Pages

Memaparkan catatan dengan label Al-Quran. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Al-Quran. Papar semua catatan

Ahad, 29 Mac 2015

FASE BERTEMU DENGAN ORANG - ORANG YANG FANATIK PADA PEMAHAMAN ILMU SYAREAT ......

FASE BERTEMU DENGAN ORANG - ORANG YANG FANATIK PADA PEMAHAMAN ILMU SYAREAT ......

FASE ini jika tidak Sabar maka akan membuat " EMOSI JIWA " karena apapun yang akan di sampaikan TIDAK AKAN BISA DI TERIMANYA bahkan justru akan di katakan SESAT dan MENYESATKAN.......

FASE ini bisa menjadikan seseorang menjadi UJUB karena akan diperlihatkan BETAPA SANGAT BODOHNYA POLA FIKIR ORANG - ORANG YANG FANATIK PADA PEMAHAMAN ILMU SYAREAT yang pada akhirnya menjadi RADIKAL.....

FASE ini sebagai PEMBELAJARAN agar bisa BERFIKIR dan BERTINDAK BIJAK serta dapat " MEMAKLUMINYA " sebagai bukti kebenaran bahwa setiap Manusia memiliki tingkat KEYAKINAN dan PEMAHAMAN yang berbeda - beda seperti apa yang di sampaikan oleh 

Rasulullah saw :
" Kami para Nabi-Nabi, Allah perintah kami untuk berbicara kepada manusia, menurut tingkat kecerdasan mereka "

Ali bin Abi Thalib Kwh berkata :
" Ada hamba yang beribadah kepada Allah kerena ingin mendapatkan imbalan,ada hamba yg beribadah kerena takut siksa,dan ada sekelompok hamba yg beribadah kerena cinta kepada Allah "


FASE ini juga sebagai PEMBUKTIAN bahwa PEMAHAMAN ILMU SYAREAT TIDAK DAPAT BERJALAN BERSAMA DENGAN PEMAHAMAN ILMU MA'RIFATTULLAH sebagaimana yang di isyaratkan oleh Rasulullah saw.

Sabda Rasulullah saw :
" Kamu berbicara kepada manusia yang belum sampai tingkat kecerdasanya, apakah kamu dalam hal ini ingin agar mereka mendustakan Allah dan Rasulnya ? "

FASE ini juga bisa berdampak TERBALIK , yaitu justru membuat orang yang belajar Ilmu Ma'rifattullah menjadi RAGU akan kebenaran ilmu Ma'rifattullah yang sudah di pelajarinya ......pada posisi inilah yang bisa berakibat STRES TINGKAT TINGGI atau mengalami gangguan Jiwa.....

Jika masuk pada FASE BERTEMU DENGAN ORANG - ORANG YANG FANATIK PADA PEMAHAMAN ILMU SYAREAT maka sebaiknya berusahalah menjadi PENDENGAR YANG BAIK tanpa membantah ataupun mendebatnya....

Pada dasarnya MEREKA YANG FANATIK PADA PEMAHAMAN ILMU SYAREAT berbicara berdasarkan apa yang TERTULIS di ALQURAN dan HADIST SAHIH saja sehingga jika ada pemahaman ilmu yang tidak ada dasar TERTULISNYA maka sudah pasti di tolak walaupun BENAR......

pada FASE ini banyak hikmah yang bisa di ambil yang diantaranya adalah BIJAK DALAM MENYAMPAIKAN ILMU sehingga dapat di terima oleh siapa saja termasuk oleh mereka yang FANATIK pada Pemahaman Ilmu Syareat tanpa harus melalui perdebatan konyol dan merasa PALING BENAR...
...
Sebagai contoh kasus....
Penulis Kitab Teberubut bertemu dengan teman yang dikenal sangat fanatik pada Ilmu Syareat lalu di tanya dan diminta tanggapannya tentang ILMU TITIK BA yang disampaikan di dalam KITAB TEBERUBUT... .....

Lalu di jawab.....
Saya pernah membaca tentang ILMU TITIK BA yang TIDAK BISA SAYA TERIMA KEBENARANNYA karena beberapa alasan yang diantaranya adalah :

1. Pertama, ILMU TITIK BA itu ILMU TANPA DASAR yang sama sekali TIDAK PERNAH DIAJARKAN OLEH RASULULLAH SAW ....karena di jaman Nabi Muhammad Rasulullah saw semua huruf arab TIDAK ADA TANDA HURUF dan TIDAK ADA TANDA BACANYA...sehingga huruf BA, TA dan NUN tidak ada bedanya.......lalu dari mana asalnya ILMU TITIK BA itu ????
2. Kedua, Selain itu huruf SYIIN yang ada tanda huruf berupa 3 titik diatasnya diartikan sebagai ILMU SYAREAT, ILMU TAREKAT dan ILMU HAKEKAT padahal jelas - jelas bahwa tanda huruf 3 titik diatas huruf SYIIN itu TIDAK ADA DIMASA RASULULLAH SAW......lalu dari mana asalnya ????

Kedua jawaban dan alasan tersebut diatas MEMANG BENAR dan TIDAK BISA DIBANTAH KEBENARANNYA ......

Untuk diketahui, hampir semua GURU yang menyampaikan ILMU TITIK BA pada KALIMAT BASMALLAH menggunakan metode Tanda huruf TITIK pada huruf BA dan pada HURUF SYIIN yang pertamakali di perkenalkan oleh SUNAN BONANG kepada SUNAN KALIJAGA di tanah jawa yang kemudian di BUKUKAN oleh K.H. HADERANIE H.N dalam bukunya yang berjudul 4 M..... jadi ILMU TITIK BA itu bukan ILMU hasil karya K.H. HADERANIE H.N

Lalu Teman itu dipersilahkan membaca ILMU TITIK BA yang ada di KITAB TEBERUBUT yang ternyata DAPAT DITERIMA DENGAN BAIK DAN MUDAH DIPAHAMI karena TIDAK MENGGUNAKAN METODE SEPERTI YANG ADA DI BUKU 4M karya K.H. HADERANIE H.N

Dari uraian tersebut diatas maka siapa saja yang belajar dan mendalami Ilmu Ma'rifattullah harus bisa BIJAK dan CERDAS ketika menyampaikan KEBENARAN kepada siapa saja sesuai dengan metode - metode penyampaian yang disesuaikan dengan TUNTUTAN DAN PERKEMBANGAN JAMAN ....tanpa harus berdebat konyol dan merasa paling benar....

