Pages

Memaparkan catatan dengan label ilmu rohani. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ilmu rohani. Papar semua catatan

Jumaat, 7 Julai 2017

Manusia terdiri dari bagian ROHANI dan JASMANI

Manusia terdiri dari bagian ROHANI dan JASMANI.Bagian yang ROHANI adalah PRIBADI-NYA.Sedangkan bagian JASMANI adalah BADAN KASAR/MANUSIA –NYA.

Bagian rohani inilah yang spiritual merupakan kenyataan sejati.Jasmani adalah badan kasar yang dipenuhi sifat ego dan segala hawa nafsu.

Badan manusia inilah merupakan kerajaan ROH/URIP yang harus dikuasai oleh manusia,Maka dari itu badan manusia sering disebut JAGAD CILIK/MICRO COSMIC.

Jika manusia sudah dapat menguasai jagad cilik ini maka dia telah menjadi SATRIYA SEJATI.Dalam dirinya telah mencapai satu kesatuan.

Dengan demikian badannya akan mengalami proses SPIRITUALITASASI. Disitulah akan terjadi perkembangan yang selaras dan seimbang,karena bagian yang jasmani telah dapat dibentuk menurut kehendak rohani.

Oleh karena itu KESADARAN FISIK adalah KESADARAN SEMENTARA. Kesadaran sesungguhnya adalah KESADARAN ROH/URIP.

Itulah AKU SEJATI [INGSUN/URIP].Oleh karena itu apa yang diinginkan kesadaran fisik tidak selamanya sama dengan kesadaran roh [aku sejati].

Karena itu jika kita ingin melakukan sesuatu,tunggulah dan rasakanlah apakah betul diri sejati yang menginginkan?.

Sebab yang namanya DIRI SEJATI itu sesungguhnya adalah ROH/ INGSUN Dengan kata lain ROH = INGSUN = YANG MELIPUTI JAGAD RAYA = YA URIP =HIDUP.

DIRI SEJATI inilah yang sebagai radar RASA SEJATI.Supaya kita tahu petunjuk-petunjuk SANG GURU SEJATI dengan baik dan tepat.

Maka dari itu kita perlu menjaga kepekaan rasa sejati,karena rasa sejati itu ibarat air dalam gelas yang harus selalu dijaga agar tetap TETAP BERSIH dan dalam KONDISI TENANG.

Akibatnya kita akan dengan mudah mengetahui apa langkah-langkah yang tepat harus dilakukan.Inilah sebenarnya merupakan petunjuk – petunjuk SANG GURU SEJATI.

Maka dari itu dalam melakukan OLAH ROSO/RASA harus dalam kondisi tenang dan kondisi bersih itu adalah tentram. Artinya kita harus selalu berusaha dalam segala hal TENANG-KALEM tapi pasti. Sehingga jika melakukan pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan mudah.

Untuk itu dibutuhkan modal KESABARAN HATI,KETABAHAN serta KETINGGIAN MENTAL. GURU SEJATI itu adalah GURU-MU yang sudah bersatu manunggal dengan RAGA-MU itu.Jadi kita tidak perlu jauh-jauh mencari guru,untuk itulah kita perlu lebih mengenal DIRI SENDIRI

Isnin, 3 April 2017

BOLEHKAH KITA MELIHAT ZAT ALLAH?

BOLEHKAH KITA MELIHAT ZAT ALLAH?

Sebenarnya tema persoalan tentang boleh ke tidak melihat ZAT Allah itu telahpun banyak dikupaskan dan diperbincangkan dengan begitu panjang lebar oleh para tokoh ilmuan dan ulama serta telah banyak dibukukan pandangan-pandangan tersebut.

Sejak di zaman Nabi saw lagi, isu sedemikian telah mencetuskan suatu polimik yang memihakkan dua golongan pendapat, satu pihak yang diwakili oleh Ummul Mukminin Siti Aisyah yang menentang hebat bahwa ZAT Allah itu tidak boleh dilihat kecuali nanti di dalam akhirat yakni suatu tempat yang bernama syurga.

Ummul Mukminin Aisyah berpegang kuat kepada satu dalil al-Qur’an daripada Surah al-An’am: 103.

Satu pihak yang lain pula tetap menyokong Sayyidina Ibnu Abbas RA dengan kenyataan hadis-hadis yang sahih bahwa Nabi saw memang telah melihat ZAT Allah di peristiwa malam israk mikraj itu, malah bukan hanya melalui pandangan mata hati Baginda tetapi meliputi pandangan mata kepala Baginda sendiri.

Siapakah Sayyidina Ibnu Abbas RA? Beliau adalah sahabat terdekat, murid dan sepupu kepada Nabi saw yang bapanya bernama Abbas bin Abdul Muttalib.

Semasa remajanya beliau banyak belajar langsung dari Nabi saw, terutamanya ilmu tentang ayat-ayat al-Qur’an. Pada suatu ketika di masa remajanya, Nabi saw pernah menyuruhnya membuka ruang mulutnya, lalu Nabi saw meludah ke dalam mulutnya itu.

Sejak dari itu, Sayyidina Ibnu Abbas RA dikatakan sebagai salah seorang sahabat yang sangat luarbiasa dan dikagumi, yang boleh menerangkan tentang rahsia-rahsia dari al-Quran yang kebanyakan para sahabat lain sendiri tidak sampai pengetahuannya.

Sayyidina Umar al-Khattab selalu merujuk kepada Sayyidina Ibnu Abbas tentang sesuatu ayat al-Quran yang sulit difahami secara biasa.

Pada suatu hari Sayyidina Umar al-Khattab dengan sengaja membawa Sayyidina Ibnu Abbas di hadapan sahabat-sahabat yang lain lalu meminta sahabat-sahabat yang lain itu menghuraikan maksud satu surah.

Para sahabat memberikan pendapat dan keterangan yang berbeda-beda. Kemudian  semua pendapat para sahabat itu disanggah oleh Sayyidina Umar al-Khattab lalu menganjurkan supaya para sahabat mendengar sendiri apa yang akan diperjelaskan oleh Sayyidina Ibnu Abbas RA.

Setelah mendengar penjelasan daripada Sayyidina Ibnu Abbas RA, barulah semua sahabat tersedar dan terkejut bahwa apa yang dimaksudkan dalam satu surah al-Qur’an itu menunjukkan petanda bahwa Nabi saw tidak lama lagi akan wafat.

Kaum mazhab Muktazilah dan mazhab Asyaariah tidak menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidina Ibnu Abbas RA kecuali mereka yang terdiri daripada golongan Salafus Soleh yang termasuk kaum Sufi, terutamanya dari hadis-hadis yang berkaitan dengan Nabi saw telah melihat ZAT Allah.

Kaum mazhab Muktazilah ini meletakkan akal fikiran mengatasi kitab suci al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw. Manakala kaum mazhab Asyaariyah, pendiri utamanya adalah seorang tokoh yang mulanya berasal dari mazhab Muktazilah, disebabkan adanya pergeseran pendapat maka beliau keluar dari Muktazilah lalu bergabung pula dengan seorang tokoh bernama Imam Mansur al-Maturidi dan kemudian mendirikan mazhabnya yang sendiri bernama Asyaariyah yang berdasarkan kepada nama benarnya Imam Abu Hasan al-Asyaari.

Tokoh al-Asyaariyah ini oleh kerana banyak menguasai teologi filsafat Yunani, lalu menyusun satu metodologi ilmu tauhid atau disebut ilmu kalam yang diasaskan dari teologi filsafat Yunani dinamakannya pula sebagai ilmu Sifat 20 untuk menjelaskan bahwa ZAT Allah itu mempunyai 20 sifat dengan tujuan untuk dijadikan bahan serangan perbahasan kepada kaum Muktazilah yang banyak berhujat dengan akal dan filsafat.

