Pages

Memaparkan catatan dengan label akidah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label akidah. Papar semua catatan

Selasa, 31 Januari 2017

Sifat 20 Bagi Allah SWT

دَاهِمْ بِنْ جَلَالْ:
Sifat 20 Bagi Allah SWT

Pengertian Sifat-sifat Allah

Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah yang wajib bagi setiap Muslim mempercayai bahawa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah.

Maka, wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang 20 dan perlu diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah.

Sifat yang mustahil bagi Allah adalah merupakan lawan kepada sifat wajib bagi Allah.

Ilmu Tauhid

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:

Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia

Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama Islam dan yang paling utama sekali dalam agama Islam.

7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi:

Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu.

Artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama Islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya
 

Ilmu Tauhid

Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:

a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak

b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul

 

3. Kandungannya yaitu mengandungi pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.
 

Akal

Adapun ‘Akal itu terbahagi kepada dua :

1. ‘Akal Nazori, yaitu akal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.

2. ‘Akal Doruri, yaitu akal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Akal itu tiga bahagi:

1. Wajib ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Akal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)
 

Mumkinun (Baharu Alam)

Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:

1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berhimpun atau bercerai

4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk
 

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar.

Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam tiada putus atau luka .

Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah iaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah iaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir iaitu pada tukang sihir

Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘akal tentang keTuhanan:

-Sifat Nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat Ma’nawiyah

lalu dibahagi menjadi dua bahagi:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

MA’RIFAT

Adapun

hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :

1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Akal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

Info di atas sebagai info tambahan untuk kuliah ilmu aqidah. Semoga bermanfaat. Amin

Dipanjangkan oleh
Alfaqiru ila rahmatillah
Dahim bin Jalal al-Jawiy

Jumaat, 29 Mei 2015

Jangan Silau dengan Kebaikan Orang Kafir

Kewajiban Berlepas Diri dari Kekafiran dan Orang Kafir
Pertama: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk membenci musuh-musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka.
Karena keimanan kepada kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”, yaitu meyakini bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya yang pantas disembah, dan semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut setiap muslim untuk memusuhi musuh-musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan mencintai wali-wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).
Allah ta’ala menegaskan,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah:  22]
Juga firman Allah jalla wa ’ala,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah yang satu saja.”[Al-Mumtahanah: 4]
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]
Kedua: Aqidah Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan “kebaikan” orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak, tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
Juga firman-Nya,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Juga firman-Nya,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Juga firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Ketiga: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]
Juga firman-Nya,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasukAbu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka…?!
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]
Juga firman-Nya,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
Kelima: Aqidah Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta dan tokoh-tokoh agama Yahudi dan Nasrani adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan manusia, maka janganlah tertipu dengan “kebaikan-kebaikan” mereka…!
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]
Juga firman-Nya,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]

Selasa, 30 September 2014

Kenali Allah Sebelum Solat

Assalamualaikum…Salam persaudaraan dari penulis untuk semua kepada saudara pembaca sekelian.. tujuan saya wujudkan laman ini adalah untuk berkongsi dan berbagi ilmu pengetahuan andai apa yang ada pada saya atas kurnian dari “ALLAH” dapat di manfaat-kan sama-sama, bukan bermaksud untuk menunjuk-nunjuk. Bukan-kah Nabi S.A.W pernah bersabda:
Sebaik-baik manusia itu adalah yang banyak memberi manfaat kepada manusia lain.
Di dalam Al-Qur’an “ALLAH” S.W.T Juga berfirman ( QS:-Al- Asr:-
“ Watawa tsaubil haq, watawa tsaubil tsobri”) (“Berpesan-pesan lah kamu dengan kebenaran…Berpesan-pesan lah kamu dengan kesabaran”). Kebenaran dari Risalah ketuhanan dan sabar di dalam menyebarkan risalah-nya.
Mengapa kita perlu mengenal Allah sebelum solat..? Apakah jika tidak kenal Allah maka tidak boleh solat..? Bagaimana jika orang yang solat selama ini jika tidak kenal pada Allah..? Solat itu tetap wajib di jalankan, hanya apabila solat sudah di tingkatkan dengan mengenal akan ALLAH maka barulah itu di katakan benar-benar solat dan benar-benar menyembah. 

Bukankah solat itu suatu hal yang pertama akan di hitung pada hari  “Yaumul Mahsyar”  kelak. Kita akan di persoalkan tentang kepada siapa kita sembah, dan kepada siapa kita sujud. Membincangkan soal kepada siapa kita sembah kepada siapa kita sujud sudah tentu saudara pembaca semua menganggap penulis memperkotak-katikan soal agama, tetapi itu adalah hakikat Solat itu sendiri. Arwah guru penulis pernah berkata kepada penulis..
(“ Syaria’t tanpa hakikat tidak sempurna..hakikat tanpa syari’at tidak sah”)
Bagaimana yang dikatakan kenal Allah sebelum solat..? Jika di zaman jahiliah dahulu para Nabi bertanggungjawab mengajak kaumnya beriman kepada Allah.. manakala Rasul sejak zaman Baginda Nabi Adam a.s sehingga ke Rasul pilihan akhir zaman pula baginda bertanggungjawab mengajak kaum dan umatnya beriman kepada Sang pencipta yang Maha Agung yakni Allah S.W.T. Dan seterusnya menyebarkan risalah ketuhanan untuk menyempurnakan aqidah supaya menjadi manusia yang bertamadun.
Bagaimana pula di zaman kita..? Di zaman kita pula datuk dan nenek moyang kitalah yang bertanggungjawab memberitahu kepada (Kaum ) yakni keturunannya tentang kepada kepada siapa kita beriman dan menyembah dan kepada siapa pula kita beriman yang menyuruh kita mengikuti suruhan Allah, dan mengikuti sunnahnya... ini mesti dijelaskan..kerana ia amat berkait rapat dengan soal hubungan jasmani dan rohani.. penting. 

