Pages

Memaparkan catatan dengan label pegangan tauhid. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label pegangan tauhid. Papar semua catatan

Jumaat, 5 Ogos 2016

Pelajaran tauhid yg sangat bernilai.

Pelajaran tauhid  yg sangat bernilai.

Dahulu kala, ada seorang petani miskin memiliki seekor kuda putih yang sangat cantik dan gagah..

Suatu hari, seorang saudagar kaya ingin membeli kuda itu dan menawarkan harga yang sangat tinggi.. Sayang si petani miskin itu tidak menjualnya.. Kawan2nya mentertawakan dan mengejek karena dia tidak menjual kudanya..

Keesokan harinya, kuda itu hilang dari kandang nya..

Maka teman-temannya berkata : "Sungguh malang nasibmu, padahal kalau kemarin kamu jual, kamu kaya, sekarang kudamu sudah hilang.."
Si petani miskin hanya diam saja tanpa berbicara...

Beberapa hari kemudian, kuda si petani kembali , bersama 5 ekor kuda liar lainnya..
Lalu teman-temannya berkata : "Wah..! Untung sekali nasibmu, ternyata perginya kudamu membawa keuntungan.."
Si petani  tetap hanya diam saja..

Beberapa hari kemudian, anak si petani yang sedang melatih kuda-kuda baru mereka terjatuh dan kakinya patah..
Kawan2nya berkata : "Rupanya kuda-kuda itu membawa malang, lihat sekarang anakmu kakinya patah.."
Si petani tetap diam tanpa berbicara..

Seminggu kemudian terjadi peperangan di wilayah itu, semua anak muda di desa dipaksa untuk berperang, kecuali si anak petani karena tidak boleh berjalan..

Teman-temannya mendatangi si petani sambil menangis : "Untung sekali nasibmu kerana anakmu tidak ikut berperang, kami harus kehilangan anak-anak kami.."

Si petani kemudian berkata :
"Janganlah terlalu cepat membuat kesimpulan dengan mengatakan nasib baik atau malang..
Semuanya adalah suatu rangkaian proses yang belum selesai...
Syukuri dan terima keadaan yang terjadi saat ini..
Apa yang kelihatan baik hari ini belum tentu baik untuk hari esok..
Apa yang buruk hari ini belum tentu buruk untuk hari esok..
Tetapi yang pasti, ALLAH paling tahu yang terbaik buat kita...
Bahagian kita adalah, mengucapkan syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki ALLAH di dalam hidup kita ini..

Jalan  yang dibentangkan ALLAH belum tentu yang tercepat, bukan pula yang termudah.. tapi sudah pasti yang terbaik..."

Semoga dapat mengambil iktibarnya..

Wallahua'lam```

Sabtu, 9 Julai 2016

Menetapkan iktiqad dan tauhid sepertimana yang dikehendaki oleh Allah.

Jika kita mempelajari dan mengetahui ilmu tauhid, ilmu hakikat dan ilmu makrifat tetapi tidak melakukan salah satu jalan daripada pelbagai jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad dan tauhid sepertimana yang dikehendaki oleh Allah.

Bermakna kita telah memperkatakan tentang kebenaran berdasar kepada ilmu yang telah diketahui tersebut tetapi kita tidak melakukan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad dan tauhid, ini bermakna kita memperkatan sesuatu tetapi tidak melakukan sepertimana yang telah diperkatakan itu sepertimana yang telah dikehendaki oleh Allah..

Allah telah memberikan peringatan keras kepada sesiapa sahaja yang memperkatakan sesuatu yang tidak dilakukan...

61.Surah Aş-Şaf (Verse 2)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya!

61.Surah Aş-Şaf (Verse 3)
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Amat besar kebenciannya di sisi Allah - kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya.

Ilmu tauhid dengan jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid adalah berbeza.

Ilmu tauhid ialah pengetahuan yang diketahui tentang tauhid..

Jalan dan cara untuk menetapkan iktiqad tauhid ialah apa yang perlu dilakukan oleh seseorang untuk menetapkan iktiqad atau pegangan tauhid.

