Pages

Memaparkan catatan dengan label makrifattullah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label makrifattullah. Papar semua catatan

Selasa, 31 Januari 2017

Sifat 20 Bagi Allah SWT

دَاهِمْ بِنْ جَلَالْ:
Sifat 20 Bagi Allah SWT

Pengertian Sifat-sifat Allah

Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah yang wajib bagi setiap Muslim mempercayai bahawa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah.

Maka, wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang 20 dan perlu diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah.

Sifat yang mustahil bagi Allah adalah merupakan lawan kepada sifat wajib bagi Allah.

Ilmu Tauhid

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:

Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia

Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama Islam dan yang paling utama sekali dalam agama Islam.

7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi:

Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu.

Artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama Islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya
 

Ilmu Tauhid

Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:

a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak

b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul

 

3. Kandungannya yaitu mengandungi pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.
 

Akal

Adapun ‘Akal itu terbahagi kepada dua :

1. ‘Akal Nazori, yaitu akal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.

2. ‘Akal Doruri, yaitu akal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Akal itu tiga bahagi:

1. Wajib ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Akal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)
 

Mumkinun (Baharu Alam)

Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:

1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berhimpun atau bercerai

4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk
 

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar.

Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam tiada putus atau luka .

Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah iaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah iaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir iaitu pada tukang sihir

Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘akal tentang keTuhanan:

-Sifat Nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat Ma’nawiyah

lalu dibahagi menjadi dua bahagi:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

MA’RIFAT

Adapun

hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :

1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Akal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

Info di atas sebagai info tambahan untuk kuliah ilmu aqidah. Semoga bermanfaat. Amin

Dipanjangkan oleh
Alfaqiru ila rahmatillah
Dahim bin Jalal al-Jawiy

Selasa, 10 Januari 2017

GHAUSUL ‘AZAM

GHAUSUL ‘AZAM berkat

“JISMUL INSANU WANAFSAHU WAKABLAHU WARUHUHU WABASARAHU WA ASNA NURU WAYAZRUHU WARIJLUHU WAKULLU ZALIKA AZHIRTULAHU BINAFSIHI LINAFSI ILA HUWA ILLA ANA GHAIRUHU”

artinya

Diri atau tubuh manusia, hatinya dan pendengarannya, penglihatannya, serta tangan dan kakinya, kesemuanya itu adalah kenyataan bagi DiriKU, tetapi bukan ‘Ainnya dan bukan lainnya.

Allah itu tidak lain dari Insan, sebab kita ini adalah Hak dari pada Allah dan tidak ia berpisah segala kelakuanNya atau Af’alNya.

Allah berfirman : “WAFI AMPUSIKUM APALA TUBSIRUN” artinya Ada Tuhan kamu pada diri kamu, mengapa tidakkah kamu lihat akan Aku, kata Allah, padahal Aku terlebih hampir daripada matamu yang putih dengan yang hitamnya, terlebih hampir lagi Aku dengan kamu.

Nabi SAW bersabda : “MAN NAJARA ILA SYAI’AN WALAM YARALLAHUFIHI FAHUWA HATIL” artinya siapa yang melihat kepada sesuatu, tidak dilihatnya Allah didalamNya, maka penglihatannya itu batal dan sia-sia belaka.

ABU BAKAR SIDDIK R.A berkata “

MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAH HAKABLAHU” artinya Tidak Aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala terlebih dahulu”.

USMAN IBNU AFFAN berkata “

MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AIRULLAHA “ atinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah besertanya.

UMAR IBNU KHATTAB berkata

“MAA RA AITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA BADAHU” artinya Tidak aku lihat sesuatu, hanya aku lihat Allah Ta’ala kemudiannya.

ALI BIN ABI TALIB

“ MAA RAITU SYAI’AN ILLA WARA AITULLAHA FIHI” artinya “Tidak aku lihat sesuatu melainkan yang aku lihat Allah Ta’ala didalamnya”.

Rabu, 28 Disember 2016

CARILAH ALLAH

CARILAH ALLAH

Sebuah hadis Qudsi menyatakan bahawa Allah berfirman;

" Wahai hambaKu...carilah Aku, nescaya engkau akan menjumpaiku, kerana seandainya engkau menjumpai-Ku maka engkau telah menjumpai segala-galanya, dan sekiranya engkau kehilangan-Ku, maka engkau kehilangan segala-galanya. Aku mencintaimu melebihi segala-galanya".

(Riwayat Ibnu Rajab dan Ibnu Kathir dalam tafsirnya)

Tugas kita didunia adalah untuk mencari Allah sehingga menyaksikan-Nya. Inilah yang terkandung didalam makna syahadah(penyaksian) yang kita ulangi setiap hari. Inilah juga rukun agama yang ketiga iaitu al-Ihsan yakni mengabdikan diri kepada Allah seolah-olah menyaksikannya.

Seseorang yang menyaksikan Allah di alam ini dengan hatinya bermakna dia telah berjumpa dengan Allah. Menjumpai-Nya bermakna menjumpai segala-galanya kerana Allah adalah segala-galanya dan terluput dari-Nya bermakna terluput dari segala-galanya kerana Dialah segala-galanya.

Menjumpai Allah bermakna dia telah berjumpa dengan cinta yang hakiki kerana Dia-lah hakikat kecintaan yang sebenarnya. Bercintalah dengan-Nya kerana Dia takkan menghampakan dan mengecewakan sesiapa dalam percintaan-Nya.

Didalam perjalanan hati ini, berdampinglah dan carilah pembimbing yang boleh memimpin kita untuk mencari Allah. Kejujuran hati yang benar dalam mencari Allah akan ketemukan kita kepada mursyid yang boleh menunjuk kita kepada-Nya.

Khamis, 1 Disember 2016

MAKRIFAT TAUHIDUL IMAN

RAHASIA MAKRIFAT 
: MAKRIFAT TAUHIDUL IMAN

Makrifat adalah nikmat yang teramat besar, bahkan kenikmatan syurga tiada sebanding dengan nikmat menatap wajah Allah secara langsung. Itulah puncak dari segala puncak kenikmatan dan kebahagiaan.

Rasulullah SAW  sendiri menjanjikan hal ini dan baginda pernah menyebut bahawa umatnya dapat melihat Allah SWT di saat fana  maupun jaga (sadar). KezahiraNya sangat nampak pada hamba.

Hadis qudsi
Al insanu syirri wa ana syirrohu
(Adapun insan itu Rahasiaku Dan Aku pun Rahasianya).

Firman Allah:
Khalakal insanu ala surati Rahman
(Kuciptakan Adam dan anak cucunya seperti rupaku).

Kesimpulannya insan itu terdiri daripada tiga unsur, iaitu Jasad, Ruh/Nyawa dan Allah. Maka dengan itu hiduplah hamba.

Adapun Jasad, Nyawa, dan Allah Taala, bagaikan sesuatu  yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Umpama  langit, bumi, dan makhluk yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.

Bagaimanapun pandangan insan terhadap Tuhannya adalah berbeza-beza, mengikut tahap pencapaian ilmu masing-masing.

Pada pandangan amnya, Allah Taala itu satu, dan hamba menyembahNya bersama-sama dan beramai-ramai, tetapi sebenarnya  (hakikatnya) bukan begitu. Itu hanya sangkaan umum saja. 

Dari segi makrifat  Allah SWT itu Esa pada wujud hamba. Dalilnya,

QS  Al Qaf 50:16:
Aku lebih dekat dari urat lehernya.

QS Az Zariyat51 :21:
Dalam diri kamu mengapa tidak kamu perhatikan.

Masing-masing hamba sudah mutkak (esa dengan Tuhannya), satu persatu (Esa) diberi sesembahan (Allah di dalam diri), kenapa berpaling mencari Tuhan yang jauh, ini sungguh melampaui batas (tidak makrifat).

Dalilnya, QS Al Hadid 57:4:
Aku beserta hambaku di mana saja dia berada.

Oleh itu,  janganlah risau dan takut Allah sentiasa bersama kita ke mana sahaja kita pergi.

Sekarang, mari kita lihat pula bagaimana Nabi Musa melihat Tuhannya, seperti mana yang diceritakan di dalam Al Quran. 

Allah SWT berfirman mengisahkan permintaan Musa untuk melihatNya

QS Al A’raaf 7:143:
Dan tatkala Nabi Musa datang pada waktu yang kami telah tentukan itu, dan Tuhannya berkata-kata dengannya,  maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata:

"Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku (Dzat-Mu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihat-Mu.” 

Allah berfirman: ”Kamu sekali-kali tidak dapat  melihat-Ku"

(rahasianya:  tidak ada siapa yang dapat melihat Allah,  hanya Allah dapat melihat Allah.  Hamba terdinding daripada Allah,  kerana selain wujud Allah, masih ada Rasa wujud Hamba).

Tetapi pandanglah ke gunung itu,
(Pada ketika Nabi Musa memandang gunung itu, begitu juga Allah Taala berpisah sementara daripada jiwa Nabi Musa, maka Nabi Musa pengsan,  bukannya mendengar akan letusan gunung tersebut)

"Jika ia tetap berada di tempatnya (sebagaimana sediakala) nescaya kamu dapat melihat-Ku."

(” Engkau adalah aku, aku adalah engkau “, apa yang disaksikan Nabi Musa adalah menyaksikan dirinya di luar dirinya untuk sementara waktu, setelah Allah bertajalli  (menzahirkan kebesaran-Nya) kepada gunung itu, (maka)  tajalinya itu  menjadikan gunung itu hancur lebur dan nabi Musa pun jatuh pengsan.)

Setelah Nabi Musa  sedar, dan berkata: "Maha Suci Engkau (wahai Tuhanku), aku bertaubat kepada Engkau dan akulah orang yang pertama beriman (pada zamanku)” 

Demikian sedikit paparan tentang Nabi Musa melihat Tuhannya. Dan jelaslah Allah dapat dilihat tetapi bukannya dengan mata kasar, yang dilihat dengan mata kasar itu adalah hijab, oleh itu jangan tersalah, hati-hati, kalau tersalah boleh  menjadi syirik dan kufur.

Maha Suci Allah Yang Maha Berkuasa, tiada daya sekalian makhluk melainkan Allah.

Selasa, 22 November 2016

Ma’rifatullah Wajib Hukumnya

Ma’rifatullah Wajib Hukumnya

Ma’rifatullah atau “mengenal Allah”
Wajib hukumnya bagi setiap mukmin.
Setiap insan harus mengenal Sang Pencipta. Harus mengenal siapa dirinya dan siapa Dia.

Bagi insan yang tidak mengenal Tuhannya. Ibarat ternak tidak mengenal pemiliknya

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman :
”Kuntu khozinatan khofiyatan, ahbabtu an u’rifa, Kholaqtul kholqa, fa ta’araftu ilaihim, fa’arofuni.”

Aku ( Allah ) perbendaharaan yang tersembunyi
Aku menghendaki untuk dikenal
Aku menciptakan makhluk, maka
Aku memperkenalkan diriku kepada mereka
Maka mereka mengenal Aku

Mengenal Allah merupakan rukun iman pertama, Rukun iman yang paling tinggi kedudukannya. Bila ingin menjadi mukmin yang sejati, Ma’rifatullah harus dikaji dan dimiliki.