Ada Allah ada Muhammad..ada bulan ada matahari..ada jasmani ada rohani dua-dua hendaklah seiring, bagaimana jika diberikan dua kaki hanya digunakan satu sahaja untuk berjalan, dan diberi dua tangan hanya satu digunakan untuk melakukan kerja kan tidak sempurna begitu juga soal ibadat.
Bagaimana pula di zaman anak-anak kita..? Kitalah sebagai ibubapa yang wajib memberitahu perkara asas beriman kepada Allah dan Rasul kepada anak-anak kita..oleh itu menuntut ilmu itu wajib fardhu ain, maka kita perlu dibekalkan dengan ilmu yang mencukupi untuk diberitahu kepada anak-anak kita. 

Berbeza pula dengan orang yang telah sempurna ilmunya, kesudahan kepada kesempurnaan itu pula ialah mati, terputusnya segala kehendak dan keinginan nafsu syahwatnya yang bisa menyesatkannya, tidak begitu rakus lagi terhadap perhiasan dunia yang sentiasa menggoda bagi yang mengejarnya.
Hendaklah diberitakan kepada anak kita tentang ancaman Allah dan azabnya bagi orang yang melalaikan suruhan Rasulnya daripada melakukan perintah Allah. Ini kerana anak kita sejak umur linkungan tiga tahun keatas sangat mudah menerima apa saja yang kita ajarkan kepada mereka tetapi AWAS!!! 

Jangan sampai mereka jemu dari melakukannya, jika kita hanya asyik suruh sahaja tanpa memberitahu akan akibat dari tidak melakukannya, maka ini tidak akan berkesan keatas anak kita, kelak mereka akan berkata, mak bapak aku asyik suruh.. je aku solat.. aku boring la…apa akibatnya jika ini terjadi..? Anda sendiri yang dapat menjawabnya.
Ini yang dikatakan berdakwah..mengajak keluarga kita dan orang lain beriman kepada Allah dan Rasulnya seterusnya melaksanakan suruhan Allah dan Rasul serta memberitahu akan ancaman Allah akibat jika tidak melakukannya. 

jangan juga kita hanya menceritakan jika buat ini dapat pahala, buat itu dapat pahala, jika puasa dapat pahala, jika solat berjemaah dapat pahala, jika beriktikaf dapat pahala, buat baik sesama makhluk Allah dapat pahala, sedangkan itu semua sudah disediakan oleh Allah kepada sesiapa sahaja yang melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangannya.
Bahagian kita hanya laksanakan sahaja dengan ikhlas kepada Allah sebagai bersyukur dan berterima kasih diatas kurniaan nikmatnya keatas kita yang tidak dapat dihitung oleh pancaindera kita sedangkan itu semua adalah kurniaan darinya, nikmat mata boleh melihat, nikmat telinga boleh mendengar, nikmat boleh berfikir, nikmat kalam boleh berkata-kata, dan nikmat hati ada perasaan. 

Semua adalah nikmat pemberian dari Allah,tetapi tidak diberitahu akan akibat dari ancaman Allah jika meninggalkan segala suruhan Allah, maka dia tidak akan berasa takut jika meninggalkannya, sebab buat ni hanya dapat pahala jadi tak buat pun tak pelah, bapak aku mak aku bukannya tahu, sapa tahu aku buat ke tidak, sedangkan Allah sentiasa melihat, bagaimana yang dikatakan Allah sentiasa melihat ..? Rujuk dalil didalam  Al-Qur’an surah An-Nur:-
Allahun nur rutssama wa tiwal ardh, Allah itu cahaya di langit dan di bumi )
kita ini sentiasa tenggelam didalam cahayanya, oleh kerana Dia Maha Cahaya kita tidak nampak akan cahayanya, yang kita nampak hanyalah objek yang sudah di terangi dengan cahaya. Renungkanlah…
Inilah yang dikatakan kenal Allah sebelum solat, bukan bererti tidak kenal maka tak boleh solat,itu tanggapan yang salah, tetapi mengenal dan kenal itu lebih baik, kitalah yang bertanggungjawab kepada generasi kita disamping mengajak anak dan isteri kita mengenal kepada siapa kita beriman dan kepada siapa kita perlu takut.
Petikan dari kata-kata dari Sunan Kalijaga adalah mengajak kita berlumba di dalam membuat kebaikan”. Mari kita tanya pada diri kita apakah solat kita selama ini sudah sempurna ataupun  sebaliknya., bukan soal nak menunjukan solat siapa yang lebih bagus, akan tetapi sama-samalah kita menyelami hakikat solat  yang sebenar-benar solat, ini kerana solat bukanlah suatu hal yang mudah seperti yang di lakukan oleh anak kecil. Nabi S.A.W juga berpesan supaya kita tingkatkan solat kita, kerana solat juga ada tingkatanya dan Rohnya.
 Di dalam solat awal-awal lagi  kita di ajak untuk mengenal akan siapa yang kita sembah dan siapa yang kita sujud, tujuan supaya i’tiqod kita di dalam solat tidak lari dari apa yang hendak ditujukan, kerana sedikit kita cuai di dalam solat maka tersasarlah hakikat asal kita menyembah., kerana kita melampirkan satu lagi tuhan di samping Allah, tuhan yang bernama nafsu. 