Ini apa yang telah ditentukan oleh Allah seperti didalam firman Allah

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 41)
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِيَذَّكَّرُوا وَمَا يَزِيدُهُمْ إِلَّا نُفُورًا

Dan sesungguhnya Kami telah menerangkan jalan-jalan menetapkan iktiqad dan tauhid dengan berbagai cara di dalam Al-Quran ini supaya mereka beringat; dalam pada itu, penerangan yang berbagai cara itu tidak menjadikan mereka melainkan bertambah liar.

Sabtu, 29 Ogos 2015

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat
 

menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid

menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan.

Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah,

menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan

manusia kepada kehidupan yang baik dan

kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.
 

Allah Ta’ala berfirman:


“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik

laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam
 

keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami

berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan

sesungguhnya akan kami beri balasan kepada

mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa
yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
 
 
Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid
dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap
muslim memperlajarinya.
 
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti
bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan
sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang
kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah
(keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal
Asma’ dan Sifat-Nya.
 
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah;
bahkan mengakui keesaan dan kemaha-kuasaan
Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’
dan Sifat-Nya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi
Rasulullah r juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta,
 
Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini
adalah Allah.   (Lihat Al Qur’an: 38: 82, 31: 25, 23:
 
84-89). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka
itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk
yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah.
 
 
Dari sini timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat
tauhid itu?
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah.
Maksudnya yaitu:menghambakan diri hanya kepada
 
Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati
segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-
Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan
takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan
Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah
untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut
di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul
terakhir, yaitu Nabi Muhammad r. (Lihat Al Qur’an:
 
16: 36, 21: 25, 7: 59, 65, 73, 85, dan lain-lain).
Maka buku di hadapan pembaca ini mempunyai
arti penting dan berharga sekali untuk mengetahui
hakikat tauhid dan kemudian menjadikannya sebagai
pegangan hidup.
 

Selasa, 5 Mei 2015

TAUHID

TAUHID

ilmu tauhid itu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu dari pada ilmu yang lain-lain, karena menurut sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam dalam haditsnya:

ان الله تعالي لم يفرض شئا افضل من العلم التوحيد وصيلة ولوكان شئا افضل منه لم ترضه علي ملائكته منهم راكعون ومنهم ساجدون

Artinya, Sesungguhnya Allah tidak memfardhukan sesuatu yang terlebih afdhol kecuali pada ilmu tauhid "mengEsakan Tuhan". Jika ada sesuatu yang lebih afdhol daripada Ilmu tauhid niscaya tetaplah yang difardhukan kepada malaikatNya padahal setengah daripada malaikatNya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya

dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan di pelajari oleh seluruh umat islam ,ilmu yang mengenalkan kita kepada dzat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadi maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama islam.

Akhir dari ilmu Tauhid ini yaitu dapat membedakan antara i’tiqod dan kepercayaan yang Sah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya

(Tuak ilahi)

HAKIKAT PERJALANAN

HAKIKAT PERJALANAN

Soal:
Pada hakikat apakah makna La ilaha illallah?


Jawap:
Makna kalimah La ilaha illallah itu pada hakikatnya ialah:

Artinya:Tidak ada yang kaya daripada tiap-tiap yang lain tiap-tiap yang lain memerlukan-Nya (Allah Taala), melainkan Allah Taala yang kaya daripada tiap-tiap yang lain dan tiap-tiap yang lain memerlukan-Nya.

Soal:
Ada berapa martabat yang terdapat pada orang yang mengucap kalimah La ilaha illallah?


Jawap:
Orang yang mengucapkan kalimah La ilaha illallah itu ada tiga martabat, yaitu:

1) Martabat orang mubtadi (permulaan)-orang awam.
2) Martabat orang mutawasid (pertengahan)-para murid.
3) Martabat orang muntaha (perhentian)-orang arif.


Soal:
Apakah perbedaan ketiga-tiga orang itu?


JAWAP:

1) Orang mubtadi itu ialah orang yang memandang daripada dirinya kepada Allah Taala dan maknanya kepada dirinya yaitu La ma bud bihaqqin illallah artinya: tidak ada sesiapapun yang wajib disembah dengan sebenar-benarnya melainkan Allah. Martabat ini syirik semata-mata.