Untuk diketahui ......

kitab TAURAD di sempurnakan menjadi kitab ZABUR yang kemudian di sempurnakan menjadi Kitab INJIL lalu di sempurnakan menjadi KITAB ALQURAN yang terangkum dalam SURAT ALFATEHAH yang selanjutnya terangkum dalam kalimat BASMALLAH......

Lalu anak cucu kita bertanya :
" BAGAIMANA BISA ALQURAN yang terdiri dari 114 Surat yang bisa menjelaskan tentang ALAM SEMESTA terangkum dalam KALIMAT BASMALLAH yang hanya terdiri dari 19 HURUF...????
Hanya dengan METODE ILMU TITIK BA pertanyaan tersebut dapat di jelaskan....., jika bisa, maka silahkan jawab berdasarkan ILMU SYAREAT......

Dalil ALQURAN dan HADIST yang seolah - olah saling bertentangan

Dalil ALQURAN dan HADIST yang seolah - olah saling bertentangan...., dan juga Seolah - olah bertentangan dengan KENYATAAN yang terjadi dan ada dikehidupan NYATA......
Hal ini disampaikan agar dapat di pahami bahwa di dalam ALQURAN yang tertulis dan HADIST terdapat dalil - dalil yang kedudukannya di peruntukkan sesuai dengan ILMUNYA.
Ada DALIL ALQURAN dan HADIST yang duduknya untuk PEMAHAMAN ILMU SYAREAT ....dan ada DALIL ALQURAN dan HADIST yang duduknya untuk PEMAHAMAN ILMU HAKEKAT yang memang seolah saling BERTOLAK BELAKANG atau saling bertentangan yang bisa MENGGOYAHKAN KEIMANAN.......
FASE ini tidak dialami oleh semua orang, sehingga wajar saja jika ada yang MENOLAK KEBENARAN adanya FASE ini jadi bisa di maklumi.....
Bagi yang sedang mengalami maka bersyukurlah karena telah diperjalankan untuk menuju kepada KEYAKINAN ILMU HAKEKAT yaitu HAKKUL YAKIN.....
Dan bagi yang sudah melewati FASE ini akan ditandai dengan sikaf dan sifat yang berubah menjadi lebih baik, bijak dan tenang......, TIDAK ADA LAGI UJUB karena ILMU atau RIYA dalam beribadah serta dapat menerima dan hidup berdampingan dengan semua umat beragama dan berkeyakinan dengan aman dan damai.....

Selasa, 1 Julai 2014

Allahlah yang mencipta segala yang dialami oleh seseorang

Allahlah yang mencipta segala yang dialami oleh seseorang dan Allah pasti mencipta satu alasan untuk apa yang diciptaNya. Sebab musababnya tidak datang dengan sendirinya kecuali dikehendaki Allah. Tidak seorang pun mempunyai kuasa untuk melakukan sesuatu kecuali jika dikehendaki oleh Allah. Allah menerangkan perkara ini di dalam Al-Qur'an melalui ayat-ayat berikut :

Dan tiadalah kamu berkemahuan ( melakukan sesuatu perkara ) melainkan dengan cara yang dikehendaki Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana ( mengaturkan sebarang perkara yang dikehendakiNya ). (QS. Al-Insan, 30)


Dan kamu tidak dapat menentukan kemahuan kamu ( mengenai sesuatu pun ) kecuali dengan cara yang diatur oleh Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir seluruh alam. 
(QS.At-Takwir,29)

" Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu buat itu!"
(QS:As-Saffat,96)


Maka bukanlah kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah jualah yang menyebabkan pembunuhan mereka. Dan bukanlah engkau ( wahai Muhammad ) yang melontar, ketika engkau melontar, akan tetapi Allah jualah yang melontar ( untuk membinasakan orang-orang kafir ) dan untuk mengurniakan orang-orang yang beriman dengan pengurniaan yang baik ( kemenangan ) daripadaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Anfal, 17)

"... dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan, dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan " (QS. Al-Anbiya, 35).

Rabu, 4 Jun 2014

Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang



Muqadimah

Syahadat merupakan hal yang sangat penting bagi seseorang, yang akan menentukan perjalanan kehidupannya. Syahadat mampu merubah orientasi duniawi menjadi orientasi ukhrawi yang secara langsung atau tidak dapat merubah tujuan dan perjalanan hidup seseorang. Rasulullah saw pun mengubah kondisi masyarakat Arab dari kehidupan jahiliyah menuju kehidupan Islami dengan syahadat.

Syahadat membawa perubahan mendasar dalam jiwa setiap insan. Syahadat merubah kondisi masyarakat dari akarnya yang paling bawah; yaitu dari sisi relung hatinya yang paling dalam. Ketika hati telah berubah, maka segala gerak-gerik, tingkah laku, pola pikir, kejiwaan dan segala tindak tanduk akan berubah pula. Namun semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hari akhir. Allah SWT menggambarkan keadaan seluruh manusia di hari akhir nanti. Setiap orang akan berhadapn dengan saksi-saksi mereka atas setiap perbuatan yang telah dilakukannya. Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-nisa : 41

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu ) sebagai umatmu (Q.S. An-Nisa : 41)