Yang aneh, kaum Asyaariyah mendakwa bahwa mereka sahajalah yang tergolong sebagai Ahlussunnah Wal jamaah, maka barangsiapa yang berbeda pendapat dengannya tidak dikira sebagai Ahlulsunnah Wal Jemaah.

Kaum Asyaariyah ini mengajarkan bahwa ZAT Allah itu sangat-sangat memerlukan Sifat, jika tanpa Sifat maka ZAT Allah itu tidak aktif, tidak ada kualiti dan tidak dapat menzahirkan penciptaanNya.

Misalnya ZAT Allah itu memerlukan Sifat Bashar untuk melihat, memerlukan Sifat Kalam untuk berkata-kata, memerlukan Sifat Sama’ untuk mendengar dan begitulah seterusnya.

Bagi kaum Asyaariyah antara ZAT Allah dan Sifat Allah itu adalah dua perkara yang jauh berbeda, berasingan (terpisah), dan masing-masingnya tersendiri.

Dan menurut pegangannya lagi, Wujud itu bukan satu tetapi terbahagi dua; satu wujud Tuhan dan satu lagi wujud makhluk. Justeru itu, kaum Asyaariyah ini berpegang kepada konsep tauhid dualisme.

Lantaran demikian, kaum Sufilah yang bangkit untuk menentang konsep  tauhid kaum Asyaariah itu yang pada intinya berlandaskan kepada corak teologi filsafat Yunani untuk mengemukakan bahwa ZAT Allah itu hanya memiliki 20 sifat yang wajib dan tidak lebih, antara ZAT dan Sifat saling berbeda hakikatnya.

Kaum Sufi telah menghujahkan bahwa apa yang difahami sebagai Sifat Allah, sebenarnya itulah juga ZAT Allah. Allah melihat dengan ZATNya, berkata-kata dengan ZATNya, mendengar dengan ZATNya dan sebagaimana seterusnya.

Menurut kaum Sufi bahwa ZAT Allah itu sentiasa aktif, sentiasa sibuk mezahirkan sesuatu, jika ZAT Allah itu tidak ada kualiti, maka bagaimanakah ZAT Allah itu dapat mezahirkan Keperkasaan dan KeindahanNya yang mutlak?

Dari tadi ditegaskan bahwa kaum Asyaariyah ini memang menolak semua hadis-hadis yang diriwayatkan Sayyidina Ibnu Abbas RA, padahal banyak ulama hadis berpendapat bahwa hadis-hadis riwayat Sayyidina Ibnu Abbas RA kebanyakan martabatnya adalah sahih dan dikumpulkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Seperti hadis yang meriwayatkan bahwa Nabi saw telah bersaba; “Aku melihat Allah pada wajah seorang pemuda yang tampan dan berjanggut.”

Kebanyakan ulama-ulama sufi seperti di antaranya Imam al-Ghazali dan Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan para Salafus Soleh yang lainnya seperti Ibnu Taimiyah yang pada mulanya banyak mengkritik ahli sufi dan tasawuf tetapi kemudiannya berpihak kepada tasawuf dan beliau sendiri adalah termasuk kaum sufi, mempertahankan hadis tersebut adalah sahih riwayat Bukhari dan Muslim, tetapi kaum Asyaariyah mengatakan itu hadis palsu!

Kaum Salafus Soleh yang mempertahankan bahwa Nabi saw telah melihat Allah pada wajah seorang pemuda yang tampan dan berjanggut, mereka mengambil prinsip tidak mentakwilkan hadis tersebut dan terus percaya sahaja kepada matan kebenarannya.

Apa yang menghairankan juga pada sikap kaum Asyaariyah ini, ternyata di dalam kitab suci al-Qur’an Surah Thaha: 10 -14, dimana terdapat sebuah kisah yang menceritakan ketika Nabi Musa semasa perjalanannya di hutan rimba lalu terlihat api, Nabi Musa pun berkata kepada isterinya yang berada di sampingnya itu, “Berhentilah! Sesungguhnya aku ada melihat api semoga aku dapat membawakan untukmu satu cucuhan daripadanya atau aku pergi mendapatkannya di tempat api itu.”

Pada ketika itu memang Nabi Musa sangat memerlukan api di dalam hutan rimba yang dingin dan gelap itu. Kemudian apabila Nabi Musa tiba di tempat api itu yang disangkakan semata-matanya api, tiba-tiba terdengar olehnya seruan dari api itu berkata-kata, “Wahai Musa! Sesungguhnya AKU ini Tuhanmu!

Maka bukalah kasutmu kerana engkau sekarang berada di Lembah Thuwa yang suci. Dan AKU telah memilihmu menjadi Rasul, maka dengarlah apa yang akan diwahyukan kepadamu.

Sesungguhnya AKUlah Allah; tiada yang wujud melainkan AKU, demi itu beribadahlah kepadaKu dengan mendirikan solat untuk mengingati AKU!”

Nah, dengan penegasan firmanNya itu apakah menjadi halangan untuk ZAT Allah ingin memperlihatlan kewujudanNya pada sisi yang lain iaitu api?

Mengapakah kaum Asyaariyah tidak menolak kenyataan yang diceritakan di dalam kitab suci al-Quran tersebut lalu menafikan pula kebenaran Nabi saw yang melihat Allah pada sisi wajah seorang pemuda yang tampan dan berjanggut? Sedangkan darjat Nabi saw itu lebih mulia daripada darjat Nabi Musa.

Kaum Asyaariyah dan juga kaum Muktazilah terlalu berpegang kuat kepada prinsip bahwa melihat ZAT Allah itu suatu perkara mustahil atas dalil yang mereka pegang di dalam kitab suci al-Qur’an Surah al-‘Araf: 143

Bahwa pada suatu waktu yang tertentu Nabi Musa telah bermohon kepada Allah agar memperlihatkan ZATNya supaya Nabi Musa dapat melihat RabbNya, maka permintaan Nabi Musa itu telah disanggah oleh firmanNya,

“Engkau sekali-kali tidak akan sanggup melihatKu, (kerana AKU bukan berada di dalam alam ini dan juga bukan berada di luar alam ini).

Tetapi pandanglah kepada gunung itu, maka jika gunung itu tetap berada di tempatnya, nescaya engkau akan dapat melihatKu. Setelah Allah bertajallikan cahayaNya kepada gunung itu, tiba-tiba gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan.

Dengan itu kaum Asyaariyah dan kaum Muktazilah menegaskan prinsipnya, sedangkan Nabi Musa tidak mampu untuk melihat tajalli Tuhan dan gunung lagikan hancur lebur, kini masakan Nabi Muhammad saw melihat ZAT Allah di malam israk mikraj?

Dan dengan itu juga mereka menolak hadis-hadis riwayat Sayyidina Ibnu Abbas RA sebagai hadis palsu dan bahwa sebenarnya Nabi saw  bukan melihat Rabbnya di malam israk mikraj itu.

Sebaliknya apa yang dilihat oleh Nabi saw itu adalah malaikat Jibril yang bersamanya pada ketika perjalanan israk mikraj.

Apakah pula pandangan kaum Sufi terhadap prinsip kaum Asyaariyah dan kaum Muktazilah itu? Maka kaum Sufi telah menjelaskan bahwa kedudukan kisah di antara Nabi Musa dan Nabi Muhammad saw itu tidak boleh dipersamakan matannya.

Nabi Musa ingin melihat ZAT Allah atas permohonannya sendiri dan caranya sendiri sebagai seorang makhluk yang mempunyai sepasang bola mata untuk melihat. 

Sedangkan Nabi Muhammad saw tidak sekali-kali pernah bermohon kepada Allah untuk melihat ZAT Allah. Maka adapun yang diperlihatkan kepada Nabi saw akan Keagungan ZAT Allah itu adalah atas kehendak Allah sendiri yang mahu membukakan hijabNya kepada Nabi saw.

