Pages

Memaparkan catatan dengan label nabi musa. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label nabi musa. Papar semua catatan

Ahad, 23 April 2017

Wahai Nabi Musa, apa yang ada ditanganmu itu?

Tengah jemur kain jiran datang tegur, 'jemur kain ke?' Tapi kita jawab "eh tak la tengah masak" soalan mesra dijawab dengan sindiran.
.
Allah bertanya "Wahai Nabi Musa, apa yang ada ditanganmu itu? Jawab Musa; "Inilah tongkatku, aku gunakan untuk berjalan dan aku gunakan untuk memukul daun2 kayu supaya gugur untuk kambing2ku".

Kenapa Allah masih bertanya Nabi Musa sedangkan Allah Maha Mengetahui? Kerana... begitulah cara Allah bermesra dengan NabiNya walaupun Allah sudah tau tetapi Allah tetap bertanya.

Dalam kehidupan manusia cuba bayangkan kita sedang jemur kain, tiba2 datang seorang kawan kita bertanya "buat apa tu?" Kita pun menjawab " Tengah masak !"

Kawan kita tanya tu bukan sebab dia tak tau tapi dia nak bermesra dengan kita. Orang nak bermesra dengan kita, kita layan dia dengan sindiran. Itu tak patut. " -TG Haron Din

"Saya ada RM 1, awak ada RM 1. Kalau kita tukar suka sama suka RM 1 itu, kita masih lagi ada RM 1 masing-masing.

Tapi, kalau saya ada 1 ilmu dan awak 1 ilmu, kemudian kita betukar-tukar ilmu itu, masing-masing akan ada 2 ilmu".

........

Aku tnya dia kenapa kamu sentiasa suka minum air di masjid/surau padahal air tu di rumah kamu pun ada?!!
Dia jawab: supaya org yg letak air di masjid/surau ni diberi ganjaran oleh Allah

........

Bilamana sampai  kpd kamu gosip2 tentang seseorang, maka biarlah gosip tu terhenti setakat kamu shj. Dan jika berita tu berhenti setakat kamu shj, bermakna kamu telah dpt phala tutup aib org. Baragsiapa yg tutup aib mana2 muslim, Allah akan tutup juga aib dia.

........

3 doa yg wajar kmu ingt utk dibaca semasa sujud2 kamu:-

1. Ya Allah, aku mohon dgn Mu pengakhiran yg baik.

2. Ya Allah, kurnialah kpd ku taubat nasuha sblum aku mati.

3. Wahai Allah yg membolakbalikkan hati, tetapkanlah hatiku atas agamaMu.

Sehinggakan bila kamu berniat utk sebarkan ucapan ini, meniatkn shj tu pun dh dikira sbg kbaikan. Moga2 dengannya Allah melepaskan kesusahan drpd kesusahan2 di dunia dan akhirat.

Pringatn:~ buatlah baik walau sekecil kecilnya. ''

Rabu, 28 Disember 2016

BELAJAR MELIHAT KEBAIKAN DAN KECANTIKAN DI DALAM KEBURUKAN

NABI MUSA A.S MELIHAT BANGKAI SEEKOR ANJING YANG MATI DI PADANG PASIR.

SAHABAT SAHABATNYA MENUTUP HIDUNG.

MALAH ADA YANG LOYA DENGAN KEADAAN MATA ANJING YANG HAMPIR PECAH, ISI PERUT YANG TERBURAI..!

AKAN TETAPI NABI MUSA BERKATA,

"ALANGKAH PUTIHNYA GIGI ANJING ITU..!"

SAHABAT-SAHABATNYA MENEGUR BAGAIMANA NABI MUSA BOLEH BERKATA DEMIKIAN?

LALU NABI MUSA MENJAWAB,

"AKU SEDANG BELAJAR MELIHAT KEBAIKAN DAN KECANTIKAN DI DALAM KEBURUKAN..!"

SEMOGA KITA SEMUA BOLEH MELIHAT KEBAIKAN DI DALAM DIRI SESEORANG WAIMA MUSUH KITA SEKALIPUN.

INSYAALLAH!

HATI KITA AKAN BERTAMBAH SENANG DAN TENANG..!

JADILAH SEPERTI LEBAH..!

WALAUPUN HIDUP DI DALAM LAUTAN SAMPAH, BUNGA JUGA YANG DICARINYA..!

JANGANLAH JADI SEPERTI LALAT..!

WALAUPUN HIDUP DI TAMAN YANG INDAH, SAMPAH JUA YANG DINANTINYA..!

SEMOGA IKATAN KITA SESAMA INSAN AKAN LEBIH ERAT DAN HARMONI TANPA ADA RASA DENGKI, IRIHATI DAN BENCI-MEMBENCI ..!

"SEKIRANYA KITA MELIHAT SESUATU YANG BURUK PADA ORANG LAIN.

IA ADALAH CERMINAN UNTUK DIRI KITA..!

KERANA HANYA ORANG YANG HATINYA BERSIH, SELALU MELIHAT KEBAIKAN PADA ORANG LAIN..!"

DAHSYATNYA SURAT AL-IKHLAS...

SEMPATKANLAH SEBENTAR UNTUK MEMBACA TULISAN INI...

RASULULLAH MUHAMMAD SAW PADA SUATU KETIKA BERSABDA,

”DEMI ALLAH YANG JIWA KU DI GENGGAMAN-NYA,

SESUNGGUHNYA
QUL HUWALLAHU AHAD ITU TERTULIS DI SAYAP MALAIKAT JIBRAIL A.S,

ALLAHHUS SOMAD ITU TERTULIS DISAYAP MALAIKAT MIKAIL A.S,

LAMYALID WALAM YUULAD TERTULIS PADA SAYAP MALAIKAT IZRAIL A.S,

WALAM YAKULLAHU KUFUWAN AHAD TERTULIS PADA SAYAP MALAIKAT ISRAFIL A.S".

BERKATA IBNU ABBAS R.A. BAHWA RASULULLAH SAW TELAH BERSABDA,

"KETIKA AKU (RASULULLAH SAW) ISRA’ KE LANGIT,

SAYA MELIHAT ARASY DI ATAS 360,000 PILAR.

DAN JARAK JAUH ANTARA SATU PILAR KE SATU PILAR YANG LAIN IALAH 300,000 TAHUN PERJALANAN.

PADA TIAP-TIAP PILAR ITU TERDAPAT PADANG PASIR YANG JUMLAHNYA 12,000.

DAN LUASNYA SETIAP SATU PADANG ITU SELUAS DARI TIMUR HINGGA KE BARAT.

PADA SETIAP PADANG ITU TERDAPAT 80,000 MALAIKAT YANG MANA KESEMUANYA MEMBACA SURAT AL-IKHLAS.

SETELAH MEREKA SELESAI MEMBACA SURAH TERSEBUT MAKA BERKATA MEREKA,

”WAHAI TUHAN KAMI, SESUNGGUHNYA PAHALA DARI BACAAN KAMI INI KAMI BERIKAN KEPADA ORANG YANG MEMBACA SURAH AL-IKHLAS BAIK LELAKI MAU PUN PEREMPUAN".

RIWAYAT ANAS BIN MALIK .

JUGA MERAKAM KISAH BERKAITAN SURAT AL-IKHLAS.

SUATU KETIKA 70.000 MALAIKAT DIUTUS DATANG KEPADA SEORANG SAHABAT DI MADINAH YANG MENINGGAL.

KEDATANGAN PARA MALAIKAT ITU HINGGA MEREDUPKAN CAHAYA MATAHARI.

70,000 MALAIKAT ITU DIUTUS HANYA KERANA ARWAH SERING MEMBACA SURAH INI.

ANAS BIN MALIK YANG SAAT ITU BERSAMA NABI MUHAMMAD SAW DI TABUK MERASAKAN CAHAYA MATAHARI REDUP TIDAK SEPERTI BIASANYA DAN

MALAIKAT JIBRIL DATANG KEPADA NABI UNTUK MEMBERITAKAN KEJADIAN YANG SEDANG TERJADI DI MADINAH.

RASULULLAH S.A.W BERSABDA,

"BARANGSIAPA MEMBACA SURAH AL-IKHLAS SEWAKTU SAKIT SEHINGGA DIA MENINGGAL DUNIA,

MAKA TUBUHNYA TIDAK AKAN MEMBUSUK DI DALAM KUBURNYA,

AKAN SELAMAT DIA DARI KESEMPITAN KUBURNYA DAN

PARA MALAIKAT AKAN MEMBAWANYA DENGAN SAYAP MEREKA MELINTASI TITIAN SIRATUL MUSTAQIM LALU MENUJU KE SYURGA".

(HR QURTHUBY).

SUBHANALLAH....

SEMOGA KITA DAPAT MENGAMALKANNYA SETIAP WAKTU.

SAUDARAKU..

TOLONG SAMPAIKAN.

SABDA RASULULLAH SAW, "SIAPA YANG MENYAMPAIKAN SATU ILMU DAN ORANG MEMBACA MENGAMALKANNYA MAKA DIA AKAN BEROLEH PAHALA WALAUPUN SUDAH TIADA."

Isnin, 14 November 2016

Rahasia Alloh dan kisah Nabi Khidir

Rahasia Alloh dan kisah Nabi Khidir

Dikisahkan dalam Kitab suci Suatu saat Nabi Musa ingin belajar ilmu Kepada Nabi Khidir, tetapi nabi Khidir berpesan, kalau mau belajar dari beliau Nabi Musa tidak boleh banyak bertanya.

“Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu pun sehingga aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

demikian pesan Nabi Khidir ke Nabi Musa. Dan Nabi Musapun menyanggupinya.

Demikianlah seterusnya Nabi Musa a.s. mengikuti Nabi Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Nabi Musa a.s. yang telah berjanji bahwa baginda tidak akan bertanya sebab sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir.

Setiap tindakan Nabi Khidir a.s. itu dianggap aneh dan membuat Nabi Musa terperanjat.

Kejadian yang pertama adalah saat Nabi Khidir menghancurkan perahu yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk bertanya kepada Nabi Khidir.

Nabi Khidir memperingatkan janji Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf karena kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak bertanya terhadap setiap tindakan Nabi Khidir.

Selanjutnya setelah mereka sampai di suatu daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya.

Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepada Nabi Khidir.

Nabi Khidir kembali mengingatkan janji Nabi Musa, dan beliau diberi kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Khidir, jika masih bertanya lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bersama Nabi Khidir.

Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di suatu wilayah perumahan. Mereka kelelahan dan hendak meminta bantuan kepada penduduk sekitar.

Namun sikap penduduk sekitar tidak bersahabat dan tidak mau menerima kehadiran mereka, hal ini membuat Nabi Musa merasa kesal terhadap penduduk itu. Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah menyuruh Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut.

Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk bertanya terhadap sikap Nabi Khidir ini yang membantu memperbaiki tembok rumah setelah penduduk menzalimi mereka.

Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa beliau tidak dapat menerima Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bersama dengan Nabi Khidir.

Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa beliau melakukan hal-hal yang membuat Nabi Musa bertanya.

Kejadian pertama adalah Nabi Khidir menghancurkan perahu yang mereka tumpangi karena perahu itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di daerah itu tinggallah seorang raja yang suka merampas perahu miliki rakyatnya.

Kejadian yang kedua, Nabi Khidir menjelaskan bahwa beliau membunuh seorang anak karena kedua orang tuanya adalah pasangan yang beriman dan jika anak ini menjadi dewasa dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur.

Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mengasihi kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya.

Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khidir menjelaskan bahwa rumah yang dindingnya diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut.

Didalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua kakak beradik ini telah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih.

Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa dipastikan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan ditemukan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya.

Kisah diatas menunjukkan bahwa kita tidak boleh cepat berburuk sangka jika mendapatkan sesuatu yang diluar kehendak kita. Kita harus sabar dan bersyukur dengan apapun yang terjadi, keberhasilan harus kita syukuri, demikian pula cobaan harus kita syukuri.

Jangan cepat marah jika mengalami hal-hal yang tidak mengenakkan, mungkin Tuhan punya rahasia lain . Misal suatu saat mobil kita hilang , lalu kita marah dan putus asa.

Siapa tahu hilangnya mobil itu justru rahmat bukan bencana. Mungkin kalau mobil itu masih ada bisa menyebabkan kecelakaan dan musibah yang lebih besar ,jadi lebih baik jika mobil itu hilang.

Ada orang yang selalu berdoa untuk meminta ini dan itu, kalau ditulis bisa berbaris-baris, ada yang dikabulkan tetapi banyak juga yang tidak.

Awalnya dia marah karena merasa semua ibadah dan doanya sia-sia, namun setelah mendengar cerita nabi Khaidir di atas, pikirannya berubah total.

Ia tidak pernah menyesali permintaan yang tidak dikabulkan, tetapi malah bersyukur. Ia sadar mungkin yang diminta itu baik menurut pendapatnya, tetapi tidak bagi Tuhan.

Tuhan tahu apa yang lebih baik lagi baginya, yakni dengan tidak mengabulkan permintaannya. Sejak saat itu permintaannya dalam doa tidak lagi banyak berbaris-baris , tetapi hanya satu Kalimat :

”Ya Tuhan berilah apa yang terbaik bagiku, Amin”.

Doa ini sangat menentramkan, karena dia tidak pernah sedih dan kecewa dengan apa pun yang terjadi padanya , semua keberhasilan dan ”tidak” keberhasilan selalu disyukuri, karena ia yakin itulah yang terbaik baginya dari Tuhan.

Yang utama, berusahalah dengan maksimal dan berbuat baik sesuai ajaran agama kita, setelah itu berserahlah dan yakin semua yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita, maka tidak ada lagi kekecewaan dan kesedihan dengan apa yang terjadi dalam hidup ini. Yang ada hanya rasa syukur dan tenteram.

Rabu, 31 Ogos 2016

KEKASIH ALLAH DARI KALANGAN ORANG BERDOSA

Terdapat seorang lelaki pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam yang meninggal dunia. Orang ramai tidak mahu menguruskan jenazahnya kerana kefasikan lelaki ini. Mereka kemudiannya membuang jenazahnya ke sebuah tempat yang kotor dan busuk. Allah Subhanahu Wa Taala kemudiannya memberikan wahyu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Allah berfirman: “Wahai Musa, seorang lelaki telah meninggal dunia, tetapi orang-orang telah mencampakkan jenazahnya di tempat yang kotor, sedangkan dia ialah kekasih (wali) daripada kekasih-Ku, mereka tidak mahu memandikannya, mengkafankannya dan mengebumikan jenazahnya, maka pergilah engkau uruskan jenazahnya.”

Kemudian Nabi Musa ‘alaihissalam pun berangkat ke tempat tersebut. Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada orang-orang: “Beritahulah aku tempatnya.” Mereka pun bersama-sama menuju ke tempat tersebut. Ketika Nabi Musa ‘alaihissalam melihat mayatnya, orang-orang pun bercerita tentang kefasikannya. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam berbisik kepada Tuhan-Nya dengan berkata: “Ya Allah, Engkau memerintahkan aku untuk menguruskan mayatnya, sedangkan orang-orang telah menjadi saksi atas kejahatannya, maka Engkau lebih tahu daripada mereka.”

Kemudian Allah berfirman: “Wahai Musa, benarlah kata-kata kaummu tentang perilaku lelaki ini semasa hidup. Namun, ketika dia menghampiri ajalnya, dia memohon pertolongan dengan tiga perkara, jika semua orang yang berdosa memohon dengannya, pasti Aku akan mengampuninya dirinya demi Allah, Zat yang Maha Mengasihani.” Tanya Nabi Musa: “Ya Allah, apakah tiga perkara itu?”
Allah berfirman: “Ketika dia di ambang kematiannya,

1) Dia Benci Kemaksiatan Dalam Hati
Dia berkata: “Ya Tuhanku, Engkau tahu akan diriku, penuh dengan kemaksiatan, sedangkan aku sangat benci kepada kemaksiatan dalam hati, tetapi jiwaku terkumpul tiga sebab aku melakukan maksiat walaupun aku membencinya dalam hatiku iaitu, hawa nafsuku, teman yang jahat dan Iblis yang laknat. Inilah yang menyebabku terjatuh dalam kemaksiatan, sesungguhnya Engkau lebih tahu daripada apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.”

2) Mencintai Orang Soleh
Dia berkata: “Ya Allah, Engkau tahu diriku penuh dengan kemaksiatan, dan tempat aku ialah bersama orang fasik, tetapi aku amat mengasihi orang-orang yang soleh walau aku bukan dari kalangan mereka, kezuhudan mereka dan aku lebih suka duduk bersama mereka daripada bersama orang fasik. Aku benci kefasikan walau aku adalah ahli fasik.”

3) Mengharap Rahmat Allah Dan Tidak Berputus Asa
Dia berkata: “Ya Allah, jika dengan meminta untuk dimasukkan ke dalam syurga itu akan mengurangkan kerajaan-Mu, sudah pasti aku tidak akan memintanya, jika bukan Engkau yang mengasihaniku maka siapakah yag akan mengasihaniku?”

Lelaki itu kemudian berkata lagi: “Ya Allah, jika Engkau mengampuni dosa-dosaku bagai buih di pantai, maka bahagialah kekasih-kekasih-Mu, Nabi-Nabi-Mu, manakala syaitan dan Iblis akan merasa susah. Sebaliknya jika Engkau tidak mengampuniku, maka syaitan dan Iblis akan bersorak kegembiraan dan para Nabi-Mu dan kekasih-Mu akan merasa sedih. Oleh itu, ampunilah aku wahai Tuhan Pencipta Sekalian Alam, sesungguhnya Engkau tahu apa yang aku ucapkan.”

Maka, Allah pun berfirman: “Lantas Aku mengasihaninya dan Aku mengampuni segala dosanya, sesungguhnya Aku Maha Mengasihani, khusus bagi orang yang mengakui kesalahan dan dosanya di hadapan-Ku. Hamba ini telah mengakui kesalahannya, maka Aku ampuninya. Wahai Musa, lakukan apa yang Aku perintahkan, sesungguhnya Aku memberi keampunan sebab mulianya orang yang menguruskan jenazahnya dan menghadiri pengebumiannya.”

(Riwayat Wahhab bin Munabbih, Kitab Tawwabin susunan Imam Ibnu Qudamah)

————–
Kisah ini menunjukkan kita tidak boleh sama sekali berputus asa dari rahmat Allah yang amat luas walau apa jua sekali pun. Firman Allah: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (Surah Al-A’raf : 156).
Dan benarlah sabdaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya. Sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk ke dalam syurga, namun dia berubah dan beramal dengan amal keburukan.

Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya dia meninggal pada saat itu, dia akan masuk neraka, namun dia berubah dan beramal dengan amal kebaikan.

Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Dia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?” Beliau bersabda: “Memberinya taufik untuk beramal kebaikan, setelah itu Dia mewafatkannya.” (Musnad Ahmad, no. 11768)ml

Wallahu a’lam bissawab

Ahad, 13 Disember 2015

4 orang Nabi yang masih hidup

Nabi Ilyas A.S.

Ketika sedang berehat datanglah malaikat kepada Nabi Ilyas A.S. Malaikat itu datang untuk menjemput ruhnya. Mendengar berita itu, Ilyas menjadi sedih dan menangis.
“Mengapa engkau bersedih?” tanya malaikat maut.

“Tidak tahulah.” Jawab Ilyas.
“Apakah engkau bersedih kerana akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi maut?” tanya malaikat.

“Tidak. Tiada sesuatu yang aku sesali kecuali kerana aku menyesal tidak boleh lagi berzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup boleh terus berxikir memuji Allah,” jawab Ilyas.

Saat itu Allah lantas menurunkan wahyu kepada malaikat agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas berzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas ingin terus hdup semata-mata kerana ingin berzikir kepada Allah. Maka berzikirlah Nabi Ilyas sepanjang hidupnya.

“Biarlah dia hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berzikir kepada-Ku sampai akhir nanti.” Kata Allah.

3. Nabi ‘Idris A.S.
Diriwayatkan Nabi Idris as. telah naik ke langit pada hari Isnin. Peristiwa naiknya Nabi Idris as. ke langit ini, telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Quran.

Firman Allah SWT bermaksud:
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah, Idris yang tersebut di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.”
(Maryam: 56-57)

Nama Nabi Idris as. yang sebenarnya adalah ‘Akhnukh’. Sebab beliau dinamakan Idris, kerana beliau banyak membaca, mempelajari (tadarrus) kitab Allah SWT.

Setiap hari Nabi Idris menjahit qamis (baju kemeja), setiap kali beliau memasukkan jarum untuk menjahit pakaiannya, beliau mengucapkan tasbih. Jika pekerjaannya sudah selesai, kemudian pakaian itu diserahkannya kepada orang yang menempahnya dengan tanpa meminta upah.

Walaupun demikian, Nabi Idris masih sanggup beribadah dengan amalan yang sukar untuk digambarkan. Sehingga Malaikat Maut sangat rindu berjumpa dengan beliau.

Kemudian Malaikat Maut bermohon kepada Allah SWT, agar diizinkan untuk pergi menemui Nabi Idris as. Setelah memberi salam, Malaikat pun duduk.

Nabi Idris as. mempunyai kebiasaan berpuasa sepanjang masa. Apabila waktu berbuka telah tiba, maka datanglah malaikat dari Syurga membawa makanan Nabi Idris, lalu beliau menikmati makanan tersebut.

Kemudian baginda beribadah sepanjang malam. Pada suatu malam Malaikat Maut datang menemuinya, sambil membawa makanan dari Syurga. Nabi Idris menikmati makanan itu. Kemudian Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai tuan, marilah kita nikmati makanan ini bersama-sama.” Tetapi Malaikat itu menolaknya.

Nabi Idris terus melanjutkan ibadahnya, sedangkan Malaikat Maut itu dengan setia menunggu sampai terbit matahari. Nabi Idris merasa hairan melihat sikap Malaikat itu. Kemudian beliau berkata: “Wahai tuan, mahukah tuan bersiar-siar bersama saya untuk melihat keindahan alam persekitaran? Malaikat Maut menjawab: Baiklah Wahai Nabi Allah Idris.”

Maka berjalanlah keduanya melihat alam persekitaran dengan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan hidup di situ. Akhirnya ketika mereka sampai pada suatu kebun, maka Malaikat Maut berkata kepada Nabi Idris as.:

“Wahai Idris, adakah tuan izinkan saya untuk mengambil ini untuk saya makan? Nabi Idris pun menjawab: Subhanallah, mengapa malam tadi tuan tidak mahu memakan makanan yang halal, sedangkan sekarang tuan mahu memakan yang haram?”