Ayat ini menggambarkan bagaimana keadaan manusia di akhirat kelak. Allah SWT tidak akan merugikan hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan walaupun sedikit, tapi akan diberinya pahala yang berlipat ganda atas kebaikannya itu. Allah SWT juga menggambarkan keadaan manusia nanti kalau mereka berhadapan dengan saksi-saksi mereka. Saksi meraka adalah Nabi-nabi mereka. Setiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka. Pada waktu itulah dapat diketahui siapa yang sebenarnya pengikut Nabi dan siapa yang hanya pengakuannya saja yang mengikuti Nabi, tapi amal perbuatannya mendurhakai Nabi. Maka siapa yang telah disaksikan oleh Nabinya bahwa dia sungguh-sungguh telah mengikuti ajaran Rasul maka orang itu termasuk orang yang beruntung. Jika Nabinya berlepas diri dari mereka karena amal perbuatannya dan kepercayaannya tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasul, maka meraka termasuk orang yang merugi. Nabi Muhammad saw, akan menjadi saksi bagi umat Islam nanti dan bagi seluruh manusia. Firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah: 143

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu (Q.S. Al-Baqarah: 143)

Nabi Muhammad saw mencucurkan air mata ketika mendengarkan ayat ini dibacakan oleh sahabat kepadanya. Beliau memikirkan bagaimana hebatnya suasana pada hari akhirat, beliau akan melihat dengan jelas pengikut-pengikut beliau yang setia dan benar dan pengikut yang pura-pura dan palsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi Muhammad saw:

عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرأ على قلت : يا رسول الله أقرأ عليك ? وعليك أنزل ? قال : نعم إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت سورة النساء حتى أتيت إلى هذه الآية : فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد الخ فقال : حسبك الآية فإذا عيناه تذرفان

Dari Ibnu Mas'ud dia berkata: "Rasulullah saw telah berkata kepada saya : "Tolong, bacakan kepada saya Alquran itu. Lalu saya menjawab: "Ya Rasulullah, akukah yang akan membacakan kepada engkau, padahal dia diturunkan kepada engkau?" Rasulullah berkata : "Betul, tapi saya ingin mendengarkannya dibaca oleh orang lain" Maka aku bacalah surat An Nisa' Ketika aku sampai membaca, ayat 41 ini maka beliau bersabda : "Sekarang cukuplah sebegitu saja". dan air matanya bercucuran keluar"
(H.R. Bukhari dan Muslim)



Terdapat beberapa urgensi kalimat syahadat, antara lain yaitu:

1. Pintu masuk ke dalam Islam ( اَلْمَدْخَلُ إَلَى اْلإِسْلاَمِ )

Pada fitrahnya, manusia telah mengakui keesaan Allah SWT. Namun sejak manusia dilahirkan dari sulbi orang tua mereka datang setan-setan pada mereka untuk menyesatkan mereka dari mengesakan Allah SWT. Dalam Q.S. Al-Araaf: 172, Allah SWT berfirman

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu?, mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan) (Q.S. Al-Araaf: 172)

Dalam ayat tersebut diterangkan suatu janji yang dibuat pada waktu manusia dikeluarkan dari sulbi orang tua mereka, turunan demi turunan, yakni hal janji Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah SWT memerintahkan roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem saraf yang mengagumkan dan sebagainya.

Dengan ayat ini Allah SWT bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia dilahirkan dari sulbi orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah SWT pada kejadian mereka sendiri. Rasulullah saw bersabda:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جذعاء

Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana halnya haiwan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya. Adakah kamu ketahui ada cacat pada anak haiwan itu?
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Rasulullah saw dalam hadist Qudsi:

يقول الله تعالى: إني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاختالتهم عن دينهم وحرمت عليها ما أحللت لهم

Berfirman Allah Taala, Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka.
(H.R. Bukhari dari Iyad bin Himar)

Penolakan terhadap ajaran tauhid yang dibawa Nabi sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Oleh karena itu tidaklah benar manusia pada hari kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah SWT. Fitrah mereka sendiri dan ajaran-ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menuruti seruan Rasul serta menjauhi diri dari syirik, yakni melalui pelafazan dua kalimat Syahadat.

Pada hakikatnya, syahadat merupakan pemisah seseorang dari kekafiran menuju iman. Artinya dengan sekedar mengucapkan syahadat, seseorang telah dapat dikatakan sebagai seorang Muslim. Demikian pula sebaliknya, tanpa mengucapkan syahadat, seseorang belum dapat dikatakan sebagai seorang muslim.
Allah SWT berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (Q.S. Muhammad: 19)

Apabila engkau telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh orang-orang beriman, serta azab yang akan diperoleh orang-orang kafir di akhirat nanti, maka hendaklah berpegang teguh kepada agama Allah yang mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dan mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa engkau dan dosa-dosa orang-orang yang beriman; hendaklah selalu berdoa dan berdzikir kepada-Nya dan janganlah sekali-kali memberi kesempatan kepada syaitan untuk melaksanakan maksud buruknya kepadamu.

2. Intisari ajaran Islam  ( خُلاَصَةُ تَعَالِيْمِ اْلإِسْلاَمِ )

Syahadat mencakup dua hal;
(1) Konsep La ilaha ilallah; merealisasikan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah, baik yang dilakukan secara pribadi maupun secara bersamaan (berjamaah). Dari sini akan melahirkan keikhlasan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya; Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku
(Q.S. Al-Anbiya: 25)

Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan dengan pasti, bahwa setiap Rasul yang diutus-Nya sebelum Muhammad saw adalah orang-orang yang telah diberi-Nya wahyu yang mengajarkan bahwa tidak ada tuhan selain Allah SWT. Oleh sebab itu menjadi kewajiban bag manusia untuk menyembah Allah semata. Dan tidak ada sesuatu dalil pun, baik dalil aqli maupun dalil naqli yang disampaikan oleh semua Rasul-rasul Allah, yang membenarkan kepercayaan selain kepercayaan tauhid kepada Allah SWT.