Bagitupun perjalanan israk mikraj Nabi saw itu bukan atas kemahuan atau usaha Baginda, tetapi Baginda telah diundang oleh Alllah Subhanahu Wa Ta’ala dan dijemput oleh Malaikat Jibril pada malam itu.

Sedangkan Nabi Musa tidak pernah dipelawa oleh Allah untuk melihat ZATNya. Dengan itu Nabi Musa belum cukup bersedia untuk melihat ZAT Allah, sedangkan Nabi Muhammad telah Allah perhiaskan kepada Baginda segala persediaan yang cukup sempurna dan rapi untuk melihat ZATNya.

Maka segala daya usaha untuk mencapaikan cita-cita seseorang supaya dapat melihat ZAT Allah, barang tentunya mustahil kecuali hal itu datangnya daripada anugerah Allah sendiri  kepada hamba-hambaNya yang terpilih untuk melihat ZATNya.

Maka apakah menjadi sesuatu halangan dan mustahil bagi Allah untuk melakukan apa sahaja keinginanNya?

Kaum Asyaariyah beralasan sedangkan gunung Thursina lagikan hancur-lebur apabila Allah bertajallikan cahaya kewujudanNya kerana menurut hukum akal itu juga suatu perkara mustahil,  tetapi bagaimanakah pula ketika Nabi Ibrahim dihumbankan ke dalam unggun api oleh Namrud, maka api itu tidak pula membakar jasad Nabi Ibrahim malah memberikan pula rasa kesejukan?

Api yang memberikan kesejukan dan bukan kehangatan yang membakar, apakah itu mustahil bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk melaksanakannya?

Ternyata melalui kisah Nabi Ibrahim itu, dapat memberikan jawaban bahwa bukan api itu yang berkudrat lalu bertindak sebagai sebab dan akibatnya kecuali Allah jua.

Ketika keadaan gunung Thursina itu hancur lebur, bagaimanakah ia hancur? Apakah gunung itu mempunyai kuasa dan kehendaknya sendiri untuk menjadi hancur dan lebur? Atau Allah sendiri yang menghancurkannya?

Kaum Sufi tidak membedakan pengertian antara ZAT dan Sifat. Bagi mereka setiap wujud lahiriyah itu terdapat juga wujud batiniyahnya.

Maka apabila kita terpandang kepada sesuatu tajalli dan kebesaran ciptaan Allah, itu bererti kita telah telus memandang kepada Af’alNya, memandang telus kepada Af’alNya bererti juga telah telus memandang kepada Nama dan Sifat Allah yang beragam itu, memandang telus kepada Nama dan Sifat Allah bererti telah telus memandang kepada ZAT Allah.

Nama, Af’al dan Sifat itu bukan lain dari ZAT dan terpisah dari ZAT. Hanya kita sebagai makhluk tidak sedar bahwa kita sebenarnya telah sentiasa memandang kepada ZAT Allah itu kemana pun kita berpaling dan menoleh!

BOLEHKAH KITA MELIHAT ALLAH ?

Boleh atau tidak adalah bergantung kepada “PERSEPSI” cara mana kita mentafsirkan soalan di atas.

Persepsi itu pula, boleh jadi boleh, boleh jadi tidak boleh atau boleh jadi tidak boleh dipersepsikan langsung !

Soalnya, yang mana satu yang melihat? Mata atau penglihatan?

Kalau kita melihat dengan mata, kenapa orang buta, ada mata, malah besar, bulat lagi celik, tetapi masih tidak dapat melihat?

Kalau kita melihat dengan mata, kenapa bila kita pejam mata, kita masih nampak gambaran rupa sesuatu?

Cuba kita tutup mata, bukankah kita masih nampak rupa ibu kita? Bukankah kita masih nampak wajah anak kita? Bukankah kita masih nampak rupa kereta, rupa duit, rupa artis, rupa buku dan rupa segala?

Orang buta sekalipun masih boleh melihat dan nampak “gelap” atau “hitam” atau “kelam” meskipun dia tiada kedua biji mata. Ini bermakna kita bukan melihat dengan mata !

Orang buta bukan tidak boleh melihat kerana tidak ada mata, tetapi orang buta tidak boleh melihat kerana tidak ada “Penglihatan”, maka ternyata yang melihat itu bukan mata tetapi yang melihat itu penglihatan.

Penglihatan bukan mata dan mata bukan penglihatan tetapi saling nyata-menyata,  namun tidak sama.

Umpama api dengan panas, umpama garam dengan masin, umpama kaca dengan gelas. Masing-masing berpisah tidak, bercantum pun tidak, tetapi saling nyata-menyata di antara satu dengan yang lainnya.

Api menyatakan panas, panas menyatakan api, tanpa api bagaimana nak mengenal panas, tanpa panas tidaklah api dikatakan api (tiada).

Begitu juga perumpamaan antara mata dengan penglihatan. Mata menyatakan penglihatan (menyatakan perihal yang dilihat) dan penglihatan menyatakan mata (menyatakan perihal yang melihat), tanpa mata bagaimana nak mengenal penglihatan (mengenal apa yang dilihat) dan tanpa penglihatan bagaimana nak mengenal mata.

Namun sebelum mata boleh mengenal penglihatan dan sebelum penglihatan boleh mengenal mata, perlu ada satu syarat. Syarat itu ialah, perlu ada CAHAYA .

Bila ada cahaya baru ada penglihatan dan penglihatan itulah yang dizahirkan kepada mata. Bila ada cahaya, barulah orang buta yang tidak ada dua biji mata sekalipun masih boleh melihat, meskipun yang dilihat itu cuma hitam, atau gelap atau kelam. Cahaya itulah yang menampakkan yang hitam, yang gelap dan yang kelam.

Bila ada cahaya barulah kita boleh melihat rupa ibu kita, rupa isteri kita, rupa anak kita. Bila ada cahaya barulah kita nampak mimpi-mimpi kita tatkala tidur, meskipun mata tertutup rapat.

Cahaya inilah yang diumpamakan sebagai “Roh”. Tanpa roh bermakna mati, bila mati tiadalah penglihatan, hancurlah mata.

Mata itu perkara yang TERSURAT (zahir). Penglihatan itu perkara yang TERSIRAT (batin). Manakala Cahaya itu perkara yang Tersirat di dalam Tersirat.

Zahir (mata) itu boleh dilihat, tetapi perlukan batin (penglihatan) untuk melihat dan batin itu perlukan diri batin(roh) untuk menampakkan. Tanpa diri batin (roh), maka segalanya tidak berfungsi. Mati !

Justeru itu, untuk melihat yang zahir, perlu ada yang batin dan untuk melihat yang batin perlu terlebih dahulu mengenal diri yang batin.

Hanya yang batin boleh melihat yang batin dan hanya yang batin juga boleh mengenal hakikat diri yang batin.

Mata tidak boleh melihat mata, kerana hal “melihat” (penglihatan) itu adalah  hal batin. Bila yang melihat itu hal batin, maka yang nampak juga adalah hal batin.

Bila mata (zahir) melihat mata (zahir), apa yang nampak? Kosong! Tidak  nampak apa-apa!  Kenapa kosong dan tidak nampak apa-apa? Nak nampak apa sedangkan nak melihat diri mata sendiripun tidak boleh dan tak tahu caranya.

Mana mungkin secara zahir, mata kita boleh melihat mata kita sendiri?, melainkan jika kita gunakan perantaraan cermin atau air, atau kamera atau apa saja perantaraan.

Jika kita guna cermin, baru kita nampak penzahiran mata kita di atas cermin. Penzahiran mata dalam wajah di atas cermin itulah hal kita, hal makhluk yang mati yang tak mampu untuk melakukan segala sesuatu wa’imah untuk mengelipkan mata sekalipun.