Nabi S.A.W pernah bersabda: “ Tuhan manusia yang paling hina di muka bumi adalah nafsu”. Ini kerana bukan senang untuk mencapai tahap kusyuk dan masyuknya ketika di dalam solat, paling hina ketika kita sujud waktu itu pula nafsu kita membisikan kepada kita pelbagai hal-hal di luar solat membuatkan sujud kita itu telah lari dari tujuan sebenar hakikat solat, bukan lagi menyembah kepada yang haq sebaliknya menyembah kepada yang Fana, 

Ini juga boleh di kategorikan menyembah tuhan selain Allah di samping Allah yaitu “NAFSU”. Awas jika nafsu membaluti iman maka rosaklah nawaitu dan i’itiqod, rosaklah solat, ini yang di katakan syirik di dalam solat
 Baiklah.. kita kembali semula kepada bab solat yang ingin di bincangkan di sini, penulis rasa saudara pembaca semua tentu mengatakan kepada Allah lah kita sembah dan sujud kepada siapa lagi, apa yang ingin di sampaikan penulis ni sebenarnya..? 

Penulis juga ingin bertanya kembali, jika Allah yang kita sembah dan sujud, di mana tuan-nya..? Ada nama sudah pasti ada tuannya, mari kita lihat contoh umpama Bangsa Hindu dan Buddha sembahyang bagaimana..? oleh kerana mereka tidak kenal akan tuhan yang mereka sembah, maka  diciptakan tuhan yang berbilang-bilang itu untuk di sembah supaya ia jelas ada di depan mata mereka. Bagaimana pula dengan kita..? Kenalkah kita kepada  siapa yang di sembah..?
 Begitu juga dengan kita seboleh-bolehnya kita tahu dan kenal akan tuhan yang kita sembah, tetapi bagi kita berbeza dengan kedua-dua Ugama di atas kerana tuhanya boleh di andaikan, sedangkan Tuhan kita tidak boleh di andaikan dengan suatu apapun, kerana Tuhan kita Maha Ghaib di antara yang ghaib dan Maha Esa lagi Maha Melihat, barangsiapa tidak beriman kepada hal-hal yang ghaib maka belum lagi di katakan telah beriman kepada Allah. 

Kita juga ditekan kan dengan sifat Ihsan ketika di dalam solat, sebut sahaja  soal Ihsan Nabi S.A.W juga pernah bersabda yang berbunyi:
“Ihsan itu adalah umpama andai kamu solat seolah-olah kamu melihat kepada Allah, jika kamu tidak melihat kepadanya ingatlah bahawasanya Allah sentiasa melihat kepadamu”
Ini yang dikatakan Ihsan ketika di dalam solat, hadirkan hati dan roh solat baru mencapai ihsan di dalam solat, kerana Allah itu Maha Melihat, sesuai dengan makna yang terkandung di dalam Al-Qu’ran Surah An-Nur :
(“Allahun nuurus tssamaa waatiwal ardh..Maksudnya ALLAH itu cahaya di langit dan di bumi”)
Apakala Allah itu cahaya di langit dan juga di bumi, maka kita senantiasa di dalam pengawasan dan perhatianNYA.
ALIF LAM LAM HAA itu suatu nama yang di ambil dari banyak-banyak nama yang terkandung di dalam 99 Asma’ ALLAH itu sendiri, agar senang dan mudah untuk di ingati, akan tetapi ALIF LAM LAM HAA yakni Allah itu hanya suatu nama, bukan sudah bererti diri yang hakiki itu sendiri, setiap umat manusia wajib mengenal Allah lebih-lebih lagi umat Islam khususnya. 