2) Orang mutawasid ialah orang yang memandang daripada Allah Taala kepada dirinya dan maknanya pun kepada dirinya yaitu la matlub bihaqqiqin illallah artinya: tidak ada sesiapa pun yang boleh dituntut dengan sebenar-benarnya melainkan Allah. Martabat ini juga syirik tetapi syirik halus yang lebih halus daripada martabat mubtadi kerana ada wujud dirinya:

Sabda Nabi s.a.w:

Artinya: Wujudmu itu berdoa, tidak ada kias bagiNya untuk yang lain.

3) Orang muntaha ialah orang yang memandang daripada Allah Taala dan maknya pun kepada Allah Taala yaitu la maujud bihaqqin illallah artinya: tidak ada yang wujud di sekalian alam ini dengan sebenar-benarnya melainkan Allah Taala. Martabat ini terlepas daripada syirik halus.

Soal:
Apakah perjanjian yang terkandung dalam kalimah La illaha illallah?


Jawap:
Perjanjian yang ada dalam kalimah La ilaha illallah ialah mengandungi nafi dan isbat yang tiada bercerai dan tidak bersekutu.


Soal:
Isyarat kalimah La ilaha itu kepada apa?
Isyarat kalimah illallah itu pula kepada apa?


Jawap:
Isyarat kalaimah La illaha itu kepada kewujudan makhluk.
Isyarat kalimah illallah itu pula kepada kewujudan yang qadim.


Soal:
Bagaimana hendak memasukan Iman, Islam, Tauhid dan Makrifat ke dalam kalimah La illaha illallah?


Jawap:
Iman, Islam, Tauhid dan makrifat boleh dibahagikan kepada dua bahagian karna tidak sah Islam itu melainkan dengan iman,.Tidak sah iman melainkan dengan makrifat.
Kalimah La ilaha itu kalimah tauhid.
Kalimah illallah itu pula kalimah makrifat.


Soal:
Apakah yg dinafikan dgn kalimah la ilaha dan apakah diisbatkan dgn kalimah illallah? Ini kerana kita sudah yakin bahwa Allah Taala itu Esa, melalui dalil dan bukti bahwa sekalian alam ini tidak ada. 

Firman Allah Taala:
Artinya: "Katakanlah wahai Muhammad, Allah itu esa."(Surah Al-Ikhlas: ayat 1)


Firman Allah Taala lagi:
Artinya: "Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa."(Surah Al-Baqarah ayat163) 

Jadi sekarang apa yang dinafikan dgn kalimah itu?


Jawap:
Nafi itu ada tiga martabat, yaitu:
a)Martabat nafi orang mubtadi (orang syariat).
b)Martabat nafi orang mutawasid (orang tarikat).
c)Martabat nafi orang muntaha (orang hakikat).


Soal:
Apakah perbezaan antara ketiga-tiga martabat itu?


Jawap:
a) Nafi bagi org yg bermartabat mubtadi ialah menafikan ada sifat Tuhan yg lain selain Allah Taala. Maka nafi ini ternyata batal karna menafikan sesuatu yg tiada ada, yg mustahil wujudnya. Sesuatu yg tiada memerlukan nafi karna sudah sedia nafi. Jadi kesimpulannya, tidak ada faedah nafi. Sesetengah ada mengatakan bahwa yg dinafikan itu ialah Tuhan yg difardukan yakni ditakdirkan, Nafi begini terbatal sama sekal, walaupun ia menggunakan akalnya seberat zarah sekalipun lantaran memahami bahwa takdir itu ada berdiri di tempat yg maujud. Padahal bagi maujud itu tidak memerlukan nafi. Sekiranya ada pada Tuhan itu takdir, niscaya tidak memerlukan nafi karna nafi itu sudah sedia ada.


Jadi, kesimpulannya, tiada faedahnya nafi dan tiada faedahnya mengatakan (melafazkan) kalimah musyrifah itu karna apa yg dimaksudkan ialah isinya, bukan kulitnya. Malahan apa yg difahamkan ialah nafi bercerai dgn isbat.