(2) Konsep Muhammad adalah utusan Allah, mengantarkan pada makna bahwa konsep ini menjadi konsep yang mengharuskan kita untuk mengikuti tatacara penyembahan kepada Allah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Atau dengan kata lain sering disebut dengan ittiba. Firman Allah SWT:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
(Q.S. Al-Jaatsiyah: 18)

Peraturan yang termuat dalam wahyu yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya. Syariat yang dibawa oleh para Rasul terdahulu dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad saw pada asasnya dan hakikatnya sama, berasaskan tauhid, membimbing manusia ke jalan yang benar, mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar. Jika terdapat perbedaan itu bukan masalah pokok, hanya dalam pelaksanaan ibadah dah cara-caranya. Hal itu disesuaikan dengan keadaan, tempat dan waktu.

3. Konsep dasar reformasi total ( أَسَاسُ اْلاِنْقِلاَبِ )

Syahadat merupakan dasar perubahan total, baik pribadi maupun masyarakat. Syahadat layaknya cahaya yang sangat terang, sehingga dapat mengeluarkan umat manusia dari kehidupan yang gelap gulita (jahiliyah). Allah berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan (Q.S. Al-Anaam : 122)

Syahadat dapat merubah kondisi suatu masyarakat, bangsa dan Negara secara menyeluruh, dengan sentuhan yang sangat dalam iaitu dari dalam tiap diri insan. Jika seseorang dapat berubah, maka ia akan menjadi perubah yang akan merubah masyarakatnya. Allah berfirman:

إِن اللهَّ لا يغُيَرِّ ماَ بقِوَمْ حتََّى يغُيَرِّوُا ماَ بأِنَفُْسهِمِْ

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, hingga mereka mau merubah diri mereka sendiri (Q.S. Ar-Raad: 11)


4. Hakikat dakwah para Rasul (حَقِيْقَةُ دَعْوَةِ الرُّسُلِ)

Pada hakekatnya dakwah Rasulullah saw adalah dakwah untuk menegakkan dua hal; yaitu mentauhidkan Allah dan menggunakan kaedah Rasulullah saw dalam merealisasikan ibadah kepada Allah SWT.

5. Keutamaan yang besar ( فَضَائِلُ عَظِيْمَةٍ )

Syahadat memiliki keutamaan yang besar, diantaranya ialah sebagaimana digambarkan dalam hadist berikut:

عَن عبُاَدةَ بْن الصاَّمِت أنَهَّ قاَل سمَعِْت رَسوُل اللهَّ صلََّى اللهَّ علَيَهْ وَسلَمَّ يقَوُل مَن شهَدِ أَن لا إلِهَ إِلا اللهَّ وأََن مُحمَدَّاً رَسوُل اللهَّ حرَمَّ اللهَّ علَيَهْ الناَّرَ

Dari Ubadah bin al-Shamit, aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah akan mengharamkan neraka baginya (H.R. Muslim)

KITA TIDAK SEDAR YANG KITA SEDANG MENGAKU - AKU DIRI SENDIRI ADALAH TUHAN SELAIN DARI ALLAH

KITA TIDAK SEDAR YANG KITA SEDANG MENGAKU - AKU DIRI SENDIRI ADALAH TUHAN SELAIN DARI ALLAH..."

Allah mempunyai segala sifat yang wajib dan hanya layak untuk Dia memiliki sendiri tanpa boleh dikongsi dengan yang lain selain dari Dia sendiri...

Sifat yang wajib bagi Allah tidak terbilang banyaknya, ulamak telah menetapkan yang wajib kita ketahui sebanyak 20 sifat seperti yang telah dihuraikan didalam banyak kitab-kitab ilmu tauhid...

Sifat yang wajib bagi Allah hanya layak untuk Allah sahaja, selain dari Allah haram untuk memakainya, jika ada makhlok yang berani memakainya untuk diri mereka sendiri (makhlok yang tidak ada telah dianggap ada ujud sendiri dengan memakai sifat-sifat yang wajib bagi Allah kepada makhlok yang tidak ada, sehinggakan timbul anggapan segala sifat yang wajib bagi Allah telah dianggap sebagai sifat makhlok sendiri sehingga menimbulkan anggapan bahawa makhlok ada mempunyai ujud sendiri... 

Sehingga dengan rasa memiliki segala sifat yang wajib bagi Allah untuk diri sendiri timbullah didalam rasa dan perasaan diri sendiri akan keAKUan diri (yang sebenarnya yang bersifat tidak ada) tetapi telah dirasai ada oleh diri sendiri kerana mengambil dan meletakkan sifat ada Allah kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak ada)...

Keakuan diri sendiri yang sebenarnya bersifat dengan sifat tidak ada, telah dirasai ada kerana kita telah meletakkan sifat ada itu pada tempat yang salah iaitu kepada diri yang tidak ada, sifat ada yang sepatutnya adalah sifat Allah sahaja telah diletakkan kepada selain dari Allah dan pada diri sendiri...

Dengan meletakkan sifat ada (yang sebenarnya sifat ada itu hanya milik Allah sahaja) kepada diri sendiri, maka dengan sendirinya akan menimbulkan sifat keakuan diri (mengaku segala sifat yang wajib bagi Allah adalah milik diri sendiri yang sedang memakai sifat ada yang hanya milik Allah sendiri sahaja...)

Bermula dengan merasai sifat ada yang hanya milik Allah sendiri sahaja sebagai ujud diri sendiri, secara automatik kita akan merasai didalam rasa dan perasaan yang dalam bahawa segala sifat-sifat yang wajib bagi Allah yang hanya layak untuk Allah sahaja telah dirasai menjadi milik diri sendiri ( yaitu ada Allah yang dianggap sebagai ada diri sendiri)..

Secara tidak disedari bermula dengan menganggap diri sendiri dan selain daripada Allah mempunyai ujud sendiri, kita telah memperakui diri kita telah memiliki sifat ketuhanan yang hanya milik Allah sendiri sahaja...

Dengan secara tidak disedari, apabila kita mengakui kita ada ujud sendiri, secara automatik kita telah mengakui diri kita memiliki sifat ketuhanan, secara tidak disedari kita telah memperakui diri kita memiliki sifat-sifat yang wajib bagi Allah yang membawa makna "AKU ALLAH - sebab ADA adalah sifat yang wajib bagi Allah, ADA itu bersifat Esa (tidak berbilang-bilang), sifat ada itu hanya milik Allah dan tidak boleh diletakkan sifat ADA kepada selain dari Allah.