Sebaliknya apa yang kita sembah adalah……..(“ZAT ALLAH”) Allahu Akhbar….bukankah ZAT ALLAH yang berkuasa..? Bukankah Zat yang mencipta..menghidupkan dan mematikan..? Di dalam Al- Qur’an Allah juga ada berfirman:-
” Sembahlah Zat tuhanmu dan dirikanlah solat sebagai untuk mengingati AKU”.
Inilah yang di katakan i’tiqod dan nawaitu kita di dalam solat, ini hendaklah di sebut di dalam hati ketika mengangkat takbir di antara takbir dan takbiratul ihram, dan sujudku pada AF’ALRULLAH, ini yang di katakana Hakikat solat, disini-lah makhluk yang bernama Iblis ingkar untuk sujud pada “ADAM:” a.s seperti firman Allahu S.W.T di dalam surah Al-Baqoroh:-
 Allah berfirman kepada Malaikat dan Iblis supaya sujud kepada Adam, Hanya Malaikat yang sujud dan Iblis sebaliknya, kerana dia menyangka dia adalah sebaik-sebaik kejadian. Bukankah Allah telah berfirman bahawa “AKU ”ingin di kenali, maka sudah tentu mesti ada makhluk yang akan mengenali aku. Maka di ciptakan “ADAM a.s untuk membuktikan ke “WUJUDAN dan Ke ESAANya” setelah Allah bertajalli dari alam Lahut hingga ke alam Insan. Inilah yang di katakan Hakikat Sembahyang. Begitu juga di dalam I’tidal Ruku’ dan duduk diantara dua sujud juga ada hakikatnya, disini penulis bukan untuk mengupas secara mendalam tentang soal solat ini kerana hanya sekadar berkongsi dan berbagi ilmu pengetahuan. Jika saudara pembaca ingin mencarigali dengan lebih mendalam harus mencari guru yang benar-benar Mursyid dan dan Ahli Hakikat di dalam hal ini.
 Di dalam untuk meraih kusyuk dan sempurna di dalam solat itu tidak sekadar hanya apa yang saudara pembaca baca apa yang tertulis di atas, kerana masih banyak perlu di titik beratkan seperti soal rukun solat adab dan tertib ketika di dalam solat. Hukun solat itu terbahagi kepada tiga bahagian, adapun..
1) Hukum Qolbi
Dan adapun Hukum Qolbi adalah Nawaitu dan Hakikat kita mendirikan solat itu sendir

2) Hukum Qouli dan  
Dan adapun Hukum Qouli adalah bacaan kita ketika dalam solat, tidak hanya sekadar bacaan harus memahami akan maksudnya

3) Hukum Fi’li, 
Dan adapun Hukum Fi’li adalah perbuatan atau geraklaku kita di dalam solat
Nah jika salah satu tidak di lakukan adakah sempurna solat itu..? Didalam solat itu juga sudah terkandung apa yang di katakan (“ SyariatTharikat, Ma’arifat dan Hakikat) Syariat itu adalah perbuatan ataupun tingkahlaku kita di dalam solat, Tharikat itu zikir atau bacaan di dalam solat, Ma’arifat itu kita kenal akan kepada siapa kita sembah dan sujud seterusnya membawa kepada Hakikat. Bukankah sudah jelas hakikat kita di suruh sembah kepada yang Esa.seperti kata-kata setengah Ulama:-
 Beriman dahulu sebelum solat, seperti juga petikan kata-kata dari Arwah guru penulis:-
(“Iman, Islam, Tauhid , Ma’arifat,”)
Sejak dari zaman Nabi Adam a.s hingga zaman Nabi Isa a.s umat manusia telah diajak supaya beriman kepada yang Esa dan yang Maha Mencipta, sehinggalah sampai ke zaman Nabi S.A.W maka telah turunlah perintah solat itu keatas umat manusia. Sesuai dengan firman Allahu S.W.T  (“Awaludin Ma’arifatullah”) awal Ugama kenal Allah, kenal Allah maka kenalah kita kepada siapa yang kita sembah, penulis rasa cukuplah setakat ini dahulu yang dapat di tulis kan oleh penulis, ini kerana jika hendak membincangkan secara mendalam terlalu jauh dan dalam lautan ilmu Allah, hanya sebahagian manusia yang biasa mencapai martabat itu. 

Akhir kata jika salah dan silap dari segi penyampaian saya harap ada teguran dari saudara pembaca sendiri yang sudahpun tahu banyak ilmu pengetahuan, saya sendiri masih lagi mencari akan makna dan tujuan di hantar ke muka bumi ini. Masih banyak lagi jika nak di bincangkan soal solat di sini, tentang Nafi dan Isbat, Roh solat dan Qiblat yang kita hadapkan, banyak… masih banyak lagi yang perlu di  nukilkan cukuplah sekadar ini saja dahulu yang dapat di tuliskan, sekian dahulu dan sedikit kata-kata dari saya:-
(“SESUNGGUHNYA SOLAT ITU PENEGUH JIWA SETIAP UMAT MANUSIA”)
Ini adalah lampiran baru di edit sambungan dari kandungan di atas membicarakan hal-hal kenal Allah dulu baru solat, bukanlah bererti tak kenal Allah maka tak boleh solat, semuanya sama datang dari tak tahu bukan terus tahu, tapi kalau dah tahu wajib lebih tekun mengerjakanya baru mencapai Hakikat sebenar menyembah yang Esa. 

