Pages

Memaparkan catatan dengan label akhirat. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label akhirat. Papar semua catatan

Sabtu, 12 Mei 2018

KISAH DUNIA, AKHIRAT DAN IMAN

Seorang Sultan mengambil seorang  yang pandai berceramah menjadi Menteri Agama. Maka diberi istana, gelaran, isteri yang cantik dan pelbagai kemewahan.

Suatu hari Sultan telah memanggil Menteri Agamanya ini dan bertanya TIGA soalan.

PERTAMA: Apa itu Dunia..?

KEDUA: Apa itu Akhirat..?

KETIGA: Apa itu Iman..?*

Sultan mahu jawapan yang tepat dan jitu sahaja. Tak mahu syarahan yang panjang-panjang.

Maka kelihatan Menteri Agama terpinga-terpinga mencari jawapan yang memuaskan hati Sultannya. Sultan menjadi murka dan memberi tempoh seminggu untuk mencari jawapannya.

Kemudian Sultan menghantar wakilnya kepada Menteri Agama itu dan menyampaikan titah bahawa segala kemewahan yang diberi akan diambil semula jika gagal memberi jawapan yang memuaskan hati Sultan.

Menteri Agama bertambah runsing yang amat sangat memikirkan akan kehilangan segala-galanya jika gagal memberi jawapan.

Menteri Agama dah mula tak dapat tidur, makan pun tak lagi berselera, cakap pun dah lain macam. Dia telah mengumpulkan ramai cerdik pandai untuk mendapatkan jawapan tetapi masih gagal.

Akhirnya Menteri Agama telah keluar dari istananya untuk mencari orang yang boleh merungkaikan keresahannya sekaligus menyelamatkan apa yang dimilikinya.

Masa hampir tiba. Menteri Agama semakin berserabut memikirkan akan kehilangan segalanya. Sehari sebelum sampai tempoh masa tersebut, dia duduk termenung di bawah sepohon pokok besar sambil mengenangkan nasibnya.

Sedang dia termenung, si Menteri Agama tadi terpandang seorang tua yang sedang berkebun. Bila matahari terik di kepala, orang tua itu berhenti untuk makan tengahari dan solat Zohor.

Maka diajaknya si Menteri Agama makan bersama. Menteri Agama yang kerunsingan memikirkan jawatan, istana dan kemewahan yang akan lesap tak langsung berselera nak makan lagi.

Orang tua itu bertanya, “Tuan, nampak macam ada masalah..? Boleh hamba tolong..?”

Menteri pun memberitahu kisahnya dan soalan-soalan Sultan beserta syarat-syaratnya kepada orang tua yang baik hati tadi.

Soalan pertama, apakah itu dunia?

Maka dijawab orang tua tadi..! *”Dunia ialah apa-apa amalan yang kita buat untuk ditinggalkan. Hal ini diketahui oleh hati masing-masinglah..!”*

Soalan kedua, apakah itu akhirat?

Maka dijawab orang tua tadi..! *”Akhirat ialah apa-apa amalan yang kita buat untuk dibawa ke sana tanpa ada apa-apa maksud dunia di dalamnya. Ini pun diketahui oleh hati masing-masinglah..!”

Dan soalan ketiga, apakah itu iman?

Maka orang tua itu pun bagi tahu, “Akan aku bagitau petang nanti selepas solat Asar”.

Bila waktu Asar, mereka solat Asar bersama-sama berjemaah dan selepas solat, si Menteri Agama terus bertanya, “Apa itu iman..?”

Pada masa itu terdapat beberapa ekor anjing sedang makan sisa-sisa makanan tengahari. Orang tua itu memberi syarat untuk memberi jawapan yang ketiga, dia mesti makan bersama anjing-anjing itu.

Si Menteri Agama berfikir berkali-kali. Makan dengan anjing yang najis berat? Tak makan nanti jawatan lesap, harta melayang, hidup susah dan melarat.

Nak dapat kerja lain yang mewah bukan senang sekarang ni. Fikir punya fikir akhirnya si Menteri Agama pun buat keputusan untuk makan bersama anjing-anjing itu.

Apabila saja si Menteri Agama duduk untuk makan bersama anjing-anjing itu, orang tua tadi pun mencekak leher bajunya dan berkata dengan sedikit keras,

“Wahai Tuan..! Inilah Iman. Bagi mereka yang ada iman, mereka sanggup kerugian segala dunianya tetapi tidak akan sanggup melanggar perintah Allah. Akan tetapi mereka yang tidak ada iman akan sanggup melanggar perintah Allah untuk menyelamatkan dunianya!”