Kemudian Malaikat Maut dan Nabi Idris meneruskan perjalanan mereka. Tidak terasa oleh mereka bahawa mereka telah bersiar-siar selama empat hari. Selama mereka bersahabat, Nabi Idris menemui beberapa keanehan pada diri temannya itu. Segala tindak-tanduknya berbeza dengan sifat-sifat manusia biasa. Akhirnya Nabi Idris tidak dapat menahan hasrat ingin tahunya itu.

Kemudian beliau bertanya: “Wahai tuan, bolehkah saya tahu, siapakah tuan yang sebenarnya?
Saya adalah Malaikat Maut.”
“Tuankah yang bertugas mencabut semua nyawa makhluk?”
“Benar ya Idris.”
“Sedangkan tuan bersama saya selama empat hari, adakah tuan juga telah mencabut nyawa-nyawa makhluk?”

“Wahai Idris, selama empat hari ini banyak sekali nyawa yang telah saya cabut. Roh makhluk-makhluk itu bagaikan hidangan di hadapanku, aku ambil mereka bagaikan seseorang sedang menyuap-nyuap makanan.”

“Wahai Malaikat, apakah tujuan tuan datang, apakah untuk ziarah atau untuk mencabut nyawaku?”

“Saya datang untuk menziarahimu dan Allah SWT telah mengizinkan niatku itu.”
“Wahai Malaikat Maut, kabulkanlah satu permintaanku kepadamu, iaitu agar tuan mencabut nyawaku, kemudian tuan mohonkan kepada Allah agar Allah menghidupkan saya kembali, supaya aku dapat menyembah Allah Setelah aku merasakan dahsyatnya sakaratul maut itu.”

Malaikat Maut pun menjawab: “Sesungguhnya saya tidaklah mencabut nyawa seseorang pun, melainkan hanya dengan keizinan Allah.”

Lalu Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut, agar ia mencabut nyawa Idris as. Maka dicabutnyalah nyawa Idris saat itu juga. Maka Nabi Idris pun merasakan kematian ketika itu.

Di waktu Malaikat Maut melihat kematian Nabi Idris itu, maka menangislah ia. Dengan perasaan hiba dan sedih ia bermohon kepada Allah supaya Allah menghidupkan kembali sahabatnya itu. Allah mengabulkan permohonannya, dan Nabi Idris pun dihidupkan oleh Allah SWT kembali.

Kemudian Malaikat Maut memeluk Nabi Idris, dan ia bertanya: “Wahai saudaraku, bagaimanakah tuan merasakan kesakitan maut itu? “
“Bila seekor binatang dilapah kulitnya ketika ia masih hidup, maka sakitnya maut itu seribu kali lebih sakit daripadanya.

“Padahal-kelembutan yang saya lakukan terhadap tuan, ketika saya mencabut nyawa tuan itu, belum pernah saya lakukan terhadap sesiapa pun sebelum tuan.”
“Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai permintaan lagi kepada tuan, iaitu saya sungguh-sungguh berhasrat melihat Neraka, supaya saya dapat beribadah kepada Allah SWT lebih banyak lagi, setelah saya menyaksikan dahsyatnya api neraka itu.”
“Wahai Idris as. saya tidak dapat pergi ke Neraka jika tanpa izin dari Allah SWT.”

Akhirnya Allah SWT mewahyukan kepada Malaikat Maut agar ia membawa Nabi Idris ke dalam Neraka. Maka pergilah mereka berdua ke Neraka. Di Neraka itu, Nabi Idris as. dapat melihat semua yang diciptakan Allah SWT untuk menyiksa musuh-musuh-Nya. Seperti rantai-rantai yang panas, ular yang berbisa, kala, api yang membara, timah yang mendidih, pokok-pokok yang penuh berduri, air panas yang mendidih dan lain-lain.

Setelah merasa puas melihat keadaan Neraka itu, maka mereka pun pulang. Kemudian Nabi Idris as. berkata kepada Malaikat Maut: “Wahai Malaikat Maut, saya mempunyai hajat yang lain, iaitu agar tuan dapat menolong saya membawa masuk ke dalam Syurga. Sehingga saya dapat melihat apa-apa yang telah disediakan oleh Allah bagi kekasih-kekasih-Nya. Setelah itu saya pun dapat meningkatkan lagi ibadah saya kepada Allah SWT. Saya tidak dapat membawa tuan masuk ke dalam Syurga, tanpa perintah dari Allah SWT.” Jawab Malaikat Maut.

Lalu Allah SWT pun memerintahkan kepada Malaikat Maut supaya ia membawa Nabi Idris masuk ke dalam Syurga.
Kemudian pergilah mereka berdua, sehingga mereka sampai di pintu Syurga dan mereka berhenti di pintu tersebut.

Dari situ Nabi Idris dapat melihat pemandangan di dalam Syurga. Nabi Idris dapat melihat segala macam kenikmatan yang disediakan oleh Allah SWT untuk para wali-waliNya. Berupa buah-buahan, pokok-pokok yang indah dan sungai-sungai yang mengalir dan lain-lain.

Kemudian Nabi Idris berkata: “Wahai saudaraku Malaikat Maut, saya telah merasakan pahitnya maut dan saya telah melihat dahsyatnya api Neraka. Maka mahukah tuan memohonkan kepada Allah untukku, agar Allah mengizinkan aku memasuki Syurga untuk dapat meminum airnya, untuk menghilangkan kesakitan mati dan dahsyatnya api Neraka?”

Maka Malaikat Maut pun bermohon kepada Allah. Kemudian Allah memberi izin kepadanya untuk memasuki Syurga dan kemudian harus keluar lagi. Nabi Idris pun masuk ke dalam Syurga, beliau meletakkan kasutnya di bawah salah satu pohon Syurga, lalu ia keluar kembali dari Syurga. Setelah beliau berada di luar.

Nabi Idris berkata kepada Malaikat Maut:
“Wahai Malaikat Maut, aku telah meninggalkan kasutku di dalam Syurga.
Malaikat Maut pun berkata: Masuklah ke dalam Syurga, dan ambil kasut tuan.”
Maka masuklah Nabi Idris, namun beliau tidak keluar lagi, sehingga Malaikat Maut memanggilnya: “Ya Idris, keluarlah!. Tidak, wahai Malaikat Maut, kerana Allah SWT telah berfirman bermaksud: “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
(Ali-Imran: 185)

Sedangkan saya telah merasakan kematian. Dan Allah berfirman yang bermaksud:“Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi Neraka itu.” (Maryam: 71)

Dan saya pun telah mendatangi Neraka itu. Dan firman Allah lagi yang bermaksud:“… Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya (Syurga).” (Al-Hijr: 48)

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut itu: “Biarkanlah dia, kerana Aku telah menetapkan di azali, bahawa ia akan bertempat tinggal di Syurga.”
Allah menceritakan tentang kisah Nabi Idris ini kepada Rasulullah SAW dengan firman-Nya bermaksud: “Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris yang tersebut di dalam Al-Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 56-57)

4.  Nabi ‘Isa A.S.

Seorang lagi Nabi Allah yang diceritakan dari kecil di dalam al-Qur’an ialah Isa. Baginda diutus kepada kaum Bani Israil dengan kitab Injil yang diturunkan sebelum al-Qur’an.

Di dalam al-Qur’an, Nabi Isa disebut dengan empat panggilan iaitu Isa, Isa puteraMariam, putera Mariam, dan al-Masih.

Ibunya seorang yang sangat dimuliakan Allah. Dia memilihnya di atas semua perempuan di semua alam. Firman-Nya, “Dan ketika malaikat-malaikat berkata, ‘Wahai Mariam, Allah memilih kamu, dan membersihkan kamu, dan Dia memilih kamu di atas semua perempuan di semua alam’” (3:42).

Mariam, ibu Nabi Isa, telah menempuh satu ujian yang amat berat daripada Allah. Dia dipilih untuk melahirkan seorang Nabi dengan tanpa disentuh oleh seseorang lelaki. Dia adalah seorang perempuan yang suci.

Kelahiran
Kelahiran Nabi Isa merupakan suatu mukjizat kerana dilahirkan tanpa bapa. Kisahnya diceritakan di dalam al-Qur’an. Di sini, ceritanya bermula dari kunjungan malaikat kepada Mariam atas perintah Allah. Ketika itu, malaikat menyerupai manusia dengan tanpa cacat.

Kemunculan malaikat membuat Mariam menjadi takut lalu berkata,
“Aku berlindung pada Yang Pemurah daripada kamu, jika kamu bertakwa (takut kepada Tuhan)!’
Dia (malaikat) berkata, ‘Aku hanyalah seorang rasul yang datang daripada Pemelihara kamu, untuk memberi kamu seorang anak lelaki yang suci.’” (19:18-19)

Pada ayat yang lain, diceritakan bahawa malaikat yang datang itu telah memberi nama kepada putera yang bakal dilahirkan. Nama itu diberi oleh Allah, dan dia (Isa) akan menjadi terhormat di dunia dan akhirat sambil berkedudukan dekat dengan Tuhan.

Ayatnya berbunyi:
“Wahai Mariam, Allah menyampaikan kepada kamu berita gembira dengan satu Kata daripada-Nya, yang namanya al-Masih, Isa putera Mariam, terhormat di dunia dan di akhirat, daripada orang-orang yang didekatkan.” (3:45)

Kemudian Mariam bertanya,
“Bagaimanakah aku akan ada seorang anak lelaki sedang tiada seorang manusia pun menyentuhku, dan bukan juga aku seorang jalang?” (19:20)

Malaikat menjawab,
“Dia (Allah) berkata, ‘Begitulah; Pemelihara kamu telah berkata, ‘Itu mudah bagi-Ku; dan supaya Kami membuat dia satu ayat (tanda) bagi manusia, dan satu pengasihan daripada Kami; ia adalah perkara yang telah ditentukan’” (19:21).

Maka lahirlah Isa putera Mariam lebih enam ratus tahun sebelum Nabi Muhammad dilahirkan. Allah membuat Nabi Isa dan ibunya satu ayat (tanda) bagi manusia, iaitu tanda untuk menunjukkan kebesaran-Nya (23:50).

Kerasulan dan Kenabian

Isa adalah seorang Nabi dan juga seorang Rasul. Baginda dan beberapa orang rasul telah dilebihkan Allah daripada rasul-rasul lain. Ada yang Dia berkata-kata kepadanya, ada yang Dia menaikkan darjat, dan bagi Isa, Dia memberi bukti-bukti yang jelas serta mengukuhkannya dengan Roh Suci.

Firman-Nya:
“Dan rasul-rasul itu, sebahagian Kami melebihkan di atas sebahagian yang lain. Sebahagian ada yang kepadanya Allah berkata-kata, dan sebahagian Dia menaikkan darjat. Dan Kami memberikan Isa putera Mariam bukti-bukti yang jelas, dan Kami mengukuhkan dia dengan Roh Qudus (Suci).” (2:253)

Namun begitu, manusia dilarang oleh Allah untuk membeza-bezakan antara para rasul dan Nabi. Larangan itu berbunyi,
“Katakanlah, ‘Kami percaya kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, dan Ismail, dan Ishak, dan Yaakub, dan puak-puak, dan apa yang diberi kepada Musa, dan Isa, dan apa yang diberi kepada Nabi-Nabi daripada Pemelihara mereka. Kami tidak membeza-bezakan seorang pun antara mereka, dan kepada-Nya kami muslim.’” (2:136)

Akibat membeza-bezakan Nabi atau Rasul dapat dilihat pada hari ini, iaitu Nabi Isa dipercayai oleh sesetengah pihak sebagai Tuhan atau anak Tuhan, dan Nabi Muhammad, dianggap macam Tuhan, yang berhak membuat hukum agama.

