Pages

Memaparkan catatan dengan label hadith. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label hadith. Papar semua catatan

Selasa, 30 Ogos 2016

Pertanyaan Arab Badwi kepada Nabi Muhammad saw

Daripada Saidina Khalid bin Al-Walid RA berkata:
“Telah datang seorang Arab Baduwi kepada Rasulullah SAW dan dia menyatakan tujuannya:

Wahai Rasulullah...!
Kedatanganku untuk bertanya engkau mengenai apa yang akan menyempurnakan diriku didunia dan akhirat.”

Rasulullah berkata kepadanya:
“Tanyalah apa yang engkau kehendaki.”

Arab Baduwi itu berkata:
Aku mahu menjadi orang alim.

Baginda menjawab:
"Takutlah kepada Allah SWT"

Dia bertanya lagi:
“Aku mahu menjadi orang paling kaya.”

Rasulullah menjawab:
“Jadilah orang yang yakin pada diri.”

Bertanya lagi Arab Baduwi itu:
“Aku mahu menjadi orang yang adil.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah:
“Kasihanilah manusia lain seperti engkau kasih pada diri.”

Dia bertanya:
“Aku mahu menjadi orang paling baik.”

Baginda menjawab:
“Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat.”

Dia bertanya lagi:
“Aku mahu menjadi orang istimewa di sisi Allah.”

Dan dijawab oleh Rasulullah:
“Banyakkan zikrullah.”

Arab Baduwi itu bertanya:
“Aku mahu sempurnakan imanku.”

Baginda menjawab:
“Perelokkan akhlakmu.”

Dia bertanya lagi:
“Aku mahu termasuk dalam golongan orang yang muhsini (baik). “

Baginda menjawab:
Beribadatlah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya dan jika engkau tidak berasa begitu, sekurang-kurangnya engkau yakin Dia tetap melihat engkau.”

Arab Baduwi bertanya lagi:
“Aku mahu termasuk dalam golongan yang taat,”

Lalu dijawab baginda:
“Tunaikan segala kewajipan yang difardukan.”

Dia bertanya lagi:
“ Aku mahu berjumpa Allah dalam keadaan bersih daripada dosa.”

Rasulullah menjawab:
“Bersihkan dirimu daripada najis dosa.”

Dia terus bertanya:
“Aku mahu dihimpun pada hari kiamat di bawah cahaya.”

Baginda menjawab:
“Jangan menzalimi seseorang.”

Dia bertanya lagi:
“Aku mahu dikasihi oleh Allah pada hari kiamat.”

Baginda berkata:
“Kasihanilah dirimu dan kasihanilah orang lain.”

Dia bertanya:
Aku mahu dihapuskan segala dosaku.”

Baginda menjawab:
“Banyakkan beristighfar.”

Dia berkata:
“Bagaimana pula aku mahu menjadi semulia-mulia manusia,”

Lalu baginda menjawab:
“Jangan mengesyaki sesuatu perkara pada orang lain.”

Dia bertanya:
“Aku mahu menjadi segagah-gagah manusia.”

Baginda menjawab:
“ Sentiasa menyerah diri (tawakal) kepada Allah.”

Dia bertanya lagi:
“Aku mahu dimurahkan rezeki oleh Allah.”

Baginda menjawab:
“Sentiasa berada dalam keadaan bersih (daripada hadas).”

Dia bertanya:
“Aku mahu termasuk dalam golongan yang dikasihi Allah dan rasul-Nya.”

Baginda menjawab:
“Cintailah segala yang disukai Allah dan Rasul-Nya.”

Dia bertanya:
“ Aku mahu diselamatkan daripada kemungkaran Allah pada hari kiamat.”

Baginda menjawab:
“Jangan marah kepada orang lain.”

Dia bertanya lagi kepada Rasulullah:
“Aku mahu diterima segala permohonanku.”

Baginda menjawab:
“Jauhilah makanan haram.”

Dia bertanya:
“ Aku mahu Allah menutupkan segala keabianku pada hari kiamat.”

Baginda pun menjawab:
“Tutuplah keburukan orang lain.”

Dia bertanya:
“Siapa yang terselamat daripada dosa?”

Rasulullah menjawab:
“Orang yang sentiasa mengalir air mata penyesalan, meraka yang tunduk pada kehendak-Nya dan meraka yang ditimpa kesakitan.”

Dia terus bertanya:
“Apakah sebesar-besar kebaikan disisi Allah?”

Baginda menjawab:
“Elok budi pekerti, rendah diri dan sabar dengan ujian (bala).”

Dia bertanya lagi:
“ Apakah sebesar-besar kejahatan di sisi Allah?”

Baginda menjawab:
“Buruk akhlak dan sedikit ketaatan.”

Dia bertanya:
“Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat?”

Baginda menjawab:
“Sedekah dalam keadaan sembunyi (tidak diketahui) dan menghubungkan kasih sayang.”

Dia bertanya lagi:
“Apa yang akan memadamkan api neraka pada hari kiamat?”

Baginda menjawab:
“Sabar didunia dengan bala dan musibah.”

Dan telah berkata Imam Mustaghfirin: “Aku tidak pernah menemui hadis sebegini lengkap merangkumi kesempurnaan agama dan kehidupan selain hadis ini.”

Maka tugas kita seterusnya adalah berkongsi Hadis Nabi SAW ini dengan orang lain, moga ianya memberikan manfaat kepada semua. Insyallah...

Syukran Jazilan.
Wassalam, wallahualam.

Isnin, 24 Ogos 2015

SELAMA 17 TAHUN TINGGAL DIKUBURAN

 
 
 
SELAMA 17 TAHUN TINGGAL DIKUBURAN
...
Pernahkah Anda mendengar kisah ini? Kisah seorang pemuda yang hidup selama 17 tahun dalam kuburan?
Anda mungkin mengira bahwa ia tinggal di daerah dekat kuburan. Tidak! Dia tidak tinggal di daerah dekat kuburan, tapi ia tinggal di dalam kuburan itu sendiri.
Bagaimana kisahnya? Anda mungkin tidak akan mempercayai kisah ini, karena pemuda ini lahir dari keluarga berada. Ayah dan Ibunya orang yang terpandang dan memiliki kekayaan yang berlimpah.
Dalam pandangan masyarakat sekitar, kedua orang tua ini adalah orang tua yang sempurna, namun orang hanya bisa menilai apa yang tampak. Orang-orang tidak tahu bahwa kedua orang tua terpandang inilah yang memasukkan anaknya ke dalam kuburan dan menjalani hidup selama 17 tahun di dalam kuburan!
Setiap hari, sang anak makan, minum dan tidur di dalam kuburan, yang penuh kegelapan. Sang Anak juga hanya bisa menjalani apa yang diberikan kedua orang tuanya, tanpa perlawanan.
Menjelang ulang tahun pemuda itu yang ke-17, orang tuanya berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan si pemuda sebagai hadiah ulang tahunnya.
Sang pemuda berpikir, inilah saatnya dia akan mengajukan permintaannya, ia tidak ingin lagi tinggal di kuburan, tapi apakah orang tuanya benar-benar akan mengabulkan permintaannya?
Hari itu pun tiba. Sang pemuda berulang tahun yang ke-17. Kedua orang tuanya datang menghampiri dan menanyakan hadiah apa yang ia inginkan. Sang pemuda menjawab, “Ayah, Ibu… saya tidak meminta banyak, saya hanya minta satu hal..” sang ibu menjawab: “Apa, Nak? katakanlah, Ayah dan Ibu pasti akan mengabulkan permintaanmu.”
Anak: “Ayah dan Ibu berjanji?”
“Tentu, Nak. Ayah dan Ibu berjanji akan memenuhi permintaanmu, selama kami mampu.”
Anak: “Ayah… Ibu… saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan.” “Apa? Apa maksud permintaanmu itu, Nak?”
Anak: “Ayah sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku,
dan hanya itu permohonanku, Yah.”