Jumaat, 2 Mac 2018

Tertipu dengan Dunia

Tertipu dengan Dunia,
Lalai dengan Kehidupan Akhirat

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak.

Kehidupan Akherat Manusia Lalai Manusia Lalai Dengan Dunia Memanfaatkan Kehidupan Dunia Lalai Terhadap; Dunia

Hakikat dunia adalah negeri yang sementara, bukan negeri keabadian. Jika kita memanfaatkan dunia dan menyibukkannya dengan ketaatan kepada Allah Ta’ala, maka kita akan memetik hasilnya di akhirat kelak. Adapun jika kita menyibukkannya dengan syahwat, maka kita akan merugi, baik di dunia, apalagi di akhirat.

Hal ini sebagaimana firman Allah Taala,

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)

Orang-orang yang menyibukkan dunia dengan sesuatu yang akan bermanfaat untuknya kelak di sisi Allah Ta’ala, mereka adalah orang-orang yang beruntung, baik di dunia dan di akhirat. Dia beruntung di dunia karena menyibukkan diri dalam amal kebaikan. Demikian pula, dia beruntung di akhirat karena telah membekali diri dengan berbagai amal shalih.

Allah Taala berfirman dalam banyak ayat Al-Quran,

فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

“Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdaya kamu.” (QS. Luqman [31]: 33)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala melarang kita untuk terperdaya dengan kehidupan dunia. Dia tertipu dengan dunia, sehingga sia-sialah waktunya, terluput dari berbagai amal shalih, karena dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Dia habiskan dunia ini, siang dan malam, hanya untuk mengumpulkan harta saja atau hanya untuk berlomba-lomba dalam teknologi. Hal ini sebagaimana kondisi orang-orang kafir saat ini. Mereka habiskan dunia ini untuk sesuatu yang tidak abadi.

Bukan berarti seorang muslim tidak boleh memanfaatkan dunia ini dan kemajuan teknologi di dalamnya. Akan tetapi, hendaknya dia manfaatkan ini semua untuk membantu ketaatan kepada Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala menciptakan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya untuk hamba-hambaNya yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” Katakanlah, “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” (QS. Al-A’raf [7]: 32)

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 13)

Namun, sekali lagi, bukan berarti kita sibuk dengan kehidupan dunia dan lalai dengan kehidupan akhirat. Bahkan maksudnya, sibukkanlah dunia ini dengan niat untuk menolongmu dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala. Barangsiapa yang memanfaatkan dunia ini dan menyibukkannya untuk kebaikan dan maslahat agama dan dunianya, merekalah orang-orang yang beruntung. Akan tetapi, barangsiapa yang sibuk dengan dunia dan menjadikan dunia itu sendiri sebagai tujuan dan hasratnya, mereka ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

“Allah meluaskan rizki dan menyempitkannya bagi siapa yang dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (QS. Ar-Ra’du [13]: 26)

Oleh karena itu, dunia ini dicela bukan semata-mata karena dunia itu sendiri, akan tetapi dicela karena kesalahan kita dalam memanfaatkan dunia. Sebagaimana pisau, bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Namun, bisa juga digunakan untuk hal-hal yang merusak, seperti berbuat kejahatan. Demikianlah perumpamaan dunia, yaitu bagaimana kita memanfaatkannya.

Surga itu dibangun dengan dzikir, tasbih, tahlil, takbir, ditumbuhkan pohon-pohonnya dengan amal ketaatan. Semua ini menunjukkan bahwa dunia ini hanyalah ladang, tempat bercocok tanam untuk kehidupan akhirat. Sebagaimana kata ahli ilmu,

الدنيا مزرعة للاخرة

“Dunia adalah ladang akhirat.”

Hendaknya seorang muslim yang memiliki akal senantiasa berpikir, jangan seperti binatang ternak yang tidak memahami apa yang dia inginkan. Bahkan, kondisi binatang ternak itu lebih baik dibandingkan manusia. Karena binatang ternak tidaklah membahayakan kita, kecuali jika kita menyakiti dan mengganggunya. Binatang ternak juga tidak memiliki surga atau neraka, dan mereka diciptakan di dunia ini untuk berbagai maslahat di dunia. Manusia bisa menungganginya, memanfaatkannya untuk membawa barang-barang, atau dimanfaatkan daging dan susunya. Mereka tidak dibebani dengan berbagai kewajiban syariat.