Ajaran

Oleh kerana Isa seorang Nabi baginda diberi sebuah Kitab, Injil, yang mengandungi petunjuk dan cahaya untuk menjadi pegangan Bani Israil. Selain menyuruh Bani Israil menyembah Allah dengan mentaati Injil, baginda mengesahkan kitab Taurat yang diturunkan sebelumnya.

Dua firman Allah menjelaskannya di sini, berbunyi:
“Dan Kami mengutus, menyusuli jejak-jejak mereka, Isa putera Mariam, dengan mengesahkan Taurat yang sebelumnya; dan Kami memberinya Injil, di dalamnya petunjuk dan cahaya,” (5:46)

“Aku (Isa) hanya mengatakan kepada mereka apa yang Engkau memerintahkan aku dengannya: ‘Sembahlah Allah, Pemelihara aku dan Pemelihara kamu.’” (5:117)

Turut disebut di dalam Injil (dan Taurat) ialah berita mengenai kedatangan seorang Nabi berbangsa Arab, atau ummiy (7:157), dan janji dikurniakan Taman atau Syurga bagi orang-orang yang berperang di jalan Allah (9:111). Janji itu juga didapati di dalam Taurat dan al-Qur’an.

Ketika baginda diutus, manusia sedang berselisih dalam hal agama. Maka kedatangannya adalah juga untuk memperjelaskan apa yang diperselisihkan.

Firman Allah:
“dia (Isa) berkata, ‘Aku datang kepada kamu dengan kebijaksanaan, dan supaya aku memperjelaskan kepada kamu sebahagian apa yang dalamnya kamu memperselisihkan; maka kamu takutilah Allah, dan taatlah kepadaku.’” (43:63)

Baginda juga memberitahu tentang kedatangan seorang rasul selepas baginda, yang namanya akan dipuji. Ayat yang mengisahkannya berbunyi:
“Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku (Isa) rasul Allah kepada kamu, mengesahkan Taurat yang sebelum aku, dan memberi berita gembira dengan seorang rasul yang akan datang selepas aku, namanya ahmad (dipuji).” (61:6)

Ahad, 28 September 2014

TEMPAT PERTEMUAN DUA LAUTAN

TEMPAT PERTEMUAN DUA LAUTAN
Matikan sangkaan ada diri sendiri disamping ada Allah
Hidup atau hadzirkan rasa ada Allah sahaja (esa).
Ada yang mana satu yang hendak dihadzirkan sebagai ada Allah..
Ada yang sedang dirasai sekarang ini, yang selama ini telah disangka sebagai ada diri sendiri disamping ada Allah.
Ada yang sedang dirasa yang selama ini yang telah disangka ada diri sendiri itu hendaklah disangka sebagai ada Allah yang sedikit yang diperkenalkan.
Yang sedang menyangka ada yang sedang dirasai sekarang ini sebagai ada Allah yang sedikit yang sedang diperkenalkan juga adalah Allah sendiri..
Istiharkan perang dengan sangkaan ada diri sendiri disamping ada Allah sehingga sangkaan ada Allah mencapai kemenangan.
Tanda sangkaan ada Allah telah mencapai kemenangan ialah tidak lagi timbul sangkaan ada diri sendiri....
Tidak lagi merasa ada diri sendiri kerana sedang merasa ada Allah semata-mata.... Esa adanya.
Bila sudah mencapai dan sedang merasa Allah sedang merasa ada Allah 
( AKU KENAL TUHANKU DENGAN TUHANKU)..
Maka ternyatalah Allah yang awal, Allah yang akhir, Allah yang zahir, Allah yang batin..
Zahir Allah namanya Adam (Huwaz zohiru)
Batin Allah namaNya Muhammad (huwal batinu)
Sabda Nabi Muhammad saw "ANA ABU AR RUH WA ADAM ABU BASYAR
Rahsia Allah Huu zat semata-mata ( huwal auwalu, huwal akhiru)..
Allah nama bagi zat Allah setelah dinyatakan kenyataannya pada keseluruhan Alam ini. - kenyataannya ialah ketika keluarnya nafas.
Huu zat semata-mata Nama bagi zat Allah sebelum ternyatanya kenyataan Allah 
( Akulah perbendaharaan yang tersembunyi) kenyataannya ketika masuknya nafas.
Haq Nama kebenaran Allah, kenyataannya ditempat pertemuan, atau perhentian nafas (tidak masuk dan tidak keluar - pertemuan diantara hamba dengan tuhan, tiada tuhan dan tiada hamba lagi hanya Esa zat semata-mata - HAQ.
Disinilah pertemuan diantara dua lautan (lautan lahir dan lautan batin - pertemuan huwaz zohiru (dikiaskan kepada nabi Musa a.s dengan huwal batinu (dikiaskan dengan Nabi khidzir)
Hum adalah nama Allah yang penghabisan kali disebut ketika terputusnya nafas yang penghabisan, dimana anak tekak akan membentuk huruf mim...
Alif kenyataannya pada batang hidung,
Lam kenyataannya pada lidah (tertungkat kelangit-langit yang telah membenarkan nafas yang penghabisan melaluinya untuk keluar melalui ubun-ubun sepertimana ianya mula-mula masuk kedalam tubuh setelah roh ditiupkan... (Mengikut jalan yang lurus)..Jika lidah tidak tertungkat kelangit-langit ditakuti nafas yang penghabisan tersalah jalan ( bukan jalan yang lurus tetapi jalan yang tersesat).
Mim kenyataannya pada anak tekak akan membentuk huruf mim setelah nafas yang penghabisan terputus (kullunafsin za i khotul maut)...
Apabila berlakunya nafas yang penghabisan maka terputuslah hubungan diantara Roh (Huwal batinu) dengan jasad (huwaz zohiru).. nyatalah Huwal akhiru...
Alif lam mim - Allah latifun muhitul lil 'alamin... Allah maha lemah lembut serta meliputi keseluruhan alam zahir dan batin ( huwaz zohiru huwal batinu)...
Jasad sentiasa mati seperti matinya mayat. Sebagaimana mayat begitulah jasad kita sekarang ini.
Mayat nampak hidup kerana telah ditiupkan Rohullah kedalamnya. Sebenarnya Rohullah inilah yang hidup, hidup Rohullah terpancar dan terlihat keatas jasad atau badan melalui nafas.. Selagi ada nafas selagi itulah jasad akan nampak hidup, segala sifat-sifat ketuhanan yang terlihat, yang terasa pada badan atau jasad adalah sifat Rohullah yang dinyatakan keatas badan melalui nafas..
Jadi nafas sebenarnya adalah pekerjaan Rohullah yang menyampaikan segala apa yang ada pada Rohullah kepada jasad...
Rohullah adalah sifat ketuhanan Allah, Rohullah bersifat dengan cara ghaib iaitu tidak nampak oleh mata, tidak dapat dipegang oleh tangan, tidak dapat difikirkan oleh akal. Sifat Rohullah ini ternyata kepada badan melalui nafas.....
Nafas adalah jalan yang sentiasa menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah. Setelah terhenti nafas maka terputuslah jambatan atau jalan penghubung yang menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah...
Nafas adalah jalan yang menghubungkan diantara Rohullah dengan jasad. Nafas juga adalah jalan atau tempat dimana Rohullah menyerahkan apa yang ada padanya kepada jasad dan tempat atau jalan dimana jasad akan menyerahkan apa yang ada padanya kepada Rohullah...
Setelah Ruhullah ditiupkan kedalam jasad maka nafaslah yang menjadi jalan penghubung diantara Rohullah dengan jasad....
Setelah keluar sahaja dari rahim ibu (surga) maka Rohullah sentiasa terhubung dengan jasad melalui nafas..
Nafas ini adalah jalan yang lurus yang telah dipertaruhkan keatas setiap badan diri, hendaklah dijaga jalan yang lurus ini supaya tidak tersesat jalan...
Jagalah jalan yang lurus ini supaya tidak tersesat jalan, bernafaslah sepertimana bayi yang didalam buaian bernafas, janganlah lari atau terkeluar dari cara bernafasnya bayi ( sabda Nabi Muhammad saw yang bermaksud tuntutlah ilmu dari bayi didalam buaian sehinggalah kepada jasad didalam liang lahad)..
Jalannya pernafasan bayi didalam buaian belum lagi tersesat, sebab itu bayi sehingga kepada kanak-kanak sebelum berakal tidak berdosa, jalannya belum lagi tersesat,
Nafasnya sentiasa berada diatas jalan yang lurus dan sentiasa terhubung kepada Rohullah dan seterusnya terhubung kepada Allah.
Sebab itu bayi didalam buaian sehingga kepada kanak-kanak yang belum berakal tidak terkena dosa.
Oleh yang demikian wahai para sahabat sekalian kembalilah kepada jalan yang lurus sepertimana jalannya bayi.. Kembalilah bernafas sepertimana bayi didalam buaian bernafas kerana nafaslah merupakan satu-satunya jalan yang menghubungkan diantara jasad dengan Rohullah.
Apabila terputus nafas pada nafas yang penghabisan maka seseorang itu telah dikatakan mati..
Nafas merupakan jalan atau tempat Rohullah menyerahkan apa yang ada padanya kepada jasad dan tempat atau jalan dimana jasad menyerahkan apa yang ada padanya kepada rohullah...
Jagalah jalannya nafas supaya tidak tersesat kerana lurusnya jalan pernafasan itu maka luruslah perjalanan kembali kepada Allah..
Kembalilah bernafas sepertimana bayi bernafas iaitulah jalan yang lurus yang terletak dan dipunyai oleh setiap badan diri sendiri...
Tersesatnya jalan pernafasan maka akan tersesatlah jalan untuk kembali kepada asal iaitu kepada Allah ( daripada Allah kita datang dan kepada Allah kita akan kembali)...
18.Surah Al-Kahf (Verse 61)

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Maka apabila mereka berdua sampai ke tempat pertemuan dua laut itu, lupalah mereka akan hal ikan mereka, lalu ikan itu menggelunsur menempuh jalannya di laut, yang merupakan lorong di bawah tanah.
18.Surah Al-Kahf (Verse 62)

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبًا

Setelah mereka melampaui (tempat itu), berkatalah Nabi Musa kepada temannya: "Bawalah makan tengah hari kita sebenarnya kita telah mengalami penat lelah dalam perjalanan kita ini".
18.Surah Al-Kahf (Verse 63)

قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُۚ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا

Temannya berkata: "Tahukah apa yang telah terjadi ketika kita berehat di batu besar itu? Sebenarnya aku lupakan hal ikan itu; dan tiadalah yang menyebabkan aku lupa daripada menyebutkan halnya kepadamu melainkan Syaitan; dan ikan itu telah menggelunsur menempuh jalannya di laut, dengan cara yang menakjubkan".
18.Surah Al-Kahf (Verse 64)

قَالَ ذَٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِۚ فَارْتَدَّا عَلَىٰ آثَارِهِمَا قَصَصًا