Penzahiran wajah dicermin itu hanya menerima dan mengikut perlakuan tuan yang empunya diri yang memegang cermin itu.

Wajah pemegang cermin di atas cermin itu nampak macam nyata, tapi hakikatnya ia tidak nyata. Ia hanya penzahiran atau pembalikan wajah si pemegang cermin yang dinampakkan oleh penglihatan ke atas cermin kepada mata.

Hal batin itu boleh “dikiaskan”atau “dizahirkan” untuk dinampakkan secara zahir melalui mata. Tujuan kiasan atau penzahiran itu adalah untuk mengenal diri batin. Bila diri batin itu telah dikenal, maka nyatakanlah diri batin itu dalam setiap sesuatu yang kita lakukan, baik zahir atau batin.

Contohnya begini.

Cuba kita pandang pada sebatang pokok.  Mata (zahir) yang memandang itu dapat melihat pokok kerana adanya penglihatan (batin).

Pokok yang dipandang itu dinampakkan oleh penglihatan pada mata kerana ada cahaya (diri batih/roh). 

Pokok yang “dizahirkan” pada mata itu nampak macam nyata (ada) namun hakikatnya pokok itu tidak nyata! (tidak ada).

Kenapa tidak ada? Sekarang kita pegang pokok yang dinampakkan oleh penglihatan itu. Apa yang kita pegang?

Kalau yang dipegang itu daun, itu bukan pokok, itu daun kepada pokok. Kalau yang dipegang itu ranting, itu bukan pokok, itu ranting kepada pokok.

Kalau yang dipegang itu akar, itu bukan pokok, itu akar kepada pokok.  Begitu juga dengan buah, bunga, dahan, putik dan sebagainya.

Semua itu bukan pokok tetapi adalah buah, bunga, dahan, putik kepada pokok.

Maka yang mana satu pokok? Pokok  tiada! kosong! dan tidak nampak! Setiap kali kita ingin menunjukkan diri pokok, tunjuk kita itu akan menunjukkan diri yang lain.

Ingin menunjukkan pokok, tetapi yang ditunjuk itu daun. Ingin menunjuk pokok, tapi yang ditunjuk itu dahan. Ingin menunjuk  pokok, tapi yang ditunjuk itu buah. Seolah-olah pokok itu hilang bila setiap kali ditunjuk.

Yang ada cuma Nama yang bergelar “pokok”. Pokok itu dinamakan pokok hanya untuk memudahkan kita mengenal akan hal benda yang dizahirkan oleh mata.

Bila ada nama baru mudah untuk kita kenal dan baru mudah untuk kita bercakap tentang perkara yang kita lihat.

Namun, jika pokok tiada, kosong dan tidak nampak, apa pula yang dinampakkan oleh mata itu kalau bukan pokok?

Nampak zahir ada pokok, tapi hakikatnya tiada pokok. Ilmu apa ini, nampak macam ada tapi tiada?

Tiada bukan bermakna tidak wujud. Kalau tidak wujud maka pokok itu tidaklah kita nampak.

Kalau tidak nampak, macam mana pula kita tahu itu pokok? Tentulah bila kita nampak, baru kita kenal itu pokok.

Tiada di sini bermaksud tidak nampak, tidak nampak bukan bermaksud buta. Tidak nampak kerana dek terlalu hampirnya penglihatan dengan mata.

Umpama kita melihat kuku di jari telunjuk, dari jauh kita boleh melihat kuku, tapi bila jari didekatkan hampir bersentuh mata, kita langsung tak nampak kuku.

Kuku tetap ada, tapi kita tiada penglihatan untuk melihat kuku yang teramat dekat dengan mata itu. Dek kerana terlalu dekat itulah, mata tidak nampak akan kuku.

Inilah hakikat pokok. Yang kita nampak itu cuma satu pokok, tetapi dari diri pokok yang satu itulah ia menunjuk dan menyatakan banyak diri-diri yang lain.

Dari diri pokok yang satu itulah kita nampak daun. Dari diri pokok yang satu itulah kita nampak dahan. Dari diri pokok yang satu itulah kita nampak buah, nampak ranting, nampak bunga, nampak akar, nampak hijau, nampak tinggi, nampak bentuk, nampak burung, nampak gerak angin, nampak embun, bahkan nampak hantu sekalipun!!

Sebaliknya, tiap-tiap diri yang satu itu, samada daun, dahan, buah, ranting, bunga, akar, hijau, tinggi, bentuk, burung, gerak angin dan hantu itupun menyatakan tentang diri pokok yang satu itu juga.

Yang satu menyatakan yang banyak dan yang banyak menyatakan yang satu. Saling nyata-menyata tetapi tidak sama. Pokok bukan daun dan daun bukan pokok, tetapi dari pokok itulah daun menyatakan dirinya dan dari daun itulah pokok menyatakan dirinya. Daun juga banyak, tetapi bilangan daun yang banyak itu tetap menunjukkan setiap diri-diri daun yang satu.

Umpama bila kita membilang jari yang ada pada tangan kanan. Nampak ada 5 jari (banyak) tetapi yang 5 jari itu menunjukkan diri ibu jari yang satu.

Yang 5 jari itu, menampakkan jari telunjuk yang satu, nampak jari hantu yang satu, nampak jari manis yang satu, nampak jari kelingking yang satu. Yang nampak pada bilangan ada 5 jari, tetapi tetap menunjukkan diri-diri jari lain yang satu. 

5 jari pun betul, 1 jari pun betul. 5 menunjukkan yang 1, yang 1 menunjukkan yang 5. Saling nyata menyata tetapi tidak sama. 5 bukan 1, dan 1 bukan 5, tetapi kesemuanya Jari.

Hakikatnya, pokok itu perkara batin. Perkara batin tidak boleh dilihat oleh mata zahir. Hanya “mata batin” boleh melihat perkara batin. Hal batin tidak dapat diperjelaskan oleh kata-kata. Hal batin adalah bahasa rasa, bukan bahasa kata-kata.

Begitulah perumpamaannya bila cuba menjawap soalan, Bolehkah kita melihat Allah ?

Mata itu dikiaskan sebagai hal zahir. Melihat (penglihatan) dikiaskan sebagai  hal batin. Roh itu dikiaskan sebagai diri batin. Allah itu dikiaskan sebagai hakikat batin. Yang zahir tidak boleh melihat yang batin. Hanya yang batin dapat melihat yang batin.

Untuk melihat yang batin, matikanlah hal-hal zahir (makhluk). Pulangkan segala sesuatu yang bernama (nama), pulangkan sesuatu yang berbuat (perbuatan), pulangkan sesuatu yang bersifat (sifat)dan pulangkan sesuatu yang berzat (zat) kepada pemilikNya. 

Bila segalanya telah dipulangkan, akan matilah perihal zahir (makhluk), mati nama, mati perbuatan, mati sifat, mati zat.

Bila mati yang zahir, akan hidup dan nampaklah yang batin. Bila nampak yang batin, kelu lidah untuk berkata-kata, kerana tiada kata yang mampu untuk menggambarkan akan apa yang nampak.

Batin adalah bahasa rasa bukan bahasa kata-kata !

Maka, bolehkah kita melihat Allah ?

Lihat lah !!

Isnin, 16 Januari 2017

ILMU LAHIR DAN ILMU BATIN

ILMU LAHIR DAN ILMU BATIN

Perbedaan Ilmu An-Nadhori dengan Ilmu Al-Kasyfi

Di Dalam Al Qur'an maupun Al Hadis banyak sekali ayat dan sabda Rasul yang menjelaskan keutamaan ilmu, baik Ilmu An-Nadhori maupun ilmu Al-Kasyfi.