“Iya, Nak. Ayah sudah berjanji… tapi… tapi… Ayah tidak mengerti, Nak.”
Anak: “Ayah, sudah 17 tahun saya tinggal di sini, tapi tidak seharipun saya mendengar Ayah atau Ibu membaca Al-Qur’an. Sedangkan Rasulullah pernah mengatakan bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya adalah seperti kuburan. Saya tidak ingin tinggal lagi di kuburan, Yah..”
Ayah dan Ibu sang pemuda terdiam.
Anak: “Ayah dan Ibu bahkan tidak pernah mengajariku bagaimana membaca Al-Qur’an. Memang rumah ini mewah, besar dan orang-orang melihatnya sebagai istana. Tapi mereka tidak tahu, bahwa di mata Rasulullah, rumah ini seperti kuburan. Jika Ayah dan Ibu mau menepati janji mengabulkan permintaanku, tolong Yah… Aku tidak ingin lagi tinggal di kuburan. Ajarilah aku membaca Al-Qur’an, agar rumah ini bercahaya dengan cahaya Al-Qur’an..”
Renungan di manakah kalian selama ini makan, minum, tidur dan menetap? di rumahkah? di kos kah? di kontrakan kah? atau kah di kuburan?
karena Rasulullah mengibaratkan rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur’an di dalamnya, seperti kuburan… Jadi, di manakah sebenarnya kalian tinggal saat ini?
Jika menurut kalian artikel ini bermanfaat, silahkan di share kepada teman dan keluarga anda.

Ahad, 3 Mei 2015

Siapakah orang mukmin yang paling utama?

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Ansar, 

Kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ 

Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?’. 

Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)

Khamis, 23 April 2015

PEMAHAMAN ILMU HAKEKAT berpedoman pada JIWA dan mengikuti ILHAM yang di terima oleh JIWAnya

PEMAHAMAN ILMU SYAREAT berpedoman pada apa yang TERTULIS di ALQURAN dan HADIST sehingga terjadi banyak penafsiran yang terkadang saling bertentangan seperti adanya PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW.

Sedangkan ......Dalam PEMAHAMAN ILMU HAKEKAT berpedoman pada JIWA dan mengikuti ILHAM yang di terima oleh JIWAnya.....

Jika JIWAnya menginginkan merayakan MAULID NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW maka dia akan merayakannya tanpa menyalahkan orang lain yang TIDAK MERAYAKANNYA ......begitu juga sebaliknya jika JIWAnya TIDAK INGIN MERAYAKANNYA maka dia tidak akan merayakannya tanpa menyalahkan orang lain yang MERAYAKANNYA....

Allah swt berfirman dalam surat ASY SYAMS 8-10,yaitu :
" ....Allah mengilhamkan kepada JIWA itu jalan KEFASIKAN dan KETAQWAANNYA, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan JIWA itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.."

"Dari Wabishoh bin Ma'bad ia berkata :
" Saya datang kepada Rasulullah saw dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau.

Saat itu di sisi beliau terdapat sekelompok sahabat, maka saya pun melangkahi mereka hingga mereka berkata :
" Wahai Wabishoh, menjauhlah dari Rasulullah saw, menjauhlah wahai Wabishah ! "
Saya berkata :
" Saya adalah Wabishah, biarkan aku mendekat padanya, karena ia adalah orang yang paling aku cintai untuk berdekatan dengannya."

Maka beliau pun bersabda:
" Mendekatlah wahai Wabishah, mendekatlah wahai Wabishah."

Saya mendekat ke arahnya sehingga lututku menyentuh lutut beliau, kemudian beliau bersabda :
" Wahai Wabishah, aku akan memberitahukan (jawaban) kepadamu sesuatu yang menjadikanmu datang kemari."
Saya berkata :
" Wahai Rasulullah, beritahukanlah padaku."

Maka beliau pun bersabda :
" Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)."

Saya berkata, " Benar."
Beliau lalu menyatukan ketiga jarinya dan menepukkannya ke dadaku seraya bersabda :
" Wahai Wabishah, mintalah petunjuk dari JIWA mu. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan hati dan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia membenarkanmu dan manusia memberimu fatwa " (Musnad Ahmad, no.180001)

Ahad, 29 Mac 2015

SEGALA SESUATU ADALAH ALLAH

Dasar pemahaman ILMU MA'RIFATTULLAH adalah SEGALA SESUATU ADALAH ALLAH maka jika masih ada RASA SUKA dan RASA SAYANG pada BENDA PUSAKA berarti masih ada selain ALLAH ......

kecuali bisa memandang adanya ALLAH di dalam benda pusaka tersebut....

Hadist Rasulullah Saw :
" Barang siapa melihat kepada sesuatu dan tidak dilihatnya ALLAH didalam sesuatu itu maka penglihatannya itu BATHIL yaitu SIA-SIA.