Nabi Musa berkata: "Itulah yang kita kehendaki "; merekapun balik semula ke situ, dengan menurut jejak mereka.
18.Surah Al-Kahf (Verse 65)

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami yang telah kami kurniakan kepadanya rahmat dari Kami, dan Kami telah mengajarnya sejenis ilmu; dari sisi Kami.
18.Surah Al-Kahf (Verse 66)

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Nabi Musa berkata kepadanya: Bolehkah aku mengikutmu, dengan syarat engkau mengajarku dari apa yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu, ilmu yang menjadi petunjuk bagiku?"
18.Surah Al-Kahf (Verse 67)

قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Ia menjawab: "Sesungguhnya engkau (wahai Musa), tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku.
18.Surah Al-Kahf (Verse 68)

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا

Dan bagaimana engkau akan sabar terhadap perkara yang engkau tidak mengetahuinya secara meliputi?
18.Surah Al-Kahf (Verse 69)

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

Nabi Musa berkata: "Engkau akan dapati aku, Insyaa Allah: orang yang sabar; dan aku tidak akan membantah sebarang perintahmu".
18.Surah Al-Kahf (Verse 70)

قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّىٰ أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا

Ia menjawab: "Sekiranya engkau mengikutku, maka janganlah engkau bertanya kepadaku akan sesuatupun sehingga aku ceritakan halnya kepadamu".
Cuba perhatikan didalam firman Allah seperti diatas, tempat pertemuan dua laut itu diatas batu besar, Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan batu besar itu?....
PANTANG NABI MUSA NAK BELAJAR DARI NABI KHIDIR IALAH "JANGAN BERTANYA SESUATUPUN"
Apabila kedua-duanya bersetuju dengan syarat itu maka perjalanan diteruskan....
Lagi firman Allah
18.Surah Al-Kahf (Verse 71)

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَاۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

Lalu berjalanlah keduanya sehingga apabila mereka naik ke sebuah perahu, ia membocorkannya. Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membocorkannya sedang akibat perbuatan itu menenggelamkan penumpang-penumpangnya? 
Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perkara yang besar".

18.Surah Al-Kahf (Verse 72)

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Ia menjawab: "Bukankah aku telah katakan, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?"
18.Surah Al-Kahf (Verse 73)

قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا

Nabi Musa berkata: "Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu); dan janganlah engkau memberati daku dengan sebarang kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu)".
18.Surah Al-Kahf (Verse 74)

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu ia membunuhnya. Nabi Musa berkata "Patutkah engkau membunuh 
satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa membunuh orang? Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!"

18.Surah Al-Kahf (Verse 75)

قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Ia menjawab: "Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahawa engkau tidak sekali-kali akan dapat bersabar bersamaku?"
18.Surah Al-Kahf (Verse 76)

قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِيۖ قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا

Nabi Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sebarang perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku".

18.Surah Al-Kahf (Verse 77)

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَن يَنقَضَّ فَأَقَامَهُۖ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk sebuah bandar, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu ia membinanya. Nabi Musa berkata: "Jika engkau mahu, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya!"

18.Surah Al-Kahf (Verse 78)

قَالَ هَٰذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَۚ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

Ia menjawab: "Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian yang dimusykilkan) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.
18.Surah Al-Kahf (Verse 79)


أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat.
18.Surah Al-Kahf (Verse 80)

وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا

Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa ia akan mendesak mereka melakukan perbuatan yang 
zalim dan kufur.

18.Surah Al-Kahf (Verse 81)

فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا

Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa, dan lebih mesra kasih sayangnya.
18.Surah Al-Kahf (Verse 82)

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِيۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu; dan di bawahnya ada "harta terpendam" kepuyaan mereka; dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka). Dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat 
bersabar mengenainya".

CUBA KITA PERHATIKAN FIRMAN ALLAH INI KAITANNYA BERHUBUNG DENGAN PERNAFASAN KITA..

Ahad, 14 September 2014

PERIHAL NABI ALLAH KHIDIR

PERIHAL NABI ALLAH KHIDIR


[Ketika Rasulullah Wafat, Maka Datanglah Seseorang Yang Mengucapkan Kata- Kata Dan Doa] Lalu Berkata Ja’far Bin Muhammad, Dikhabarkan Oleh Ayahku Bahawa Ali Bin Abi Thalib Berkata : “Tahukah Kalian Siapa Lelaki Ini ? Ia Adalah Khidhir Alaihissalam” (Tafsir Imam Ibn Katsir Juz 1 Hal 436)
===========
[Ketika Rasulullah Wafat, Maka Datanglah Seseorang Yang Mengucapkan Kata-Kata Dan Doa) Maka Berkatalah Para Sahabat Satu Sama Lain : Kalian Tahu Siapa Lelaki Itu ? Maka Berkata Abu Bakar Dan Ali : Ya, Ini Adalah Saudara Rasululloh Saw Al Khidhir Alaihissalam. (Mustadrak Alaa Shahihain No.4392)
===========
Pesan Makrifat Nabi Khidir Ketika Berpisah Dengan Nabi Musa. Dia (Musa) Berkata, “Berilah Aku Wasiat”. Jawab Nabi Khidir : Wahai Musa, Jadilah Kamu Orang Yang Berguna Bagi Orang Lain, Janganlah Sekali-Kali Kamu Menjadi Orang Yang Hanya Menimbulkan Kecemasan Di Antara Mereka Sehingga Kamu Dibenci Mereka. Jadilah Kamu Orang Yang Senantiasa Menampakkan Wajah Ceria Dan Janganlah Sampai Mengerutkan Dahi Mu Kepada Mereka. Janganlah Kamu Keras Kepala Atau Bekerja Tanpa Tujuan. Apabila Kamu Mencela Seseorang Hanya Karena Kekeliruannya Saja, Kemudian Tangisi Dosa-Dosa Mu, Wahai Ibnu Imran ! (Al Bidayah Wan Nihayah Juz I Hal. 329 Dan Ihya’ Ulumuddin Juz IV Hal. 56).
===========
Ajaran/Wasiat Dari Nabi Khidir Kepada Kanjeng Sunan Kalijaga
Kehendak Allah Menjadikan Terwujudnya Diri Mu…Dengan Adanya Wujud Diri Mu Menunjukkan Akan Adanya Allah…Dengan Sesungguhnya, Allah Itu Tidak Mungkin Ada Dua Apalagi Tiga…Siapa Yang Mengetahui Asal Muasal Kejadian Dirinya…Saya Berani Memastikan Bahawa Orang Itu Tidak Akan Membanggakan Dirinya Sendiri
Ada Pun Sifat Jamal (Sifat Terpuji/ Bagus) Itu Ialah…Sifat Yang Selalu Berusaha Menyebutkan…Bahawa Pada Dasarnya Adanya Dirinya…Kerana Ada Yang Mewujudkan Adanya…Demikianlah Yang Difirmankan Allah Kepada Nabi Muhammad Yang Menjadi Kekasih-Nya
Kalau Tidak Ada Diri Mu…Allah Tidak Dikenal/Disebut-Sebut…Hanya Dengan Sebab Ada Kamulah Yang Menyebutkan Keberadaan-Ku…Sehingga Kelihatan Seolah-Olah Satu Dengan Dirimu… Adanya Aku, Allah, Menjadikan Diri Mu…Wujudmu Menunjukkan Adanya Zat Ku
===========
Berkata Guru Hamba Al Faqir: Alamat Khidir Itu Apabila Bersalaman Tiada Terasa Ada Tulang Tangannya,Dan Hijau Pakaiannya Serta Menghijau Ia Akan Sekalian Tumbuhan Yang Kering
Berkata Al Habib Shaikh Abul Hasan As Syazuli: Lazimi Oleh Mu Sifat Husnuzon Di Hati Tatkala Bertemu Manusia Sama Ada Ahli Ta'at Atau Ahli Maksiat. Barangsiapa Yang Setiap Kali Bertemu Ahli Ta'at Dan Ahli Maksiat Dianggapnya Khidir, Nescaya Akan Di Pertemukan Dengan Nabi Allah Khidir

Selasa, 1 April 2014

Kesan Air Tangan Orang Yang Tak Solat

Semua orang tahu bahawa kalau meninggalkan solat adalah dosa besar dan malahan lebih hina daripada khinzir. Betapa hinanya kita kalau meninggalkan solat seperti yang dikisahkan pada zaman Nabi Musa as. Begini kisahnya, pada zaman Nabi Musa, ada seorang lelaki yang sudah berumahtangga, dia tiada zuriat, lalu terdetik dalam hati dia (nazar), “kalau aku dapat anak, aku akan minum air kencing anjing hitam.” Nakdijadikan cerita, Allah pun kurniakan isteri si lelaki tadi pun hamil dan melahirkan anak. Apabila dah dapat anak, lelaki ni pun runsinglah.
Dia dah nazar nak kena minum air kencing anjing hitam. Syariat pada zaman Nabi Musa berbeza dengan syariat yang turun untuk umat Nabi Muhammad. Kalau umat Nabi Muhammad, nazar benda yang haram, maka tak payah buat tapi kena denda (dam) atau sedekah.
Tapi kalau zaman Nabi Musa, barangsiapa bernazar, walaupun haram tetap kena laksanakan nazar itu.
Lalu, si lelaki yang baru mendapat anak, dengan susah hatinya pergilah bertemu dengan Nabi Allah Musa dan menceritakan segala yang terjadi ke atas dirinya. Lalu, Nabi Musa menjawab bahawa lelaki tu tak perlu minum air kencing anjing hitam tetapi akan minum air yang lebih hina dari air kencing anjing hitam. Nabi Musa perintahkan lelaki tersebut untuk pergi menadah air yang jatuh dari bumbung rumah orang yang meninggalkan solat dan minum air tu Lelaki itu pun senang hati, menjalankan apa yang diperintahkan oleh Nabi Musa tadi. Lihatlah, betapa hinanya orang yang meninggalkan solat, sampai dikatakan air yang jatuh dari bumbung rumahnya, lebih hina dari air kencing anjing hitam. Itu baru air bumbung rumah, belum air tangan lagi. Menyentuh bab air tangan, selalu kita suka makan masakan ibu; isteri kita. Jadi, kepada muslimat sekalian, peliharalah solat kerana kalau meninggalkan solat (kalau tak uzur), air tangan akan menitik ke dalam basuhan makanan, nasi, dsb.
Anak-anak, suami pula yang akan makan makanan yang dimasak. Takkan nak biarkan suami dan anak-anak gelap hati minum air tangan orang tinggalkan solat. Tak gamak kan? Tapi lain pula halnya dengan kita ni. Pagi petang, mamak! Teh tarik satu, roti canai satu. Ada pulak segelintir tukang masak yang tak solat. Kita pun makan bekas air tangan dia. Gelaplah hati kita, sebab tu liat nak buat kerja-kerja yang baik. Beware apa yang kita makan. Betapa beratnya amalan solat ni hatta Allah syariatkan solat kepada Nabi Muhammad melalui Isra’ Mikraj sedangkan kewajipan-kewajipan lain memadai diutus melalui Jibril as.
Ketika saat Rasulullah nazak, sempat baginda berpesan kepada Saidina Ali (dan untuk umat Islam), “As-solah as Solah wa amalakat aimanukum”. Maknanya, “Solat, solat jangan sekali kamu abaikan dan peliharalah orang-orang yang lemah di bawah tanggunganmu” Jadi, sama-samalah kita pelihara solat dari segi zahir & batinnya kerana amalan solatlah amalan yang mula-mula akan ditimbang di neraca Mizan kelak. Hidup bukan untuk makan, tetapi makan untuk hidup. Jika makan dengan niat ibadah akan mendapat pahala. – Wallahu a’lam.
Melayukini.net - Kita pada hari ini solat seperti dianggap satu perkara yang biasa. Nak buat, buat. Nak tinggal, tinggal. Kita langsung tiada alasan untuk tidak menunaikan solat, kerana di Malaysia sendiri, diRNR sudah disediakan surau untuk menunaikan solat. Berbanding dengan negara-negara luar, yang terpaksa solat di tepi jalan. Ingat, solat antara perkara utama yang akan ditanya sebelum amalan yang lain.

