Pages

Memaparkan catatan dengan label hadith Ahmad. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label hadith Ahmad. Papar semua catatan

Ahad, 4 Januari 2015

PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW.


Kitab TEBERUBUT ( Kunci Pembuka dan Rahasia ILMU MA'RIFATTULLAH )

PEMAHAMAN ILMU SYAREAT berpedoman pada apa yang TERTULIS di ALQURAN dan HADIST sehingga terjadi banyak penafsiran yang terkadang saling bertentangan seperti adanya PERAYAAN MAULID NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW.
Sedangkan ......Dalam PEMAHAMAN ILMU HAKEKAT berpedoman pada JIWA dan mengikuti ILHAM yang di terima oleh JIWAnya.....

Jika JIWAnya menginginkan merayakan MAULID NABI MUHAMMAD RASULULLAH SAW maka dia akan merayakannya tanpa menyalahkan orang lain yang TIDAK MERAYAKANNYA ......begitu juga sebaliknya jika JIWAnya TIDAK INGIN MERAYAKANNYA maka dia tidak akan merayakannya tanpa menyalahkan orang lain yang MERAYAKANNYA....

Allah swt berfirman dalam surat ASY SYAMS 8-10,yaitu :
" ....Allah mengilhamkan kepada JIWA itu jalan KEFASIKAN dan KETAQWAANNYA,sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan JIWA itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.."

"Dari Wabishoh bin Ma'bad ia berkata :
" Saya datang kepada Rasulullah saw dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau.


Saat itu di sisi beliau terdapat sekelompok sahabat, maka saya pun melangkahi mereka hingga mereka berkata :
" Wahai Wabishoh, menjauhlah dari Rasulullah saw, menjauhlah wahai Wabishah ! "
Saya berkata :
" Saya adalah Wabishah, biarkan aku mendekat padanya, karena ia adalah orang yang paling aku cintai untuk berdekatan dengannya."

Maka beliau pun bersabda:
" Mendekatlah wahai Wabishah, mendekatlah wahai Wabishah."


Saya mendekat ke arahnya sehingga lututku menyentuh lutut beliau, kemudian beliau bersabda :
" Wahai Wabishah, aku akan memberitahukan (jawaban) kepadamu sesuatu yang menjadikanmu datang kemari."

Saya berkata :
" Wahai Rasulullah, beritahukanlah padaku."


Maka beliau pun bersabda :
" Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)."


Saya berkata, " Benar."
Beliau lalu menyatukan ketiga jarinya dan menepukkannya ke dadaku seraya bersabda :
" Wahai Wabishah, mintalah petunjuk dari JIWA mu. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan hati dan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia membenarkanmu dan manusia memberimu fatwa " (Musnad Ahmad, no.180001)

Isnin, 29 September 2014

NASA TEMUI TROMPET SANGKAKALA MALAIKAT ISRAFIL




Peristiwa mengerikan yang akan terjadi pertama kali pada hari kiamat adalah ditiupnya sangkakala (ash-shur) oleh malaikat Israfil atas perintah Allah.


Makna ash-shur secara etimologi (bahasa) adalah al-qarn (tanduk). Sedangkan menurut istilah syariat, yang dimaksud adalah sangkakala yang sangat besar yang malaikat Israfil telah memasukkannya ke dalam mulutnya (siap untuk meniupnya), dan dia sedang menunggu bila dia diperintahkan untuk meniupnya. (Syarh Lum’atul Itiqad karya Ibnu Utsaimin, hal. 114)


Makna ini disebutkan dalam hadits shahih dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata:
Seorang badui bertanya: “Wahai Rasulullah, apa itu ash-shur?” Rasulullah menjawab: “Tanduk yang akan ditiup.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Abu Dawud. Hadits ini disebutkan dalam Al Jami Ash Shahih 6/113-114, karya Asy Syaikh Muqbil)


Ilmuwan NASA ‘Menemukan’ Terompet Sangkakala Malaikat Israfil
Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP) adalah alat yang merupakan sebahagian dari program atau misi NASA untuk melihat Kosmologi (studi tentang sifat alam semesta) secara keseluruhan. Projek ini melakukan observasi terhadap alam semesta untuk mencari bentuk sebenar alam semesta. Tekaani yang umum selama ini mengatakan bahwa alam semesta berbentuk bulat-bundar atau tekaan lain menyebutkan bentuknya mendatar.