Dalam perjanjian, kalimah tersebut memang mengandung nafi dan isbat. Maka ketika itu, tidak dapat tidak nafi itu memerlukan (mengandungi) isbat, dan isbat itu memerlukan nafi yg tidak bercerai dan bersekutu. Sabda Nabi (saw): artinya: "Tidak bercerai antara nafi dan isbat dan sesiapa yg menceraikan antara kedua-duanya, maka orang itu kafir."

b) Nafi bagi org yg bermartabat mutawasid ialah menafikan perasaan syak dan waham (ragu-ragu) terhadap sifat ke Tuhanan yg ada berdiri kepada makhluk sebagaimana sangkaan org awam yg bahwa ada pada makhluk kuasa memerintah umpama raja-raja dan mereka menyangka bahwa makhluk itu boleh mendatangkan kebaikan dan keburukan. Malahan ada yg memuji org membuat kebaikan kepadanya dan berasa benci terhadap yg melakukan kejahatan kepada dirinya.

Prasangka buruk inilah yg dinafikan karna perbuatan dan kelakuan makhluk itu, tidak boleh sama sekali mendatangkan kebaikan dan kejahatan. Yang boleh melakukannya hanya perbuatan dan kelakuan Allah Taala yg ada pada hamba. Sifat ketuhanan itulah yg wajib diisbatkan kepada Allah Taala agar hilang perasaan syak wasangka.

Inilah pengertian nafi yg mengandungi isbat, dan isbat pula memerlukan nafi yg tidak bercerai dan bersekutu pada kalimah La ilaha illallah. Itulah nafi yg dipegang oleh orang mutawasid.

C) Nafi bagi org yg bermartabat muntaha ialah menafikan kewujudan dirinya seperti ia mengatakan:

Artinya: "Pada hakikatnya tidak ada yg maujud, tidak ada yg hidup, tidak ada yg tahu, tidak ada yg berkuasa, tidak ada yg berkehendak, tidak ada yg mendengar, tidak ada yg melihat, tidak ada yg berkata-kata di dalam alam ini melainkan Allah Taala".

Hanya sifat saja yg zahir (nampak) pada makhluk (hamba) sebagai tempat kezahiran sifat Tuhan yg ada pada hamba. Kewujudan kita ini umpama bayang-bayang yg menunjukan wujud Allah Taala. Tidak masuk akal jika ada bayang-bayang dengan sendirinya (bisa berdiri dengan sendiri) tanpa wujud empunya bayang-bayang. Tidak masuk akal kalau bayang-bayang boleh bergerak sendiri tanpa bergerak empunya bayang-bayang. Contoh-contoh tersebut sebenarnya untuk mendapatkan fahaman yg lebih jelas, Maha Suci Allah Taala daripada segala misal dan tasybih (penyerupaan) sebgaimana yg diibaratkan kepada bayang-bayng yg zahir dari tempatnya yg benar.

Seperti firman Allah Taala yg bermaksud: "Aku menjadikan (menzahirkan) sesuatu karna mau mengenalkan engkau kepada-Ku yg ada pada tiap-tiap sesuatu yg Aku jadikan,"

Oleh itu fana'kan wujudmu wahai insan dalam kewujudan Allah. Fan'akan (binasakan) semua sifatmu dalam sifat Allah Taala, yg hidup dalam dirimu, yg tahu apa anda tahu, yg berkuasa dalam tulangmu, yg berkehendak menurut nafsumu, yg mendengar ditelingamu, yg melihat dimatamu dan yg berkata-kata dengan lidahmu. Ketika itu juga engkau terlepas daripada syirik.

Kita terhijab (terhalang) memandang Allah Taala karna sangkaan dan keraguan kita yg menyangka bahwa ikhtiar dan perbuatan yg kita lakukan itu, kita yg punya. Syak wasangka inilah yg perlu kita nafikan yaitu kalimah laailaha. Hal ini demikain karna kita langsung tidak mempunyai apa-apa perbuatan dan tidak memiliki apa-apa ikhtiar, hanya Allah Taalalah yg melakukannya ke atas hamba. 