Isnin, 23 Disember 2013

PEMAHAMAN TENTANG DUA KALIMAH SYAHADAH

PEMAHAMAN TENTANG DUA KALIMAH SYAHADAH
( yang terhimpun didalamnya syariat, tarikat, hakikat dan makrifat)

Oleh kerana penerangan ini untuk memudahkan kepada faham, yang berkeinginan untuk mendapat hidayah dari Allah, berdoalah kepada Allah dan bertanyalah kepada guru makrifat.... Bagaimana nak berguru kepada Allah..

Untuk belajar menerima kebenaran belajar lah dari peristiwa Nabi Musa dengan Nabi Khidir,(jangan dipersoalkan) ilmu ini BUKAN drp daya pemikiran sifat tabi'ei fizikal tetapi ilmu kerohanian.....

Ilmu awal didalam ugama iaitu 'awaluddin makrifatullah.'

Yang boleh terima, terimalah yang tidak bersesuaian lupakan saja..

Untuk memudahkan kepada faham:-

Penyaksian dan pengucapan dua kalimah syahadat sebenarnya adalah Muhammad mengaku Allah sebagai Tuhan, dan Pengesahan Allah kepada Muhammad sebagai Rasul, Pengakuan dan penyaksian ini berlaku didalam diri kita sendiri.


Bila kita menyebut atau mengatakan Allah menjadikan sesuatu hendaklah kita faham dan beriktikad dengan iktikad selain dari Allah tidak ada, hanya Allah sahaja yang ada. Dengan berfahaman dan beriktikat sebegini disetiap saat dan ketika bermakna kita sedang mengaplikasikan "Laa ilaha illallah - Tiada Nyata Hanya Allah" didalam kehidupan seharian kita....

Cuba kita bicarakan bagaimanakah kita nak berpegang dengan ilmu pengetahuan kita secara terus tanpa sebarang taklid supaya kita tidak mensyirikkan Allah...

Apakah sebenarnya Syirik itu ?
Syirik ialah menduakan (zat, sifat, nama dan perbuatan) Allah, atau mengadakan tuhan yang lain selain dari Allah... Asas syirik ialah meletakkan segala sifat yang wajib bagi Allah kepada selain dari Allah..

Cuba kita mengambil faham dari asalnya...

Asal mulanya hanya Allah sahaja yang ada, semasa ia bersendirian dia tidak bernama, ketika ini tiada tuhan tiada hamba.... Hanya zatnya ( kewujudannya ) sahaja... Tiada yang lain...

Dalam keadaan ini Ia dikatakan berada didalam keadaan perbendaharaan yang tersembunyi, Kasih ia kepada zatnya sendiri, dia suka untuk memperkenalkan dirinya sendiri, maka dizahirkan dirinya didalam bentuk sifatnya, namanya dan perbuatannya sendiri...

Apabila terzahirnya penzahiran yang pertama yang dinamakan Nur Muhammad, maka ia pun menamakan dirinya sebagai Allah.

Ketika terzahirnya Nur Muhammad disini juga telah berlakunya perebutan jawatan Tuhan ( maksudnya Allah mengatakan dia tuhan dan Nur Muhammad juga mengakui dia adalah Tuhan (sebab Nur Muhammad telah merasai sifat-sifat yang wajib bagi Allah adalah Miliknya)....

Disini diceritakan satu cerita untuk membawa kepada Faham juga, berlakulah dialog diantara Allah dengan Nur Muhammad...

Allah mengatakan dia tuhan begitu juga Nur Muhammad mengatakan ia Tuhan...

Disini berlaku satu permainan sorok-sorok... (Menghampirkan kepada faham jua)

Perjanjian telah dibuat diantara Allah dengan Nur Muhammad, siapa yang jumpa siapa dialah Tuhan....

Mula-mula giliran Nur Muhammad menyembunyikan dirinya, dengan senang Allah menjumpainya...

Sampai masanya Allah menyembunyikan dirinya, maka Nir Muhammad tidak dapat menemui Allah,

Maka mengakulah Nur Muhammad akan ketuhanan Allah dengan kalimah Laa ilaha illallah...

Setelah Nur Muhammad mengakui akan ketuhanan Allah maka Allah pun mengakui akan kerasulan Muhammad dengan Kalimah Muhammadar Rasulullah...


Inilah asal dua kalimah syahadah...


Kenapa Nur Muhammad tidak dapat mencari Allah ?


Sebab Allah telah menyembunyikan dirinya di dalam Nur Muhammad.....


Allah telah menzahirkan dirinya dari satu penzahiran kesatu penzahiran, Allah telah menyatakan dirinya dari satu kenyataan ke satu kenyataan.

Pada satu penzahiran dan kenyataan dinamakan dengan satu nama lain...

Penzahiran dan kenyataan Allah inilah yang dipanggil sebagai makhlok... Makhlok sebenarnya adalah merupakan penzahiran atau kenyataan zat, sifat, nama dan perbuatan Allah dan dinamakan dengan pelbagai nama....

Ada makhlok atau selain dari Allah itu sebenarnya merupakan penzahiran atau kenyataan zat, sifat, nama dan perbuatan Allah sendiri, yang dinamakan dengan makhlok....

Sebenarnya makhlok itu menyatakan penzahiran zat, sifat, nama dan perbuatan Allah, makhlok tidak mempunyai ujud sendiri, kenyataan (zat, sifat, nama dan perbuatan) Allah dikatakan ujud makhlok...

Dengan ini menunjukkan kepada kita bahawa makhlok tidak pernah ada kerana adanya makhlok sebenarnya kenyataan dan penzahiran zat, sifat, nama dan perbuatan Allah sendiri..

Jadi ada makhlok hanya ada pada sebutan, tidak pernah ada pada hakikatnya...

Ini adalah satu cerita kiasan untuk kita renungi... Para Rasul, Nabi, Auliak, Ulamak terdahulu tinggi dengan kiasan.. Allah juga menggunakan bahasa kiasan didalam firmannya, sebab itu didalam ayat Quran ada ayatayat yang tidak dapat difahami secara terus oleh para sahabat dan memerlukan kepada pentafsiran melalui Nabi Muhammad yang dipanggil sebagai hadis...

Bukan semua orang boleh memahami bahasa Al-quran ini, bahasa Al-quran ialah Kalam Allah sendiri, iaitu kata-kata Allah sendiri...

Oleh kerana Nabi Muhammad berbangsa Arab maka Allah telah memberikan dan mengilhamkan al-quran iaitu kata-kata Allah kedalam bahasa Arab ...

Sebenarnya kata-kata Allah itu adalah bahasa Allah sendiri, Allah tahu semua bahasa, orang yang hampir dengan Allah akan diberi faham melalui kalamullah...

Carilah Al-Quran yang terpelihara, yang tidak makan dek api, tak basah dek hujan, yang Allah pelihara sehingga ke hari Akhirat.

Cuba kita lihat pentajalian Allah didalam tiga peringkat iaitu dari Allah, Muhammad dan Adam..

Allah kita semua tahu, Dialah yang menjadikan makhlok yang zahir dan batin.. Allah berfirman huwal auwalu, huwal akhiru, huwaz zohiru, huwal batinu.. Dari sini cubalah sama-sama kita cari apakah makna tersirat dari perkataan menjadikan itu...

Muhammad - Nabi pernah bersabda " Ana abu ar-ruh, wa adam abu basyar "


Dari Makna sabda Nabi ini dapatlah kita tafsirkan bahawa Muhammad itu adalah asal kejadian roh, Allah beritahu bahawa dia meniupkan ruhNya ( Rohullah ) kedalam jasad Adam, maka disini pecahkanlah rahsia ruh ini... Diantara firman Allah " Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya, serta Aku tiupkan padanya roh Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya ".dan sabda nabi Muhammad s.a.w Aku bapa atau asal kejadian Ruh.... Bertanyalah kepada guru mursyid....

Dari sabda Nabi juga telah menerangkan kepada kita dan Adam bapa atau asal kejadian Jasad...

Asal kejadian jasad kita adalah dari Adam, Asal kejadian ruh kita dari Muhammad, asal kejadian Muhammad dari Allah.

Kalau mengikut pentajalian dari permulaan bahawa Dari Allah ditajallikan Muhammad (asal kejadian roh), dari Muhammad ditajallikan Adam...

Allah memberitahu kepada kita dia menjadikan Muhammad kerana dia, hanya Muhammad yang mengenal Allah sebab Hanya Muhammad yang dizahirkan dari zat Allah, penzahiran yang terkemudian adalah dari Muhammad ( iaitu sifattullah ) sebab itulah Allah ada berfirman kejadikan keseluruhan alam kerana Muhammad, maksudnya dari segi penzahiran, kesemuanya terzahirnya dari sifatullah ( yang dinamakan Muhammad ), hanya sifat Allah yang terzahir dari Zatnya....

Boleh juga disebut dari zat Allah ditajallikan sifat Allah, dari sifat Allah ditajallikan nama Allah, dari nama Allah ditajallikan perbuatan Allah ( ianya berlaku secara tertib yang selalu disebut dengan fitratullah)

Cuba kita lihat firman Allah didalam hadis Qudsi " Insan itu rahsia aku, Aku rahsia insan, rahsia itu sifat Aku, sifat itu tidak lain daripada Aku"

Seperti yang diketahui seperti diatas bahawa sifat Allah ialah Muhammad, dapatlah diertikan insan itu rahsia Allah, Allah itu rahsia insan, rahsia itu ialah Muhammad, Muhammad itu tidak lain dari Allah..

Muhammad pula adalah asal kejadian roh. Carilah rahsia muhammad pada roh....

Cuba kita korek rahsia insan

Insan terdiri dari :-


- Yang rahsia iaitu kenyataan dari ( huwal auwalu huwal akhiru - maksudnya Dia iaitu zat Allah dari Awal dulu semasa dia bersendirian sekarang dan sampai bila-bila pun, hanya dia yang nyata, hanya dia yang ada.. Menjadi rahsia Insan )


- Yang batin iaitu yang tersembunyi ( Allah juga berfirman huwal batinu, dialah yang batin ) ternyata kepada diri insan sebagai roh,- Asal kejadian roh dari Muhammad berdasarkan kepada sabda Nabi Muhammad "Aku adalah asal kejadian roh Ana abu ar-ruh )


- yang nyata ( Allah juga berfirman huwaz zohiri - Dialah yang zahir ).. Ternyata kepada diri insan sebagai jasad - Asal kejadian jasad dari Adam berdasankan kepada sabda nabi dan adam adalah asal kejadian kepada jasad..