Dengan menggunakan WMAP, mereka mendapatkan sebuah kesimpulan yang sangat mengejutkan, kerana hasil penelitian tersebut menemukan bahawa alam semesta ini berbentuk seperti trompet.


Pada bahagian hujung belakang ‘trompet’ alam semesta itu merupakan alam semesta yang tidak boleh diamati (unobservable), sedangkan bahagian depan, di mana bumi dan seluruh sistem suria berada merupakan alam semesta yang masih mungkin untuk diamati (observable).


“Dan ditiuplah sangkakala, Maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu putusannya masing-masing.” (Az Zumar: 68)


“Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.” (Al Kahfi: 99)


“Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Dan semua mereka datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri. (An Naml: 87)


“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.” (Yasin: 51)


Banyak ulama tafsir mengatakan bahawa tiupan trompet sangkakala di ayat-ayat tadi selalu diertikan sebagai peristiwa di hari kiamat. Dr Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir Al Wasith menghuraikan bahawa tiupan trompet di hari kiamat itu tiga kali. Pertama, tiupan yang menggentarkan, lalu kedua yang mematikan seketika seluruh makhluk. Tiupan ketiga tanda mulainya hari kiamat, di mana semua dibangkitkan dan dikumpulkan.


Kalau kita cermati, Al Quran menyebutkan bahwa tiupan itu selalu “di dalam” terompet, “Wanufikha fi-shshuuri”. Mengapa terompet? Mengapa di dalam (Fi)?


Tim WMAP mengamati pola titik-titik panas dan dingin radiasi microwave kosmik, yang menggambarkan bentuk alam semesta 380.000 tahun setelah Big Bang. Projek WMAP dari NASA membuat peta titik-titik tadi secara menyeluruh, hasilnya ialah pola itu cenderung memudar, yakni tidak ada titik panas dan dingin yang tampak melebihi jarak rentang 60 darjah. Ini menunjukkan bahawa ketika mengembang, alam semesta terjulur panjang. Sempit di depan dan kemudian makin lebar seperti corong. Mirip bentuk terompet berada di pertengahan. Hal ini tentunya menyangkal teori asal selama ini yang menyatakan bahawa bentuk alam semesta seperti bola (bulat) yang mengembang ke segala arah.


Tim WMAP yakin bahawa alam semesta bukanlah berbentuk bola, tetapi berbentuk trompet. Alam semesta bukan meluas tak terbatas, tetapi dibatasi oleh hujung terompet. Jadi, alam semesta ada awal dan akhirnya. Hanya Allah yang tidak berawal dan berakhir, “Huwal awwalu wal akhiru”.


“Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari keadaan gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al Maidah: 15-16)


“Itulah Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al Baqarah: 2)


“Sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fusshilat: 41-42)


Maha Benar Allah atas segala Firman-Nya


Sumber penpatah.blogspot.com

Ahad, 29 Jun 2014

HUKUM MEMBERUS GIGI SEMASA PUASA?

HUKUM MEMBERUS GIGI SEMASA PUASA?
Islam menggalakkan bersugi (berus gigi) kerana ia mengelakkan bau busuk mulut seseorang. Bahkan, kalaulah tidak menjadi beban kepada umat ini sudah pasti kita diwajibkan bersugi lima kali sehari. 

Ini seperti sabda Nabi s.a.w:
“Jika tidak kerana bimbangkan membebankan umatku nescaya akan aku perintahkan mereka bersugi setiap kali waktu solat” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Apabila kita berpuasa, bau mulut kita menjadi kuat. Ini sesuatu yang sukar dielakkan. Allah tahu hakikat tersebut. Allah Maha Tahu bahawa bau tersebut terhasil kerana kita tidak makan dan minum sepanjang hari keranaNYA. 