Ilmu An-Nadhori adalah ilmu pengetahuan hasil belajar yang berpusat pada otak atau akal. Ilmu An- Nadhori ini meliputi Ilmu Pengetahuan Agama dan Ilmu Pengetahuan Umum.

Ilmu Al-Kasyfi adalah ilmu yang diperoleh dengan terbukanya hijab (dinding atau tabir), sehingga hati nurani manusia mengetahui rahasia Ilahi, alam ghaib sebagai rahmat dari Allah SWT, setelah dekatnya yang bersangkutan kepada Allah.

Menurut bahasa, kasyf berarti terbuka atau tidak tertutup. Ilmu Al- Kasyfi itu berpusat di hati sanubari manusia yang berada di dalam dada.

Dikalangan sufi dikatakan bahwa Ilmu An-Nadhori itu adalah ilmu yang dicari, ilmu di permukaan di alam syahadah. Ilmu Al Kasyfi adalah ilmu yang diberi, ilmu karunia Allah SWT Yang Maha Berilmu.

yang telah kami jelaskan mengatakan bahwa wasilah itu adalah sebagaimana firman Allah dalam surat An Nur 24 : 35.

Rasulullah juga selalu berdo'a semoga Allah selalu memberikan Nur atau cahaya kepada beliau antara lain do'a itu artinya,
"Allahumma ya Allah, berikanlah kepadaku cahaya dan tambahkanlah cahaya itu bagiku. Jadikanlah hatiku bercahaya, kuburku bercahaya, pendengaranku bercahaya, penglihatanku bercahaya, sehingga rambutku, kulitku, dagingku dan tulangku seluruhnya bercahaya.

Firman Allah SWT,
Artinya : Maka siapa saja orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam, lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya
(Q.S. Az Zumar 39 : 22).

Rasulullah memberikan penjelasan kepada orang yang menanyakan apa maksud syaraha dalam ayat itu sebagai berikut,

Artinya : Syaraha itu artinya : sesungguhnya cahaya itu apabila dimasukkan ke dalam lubuk hati sanubari, menjadi lapanglah dadanya dan terbukalah hatinya.

Sejalan dengan pengertian Nur dari surat

Al Anfal 8 : 29,

At Thalaq 65 : 2,

Az Zumar 39 : 22

adalah pengertian paham tentang agama
(Al Anbiya 21 : 79)

dan hikmah yaitu ilmu yang berguna
(Al Baqarah 2 : 269),

dan Al Mutawassimin yaitu orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah (Al Hijr 15 : 75).

Semua ilmu yang datang dari Allah yang berbentuk furqaan, cahaya, jalan keluar, paham dan hikmah diperoleh tanpa melalui belajar. Ilmu ini dinamakan ilmu batin. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

Artinya : Ilmu itu ada dua macam, yaitu suatu ilmu batin di hati dan itulah ilmu yang bermanfaat (yang berguna) dan seterusnya.

Setiap umat Mukmin dan Muslim sesungguhnya telah memperoleh Ilmu An-Nadhori, Ilmu Kasyfi, cuma tingkatan dan kualitasnya saja yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Ada tiga tingkatan orang yang mendapat ilmu Al-Kasyfi :

a. Muhadarah. Pada tingkatan ini akal manusia dikendalikan oleh bukti objektif kebendaan (burhan). Oleh sebab itu, tingkatan ini dapat mencapai Ilmul Yaqin yang masih dalam ruang lingkup pemikiran rasional.

b. Mukasyafah. Pada tingkatan ini manusia mampu menerima pengetahuan berdasarkan esplanasi (pencarian penjelasan, bayan). Orang yang mencapai taraf ini akan dapat mencapai 'Ainul Yaqin, yakni pandangan kebenaran objektif yang mengacu pada kebenaran yang mungkin.

c. Musyahadah. Tingkatan ini adalah pengalaman pribadi manusia (makrifat) yang langsung bisa menyaksikan sesuatu hal. Pengalaman pribadi ini, merujuk pada pengalaman batin berkat kedekatannya kepada Tuhan, sehingga dapat terbuka baginya pengetahuan Haqqul Yaqin.

Yang terakhir ini adalah bayangan langsung Tuhan dan acapkali disebut juga dengan Al-Mu'ayanah
(Ensiklopedi Islam 3, 1994 : 20 - 21).

Untuk mendapatkan kasyf, diri rohani dan diri jasmani seseorang itu harus bersih, dengan mengamalkan syariat agama dengan baik, serta riyadlah dan mujahadah zikir yang sungguh-sungguh dan lestari, sehingga komponen-komponen rohaninya mampu menyimpan Islam (Q.S. Az Zumar 39 : 22),

Iman (Q.S. Al Hujurat 49 : 7),

Makrifat (Q.S. An Najm 53 : 11),

Tauhid (Q.S. Ali Imran 3 : 190).

Seseorang yang mampu menyimpan komponen-komponen rohani Islam, Iman, makrifat dan tauhid yang demikian inilah, yang dapat memperoleh Ilmu Al-Kasyfi sesuai dengan tingkatnya masing- masing.

Sabtu, 17 September 2016

Ilmu Ketuhanan Bukan Ilmu Akal Tapi Ilmu Rasa

Belajar ilmu hisab atau ilmu kedoktoran

Tidak terasa bertuhan, tidaklah hairan
Belajar ilmu yang disebut dan lain-lain ilmu tidak terasa bertuhan
Perkara biasa di setiap zaman
Bahkan adakalanya belajar ilmu secular
Langsung tidak percaya adanya
Tuhan yang Maha Esa

Tapi yang lebih aneh
Orang yang belajar ilmu ketuhanan
hingga jadi ulama, tidak rasa bertuhan
Bahkan pakar ilmu Tauhid atau ilmu ketuhanan pun tidak bertuhan

Kerana belajar ilmu aqidah dengan akal semata-mata
Sedangkan jiwanya tidak menghayati ilmu itu
Akalnya percaya adanya Tuhan
Jiwanya tidak terasa bertuhan

Disegi ilmu, pakar dengan Tuhan
Disegi jiwa, kosong dari Tuhan
Kerana itulah rasa takutnya dengan Tuhan tidak berlaku atau tiada

Syariat Tuhan tidak dijadikan pakaian
Apabila mendapat ujian
Dia tidak dapat kembalikan kepada Tuhan
atau tidak merujuk kepada Tuhan

Akibatnya jiwanya menderita
Menerima ujian itu dia tidak tahan
Akhlaknya kasar, tidak melambangkan orang bertuhan
kehidupannya tidak mempedulikan masyarakat
Sekalipun boleh memperkatakan AL-Quran
Atas alas an ilmu semata-mata

Padahal ilmu ketuhanan hendaklah dirasa oleh jiwa
Ilmu ketuhanan bukan ilmu akal tapi ilmu rasa
Orang yang percaya Tuhan, hidup macam tidak bertuhan
Orang ‘terasa’ bertuhan, orang yang takut dengan Tuhan
sekalipun ilmunya kurang

Mereka yang rasa bertuhan menghormati syariat Tuhan
Kerana rasa bertuhan itu
Lantaran itulah rasa bertuhan
Kenalah suburkan di dalam setiap jiwa manusia
Tidak cukup setakat akalnya percaya adanya Tuhan.

Isnin, 8 Jun 2015

Perbezaan ilmu tenaga Dalam & ilmu tenaga Rohani

Perbezaan ilmu tenaga Dalam & ilmu tenaga Rohani

Ilmu tenaga Dalam adalah ilmu yang berdasarkan latihan pada beberapa fakulti manusia seperti latihan nafas dan kuasa minda.Ia boleh dipelajari oleh sesiapapun sama ada ia Islam atau tidak.Cuma bila tenaga dalam diajar oleh Islam, ia memasukkan beberapa kalimah zikir pada setiap pergerakan ketika melakukan pernafasan dan meditasi.(Mungkin ini kaedah mereka membawa masyarakat terutamanya anak-anak muda supaya mengingati Allah, semoga Allah memberkati keikhlasan mereka.)