Bila sifat yang wajib bagi Allah telah diletakkan kepada diri sendiri dan selain dari Allah (makhlok Allah).. Secara tidak disedari kita telah menjadikan (diri yang tiada tetapi telah dianggap ada kerana meletakkan sifat ada yang hanya milik Allah kepada diri yang tiada)

Dengan meletakkan sifat ADA kepada diri sendiri yang sebenarnya bersifat dengan sifat tiada akan melahirkan sifat Ke-Aku-an diri sendiri... Sifat ke-Aku-an diri ini adalah hawa nafsu yang secara tidak disedari telah dijadikan tuhan selain dari Allah sebab kita telah meletakkan segala sifat yang wajib bagi Allah kepada selain dari Allah (diri yang tiada tetapi telah dianggap ada kerana meletakkan sifat Ada yang hanya milik Allah kepada diri yang tiada...

Firman Allah
21.Surah Al-'Anbyā' (Verse 29)
وَمَن يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِّن دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ

Dan (jika ada) sesiapa di antara mereka berkata: "Sesungguhnya aku ialah tuhan selain dari Allah", maka yang berkata sedemikian itu, Kami akan membalasnya dengan (azab) neraka jahannam; demikianlah Kami membalas golongan yang zalim.

Mengaku dan menganggap diri sendiri mempunyai ujud sendiri dengan secara tidak langsung dan secara yang tersembunyi telah berlaku seperti firman Allah

22.Surah Al-Ĥaj (Verse 62)
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Bersifatnya Allah dengan kekuasaan dan luas ilmu pengetahuan itu kerana bahawasanya Allah, Dia lah sahaja Tuhan Yang Sebenar-benarnya, dan bahawa segala yang mereka sembah selain dari Allah itulah yang nyata palsunya. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah jualah Yang Maha Tinggi keadaanNya, lagi Maha Besar (kekuasaanNya)

Secara tidak sedar kita telah meletakkan sifat yang wajib bagi Allah yang hanya milik Allah kepada diri sendiri (yang dianggap ada).... Yang sebenarnya ada itu adalah sifat Ada Allah yang sedang ditunjukkan sebagai tanda dan ayat yang sedang menerangkan wujud atau ada Allah...

YANG MENJADI MASALAH BESAR KEPADA KITA IALAH KITA TAK JUMPA JALAN UNTUK MENGHILANGKAN RASA ADA DIRI SENDIRI YANG TELAH LAMA MELEKAT DAN TELAH MENJADI DARAH DAGING.....

Selagi kita tidak bertemu jalan bagaimana nak menafikan atau menghilangkan rasa ada diri sendiri selagi itu kita kekal bertuhankan kepada keakuan diri (Aku diri sendiri yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan itu sifat yang wajib bagi Allah yang hanya milik Allah sahaja)...

Orang yang syirik kepada Allah dipanggil didalam Al-Quran sebagai orang musyrik...

39.Surah Az-Zumar (Verse 3)
أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah! (Hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung dan penolong (sambil berkata): "Kami tidak menyembah atau memujanya melainkan supaya mereka mendampingkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya", - sesungguhnya Allah akan menghukum di antara mereka (dengan orang-orang yang tidak melakukan syirik) tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan-bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik).

2.Surah Al-Baqarah (Verse 163)
وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

Dan Tuhan kamu ialah Tuhan yang Maha Esa; tiada Tuhan (Yang berhak disembah) selain dari Allah, yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

20.Surah Ţāhā (Verse 14)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah sembahyang untuk mengingati Daku.

21.Surah Al-'Anbyā' (Verse 25)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus sebelummu (wahai Muhammad) seseorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa sesungguhnya tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku; oleh itu, beribadatlah kamu kepadaKu".

16.Surah An-Naĥl (Verse 2)
يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

Ia menurunkan malaikat membawa wahyu dengan perintahNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya (yang layak menjadi Rasul); (lalu Ia berfirman kepada Rasul-rasul): "Hendaklah kamu menegaskan kepada umat manusia bahawa tiada Tuhan melainkan Aku. Oleh itu, bertaqwalah kamu kepadaku".

28.Surah Al-Qaşaş (Verse 88)
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan.

28.Surah Al-Qaşaş (Verse 30)
فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِن شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَن يَا مُوسَىٰ إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Maka ketika ia sampai ke tempat api itu, (kedengaran) ia diseru dari tepi lembah yang di sebelah kanan, di tempat yang dilimpahi berkat, dari arah pohon kayu (yang ada di situ): "Wahai Musa, sesungguhnya Akulah Allah Tuhan sekalian alam.

Selasa, 3 Jun 2014

Yang Ujud Hanya Allah, Allah tetap bersalahan dengan segala yang baharu

Adnan Dahalan PERSOALAN YANG DITIMBULKAN

Yg ujud hanya Dia . mana ada lg Laisa .. tdk ada lg yg Ujud utk bersalah-salahan atau berlawanan dgn Dia .. Wajibal Ujud itu Nyata nya itu lah Dia ....siapa Aku mana Aku?

CUBA MEMBERI PENJELASAN
Yang Ujud Hanya Allah, Allah tetap bersalahan dengan segala yang baharu (ALLAH BERSIFAT ADA YANG BAHARU BERSIFAT DENGAN SIFAT TIADA - BERSALAHAN ALLAH BAGI SEGALA YANG BAHARU TIDAK PERNAH BERUBAH DARI SEMASA IA BERSENDIRIAN, PADA MASA SEKARANG DAN LAGI PADA MASA AKAN DATANG)..

Jika kita berpegang semasa ia bersendirian ia tidak bersalahan dengan segala yang baharu maka menunjukkan pegangan kita Allah itu berubah-ubah..
Allah itu sediakala dan kekal adanya tidak pernah mengalami perubahan..
Wajibal Ujud membawa makna hanya Allah sahaja yang bersifat dengan sifat ujud iaitu ada..