Untuk mencapai kusyuk dan masyuk ketika di dalam solat kita wajib mengetahui beberapa perkara yang boleh memberi kita konsentrasi ketika hendak mendirikan solat, tetapi penulis hanya ringkaskan sedikit bab-bab mengenai perkara ini, perkara pertama ialah lupakan segala urusan dunia kerana itu boleh menggangu konsentrasi kita terhadap Allah, kerana kita berurusan dengan Allah dan hal yang berhubung dengan Akhirat, hanya paling lama lebih kurang sepuluh minit sahaja perlu kita putuskan segala hal yang berhubung dengan keduniaan.
Perkara kedua ialah penulis hendak berkongsi sedikit pengalaman dengan saudara pembaca semua iaitu, sebelum mendirikan solat tarik nafas perlahan-lahan sedalam-dalamnya hingga sampai ke kepala kemudian lepaskan pelahan-lahan melalui hidung juga ulangi sebanyak tiga kali, pembaca rasailah sendiri bagaimana rahsia yang penulis kongsikan dengan pembaca semua. Ini bertujuan untuk menghadirkan hati dan Roh solat itu sendiri, jika lalai di dalam mengerjakan solat maka Roh solat akan menghadap kepada Allah dan berkata,
“Ya Allah sesungguhnya dia telah mencuaikan aku maka engkau cuaikanlah ia”
Nau’zubillahi minzaalik…jika Allah telah mencuaikan kita maka terputuslah kita dari rahmat Allah, masya’Allah…jika ni’mat semua umat manusia dapat merasa bagaimana dengan Rahmat Allah..? Sesuai dengan ayat Allah yang berbunyi:-
(“ fawailullil mutsollin, Celakalah bagi orang yang lalai dalam solat”)
Sembahyang pun masuk neraka tak sembahyang lagi cepat masuk neraka, tabarokallah…
Dan lagi  ayat  Allah  yang berbunyi:-
(“Innahum fii tsholaatihim khoosyiuun, sesungguhnya mereka yang lalai di dalam mengerjakan ibadah”)
Subhaanallah….di dalam laman yang lepas penulis juga ada menyebutkan tentang Qiblat…bagaimana dengan qiblat yang kita semua tujukan pada hari ini..? sedangkan beralih arah sedikit sahaja kawan kita sudah menegur, eh qiblat engkau salah, habis bagaimana nak mengetahui arah qiblat yang betul..? 

Bukanlah bereti qiblat yang ingin penulis kongsikan ini benar-benar betul dan tepat, tapi sama-sama kita fikirkan, kesemuanya ada empat Qiblat, mari kita lihat apakah qiblat yang ingin penulis kongsikan bersama ini, bukan bereti qiblat yang kita hadapkan selama ini tidak betul, tapi inilah yang penulis ingin kongsikan,
(“ Qiblat Tubuh ke Baitullah, Qiblat Hati ke Baitulma’mur, Qiblat Roh ke-Arasy Qursy, Qiblat nyawa aku serah pada Allah”)
Jika ini ada dalam diri kita insya’Allah tidak ada sifat ragu-ragu dan was-was lagi dalam soal qiblat, semasa berdiri di atas tikar sembahyang maka bacalah keempat-empat qiblat tadi dan hadirkan roh solat supaya solat kita benar-benar sampai ke tempat yang nak di tuju, wuduk juga harus sempurna jika tidak solat kita hanya sia-sia, kerana solat adalah urusan Akhirat bukan urusan dunia, waspadalah pada urusan dunia..kejarlah urusan akhirat, kerana itulah tujuan kita di hantar ke dunia.
Alhamdulillah…penulis rasa lega dapat berbagi sedikit ilmu pengetahuan yang tak seberapa ini kepada pembaca semua, apapun ia adalah kurnian dari Allah, jika nak di bandingkan ilmu kita dengan Allah S.W.T umpama jarum di celup di tengah lautan lalu di angkat sisa air yang tinggal itulah umpamanya ilmu yang ada pada diri kita subhaanallah…

Maha luas lautan ilmu mu ya Allah. Bagi sesiapa ingin menggalinya, maka galilah dengan bijaksana. Penulis ingin berpesan kepada saudara pembaca semua, dirikanlah solat, kusyuklah di dalam mengerjakanya dan kenalilah Hakikat yang kita sembah, andai kita lalai dari mengerjakan solat dan lalai di dalam mengerjakanya maka sesungguhnya Allahu Taala telah berfiman di dalam hadith qudsy yang berbunyi:-
(“Yaa Ibaadi, kullukum dhollu illa man hadaituhu, fastahduuni ahdikum, wahai hambaku kalian semua sesat kecuali orang yang aku beri hidayah (petunjuk), maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk”)
Lihatlah asal muasal kita memang sudah tahu, setelah di turunkan kedunia apabila roh sudah di baluti jasad maka kita di lupakan akan asal pengetahuan kita, firman Allahu Taala lagi yang berbunyi:-
(“ Andai kalian beribadat lima ratus tahun ianya sedikit tidak menambah kekuasaanku, begitu juga andai kalian tidak beribadat kepadaku hal itu juga tidak mengurangkan sedikit pun kekusaanku”)
Astaghfirullah…bagaimana saudara pembaca sekalian..? Siapakah yang rugi..? Kitalah yang rugi, hal ini ini juga Allah telah berfirman di dalam suuratul Asr:-
(“ Wal asr, innalin tsaa nalafi khusyrin, illalladzhi na amanu waamilu tshoolihaat, Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beramal soleh”)
Di dalam urusan mengenai Akhirat tidak ada sesiapa yang dapat menghulurkan bantuan kecual ilmu dan amal yang soleh, apabila kita meninggal kelak, sewaktu kita hendak di turunkan kedalam liang lahad akan kedengaran suara dari langit yang amat keras dan akan bertanya:-
Hai anak Adam bekal apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kehancuran ini?}
{ Hai anak Adam cahaya apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kegelapan ini?}
{ Hai anak Adam kekayaan apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kefakiran ini?}
Siapakah yang akan menghulurkan bantuan untuk kita  menjawab..? Adakah orang yang berkata kepada kita buat apa sembahyang… tak dapat apa…tidak ada sesiapa saudaraku yang dapat menjadi peguambela pada hari yang telah di tetapkan Allah apabila di panggil pulang, melainkan kitalah yang bertanggungjawab mengembalikan yang Haq kepada yang “HAQ“. 