Mengenal Allah adalah pondasi agama
Adalah jalan menuju Allah Ta’ala
Adalah tujuan dalam hidup manusia

Maka ma’rifatullah ( mengenal Allah ) adalah :
Titik awal dan titik akhir bagi insan beragama.
Beragama ( Islam ) tanpa mengenal Robbnya.
Ibarat berlayar tak tahu hendak kemana
Ibarat berkelana tak tahu sekarang dimana.
Ibarat merantau tak tahu mencari siapa

Maka ma’rifatullah itu wajib hukumnya
Setiap insan harus mengenal Penciptanya, Sumber dan muara dari segala yang ada, Sumber dan muara terjadinya alam semesta.

Sebagian mukmin berusaha mengenalnya dengan patuh namun, sebagian besar yang lain acuh tak acuh.
Firman Allah :

” Allah menganugerahkan al – hikmah (termasuk ma’rifatullah) kepada siapa yang Dia kehendaki.
Dan barangsiapa dianugerahi al – hikmah itu, ia benar – benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang – orang yang berakal.”
(QS.Al-Baqarah : 269)

Menempuh jalan Ma’rifat.
Setiap mu’min harus ma’rifatullah,
Harus mengenal Allah, pencipta dirinya
Yang mencipta insan dari tiada menjadi ada.

Yang semula dari air yang hina dina
Menjadi makhluk mulia yang bernama manusia.

Sungguh tak layak bila insan buta,
Terhadap Al-Khalik pencipta semesta,
Sumber dan muara keberadaan manusia.

Ma'rifatullah bukan monopoli kaum sufi,
Bukan monopoli aulia’ atau para wali,
Bukan monopoli ulama dan kyai,
Bukan monopoli ustadz dan para santri.

Setiap mukmin harus mengenal Robbnya,
Mengenal sesembahan yang dipujanya,
Agar imannya menjadi teguh sentiasa,
Agar ibadah nya menjadi lurus sempurna.

Seorang mukmin yang tidak mengenal Allah, Ibarat cermin kusam tak memantulkan wajah, Ia tidak tahu siapa Al-Khalik yang disembah.

Ia tidak paham sifat Ar-Rahman Maha Pemurah. Bila kalbunya hitam kelam tiada hidayah, Dalam ibadah bisa-bisa salah arah.

Hanya orang mukmin yang dapat mengenal Allah. Orang kafir karena ingkar dan tidak percaya, Ia tidak mengenal dan tidak membutuhkan Allah.

Orang musyrik karena mendua-tigakan tuhan. Ia tidak mengenal mana yang sebenar-benar Allah.

Orang munafik karena zhahir dan batinya tak sama, Maka kuburlah pengenalanya kepada Allah.

Pada hakekatnya tiada yang mengenal Allah. Kecuali hanya Allah sendiri.
Pengenalan kepada Allah merupakan rahmat. Yang dilimpahkan kepada seluruh umat.

Setiap manusia seharusnya menuju kesana,
Menuju keharibaan Allah,
Menuju ke persada Allah,
Menuju ke ma’rifatullah.

Untuk mengenal Allah harus menempuh Jalan ma’rifat. Yakni jalan untuk meyakini eksistensi Allah,

Jalan untuk menghayati kebesaran Allah
Jalan untuk mengamalkan ajaran Allah,
Jalan untuk mengabdi kepada Allah.
Itu bila ingin menjadi makhluk mulia.
Makhluk terpuji sesuai dengan fitrahnya.

Isnin, 14 November 2016

TERBUKANYA MATAHATI MENUJU MA’RIFATULLAH

TERBUKANYA MATAHATI MENUJU MA’RIFATULLAH

اِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَلِ مَعَهَا اِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ اِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ اَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَالأَعْمَالُ اَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ , وَاَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ .

Apabila Allah berkehendak membukakan wijhah hatimu untuk menerima ma’rifat, maka tidak peduli lagi walau amalmu sedikit. Karena bila Allah membuka hatimu semata-mata karena berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya ma’rifat itu didatangkan untukmu dan amalmu adalah persembahan untuk-Nya, mana yang lebih tinggi nilainya bagimu, apa yang datang darimu atau apa yang didatangkan kepadamu?.

Hikam

Wijhah merupakan anugerah Allah s.w.t kepada seorang hamba yang letaknya di dalam hati sanubari. Meski didatangkan sebagai buah ibadah, namun datangnya wijjah tersebut semata-mata kehendak azaliah bukan karena ibadah yang dilakukan itu.

Dengan wijhah, seorang hamba dapat melaksanakan tawajjuh (menghadap dan wushul) kepada Allah s.w.t. dengan benar. Yang dimaksud tawajjuh sebagaimana yang dinyatakan Allah s.w.t dalam firman-Nya berikut ini:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan hadapanku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tidak menoleh kepada yang selain-Nya (hanifa) dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan”. (QS. al-An’am; 6/79)

Dengan wijhah itu pula seorang hamba mendapatkan kemuliaan dan kedekatan di sisi Tuhannya:

“Seorang terkemuka (mempunyai wijhah) di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”.
(QS. Ali Imran; 45)

Namun hal tersebut bisa terjadi manakala pintu wijhah itu sudah dibuka (di dalam hati), atau seorang hamba telah mendapatkan futuh dari Tuhannya, dengan itu maka dia akan berma’rifat dengan-Nya.

Ma’rifat artinya mengenal dan yang dimaksud adalah mengenal Allah s.w.t (ma’rifatullah). Orang yang ma’rifatullah adalah orang yang kenal kepada Allah s.w.t. Kenal kepada nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, kekuasaan dan pengaturan-Nya, akhlak dan perbuatan-Nya.

Kenal, baik secara rasional (teori ilmiah) maupun secara spiritual (perasaan dalam hati). Namun yang dimaksud ma’rifatullah adalah kenal secara spiritual.

Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba yang bertakwa kepada Tuhannya. Seorang hamba yang ma’rifat adalah seorang hamba sanggup berbuat benar (shiddiq) dan tidak salah di hadapan Tuhannya.

Yang demikian itu, karena ia tahu apa yang dikehendaki Allah s.w.t untuk dirinya.

Semakin seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, maka ia akan menjadi semakin mencintai-Nya karena ia semakin mengetahui dan semakin merasakan, bahwa Allah s.w.t sudah berbuat kebaikan yang sangat banyak kepada dirinya:

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (QS. Al- Qoshosh; 77)

Semakin seorang hamba mencintai Tuhannya, semakin itu pula ia mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki.

Sebab, hanya kepada yang dicintai, seseorang akan mampu melaksanakan pengabdian yang benar.

Demikian juga, semakin seorang hamba mampu melaksanakan pengabdian yang hakiki kapada Tuhannya berarti derajatnya di sisi Allah s.w.t akan menjadi semakin tinggi.

Oleh karena itu, orang yang paling berma’rifat dan paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah s.w.t adalah Rasulullah s.a.w.

Hal itu karena Beliau paling mencintai dan paling dicintai oleh Allah s.w.t.

Untuk mencapai ma’rifatullah. Secara teori, seorang hamba akan diperjalankan oleh tarbiyah Allah s.w.t dengan dua cara:

1. Kehendak yang datangnya dari atas ke bawah. Artinya, semata-mata wijhah yang ada di dalam hati—yang asalnya tertutup—dibuka oleh Allah s.w.t.

Hijab-hijab matahati dihapuskan. Penutup pintu rahasia dibukakan. Seperti orang menyalakan lampu, maka yang asalnya gelap menjadi terang, yang asalnya tidak kenal kemudian menjadi kenal.

Bagaikan mendung ketika sirna, matahari kemudian berada di atas kepala. Hal itu karena Allah s.w.t memang berkehendak mengenalkan diri kepada hamba-Nya, tidak dengan sebab yang lain, tidak dengan sebab amal ibadah yang sudah dikerjakan.

Yakni, seorang hamba menjadi mengenal kepada-Nya semata-mata karena Allah s.w.t adalah Dzat Yang Maujud:

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Katakanlah : “Allah-lah” kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (QS. al-An’am; 6/91).

2. Kehendak dari bawah kemudian ke atas. Artinya terlebih dahulu seorang hamba dikenalkan kepada makhluk-makhluk-Nya baru kemudian dikenalkan kepada Al-Khalik (penciptanya), Sebagaimana firman Allah s.w.t:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. 2; 164)

Pengenalan seorang hamba kepada Sang Pencipta langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar serta kemanfaatan-kemanfaatan yang dapat dimanfaatkan bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Allah s.w.t hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Perhatian dan penelitian seorang hamba terhadap semua itu menghasilkan suatu kesimpulan bahwa betapa Allah s.w.t telah banyak berbuat baik kepada umat manusia dan betapa sangat banyak manusia yang tidak mengetahui dan tidak menyadarinya dan bahkan kafir kepada-Nya.

Pemahaman tersebut kemudian menjadikan tumbuhnya rasa kecintaan yang mendalam kepada-Nya. Hasilnya, mendorong dirinya untuk bertaubat dengan taubatan nasuha dan meningkatkan diri dalam melaksanakan pengabdian kepada Allah s.w.t.

Ma’rifat yang pertama adalah ma’rifat yang langsung memancar dari hati dan ruh (spiritual) yang kemudian dipancarkan lagi di dalam akal dan fikir (rasional ilmiah) yang selanjutnya dapat teraktualisasikan melalui akhlak dan perbuatan.

Itu bisa terjadi karena seorang hamba memang telah terlebih dahulu dicintai Allah kemudian ia mencintainya.

Ma’rifat yang pertama ini lebih kuat daripada ma’rifat yang kedua karena ia lebih hakiki adanya dan karena sesungguhnya letak ma’rifat itu adalah di dalam hati.

Ma’rifat yang kedua adalah ma’rifat hati (spiritual) juga, akan tetapi masuknya terlebih dahulu melalui akal dan fikir (rasional).

Yakni pengenalan seorang hamba kepada kejadian-kejadian yang ada di bumi dan di langit menjadikannya mengenal kepada Sang Pencipta.

Seperti orang yang mengenal buah karya tulis, ketika semakin dalam pengenalannya akhirnya ia ingin mengenal penulisnya.

Walau jalan masuknya ma’rifat yang kedua ini melalui rasional, akan tetapi ketika masuk ke dalam spiritual (hati), masuknya ma’rifat itu semata kehendak Allah.

Hanya saja kehendak itu telah didahului oleh kehendak-kehendak yang sebelumnya—sebagai sebab-sebab yang tersusun tertib untuk mendapatkan akibat yang baik,—yaitu pahala dari amal ibadah yang sudah dilakukan.

Bukan karena semata-mata amal ibadah yang dapat menjadikan seorang hamba berma’rifat kepada Allah s.w.t, akan tetapi sesungguhnya amal ibadah tersebut terlebih dahulu dijadikan sebab-sebab untuk bisa terpenuhi suatu proses pematangan ilmu pengetahuan secara rasional.

Yakni supaya sampai kepada suatu akibat yang baik, yaitu pendewasaan ilmu dan akhlak secara spiritual.

Amal ibadah adalah persembahan seorang hamba kepada Tuhannya sedangkan ma’rifat adalah pemberian Allah kepada hamba-Nya, manakah yang lebih tinggi nilainya?