JADI UNTUK KEMBALI BERTUHAN DAN BERTAUHID KEPADA ALLAH ADAKAN PENGAKUAN YANG ALLAH ITU ADALAH ALLAH..

JANGANLAH MENGAKU YANG SIFAT KETUHANAN ALLAH ITU ADALAH SIFAT SELAIN DARI SIFAT ALLAH

CONTOH KITA MERASAKAN ADA DIRI KITA SENDIRI, INI MENUNJUKKAN KITA SEDANG MENYEKUTUKAN SIFAT ADA ALLAH DENGAN SIFAT ADA DIRI KITA SENDIRI...

JADI SEMASA KITA MERASAKAN ADA DIRI KITA SENDIRI (DIDALAM ILMU PENGETAHUAN KITA, KITA TAHU BAHAWA HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT ADA)

PERSOALANNYA BAGAIMANAKAH CARANYA KITA NAK MENGADAKAN PENGAKUAN YANG ADA DIRI KITA YANG SEDANG DIRASAKAN ITU ADALAH SEBENARNYA SIFAT ADA ALLAH?

YANG SELAMA INI TELAH DISEKUTUKAN SEBAGAI SIFAT ADA DIRI KITA SENDIRI....???????

JANGAN KITA KATA SAHAJA ALLAH ITU BERSIFAT DENGAN SIFAT ADA, SELAIN DARI ALLAH BERSIFAT DENGAN SIFAT TIADA TETAPI DIDALAM MASA YANG SAMA KITA SEDANG MERASAKAN KITA YANG BERSIFAT ADA DAN TIDAKPUN MERASAKAN ADA ALLAH

KITA KATA ALLAH ADA TAPI KITA RASA ALLAH TIADA..

KITA KATA DIRI KITA BERSIFAT DENGAN SIFAT TIADA TETAPI KITA SEDANG MERASA DIRI KITA ADA)..

Pengetahuan kita dengan apa yang sedang kita sedanh rasa tidak bersamaan...

UNTUK MENYELESAIKAN MASAALAH INI ALLAH TELAH BERFIRMAN
17.Surah Al-'Isrā' (Verse 41)

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا


Dan sesungguhnya Kami telah menerangkan jalan-jalan menetapkan iktiqad dan tauhid dengan berbagai cara di dalam Al-Quran ini supaya mereka beringat (memahami dan mematuhi kebenaran); dalam pada itu, penerangan yang berbagai cara itu tidak menjadikan mereka melainkan bertambah liar.

BAGAIMANAKAH JALAN DAN CARA YANG KITA PERLU JALANI SENDIRI SEHINGGA KITA TIDAK LAGI MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI KERANA SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH???????

Isnin, 2 Jun 2014

Mengenal Hakikat WALI ALLAH & WALI SYETAN , Siapakah Mereka?

Mengenal Hakikat WALI ALLAH & WALI SYETAN , Siapakah Mereka?

 
 
 
 
 
 
3 Votes

Mengenal Hakikat WALI ALLAH & WALI SYETAN Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah

