Pages

Memaparkan catatan dengan label Saidina Umar. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Saidina Umar. Papar semua catatan

Ahad, 8 Januari 2017

Dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas.

SIAPA yang tidak mengenal Umar Bin Khathab radhiallahu’anhu. Sosok yang memiliki tubuh kekar, watak yang keras dan disiplin yang tinggi serta tidak kenal gentar. Namun di balik sifat tegasnya tersebut beliau memiliki hati yang lembut.

Suatu hari beliau masuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di dalam rumahnya, sebuah ruangan yang lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Di dalam bilik sederhana itu, beliau mendapati Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sedang tidur di atas tikar kasar hingga gurat-gurat tikar itu membekas di badan beliau.

Spontan keadaan ini membuat Umar menitikkan air mata karena merasa iba dengan kondisi Rasulullah.

“Mengapa engkau menangis, ya Umar?” tanya Rasulullah.

“Bagaimana saya tidak menangis, Kisra dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas, sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu, ya Rasulullah. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,” jawab Umar.

Rasulullah kemudian menghibur Umar, beliau bersabda: “Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga, dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…? “.

Beliau shallallahu alaihi wasallam melanjutkan lagi, “Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir. Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya“.

Begitulah tangisan Umar adalah tangisan yang lahir dari keimanan yang dilandasi tulusnya cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Apa yang dilihatnya membuat sisi kemanusiaannya terhentak dan mengalirkan perasaan gundah yang manusiawi.

Reaksi yang seolah memberi arti bahwa semestinya orang-orang kafir yang dengan segala daya dan upaya berusaha menghalangi kebenaran, memadamkam cahaya iman, dan menyebarkan keculasan dan keburukan, mereka itulah yang semestinya tak menikmati karunia Allah.

Sebaliknya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang telah membimbing umat manusia dari kegelapan menuju cahaya Islamlah semestinya mendapat kesenangan dunia yang layak, begitu fikir Umar.

Tangisan Umar juga memberi arti lain, bahwa betapa tidak mudah bagi sisi-sisi manusiawi setiap orang bahkan bagi Umar sekalipun, untuk menerima ganjilnya “pemihakan” dunia kepada orang-orang bejat.

Namun sekejap gundah dan tangisnya berubah menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman sesudahnya. Yaitu apabila kita mengukur hidup ini dengan timbangan duniawi, maka terlalu banyak kenyataan hidup yang dapat menyesakkan dada kita.

Lihatlah bagaimana orang-orang yang benar justru diinjak dan dihinakan. Sebaliknya, para penjahat dan manusia-manusia bejat dipuja dengan segala simbol penghargaan.

Tak perlu heran, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengabarkan akan masa-masa sulit itu. Masa dimana orang-orang benar didustakan dan orang-orang dusta dibenarkan.

Tangisan Umar juga mengajari kita bahwa dalam menyikapi gemerlapnya dunia, kita tidak boleh hanya menggunakan sisi-sisi manusiawi semata, dibutuhkan mata hati bukan sekedar mata kepala. Dibutuhkan ketajaman iman, dan bukan semata kalkulasi duniawi.

Dan semua itu tercermin dalam jawaban Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada Umar. Beliau memberi gambaran yang membuat sesuatu yang secara lahiriah aneh dan ganjil bisa jadi secara substansial benar-benar adil.

Bagaimana sesuatu yang yang secara kasat mata terlihat pahit, menjadi benih-benih bagi akhir yang manis dan membahagiakan.

Jawaban Rasulullah juga memberi pesan agar orang beriman jangan sampai mudah silau dan terpukau dengan gemerlapnya dunia yang dimiliki oleh orang kafir.

Karena setiap mukmin punya pengharapan lain yang jauh lebih tinggi, yaitu kebahagiaan abadi di akhirat, pada keaslian kampung halaman yang sedang dituju. [irma/islampos/muslim]

Isnin, 26 Disember 2016

Jibril datang kepada Rasulullah saw.