Hendaklah manusia, yang memanfaatkan berbagai fasilitas dan perhiasan dunia ini, memperbaiki amalnya. Sehingga bermanfaat untuk dirinya, baik untuk kehidupan saat ini, atau kehidupan di masa mendatang.

Khamis, 28 Julai 2016

3 SOALAN MAUT

3 SOALAN MAUT

Zaman dulu ada seorang sultan yang telah mengambil seorang ilmuan agama menjadi menterinya. maka diberi istana, gelaran, isteri yang cantik dan pelbagai kemewahan.

Satu hari sultan memanggil Menteri Agamanya dan bertanya 3 soalan;
1. Apa itu Dunia
2. Apa itu Akhirat
3. Apa itu Iman.

Sultan hanya memerlukan jawapan yang tepat dan jitu, tak mahu syarahan yang panjang2. Menteri Agama (MA) terpinga2 untuk mencari jawapan yang memuaskan hati sultannya. Sultan telah murka memberi tempoh seminggu supaya boleh mencari jawapan.

Kemudian sultan hantar wakilnya kpd MA dan bagi titah bahawa sultan akan merampas segala kemewahan MA jika gagal memberi jawapan yang di kehendaki seperti banglo, harta, kenderaan, gelaran, isteri dan anak2 . MA mengalami kerungsian yang amat sangat memikirkan dia akan kehilangan segala2nya. Tak dapat tidur, makan tak lagi berselera.

MA telah mengumpulkan ramai cerdik pandai untuk mendapatkan jawapan. tetapi gagal. Akhirnya MA keluar dari istana untuk mencari orang yang boleh merungkaikan keresahannya sekaligus menyelamatkan apa yang di milikinya.

Saat apabila hampir tiba deadline, keserabutan MA makin bertambah memikirkan akan kehilangan segalanya. Sehari sebelum deadline MA termenung di bawah sebuah pohon besar mengenangkan nasibnya.

Di tepi MA termenung ada seorang tua sedang berkebun. Bila matahari terik dikepala, orang tua berhenti untuk makan tengahari dan solat Zohor. Maka diajak MA makan bersama. MA yang kerungsingan memikirkan jawatan istana dan lain2 yang dimiliki hingga tak berselera nak makan.

Orang tua bertanya: Tuan, nampaknya ada masalah? Boleh hamba menolong tuan?
MA memberitahu kisahnya dan soalan2 sultan beserta syarat2 kepada orang tua tersebut.

Soalan 1. Apakah Dunia? maka jawab orang tua , Dunia ialah apa2 amalan yang kita buat untuk di tinggalkan (hal ini diketahui oleh hati masing2)

2. Soalan 2, Apa itu akhirat? jawab orang tua tersebut, Akhirat ialah apa2 amalan yang kita buat untuk di bawa ke alam akhirat tanpa ada apa2 maksud dunia di dalamnya (ini pun dkenali oleh hati masing2)

Soalan 3, Apa itu iman? Maka orang tua bagi tahu: Akan aku bagi tahu petang nanti selepas solat Asar.

Bila waktu Asar mereka solat Asar dan selepas solat MA terus bertanya Apa itu iman?

Pada masa itu terdapat beberapa ekor anjing sedang makan sisa2 makanan tengahari. Orang tua memberi syarat utk memberi jawapan yang ketiga, MA mesti makan bersama anjing2 tersebut. MA berfikir berkali2, makan dengan anjing najis berat, tak makan jawatan & harta habis, hidup susah dan melarat. fikir2... fikir2.

Akhirnya MA buat keputusan untuk makan bersama anjing2 itu. Apabila MA duduk untuk makan bersama anjing2 itu, orang tua pegang kolar bajunya dan berkata:
"Tuan, inilah Iman. Bagi mereka yang ada iman, sanggup kerugian segala dunianya tetapi tidak akan langgar perintah Allah. Tetapi mereka yang tidak ada iman akan sanggup langgar perintah Allah untuk selamatkan dunianya."

Perkongsian..
Almarhum Tn.Guru Hj Salleh Musa..

Rabu, 26 Ogos 2015

Harta, engkaulah yang menjaganya manakala ilmu ia pula yang menjaga kamu.