Oleh karena itu, apabila Allah s.w.t berkehendak membukakan pintu wijhah hati seorang hamba untuk menerima Nur Ma’rifat, tidak peduli walau hamba-Nya itu sedang lemah dan sedikit amal ibadahnya.

Ahad, 13 November 2016

MENEMBUS DIMENSI MA’RIFAT KETUHANAN

MENEMBUS DIMENSI MA’RIFAT KETUHANAN

KIMIAU ASSA'ADAH
PENGARANG: IMAM ALGHAZALI

PENTERJEMAH:
MUHAMMAD HILMAN ANSHARY

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puja puji kepada Allah Swt yang telah mengangkat jiwa orang-orang yang suci dengan mujahadah,

Yang telah membahagiakan hati para wali dengan musyahadah,

Yang telah menghiasi lisan orang-orang mukmin dengan zikir,

Yang telah mengagungkan bisikan hati orang-orang  Arif (berpengetahuan pada Allah) dengan berfikir,

Yang telah menjaga khalayak hamba dari kerusakan,

Yang telah menahan segala kesulitan dari para ahli zuhud,

Yang telah menghindarkan orang-orang yang bertaqwa dari bayang-bayang syahwat,

Yang telah mensucikan ruh orang-orang yakin dari gelapnya keraguan,

Yang telah menerima semua amal perbuatan para manusia terpilih melalui do’a-do’a,

Dan yang telah menguatkan tali kaum merdeka dengan ikatan yang kokoh.

Aku memuji-Nya dengan pujian mereka yang telah melihat tanda-tanda kekuasaan dan kekuatan-Nya,

Yang telah menyaksikan ke-Mahatunggalan dan wahdaniyah-Nya,

Yang telah mengetuk pintu-pintu rahasia-Nya dan kemuliaan-Nya,

Yang telah memetik buah dari sujud dan ketaatan-Nya.

Aku mensyukuri-Nya dengan syukur mereka yang telah terbakar dan hanyut dalam aliran sungai kemuliaan dan pemuliaan-Nya.

Aku mengimani-Nya dengan Iman mereka yang telah mengakui
kitab-kitab-Nya,
perintah-Nya,
para nabi-Nya,
para wali-Nya,
janji-janji-Nya,
ancaman-Nya,
pahala dan azab-Nya.

Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal dan tak memiliki sekutu.

Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,

Yang diutus untuk menghancurkan mata rantai kefasikan dan kerusakan moral,

Yang diutus untuk memporakprandakan golongan  pembangkang,

Yang diutus untuk memaksa orang-orang musyrik dan peragu,

Yang diutus untuk menolong para pengikut kebenaran dan kebaikan.

Maka semoga keselamatan senantiasa Allah anugerahkan kepadanya dan para sahabatnya.

TANDA-TANDA
PENGETAHUAN TENTANG DIRI

Ketahuilah ! bahwa pengetahuan tentang  kimia kebahagiaan yang bersifat dhohir tidak ada dalam perbendaharaan ilmu kaum awam kebanyakan, akan tetapi tersimpan dalam gudang ilmu para Raja, demikian juga dengan kebahagiaan.

Ia hanya ada dalam gudang rahmat Allah Swt. Di langit sana tersimpan esensi (jawhar) para malaikat, dan di bumi tersimpan di hati para wali yang Arifbillah.

Dan setiap orang yang mencari  ini tanpa bersandar hadrat kenabian, maka ia telah salah jalan dan semua daya upayanya tak lebih seperti uang dinar palsu.

Ia kira dirinya kaya raya, tapi sebenarnya miskin di hari kiamat sebagaimana ditegaskan Allah Swt:

“Maka Kami singkapkan daripadamu tutup yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).

Dari sekian rahmat Allah pada hamba-Nya, Dia telah mengutus seratus dua puluh empat ribu nabi untuk mengajarkan seluruh manusia tentang naskah kimia ini,

Mengajarkan mereka bagaimana menjadikan hati sebagai tempaan mujahadah,

Mengajarkan bagaimana membersihkan hati dari budi pekerti yang buruk dan

Mengajarkan bagaimana mengendalikanya untuk menyusuri lorong-lorong kesucian, seperti dijelaskan Allah Swt:

“Dialah yang mengutus pada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah.”
(Q.S. al-Jum’ah [62]: 2).

Yaitu mensucikan mereka dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat kebinatangan serta menjadikan sifat-sifat malaikat sebagai baju dan hiasan mereka.

Adapun maksud dari Kimia ini adalah bahwa semua yang berhubungan dengan sifat-sifat negatif maka wajib menanggalkannya, dan semua yang berhubungan dengan sifat-sifat kesempurnaa maka wajib mengenakannya.

Satu-satunya rahasia keberhasilan KIMIA KEBAHAGIAAN ini adalah kembali mundur dari keduniawian seperti ditegaskan oleh Allah Swt:

“Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”
(Q.S. al-Muzammil [73]: 8).

Dan keutamaan  ini sangat banyak dan luas.

PASAL MENGENAI
PENGETAHUAN DIRI PRIBADI

Ketahuilah ! bahwa kunci mengetahui Allah (ma’rifah Allah) adalah mengetahui diri sendiri. Seperti firman-Nya:

“Kami akan memperlihatkan pada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami atas segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar.”
(Q.S. Fussilat [41]: 52).

Demikian pula sabda Nabi Saw:

“Siapa saja yang tahu akan dirinya, maka ia telah mengetahui Tuhannya.”
Tidak ada sesuatupun paling dekat denganmu kecuali dirimu sendiri.

Maka jika kamu tidak mengetahui dirimu, bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui Tuhanmu?

Jika kamu katakan bahwa aku telah mengetahui diriku, yang kamu tahu sebenarnya adalah diri bagian jasmani (anggota badan) yang terdiri dari tangan, kaki, kepala dan lainnya.

Kamu tidak mengetahui apa yang tersimpan dalam batinmu, yang bila sedang marah, ia mendorongmu untuk bertengkar.

Jika sedang bernafsu, ia mengajakmu kawin. Jika sedang lapar, ia memintamu makan, jika sedang haus, ia menuntutmu minum, dan hewan sangat mirip denganmu dalam hal ini.

Maka itu, yang wajib anda lakukan adalah mengenalkan hakikat pada dirimu hingga anda tahu apa sebenarnya dirimu, dari mana kamu datang hingga sampai di tempat ini, untuk tujuan apa kamu diciptakan, dengan apa kamu bisa meraih kebahagiaan dan dengan apa kamu mendapatkan kepuasan.

Dalam jiwamu terkumpul berbagai macam sifat, diantaranya sifat-sifat binatang jinak, binatang buas, pun demikian sifat-sifat malaikat.

Maka ruh adalah hakikat jauharmu yang paling esensial, lainnya adalah unsur asing dan kosong telanjang.

Maka yang wajib kamu lakukan adalah mengetahui hal ini. Bahwa bagi sifat-sifat itu ada ransom makananya dan kebahagianya.

Kebahagiaan binatang jinak terletak pada makan, minum, tidur dan kawin, maka jika kamu merasa bagian dari mereka, kenyangkan perutmu dan puaskan kelaminmu.

Kebahagiaan akan dirasakan binatang buas ketika mampu menyerang dan melumpuhkan mangsa, kebahagiaan setan terletak pada makar, kejahatan dan tipuan, maka jika kalian merasa bagian dari mereka, berbuatlah seperti yang mereka perbuat.

Kebahagiaan para malaikat, ketika mereka hadir mengalami indahnya hadrat kesakralan Tuhan, bagi mereka tak ada jalan sedikitpun untuk amarah dan syahwat.

Jika anda merasa bagian dari jauhar hakikat malaikat, berjuanglah mengenal asalmu sampai Anda tahu jalan menuju Hadrat Ilahiah (hadirnya kesakralan Tuhan), sampai Anda bisa menyaksikan Jalal-Nya(keagungan) dan Jamal-Nya(keindahan).

Sampai anda mampu menjernihkan dirimu dari belenggu amarah dan syahwat, sampai anda tahu untuk apa sifat-sifat ini menjadi bagian darimu.

Allah Swt tidak menciptakan semua sifat itu agar mereka menawanmu, tapi Ia menciptakannya agar mereka menjadi tawananmu, agar bisa mendorongmu berjalan, yaitu kedua kakimu dan agar salah satunya bisa anda jadikan tunggangan sedangkan lainnya sebagai senjata hingga anda mencapai kebahagiaan.

Jika anda telah sampai pada tujuanmu, maka tekanlah ia di bawah kedua kakimu dan kembalilah ke tempat kebahagiaanmu.

Tempat itu adalah rumah bagi para khawas (orang-orang khusus) yang menyaksikan Hadirat Ilahi (al-Hadrah al-Ilahiyyah).

Sedang rumah-rumah para awam adalah tingkatan-tingkatan dalam syurga. Anda sangat memerlukan dan mengerti makna-makna ini untuk bisa mengetahui sedikit saja tentang dirimu.

Dan barangsiapa yang tidak memahami pada makna-makna ini, maka ia hanya mendapat bagian kepingan-kepingannya saja, karena hakikat yang sebenarnya terhijab (tertutup) baginya.

PASAL MENGENAI HATI, JIWA & RUH

Jika anda berkemauan mengetahui dirimu, maka ketahuilah ! bahwa anda sebenarnya terdiri dari dua hal:
Pertama, hati, dan
Kedua yang disebut jiwa atau ruh.

Jiwa atau ruh adalah hati yang biasa anda sebut sebagai mata hati. Hakikatmu adalah yang batin, karena jasad yang tampak pertama sebenarnya merupakan yang terakhir, dan jiwa yang Anda sangka sebagai terakhir sebenarnya yang pertama, atau disebut hati.

Hati bukanlah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, karena itu hanya berlaku bagi binatang dan jasad mati.

Segala sesuatu yang Anda lihat dengan mata dhohir adalah alam ini atau yang disebut alam syhadah.

Sedangkan hakikat hati bukanlah bagian alam ini, tapi alam ghaib, dan hati dialam ini adalah hal asing.

Potongan daging itu hanyalah wadahnya, semua anggota tubuh jasmanii adalah bala tentaranya, sedang ia adalah rajanya.

Ma’rifah Allah (mengetahui Allah) dan musyahadah (menyaksikan) keindahan hadir-Nya adalah sifat-sifat hati, beban baginya dan perintah untuknya.

Dari situ ia mendapatkan pahala dan siksa, kebahagiaan dan kepuasan mengikutinya, demikian ruh hewani pun senantiasa mengintainya dan selalu membuntutinya.

Mengetahui hakikat hati dan memahami sifat-sifat hati adalah kunci Ma'rifatullah (mengetahui Allah Swt).

Maka Anda harus berjuang keras untuk mengetahuinya, karena ia adalah jauhar aziz (esensi mulia) bagian dari Jauhar Malaikat (esensi para malaikat) yang bahan dasarnya berasal dari Hadirat Ilahi, dari tempat itu ia datang dan ke tempat yang sama ia kembali.

PASAL MENGENAI HAKIKAT HATI & RUH

Adapun pertanyaanmu apa hakikat hati, syari’ah tidak menjelaskannya secara panjang lebar kecuali dalam satu ayat:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”
(Q.S. al-Isra [17]: 85).