Yang selanjutnya di perkuat lagi oleh para sahabat :

Sayyidina Abu bakar RA :
" Tidak aku lihat sesuatu melainkan kulihat Allah sebelumnya "


Sayydina Umar RA :
" Tidak aku lihat sesuatu melainkan kulihat ALLAH sesudahnya "


Sayyidina Utsman RA :
" Tidak aku lihat sesuatu melainkan ALLAH besertanya "


Sayyidina Ali Karramallahu Wajhahu :
" Tidak aku lihat sesuatu melainkan aku lihat ALLAH didalamnya "

Dalil ALQURAN dan HADIST yang seolah - olah saling bertentangan

Dalil ALQURAN dan HADIST yang seolah - olah saling bertentangan...., dan juga Seolah - olah bertentangan dengan KENYATAAN yang terjadi dan ada dikehidupan NYATA......
Hal ini disampaikan agar dapat di pahami bahwa di dalam ALQURAN yang tertulis dan HADIST terdapat dalil - dalil yang kedudukannya di peruntukkan sesuai dengan ILMUNYA.
Ada DALIL ALQURAN dan HADIST yang duduknya untuk PEMAHAMAN ILMU SYAREAT ....dan ada DALIL ALQURAN dan HADIST yang duduknya untuk PEMAHAMAN ILMU HAKEKAT yang memang seolah saling BERTOLAK BELAKANG atau saling bertentangan yang bisa MENGGOYAHKAN KEIMANAN.......
FASE ini tidak dialami oleh semua orang, sehingga wajar saja jika ada yang MENOLAK KEBENARAN adanya FASE ini jadi bisa di maklumi.....
Bagi yang sedang mengalami maka bersyukurlah karena telah diperjalankan untuk menuju kepada KEYAKINAN ILMU HAKEKAT yaitu HAKKUL YAKIN.....
Dan bagi yang sudah melewati FASE ini akan ditandai dengan sikaf dan sifat yang berubah menjadi lebih baik, bijak dan tenang......, TIDAK ADA LAGI UJUB karena ILMU atau RIYA dalam beribadah serta dapat menerima dan hidup berdampingan dengan semua umat beragama dan berkeyakinan dengan aman dan damai.....

Sabtu, 28 Mac 2015

Sifat ILMU MA'RIFATTULLAH adalah RAHASIA

Sifat ILMU MA'RIFATTULLAH adalah RAHASIA,

Maka HADIST SAHIH yang dijadikan pedoman oleh para ULAMABILLAH juga bersifat RAHASIA .

Ada perbedaan antara HADIST SAHIH yang berlaku secara umum dan HADIST SAHIH yang hanya berlaku di kalangan ULAMABILLAH yang menjadi pedoman dalam penyampaian ILMU MA'RIFATTULLAH yang di RAHASIAKAN.

Contoh perbedaannya :
HADIST SAHIH memiliki SANAD atau PERAWI atau PENYAMPAI RIWAYAT HADIST yang JELAS dan TERPERCAYA.

Misalnya ada sebuah HADIST yang di akui kebenarannya namun jika ada salah satu PERAWI atau yang menyampaikannya suka main judi atau orang yang TIDAK BISA DIPERCAYA maka HADIST TERSEBUT TIDAK BISA DI SEBUT SEBAGAI HADIST SAHIH, salah satu contohnya adalah hadist ini :

1. Rasulullah Saw bersabda :
“ Berfikir-fikirlah perihal tanda-tanda kebesaran Allah (ciptaan Allah), dan jangan berfikir-fikir terhadap Dzat Allah “ ( HR. Abdullah ibn Umar, Abu Hurairah, Abdus Salam, Abu Dzar, Ibn Abbas ).

HR atau HADIST RIWAYAT Abdullah ibn Umar, Abu Hurairah, Abdus Salam, Abu Dzar, Ibn Abbas inilah yang di sebut sebagai PERAWI atau ORANG YANG MENYAMPAIKAN HADIST TERSEBUT BERASAL DARI RASULULLAH SAW .

2. Diriwayatkan dari Abdurrazaq ra yang diterimanya dari Jabir ra, bahwa Jabir pernah bertanya kepada Rasulullah saw :

" Ya Rasulullah, beritahukanlah kepadaku, apakah yang mula-mula sekali Allah jadikan ? 

Rasulullah menjawab : " Sesungguhnya Allah ciptakan sebelum adanya sesuatu adalah nur Nabimu ( Nur Muhammad ) dari Nur-Nya."


Itu sebabnya di dalam Ilmu Syareat selalu ribut soal Bid'ah dan lain - lainnya karena dasar HADISTNYA ada yang menyatakan SAHIH dan ada yang menyatakan TIDAK SAHIH......

Itu sebabnya mereka yang FANATIK pada ILMU SYAREAT tidak bisa menerima KEBENARAN ILMU MA'RIFATTULLAH karena dasar HADISTNYA dinyatakan DHOIF ATAU PALSU BERDASARKAN ILMU SYAREAT.

Lalu bagaimana SANAD HADIST YANG DIPAKAI OLEH PARA ULAMABILLAH .....???

Ad Dailami meriwayatkan dari Abu Sa'id ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda : "AHLUL BAYT Ku dan orang-orang ANSHOR adalah orang-orang kepercayaanku dan pengemban RAHASIA ILMUKU Maka terimalah yang baik dari mereka dan ma'afkanlah yang salah dari mereka "

Hadist - Hadist Sahih yang menjadi pedoman dalam pemahaman ILMU MA'RIFATTULLAH di peroleh melalui 3 jalur, yaitu :

1. Berdasarkan SANAD ILMU, yaitu Dari GURUNYA, dan GURUNYA mendapatkannya dari GURUNYA Juga ....dan seterusnya sampai kepada RASULULLAH SAW melalui para sahabat.
Hadist - Hadist Sahih dari Sanad Ilmu ini yang biasa di sebut dari BANI ANSHOR dan banyak terdapat di majelis - majelis TAREKAT terkenal.

2. Berdasarkan SANAD ILMU dan NASAB ( GARIS KETURUNAN ) yaitu Dari GURU yang juga BAPAKNYA, dan BAPAKNYA mendapatkan dari GURU yang juga BAPAKNYA juga terus sampai kepada Syaidina Ali Bin Abhi Thalib ra dan Rasulullah saw.

Hadist - hadist Sahih dari Sanad Ilmu dan NASAB ( GARIS KETURUNAN ) ini yang biasa di pegang oleh para HABIB atau keturunan Rasulullah saw baik yang tercatat maupun yang Putus Kabar.

Contohnya, Sebagian dan salah satu SANAD ILMU dan NASAB dari KITAB TEBERUBUT adalah :
1. Nabi Muhammad SAW

2. Sayyidah Fatimah Az-Zahra
3. Sayyid Husain Asy-Syahid
4. Sayyid 'Ali Zainal 'Abidin
5. Sayyid Muhammad al-Baqir
6. Sayyid Ja'far ash-Shadiq
7. Sayyid Ali Al-Uraidhi
8. Sayyid Muhammad An-Naqib
9. Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi
10. Sayyid Ahmad al-Muhajir
11. Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah
12. Sayyid Alawi Awwal
13. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah
14. Sayyid Alawi Ats-Tsani
15. Sayyid Ali Kholi' Qosim
16. Sayyid Muhammad Sohib Mirbath
17. Sayyid Alawi Ammil Faqih
18 Sayyid Amir 'Abdul Malik Al-Muhajir Azmatkhan
19. Sayyid Abdullah Azmatkhan
20. Abdul Kadir
21. Maulana Isa
22. Datuk Ahmad
23. Syekh Datuk Kahfi / Syekh Nurjati / Syekh Nurul Jati .
24. Pangeran Panjunan / Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan)
25. Pangeran Pamelekaran
26. Pangeran Santri Kusumahdinata ( Raja SUMEDANG )
27. ...........dan seterusnya sampai sekarang......