Kata al-Muhaddith Syaikh Abdullah al-Harari al-Habasyi :

" Harta, engkaulah yang menjaganya manakala ilmu ia pula yang menjaga kamu. Walaupun kamu memiliki makanan yang mewah lagi banyak, kamu tidak boleh memakannya melainlan apa yang terdaya sahaja. Walaupun kamu mempunyai pakaian yang megah lagi banyak kamu tidak dapat untuk memakai kesemuanya dalam satu masa. Justeru, sediakanlah bekalan di dunia yang binasa ini untuk hari akhirat yang kekal abadi. Kematian amatlah dekat dengan kita manakala Tuhan sentiasa mengawasi kita. Ingatlah  umur yang ada pada manusia tidak mampu memuatkan segala sesuatu maka mulakan dengan perkara yang paling penting untuk perkara yang manfaat kepadanya di hari akhirat dan ia menjadi keuntungan pahala kepadanya. Beramallah untuk akhirat kamu seolah oleh kamu akan berpisah dengan dunia ini keesokannya dan beramallah untuk duniamu bagaikan kamu tingal di dalamnya selama lamanya. Dunia ini hanyalah sesaat, penuhikanlah ia dengan ketaatan. Hawa nafsu sentiasa tamak haloba, ajarilah ia dengan qanaah( bercukup-cukupan dengan rezeki yang sedikit)"..

Jumaat, 2 Januari 2015

Surga Ruhaniah

Semua orang-orang yang percaya dengan Al-Qur'an dan Hadis mengetahui tentang kebahagiaan di Surga dan keazaban di Neraka yang akan dirasakan di Akhirat kelak.
Tetapi banyak orang yang tidak mengetahui adanya Surga dan Neraka Ruhaniah.
Berkenaan Surga Ruhaniah ini, Alloh pernah berfirman kepada Nabinya :
"mata tidak pernah melihat, telinga tidak pernah mendengar, dan hati tidak pernah berfikir tentang hal-hal yang disediakan bagi orang-orang yang sholeh."
Dalam hati orang-orang yang diberi Nur (cahaya) oleh Alloh s.w.t, ada satu pintu yang terbuka menghadap kepada hakikat-hakikat Alam Keruhaniaan, dan dengan itu ia tahu rasa pengalaman sebenarnya, bukan omong-omong kosong saja atau kepercayaan yang turun-menurun, berkenaan apa yang mendatangkan kerusakan dan apa yng mendatangkan kebahagiaan dalam Jiwa (ruh) sebagaimana terangnya dan pastinya dokter-dokter mengetahui apa yang menyebabkan sakit dan apa yang menyebabkan kesehatan pada tubuh.

Ahad, 6 April 2014

ORANG YANG MUFLIS DI AKHIRAT.


Di laman sosial hari ini, manusia tanpa segan silu mencaci maki sesiapa jua yang mereka rasa patut dimaki. Kita patut merasa kesal dengan perbuatan itu kerana kita sebenarnya sedang memberi pahala kebaikan yang pernah kita perolehi kepada yang dimaki. Beruntunglah orang yang dimaki.

ORANG YANG MUFLIS DI AKHIRAT.

Apa yang kita cakap dan taip berkenaan orang lain bukan sahaja akan didedahkan pada Hari Pembalasan kelak, tetapi ia bakal menjadikan kita muflis. Perhatikan hadith berikut. Daripada Abu Hurairah, bahawasanya Rasulullah bertanya: “Tahukah kalian siapa orang yang muflis?” Para sahabat menjawab: “Bagi kami muflis ialah orang yang tidak memiliki wang mahupun harta.”

Lalu (Rasulullah) menjelaskan: 

“Sebenarnya orang yang muflis di kalangan umatku ialah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan (membawa pahala) solat, puasa, zakat, akan tetapi (semasa di kehidupan dunia) dia pernah mencaci seseorang, menuduh seseorang (tanpa bukti), memakan harta seseorang, menumpahkan darah seseorang dan memukul seseorang.

Maka akan diberikan kepada orang yang dia pernah zalimi itu dari pahala kebaikannya sendiri (pahala solat, puasa zakat) dan begitulah seterusnya kepada orang lain yang dia pernah zalimi itu. Jika telah habis pahala kebaikannya sementara masih berbaki kesalahannya kepada orang-orang yang pernah dia zalimi di dunia dahulu, maka akan diambil dosa kesalahan orang yang dia zalimi itu dan dibebankan ke atasnya, kemudian dia dicampakkan ke dalam neraka. (Sahih Muslim, no 2581)

Jumaat, 4 April 2014

MEMPERSIAPKAN KEHIDUPAN SELANJUTNYA.


MEMPERSIAPKAN KEHIDUPAN SELANJUTNYA.