Disamping itu ada juga yang menggunakan jampi serapah, menggunakan khadam jin dan yang lebih bahaya menggunakan syaitan.Ilmu seperti ini diberi Tuhan kepada sesiapa sahaja kerana ia adalah termasuk hukum fizik.Justeru jangan hairan melihat ramai orang yang mempunyai kebatinan yang hebat, dapat melakukan pelbagai keajaiban dan ada di kalangan mereka yang berzikir berpuluh ribu sehari, tetapi sangat lemah dalam pengamalan Islam pada diri dan keluarga mereka, malah pengetahuan tentang agama Allah juga lemah.

Mereka masih lagi melakukan maksiat dan mempunyai sifat takbur, riak, tamak dengan dunia, menipu dan sebagainya.Ini disebabkan pengamalan mereka sama ada dalam gerak langkah, bentuk latihan nafas atau meditasi walaupun mempunyai kalimah al-Qur’an dan zikir, tenaga zikir tadi tidak menjadi tenaga pembersih rohani tetapi kepada membina tenaga dalam semata-mata.Inilah yang disabdakan Nabi saw:

”Bermula amal itu dengan niat.”

Iaitu mereka akan memperolehi apa yang diniatkan.

Berlainan dengan tenaga rohani seperti memperolihi ilham, kasyaf, menyembuhkan penyakit, menghancurkan ilmu-ilmu hitam dan sebagainya, ia merupakan anugerah Allah swt kepada hamba-hambaNya yang dikasihi.Mereka hanya mahu menuju pembersihan rohani dan kembali makrifat kepada Tuhan yang dirindui.Tenaga ayat-ayat Allah, ibadah, melakukan kebaikan, bertafakur, melakukan latihan konsenstrasi (penumpuan) adalah semata-mata menghampiri Allah swt.

Firman Allah swt:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh dijalanKu, ia akan dibuka jalan (Ilham) baginya, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankaabut:69)

Kekuatan kerohanian akan datang sendiri tanpa diminta-minta kerana kerohanian mereka telah tenggelam dalam kota Allah swt, inilah yang disebut oleh Allah swt dalam satu hadis Qudsi:

“Barang siapa yang berada dalam kota-Ku, Aku adalah penjaganya.”

Tenaga Rohani dan latihan

“Tidak aku jadikan manusia melainkan untuk menyimpan rahsia-Ku dan sesungguhnya manusia itu rahsia-Ku dari Akulah yang menjadi rahsianya.:(Hadith)

Tenaga Rohani yang dimaksudkan dalam latihan ini adalah untuk membina kembali potensi Ruh kepada mengenal Tuhannya.Apabila disebut mengenal Tuhan, ia terbahagi kepada empat bahagian:

:- Mengenal secara Taqlid –:- Iaitu mengenal Allah hanya pada nama tidak mempunyai pengetahuan yang mantap tentang Ilmu KeTuhanan.

:-Mengenal secara Ilmu Yakin -Martabat Syariat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan mengenal wujud makhluk yaini bagaimana mengikut cara ilmu usuluddin.Martabat ini adalah ibarat kenal buah durian melalui kulit lahir sahaja.

:- Mengenal secara Ainul Yakin-Martabat Makrifat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan hadir pengetahuan rasa (dzauk) ke dalam hati.Ibarat kenal isi durian setelah dikoyak kulit tetapi belum dimakan (dirasa)

:- Mengenal secara Haqqul Yakin-Martabat Hakikat:Iaitu mengenal Allah dengan jalan hadir kedalam hati rasa syuhud yang ada kemanisan dan kelazatan, ibarat dapat merasa kelazatan durian itu setelah ia dapat mengecap isinya.Keimanan yang dicapai melalui ilmu ini hasil daripada musyahadah, yakni hatinya sentiasa berpandangan dengan Allah Taala pada setiap masa.Inilah iman yang haq,yang lebih tinggi kedudukannya dari iman “Ainul Yakin”.

Oleh itu muhasabah diri kita, adakah kita merasai dalam dada bahwa Tuhan sentiasa melihat atau mendengar perkataan kita, atau kita merasai sentiasa bersama dengan Tuhan di mana sahaja kita berada,Kalau tiada (perasaan seperti itu), bermakna ilmu kita belum menjunam kedalam dada.Kita akan lemah keyakinan, kita akan hilang Tuhan apabila berlaku masaalah.Ketika solat, kita tidak dapat mencapai kelazatan dan maqam ihsan, ia hanyalah perbuatan untuk melepaskan diri dari dosa syariat sahaja.Bahkan beribadah dengan penuh kelalaian adalah syarat menjadi penghuni neraka.Na’uzubiLahi min dzalik.

Inilah yang dikatakan ilmu penuh pada fikiran tetapi dada kosong dengan takut pada Allah.

“Kamu hendaklah beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya.Jika kamu tidak melihat-Nya,sesungguhnya Dia melihatmu.”(Bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah)

Bagaimana mengembalikan potensi Ruh?

Ruh itu adalah diri kita yang sebenarnya.Yang kita harus tahu mengenai sifat-sifatnya dan asal usulnya kerana (ruh) inilah yang akan kembali kehadrat Allah, dan bukannya diri jasad ini.Jasad hanya menjadi pembungkus diri batin yang sifatnya (mahdas) dan akan hancur ditelan bumi.

Pembersihan Ruh yang tidak melalui jalan kenabian tidak akan membawa manusia kepada makrifat, tetapi akan membawanya kepada bentuk khayalan di alam rohani yang dicipta oleh Jin dan Syaithan, sebagaimana mereka yang mengikuti thaghut dan sebagainya.Hal ini telah disedari oleh kebanyakan mereka kerana kekuatan rohani mereka hanya terbatas di alam malakut sedangkan kekuatan rohani orang Islam tiada batasannya.Justeru itu jika kerohanian Islam bertembung dengan yang bukan Islam, nescaya kerohanian bukan Islam rebah tersungkur.Hal ini disebutkan dalm Al-Qur;an:

Firman Allah swt:
“Jika datang kebenaran akan terhapuslah segala kebatilan”. (al-Isra:81)

Ilmu mereka tidak dapat menembusi seorang mukmin yang memiliki kekuatan kerohanian.Hal ini dapat kita lihat berlaku kepada pendakwah-pendakwah Islam, misalnya di alam Melayu, Nusantara dan India, di mana mereka dapat menundukkan kehebatan ilmu dari ketua-ketua agama luar dari Islam sehingga ramai di antara mereka memeluk Islam.Ini tidak lain kerana ilmu-ilmu kebatinan mereka bersandarkan kepada Jin dan Syaitan sedangkan ilmu kerohanian Islam bersandarkan kepada Allah swt.

Bagi mereka yang mahu membina tenaga kerohanian, perkara-perkara yang bersangkut paut dengan kehebatan yang berbentuk maknawi bukanlah menjadi tujuan.Mereka berpegang dengan kalimah”Ilaahi anta maqsudi, wa ridha kamatluubi” yang bermaksud, ”Hanyalah pada Mu Tuhan yang kami maksudkan dan keredhaan Engkau yang dicari”

Kerana ilmu-ilmu seperti itu adalah rendah disisi Allah swt kerana berbentuk duniawi yang akan hancur.Malah ilmu itu tidak dapat memberi perlindungan kepadanya dalam menghadapi sakaratul maut, ketika di alam barzakh dan seterusnya di alam akhirat.Mereka beramal semata-semata untuk menuju pembinaan iman kerana bagi mereka, sesiapa yang berjaya menjadi kekasih Allah swt, segala ilmu dan kelebihan dunia dan akhirat diperolehi dengan mudah.