Justeru itu, Nabi s.a.w bersabda:
“Bau busuk mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada haruman kasturi” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Namun ini tidaklah bererti orang yang berpuasa itu disuruh untuk membiarkan orang lain mencium bau busuk mulutnya. Itu akan menyakiti orang lain. Apatahlagi di zaman kini yang mana kita bekerja di tempat awam, ataupun membabit ramai orang di sekeliling. Tambahan lagi, jika terdapat mereka yang bukan muslim, tentu akan menimbulkan rasa yang tidak selesa terhadap muslim yang berpuasa pada bulan Ramadan ataupun boleh menghilang gambaran keindahan Islam.
Maka pendapat yang menyuruh kita membiarkan bau busuk mulut semasa berpuasa tidak begitu kukuh dari segi sifat semulajadi ataupun neutrality agama ini. Dengan menghormati perbezaan pendapat, namun realiti kehidupan yang mesra menolak pandangan tersebut. Ini ditambah dengan hadis-hadis yang seakan menggalakkan untuk seseorang yang berpuasa mengekalkan bau mulutnya itu adalah lemah dari segi riwayat. 
Tidak kukuh untuk disandarkan kepada Nabi s.a.w. seperti yang dinyatakan oleh al-Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfat al-Ahwazi. Maka tidak boleh menjadi hujah. Apatah lagi bertentang dengan sifat Islam itu sendiri. Hadis-hadis yang menggalakkan kebersihan dan juga bersugi adalah umum merangkumi setiap waktu termasuk bulan Ramadan.
Antara hadis yang tersangat daif yang digunakan dalam bab ini ialah dikatakan Nabi s.a.w bersabda:“Jika kamu berpuasa maka bersugilah pada waktu pagi dan jangan bersugi pada waktu petang”. Ia diriwayatkan oleh al-Bazzar, at-Tabarani dan lain-lain. Namun ia terlalu daif yang tidak boleh dijadikan hujah. Di samping di sana ada hadis daif lain namun lebih kuat ataupun kurang daif daripadanya iaitu diriwayatkan ‘Amir bin Rabi’ah berkata: “Aku melihat Rasulullah bersugi sedangkan beliau berpuasa” (Riwayat Ahmad, at-Tirmizi, Abu Daud dll).
Apapun galakan bersugi bagi setiap waktu solat yang diriwayatkan dalam hadis yang sahih adalah asas dalam amalan muslim. Ertinya, bersugi sentiasa digalakkan tanpa mengira samada puasa ataupun tidak. Nabi s.a.w dalam hadis sahih yang lain menyatakan tujuan bersugi dengan menyebut:
“Bersugi itu membersihkan mulut dan menjadikan Tuhan redha” 
(Riwayat Ahmad, an-Nasai, Ibn Hibban dll).
Justeru itu, jadikanlah puasa itu menzahirkan keindahan pekerti dalam perkataan dan perbuatan yang mengeratkan hubungan baik sesama masyarakat. Oleh itu, jangan jadikan bau mulut kita menimbulkan keresahan orang lain terhadap mereka yang berpuasa. Berpuasa dan bersugilah!

Ahad, 25 Mei 2014

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat

Muliakan Orangtua dan Rawatlah Ia Hingga Akhir Hayat

SUNGGUH tidak ada kecerdasan yang lebih tinggi, amal yang sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orangtuanya dan merawatnya hingga akhir hayat.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al- Isra’ [17]: 23).

Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa kata qadhaa dalam ayat ini berarti perintah. Sementara itu mujahid berkata artinya adalah berwasiat.

Berarti ayat ini sangat penting dan utama untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seluruh umat Islam agar benar-benar bersemangat dalam memuliakan orangtua. Apalagi, perintah ini Allah tegaskan setelah perintah untuk ikhlas beribadah dengan tidak mempersekutukan-Nya.

Dengan kata lain, siapapun dari umat Islam yang tidak memuliakan orangtuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Sebaliknya, kehinaan demi kehinaan akan selalu menghampiri perjalan hidupnya di dunia maupun akhirat.


Sebuah Hadits menyebutkan, “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina, orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orangtuanya lanjut usia di sisinya (semasa hidupnya), namun ia (orangtuanya) tidak memasukkannya ke Surga.” (HR: Ahmad).

Suatu ketika, seorang sahabat bernama Jahimah pernah datang kepada Nabi dan berkata, “Ya Rasulullah aku ingin ikut perang dan aku datang kepadamu untuk meminta saran”. Rasulullah pun bertanya, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” “Ya, masih,” jawabnya. Maka beliau bersabda, “Kalau begitu, temanilah ia, karena surga itu terletak di kedua kakinya.” (HR. Ahmad).

Dengan kata lain, seorang Muslim yang tidak menghormati orangtuanya, tidak memuliakannya, apalagi tidak mau merawatnya, jelas hidupnya akan jauh dari keberkahan. Dan, di akhirat ia tidak berhak atas surga Allah Subhanahu Wata’ala.

Semoga bermanfaat..