Disusun Oleh : Tim Redaksi Al-Hujjahwali
Buletin Al-Hujjah Vol: 07-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08
Bermacam pandangan telah mewarnai bursakewalian, ada yang berpandangan bila seseorang telah memiliki halhal yang luarbiasa berarti dia telah sampai pada tingkat kewalian,seperti tidak luka bila dipukul dengan senjata tajam dan sebagainya. Sebagian orang berpendapat bila sudah pakai baju jubah dan surban berarti sudah wali, sebagian lain berpendapat bila seseorang suka berpakaian kusut dan bersendal cepit berarti ia wali, ada pula yang berpandangan bila seseorang kerjanya berzikir selalu berarti dia wali. Dan banyak lagi pendapat-pendapat tentang perwalian yang tidak dapat kita sebutkan satu persatu di sini.
Wali secara etimologi (bahasa) berarti dekat. Adapun secara terminologi (istilah) menurut pengertian sebagian ulamaahlussunah, wali adalah orang yang beriman lagi bertakwa tetapibukan Nabi. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa seluruh orang yang beriman lagi bertakwa adalah wali Allah, dan wali Allah yang paling utama adalah para Nabi, yang paling utama diantara para Nabi adalah para Rasul, yang paling utama di antara para Rasul adalahUlul ‘Azmi, yang paling utama di antara Ulul‘Azmi adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka para wali Allah tersebut memiliki perbedaan dalam tingkat keimanan mereka, sebagaimana mereka memiliki tingkat yang berbeda pula dalam kedekatan mereka dengan Allah. Maka dapat disimpulkan di sini bahwa wali-wali Allah terbagi kepada dua golongan:
Golongan pertamaAssaabiquun Almuqarrabuun (barisanterdepan dari orang-orang yang dekat dengan Allah). Yaitu mereka yang melakukan hal-hal yang mandub (sunnah) sertamenjauhi hal-hal yang makruh di samping melakukan hal-hal yang wajib .
Golongan keduaAshaabulyamiin (golongan kanan). Yaitu mereka hanya cukup dengan melaksanakan hal-hal yang wajib saja serta menjauhi hal-hal yang diharamkan, tanpa melakukan hal-hal yang sunnah atau menjauhi hal-hal yang makruh. Kedua golongan inidisebutkan Allah dalan firmanNya:
“(Artinya) Adapun jika ia termasuk golongan yang dekat (kepada Allah). Maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta surga kenikmatan. Dan adapun jika ia termasuk golongan kanan. Maka keselamatan bagimu dari golongan kanan”. (QS.Al Waaqi’ah, ayat: 88-91).
Kemudian para wali itu terbagi pula menurut amalan dan perbuatan mereka kepada dua bagian; wali Allah dan wali setan.
Ciri-ciriWali Allah
Allah telah menyebutkan ciri para waliNya dalam firmanNya:
“Ingatlah; sesungguhnya para waliwali Allah Mereka tidak merasa takut dan tidak pula merasa se dih. Yaitu orang-orang yang beriman lagi bertakwa”.
(QS. Yunus: 62-63).
Ciri pertama, Beriman, artinya keimanan yang yang dimilikinya tidak dicampuri oleh berbagai bentuk kesyirikan. Keimanan tersebut tidak hanya sekedar pengakuantetapi keimanan yang mengantarkan kepada takwa. Landasan keimanan yang pertama adalah Dua Kalimat Syahadat. Maka orang yang tidak mengucapkannya atau melakukan hal-hal yang membatalkan kalimat tauhid tersebut adalah bukan wali Allah. Seperti menjadikan wali sebagai perantara dalam beribadah kepada Allah,atau menganggap bahwa hukum selain Islam adalah sama atau lebih baik dari hukum Islam. Atau berpendapat semua agama adalah benar. Atau berkeyakinan bahwa keNabian dan keRasulan tetap ada sampai hari kiamat, bahwa Muhammad bukan penutup segala Rasul dan Nabi.
Ciri kedua, Bertakwa , artinya ia melakukan apa yang diperintah Allah dan
menjauhi apa yang dilarang Allah, melakukan hal-hal yang diwajibkan agama, ditambah lagi dengan amalan amalan sunnah. Oleh sebab itu jika ada orang yang mengaku sebagai wali, tapi ia meninggalkan beramal kepada Allah maka ia termasuk pada jenis wali yang kedua yaitu wali setan. Atau melakukan ibadah-ibadah yang tidakpernah dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Baik dalam bentuk shalatmaupun zikir, dll.
Ciri-ciri Wali Setan
Adapun ciri wali setan adalah orang yang mengikuti kemauan setan , mulai dari melakukan syirik dan bid’ah sampai berbagai bentuk kemaksiatan. Sebagaimana Allah terangkan dalam firmanNya bahwa setan juga memberikan wahyu kepada para wali-wali mereka :
“(Artinya) Sesungg uhnya setan-setan itu mewahyukan kepada wali-wali mereka untuk membantahmu, jika kamu menaati mereka, sesungguhnya kamu menjadi orang-orang musyrikin”. (QS . Al An’aam,ayat: 121).
Terkadang setan membisikan walinya untuberdo’a dikuburan orang-orang shalihdengan dalih untuk menghormati wali. Sesungguhnya menghormati wali bukanlah dengan berdoa dikuburannya, justru ini adalah perbuatan yang dibenci wali itu sendiri karena telah menyekutukannya dengan Allah. Manakah yang lebih tinggi kehormatan seorang wali di sisi Allah dengan kehormatan seorang Nabi? Jelas Nabi lebih tinggi. Jangankan meminta kepada wali, kepada Nabi sekalipun tidak boleh berdoa. Jangankan saat setelah mati, di waktu hidup saja, Nabi tidak mampu mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain setelah mati! Kalau hal itu benar tentulah para sahabat akan berbondong-bondong kekuburan Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam saat mereka kekeringan atau kelaparan atau saat diserang oleh musuh. Tapi kenyataan justru sebaliknya , saat paceklik terjadidi Madinah , Umar bin Khaththab mengajak kaum muslimin melakukan shalat istikharah kemudian menyuruh Abbas bin Abdul Muthalib berdoa, karena kedekatannya dengan Nabi, bukannya Umar meminta kepada Nabi.
Kemudian bentuk lain dari cara setan dalam menyesatkan wali-walinya adalah dengan memotivasi seseorang melakukan amalan-amalan bid’ah, sebagai contoh kisah yang amat masyhur yaitu kisah Sunan Kalijaga, kita tidak mengetahui apakah itu benar dilakukan beliau atau kisah yang didustakan atas nama beliau, namun kita tidak mengingkari kalau memang ternyata benar beliau seorang wali, yang kita cermati adalah kisah kewalian beliau yang jauh dari tuntunan sunnah, yaitu beliau bersemedi selama empat puluh hari di tepi sebuah sungaikemudian diakhir persemedian beliau mendapatkan karomah. Kejanggalan pertama dari kisah ini adalah bagaimana beliau melakukan shalat, kalau beliau shalat berarti telah meninggalkan shalat berjama‘ah dan shalat Jum’at? Adakah petunjuk dari Rasulullah untuk mencari karomah dengan persemedian seperti ini? Dengan meninggalkan shalat atau meninggalkan shalat berjamaah dan shalat Jum’at.
Beberapa kesalahpahaman tentang kewalian yang terjadi di tengah-tengah masyarakat yaitu :