Zikir sebagai sumber kekuatan
Firman Allah swt:
“….Ketahuilah dengan mengingati Allah itu hati menjadi tenang.”(ar-Ra’d:28)

Manusia mempunyai empat fakulti pada dirinya iaitu Ruh,emosi (nafsu), akal dan jasad.Ruh diturunkan kealam ini dalam jasad yang diciptakan dari tanah.Ia dibekalkan dengan nafsu dan akal.Manusia yang hanya hidup untuk kekuatan jasad, akal atau nafsu semata-mata akan tewas degan segala ujian hidup.

Kekuatan Ruh amat diperlukan untuk mengawal emosi, akal dan jasad,Kekuatan jasad amat terhad, ianya mengikut kata hatinya.Kekuatan daya intelek (IQ) juga terbatas, ia boleh merancang, bijak dalam tindakan dan sebagainya, tetapi dalam reality kehidupan banyak perkara luar dugaan akal berlaku.Akal menjadi lemah apabila perancangannya gagal, lemah bila menghadapi musibah kematian, kesakitan, perpisahan dan sebagainya.

Kekuatan emosi juga tidak kuat jika tidak bertaut dengan Tuhan.Manusia akan menjadi kuat jika ia dapat berhubung dengan Allah swt.Tetapi bagaimana mahu berhubung denganNya walaupun Ia lebih dekat dari leher (halkum) insan itu sendiri.

Firman Allah:
“Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat lehernya sendiri.” (al-Qaf:16)

Kekuatan ruh dalam berhubungan dengan Allah berdasarkan ingatan.Tanpa ingat padaNya, ruh tidak berhubung denganNya.Ramai manusia meninggalkan Tuhan tanpa disedari sedang Tuhan tidak pernah meninggalkannya.Apabila ada kesusahan, baru manusia teringat padaNya,
merayu-rayu padanya, Tetapi apabila mereka diberi kesenangan, mereka lupa padaNya.

Kaum sufi memulakan pembinaan manusia dengan kekuatan ruh,bukannya akal atau emosi.Ia membina kekuatan ingatan pada Allah sehingga perasaannya terhadap Allah begitu mendalam.

Zikir yang bersungguh-sungguh menyebabkan ruh seseorang itu mempunyai dzauk atau asyik dengan Tuhannya.Tambatan hamba dengan Tuhan bukan sekadar hafalan sifat-sifatNya, tetapi ialah merasai kehampiran dengan Tuhan sehingga hati mereka gementar apabila disebut nama Allah, air mata mereka menitis apabila mengingatiNya.Mereka mersa rindu, cinta sehingga perasaan itu, menyebabkan emosi, akal dan jasad turut bersama-sama merasainya.

Firman Allah swt: “Maka ingatlah kepada-Ku, nescaya Aku ingat kepadamu (bersama dan melindungi hambaNya)…. (Al-Baqarah:152)

Allah memberi jaminnan bahwa hamba yang kukuh jiwanya dengan Allah akan mendapat perlindunganNya dari gangguan syaitan.Zikir yang bersisilah dan dilakukan dengan teknik yang betul akan mensucikan hati pengamalnya dan meningkatkan ubudiyahnya kepada Allah.Semangkin tinggi ubudiyyah, semangkin tawadhuk dan semangkin kerdil hamba itu terhadap Tuhannya sehingga ke tahap merasa hilang wujud diri (fana) , maka semangkin kuatlah Tenaga Illahi yang terlimpah pada qalbinya.Ia selari dengan perinsip sains bahwa semangkin kecil sesuatu atom itu , maka semangkin hebat tenaga dan kuasanya.

Tenaga zikir adalah tenaga dari Illahi, ia mempunyai cahaya yang hebat yang datang dari alam Lahut.Energi zikir akan menyucikan segala kotoran pada qalbi sehingga qalbinya akan terkeluar cahaya alam Lahut yang tertutup selama ini disebabkan kekotorannya.Cahaya ini akan bersinar dan meningkatkan frekuensi cahaya jiwanya (mazmumah).Ia juga akan bergerak menguatkan Ruh Sultani iaitu cahaya akal sehingga akalnya mempunyai daya ketahanan yang kuat, berfikiran tajam dan kreatif.Getaran cahayanya yang tinggi ini juga akan menguatkan Ruh Jasmani atau tenaga dalam atau gelombang elektromagnet yang bergerak aktif dalam tubuhnya. Gelombang atau tenaga inilah yang mengawal segala fungsi dan organ dalam tubuh manusia.Apabila tenaga ini terganggu atau lemah, maka ia akan mendedahkan seseorang itu kepada serangan pelbagai penyakit.Tenaga dalam badan ini juga mewujudkan medan magnetik yang juga disebut aura.Ia mengelilingi seluruh badan dan menjadi benteng pertahanan diri seseorang dan dapat mengesan gelombang-gelombang di sekelilingnya sama ada positif atau negatif.Semangkin kuat tenaga elektromagnet dalam tubuh, semangkin kuatlah medan magnet atau benteng dirinya.

Kaum sufi berzikir dengan mengikut garisan tertentu pada anggota tubuhnya dan dibuat berulangkali sehingga terasa kesan pada qalbinya seperti panas atau pedih.Ia selari denga hukum fizik yang menyatakan bahwa melakukan gerakan atau geseran pada tempat yang sama secara ulang alik akan menghasilkan tenaga elektrik.Tenaga yang diperolehi itu diqasadkannya untuk penyucian ammarahnya.Seseorang ahli zikir atau orang yang khusyuk dalam ibadah mempunyai ketenangan yang tinggi.Sains mengatakan semangkin tenang atau hening sesuatu objek itu, maka gerakan atom atau tenaga yang berhasil amatlah laju.Justeru, semangkin seseorang itu tenang, tenaganya makin kuat dan laju.Tenaga yang ada pada dirinya itu boleh diqasadkan perbagai kegunaan zahir dan batin.
Ingat ini dituntut oleh Allah dalam firmanNya yang berbunyi:

Firman Allah swt:
“Hendaklah kamu ingat akan Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk, dan diwaktu berbaring.”(An-Nisa:103)

“Hendaklah kamu ingat Tuhan yang telah memeliharamu didalam hati dengan rasa hormat dan takut (serta harap akan kurnia-Nya) dengan tidak menyebut dimulut pagi dan petang (terus menerus) dan janganlah kamu termasuk orang yang lalai”.(al-A’raf:20)

Khamis, 1 Januari 2015

STRING THEORY (TEORI BENANG)

STRING THEORY (TEORI BENANG)
DITERANGKAN OLEH SEORANG GURU AGAMA SEKOLAH PONDOK
 
Suatu hari ditakdirkan saya berpeluang berbual2 panjang dengan seorang rakan lama yang kini telah menjadi seorang guru agama di salah sebuah sekolah pondok di Pahang. Dia takder facebook, malah handphone pun dia takder. So, oleh kerana itu... saya masuk la cerita dia kat facebook saya Saya bertemunya pun di sebuah kedai makan di KL secara tidak dirancang.
 
Semasa zaman persekolahan dulu, dia memang amat berbakat di dalam subjek Fizik dan Matematik Tambahan. Keputusan SPM pun cemerlang dengan kedua2 subjek ini mendapat keputusan A1.
 
Walaupun demikian, dia memilih untuk menyambung pengajian ke sekolah pondok. Suatu keputusan yang pada saya aneh... Al-maklum, masa zaman saya sekolah dulu... tak sampai lagi pemahaman saya bahawa ini adalah keputusan yang teramat baik.
 