Persiapkanlah bekalmu sebelum ajalmu tiba, kerana maut tidak pernah berpisah dengan kita walau barang sesaat sekalipun, kita ibarat tanam-tanaman apabila tiba masanya kita akan di rengut dan di tuai seperti orang menuai padi apabila sudah tiba masanya, bukankan dasyat apabila mendengar perkataan rengut itu..? 

Sama-sama kita renungkan dan muhasabah diri. Baiklah kita sambung lagi perbincangan kita mengenai solat di lain waktu jika di izinkan Allah untuk penulis menulis lagi bab-bab mengenai solat dan mengenal Allah.

JUMUD KITAB DAN KEGILAAN AKIDAH

JUMUD KITAB DAN KEGILAAN AKIDAH 
Prof Madya Dato’ Dr Mohd Asri Zainul Abidin


Dalam sejarah Islam, terdapat banyak perbalahan dalam kalangan para sarjana yang membawa kepada menghukum individu sarjana lain dengan kafir dan sesat. Kita sepatutnya tidak menyambung segala krisis yang berlaku pada zaman yang lalu.
Sekarang di Malaysia apabila muncul kelompok Ahbash yang menggunakan jenama Ahlus Sunnah wal Jamaah beraliran Ashairah, mereka ini mengkafirkan Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan jalur salafi yang beraliran Hanabilah (Hanbali). Pelampau Ahbash ini mendakwa itulah pegangan Ahlus Sunnah aliran Ashairah. Di sebelah pihak salafi, muncul golongan dari aliran Madkhali yang menyesatkan Ashairah dan semua aliran sufi secara pukal. Maka, dunia Islam yang penuh dengan pepecahan ditambah dengan isu kafir-mengkafir dan sesat menyesat.
Sejarah Ihya
Jika kita hendak menelan bulat-bulat apa yang ulama dahulu hukum antara satu sama lain, maka sudah pasti sukar kita mendapat manfaat dari semua pihak. Umpamanya, pada zaman al-Imam al-Ghazali (meninggal 505H), Kerajaan Andalus di bawah pimpinan Ali bin Yusuf bin Tashfin (meninggal 537H) yang terkenal sebagai pemerintah yang sangat soleh yang memuliakan ulama fekah telah mengharamkan kitab Ihya ‘Ulum al-Din karangan al-Imam al-Ghazali. Bahkan kitab Ihya dibakar dengan arahan pemerintah secara rasmi di hadapan MasjidCordova (Qurtubah). Ali bin Yusuf sangat cintakan ulama dan tidak akan mengambil tindakan melainkan dengan arahan ulama. Tokoh ulama ketika itu yang berpengaruh ialah al-Qadi Ibn Hamdin yang menjadi kadi besar Cordova masa itu. (lihat: Muhammad Abd Allah al-Misri, Daulat al-Islam fi al-Andalus, 3/78. Kaherah: Maktab al-Khaniji)
Para ulama Andalus bermazhab Maliki dan beraliran Ashairah dari segi ilmu kalam. Merekalah yang telah menggesa pemerintah yang soleh itu mengharamkan kitab Ihya ‘Ulum al-Dinbahkan kitab itu diarahkan agar dibakar di seluruh Andalus dan Maghribi (Morocco). Mereka mendakwa kitab itu sesat dalam pelbagai isu termasuk dikatakan isu roh yang dibahaskan oleh al-Ghazali.
Jika kita lihat tindakan ulama Andalus ketika itu, tiada kaitan sama sekali dengan aliran Hanbali ataupun al-Imam Ibn Taimiyyah (meninggal 728H) yang muncul hampir dua ratus tahu kemudian.
Menarik selepas berakhir zaman tersebut, kitab Ihya mendapat tempatnya di Andalus. Apatahlagi anak murid al-Ghazali yang terbilang iaitu al-Qadi Abu Bakr ibn al-‘Arabi (meninggal 543H) di sana.
Ibn Jauzi
Demikian jika kita lihat tokoh yang sering dirujuk oleh aliran salafi iaitu al-Imam Ibn Jauzi (597H). Beliau bukan al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah (meninggal 751H) yang merupakan anak murid al-Imam Ibn Taimiyyah. Beliau lebih awal dari mereka. Beliau dari segi fekah dari aliran Hanabilah (Hanbali). Tulisannya mengkritik golongan sufi sering digunakan dalam aliran salafi. Antara buku beliau yang terkenal Talbis Iblis. Dalam buku tersebut beliau mengkritik golongan sufi habis-habisan. Antara kenyataannya
“Kemudian datang Abu Hamid al-Ghazali menulis untuk golongan sufi kitab al-Ihya’ berdasarkan pegangan mereka. Dia memenuhi bukunya dengan hadis-hadis yang batil yang dia tidak tahu kebatilannya”. (Ibn Jauzi, Talbis Iblis, m.s. 190, Beirut : Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah).