Rasulullah Saw bersabda : " Aku adalah kota ilmu dan ali adalah kuncinya ".
3. Hadist Sahih yang di terima oleh para ULAMABILLAH langsung dari Nabi Muhammad Rasulullah saw di kehidupan yang di Rahasiakan.

Untuk diketahui, ciri utama ULAMABILLAH adalah telah bertemu dan belajar langsung dengan Nabi Muhammad rasulullah Saw di kehidupan yang di rahasiakan.

Salah satu HADIST SAHIH yang di RAHASIAKAN namun sudah banyak beredar atau sudah terbuka adalah :

Rasulullah Saw bersabda : 
" AKU AHMAD BILAMIM atau AKU AHMAD TANPA HURUF MIM "
Lalu Syech siti jenar berkata : " AKU ALLAH ".

Lalu Al Hallaj berkata : " ANA ALHAQ "
lalu Datu Ambulung berkata : " TIDAK ADA TUHAN SELAIN AKU "

Dan mereka pun di " PENGGAL LEHERNYA ".........

Abu Huraira R.A :

" Aku telah hafal dari Rasulullah dua macam ilmu:Pertama Ialah Ilmu yg Aku Di Anjurkan Untuk Menyebarluaskan(Mengajarkan) kepada Sekalian Manusia.Dan Yg Kedua Ialah Ilmu yg Aku Tidak Di Perintahkan Untuk Menyebarluaskan(mengajarkan)kepada Manusia.Maka Apabila Ilmu Ini Aku Sebarluaskan Niscaya Engkau Sekalian Akan Memotong Leherku. “ (HR.Thabrani)


Dan lagi berkata Saidina Ali bin abi Thalib Ra :

“ Ya Tuhanku, mutiara sesuatu ilmu itu jikalau aku nyatakan dengan berterus terang nescaya akan dikatakan orang kepada aku : Engkau(Ali) adalah orang yang menyembah berhala. Dan sesungguhnya ada orang-orang Islam yang menghalalkan darahku. Mereka itu melihat perbuatan yg paling jahat yg mereka lakukan itu sebagai Perbuatan baik.”

Ahad, 28 September 2014

ISLAM KEMBALI DAGANG

ISLAM KEMBALI DAGANG

Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahawa Rasulullah SAW telah bersabda:
“Islam bermula sebagai sesuatu yang dianggap asing dan ganjil. Dan ia akan kembali sebagaimana permulaannya, dianggap asing dan ganjil. Maka, beruntunglah orang-orang yang ganjil” [Hadith Muslim no. 145]


Auwaluddin makrifatullah, Awal agama itu mengenal Allah..


Seperti diawal perjuangan Rasulullah saw yang telah memperkenalkan hanya Allah sahaja tuhan yang Esa yang perlu dipertuhankan, tuhan selain dari Allah (termasuk hawa nafsu sendiri), firman Allah "tidakkah kamu melihat mereka-mereka yang mengambil hawa nafsu mereka sebagai tuhan"

Perjuangan awal rasulullah saw untuk memperkenalkan Allah sebagai tuhan yang Esa yang telah membuatkan perjuangan permulaan ini menjadi asing dikalangan kaum kafir semasa itu..

Asas perjuangan untuk menegakkan kalimah tauhid dimuka bumi Allah inilah yang membuatkan perjuangan rasulullah saw dianggap asing oleh manusia pada masa itu...

Perjuangan rasulullah saw untuk menegakkan Agama islam berasaskan kepada Dua kalimah syahadah inilah yang membuatkan perjuangannya dipandang asing oleh kaumnya pada masa itu...

Seperti yang disabdakan oleh rasulullah saw itu akan berulang sekarang ini kembali sebagai dagang, dipandang asing....

Perjuangan untuk menegakkan kebenaran kembali kepada auwaluddin makrifatullah, awal agama mengenal Allah dipandang teramat asing oleh umat islam sendiri, pandangan dan perjuangan sekumpulan kecil umat islam untuk kembali menegakkan dua kalimah syahadah didalam kehidupan harian kita dipandang teramat asing oleh umat islam sendiri...

Perjuangan sekumpulan kecil Islam yang menyeru supaya tidak mensyirikkan Allah melalui syirik secara terang atau syirik yang tersembunyi dan syirik yang tersembunyi lagi tersembunyi menjadikan kumpulan ini dipandang teramat asing dan mendapat pertentangan yang amat meluas dikalangan umat Islam sendiri, malah mereka-mereka ini sampai dihukum sesat oleh umat Islam sendiri... 

Bukankah perjuangan mereka ini seperti perjuangan rasulullah saw diawal perjuangan beliau dahulu iaitu untuk menegakkan Awal agama mengenal Allah seterusnya menegakkan dua kalimah syahadah didalam kehidupan harian mereka...

Mereka-mereka inilah yang telah dan sedang menerima tentangan hebat dari seluruh pelusuk dunia, dari orang kafir, dari pemerintah dan dari hampir keseluruhan umat Islam sendiri yang menghukum mereka sebagai sesat, seperti yang diterimana oleh rasulullah saw diawal perjuangannya dahulu..

Jika bukanlah kaum yang kecil ini yang sedang hendak menegakkan awal agama mengenal Allah ini yang mendapat tentangan dari segenap sudut sehingga dihukum sesat, kaum mana lagi yang boleh dimasukkan kedalam sabda nabi saw itu....

Rasulullah SAW bersabda:

“Islam bermula sebagai sesuatu yang dipandang ganjil. Kemudian ia akan kembali menjadi seperti permulaannya, dianggap ganjil dan asing semula. Namun berikanlah khabar gembira kepada ghuraba’ iaitu orang-orang yang asing ini”

[Riwayat ibn Asaakir dan dinilaikan Sahih oleh Al-Albani]


Baginda ditanya,“Siapakah orang-orang yang asing itu?”
Baginda menjawab,“Iaitulah mereka yang berusaha memperbaiki manusia ketika golongan ramai sudah menjadi rosak”

[Riwayat Abu Amr al-Dani daripada hadith Ibn Mas’oud. Dinilaikan sahih oleh al-Albani]


Di dalam suatu riwayat yang lain, baginda menjawab,
“Iaitu mereka yang menghidupkan Sunnahku yang telah dimatikan oleh manusia”


Juga dalam satu riwayat yang lain, baginda menjawab,
“Mereka adalah kumpulan kecil di kalangan kelompok ramai yang rosak. Golongan yang menentang kumpulan kecil ini, lebih ramai daripada yang mengikutnya”


Perjuangan kita umat Islam hari ini hendaklah bermula dari asas didalam Agama iaitu Awalluddin makrifatullah....