Karena ruh merupakan bagian dari kekuasaan ilahiah, yaitu dari ‘alam al-amr (kuasa perintah Tuhan) Allah Swt berfirman:

“Ingatlah, yang menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”
(Q.S. al-A’raf [7]: 54).

Dengan demikian, pada satu sisi manusia merupakan bagian dari ‘alam al-khalq (alam ciptaan) dan pada sisi lain bagian dari ‘alam al-amr.

Segala sesuatu yang bisa dikenai ukuran panjang lebar, kadar dan mekanisme adalah termasuk ‘alam al-khalq, namun hati tak memiliki ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu.

Oleh karena itu, ia tak menerima pembagian. Jika bisa dibagi, maka ia termasuk ‘alam al-khalq.

Contohnya, dari sisi sifat bodoh, maka ia pun menjadi bodoh dan dari sisi sifat pintar, ia pun menjadi pintar.

Namun segala sesuatu yang terdiri dari sifat bodoh dan pintar pada saat yang sama adalah mustahil.

Dengan kata lain, ia bagian dari ‘alam al-amr, karena dalam ‘alam al-amr tidak berlaku ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu.

Sebagian dari mereka mengira bahwa ruh bersifat qadim (awal), maka mereka telah salah.

Sebagian lain berpendapat ruh adalah ‘ard (sifat), maka mereka pun salah, karena sifat tak pernah berdiri sendiri, tapi mengikuti yang lain.

Maka, ruh adalah asal anak Adam, dan hati adalah tempat tumbuhnya mereka. Jadi, bagaimana mungkin dia adalah sifat!

Sebagian golongan mengatakan ruh adalah badan jamani, mereka juga salah, karena badan jasmani menerima pembagian.

Dan ruh yang sejak tadi kita sebut hati adalah media untuk mengetahui Allah.

Oleh karena itu, ia bukan merupakan badan, juga bukan sifat, melainkan unsur esensi malaikat.

Mengetahui tentang ruh sangatlah sulit, karena agama tak memberi jalan sedikit pun.

Dan agama tak memerlukan untuk mengetahuinya, sebab agama esensinya adalah kesungguhan (mujahadah), sedang ma’rifah (mengetahui) adalah tanda hidayah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(Q.S. al-Ankabut [29]: 69).

Dan barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh, ia tidak boleh membahasnya atau mencari hakikat ruh.

Dasar utama dari mujahadah adalah mengetahui tentara hati, karena manusia jika tidak mengetahui seluk beluk kemiliteran, ia tidak dibenarkan untuk berjihad.

PASAL MENGENAI JIWA SEBAGAI KENDARAAN HATI

Ketahuilah ! bahwa jiwa adalah kendaraan hati, hati memiliki bala tentara, seperti dijelaskan Allah Swt:

“Dan tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.”
(Q.S. al-Mudatstsir [74]: 31).

Hati diciptakan untuk pekerjaan alam akhirat, agar mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan hati adalah dengan mengetahui Tuhannya.

Mengetahui Tuhannya bisa didapatkan melalui ciptaan Allah swt dari berbagai ‘alam-Nya.

Keajaiban alam tak mungkin terlihat kecuali melalui panca indera, dan panca indera berasal dari hati yang mengambil jiwa sebagai sarananya.

Kemudian dilanjutkan dengan mengetahui jenis kerjanya dan jaringannya. Jiwa tak berfungsi kecuali dengan makan, minum, suhu panas dan kelembapan tertentu.

Ia lemah saat dihampiri bahaya dari dalam, yaitu lapar dan haus, demikian juga saat melawan bahaya luar, seperti air dan api. Ia menghadapi banyak musuh.

PASAL MENGENAI SYAHWAT & AMARAH

Anda juga perlu mengetahui adanya dua macam bala tentara, yaitu bala tentara bagian luar(zahir) yang terdiri dari syahwat dan amarah, berikut tempat-tempatnya pada kedua tangan,kedua kaki, kedua mata, kedua telinga dan semua anggota badan.

Sedangkan tentara bagian dalam terletak dalam otak kepala, yaitu daya khayal, daya pikir, daya hafal, ingatan dan bingung.

Setiap kekuatan ini memiliki fungsi khusus, jika salah satunya lemah, maka kondisi manusia pun akan lemah dalam dua alam (dunia-akhirat).

Satu bagian yang mencakup dua hal ini adalah hati dan ia adalah pemimpinnya. Jika hati menyuruh lidah menyebutkan sesuatu, maka ia akan menyebutkannya.

Jika memerintahkan tangan untuk menyerang, maka ia akan menyerang. Jika menyuruh kaki untuk melangkah, maka ia pun akan melangkah.

Demikian pula panca indera, hingga bisa menjaga diri agar tetap bisa menyimpan pahala untuk di akhirat, berfungsi secara baik, menyeselesaikan kontrak kerja dan menghimpun butiran-butiran kebahagiaan.

Dan mereka semua tunduk dan patuh kepada perintah hati sebagaimana para malaikat yang tunduk dan patuh pada perintah Tuhannya dan tidak berani menentang perintahnya.

PASAL MENGENAI MENGETAHUI HATI DAN BALA TENTARANYA

Ketahuilah !, seperti dikatakan dalam pepatah terkenal; jiwa diibaratkan sebuah kota, kedua tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh sebagai lahannya, kekuatan syahwat sebagai walikotanya, amarah sebagai kendaraanya, hati sebagai rajanya dan akal sebagai perdana menterinya.

Raja bertugas mengatur segenap aparatur agar kondisi kerajaan tetap stabil, karena sang walikota atau syahwat adalah pembohong, acuh tak acuh dan ambisius.

Demikian pula kendaraan yaitu amarah teramat jahat, pembunuh dan perusak. Jika sejenak saja sang raja meninggalkan mereka dalam keadaan aslinya, mereka akan menguasai kota dan merusaknya.

Maka sang raja wajib berkonsultasi pada sang menteri dan menjadikan sang wali dan bagian transportasi dibawah pengawasan sang menteri.

Jika ia melakukan hal itu, maka kondisi kerajaan akan tetap stabil, dan kota akan makmur.

Demikian juga hati juga bermusyawarah pada akal untuk menjadikan syahwat dan amarah di bawah kekuasaannya sampai kondisi jiwa menjadi stabil dan bisa mengantarkan pada sebab-sebab kebahagiaan, yaitu mengetahui Hadirat Ilahi ( Ma'rifat alhadrat al-ilahiyah).

Seandainya akal dalam kondisi di bawah kekuasaan amarah dan syahwat, maka jiwanya akan rusak dan hatinya tidak akan bahagia di akhirat kelak.

PASAL MENGENAI AMARAH & SYAHWAT PEMBANTU JIWA

Ketahuilah ! bahwa syahwat dan amarah pembantu jiwa. Keduanya senantiasa menarik-nariknya, terus mempertahankan urusan makan, minum dan kawin sebagai media indera.

Kemudian jiwa mempekerjakan indera sebagai jaringan akal dan mata-matanya, yang dengannya ia mampu menyaksikan kehadiran Allah Swt.

Kemudian indera juga mempekerjakan akal, yaitu hati sebagai lentera dan lampu yang melalui cahayanya ia bisa melihat Hadrat Ilahiah .

Dengan demikian, kenikmatan perut dan kemaluannya menjadi terhinakan. Kemudian akal juga memfungsikan hati, sebab hati diciptakan untuk memandang keindahan Hadrat Ilahiah.

Barang siapa yang berdaya upaya dalam fungsi ini, maka ia adalah hamba yang sebenarnya, yang terlahir dari  al-hadrah al-ilahiyah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(Q.S. az-Zariyat [61]: 56).

Artinya, bahwa Kami telah menciptakan hati, memberinya kerajaan dan memberinya pasukan tentara. Kami juga telah menjadikan jiwa sebagai kendaraannya hingga ia bisa berjalan dari alam ke-Tanah-an ke alam atas yaitu ‘Illiyin.

Maka jika berkeinginan melaksanakan hak anugerah kenikmatan ini, duduklah dalam kerajaannya, jadikan Hadrat al-Ilahiah sebagai kiblat dan tujuannya.

Jadikan akhirat sebagai tanah air dan akhir keputusannya, jadikan jiwa sebagai kendaraannya, dunia sebagai rumahnya, kedua tangan dan kaki sebagai pembantunya, akal sebagai menterinya, syahwat sebagai karyawannya, amarah sebagai angkutannya dan indera sebagai mata-matanya.

Masing-masing bagian itu adalah cerminan dari setiap alam yang menghimpun semua keadaan mengenai keadaan alam-alam lainnya.

Daya khayal di bagian permukaan otak seperti seorang komandan yang bertugas menghimpun semua informasi para mata-mata.

Daya hafal pada bagian tengah otak bagaikan pemilik peta yang bertugas menghimpun penggalan-penggalan dari tangan sang komandan yang kemudian disampaikan kepada akal.

Jika informasi-informasi ini sampai pada sang menteri, maka ia akan melihat keadaan kota yang sebenarnya.

Jika Anda melihat salah satu dari mereka melanggar, seperti syahwat dan amarah, maka Anda harus berusaha keras( bermujahadah) menaklukanya.

Tidaklah mujahadah ini untuk membunuh syahwat dan amarah, sebab kerajaan tak akan bertahan tanpa keduanya.

Jika Anda  melakukannya, maka Anda adalah orang yang berbahagia, yang telah melaksanakan urusan yang hak untuk dilakukan yaitu anugerah nikmat.

Wajib bagimu menghadiahkan sesuatu pada saatnya, jika tidak, maka Anda tidak akan bahagia, dikenai siksa dan diwajibkan bertaubat.

PASAL MENGENAI TIGA FORMASI KEBAHAGIAN

Kebahagiaan sempurna dibangun di atas tiga hal:
1.Kekuatan amarah,
2.Kekuatan syahwat
3.Kekuatan ilmu

Tiga hal ini harus diseimbangkan agar kekuatan syahwat tidak muncul menguasai yang justru akan merusak anda.

Demikian juga kekuatan amarah agar tidak menguasai dan membodohi, yang akan merusak dan menghancurkan anda.

Jika kedua kekuatan tersebut seimbang dengan adanya kekuatan keadilan dan keseimbangan, maka keduanya akan menuju pada jalan hidayah.

Jika amarah semakin menguat, maka akan mudah pada terjadinya penyerangan dan pembunuhan, sebaliknya jika amarah melemah, maka kewaspadaan, ketentraman dalam agama dan dunia akan hilang.

Namun jika diseimbangkan, yang akan muncul adalah kesabaran, keberanian dan kebijaksanaan.

Syahwat-pun demikian, jika semakin mendominasi, maka akan muncul adalah kejelekan dan kejahatan, sebaliknya jika syahwat melemah , maka akan menyebabkan kelemahan dan ketidakgairahan.

Namun jika terkendali seimbang, yang ada adalah kesucian (‘iffah), kepuasan (qana’ah) dan sifat-sifat sejenis lainnya.

PASAL MENGENAI HATI PRILAKU JELEKNYA & BAGUSNYA

Ketahuilah ! bahwa hati dan bala tentaranya memiliki keadaan dan sifat-sifat yang sebagian disebut dengan budi pekerti buruk dan sebagian lain disebut budi pekerti terpuji.

Budi pekerti terpuji akan mengantarkan pada kebahagiaan, dan akhlak buruk mengantarkan pada kehancuran dan siksa.