Namun dalam akidah, Ibn Jauzi tidak sealiran dengan aliran Hanbali yang tidak mentakwilkan ayat-ayat sifat. Ibn Jauzi mengikut jalan takwil yang diambil oleh aliran Ashairah. Beliau menganggap tafsiran seperti yang dipertahankan oleh Ibn Taimiyyah yang datang seratus tahun selepas beliau itu sebagai satu kesalahan. Namun, oleh kerana Ibn Taimiyyah belum wujud, beliau mengkritik tokoh lain di zaman itu. Beliau mengkritik tokoh besar hadis dalam Mazhab Malik di Andalus iaitu al-Imam Ibn ‘Abd al-Barr (meninggal 463H) yang merupakan ilmuwan agung di Andalus dan pengarang kitab yang terbilang iaitu al-Tamhid yang mensyarahkan Kitab Muwatta al-Imam Malik bin Anas.
Kata al-Imam Ibn Jauzi :
“Aku hairan dengan puak-puak yang mendakwa berilmu tapi cenderung kepada tasybih (menyamakan Allah) dengan cara memahami hadis-hadis secara zahir. Jika mereka sekadar membacanya sahaja seperti mana dalam asalnya, maka itu selamat…tapi puak-puak inipendek ilmu mereka. Mereka kata memahami hadis tidak secara zahir itu merupakan ta’til(memandulkan sifat Allah). Jika mereka itu fahami keluasan bahasa tentu mereka tidak sangka begitu”. Kemudian beliau menyebut: “Aku sungguh hairan dengan seorang lelaki Andalus yang dipanggil Ibn ‘Abd al-Barr yang menulis kitab al-Tamhid. Dia menyebut hadis Allah turun ke langit, lalu dia berkata: “Ini menunjukkan bahwa Allah itu di atas Arasy, jika tidak masakan ada erti bagi perkataan turun”. Kenyataan ini satu kejahilan dalam mengenali Allah Azza wa jalla”. (Soid al-Khatir, 99. Damsyik: Dar al-Qalam).
Jika kita lihat, Ibn ‘Abd al-Barr bukan dari aliran Hanabilah bahkan jauh sekali untuk terpengaruh dengan Ibn Taimiyyah yang lahir dua ratus tahun kemudian. Beliau dari aliran ahli hadis yang bermazhab Malik bin Anas. Sementara Ibn Jauzi dari aliran Hanbali. Namun, perbezaan seperti itu berlaku.
Jadi, soal perbezaan bukan sahaja soal aliran yang seseorang dikaitkan dengannya, tetapi cara dan keputusan fikiran yang diambil. Di Malaysia, ramai yangmendakwa dari aliran Mazhab al-Syafi’i padahal banyak keputusan yang diambil itu tidak mewakili apa yang termaktub dalam kitab al-Imam al-Syafi’i ataupun tokoh-tokoh utama mazhab al-Syafi’i.
Tidak Selamat
Jika kita ambil kira hukuman ulama antara satu sama lain dalam perkara ijtihad, pasti tiada yang selamat.
Al-Imam al-Bukhari (194-256H) atau namanya Muhammad bin Ismail yang agung dalam hadis itu, semasa hayat dituduh menganut ajaran Muktaziah dan sesat, bahkan dikafirkan. Beliau terpaksa keluar meninggalkan negerinya Naisabur. Tuduhan bahawa beliau menyatakan al-Quran makhluk bukan sahaja mempengaruhi orang awam, bahkan mempengaruhi tokoh-tokoh ilmuwan hadis besar pada itu seperti Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Tuduhan ini datang dari gurunya sendiri Muhammad bin Yahya al-Zuhli. Apabila beliau berpindah ke Bukhara, beliau disambut hebat oleh penduduk negeri berkenaan. Malangnya, tokoh ilmuan yang hasad kepadanya itu menulis surat pula kepada Gabenor Bukhara: “Lelaki ini menonjolkan diri menyanggahi sunnah Nabi”.
Lalu al-Imam al-Bukhari dikeluarkan dari Bukhara. Menariknya, apabila ditanya al-Imam al-Bukhari tentang ujian itu, beliau menyatakan: “aku tidak peduli selagi agamaku selamat”.Kemudian sebahagian penduduk Samarkand menjemputnya ke negeri mereka. Namun berlaku perbalahan dan fitnah di kalangan penduduk, ada yang setuju beliau datang, ada yang membantah. Akhirnya bersetuju menerima kedatangan beliau, tapi ketika beliau menaiki kenderaannya itu menuju ke sana, beliau meninggal sebelum sempat ke Samarkand.