Sebut sahaja Awal Agama mengenal Allah, lihatlah sendiri berapa ramai yang akan menentang kita, berapa ramai yang akan menyesatkan kita..

Perjuangan kita pada hari ini untuk menegak dan menerapkan dua kalimah syahadah didalam kehidupan seharian kita akan mendapat tentangan dari segenap aspek dari segenap sudut, lihat dan perhatikan lah sendiri kenyataannya ....

Suatu ketika, Rasulullah SAW ditanya tentang maksud firman Allah SWT: 
5.Surah Al-Mā'idah (Verse 105)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْۖ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ


“Wahai orang-orang yang beriman! jagalah sahaja diri kamu (dari melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah). Orang-orang yang sesat tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu apabila kamu sendiri telah mendapat hidayah petunjuk (taat mengerjakan suruhan Allah dan meninggalkan laranganNya). Kepada Allah jualah tempat kembali kamu semuanya, kemudian Dia akan menerangkan kepada kamu (balasan) apa yang kamu telah lakukan”
[Al-Maa’idah 5: 105]


Baginda Rasulullah sallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

"Bahkan sesungguhnya serulah manusia kepada kebaikan dan cegahlah dari kemungkaran. Kamu nanti akan melihat satu keadaan di mana kebatilan akan dituruti, hawa nafsu akan jadi ikutan dan dunia ini akan lebih diutamakan. Setiap orang akan tenggelam dalam pandangan masing-masing. Peliharalah diri kamu dan janganlah dituruti orang ramai. Sesungguhnya selepas zaman kamu ini, akan datang hari-hari yang menuntut kesabaran, dan kesabaran itu akan menjadi seperti perbuatan menggenggam bara api di dalam tangan. Sesiapa yang terus bertahan dengan keadaan itu akan mendapat ganjaran seperti 50 orang yang berbuat perkara yang sama” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, ganjaran 50 orang seperti mereka?” Baginda menjawab, “Ganjaran 50 orang seperti kamu”

[Hadith riwayat al-Tirmidhi dan Abu Daud dengan sanad yang lemah tetapi diperkukuhkan oleh riwayat yang lain]

Selasa, 1 Julai 2014

Apa yang nabi katakan dulu..telah terbukti hari ini...makin tinggi tudung makin sombong...

Apa yang nabi katakan dulu..telah terbukti hari ini...makin tinggi tudung makin sombong...


Nabi SAW ada menyebut, “Dua golongan dari ahli neraka yang aku belum melihat kedua-duanya iaitu; (1) Kaum yang membawa cambuk seperti ekor lembu untuk memukul manusia dengannya, dan (2) Wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencenderungkan orang lain kepadanya. Kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta yang senget. Mereka ini tidak akan dapat memasuki syurga dan tidak akan mencium baunya di mana bau syurga dapat dicium dari jarak perjalanan sekian-sekian jauh.” (Direkodkan oleh Muslim, no. 2128)

Hadis ini telah disyarahkan oleh Imam an-Nawawi Rahimahullah di dalam kitab syarah Sahih Muslim, beliau menyebut, “Makna bonggol unta itu ialah wanita yang membesarkan kepala-kepala dengan tudung mereka. Mereka meletakkan apa-apa sahaja bagi membesarkan kepala mereka, sehingga seolah-olah kelihatan kepala mereka bagaikan bonggol di atas unta. Tambahnya lagi, perkara ini adalah bukti mukjizat kenabian, perkara ini telah terbukti pada zaman ini.” (Syarah Sahih Muslim oleh Imam an-Nawawi 5/291)

Isnin, 30 Jun 2014

APA ITU NIAT?

APA ITU NIAT?

Kata al-Syeikh Dr Yusuf al-Qaradawi: 

"Niat ini adalah amalan hati semata. Bukan amalan lidah. Tidak diketahui daripada Nabi s.a.w., tidak juga dari para sahabah dan para tabi’in yang mengikut mereka dengan baik -yang merupakan salaf umat ini- sebarang lafaz bagi niat ibadat, seperti solat, puasa, mandi, berwuduk dan seumpamanya, apa yang kita lihat sebahagian manusia bersungguh-sungguh melakukannya, seperti mereka menyebut: Aku berniat mengangkat hadas kecil, atau besar, atau solat zohor, atau asar empat rakaat kerana Allah Yang Maha Besar, atau aku berniat puasa esok hari pada bulan ramadan dan sebagainya. 

Ini semua tidak dibawa (diajar) oleh sebarang ayat al-Quran atau Sunnah. Tidak ada faedah baginya, di mana seorang insan tidak akan berkata ketika hendak ke pasar: aku niat hendak ke pasar. Atau ketika dia hendak bermusafir: Aku niat bermusafir. Al-Zarkasyi dalam fatwa-fatwanya memetik perkataan al-Ghazali: “Urusan niat dalam ibadah itu mudah, namun apa yang menyusahkan ialah disebabkan kejahilan dengan hakikat niat atau (disebabkan) was-was” 

(http//:qaradawi.net).

Ahad, 29 Jun 2014

HUKUM MEMBERUS GIGI SEMASA PUASA?

HUKUM MEMBERUS GIGI SEMASA PUASA?
Islam menggalakkan bersugi (berus gigi) kerana ia mengelakkan bau busuk mulut seseorang. Bahkan, kalaulah tidak menjadi beban kepada umat ini sudah pasti kita diwajibkan bersugi lima kali sehari. 

Ini seperti sabda Nabi s.a.w:
“Jika tidak kerana bimbangkan membebankan umatku nescaya akan aku perintahkan mereka bersugi setiap kali waktu solat” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Apabila kita berpuasa, bau mulut kita menjadi kuat. Ini sesuatu yang sukar dielakkan. Allah tahu hakikat tersebut. Allah Maha Tahu bahawa bau tersebut terhasil kerana kita tidak makan dan minum sepanjang hari keranaNYA. 