Oleh sebab itulah Nabi (saw) bersabda:
Artinya: "Matilah kamu sebelum kamu mati yaitu matikan ikhtiar".

Soal:
Apakah perbedaan antara org mutawasid dangan orang muntaha?


Jawap:
a) Bagi orang mutawasid, syirik tetap ada tetapi syirik halus yaitu lebih halus daripada syirik orang mubtadi karna ada wujud dirinya.


b) Bagi orang muntaha pula, terlepas daripada syirik halus karna ia hanya memandang daripada Allah Taala kepada Allah Taala tanpa memandang dirinya yg beramal. Apabila ia beramal ia hanya nampak dalam hatinya bahwa amalannya itu-Daripada Allah, dengan Allah dan bagi Allah."

Ya tuhan ku...
Akulah pengambara
Menuju Cinta-Mu
Tanpa ragu dan jemu
Akan ku ketuk pintu Rahsia-Mu
Agar tenggelam diriku di lautan
Wajah Mu Yang Maha Indah

Hingga akhirnya sampai ke penghujung
Engkau adalah rahsiaku
Aku adalah rahsia-Mu
Engkau berada disebalikku
Hilang wujudku nyatalah wujud-Mu
Begitulah hakikat perjalananku


(Tuak ilahi)

Jumaat, 10 April 2015

meng-HIDUP-kan JIWA kita dengan AQIDAH

''meng-HIDUP-kan JIWA kita dengan AQIDAH''
''TAUHID dan 
meng-HIDUP-kan AQIDAH TAUHID daLam JIWA kita''

ITU LAH #PRINSIP!!
PRINSIP dan ke-YAKIN-an adaLah menanamkan AQIDAH ke daLam HATI SANUBARI kita~
Penanaman AQIDAH TAUHID adaLah HAL yang sangat UTAMA daLam menentukan Langkah di atas SUNNAH~
Sedangkan SUNNAH adaLah PERJALANAN para RASUL ALLAH , yang merupakan RUNTUYAN WALIJATHAN yang ber-KESINAMBUNG-an antara satu dengan Lainnya , yang TIADA terputus dari AWAL hingga AKHIR~

Dan SEJATI-nya kita , adaLah PENERUS yang akan meLanjutkan TONGKAT ESTAFETA dari WARISAN PendahuLu kita~
TUGAS tersebut merupakan penghormatan TERTINGGI bagi IMAM BESAR ( WaLiyuLLAh ) yang teLah BERJASA , mengembaLikan FITRAH kita sebagai hamba ALLAH untuk terus menerus berusaha me-MURNI-kan DIN dari segaLa bentuk ke-MUSYRIK-an , menjadi TETAP sebagai DINNUL KHOLIS sesuai SUNNAH-nya~
BiLakah JIWA kita TERPANGGIL untuk menjadi PEMEGANG TONGKAT ESTAFETA ?? 
Demi meNeruskan PerjaLanan SUNNAH yang teLah RasuLaLLAh jaLankan~~~
Untuk KembaLi DI HIDUP KAN~

ya... Rabb , jadikan hamba sebagai Penerus dan PeNerus WARISAN RasuLaLLah
ShaLaLLohu'aLaihiwasaLam~
Aamiin~ ya RabbaL'aLamiin~

La HauLa waLa Quwwata iLa BiLLah~

Khamis, 2 April 2015

KISAH PUTERI SYAH KIRMANI


KISAH PUTERI SYAH KIRMANI
(Seorang Gadis Yang Tinggi Tawakkalnya Kepada Allah) Syah bin Syuja’ adalah seorang sufi yang berasal dari keluarga bangsawan di kota Kirmani, sebuah kota di Parsi. Beliau biasa dipanggil sebagai Syah Kirmani. Beliau memiliki dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Meskipun masih remaja keduanya mempunyai kecerdasan kerohanian yang luar biasa. Barangkali mereka memang mewarisi sifat ayahanda mereka melalui tarbiah dan didikan agama yang begitu baik sekali.dipingitnya (tidak boleh keluar rumah) selama 20 tahun. 