Semua ini terdiri dari empat jenis budi pekerti( akhlak). Yaitu:
1.Akhlak setan
2.Akhlak binatang jinak
3.Akhlak binatang buas
4.Akhlak malaikat.

Perilaku jelek, yaitu makan, minum, tidur dan kawin adalah akhlak binatang jinak.

Tingkah laku amarah pemukulan, pembunuhan dan pertikaian adalah akhlak binatang buas.

Prilaku-prilaku jiwa seperti makar, penipuan, kecurangan dan hal lain sejenis adalah akhlak setan.

Terakhir, kegiatan berfikir yang menghasilkan rahmat, ilmu dan kebaikan  adalah akhlak malaikat.

PASAL MENGENAI EMPAT HAKIKAT DALAM KULIT MANUSIA

Ketahuilah ! bahwa dalam kulit anak Adam (manusia) terdapat empat hal, anjing, babi, setan dan malaikat.

Anjing tercela dari segi sifatnya dan bukan dari bentuknya.

Begitupun setan dan malaikat, hal-hal tercela dan keterpujianya hanya pada sifat-sifatnya dan bukan pada bentuk atau prilakunya.

Babi pun demikian, tercela dalam sifat-sifatnya bukan  pada bentuk dan tingkah lakunya.

Karenanya manusia diperintahkan untuk menyingkap gelapnya kebodohan dengan cahaya akal, agar terhindar dari segala macam fitnah.

Seperti ditegaskan Rasul Saw:
“Tak seorangpun (dari manusia) kecuali memiliki setan, aku juga memiliki setan. Sungguh Allah telah menjagaku dari setanku hingga aku bisa menguasainya.”

Demikian syahwat dan amarah seharusnya berada dibawah kendali akal, keduanya hanya boleh berbuat bergerak melakukan sesuatu dengan kendali akal.

Maka jika seseorang berbuat demikian, ia benarlah baginya disebut berakhlak terpuji yaitu; sifat malaikat dan merupakan benih kebahagiaan.

Jika melakukan kebalikannya, maka ia disebut berakhlak tercela yaitu sifat-sifat setan dan merupakan benih dari siksa.

Dalam tidur ia akan melihat dirinya seakan berdiri terpasung menjadi budak anjing dan babi.

Orang ini seperti lelaki Muslim yang membawa beberapa Muslim lainnya dan menahan mereka di penjara orang-orang kafir.

Bagaimana keadanmu jika nanti pada hari kiamat sang raja, yaitu akal, menahanmu dibawah kekuasaan syahwat dan amarah, yaitu anjing dan babi?

PASAL MENGENAI EMPAT KONDISI MANUSIA PADA HARI KIAMAT

Ketahuilah ! bahwa manusia saat ini dalam bentuk anak Adam, esok saat makna-makna itu tersingkap, mereka pun keluar dalam bentuk menyesuaikan dengan makna masing-masing.

Mereka yang dominan amarahnya, maka akan berdiri dalam bentuk anjing.

Mereka yang dominan nafsunya, maka akan berdiri dalam bentuk babi, sebab bagaimanapun bentuk selalu mengikuti makna-makna.

Seorang yang tertidur akan melihat semua yang ada dalam jiwanya. Demikian pula karena isi jiwa manusia teridentifikasi dalam empat hal di atas.

Maka ia harus mengintai setiap gerak-geriknya, diamnya dan mengenali diri termasuk bagian mana dari yang empat.

Sifat-sifat itu ada dalam hati dan terus bertahan hingga hari kiamat, dan jika masih tersisa secuil kebaikan, maka itu adalah benih kebahagiaan.

Sebaliknya jika yang tersisa adalah secuil kejelekan, maka ia pun merupakan benih dari siksa.

Manusia tak akan pernah berhenti bergerak dan diam, hatinya bagaikan kaca, akhlak tercela bagaikan asap dan kegelapan, jika menyentuhnya, maka seketika ia menggelapkan jalan menuju kebahagiaan.

Akhlak terpuji bagaikan cahaya dan pancarannya, jika sampai pada hati, maka ia akan membersihkannya dari gelapnya kemaksiatan.

Seperti sabda Rasul Saw:
“Ikutkanlah pada perbuatan jelek itu perbuatan baik yang akan menghapusnya.”

Dan hati bisa jadi terang dan gelap, semua tak akan lolos kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang pasrah.

PASAL MENGENAI KELEBIHAN MANUSIA ATAS BINATANG

Ketahuilah ! bahwa nafsu dan amarah yang ada bersama binatang juga terdapat pada anak Adam.

Akan tetapi manusia diberi tambahan lain sebagai bekal untuk memperoleh kemuliaan dan kesempurnaan.

Dengan hal tersebut, ia bisa mengetahui Allah dan keindahan ciptaan-Nya. Dan dengan hal tersebut manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kekuasaan nafsu dan amarah serta meraih sifat-sifat malaikat.

Dengan demikian, manusia diberi sifat-sifat binatang jinak dan buas, yang semuanya ditundukkan Allah untuk manusia.

Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah:
“Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi semuanya.” (Q.S. al-Jasiyah [45]

PASAL MENGENAI KEAJAIBAN HATI &
DUA PINTU HATI

Ketahuilah ! bahwa hati memiliki dua pintu ilmu, satu untuk mimpi-mimpi dan lainnya untuk ilmu sadar, yaitu pintu untuk ilmu realita (zahir).

Saat manusia tertidur, pintu-pintu indera tertutup, dibukakanlah pintu bathin dan disingkapkan realitas alam ghaib dari alam malakut dan Lauh Mahfudz seperti cahaya yang terang benderang.

Untuk menyingkapnya dibutuhkan semacam tafsir mimpi. Sedang ilmu yang dihasilkan dari realita (zahir) dikira oleh manusia akan memunculkan kesadaran diri, dan bahwa keadaan sadar lebih utama, meskipun sebenarnya ia tidak bisa melihat sesuatupun dari alam ghaib.

Bagaimana pun sesuatu yang terlihat antara keadaan sadar dan tidur tetap lebih utama sebagai pengetahuan daripada apa yang terlihat melalui indera.

PASAL MENGENAI CERMIN HATI

Disamping itu, Andapun mesti tahu bahwa hati seperti cermin, Lauh Mahfudz pun demikian.

Karena di dalamnya terdapat gambaran dari semua realitas (mawjudat). Jika Anda hadapkan cermin satu dengan lainnya, maka masing-masing gambar pada setiap cermin akan saling menghiasi yang lainnya.

Demikian pula semua gambar (suwar) pada Lauh Mahfudz akan tampak dalam hati jika ia telah suci dari nafsu dunia.

Jika masih disibukkan dengannya, maka alam malakut akan tetap tertutup. Jika pada saat tidur manusia tak terhubungkan dengan obyek indera, maka ia akan menyaksikan esensi (jawhar) alam malakut dan akan terlihat sebagian gambar yang ada pada Lauh Mahfudz.

Jika manusia menutup pintu indera hanya sekedarnya, maka ia hanya memasuki dunia khayal. Karena itu, ia melihat sesuatu yang masih tertutupi pada bagian luarnya dan bukanlah hakikat murni yang tersingkapkan.

Jika hati telah mati bersama si pemiliknya, maka pada saat itu tidak ada yang namanya khayal, dan tidak juga indera.

Oleh karena itu, pada saat tersebut hati mampu melihat dengan tanpa keraguan ataupun khayalan.

Dan ketika itu, diucapkan padanya:
Maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).

PASAL MENGENAI HATI, ILHAM & ALAM MALAKUT

Ketahuilah! bahwa tak seorangpun dari anak Adam kecuali hatinya telah dimasuki sentuhan-sentuhan suci melalui jalan ilham.

Dan hal itu tidak masuk melalui indera, akan tetapi masuk dalam hati tanpa tahu dari mana asalnya, sebab hati termasuk alam malakut, dan indera tercipta untuk alam ini, yaitu alam al-mulk (alam kuasa).

Karenanya ia menjadi penghalang jiwa dari menyaksikan alam malakut manakala tidak tersucikan dari aktifitas indera.

PASAL MENGENAI DIBALIK KETERBUKAAN HATI

Jangan Anda kira kelembutan ini hanya terbuka pada saat tidur dan mati saja, tapi ia pun terbuka saat sadar bagi mereka yang ikhlas berjihad, ikhlas melakukan riyadah (latihan) dan menyelamatkan diri dari kekuasaan nafsu, amarah, akhlak tercela dan perbuatan buruk.

Jika ia duduk di tempat sepi dan mengosongkan dirinya dari dari aktifitas indera, kemudian membuka mata hati dan pendengarannya, menjalankan fungsi hatinya sebagai bagian dari alam malakut, terus menerus menyebut kalimat Allah, Allah, Allah, dengan hatinya dan dengan tidak dengan lidahnya sampai ia tak mendapatkan informasi dari dirinya dan alam sekitarnya sedikitpun, dan yang ia lihat hanyalah Allah, maka kekuatan itu akan terbuka, apa yang ia lihat disaat tidur, ia bisa lakukan pada saat sadar, yang tampak adalah ruh para malaikat dan para nabi, gambar-gambar bagus yang indah dan mulia, saat itu tersingkaplah kerajaan langit dan bumi.

Ia bisa lihat semua yang tak bisa dijelaskan dan tak bisa digambarkan, sebagaimana sabda Rasul Saw:
“Dibentangkan padaku bumi, seketika kulihat ujung barat dan timur.”

Allah Swt menjelaskan:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan pada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami (yang terdapat) di langit dan bumi.”
(Q.S. al-An’am [6]: 75).

Karena semua ilmu para nabi melalui jalan ini dan bukan melalui jalan indera, seperti ditegaskan Allah Swt:

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”
(Q.S. al-Muzammil [73]: 8).

Artinya terputus dari segala sesuatu, penyucian diri dari segalanya dan terus memohon kesempurnaan pada-Nya, ini adalah jalan (tariq) kaum sufi zaman ini.

Sedang cara pengajaran, adalah jalan (tariq) para ulama. Semua ini dirangkum dari jalan kenabian. Begitu juga ilmu para auliya’, sebab ilmu itu tertanam dalam hati mereka tanpa melalui perantara, yaitu dari Hadirat Ilahi sebagaimana firman-Nya:

“Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya di antara ilmu-ilmu dari sisi Kami.” (Q.S. al-Kahfi [18]: 65).

Jalan ini tidak akan dipahami tanpa melalui latihan, dan jika tak dihasilkan dengan rasa, maka ia pun tak bisa dihasilkan melalui pengajaran.

Yang seharusnya dilakukan adalah mempercayainya hingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan mereka, dan ini adalah sebagian keajaiban hati.

Siapa yang tak melihat, ia tidak akan mempercayainya, seperti firman-Nya:

“Yang sebenarnya mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.”
(Q.S. Yunus [10]: 39)

dan firman-Nya:
“Dan ketika mereka tidak mendapat petunjuk dengannya (Alqur’an) maka mereka berkata: “Ini adalah dusta yang lama.”
(Q.S. al-Ahqaf [46]: 11).

PASAL MENGENAI SEMUA MANUSIA BERHAK ATAS RAHASIA KETUHANAN

Jangan Anda mengira semua ini khusus untuk para nabi dan para wali saja, sebab esensi anak Adam dari asal penciptaannya memang untuk tujuan ini.