Daripada Umar radiyallahu anhu, beliau berkata... Ketika kami sedang duduk disisi Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam pada suatu hari...

Tiba-tiba muncul di hadapan kami seorang lelaki yg  sangat putih bajunya, sangat hitam rambutnya, tidak kelihatan padanya tanda-tanda perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalinya sehingga ia duduk di hadapan Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.....

Lalu ia merapatkan lututnya ke lutut Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan meletakkan dua tapak tangannya di atas dua paha Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam... lantas ia berkata:
Wahai Muhammad....
Khabarkan kepadaku tentang Islam.

Lalu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab.....
Islam itu ialah kamu menyaksikan bahawa tiada tuhan melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad itu pesuruh Allah dan kamu mendirikan sembahyang dan kamu mengeluarkan zakat dan kamu berpuasa dibulan Ramadhan dan kamu mengerjakan haji di Baitullah jika kamu berkemampuan pergi kepadanya.....

Lelaki itu berkata: Benarlah kamu.

Maka kami pun merasa hairan terhadapnya kerana dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkannya.

Lelaki itu bertanya lagi...
Maka khabarkan kepadaku tentang iman.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab:
Bahawa kamu beriman kepda ALLAH, para malaikatNya, kitab-kitabNya,... rasul-rasulNya,....hari Qiamat dan kamu beriman kepada kadar baik dan burukNya....

Lelaki itu berkata: Benarlah kamu.

Lelaki itu bertanya lagi:
Maka khabarkan kepadaku darihal Ihsan.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab.....
Ihsan ialah bahawa kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihatNya tetapi jika kamu tidak melihatNya dan maka sesungguhnya Dia melihat kamu.....

Lelaki itu bertanya lagi:
Maka khabarkan kepadaku dari hal hari kiamat.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab: Tidaklah  yang bertanya itu lebih tahu daripada yang ditanya.

Lelaki itu berkata lagi:
Maka khabarkan kepadaku mengenai tanda-tandanya.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab..
Tanda-tandanya itu adalah bila hamba-hamba telah melahirkan tuannya dan kamu melihat orang-orang yang tidak berkasut tidak berpakaian miskin dan  penggembala kambing menegakkan dan  mendirikan binaan.

Kemudian dia pergi..... lalu aku terdiam beberapa lama.

Setelah itu Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya:
Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu?

Aku menjawab:
Allah dan RasulNya yg lebih mengetahui.

Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata:
Sesungguhnya itulah dia Jibril yang datang kepada kamu untuk mengajarkan agama kamu.

(Hadith ini dirawayatkan oleh Imam Muslim di awal kitab al-Iman. Hadith nombor 8 )

Khamis, 15 September 2016

APA YANG ENGKAU SUKA PADA DUNIA INI

Pada suatu hari Rasulullah saw duduk bersama sahabatnya & bertanya kepada mereka. bermula di tanyakan kepada Saidina Abu Bakar:

"apa yg kamu suka dari dunia ini?" dan berkatalah Saidina Abu Bakar ra

"aku suka dari dunia ini 3 perkara:

1.duduk duduk bersama Rasulullah saw.
2.melihat wajah mu ya Rasulullah saw.
3.aku korbankan harta ku untuk mu ya Rasulullah saw "

lalu Rasulullah saw bertanya dengan Saidina Umar ra. "bagaimana pula dengan mu ya Umar?"

jawab Saidina Umar ra. "ada 3 perkara juga yang aku suka:

1.membuat kebaikan walaupun dalam keadaan manusia tidak mengetahuinya.
2.mencegah kemungkaran wlaupun dalam keadaan terang-terangan
3.berkata yg benar walaupun pahit"

"dan bagaimana pula denganmu wahai Uthman?"

berkata Saidina Uthman ra.
"ada 3 perkara yang aku suka:

1.memberi makan
2.memberi salam
3.bersolat malam di waktu manusia tidur"

"bagaimana pula dengan kamu wahai Ali ra ?"