Apabila usianya sudah sampai 20 tahun maka para anak-anak menteri di kota Kirmani ramai yang datang untuk melamarnya. Sebagai orang tua, tentu saja Seorang puteri Syah bin Syuja’ telah Syah bin Syuja’ merasa senang ramai yang meminang puterinya. memutuskannya. Setelah Syah bin Syuja’ pergi menjelajah dari masjid ke masjid tibalah dia di salah satu Tetapi, di sisi lain Syah bin Syuja’ merasa sedih dan bimbang, siapa jodoh puterinya itu yang sebenarnya? 

Maka kepada para anak-anak menteri yang melamar puterinya itu Syah bin Syuja’ meminta waktu 3 hari untuk tersebut “Mahukah engkau seorang isteri yang solehah ?” tanya Syah bin Syuja’ “ Siapa yang kamu mahu menikahkan puterinya kepadaku? Hartaku hanyalah tiga dirham” jawab guru sufi tersebut.
Di dalam masjid yang sedang solat adalah salah seorang guru sufi didalamnya. Guru sufi itu ternyata bukan lain adalah anak murid kepada Syah Kirmani sendiri. Syah bin Syuja’ kemudian segera menemuinya. “Apakah engkau telah berkeluarga?” “Belum, wahai Syeikh” jawab guru sufi “Akan kuserahkan puteriku kepadamu” jawab Syah bin Syuja’. “Dari tiga dirham yang engkau miliki itu, belanjakanlah satu dirham untuk roti, satu dirham untuk minyak mawar, dan satu dirham untuk pengikat tali perkawinan” lanjut Syah bin Syuja’.
"Layakkah saya untuk bernikah dengan anak perempuanmu sedangkan saya adalah seorang lelaki yang miskin", kata guru sufi itu seolah tidak percaya dirinya ingin dinikahkan dengan anak perempuan syeikhnya sendiri. Akhirnya mereka bersepakat. Malam itu juga Syah bin Syuja’ menghantar puterinya ke rumah guru sufi itu. Keduanya pun di nikahkan. Kini keduanya telah menjadi suami isteri. Ketika memasuki rumah sang suami buat pertama kali , puteri Syah bin Syuja’ melihat sepotong roti kering di sebuah kendi berisi air. katanya “Roti apakah ini?” tanya nya kepada suaminya “Roti kelmarin yang kusimpan untuk buka puasa hari ini” jawab guru sufi yang memang terbiasa dengan amalan puasa sunat. Mendengar jawapan itu, tiba-tiba si gadis hendak meninggalkan rumah guru sufi tersebut. Guru sufi pun pasrah seraya berkata: “ Sudah kusedari bahawa puteri Syah Kirmani tidak akan sanggup hidup bersamaku yang miskin ini” Puteri Syah bin Syuja’ menjawab “ Aku meninggalkanmu bukan kerana sedikit hartamu, tetapi kerana lemahnya iman dan kepercayaanmu sehingga engkau menyimpan roti kelmarin dan tidak percaya bahawa Allah akan memberi kamu rezeki setiap hari " kata puteri Syah bin Syuja’ dengan serius.
Guru sufi tersebut sangat terkejut mendengar jawapan isterinya. Ada seorang perempuan yang jauh lebih tinggi berserah diri dan tawakkalnya kepada Allah. “Apakah kesalahanku ini dapat diperbaiki?” guru sufi bertanya “Boleh” jawab puteri Syah bin Syuja’. “Pilihlah satu diantara dua, aku atau roti kering itu!”.Akhirnya suaminya memilih isterinya dan memberi roti itu sebagai sedekah kepada fakir miskin. Amiin Allahumma Amiin Inilah natijah didikan yang sempurna yang telah diberikan oleh seorang ayah kepada anak perempuannya sehingga seorang gadis memiliki keyakinan dan tawakkal yang tinggi terhadap rezeki Allah . Sedikit pun tidak ragu-ragu dari mana rezeki akan datang kerana ia sesuatu yang telah dijamin keatas setiap manusia oleh Allah. Mudah-mudahan kisah ini memberi kita kekuatan untuk menghilangkan kekhuatiran kita terhadap hilangnya atau berkurangnya harta dunia dari tangan kita bersama keyakinan bahawa khazanah yang berada disisi Allah adalah lebih baik dan lebih mulia.