Seperti unsur besi agar dibuat cermin yang bisa digunakan untuk melihat gambaran alam, kecuali yang berkarat dan membutuhkan penyepuhan, atau besi kering yang membutuhkan pengecatan sebab sewaktu-waktu bisa patah.

Demikian juga hati, jika nafsu dan kemaksiatan mendominasinya, maka ia tidak akan mencapai derajat ini.

Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasul Saw:
“Semua yang terlahir berada dalam fitrah (esensi) Islam.”

Allah berfirman:
“Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Anda Tuhan kami).”
(Q.S. al-A’raf [7]: 172).

Begitupun anak Adam, fitrahnya adalah mempercayai akan ketuhanan Allah, seperti dalam firman-Nya:
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(Q.S. ar-Rum [30]: 30).

Para nabi dan para wali adalah anak Adam, Allah berfirman:
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu.”
(Q.S. Fussilat [41]: 6).

Setiap yang menanam pasti memetik, siapa saja yang berjalan, pasti sampai, siapa yang memohon, pasti akan mendapatkan.

Permohonan tidak akan berhasil tanpa mujahadah @ permintaan orang yang telah renta dan arif telah melalui jalan ini  jika dua hal ini berlaku pada seseorang, maka Allah telah berkehendak menganugerahinya kebahagiaan dengan hukum azali hingga ia mencapai derajat ini.

PASAL MENGENAI NIKMAT DAN KEBAHAGIAAN MANUSIA TERLETAK PADA MA’RIFAH ALLAH

Ketahuilah ! bahwa segala sesuatu memiliki rasa bahagia, nikmat dan kepuasan. Rasa nikmat akan diperoleh apabila ia melakukan semua yang diperintahkan oleh tabiatnya.

Tabiat segala sesuatu adalah semua yang tercipta untuknya. Kenikmatan mata pada gambar-gambar indah, kenikmatan telinga pada bunyi-bunyi yang merdu, dan demikian semua anggota badan.

Kenikmatan hati hanya dirasakan ketika mengetahui Allah (ma’rifah Allah), sebab ia diciptakan untuk melakukan hal itu.

Semua yang tidak diketahui manusia, tatkala ia mengetahuinya maka ia akan berbahagia, seperti permainan catur, ketika mengetahuinya ia pun senang, jika ia dijauhkan dari permainan itu, maka ia takkan meninggalkannya dan tak akan sabar untuk kembali memainkannya.

Begitu juga mereka yang telah sampai pada ma’rifah Allah, pun merasa senang dan tak sabar untuk menyaksikan-Nya, sebab kenikmatan hati adalah makrifat, setiap kali makrifat bertambah besar, maka nikmatpun bertambah besar pula.

Karenanya, ketika manusia mengetahui sang menteri, maka ia akan senang, lebih-lebih jika tahu sang raja, maka kebahagiaannya tentu lebih besar lagi.

Tak ada satu keberadaan pun di alam ini yang lebih mulia dari Allah Swt, sebab kemuliaan yang dimiliki, semua oleh sebab-Nya dan dari-Nya, semua keajaiban alam adalah karya-Nya, tak ada pengetahuan (ma’rifah)

PASAL MENGENAI ALAM DAN SARIPATI MANUSIA

Ketahuilah ! bahwa jika anak Adam disarikan dari alam, padanya terdapat segala gambaran alam yang masih bisa kita temukan akarnya, sebab tulang-belulang ini seperti pegunungan, dagingnya seperti debu, bulu-bulunya bagaikan tumbuhan, kepalanya bagaikan langit, inderanya seperti bintang, penjelasan mengenai hal ini sangatlah panjang.

Demikian bagian dalamnya pun menyimpan gambaran alam, sebab fungsi pencernaan yang ada dalam lambung mirip dengan seorang ahli masak.

Kekuatan yang ada pada limpa sama dengan pembuat roti, kekuatan pada usus bagaikan tukang cukur, kekuatan yang memutihkan susu dan memerahkan darah bagaikan tukang sepuh, penjelasan mengenai hal ini cukup panjang.

Yang penting adalah hendaknya kamu mengetahui berapa banyak alam yang tersimpan bersamamu, yang terus sibuk melayanimu, sedang anda malah mengabaikannya, dan mereka tak pernah beristirahat.

Anda bahkan tak mengenalnya dan tak bersyukur pada-Nya yang telah menganugerahkan semua itu untukmu.

PASAL MENGENAI PENGETAHUAN TENTANG KOMPOSISI JASAD BADAN DAN MANFAAT-MANFAAT ANGGOTA TUBUH

Ilmu ini sangatlah agung, kebanyakan manusia mengabaikannya, demikian juga ilmu kedokteran.

Setiap mereka yang ingin melihat dirinya dan keajaiban karya Allah Swt dalam dirinya, membutuhkan minimal tiga sifat dari sfat-sifat ketuhanan.

Pertama, hendaknya mengetahui bahwa yang menciptakan seseorang juga mampu membawanya pada kesempurnaan dan bukan pada sebaliknya, Ia adalah Allah Swt.

Tak satu pun perbuatan di dunia yang lebih ajaib dari penciptaan manusia yang berasal dari air hina dan pembentukan fisik dengan bentuk yang sangat menakjubkan, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.”
(Q.S. al-Insan [76]: 2).

Maka untuk mengembalikannya setelah mati adalah lebih mudah lagi, sebab pengulangan selamanya lebih mudah daripada permulaan.

Kedua, pengetahuan tentang ilmu Allah Swt bahwa ia mencakup segala sesuatu. Sebab keajaiban dan keanehan ini tak mungkin ada kecuali dengan kesempurnaan ilmu.

Ketiga, hendaknya Anda tahu bahwa keramahan-Nya, rahmat-Nya dan perlindungan-Nya mengenai segala sesuatu, tak terbatas di saat Anda melihat tumbuhan, hewan dan kandungan bumi, semua berada dalam keluasan kuasa-Nya, bentuk yang baik dan warna yang indah.

PASAL MENGENAI URAIAN BENTUK MANUSIA MERUPAKAN KUNCI MENGETAHUI SIFAT-SIFAT KETUHANAN DAN TERMASUK ILMU MULIA

Yaitu pengetahuan tentang keajaiban karya-karya Ilahi, pengetahuan tentang keagungan dan kekuasaan Allah Swt, yang merupakan ringkasan (sari) dari pengetahuan hati.

Ilmu ini begitu mulia, sebab berbicara tentang karya Ilahi, sebab jiwa bak kuda, akal sebagai penumpangnya dan keduanya terhimpun dalam kalimat penunggang kuda (joki).

Siapa yang tak mengenal dirinya dan mengaku mengenal lainnya, maka ia seperti seorang lelaki bangkrut yang tak memiliki makanan sedikitpun untuk dirinya dan mengaku menafkahi orang-orang miskin di kotanya.

PASAL PENUTUP

Jika Anda mengetahui kemuliaan, kehormatan, kesempurnaan, keindahan dan keagungan setelah Anda menyadari bahwa esensi hati adalah esensi yang paling mulia, yang semua itu telah dianugerahkan kepadamu dan kelak akan ditarik kembali, dan Anda justru tidak memintanya, malah mengabaikannya dan menghilangkannya, maka Anda akan sangat menyesal pada hari kiamat.

Berjuanglah untuk mendapatkannya, tinggalkanlah segala kesibukan duniawi! Dan segala kemuliaan yang tidak tampak di dunia, maka di akhirat kelak akan menjadi kebahagiaan, keabadian tanpa kefanaan, kekuasaan tanpa kelemahan, pengetahuan tanpa kebodohan, keindahan sekaligus keagungan.

Sedang hari ini, tak seorang pun yang lebih lemah darinya, sebab ia termiskin dan kekurangan, akan tetapi kemuliaan akan ia alami esok jika ia tancapkan pengetahuan tentang  kebahagiaan ini dalam inti hatinya, hingga ia bisa menyelamatkan dirinya dari perumpamaan binatang dan bisa mencapai derajat malaikat.

Jika ia kembali pada nafsu dunia, maka ia lebih memilih menjadi binatang pada hari kiamat, karena sebenarnya ia kembali ke asalnya yaitu tanah. Dan ia pun akan abadi dalam siksa.

Kami berlindung kepada Allah Swt dari semua itu, kami meminta pertolongan-Nya, sebab Ia sebaik-baik Pemelihara dan Penolong, dan rasa syukur ini untuk Alah Swt, Tuhan semesta alam.

Semoga keselamatan senantiasa dianugerahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan keluarga berikut para sahabatnya.

[1] Perjuangan membersihkan hati dengan beragam ibadat.

[2] Penyaksian pada cahaya keTuhanan.

[3]Menghilangkan kotoran hati an mensucikannya diisi dengan keutamaan.

Menurut Imam Jurjani ada juga kimia awam; menggantikan kenikmatan dunia dengan kenikmatan akhirat dan kimia orang khusus; memurnikan hati dari alam beralih ke Pencipta alam

[4] Sebab Nabi saw lah yang menerima wahyu dan menerangi jalan.

[5] Hati ditempa dengan Mujahadah ibadah agar suci, seperti besi berkarat ditempa dalam bara api agar murni.

[6] Imam Qohtoby berkata ruh tidak masuk dalam katagori objek KUN, artinya bahwa ruh adalah kehidupan itu sendiri .

Hidup dan kehidupan adalah sifat Yang maha hidup. Ruh yang berada dalam jasad bukanlah makhluk sebagaimana jasad.
( Lihat; aTaaruf  limadzhab ahli tasawwuf; alKalabadzi, hal 68, Darul kutub ilmiah, bairut)

[7] Berkata Imam Junaidy Al Bagdadi Ruh adalah sesuatu yang dibiasi oleh ilmu Allah dan tak seorangpun yang memahaminya dari makhlukNya.

Dan tak diperkenankan mengibaratkannya dengan apapun.

[8] Orang kuno yang pertama mendefinisikan tugas Jiwa adalah Plato bahwa jiwa memiliki tiga kekuatan; kekuatan syahwat, kekuatan amarah, kekuatan Akal.

Dimana syahwat dan amarah adalah pembantu bagi kekuatan akal. Plato mengibaratkan Manusia dengan kekuatan dan perangkatnya adalah sebuah kota yang mesti ditata.

Dimana penduduknya dibagi dalam tiga kasta: kasta buruh para pekerja, kasta peperangan dan kasta hakim, dimana kasta buruh sebanding dengan kekuatan syahwat, dan kasta peperangan sebanding dengan kekuatan amarah dan kasta hakim sebanding dengan kekuatan akal.

Demikian juga berpendapat Cendikiawan Alfarabi dalam kitabnya" Aro' ahlil madinah alfadilah"

[9] Ketercelaan syetan dan keterpujian malaikat, sebab syetan hanya memilki sifat tercela saja sedang malaikat hanya memilki sifat keterpujian.

[10] Riwayat muslim, kitab sifat kaum munafiq hadis no 70, Imam Ahmad; Musnad;juz 6 hal 115. dari Aisyah.

[11] Riwayat: aTurmudzi;albar,asilah;bab 55, Adda romy; arroqoiq,bab 73, Imam Ahmad;Musnad; juz 5 hal 153, Hadis dari Mu'az bin jabal.