Al-Quran yang begitu tebal halamannya serta berisikan ribuan Ayat, semuanya itu sebenarnya bermuara pada Kehidupan Akhirat, sebab itu janganlah sia-siakan segala kesempatan yang ada selama di-Dunia ini untuk mempersiapkan Kehidupan Akhirat.

•| Kehidupan Akhirat adalah tujuan utama.

“Hai orang-orang yang ber-Iman, ber-Taqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk Hari Esok [Akhirat]“. [Al-Hasyr 18].

•| Kehidupan Akhirat yang sebetulnya merupakan Kehidupan.

“Sesungguhnya Kehidupan Dunia ini hanyalah Kesenangan sementara, dan sesungguhnya Akhirat itulah Kehidupan yang kekal”. [Al-Mu’min 39].

•| Kehidupan Akhirat itu wajib untuk selalu diingat.

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak ber-Iman kepada Kehidupan Akhirat, Kami sediakan bagi mereka Azab yang Pedih’. [Al-Israa' 10].

•| Kehidupan Akhirat akan ditentukan Status & Derajatnya di Kehidupan Dunia.

“Masing-masing orang memperoleh Derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidaklah lengah dari apa yang mereka kerjakan”. [Al-An’aam 132].

•| Kehidupan Akhirat merupakan malapetaka bagi yang tidak memanfaatkan kesempatan di-Dunia dengan baik.

“Biarkanlah mereka di-Dunia ini makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong, maka kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka”. [Al-Hijr 3].

•| Kehidupan Akhirat merupakan kebahagiaan bagi yang ber-Amal Shaleh.

“Sesungguhnya orang-orang yang ber-Iman dan mengerjakan Amal-Amal Shaleh, bagi mereka Surga-Surga yang penuh kenikmatan”. [Luqman 8].

Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab Al-Quran dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan Ketaatan kepada-Nya". [Az-Zumar 2].

Semoga kita semua mampu mempersiapkan Kehidupan Akhirat kita dengan sebaik-baiknya, selama masih ada waktu & kesempatan di-Dunia ini. Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin. [BRH].

PILIHAN AKHIR KEHIDUPAN.


PILIHAN AKHIR KEHIDUPAN.

Pilihan akhir dari kehidupan setiap insan adalah "Kematian secara Khusnul Khatimah", namun tidaklah mudah untuk mengakhiri Kehidupan di-Dunia ini dalam Ketaqwaan kepada-Nya yang diamalkan secara terus menerus tanpa henti [Istiqamah]. 

Allah ber-Firman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka tetap Istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka. Mereka itulah penghuni-penghuni Surga, mereka kekal didalamnya sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan". [Al-Aahqaaf 13-14].

“Hai orang-orang yang ber-Iman, ber-Taqwalah kepada Allah sebenar-benar Taqwa kepada-Nya”. [Ali-Imran 102].

Oleh sebab itu tetaplah menjalani semua Perintah-Nya serta menjauhlah dari segala Larangan-Nya yang termaktub dalam Al-Quran secara kontinyu & konsisten.

Allah ber-Firman:

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah ber-Taubat beserta kamu. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan". [Hud. 112].

Masih banyak orang yang belum mengerti makna dari Kehidupan ini, terlihat dari kegiatan sehari-harinya yang hanya mengejar Kehidupan Dunia seolah ia akan hidup selama-lamanya.

Allah ber-Firman:

"Sesungguhnya Kehidupan Dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya Akhirat itulah kehidupan yang kekal". [Al-Mu'min 39].

"Kesenangan di-Dunia ini hanya sebentar, dan Akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang ber-Taqwa”. [An-Nisaa 77].

Khusnul Khatimah adalah pilihan akhir dari kehidupan di-Dunia, yang mutlak ditentukan oleh diri sendiri, sehingga beruntunglah seseorang bila ia termasuk insan yang sibuk dalam mempersiapkan kematiannya, yang akan datang secara tiba-tiba. 

"Jangan sia-siakan kesempatan Dunia untuk mempersiapkan Akhirat". [BRH 2012].

Allah ber-Firman:

"Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan kematian seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan". [Al-Munaafiquun 11].

"Khusnul Khatimah bukan [hanya] diperoleh dengan Doa, namun dengan perjuangan". [BRH-2011].

Semoga kita semua mampu mempersiapkan kematian kita dengan sebaik-baiknya agar dapat mengakhiri Kehidupan di-Dunia ini dalam keadaan Khusnul Khatimah. Aamiin Yaa Rabbal'alaamiin. [BRH].