Demikian kisah sedih akibat hasad dengki yang menimpa seorang imam yang agung al-Imam al-Bukhari (lihat: al-Zahabi, Siyar A’lam al-Nubala, 12/453-464, Beirut: Dar al-Fikr). Hidupnya dibuang orang, namun matinya tetap terbilang. Hari ini apabila orang membaca hadis, nama beliau disebut dan kekukuhan riwayat beliau dalam ‘Sahih al-Bukhari’ diakui oleh sekelian sarjana. Akidah al-Bukhari diakui sebagai akidah yang sahih dan benar, ilmunya diiktiraf dan jasanya dikenang. Namun siapa yang membaca sejarah perit perjuangan ilmu, tidaklah sangka demikian nasib yang menimpanya.
Kita mungkin boleh mengkritik, tetapi janganlah ‘copy and paste’ tulisan silam untuk menghukum pihak lain yang kita mungkin tidak memahami latar keadaan yang dilaluinya. Masalah ijtihad, sekalipun dalam akidah boleh terjadi dan mungkin berlaku kesilapan. Isu ayat sifat umpamanya ialah isu ijtihad yang terdedah kepada persepsi yang pelbagai. Jika orang menyesatkan dan mengkafirkan Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim dan mereka yang sealiran dengan itu kerana tidak takwil maka kena juga menyesatkan al-Imam Ibn ‘Abd al-Barr dan ramai lagi sebelum Ibn Taimiyyah yang mengambil pendirian yang sama. Maka, akhirnya kita bukan mengambil manfaat dari para ulama, sebaliknya asyik menyesatkan dan mengkafirkan si fulan dan si fulan seperti kelompok Ahbash tadi yang memakai gelaran Ahlus Sunnah wal Jamaah di Malaysia. Seakan mereka sahaja Ahlus Sunnah dan orang lain semuanya dalam neraka. Demikian kelompok salafi madkhali yang sibuk menyesatkan semua yang tidak salafi dengan panggilan ikhwani, sufi, qaradawi dan lain-lain.
Padahal sifat kemaafan Allah terlalu luas. Ia merentasi apa yang difikirkan oleh akal insan yang cetek. Lebih dari segala kesilapan ijtihad, dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari menceritakan Allah mengampuni kekufuran disebabkan kejahilan: Daripada Abu Hurairah r.a daripada Nabi s.a.w, sabda baginda:
“Dahulu ada seorang lelaki yang kecewa terhadap dirinya. Ketika dia hampir mati, dia berkata kepada anak-anaknya: “Jika aku mati kamu semua bakarlah aku, hancur debukan aku kemudian jadikan aku ditiup angin. Demi Allah! Jika tuhanku dapat menangkapku nescaya DIA akan mengazabku dengan azab yang DIA tidak pernah azab sesiapa pun”. Apabila dia mati, hasratnya dilakukan kepadanya. Maka Allah memerintahkan bumi: “Himpunkan dia”. Maka bumi lakukannya lalu dia pun berdiri (dibangkitkan). Allah berkata: “Apakah yang menyebabkan engkau lakukan tindakanmu itu?”. Dia menjawab: “Wahai Tuhanku, kerana takutkan Engkau”. Maka Allah pun mengampunkannya.
Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah (meninggal 728H) dalam karyanya al-Istiqamah mengulas hadis ini dengan menyebut:
“Lelaki ini percaya bahawa Allah tidak mempu menghimpunkannya jika dia berbuat demikian ataupun dia syak bahawa Allah tidak membangkitkannya. Kedua-dua iktikad ini kufur yang dihukum kafir sesiapa yang telah tertegak hujah untuknya (sampai kepadanya penerangan yang mencukupi). Namun lelaki ini jahil mengenai hal itu dan tidak sampai kepadanya ilmu yang mengeluarkannya dari kejahilannya. Pun begitu dia ada iman kepada Allah, suruhan dan laranganNYA, janji nikmat dan azabNYA maka dia takutkan balasannya maka dia pun diampunkan disebabkan ketakutannya itu”.
Ibn Taimiyyah menambah lebih dalam lagi:
“Maka sesiapa dalam kalangan ahli iman kepada Allah, rasulNYA, Hari Akhirat serta beramal soleh yang tersilap dalam sebahagian masalah akidah sudah pasti tidak lebih buruk dari lelaki tadi. Allah akan mengampuni kesilapannya (ahli iman tersebut), DIA akan mengazabkannya jika ada kecuaian dalam menuruti kebenaran dengan kadar pegangan agamanya. Adapun mengkafirkan individu yang diketahui imannya hanya semata kerana kesilapan tersebut maka itu satu kesalahan yang besar”. (Ibn Taimiyyah, al-Istiqamah, 1l168, Madinah Munawwarah: Univ al-Imam Sa’ud)