Justeru itu, Nabi s.a.w bersabda:
“Bau busuk mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada haruman kasturi” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Namun ini tidaklah bererti orang yang berpuasa itu disuruh untuk membiarkan orang lain mencium bau busuk mulutnya. Itu akan menyakiti orang lain. Apatahlagi di zaman kini yang mana kita bekerja di tempat awam, ataupun membabit ramai orang di sekeliling. Tambahan lagi, jika terdapat mereka yang bukan muslim, tentu akan menimbulkan rasa yang tidak selesa terhadap muslim yang berpuasa pada bulan Ramadan ataupun boleh menghilang gambaran keindahan Islam.
Maka pendapat yang menyuruh kita membiarkan bau busuk mulut semasa berpuasa tidak begitu kukuh dari segi sifat semulajadi ataupun neutrality agama ini. Dengan menghormati perbezaan pendapat, namun realiti kehidupan yang mesra menolak pandangan tersebut. Ini ditambah dengan hadis-hadis yang seakan menggalakkan untuk seseorang yang berpuasa mengekalkan bau mulutnya itu adalah lemah dari segi riwayat. 
Tidak kukuh untuk disandarkan kepada Nabi s.a.w. seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfat al-Ahwazi. Maka tidak boleh menjadi hujah. Apatah lagi bertentang dengan sifat Islam itu sendiri. Hadis-hadis yang menggalakkan kebersihan dan juga bersugi adalah umum merangkumi setiap waktu termasuk bulan Ramadan.
Antara hadis yang tersangat daif yang digunakan dalam bab ini ialah dikatakan Nabi s.a.w bersabda:“Jika kamu berpuasa maka bersugilah pada waktu pagi dan jangan bersugi pada waktu petang”. Ia diriwayatkan oleh al-Bazzar, at-Tabarani dan lain-lain. Namun ia terlalu daif yang tidak boleh dijadikan hujah. Di samping di sana ada hadis daif lain namun lebih kuat ataupun kurang daif daripadanya iaitu diriwayatkan ‘Amir bin Rabi’ah berkata: “Aku melihat Rasulullah bersugi sedangkan beliau berpuasa” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Abu Daud dll).
Apapun galakan bersugi bagi setiap waktu solat yang diriwayatkan dalam hadis yang sahih adalah asas dalam amalan muslim. Ertinya, bersugi sentiasa digalakkan tanpa mengira samada puasa ataupun tidak. Nabi s.a.w dalam hadis sahih yang lain menyatakan tujuan bersugi dengan menyebut:
“Bersugi itu membersihkan mulut dan menjadikan Tuhan redha” 
(Riwayat Ahmad, an-Nasai, Ibn Hibban dll).
Justeru itu, jadikanlah puasa itu menzahirkan keindahan pekerti dalam perkataan dan perbuatan yang mengeratkan hubungan baik sesama masyarakat. Oleh itu, jangan jadikan bau mulut kita menimbulkan keresahan orang lain terhadap mereka yang berpuasa. Berpuasa dan bersugilah!

Ahad, 18 Mei 2014

UJIAN BAGI KEKASIH ALLAH


UJIAN BAGI KEKASIH ALLAH

Dalam sebuah riwayat disebutkan, seorang pria datang kepada Nabi dan mengadu:"Wahai Rasulullah, bagaimana jika sekiranya aku, harta kekayaanku telah lenyap dan badanku telah sakit-sakitan."

Rasulullah SAW bersabda, "Hamba Allah tidak akan memperoleh suatu kebaikan, sementara harta kekayaannya tidak lenyap dan badannya tidak pernah sakit, sebab jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan mengujinya dengan berbagai cobaan. Oleh karena itu, jika Allah mengujimu, maka bersabarlah." (HR At-Tirmidzi)

Rabu, 7 Mei 2014

ASMA'UL HUSNA

ASMA'UL HUSNA
Berikut adalah beberapa dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadis tentang Asmaul Husna:
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik)." - (Al-Quran, Surah Thaa-Haa : 8)

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" - (Al-Quran.Surah Al Israa': 110)
Dari Abu Huraira R.A.: Nabi saw. bersabda: "Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk syurga. Sesungguhnya Allah itu ganjil [esa] dan Dia menyukai [bilangan] yang ganjil." - Sahih Bukhari[1]
Asmaul Husna
No. Nama Arab Maksud
1 al-Rahman الرحمن Maha Pengasih
2 al-Rahim الرحيم Maha Penyayang
3 al-Malik الملك Maha Merajai/Memerintah
4 al-Quddus القدوس Maha Suci
5 al-Salam السلام Maha Memberi Kesejahteraan
6 al-Mukmin المؤمن Yang Memberi Keamanan
7 al-Muhaimin المهيمن Maha Pemelihara
8 al-Aziz العزيز Maha Gagah
9 al-Jabbar الجبار Maha Perkasa
10 al-Mutakabbir المتكبر Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11 al-Khaliq الخالق Maha Pencipta
12 al-Barik البارئ Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13 al-Musawwir المصور Yang Membentuk Rupa (makhluknya)
14 al-Ghaffar الغفار Maha Pengampun
15 al-Qahhar القهار Yang Memaksa
16 al-Wahhab الوهاب Maha Pemberi Kurnia
17 al-Razzaq الرزاق Maha Pemberi Rejeki
18 al-Fattah الفتاح Maha Pembuka Rahmat
19 al-Alim العليم Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20 al-Qabid القابض Yang Menyempitkan (makhluknya)
21 al-Basit الباسط Yang Melapangkan (makhluknya)
22 al-Khafid الخافض Yang Merendahkan (makhluknya)
23 al-Rafik الرافع Yang Meninggikan (makhluknya)
24 al-Muiz المعز Yang Memuliakan (makhluknya)
25 al-Muzil المذل Yang Menghinakan (makhluknya)
26 al-Samik السميع Maha Mendengar
27 al-Basir البصير Maha Melihat
28 al-Hakam الحكم Maha Menetapkan
29 al-Adl العدل Maha Adil
30 al-Latif اللطيف Maha Lembut
31 al-Khabir الخبير Maha Mengetahui Rahasia
32 al-Halim الحليم Maha Penyantun
33 al-Azim العظيم Maha Agung
34 al-Ghafur الغفور Maha Pengampun
35 al-Syakur الشكور Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36 al-Ali العلى Maha Tinggi
37 al-Kabir الكبير Maha Besar
38 al-Hafiz الحفيظ Maha Menjaga
39 al-Muqit المقيت Maha Pemberi Kecukupan
40 al-Hasib الحسيب Maha Membuat Perhitungan
41 al-Jalil الجليل Maha Mulia
42 al-Karim الكريم Maha Pemurah
43 al-Raqib الرقيب Maha Mengawasi
44 al-Mujib المجيب Maha Mengabulkan
45 al-Wasik الواسع Maha Luas
46 al-Hakim الحكيم Maka Bijaksana
47 al-Wadud الودود Maha Pencinta
48 al-Majid المجيد Maha Mulia
49 al-Bais الباعث Maha Membangkitkan
50 al-Syahid الشهيد Maha Menyaksikan
51 al-Haq الحق Maha Benar
52 al-Wakil الوكيل Maha Memelihara
53 al-Qawi القوى Maha Kuat
54 al-Matin المتين Maha Teguh
55 al-Wali الولى Maha Melindungi
56 al-Hamid الحميد Maha Terpuji
57 al Muhsi المحصى Maha Menghitung
58 al-Mubdik المبدئ Maha Memulai
59 al-Muid المعيد Maha Mengembalikan Kehidupan
60 al-Muhyi المحيى Maha Menghidupkan
61 al-Mumit المميت Maha Mematikan
62 al-Hai الحي Maha Hidup
63 al-Qayyum القيوم Maha Mandiri
64 al-Wajid الواجد Maha Penemu
65 al-Majid الماجد Maha Mulia
66 al-Wahid الواحد Maha Esa
67 al-Ahad الاحد Maha Esa
68 al-Samad الصمد Tempat Meminta
69 al-Qadir القادر Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70 al-Muqtadir المقتدر Maha Berkuasa
71 al-Muqaddim المقدم Maha Mendahulukan
72 al-Muakhir المؤخر Maha Mengakhirkan
73 al-Awwal الأول Maha Awal
74 al-Akhir الأخر Maha Akhir
75 al-Zahir الظاهر Maha Nyata
76 al-Batin الباطن Maha Ghaib
77 al-Wali الوالي Maha Memerintah
78 al-Mutaali المتعالي Maha Tinggi
79 al-Bar البر Maha Penderma
80 al-Tawwab التواب Maha Penerima Taubat
81 al-Muntaqim المنتقم Maha Penyiksa
82 al-Afu العفو Maha Pemaaf
83 al-Rauf الرؤوف Maha Pengasih
84 Malik al-Mulk مالك الملك Penguasa Kerajaan (Semesta)
85 Zu al-Jalal wa al-Ikram ذو الجلال و الإكرام Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86 al-Muqsit المقسط Maha Adil 87 al-Jamik الجامع Maha Mengumpulkan
88 al-Ghani الغنى Maha Berkecukupan
89 al-Mughni المغنى Maha Memberi Kekayaan
90 al-Manik المانع Maha Mencegah
91 al-Dar الضار Maha Memberi Derita
92 al-Nafik النافع Maha Memberi Manfaat
93 al-Nur النور Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94 al-Hadi الهادئ Maha Pemberi Petunjuk 95 al-Badik البديع Maha Pencipta
96 al-Baqi الباقي Maha Kekal
97 al-Waris الوارث Maha Pewaris
98 al-Rasyid الرشيد Maha Pandai
99 al-Sabur الصبور Maha Sabar