Isnin, 5 Januari 2015

MAKSUD ISLAM

MAKSUD ISLAM

ISLAM
Innallazi na'indallah hil islam
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُۗ = sesungguhnya agama disisi Allah hanyalah islam..
اسلام
الله سلم لااله الا الله محمدرسول الله
Pengertian Islam ini adalah SENI lagi meluas yang bererti "Allah mengucap sejahtera kepada mereka yang mengerti
لااله الا الله محمد رسول الله
ASHADUAN LAA ILAHA ILLALLAH
AKU BERSAKSI TIDAK ADA YANG BERSIFAT DENGAN YANG WAJIB BAGI ALLAH, HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT DENGAN SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH
INI BOLEH TERHASIL DENGAN MENUNAIKAN SURUH ALLAH YANG TERKANDUNG DIDALAM FIRMAN ALLAH
73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8 )
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.
TUMPUKAN SEBULAT-BULAT TUMPUAN, SEDANG MENYAKSI KEPADA APA YANG SEDANG DITUMPUKAN..
DENGAN MENYEBUT ALLAH SEBANYAK-BANYAKNYA KETIKA SEDANG MENYAKSIKAN APA YANG SEDANG DITUMPUKAN DENGAN SEBULAT-BULAT TUMPUAN.
AKAN BERLAKU PENGAKUAN APA YANG SEDANG DISAKSIKAN ITU ADALAH ALLAH
MAKA DENGAN MELAKSANAKAN PERINTAH ALLAH DIDALAM FIRMANNYA SEPERTI DIATAS DENGAN TERSENDIRINYA TERLAKSANA SUDAH AKAN KALIMAH TAUHID
لااله الا الله
3.Surah 'Āli `Imrān (Verse 19)
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْۗ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. Dan orang-orang yang diberikan Kitab itu tidak berselisih, melainkan 
setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah tentang kebenarannya; semata-mata kerana hasad dengki yang ada dalam 
kalangan mereka. Dan (ingatlah), sesiapa yang kufur ingkar akan 
ayat-ayat keterangan Allah, maka sesungguhnya Allah Amat segera hitungan hisabNya.