"aku juga cintakan 3 perkara:

1.memuliakan tetamu
2.berpuasa di musim panas
3.dan memukul musuh dengan pedang"

kemudian bertanya Rasulullah saw pada Abu Dzar. ra

"apa yg kamu suka di dunia ini?" berkata Saidina Abu Dzar ra "aku suka 3 perkara di dunia ini:

1.lapar
2.sakit
3.mati"

kemudian Rasulullah bertanya, "kenapa wahai Abu Dzar?"

berkata saidina Abu Dzar ra,

"aku sukakan lapar kerana untuk membersihkan hati.

aku sukakan sakit kerana untuk mngurangkan dosaku.

aku sukakan maut kerana untuk bertemu tuhanku"

Kemudian bersabdalah Rasulullah saw "aku cintakan dari dunia ini 3 perkara:

1.wangian
2.wanita yang solehah
3.solat menjadi penyejuk mata ku"

Kemudian di waktu itu turunlah malaikat Jibril as memberi salam pada rasulullah saw & para sahabat.

Kemudian malaikat Jibril mengatakan "aku sukakan di dunia kamu ini 3 perkara" :

1.menyampaikan risalah
2.menunaikan amanah
3.cinta terhadap orang miskin"

Kemudian malaikat Jibril naik ke langit & turun sekali lagi ke bumi & berkata "Sesungguhnya Allah swt mengucapkan salam kepada kamu semua & Allah swt berkata sesungguhnya Allah suka pada dunia kamu ini 3 perkara:

1.lidah yang sentiasa berzikir
2.hati yang sentiasa khusyuk
3.jasad yang sabar menanggung ujian"

AllahuAkbar...

Semuga bermanafaat...

Selasa, 21 Jun 2016

Kisah Saidina Umar dengan seorang hamba

Assalamualaikum...

Sabda Nabi SAW :
'Untuk apakah dunia bagiku, aku di dunia ini bagaikan seorang musafir berhenti sebentar bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.

(HR At-Tirmidzi 389)
________________________

Suatu hari, Umar bin Ubaidulllah melalui sebuah kebun. Tiba-tiba, beliau terlihat seorang lelaki berkulit hitam sedang makan.

Ada seekor anjing duduk dihadapan lelaki itu. Setiap kali dia menyuap sepotong makanan ke mulutnya, dia melemparkan sepotong makanan kepada anjing tersebut.

Umar berasa sangat takjub. Beliau bertanya kepadanya.... "Adakah anjing ini kepunyaan kamu?"

Jawab lelaki itu: "Bukan." "Jadi, mengapa engkau memberinya makanan?" Dia menjawab: "Aku malu jika seekor makhluk Allah memandangku apabila aku sedang makan, namun aku tidak memberinya makanan."

Umar bertanya lagi.....
"Kamu hamba atau merdeka?" "Hamba milik seorang Bani Asim." Umar pergi menemui pemilik hamba tersebut. Beliau membeli hamba itu beserta kebun tempatnya bekerja.

Beliau kembali menemui lelaki tersebut dan berkata: "Allah telah memerdekakan dirimu. Dan memberikan kebun ini untukmu."

Lelaki itu berkata.....
"Segala puji bagi Allah. Saya bersaksi bahawa kebun ini saya wakafkan kepada orang fakir yang ada di negeri ini."
Umar sangat terkejut. Beliau tidak menyangka tindakan lelaki itu menyedekahkan kebun tersebut.

Beliau bertanya: "Mengapa engkau mewakafkan kebun ini? Bukankah engkau juga miskin dan memerlukan harta?"