HAKIKAT ASMA' (NAMA-NAMA ALLAH S.W.T)
Ke mana sahaja kamu hadapkan muka kamu di situ Wajah Allah. ( Ayat 115 : Surah al-Baqarah )
Di dalam Perbendaharaan-Nya Yang Tersembunyi, ke mana sahaja di halakan pandangan hanya Wajah-Nya yang kelihatan. Wajah-Nya disaksikan sebagai:
Wajah-Nya menyata melalui sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Wajah-Nya disaksikan melalui Jamal-Nya dan Jalal-Nya. Wajah Jamal-Nya menyata melalui nama-nama: ar-Rauf, al-Wadud, al-Halim, al-Karim, al'Afuwwu, al-Ghaffar, al-Mannan, al-Hannan, as-Sobbur, asy-Syakur dan ar-Razak. Wajah Jalal-Nya menyata melalui Nama-nama: al-Jabbar, al-Muntaqim, al-‘Aziz, al-Muta'al, al-Mutakabbir, al-Muhaimin, al-Jalil, al-‘Adzim, al-Kabir, al-Mu'iz, al-Qabidh dan al-Khafidh. Nama-nama Tuhan ada yang menunjukkan kepada sifat dan ada yang menunjukkan kepada Zat. Aspek Zat yang boleh disifatkan dipanggil tasybih dan yang tidak boleh disifatkan dipanggil tanzih. Kesempurnaan jiwa hamba adalah berada di antara kedua-dua aspek tersebut:
Tiada sesuatupun yang sebanding dengan-Nya dan Dia Mendengar dan Melihat (Ayat 11 : Surah asy-Syura )
Walaupun Dia tidak serupa dengan sesuatu tetapi Dia adalah Mendengar dan Melihat. Allah s.w.t menyatukan kedua-dua aspek tersebut pada satu ayat. Bila kedua-dua aspek tersebut menyatu pada jiwa si hamba dia akan merasakan ketenteraman dan kedamaian.
Ada nama-nama-Nya yang kelihatan sebagai berlawanan di antara satu dengan yang lain. Al-Hayyun menghidupkan dan al-Mumit mematikan. Al-Hadi memberi petunjuk dan al-Muzil menyesatkan. Kelihatan seolah-olah ada perlumbaan di antara nama-nama yang berlawanan sifat. Muncullah as-Salam yang mensejahterakan sehingga tidak berlaku perlumbaan atau perlawanan. Sekaliannya berada dalam kesejahteraan, mengambil bidang masing-masing tanpa mengganggu bidang yang lain. Percantuman dua perkara yang berbeza melahirkan pengenalan yang sebenarnya.
Dia Yang Awal dan Dia juga Yang Akhir, Dia Yang Zahir dan Dia juga Yang Batin. ( Ayat 3 : Surah al-Hadiid )
As-Salam yang mensejahterakan membawa setiap nama kepada ketetapan bidang tugas masing-masing. Bila sekaliannya berada dalam ketetapan as-Samad melengkungi sekaliannya. As-Samad menjadi sempadan bagi satu nama dan juga sempadan bagi sekalian nama-nama. Kesemua nama-nama dikemudikan oleh al-Wahid, memperkenalkan Wahdaniatik, keesaan Tuhan. Al-Wahid memimpin sekalian nama-nama bagi memperkenalkan al-Ahad. Penyaksian terhadap Wahdaniatik Tuhan membawa pengakuan terhadap kedudukan-Nya sebagai al-Malik, Raja yang memerintah dan juga al-Malik-ul-Mulk, Raja kepada segala kerajaan, dan juga Rabbul Arbab, Tuhan yang menguasai sekalian bakat-bakat ketuhanan. Kesemuanya menceritakan yang satu iaitu ALLAH! ALLAH adalah nama yang paling agung yang mengandungi dan menyimpulkan sekalian nama-nama yang lain. ALLAHmenunjukkan terkumpulnya sekalian nama-nama dan ALLAH adalah juga nama bagi Zat.
Sesungguhnya ALLAH menguasai segala sesuatu ( Ayat 20 : Surah al-Baqarah )ALLAH yang memegang semua kekuasaan menetapkan:
Tidak ada satu pun yang melata melainkan Dia yang menguasai ubun-ubunnya. Dan Tuhanku adalah di atas jalan yang lurus. ( Ayat 56 : Surah Hud )
Allah s.w.t menetapkan nama-nama-Nya menjadi hakikat-hakikat yang menguasai sekalian kejadian-Nya. Setiap yang maujud ubun-ubunnya dipegang oleh nama Tuhan dan nama Tuhan yang menjadi hakikat itu mengheret makhluk yang di bawah bidang kekuasaan-Nya pada jalan yang Allah s.w.t telah tentukan. Tidak ada satu makhluk pun boleh bebas daripada nama Tuhan yang menjadi hakikat yang menguasainya. Nama al-Hadi membimbing seseorang kepada jalan yang benar. Semua guru-guru merupakan ‘cermin' tempat zahirnya kesan kekuasaan al-Hadi. Sesiapa sahaja yang mendapat bimbingan kepada jalan yang lurus dan sesiapa sahaja yang membimbingnya, pada hakikatnya al-Hadi yang memberi bimbingan. Al-Muzil mempunyai kekuatan untuk menyesatkan dan kekuatan ini terzahir pada makhluk-Nya yang bernama iblis. Sekalipun kelihatan iblis yang menyesatkan manusia tetapi iblis bukan berdiri dengan sendiri. Iblis tidak mempunyai sebarang kekuasaan. Allah s.w.t mengizinkan iblis menumpang kekuasaan al-Muzil. Oleh kerana iblis menumpang kekuasaan nama Tuhan maka tidak ada kekuasaan makhluk dapat mengalahkannya. Hanya satu sahaja kekuasaan yang mampu mengatasinya, iaitulah kekuasaan ALLAH yang menguasai segala kekuasaan. Lantaran itu Dia mengajarkan:
