihatannya, percakapannya, pemegangnya dan perjalanannya".

Keluarkan segala-galanya dari hati kamu dan biarkan Allah sahaja yang berada di sana.
"Dan katakanlah telah datang kebenaran dan telah lenyap kepalsuan kerana sesungguhnya kepalsuan itu akan lenyap". (Surah Bani Israil, ayat 81).

Bila kebenaran telah datang dan kepalsuan telah lenyap maka selesailah peringkat wilayah.

Huruf keempat ‘f' bermakna fana, lenyap diri sendiri ke dalam ketiadaan. Diri yang palsu akan hancur dan hilang apabila sifat-sifat yang suci memasuki seseorang, dan apabila sifat-sifat serta keperibadian yang banyak menghalang tempatnya akan diganti oleh satu sahaja sifat keesaan.

Dalam kenyataan hakikat sentiasa hadir. Ia tidak hilang dan tidak juga berkurangan. Apa yang berlaku adalah orang yang beriman menyedari dan menjadi satu dengan yang menciptakannya. Dalam suasana berada dengan-Nya orang yang beriman memperolehi kurniaan-Nya; manusia yang sementara menemui kewujudan yang sebenar dengan menyedari rahsia abadi.
"Semua akan binasa kecuali Wajah-Nya". (Surah Qasas, ayat 88).

Cara untuk menyedari hakikat ini ialah melalui anugerah-Nya, dengan kehendak-Nya. Bila kamu berbuat kebaikan semata-mata kerana-Nya dan bersesuaian dengan kehendak-Nya kamu akan menjadi hampir dengan hakikat-Nya, Zat-Nya. Kemudian semua akan lenyap kecuali Yang Esa yang meredai dan yang Dia diredai, bersatu. Perbuatan baik adalah ibu yang melahirkan bayi kebenaran; kehidupan dalam kesedaran bagi manusia yang sebenar-benarnya.
"Perkataan yang baik dan perbuatan yang baik naik kepada Allah". (Surah Fatir, ayat 10).
Jika seseorang berbuat sesuatu dan jika kewujudannya bukan untuk Allah sahaja maka dia mengadakan sekutu bagi Allah, dia meletakkan yang lain pada tempat Allah - dosa yang tidak diampunkan yang akan memusnahkannya, lambat atau cepat. Tetapi bila diri dan kepentingan diri fana seseorang itu mencapai peringkat bersatu dengan Allah. Allah menggambarkan makam tersebut:
"Sesungguhnya orang-orang yang berbakti (adalah) dalam kebun-kebun dan (dekat) sungai-sungai. Di tempat duduk kebenaran, di sisi Raja Agung yang sangat berkuasa". (Surah Qamar, ayat 54 & 55).

Tempat itu ialah tempat bagi hakikat yang penting, hakikat kepada hakikat-hakikat, tempat penyatuan dan keesaan. Ia adalah tempat yang disediakan untuk nabi-nabi, untuk mereka yang dikasihi oleh Allah, untuk para sahabat-Nya. Allah beserta orang-orang yang benar. Bila kewujudan bersatu dengan wujud yang abadi ia tidak boleh dipandang sebagai kewujudan yang terpisah. Bila semua ikatan keduniaan ditanggalkan dan seseorang itu dalam suasana kesatuan dengan Allah, dengan kebenaran (hakikat) Ilahi, dia menerima kesucian yang abadi, tidak akan tercemar lagi, dan masuk ke dalam golongan:
"Mereka itu ahli syurga yang kekal di dalamnya". (Surah A'raaf, ayat 42).

Mereka adalah:
"Orang-orang yang beriman dan beramal salih". (Surah A'raaf, ayat 42).

Bagaimanapun:
"Kami tidak memberatkan satu diri melainkan sekadar kuasanya". (Surah A'raaf, ayat 42).
Tetapi seseorang memerlukan kesabaran yang kuat:
"Dan Allah beserta orang yang sabar". (Surah Anfaal, ayat 66)