Dia berkata:
"Aku malu kepada Allah yang telah bermurah hati kepadaku, namun aku kedekut kepada NYA "

"Selama hidup di dunia ini, yang terbaik itu adalah menyelamatkan hati dari berburuk sangka terhadap makhluk yang lain"

-Al-Imam Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani-

Ahad, 14 Jun 2015

KISAH SAIDINA UMAR AL-KHATHAB

KISAH SAIDINA UMAR AL-KHATHAB

Pada zaman Rasulullah saw, ada seorang hamba Allah yang terkenal dengan ganas dan bengisnya, telah pergi untuk membunuh Baginda Rasulullah.

Di dapati adik perempuan kandungnya dan suaminya sendiri telah memeluk islam secara diam-diam, bertambah marah dan lebih membakar hatinya untuk membunuh Baginda Rasulullah.

Beliau telah mendatangi rumah adik perempuannya dengan tujuan untuk mencari Baginda Rasulullah, bila tiba kerumah adik perempuannya, didapati adik dan suaminya, sedang membaca sesuatu.

Beliau cuba merampasnya dengan tujuan ingin membuang potongan bacaan itu, tetapi dihalang oleh adiknya, sehingga beliau terpaksa bersikap kasar dengan menampar pipi adiknya sehingga terjatuh. Dengan terjatuh adiknya tadi, sehingga terlepas cebisan potongan ayat dari genggamannya. Lalu dirampasnya dan dicubanya untuk membaca.

Setelah membaca, beliau pun menangis, bergenang air mata, bercucuran jatuh membasahi pipinya. Secara tiba-tiba didatangi suasana yang luar biasa, dari menangis bertukar baik, dari panas bertukar sejuk dan dari jahil bertukar alim.

Dalam masa sesaat, suasana telah berubah dan mengubah hatinya yang gelap itu, seumpama diterangi oleh seribu bulan.

Dengan hanya sepotong ayat sahaja, telah membuka hatinya secara mendadak, daripada hatinya bersifat panas, kini kembali bertukar menjadi sejuk.

Ayat itu telah meresap ke dalam lubuk dada yang membuatkan hatinya berubah secara tiba-tiba. Lalu beliau bertanya "Dimana Muhammad sekarang?" bawa aku kepadanya! "Aku akan masuk Islam"

Itulah kisah Saidina Umar Al-Khathab. Saidina Umar merasa hatinya telah dipukul oleh ayat berkenaan. Inilah hakikat Lailatul Qadar, yang membawa perubahan mendadak, kenikmatan dan keberkatan secara tiba-tiba bagi menggambarkan dan menunjukkan maksud Lailatul Qadar yang sebenar.

Dengan hanya sekelip mata, beliau sudah dapat merasai dan menikmati keberkatan Lailatul Qadar, sudah dapat mengubah sifat kerohaniannya. Inilah yang dikatakan hari Lailatul Qadar, iaitu hari yang diperingati. Hari yang indah dan saat-saat yang paling bersejarah yang paling diingati dalam kehidupan seseorang insan menuju Allah.

Selepas seseorang insan yang mendapat hidayah malam seribu bulan, perubahan iktikadnya dan perubahan pegangan ilmunya terhadap Allah Taala tidak akan terluput lagi. Bagi yang mendapat ilmu itu, tidak akan terlepas lagi buat selama-lamanya.

Tidak akan terjual lagi buat kali keduanya. Sekali diri kita mengenal Allah, kita tidak akan kembali lagi kepada sifat jahil. Apabila diri kita tidak lagi bersifat jahil, disitulah wajah Allah akan dapat kita pandang dan lihat pada segenap penjuru alam.

Sekali kita memperolehinya, tidak akan menoleh kebelakang lagi, akan digenggam ilmu itu erat-erat, biar nyawa dipisahkan dari jasad, namun terlepas atau dilepaskan tidak sekali-kali. Inilah kuat dan teguhnya hati mereka-mereka yang mendapat keberkatan Lailatul Qadar (Ilmu mengenal Allah).

Ingatannya kepada Allah, seumpama akan hidup untuk selama-lamanya, yang tidak akan menemui jalan mati sesudahnya.