Daku berlindung kepada ALLAH dari syaitan yang direjamSegala kekuasaan tunduk kepada kekuasaan ALLAH. Allah yang memiliki segala kekuasaan itu menetapkan:
Barangsiapa dibimbing oleh Allah pada jalan yang benar, engkau tidak dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, engkau tidak dapat membimbingnya kepada jalan yang benar. ( Maksud Hadis )
Manusia hanya ada satu pilihan sahaja iaitu tunduk menyerah kepada Allah s.w.t. Penyerahan kepada Allah s.w.t merupakan kekuatan maksima yang tidak terkalahkan oleh kekuatan yang lain.
Oleh kerana nama-nama Tuhan menjadi hakikat yang menguasai segala sesuatu, maka tidak ada makhluk yang dapat mengubah perjalanan hakikat yang menguasainya. Unta tidak boleh meminta menjadi matahari. Bulan tidak boleh meminta menjadi bumi. Gunung tidak boleh meminta menjadi langit. Malaikat tidak boleh meminta menjadi manusia. Manusia tidak boleh meminta menjadi Tuhan. Setiap sesuatu dikawal oleh hakikat masing-masing. Dalam aspek ini setiap kejadian Tuhan tidak mempunyai pilihan. Mereka adalah hamba yang terikat. Sebagai satu kejadian yang dikawal oleh satu hakikat ia bebas bergerak di dalam sempadan hakikatnya. Oleh kerana nama Tuhan menjadi hakikat maka makhluk memperolehi bakat-bakat yang berkuasa melahirkan kesan. Hakikat yang menguasai manusia adalah hakikat yang paling lengkap dan sempurna. Tidak ada yang dapat mengatasi apa yang ada dengan manusia. Keistimewaan hakikat yang menguasai manusia menyebabkan di dalam sempadan kemanusiaan, manusia bebas melahirkan fikiran, perbuatan, kehendak dan pilihan. Dalam aspek ini manusia adalah hamba yang merdeka.
Hakikat yang menguasai makhluk itulah yang menyebabkan makhluk mendapat nikmat penciptaan dan nikmat kesinambungan kewujudan. Hakikat menjadi pemangkin atau hijab yang mempertahankan apa yang Tuhan ciptakan. Hubungan wujud makhluk dengan Wujud hakikat adalah perkaitan mumkinul wujud dengan Wajibul Wujud. Wujud hakikat adalah wujud ketuhanan, wujud pemerintah atau pentadbiran ketuhanan. Wujud makhluk adalah wujud yang diperintah, wujud yang menumpang, yang bergantung, berhajat dan berharap kepada wujud yang memerintah.
Hakikat bukanlah makhluk. Ia adalah suasana pentadbiran Tuhan. Qadak dan Qadar yang ditentukan Tuhan adalah di dalam sempadan hakikat yang daripada suasana tersebut berlakulah takdir. Takdir tidak menyimpang daripada hakikat yang menguasainya. Setiap makhluk di heret oleh hakikat yang menguasainya. Sesiapa yang berhakikatkan hakikat kenabian akan menjadi nabi. Sesiapa yang berhakikatkan hakikat kewalian akan menjadi wali. Sesiapa yang berhakikatkan Hakikat Manusia akan menjadi manusia.
Tiada perubahan dalam kalimat Allah itu. ( Ayat 64 : Surah Yunus )
Orang yang mengenal dirinya sebenarnya mengenali hakikat yang menguasai dirinya, iaitu suasana ketuhanan yang menguasai kewujudan dan penghidupannya. Mengetahui hakikat ketuhanan yang menguasai diri tidak menjadikan diri itu Tuhan. Tuhan tetap Tuhan tidak berubah menjadi hamba. Hakikat ketuhanan adalah pemerintah dan hamba pula adalah makhluk yang diperintah. Diri tetap berada pada taraf kehambaan walaupun mengenali hakikat ketuhanan.
Diri yang menetap pada kedudukan kehambaan dengan menyerah sepenuhnya kepada pemerintah itulah sebenarnya wali Tuhan. Wali Tuhan pada peringkat ini menetap pada makam kehambaan dengan menyaksikan Rububiah pada setiap ketika dan dalam semua suasana.

MENGENAL ALLAH SWT itu hukumnya wajib FARDHU AIN

MENGENAL ALLAH SWT itu hukumnya wajib FARDHU AIN bagi setiap umat Islam yang sudah DEWASA dan BERAKAL SEHAT dan ILMUNYA terdapat dalam kalimat Tauhid LA ILAHA ILALLAH yang ada pada SYAHADAT yang menjadi RUKUN ISLAM yang PERTAMA.
Jadi UMAT ISLAM yang belum mengenal ALLAH SWT itu karena masih ANAK - ANAK sehingga SYAHADAT hanya sekedar di UCAPKAN SAJA atau BELUM SEMPURNA.........
Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bersabda :
“ Demi yang diriku ditangannya (kekuasaannya), jika sekiranya langit dan bumi beserta isinya dan apa-apa yang ada di antaranya dan apa-apa yang ada di bawahnya diletakkan disatu tempat pada timbangan dan kalimah La Ilaha Illallah disebelah yang lainnya, maka tempat kalimah (La Ilaha Illallah) itulah yang lebih berat ”. (Riwayat Al-Imam At-Thabrani)