LAKUKAN SAHAJA SURUHAN ALLAH DIDALAM FIRMANNYA
73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8 )
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.
AKAN BERLAKU PENYAKSIAN DAN PENGAKUAN YANG ALLAH ITU ADALAH ALLAH TERSENDIRI..
PENYAKSIAN BERMULA DARI MATA ZAHIR BERPINDAH KEPADA MATA BATIN YANG AKAN BERLAKU DENGAN TERSENDIRI.
LAKUKAN SAHAJA KANGAN BANYAK BERTANYA, JANGAN DISERTAKAN DENGAN FIKIRAN... CUKUP DENGAN MELAKUKAN SAHAJA..
YANG PENTINGNYA TUMPUAN SEBULAT-BULAT TUMPUAN DENGAN MENYEBUT ALLAH ITU DILAKU KAN DI DALAM MASA YANG SAMA.
UNTUK DAPAT BELAKU PENUMPUAN SEBULAT TUMPUAN DAN MENYEBUT ALLAH DI DALAM MASA YANG SAMA PERLIKAN LARIHAN YANG ISTIQOMAH SEHINGGALAH MENJADI DARAH DAGING
DENGAN MELAKUKAN SURUH ALAH DIDALAM FIRMANNYA
73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8 )
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.
AKAN MELETAKKAN SESEORANG ITU SEDANG DUDUK ATAU BERADA DIDALAM HADIS KUDSI
Berkata Ali RA..Rasulullah bersabda...Allah berfirman............; Sesungguh AKU lah ALLAH ,, Tiada Tuhan selain AKU...Barangsiapa BERTAUHID kepadaKu niscaya masuklah ia kedalam benteng Ku,,,Dan barangsiapa yang masuk bentengKu..niscaya terselamatlah dia dari SiksaKu...(H R . Syirazi)
AKAN BERLAKU DENGAN SENDIRI SETELAH SURUH ALLAH DIDALAM FIRMANNYA SEPERTI DI ATAS....
KITA KATA "LAA ILAHA ILLAHHAH - TIADA SESUATU SELAIN DARI ALLAH, YANG ADA HANYA ALLAH..
APA YANG KITA LAKUKAN MELAKSANAKAN SURUHAN ALLAH DIDALAM FIRMANNYA
"73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8 )
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.
AKAN TERHASIL
لااله الا الل DENGAN TERSENDIRI..
DENGAN MELAKSANAKAN AKAN PERINTAH ALLAH YANG TERKANDUNG DIDALAM FIRMANNYA
73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8 )
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا
Dan sebutlah akan nama Tuhanmu, serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.
Contoh :-
Bangun saja dari tidur, apabila buka sasa mata, terzahir akan sifat melihat iaitu Basor,
Tumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada penglihatan yang sedang melihat dengan sebulat-bulat tumpuan, di dalam masa yang sama sebutlah Allah sebanyak-Banyaknya.
Tumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada pendengaran yang sedang mendengar iaitu sifat sama', di dalam masa yang sama sebutlah Allah sebanyak-banyaknya..
Tumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada percakapan yang sedang dipercakapkan, di dalam masa yang sama sebutlah Allah sebanyak-banyaknya..
Dengan melakukan penumpuan dengan sebulat-bulat tumpuan kepada, penglihatan, pendengaran dan percakapan yang sedang berlaku secara satu per satu, Akan berlaku penyaksian (membawa makna sedang menyaksikan akan sifat melihat (Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata).
Pada ketika sedang berlakunya penyaksian kepada sifat- sifat Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata). Sebutlah Allah sebanyak-banyaknya.
Dengan menyebut Allah sebanyak-banyaknya ketika sedang menyaksikan sifat (Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata).
Akan berlaku pula pengakuan bahawa sifat (Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata). Yang sedang disaksikan itu adalah sifat (Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata). Allah.
DENGAN INI TERLAKSANALAH AKAN BISMILLAH HIRROHMA NIRROHIM DENGAN TERSENDIRINYA.
بسم الله الرحمن الرحيم
ba = ب = Basirun
Sim = س = Sami'unn
mim = م = Mutakalliman
Allah = الله = (A) kejadian tubuh zahir, (Tanah, air, api dan angin) wa Adam Abi basyar - Adam bapa atau asal kejadian segala jasad...
(B). Kejadian batin ruh, (Ujud, ilmu, Nur, suhud). Ana abu arruh ( Aku bapa atau asal kejadian segala Ruh- Muhammad asal kejadian segala Ruh..
Ar-rohman = الرحمن = kepada segala makhlok
Ar-rohim = الرحيم = kepada hamba pilihan
Mim = مً= hidup Muhammad dengan hayat Allah..
Berdiri - kalimah ا = sifat jalal Allah - afa'al api
Rokok - kalimah ل = sifat Jamal Allah - afa'al Angin
Sujud - kalimah لً= sifat kohar Allah - afa'al air
Duduk - Kalimah ه = Sifat kamal Allah , afa'al tanah
Allah. = الله = Nama
Hu = هو = Zat
Haq = حق = yang sebenar
Kita katakan
بسم الله الرحمن الرحيم
Yang kita lakukan ialah tumpukan sebulat-bulat tumpuan kepada sifat (Basirun - yang melihat, Sami'un - yang mendengar, Mitakalliman - yang sedang berkata-kata).
Didalam masa yang sama menyebut Allah sebanyak-banyaknya..
Dengan ini terhapuslah kita dari apa yang telah difirmankan oleh Allah..
61.Surah Aş-Şaf (Verse 1)
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, tetap mengucap tasbih kepada Allah; dan Dia lah Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
61.Surah Aş-Şaf (Verse 2)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu memperkatakan apa yang kamu tidak melakukannya!
61.Surah Aş-Şaf (Verse 3)
كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebenciannya di sisi Allah - kamu memperkatakan sesuatu yang kamu tidak melakukannya