Dari sini cuba kita lihat bahawa insan itu terdiri dari diri rahsia Allah ( huwal auwalu, huwal akhiru). Kedua dari diri batin Allah iaitu (huwal batinu) dan ketiga diri zahir Allah ( huwaz zohiru ) dipanggil dengan nama insan atau manusia...

Jadi sebenarnya manusia itu adalah satu nama yang telah diberikan untuk menerangkan diri Dia yang awal, Dia yang akhir, Dia yang batin dan Dia yang zahir)..

Ini menunjukkan manusia itu hanyalah satu nama bagi penzahiran Allah yang tidak ada apa-apa pun padanya...

Jadi segala zat, sifat, nama dan perbuatan yang terlihat pada zahir, batin dan rahsia manusia itu kesemuanya menceritakan akan tajalli Allah...

Dari sini fahamlah kita bahawa rahsia manusia itu Allah

Roh manusia itu Muhammad


Jasad manusia itu Adam


Kita semua disini faham dan tahu yang Allah menghidupkan roh ( Muhammad), roh pula menghidupkan jasad ( Adam ) - Ini adalah kata-kata bagi menunjukkan tertib nya penzahiran Allah mengikut fitratullah....

Jasad (Adam) sebenarnya mati, jika tidak dihidupkan oleh roh ( Muhammad), Muhammad juga tidak hidup jika tidak dihidupkan oleh Allah...

Membawa makna hanya Allah yang hidup dan menghidupkan roh..

Ini bersesuaian dengan firman Allah


"سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami keseluruh ufuk alam dan pada DIRI MEREKA SENDIRI, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

(Fushshilat 53).

Lagi firman Allah yang bermaksud;

”Semua yang ada adalah fana (binasa). Dan yang baqa (kekal) itu adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman: 26-27).

Secara keseluruhannya segala sifat yang wajib bagi Allah hanya milik Allah Sahaja.... Selain dari Allah bersifat dengan segala sifat yang mustahil bagi Allah...

Contoh nya Allah bersifat dengan sifat ada, selain dari Allah bersifat dengan sifat mati, Allah bersifat dengan sifat hidup, selain dari Allah bersifat dengan sifat mati. Inilah yang mesti difahamkan apabila kita menghuraikan yang Allah itu bersifat dengan sifat bersalahan Allah bagi segsla yang baharu.... Iaitu faham daripada mula asal diantara Allah dengan makhlok sebelum pentajalian berlaku...

Setelah berlakunya pentajalian Allah kepada makhlok sifat Allah sedia kekal seperti dahulu juga, sedia kekalnya sifat Allah dari dahulu sekarang dan selama-lamanya...

Kepada yang sudah boleh berada kepada kesedaran roh (Muhammad), cuba rasa sendiri roh itu ada atau tidak ada, roh itu mendengar atau tidak mendengar dan bandingkan segala sifat yang wajib bagi allah yang lain... Jika kita rasa roh mendengar, roh melihat, roh berkata-kata ( ini menerangkan kepada kita bahawa Muhammad sedang mengaku dirinya sebagai tuhan )..

Firman Allah
20.Surah Ţāhā (Verse 14)

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

"Sesungguhnya Akulah Allah; tiada tuhan melainkan Aku; oleh itu, sembahlah akan Daku, dan dirikanlah solat untuk mengingati Daku.


Allah sudah dari asal lagi sudah mengaku dirinya sebagai tuhan ( Dialah yang awal, Dialah yang akhir, dialah yang batin dan dialah yang zahir) - Allah telah menyembunyikan dirinya didalam Muhammad ( maksudnya segala sifat ketuhanan yang ternyata kepada (roh) Muhammad itu adalah sifat Allah sendiri tetapi tidak disedari oleh roh. (Muhammad)..maksudnya Roh (Muhammad) sedang menyedari bahawa sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata kepada roh ( Muhammad) adalah sifat (roh) Muhammad sendiri.

Muhammad tidak mampu mencari Allah diluar dari dirinya akhirnya dia mengakuilah bahawa segala sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata pada Muhammad itu sebenarnya sifat Allah.

Apabila roh (muhammad) menyedari dan mengakui bahawa segala sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata kepada Roh ( Muhammad) adalah sifat Allah sendiri,,, disinilah tertunai Kalimah tauhid (Laa ilaha illallah) inilah yang dikatakan Muhammad mengaku Allah sebagai tuhan.

Muhammad ( roh ) yang telah mengaku sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata padanya itu adalah sifat Allah sendiri...

Roh (Muhammad) inilah yang telah diperakui oleh Allah sebagai hamba dan pesuruhnya yang memiliki sifat terpuji iaitu sidiq, amanah, tablik dan fatonah... Disinilah ternyatanya kalimah rasul Muhammadar Rasulullah....

Laa ilaha illallah - Muhammad mengaku Allah sebagai Tuhan

Muhammadar Rasulullah - Allah mengaku Muhammad sebagai Rasul


Cuba kita bawa kepada mula asal..

Sebelum ada yang dijadikan oleh Allah, Hanya Allah sahaja yang ada, ada Allah itu dari dulu sekarang dan sampai bila-bila pun macam tu la, tak pernah berubah..

Kemudian Allah memperkenalkan dirinya dalam pelbagai bentuk, proses memperkenalkan dirinya ini dipanggil pentajalian,

Pentajalian inilah yang disebut-sebut sebagai makhlok, maksudnya makhlok itu sebenarnya adalah sifat, nama dan perbuatan Allah sendiri, tetapi kita tidak panggil sifat, nama dan perbuatan Allah,

Bila kita panggil Nur Muhammad yang sebenarnya yang merupakan sifat Allah, nampaklah Nur Muhammad itu sebagai satu ujud yang lain selain dari Allah tetapi sebenarnya Nur Muhammad itu adalah sifat Allah sendiri yang telah diNYATAkan.

Contoh lain yang membolehkan membawa hampir kepada faham ialah,

Pekerjaan Allah dipanggil dan diberi nama sebagai malaikat, pekerjaan Allah yang menyampaikan wahyu dan mengajar Nabi-Nabi dan Rasul dipanggil sebagai Malaikat Jibroil..

Bila disebut Malaikat Jibroil hendaklah kita faham dan berpegang bahawa Allah sendiri yang sedang memberi wahyu kepada Nabi-Nabi dan Rasul, Nama atau panggilan yang dipanggil kepada pekerjaan Allah yang sedang menyampaikan wahyu itu ialah malaikat Jibroil..

Kalau kita berpegang yang malaikat itu ada ujud sendiri maka kita terjerumus kepada SYIRIK kerana dengan pegangan sedemikian kita telah beriktikad ada malaikat itu satu ujud yang lain selain dari Allah sedangkan malaikat itu sebenarnya menzahirkan pekerjaan Allah sendiri.

Pekerjaan Allah ini dinamakan dan dipanggil sebagai malaikat...

Begitu jugalah kepada makhlok-makhlok lain..

Kesemua makhlok kesemuanya merupakan samada penzahiran sifat, nama atau perbuatan Allah yang disebut atau diberi nama dengan makhlok..

Makhlok itu bukanlah ada ujud sendiri, tetapi ianya sedang menerangkan, sedang memberitahu, sedang bercerita tentang sifat, nama dan perbuatan Allah..

Bila disebut sahaja makhlok, hendaklah kita beriktikad bahawa kesemua makhlok tidak ada ujud sendiri tetapi merupakan penjelasan kepada wujud Allah..

Jika tidak dizahirkan wujud Allah didalam bentuk makhlok ( sifat, nama dan perbuatan Allah ), tidaklah boleh DIA dikenali..

Dengan ini bila disebut saja makhlok hendaklah kita beriktikad bahawa makhlok itu tidak pernah ada ujud sendiri ( maksudnya tidak ada ).. Makhlok itu sebenarnya kenyataan sifat, nama dan perbuatan Allah sendiri)

Maksudnya Hanya Allah sahaja yang ada, selain dari Allah tidak pernah ada, yang dikatakan ada selain dari Allah itu bukanlah ujud makhlok itu sendiri tetapi sebagai penerangan, sebagai keNYATAan wujud Allah...

Pokok persoalannya bila kita rasa kita ada, bagaimana nak pulangkan ujud diri kita kepada wujud Allah, maksudnya bagaimanakah kita nak mematikan diri kita sebelum mati... ?

Selagi masih rasa ada ujud sendiri dan selain dari Allah, disamping wujud Allah, selagi itu kita belum bersih dari najis syirik...

Najis ini (iaitu rasa ujud diri sendiri disamping wujud Allah) yang perlu dibersihkan, yang perlu disucikan...

Jangan sampai kita berkata " Laa ilaha illallah - Tiada Nyata hanya Allah, dalam masa yang sama kita masih merasai ujud diri sendiri disamping wujud Allah"

Kita kata Allah hidup tetapi dalam masa yang sama kita rasa diri kita hidup disamping hidup Allah, sedangkan hidup kita itu, Ada kita itu adalah merupakan hidup Allah yang sedang diperkenalkan, Ada Allah yang sedang diNYATAkan.

NURULLAH = ZAT ( Diri Hakiki )
NUR MUHAMMAD = SIFAT ZAT

NYATANYA ZAT pada SIFAT

NYATANYA NURULLAH pada NUR MUHAMMAD

Caranya :-

Tumpukan KESADARAN pada ZAT atau ...SEBUT je ..


ZAT ALLAH MELIPUTI setiap ruang jasadku...


Rasakanlah ( rasakan sendiri )...RASA itu = PENGAKUANNYA...


Berperanglah Dengan Nafsu Sendiri, untuk mencapai makrifatullah !


Untuk sampai kepada pengenalan seperti yang dimaksudkan, saksikan segala sifat-sifat yang wajib bagi Allah yang terzahir keatas diri dan ternyata pada selain dari Allah, setelah dapat menyaksikan maka buatlah pengakuan (mengakulah) bahawa sifat-sifat yang wajib bagi Allah itu adalah sifat Allah..

Jadikan penyaksian dan pengakuan seperti itu sebagai amal salleh secara istiqomah ( berterusan ) sehingga mencapai ketahap Allah yang mengenali Allah ( kita dan selain Allah Allah sudah tidak ada, - makna kita sudah hilang kesedaran kepada diri sendiri dan kepada selain dari Allah yang tinggal hanya Allah yang sedang sedar akan kewujudanNya)..

Jika tidak diamalkan, jika tidak dilatih tidaklah akan sampai pengenalan sehingga ketahap Allah mengenali Allah - cumanya kita tahu dan boleh bercakap saja,
Tetapi tidaklah berada didalamnya (maknanya tidak merasai), keadaan 'Ariftu robbi bi robbi'....

Amalan menyaksi dan membuat pengakuan bahawa segala sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata keatas diri dan selain dari Allah adalah sifat Allah ini amat berat untuk dilakukan,

Ini bertepatan dengan sabda Nabi besar Muhammad saw 'perang yang paling besar ialah berperang dengan nafsu sendiri..'

Nafsu sendiri yang dimaksudkan ialah pengakuan ( sifat akuan diri ) dimana diri sendiri menyaksi segala sifat yang wajib bagi Allah yang ternyata kepada diri itu adalah menjadi milik diri sendiri, walaupun sesaat..

Kita mengaku yang kita ada mempunyai sifat atau kita memakai sifat yang wajib bagi Allah kepada diri sendiri itulah nafsu...