Berbual punya berbual... termasuk pulak kami kepada topik String Theory. Saya pun ghairah la bercerita tentang apa yang saya rasa saya faham mengenainya untuk mendapat maklumbalas dia. Tak sangka pulak rupanya perbuatan saya ini ibarat sengaja menghantar bola tanggung dalam permainan badminton... maka kena smash la saya... hu hu.
 
Jawapan dia seolah2 smash cross-court yang tajam menghentam saya. Hentamannya tepat kena pada batang hidung saya... "Tu la kau... kau mesti tak tau ni yang sekolah pondok pun ada ajar String Theory".
 
Saya ingat mula2 dia melawak... Akan tetapi selepas mendengar penerangan dia selanjutnya, ternyata kata2 dia ada kebenarannya. Berikut ialah penerangan dia tentang String Theory yang diajar di sekolah pondok.
 
Zul... aku kiaskan String Theory ini sebagai kiasan Teori Benang. Katakan la aku aku ada seutas benang. Aku boleh pintal benang ni jadik apa2 sahaja. Contohnya, aku boleh pintal benang ni jadik huruf alif sampai la huruf ya.
 
Dari kiasan benang yang dipintal menjadi huruf alif sehingga huruf ya itu, bukan aku nak suruh kita lihat pintalan benang atau benang menjadi huruf! Maksud kiasan dari pintalan benang itu, adalah bagi mengambarkan kepada kita bahawa segala buruk-baik, jahil-alim, taat-ingkar, kafir-Islam, hitam-putih, perang-damai, masak-putik, Budha, Kristien, Hindu, makhluk manusia –makhluk binatang, malaikat-syaitan, Firaun-Rasul, Quran-surat khabar dan segalanya itu, adalah datangnya dari Allah yang SATU!.
 
Aku tercengang... dan mintak dia jelaskan lagi.
 
Benang yang satu itu juga yang menjadikan huruf alif dan benang yang itu juga, menjadikan sehingga huruf ya. Sebenarnya benang itu, bukan aku nak suruh kita lihat huruf alif atau huruf ya, sebenar-benarnya maksud benang itu, adalah nak suruh kita lihat benang, bukan nak suruh lihat huruf!
 
Benang nak bagi tahu kepada kita yang bahawasanya alif pun benang, ba pun benang dan ya pun dari benang yang sama. Cuma bentuk benang sahaja yang berlainan!
 
Aku menyambung lagi tercengang.... Pastu dia dok sambung lagi...
 
Ko paham ke tak ni? Huruf alif, tidak sama dengan huruf lam dan huruf lam pula tak sama dengan huruf mim. Tetapi dari mana datangnya huruf alim, lam atau mim?, jika tidak dari benang yang satu! Benang ni la jugak.
 
Apakah huruf alif boleh berbangga dengan cara dia berdiri, apakah huruf ba berbangga dengan kerana dia ada titik dibawah, apakah huruf mim boleh berbangga kerana dia huruf yang bersimpul dan huruf lam pula boleh berbangga kerana hurufnya seperti mata pancing? Siapa yang boleh berbangga dengan dirinya yang berhuruf sedangkan semuanya tu datang dari benang yang sama? Cuba ko jawab?
 
Bolehkan huruf dal berbangga dan bolehkah huruf shim berbangga? Cuba jawab?………….Benang bukan suruh tengok sifat huruf, sebenarnya benang mengajak kita mengenal benang, walaupun dalam bentuk yang berbagai.
 
Sebenarnya lepas habis cerita String Theory ni, panjang lagi perbualan kami... Tapi rasanya cukup saya kongsikan setakat ini dahulu.
 
Hebat... memang hebat. Saya memang betul2 tak terfikir bahawa String Theory boleh diterangkan semudah ini.
 
Sekian dulu. Semoga bermanfaat.

Selasa, 5 November 2013

Ilmu makrifat itu, adalah ilmu rohani, ilmu jiwa atau ilmu rasa

Ilmu makrifat itu, adalah ilmu rohani, ilmu jiwa atau ilmu rasa. Amat mustahil ilmu-ilmu sebegini boleh dilihat dengan jangkauan akal manusia biasa. Ia merupakan suatu anugerah Allah s.w.t kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan ilmu ini tidak terdapat ataupun diperolehi melalui mana-mana sukatan pelajaran di sekolah-sekolah dan di dalam sukatan mata-pelajaran, melainkan hanya ada pada dada-dada para mukmin.
Ilmu makrifat itu, adalah merupakan sesuatu ilmu anugerah Allah s.w.t. Ilmu makrifat itu, adalah ilmu rohani yang boleh menyentuh, merobek, menyiat dan meleburkan hati. Ilmu makrifat itu, adalah ilmu yang dapat membawa dan membimbing kita sehingga sampai kepada jalan “mati sebelum mati“. Hanya dengan jalan mati sahaja kita akan dapat menemui dan mengenal Allah!.
Untuk mencari dan mengenali perkara hidup atau benda hidup (mencari atau mengenal Allah), kita hendaklah terlebih dahulu mencari dan mengenali benda mati atau mengenali perkara mati!. Seumpama kita hendak menikmati rasa sihat, sebelum kita tahu apa itu erti sihat, kita kena terlebih dahulu melalui jalan sakit. Setelah menikmati rasa sakit, baru kita tahu apa itu erti sihat!. Harus terlebih dahulu melalui sakit, baru boleh mengenal rasa sihat!.
Seumpama kita hendak menikmati rasa manis, hendaklah terlebih dahulu melalui rasa tawar. Untuk menikmati rasa kaya, hendaklah terlebih dahulu melalui rasa miskin. Untuk mengetahui warna putih, hendaklah terlebih dahulu mengetahui warna hitam. Untuk mengetahui apa itu tinggi, hendaklah terlebih dahulu mengetahui apa itu pendek. Begitu juga dengan ilmu hidup. Untuk mengetahui ilmu hidup itu, hendaklah terlebih dahulu melalui ilmu mati atau jalan mati!. Yang bersifat hidup itu, hanya Allah. Untuk mengetahui yang Allah itu bersifat hidup, hendaklah terlebih dahulu mengetahui yang bahawasanya makhluk itu atau diri kita itu, bersifat dengan sifat mati!.
Setelah benar-benar mengetahui yang makhluk itu bersifat mati, barulah kita mengetahui dan mengenal yang bahawasanya hidup itu, adalah Allah. Jadi untuk mengenal Allah itu, hendaklah terlebih dahulu mempelajari, mendalami dan mengenal ilmu mati iaitu ilmu “mematikan diri kamu sebelum kamu mati!”. Barulah Allah akan dapat kita kenal dengan nyata, jelas, terang, tanpa ragu dan tanpa was-was!. Setelah kita benar-benar mati (mati sebelum mati), barulah ilmu hidup yang sebenar-benar hidup itu dapat dimengerti!.
Ilmu ini, adalah ilmu rasa. Hanya orang yang minum sahaja yang akan dapat tahu manis atau masinnya air, “orang yang menikmati sahaja yang mendapat tahu” (La ya zuk, wala ya arif). Ilmu ini adalah ilmu mencari kaedah dan bukannya ilmu mencari faedah. Ilmu ini, adalah ilmu yang bukan mencari syurga, bukan mencari pahala atau bukan mencari ganjaran. Ilmu ini, adalah ilmu mencari ikhlas. Ilmu ini, adalah ilmu mencari rasa!, iaitu mencari rasa didalam rasa!. Iaitu ilmu lihat dalam penglihatan dan ilmu dengar dalam pendengaran………………….
Inilah diantara tujuan utama dan tujuan sebenar dinukilkan atau dikarang kitab ilmu makrifat ini kedalam bentuk tulisan yang akan dijadikan sebagai bahan rujukan oleh generasi yang akan datang, sementara menunggu pulang kerahmatullah!.