1. Berasumsi bahwa seorang wali itu Maksum ( terbebas ) dari segala kesalahan, sehingga mereka menerima segala apa yang dikatakan wali.
Dengan pemahaman seperti ini, terjadilahpengkultusan sang kiai atau sang guru danpembenaran kesesatan yang dilakukan olehsang kiai atau sang guru sekali punperbuatan tersebut nyata-nyatamelanggarAl-Qurandan Sunnah. Bahkan dikisahkanbila seorang murid melihat sangguru minum khamar, makasebenarnya ia minum susu,tapi yang salah adalahpenglihatan sang muridkarena matanyaberlumuran dosa,begitulah orang orangsufimelakukan doktrin dalammenyebarkan kesesatanmereka. Sesungguhnya para ulama telah sepakat tiada yang maksum dari umat manusia kecuali para Nabi dan Rasul dalam hal menyampaikan wahyu yang mereka terima. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
“setiap anak Adam adalah pasti bersalah , dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat”
. (HR. AtTirmidzy no. 2499).
2. Berasumsi bahwa seorang wali itu mesti memiliki karomah (kekuatan luar bisa).Seorang wali boleh jadi ia diberi karomah yang nyata boleh jadi tidak, tapi karomah yang paling besar disisi wali adalah istiqomah dalam menjalankan ajaran agama, bukan berarti kita mengingkari adanya karomah, tapi yang kita ingkari adalah asumsi banyak orang bila ia tidak memiliki karomah berarti ia bukan wali. Oleh sebab itu Abu ‘Ali Al-Jurjaany berpesan:
“Jadilah engkau penuntut istiqomah bukan penuntut karomah, sesungguhnya dirimu lebih condong untuk mencari karomah , padahal Tuhanmu menuntut darimu istiqomah”.
Betapa banyaknya para sahabat yang merupakan orang terdepan dalam barisan para wali tidak memiliki karomah. Begitu pula Rasulullah sebagai hamba yang paling mulia di sisi Allah waktu berhijrah beliau mengendarai unta bukan mengendarai angin, begitu pula dalam perperangan beliau memakai baju besi bahkan pernah cedera pada waktu perang uhud. Karomah bukan sebagai syarat mutlak bagi seorang wali. Karomah diberikan Allah kepada seseorang boleh jadi sebagai cobaan dan ujian baginya, atau untuk menambah keyakinannya kepada ajaran Allah, atau pertolongan dari Allah terhadap orang tersebut dalam kesulitan. Para ulama menyebutkan seseorang yang tidak butuh,kepada karomah lebih baik dari orang yang butuh kebanyakan para ulama salaf bila mereka mendapat karomah justru mereka bersedih dan tidak merasa bangga karena mereka takut bila hal tersebut adalah istidraaj (tipuan). Begitu pula mereka takut bila di akhirat kelak tidak lagi menerima balasan amalan mereka setelah mereka menerima waktu didunia dalam bentuk karomah. Begitu pula bila mereka diberi karomah, mereka justru menyembunyikannya bukan memamerkannya atau berbangga diri di hadapan orang lain. Banyak orang berasumsi bila seseorang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, maka dia dianggap wali yang memiliki karomah. Padahal belum tentu, boleh jadi itu adalah tipuan atau sihir, atas bantuan setan dan jin setelah ia melakukan apa yang diminta oleh jin dan setan tersebut. Seperti ada orang yang bisa terbang atau berjalan di atas air atau tahan pe dang atau bias memberi tahu tentang sesuatu yang hilang, oleh sebab itu yang perlu dicermati adalah bagaimana amalannya, apakah amalannya sehari-hari menurut Sunnah atau tidak ?
Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i:
“Bila kamu melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka ukurlah amalannya dengan Sunnah”.
Diriwayatkan dalam kisah seseorang bernama Mukhtar bin Abi ‘Ubaid. Dia mengaku sebagai Nabi yang menerima wahyu, lalu seseorang berkata kepada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas: Sesungguhnya Mukhtar mengaku diturunkan ke padanya wahyu ? Dua orang sahabat tersebut menjawab : Benar (wahyu dari setan), kemudian salah seorang dari mereka membaca firman Allah:
“Maukah kamu Aku beritakan kepada siapa turunnya para setan? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak dosa”. (QS. Asy Syu’araa: 221-222).
Dan yang lain membaca firman Allah,
“Dan sesungguhnya para setan itu Mewahyukan kepada wali wali mereka untuk membantahmu”. ( QS. Al- An’aam:121).
Oleh sebab itu bila seseorang mendapat ilham dia tidak boleh langsung percaya sampai ia mengukur kebenarannya dengan Al-Quran dan Sunnah. Karena Nabi menyebutkan dalam sebuah hadits :
“ Sesungguhnya dalamdiri anak Adam terdapat bisikan dari setan dan bisikan dari malaikat”
. (HR. At-Tirmidzy no. 2988)
Berkata Abu Sulaiman Ad-Daraany:
“Boleh jadi terbetik di hatiku apa yang terbetik di hati mereka (orang-orang sufi) maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi dari Kitab dan Sunnah.”
3. Berasumsi bahwa seorang wali dapat mengetahui hal-hal yang gaib. Asumsi ini sangat bertolak belakang denganfirman Allah,
“Di sisiNya (Allah) segalakunci-kunci yang gaib , tiada yang dapatmengetahuinya kecuali Dia (Allah)”. (QS. Al-An’aam, ayat :59).
Dan firman Allah,
“Katakanlah, tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui hal yang gaib kecuali Allah”. (QS. An Naml: 65).
Termasuk para Nabi dan Rasul sekalipun tidak dapat mengetahui hal yang gaib kecuali sebatas apa yang diwahyukan Allah kepada mereka. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi kita,
“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa di sisiku
gudang-gudang rezeki Allah, dan aku pun tidak mengetahui hal yang gaib”. (QS. Al-An’aam: 50).
Dan firman Allah:
“Katakanlah: aku tidak memiliki untuk diriku manfaat dan tidak pula (menolak) mudarat, dan jika seandainya aku mengetahui hal yang gaib tentulah aku akan (memperoleh) kebaikan yang amat banyak dan tidak akan pernah ditimpa kejelekan”. (QS. Al-A’raaf: 188).
Asumsi sesat ini telah menjerumuskan banyak manusia kejalan kesyirikan,
sehingga Mereka lebih merasa takut kepada wali dari pada takut kepada Allah, atau meminta dan berdoa kepada wali yang sudah mati. Yang pada hakikatnya adalah kesyirikan semata. Karena meminta kepada makhluk adalah syirik. Tidak ada bedanya dengan kesyirikan yang dilakukan oleh kaum Nuh ‘alaihis salam. Dan orang-orang kafir Quraisy pada zaman jahiliyah. Dengan argumentasi yang sama bahwa mereka para wali itu orang suci yang akan menyampaikan doa mereka pada Allah. Hal inilah yang dilakukan kaum musyrikin sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firmanNya :
“Ingatlah ; milik Allahlah agama yang suci (dari syirik), dan orang-orang mengambil wali (pelindung) selain Allah berkata : kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az-Zumar: 3).
Tulisan ini diringkas secara bebas dari tulisan Ustadz Dr. Ali Musri, MA. yang berjudul: “Syarh Hadits Wali”
sumber: http://www.muslim.or.id