[12] Kekuatan akal

[13] Imam Jurjani berkata dalam Ta'rifat hal 163:  lenyapnya hati dari mengetahui hal ihwal makhluk bahkan dari keadaan dirinya, ia liputi oleh Sulthon hakikat, ia hadir dalam AlHaq, gaib dari dirinya dan dari makhluk.

Sebanding dengan ini adalahl kisah dalam al-Qur'an tentang Nabi yusuf, dimana para perempuan ketika menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf merekapun memotong tangan sendiri, bagaimana keadaan jika seseorang melihat keindahan Dzat sang pemilik keindahan?.

Fana menurut ahli tasauf adalah tenggelam dalam keagungan dan penyaksian alHaq.

[14] Riwayat: Muslim;Fitan;no 19, Abu Dawud; Fitan,  bab 1,Atturmudzi;Fitan;bab 14, Ibnu Majah;Fitan;bab9, Imam Ahmad;Musnad; Juz 5,hal 278. Hadis dari Syadad bib Aus dari Nabi Saw.

[15] Ini sebagaimana terjadi pada zaman alGhazali dimana para murid penggemar tasauf  dibebani beragam aturan oleh para Syeh Tasauf yang akan menunjukan jalan istiqomah.

Adapun Tehnik tasauf AlGhazali Ia mengambil langsung dari petunjuk kenabian tanpa perantara para Syeh tasauf, dan jenis tasauf ini doperuntukkan bagi penggemar berat seperti AlGhazali sendiri.

[16] Riwayat: Ahmad,Malik, Abu Dawud,atTurmudzi, adDaromy.

[17] Sepakat para ahli Tasauf bahwa ma'rifat tidak akan sempurna dengan akal. Dalil mereka; bagi Allah adalah Allah semata. Menurut mereka jalan akal adalah jalan orang yang berakal  adalam kebutuhanya pada dalil, kerena akal adalah baru dan yang baru hanya kan menunjukan pada yang baru juga.

Seorang pria bertanya pada Imam Annury: apa dalilnya Allah? Ia Jawab: Allah, Maka dimana fungsi akal? Ia jawab: Akal lemah, yang lemah hanya akan menunjukan pada yang lemah juga.

Anak Kunci Mengenal Allah

Anak Kunci Mengenal Allah
Dikutip dari Kitab Kimyatusy Sya'adah
- Imam Al Ghazali

Mengenal diri itu adalah "Anak Kunci" untuk Mengenal Alloh. 

Hadis ada mengatakan :
MAN 'ARAFA NAFSAHU FAQAD 'ARAFA RABBAHU
(Siapa yang kenal kenal dirinya akan Mengenal Alloh)

Firman Alloh Taala :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(QS. 41:53)

Tidak ada hal yang melebihi diri sendiri.  Jika anda tidak kenal diri sendiri, bagaimana anda hendak tahu hal-hal yang lain? 

Yang dimaksudkan dengan Mengenal Diri itu bukanlah mengenal bentuk lahir anda, tubuh, muka, kaki, tangan dan lain-lain anggota anda itu. 

Karena mengenal semua hal itu tidak akan membawa kita mengenal Alloh.  Dan bukan pula mengenal perilaku dalam diri anda yaitu bila anda lapar anda makan,  bila dahaga anda minum,  bila marah anda memukul dan sebagainya. 

Jika anda bermaksud demikian,  maka binatang itu sama juga dengan anda.  Yang dimaksudkan sebenarnya mengenal diri itu ialah:

Apakah yang ada dalam diri anda itu? Dari mana anda datang? Kemana anda pergi? Apakah tujuan anda berada dalam dunia fana ini? Apakah sebenarnya bagian dan apakah sebenarnya derita?

Sebagian daripada sifat-sifat anda adalah bercorak kebinatangan.  Sebagian pula bersifat Iblis dan sebagian pula bersifat Malaikat. 

Anda hendaklah tahu sifat yang mana perlu ada,  dan yang tidak perlu. Jika anda tidak tahu,   maka tidaklah anda tahu di mana letaknya kebahagiaan anda itu.

Kerja binatang ialah makan,  tidur dan berkelahi. Jika anda hendak jadi binatang, buatlah itu saja. 

Iblis dan syaitan itu sibuk hendak menyesatkan manusia,  pandai menipu dan berpura-pura.  Kalau anda hendak menurut mereka itu, lakukan sebagaimana kerja-kerja mereka itu. 

Malaikat sibuk dengan memikir dan memandang Keindahan Ilahi.  Mereka bebas dari sifat-sifat kebinatangan.

Jika anda ingin bersifat dengan sifat KeMalaikatan,  maka berusahalah menuju asal anda itu agar dapat anda mengenali dan menuju pada Alloh Yang Maha Tinggi dan bebas dari belenggu hawa nafsu. 

Sebaiknya hendaklah anda tahu kenapa anda dilengkapi dengan sifat-sifat kebintangan itu.

Adakah sifat-sifat kebinatangan itu akan menaklukkan anda atau adakah anda menakluki mereka?. 

Dan dalam perjalanan anda ke atas martabat yang tinggi itu,  anda akan gunakan mereka sebagai tunggangan dan sebagai senjata.

Langkah pertama untuk mengenal diri ialah mengenal bahwa anda itu terdiri dari bentuk yang zhohir,  yaitu tubuh ;  dan hal yang batin yaitu hati atau Ruh .  Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu bukanlah daging yang terletak dalam sebelah kiri tubuh. 

Yang dimaksudkan dengan "HATI" itu ialah satu hal yang dapat menggunakan semua kekuatan,   yang lain itu hanyalah sebagai alat dan kaki tangannya saja. 

Pada hakikat hati itu bukan termasuk dalam bidang Alam Nyata(Alam Ijsam) tetapi adalah termasuk dalam Alam Ghaib. 

Ia datang ke Alam Nyata ini ibarat pengembara yang melawat negeri asing untuk tujuan berniaga dan akhirnya kembali akan kembali juga ke negeri asalnya. 

Mengenal hal seperti inilah dan sifat-sifat itulah yang menjadi "Anak Kunci" untuk mengenal Alloh.

Sedikit ide tentang hakikat Hati atau Ruh ini bolehlah didapati dengan memejamkan mata dan melupakan segala hal yang lain kecuali diri sendiri. 

Dengan cara ini, dia akan dapat melihat tabiat atau keadaan "diri yang tidak terbatas itu". Meninjau lebih dalam tentang Ruh itu adalah dilarang oleh hukum. 

Dalam Al-Quran ada diterang,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:

"Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (Bani Israil:85)

Demikianlah sepanjang yang diketahui tentang Ruh itu dan ia adalah mutiara yang tidak bisa dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan ia termasuk dalam "Alam Amar/perintah". 

Ia bukanlah tanpa permulaan.  Ia ada permulaan dan diciptakan oleh Alloh.  Pengetahuan falsafah yang tepat mengenai Ruh ini bukanlah permulaan yang harus ada dalam perjalanan Agama,  tetapi adalah hasil dari disiplin diri dan berpegang teguh dalam jalan itu,  seperti tersebut di dalam Al-Quran :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)

Untuk menjalankan perjuangan Keruhanian ini, bagi upaya pengenalan kepada diri dan Tuhan, maka tubuh itu bolehlah diibaratkan sebagai sebuah Kerajaan,
Ruh itu ibarat Raja.
Pelbagai indera (senses) dan daya (fakulti) itu ibarat satu pasukan tentara.
Aqal itu bisa diibaratkan sebagai Perdana Menteri.
Perasaan itu ibarat Pemungut pajak,  perasaan itu terus ingin  merampas dan merampok.
Marah itu ibarat Pegawai Polisi,
marah sentiasa cenderung kepada kekasaran dan kekerasan.
Perasaan dan marah  ini perlu ditundukkan di bawah perintah Raja. 

Bukan dibunuh atau dimusnahkan karena mereka ada tugas yang perlu mereka jalankan, tetapi jika perasaan dan marah menguasai Aqal, maka tentulah Ruh akan hancur.

Ruh yang membiarkan kekuatan bawah menguasai kekuatan atas adalah ibarat orang orang yang menyerahkan malaikat kepada kekuasaan Anjing atau menyerahkan seorang Muslim ke tangan orang Kafir yang zalim. 

Orang yang menumbuh dan memelihara sifat-sifat iblis atau binatang atau Malaikat akan menghasilkan ciri-ciri atau watak yang sepadan dengannya yaitu iblis atau binatang atau Malaikat itu. 

Dan semua sifat-sifat atau ciri-ciri ini akan nampak dengan bentuk-bentuk yang jelas di Hari Pengadilan.

Orang yang menurut hawa nafsu nampak seperti babi,

Orang yang garang dan ganas seperti anjing dan serigala,

Orang yang suci seperti Malaikat.

Tujuan disiplin akhlak (moral) ialah untuk membersihkan Hati dari karat-karat hawa nafsu dan amarah, sehingga ia jadi seperti cermin yang bersih yang akan memantulkan Cahaya Alloh Subhanahuwa Taala.

Mungkin ada orang bertanya,
"Jika seorang itu telah dijadikan dengan mempunyai sifat-sifat binatang, Iblis dan juga Malaikat,  bagaimanakah kita hendak tahu yang sifat-sifat Malaikat itu adalah sifatnya yang hakiki dan yang lain-lain itu hanya sementara dan bukan sengaja?"

Jawabannya ialah mutiara atau inti sesuatu makhluk itu ialah dalam sifat-sifat yang paling tinggi yang ada padanya dan khusus baginya.  Misalnya keledai dan kuda adalah dua jenis binatang pembawa barang-barang,  tetapi kuda itu dianggap lebih tinggi darjatnya dari keledai karena kuda itu digunakan untuk peperangan. 

Jika ia tidak boleh digunakan dalam peperangan, maka turunlah ke bawah derajatnya kepada derajat binatang pembawa barang-barang saja.

Begitu juga dengan manusia;  daya yang paling tinggi padanya ialah ia bisa berfikir yaitu Aqal.  Dengan pikiran itu dia bisa memikirkan hal-hal Ketuhanan. 

Jika daya berfikir ini yang meliputi dirinya,  maka bila ia mati (bercerai nyawa dari tubuh), ia akan meninggalkan di belakang semua kecenderungan pada hawa nafsu dan marah,  dan layak duduk bersama dengan Malaikat.  

Jika berkenaan dengan sifat-sifat Kebinatangan,  maka manusia itu lebih rendah tarafnya dari binatang,  tetapi Aqal menjadikan manusia itu lebih tinggi tarafnya, karena Al-Quran ada menerangkan bahwa,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.

Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Luqman:20)

Jika sifat-sifat yang rendah itu menguasai manusia,  maka setelah mati,  ia akan memandang terhadap keduniaan dan merindukan  keindahan di dunia saja.

Ruh manusia yang berakal itu penuh dengan kekuasaan dan pengetahuan yang sangat menakjubkan. Dengan Ruh Yang Berakal itu manusia dapat menguasai segala cabang ilmu sains.

Dapat mengembara dari bumi ke langit dan balik semula ke bumi dalam sekejap mata. Dapat memetakan langit dan mengukur jarak antara bintang-bintang.

Dengan Ruh itu juga manusia dapat menangkap ikan ikan dari laut dan burung-burung dari udara.