Nafsu ini sentiasa ingin mengaku yang sifat yang wajib bagi Allah adalah milik dirinya sendiri (walaupun kita tahu sifat yang wajib bagi Allah hanya layak, hanya haq milik Allah sahaja),

Untuk mempertahankan pengakuannya itu diri akan menggunakan pelbagai alasan bagi meyakinkan diri sendiri supaya dia mumpunyai sifat yang hanya wajib bagi Allah itu (walau pun diri itu tahu bahawa segala sifat yang wajib bagi Allah hanya milik Allah - mengenal Allah sekadar ilmu sahaja)...

Ya, lihatlah bagaimana kita sedang berperang dengan nafsu kita (iblis) sendiri, betapa beratnya, Hanya untuk meletakkan yang berhaq pada tempatnya sahaja, (untuk menyatakan, untuk berpegang , untuk mengaku sifat yang wajib bagi Allah hanya milik Allah sahaja sudah diperangi oleh keakuan kita sendiri).

Maknanya kita tahu, kita boleh berkata yang sifat yang wajib bagi Allah itu hanya haq Allah sahaja,( kenal pada ilmu), tetapi kita tidak boleh mengaku kepada diri sendiri yang sifat Allah itu adalah milik Allah - bila kita nak membuat pengakuan yang sifat wajib bagi Allah yang sedang kita rasai itu adalah milik Allah, kita akan ditentang oleh kemahuan sendiri (nafsu), untuk itu istiharlah perang secara besar-besaran kepada nafsu seperti ini.... ( kita masih merasai keujudan diri sendiri disamping wujud Allah ),- ( tidak kenal dengan sebenar kenal )....

Apabila kita beristikomah dengan menyaksi dan mengaku yang sifat wajib bagi Allah yang sedang kita nikmati dalam ertikata Allah sedang memperkenalkan dirinya atau dengan kata mudah Allah sedang mununjukkan (inilah Aku kepada kita), mengakulah bahawa semua sifat yang wajib bagi Allah itu adalah milik Allah sahaja.. Pengakuan inilah yang kebanyakkan orang panggil sebagai penyerahan total, menyerahkan sifat Allah kepada Allah.

Lakukanlah, beramallah, berperanglah dengan nafsu sendiri sehingga mencapai ketahap Allah mengenal Allah, jangan adakan tuhan yang lain diantara kita dengan Allah...

Maafkan saya kerana saya terpanggil untuk mengilmiahkan sedemikian rupa dengan tujuan untuk memberi faham kepada yang ingin memahami....

pengilmiahan ini tidak meletakkan seseorang berada pada tahap seperti yang diperkatakan, termasuk diri saya sendiri...

Hanya amal yang istikomah, hanya perang yang berpanjangan dengan nafsu sendiri akan membuahkan kemenangan sehingga kepada Allah mengenal Allah "Ariftu robbi bi robbi"...

Contoh pengakuan :-..

Kita sedang rasa keujudan kita, soallah diri kita ( soal ini sebagai syarat untuk memberi peringatan kepada diri sendiri ), ada siapa ini?

Tentukan jawapannya adalah ada Allah, jangan berhenti menyoal sehingga belum lagi sampai jawapan kepada Allah...

Kepada siapa yang kita nak soal?

Soal kepada diri sendiri,

Apa yang nak disoalkan?
Soallah apa yang kita sedang sedar, apa yang sedang rasa ketika ini ( ketika kita nak soal itu),

Contoh kita sedang berjalan, soallah kepada diri sendiri, siapa yang tengah berjalan ini ?

Tentukan diri yang sedang sedar itu ( kita sedarkan kita sedang berjalan ) menjawab Allah..

Katakan diri kita menjawab badan aku yang sedang berjalan, teruskan menyoal, siapakah yang menggerakkan badan aku berjalan,

Jika diri kita menjawab roh aku, teruskanlah menyoal sehingga sampai kepada jawapan Allah, selagi belum sampai jepada jawapan Allah, jangan berhenti menyoal...

Apabila menjawab Allah, rasakan akan kewujudan Allah... ( kita tidak rasa lagi akan ujud kita)..

Permulaan tadi kita rasa ada kita, setelah bersoal jawab, sekarang ini kita sedar yang ada itu Allah...

( keadaan ini masih lagi menunjukkan kepada dua ujud iaitu ujud kita ( kita menyedari ) akan wujud Allah...

Untuk menghilangkan dua ujud ( keberadaan kita dan keberadaan Allah ) teruslah menyoal...

Semasa kita menyedari ada yang sedang kita rasa itu ada Allah, soallah siapakah yang sedang sedar, siapakah yang sedang rasa kewujudan Allah itu... Selagi belum bertemu dengan jawapan Allah, jangan lah kita berhenti menyoal....

Lakukanlah sehingga Allah sendiri yang sedang menyedari akan kewujudan Allah (kita sudah hilang, kita sudah binasa, kita sudah tidak berkesedaran kepada diri kita lagi )

Allah yang sedar akan kewujudan Allah...

Diperingkat permulaan kita perlu kepada soal jawab, apabila sudah ( kata orang sudah jadi darah daging ), dah tak payah soal lagi, rasa Allah yang sedang bersifat dengan sifat wajib bagi Allah itu terasa sendiri...

Inilah keadaan 'ariftu robbi bi robbi"

persoalan yang timbul.......

dalam mengingati allah..aku sering alpa dn trlupa...kadangkala msh di dlm keberadaan diri...lupa sejenak..dn kembali ingat,meskipun sudah diberi ilmu tp tetap lalai jua...zauq yg datang.tenggelam timbul..Allah bantulh hambamu dlm penyerahan ini...

Lupa itu adalah lumrah manusia "hati manusia itu berbolak balik"

Diperingkat permulaan kita hendaklah selalu memperingatkan diri kita dengan cara menyoal diri sendiri... Apakah soalan yang nak diberikan kepada diri sendiri ?

Soallah diri sendiri dengan apa yang sedang kita sedar sekarang ini, contoh kita sedar akan keujudan diri sendiri.... Tanyalah kepada diri sendiri, ujud siapakah yang sedang disedari itu... Tentukan jawapan yang diterima adalah Wujud Allah, jika belum sampai kepada jawapan Allah, teruskan soalan sehingga jawapannya kepada Allah..

Contoh kita jawab, ujud badan, soallah lagi adakah badan itu ujud sendiri... Jawapan yang diterima ujud badan kerana roh, oleh kerana jawapan belum sampai kepada Allah, teruskan soalan, adakah roh itu ada dan hidup sendiri.... Jawab Ada roh diadakan dan dihidupkan oleh Allah, jadi yang ada dan hidup sebenarnya adalah Allah....

Setelah mendapat jawapan Allah teruskan persoalan sehingga mencapai kepada Allah yang sedang merasai wujud Allah..

Pada mulanya, kita rasa Allah ada, semasa kita rasa Allah ada, biarkan kita berada didalam keadaan kita sedang merasai kewujudan Allah, pada masa yang sama tanyalah kepada rasa dan perasaan itu, siapakah yang sedang merasai akan kewujudan Allah,

Jawab dan rasai sendiri akan keadaan Allah yang sedang merasai kewujudan Allah... Rasa keujudan kita akan hilang dengan sendiri, akan binasa dengan sendiri, tanpa perlu kita hindari...

Keadaan inilah yang dikatakan fanafillah ( selain dari Allah binasa ), dan baqa'billah ( Allah sahaja yang Ada, Allah sahaja yang kekal selama-lamanya )..

Tanya dan rasailah dengan perasaan yang dalam akan keadaan itu...

Mula-mula kita mesti bertanya kepada diri sendiri, pertanyaan ini sebagai peringatan kepada diri sendiri...

Jawapan kepada soalan kita itu adalah merupakan pengakuan kita, tanya lah soalan sehingga timbul pengakuan kepada Allah, sehingga sampai Allah yang mengaku Allah, sehingga Allah yang mengenali Allah...

kalau belum merasai " mati sebelum mati ", cuma bermain pada akal sahaja...

Sesetengah orang sufi menyebut hapus diri yang zahir kepada diri yang batin, hapus diri yang batin kepada zat ( Allah ) semata-mata..

Ada juga dikalangan sufi yang mempraktikkan laa maujudun, laa haiyun, laa 'Alimun, laa khodirun, laa muridun, laa samu'un, laa basirun, laa mutakallimun fil hakikati illallah...

Ada juga yang menggunakan bahasa masukkan Adam kedalam Muhammad, masukkan Muhammad kedalam Allah.

Sifat wajib bagi Allah itu hanya milik Allah sahaja, dimana kita letakkan sifat hanya milik Allah ini maka disitulah kita bertuhan....

Allah, Tiada Tuhan selain Allah..

Kita sendiri yang mengada-adakan tuhan selain dari Allah itu...

Nabi dan Rasul diturunkan untuk mengajar kita supaya bertuhankan hanya kepada Allah sahaja, jangan adakan tuhan selain dari Allah,

Hanya Allah sahajalah Tuhan sekalian Alam....

Tuhan-tuhan yang lain itu hanyalah prasangka kita sahaja...

Untuk itu janganlah letakkan segala sifat yang wajib bagi Allah itu kepada diri kita dan selain dari Allah....

Apabila terlihat sifat wajib bagi Allah kepada diri kita dan selain segeralah beriktikad bahawa sifat-sifat wajib bagi Allah itu adalah sifat Allah sendiri yang dipertontonkan, sifat Allah sendiri yang sedang diperkenalkan...

(Inilah yang dikatakan oleh ariffinbillah "tukarkan cahaya dirimu kepada cahaya Tuhanmu,)..

Kita ambil contoh bagaimana nak "tukarkan cahaya dirimu kepada cahaya Tuhanmu," - mula-mula kita sedar jasad kita hidup, (hidup jasad dihidupkan oleh roh), kemudian kita sedar hidup roh, bila kita sedar dan dapat rasakan roh hidup dan menghidupkan jasad ( maknanya jasad kita menjadi mati )

Kesedaran tentang hidup roh inilah dipanggil "cahaya diri".... Jadi "tukarkan cahaya dirimu kepada cahaya Tuhanmu," Janganlah terhenti beriktikad setakat hidup roh sahaja, teruskan perjalanan dengan menukarkan dari berpegang roh yang hidup kepada Allah yang hidup dan menghidupkan roh, jadi terlihatlah oleh kita yang sebenar-benar hidup ialah Allah....

Hidup yang terlihat kepada roh ialah hidup Allah sendiri, jika disebut dengan bahasa biasa Allah lah tang menghidupkan roh, Jika roh itu hidup sendiri dia tidak perlu kepada hidup Allah untuk menghidupkannya....

Apabila roh itu dihidupkan, adakah menyalahi jika dikatakan sebenar-benarnya roh itu mati, hidup yang ternyata kepada roh itu menyatakan, menerangkan hidup Allah..

Dengan kata lain, Hidup yang terlihat kepada roh itu, bukanlah hidup roh sendiri, tetapi menunjukkan kepada kita bahawa Allah sedang memberitahu kepada kita ( Inilah hidup Aku (Allah), yang sekarang dipanggil roh ) yang menjadi diri sebenar diri kepada Insan... Ternyatalah "insan itu rahsia Aku, Aku rahsia insan, rahsia itu sifat Aku, sifat itu tidak lain daripada Aku"

Maafkan saya kalau tersalah memberi faham..