Menundukkan binatang-binatang untuk tunduk kepadanya seperti gajah,  unta dan kuda.

Lima indera (pancaindera) manusia itu adalah ibarat lima buah pintu terbuka menghadap ke Alam Nyata (Alam Syahadah) ini.

Lebih ajaib dari itu lagi ialah  Hati. Hatinya itu adalah sebuah pintu yang terbuka menghadap ke Alam Arwah (Ruh-ruh) yang ghaib. 

Dalam keadaan tidur,  apabila pintu-pintu dunia tertutup, pintu Hati ini terbuka dan manusia menerima berita atau kesan-kesan dari Alam Ghaib dan kadang-kadang membayangkan hal-hal yang akan datang. 

Maka hatinya adalah ibarat cermin yang memantulkan (bayangan) apa yang tergambar di Luh Mahfuz.  Tetapi meskipun dalam tidur, fikiran tentang hal-hal keduniaan akan menggelapkan cermin ini. 

Maka gambaran yang diterimanya tidaklah terang.  Setelah lepasnya nyawa dengan tubuh (mati),  Fikiran-fikiran tersebut hilang sirna dan segala sesuatu terlihatlah dalam keadaan yang sebenarnya.

Firman Alloh dalam Al-Quran :
Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qaaf:22).

Khamis, 22 September 2016

Cara mengenal Allah dengan mengenal diri sendiri.

Cara mengenal Allah dengan mengenal diri sendiri.

Salah satu cara mengenal Allah ialah dengan mengenal diri sendiri. Maksudnya ialah hakikat diri yang sebenarnya.

Adapun maksud diri yang sebenarnya itu bukanlah diri yang bersifat lahiriah, kerana jasad ini tidak membawa makna yang sebenar untuk mengenal Allah SWT.

Pada abad moden ini ramai dikalangan kita tidak mengenal dirinya yang sebenar. Mereka menganggap bahawa dirinya hanyalah tubuh badan yang terdiri daripada kulit, daging, tulang, darah dan sebagainya.

Yang dimaksudkan dengan sebenarnya ialah diri yang batin iaitu diri yang datang dan akan kembali kepada Allah SWT.

Ulama ilmu ketuhanan atau ilmu tauhid berpegang bahawa diri kita ini merupakan tangga untuk mengenal Allah, sesuai dengan dalil yang mengatakan:

“Siapa yang mengenal dirinya, sesungguhnya ia akan mengenal Tuhan-nya”.

Dikalangan ulama tasauf atau ulama ilmu ketuhanan selalu menasihatkan carilah diri kamu di dalam diri”, maksudnya ialah menyuruh agar kita mencari hakikat diri kita yang sebenarnya terlebih dahulu.

Apabila kita telah menemukan diri kita yang sebenarnya pasti kita akan mengakui hakikat adanya Allah SWT.

Hakikat diri yang sebenarnya merupakan roh atau jiwa ataupun rohani yang ada dalam diri manusia itu sendiri yang harus dikenali setiap manusia.

Diri batiniah ini tidak dapat dilihat atau diraba oleh mata lahiriah dan tangan manusia.

Walaupun di dalam Al Quran “diri” itu disebut dengan berbagai istilah, tetapi tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada manusia supaya berfikir bahawa betapa luasnya “diri” yang hakikat itu di dalam manusia.

Diri manusia dilengkapi oleh Allah dengan sifat-sifat tertentu, kemudian sifat-sifat tersebut dinilai atau dihisab samada baik ataupun buruk.

Firman Allah SWT maksudnya:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.  Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungjawapannya”.
(Al Isra’ 36)

Allah menjelaskan kepada kita  tentang istilah jiwa dan sifat yang terdapat pada jiwa, iaitu pendengaran, penglihatan, disamping roh juga akan diuji tentang ketakwaannya kepada Allah.

Itulah sebabnya ketika Allah berfirman kepada roh-roh atau jiwa sedia untuk berbakti dan melaksanakan perintah Allah SWT.

Untuk melakukan dan melaksanakan perintah tersebut maka diciptakanlah jasad, lalu Allah menjadikan Adam.

Roh telah berikrar dan berjanji kepada Allah, maka untuk membuktikan dan berbuat sesuatu maka roh memerlukan tempat iaitu jasad.

Istilah batin disebut juga dalam Al Quran dengan qalbi. seandainya qalbi tersebut diterangi dengan nur maka selamatlah seseorang itu. Maka sekiranya tiada nur, gelaplah seseorang itu. 

Qalbi mesti mempunyai asas yang membolehkannya selamat yang hanya Allah menentukannya.

Sesungguhnya segala sesuatu yang ada dalam diri berupa nafas, akal, nafsu dan roh bila menjadi satu maka dinamakan dengan insan.

Qalbi di dalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri.

Firman Allah SWT maksudnya:
“Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.
(As Sham, 9 - 10)

Jadi untuk merealisasikan pengertian bahawa siapa yang mengenal dirinya akan mengenali
Tuhan-nya itu, iaitu dengan cara memahami hakikat roh, jiwa atau qalbi yang sebenarnya. 

Sesungguhnya untuk mencapai ke tahap yang tinggi memerlukan pengetahuan dan keyakinan yang kukuh terhadap Allah SWT. Wallhu A’lam.

Rabu, 14 September 2016

MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DALAM ILMU MA'RIFAT

LAA ILAAHA ILLALLAH

1. LA (لا ) : di nama kalimat nafi, maksudnya: tidak ada yang lainnya yang di maksudkan dengan Allah itu melainkan HUWAL AWALU (هوالاول ),yakni AINUL HAQ yang yang awal-awal ada dengan sendirinya.

2. ILAAHA (اله ) : di namakan kalimat mumfi, maksudnya: yang sungguh-sungguh meniadakan akan yang lainnya melaikan HUWAL AWWAL itulah Allah yang di maksudkan.

3. ILLA (الا ) : di namakan kalimat istbat, maksudnya: menetapkan akan yang sebenarnya di maksudkan.

4. ALLAH (الله ) : di namakan kalimat mustbat, maksudnya: yang sungguh-sungguh menetapkan akan yang sebenarnya di maksudkan. Bahwa sesungguhnya: HUWAL AWWALU, HUWAL AKHIRU, HUWAZ ZAHIRU, HUWAL BATHINU itulah Allah yang sebenarnya di maksudkan.

Maka makna LAA ILAAHA ILLALLAH itu menurut ilmu Alqur'an tidaklah ada makna sembah atau yang di sembah,melaikan menetapkan keESAan HU (هو ) semata-mata.

Ketahuilah bahwa kata bahasa TUHAN itu asalnya adalah perkataan pada zaman sebelum Islam, yang di maksud adalah SANG HIYANG WIDI yakni maha raja DEWA, kemudian setelah islam masuk di Nusantara  ini maka TUHAN itu telah di gunakan kepada kalimat TAUHID sekadar makna pendekatan saja,yakni bukan makna yang tetap atau mutlak, seterusnya SOLAT di maknakan sembahyang,asalnya adalah menyembah atau memuja-muja SANG HIYANG WIDE itu. Maka segala makna itu adalah semuanya harus atau boleh saja, asal saja telah di kaji akan maksud yang sebenarnya menurut Alqur'an.

Kemudian ketahuilah bahwa yang menjadi pokok kalimah tauhid itu adalah dua(2) kalimat yaitu: ILAAHA dan ALLAH, adapun LAA dan ILLA adalah untuk menetapkan dan mengarahkan kepada sasaran yang di
maksudkan.

Adapun ILAAHA itu di dalam ilmu ma'rifat di namakan kalimah mabda wun (مبدو ) yaitu kalimah yang telah menghimpunkan akan segala sifat kesempurnaan yang Qahhaariyah (قهاريه ) yang terdahulu dari segala sesuatu. Mabdawun artinya yang terdahulu dari segala sesuatu, maka kandungan ILAAHA itu ialah JALAAL, jAMAAL, QAHHAR, KAMAAL.

Ada pun ALLAH itu di namakan kalimah maujud, yaitu kalimah yang bermakna nama jumlah segala puja dan puji untuk memuji kesempurnaan sifat ILAAHA yang telah maujud atau telah nyata pada kejadian alam langit dan bumi dan insan diri Adam dan seterusnya lagi. Maka kesempurnaan sifat ILAAHA itu yang telah maujud lagi sangat mulia di dalam alam ini ialah insan diri MUHAMMAD RASULULLAH S.A.W.

Ketahuilah bahwa malaikat-malaikat tidaklah hanya sujud kepada insan diri Adam, tetapi lebih-lebih lagi sujud kepada insan diri MUHAMMAD RASULULLAH yang sangat mulia itu, bahwa hal keadaan Muhammad Rasulullah itu adalah امام الانبياءوالمرسلين وامام اهل الجنة عبا دالله المو منين .

Adapun ILAAHA dan ALLAH itu oleh ulama-ulama ahli ma'rifat telah di satukan di dalam makna ISTBAT, kemudian LAA dan ILLA itu di satukan di dalam makna NAFI.

Tadi kalimat tauhid itu mengandung makna di dalam ilmu ma'rifat adalah NAFI dan ISTBAT, adapun hal keadaan yang mustahil itu selama-lamanya tidak ada. Oleh karena itu tidak ada yang di tiadakan oleh LAA dan tidak ada yang di kecualikan atau yang di sisih oleh ILLA, maka ketetapan makna lagi di dalam ilmu ma'rifat hanyalah ISTBAT semata-mata, oleh karena telah berkata di antara ulama-ulama ahli ma'rifat: "tatkala aku mengatakan LAA maka sendirinya adalah ILLA", maka kesudahan Faham tentang makna kalimat tauhid itu adalah terhimpun di dalam zikir sir yakni zikir haqiqat ¤HU-ALLAH¤.

Telah berkata imam Al Ghazali: "dan hanya sanya puncak makna yang di maksud oleh kalimat tauhid itu adalah yang mudah bagi kematian seseorang muslim,tidaklah kosong di dalam qalbinya dengan zikrullah".

Maka yang mudah itu ialah HU-ALLAH (هو * الله ) pada masuk dan keluar napas, bahwa lidah kemungkinan boleh kelu. hanya tinggal lagi masing-masing menanyakan kepada guru yang mursyid, apakah yang sebenarnya di Esakan dengan zikir HU-ALLAH itu.

Menurut ahli-ahli tauhid adalah meng Esakan Dzat beserta kesempurnaan sifat Dzat, kemudian bagaimana Faham ahli-ahli tasawuf atau aulia-aulia Allah, sudah tentu ada perbezaannya. Oleh karena itu tuntutlah dan carilah sampai dapat dan difahamkan oleh Nya.

Kemudian ingatlah: janganlah LAA itu di artikan meniadakan Allah yang di katakan oleh orang-orang yang bukan islam, dan ILLA itu jangan pula di artikan mengecualikanNya, Bahwa yang di katakan Allah oleh mereka itu adalah yang batil semata-mata.

Bunyi ayat: انما المشركون نجس artinya: hanya sanya yang di katakan Allah oleh orang-orang yang bukan islam itu adalah sebagai najis di dalam pandangan hukum islam(mensyirikkan Nya).

Mengenai maksud MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAH DALAM ILMU MA'RIFAT, semoga kita semua di beri pemahaman yang benar(sodiq) dan di beri syafaat dan hidayah oleh-Nya..Amien...