Pages

Memaparkan catatan dengan label sifat maani. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label sifat maani. Papar semua catatan

Selasa, 6 Februari 2018

Allah Hu Haq

سلامون قاديرون يا الله
أنا تتحرك مع كودرات يا الله
أريد أن أكون إلهك
أنا أعرف مع إلمومو يا الله
أعيش مع حياتك يا الله
سمعت مع سمعمو يا الله
أرى مع باشيار يا الله
أقول مع القلممو يا الله
أنا تتحرك مع كودرات يا الله
الله هو حق

Salamun Qadirun Ya Allah
Aku bergerak dengan Qudratmu Ya Allah
Aku berkehendak dengan Iradatmu Ya Allah
Aku mengetahui dengan Ilmumu Ya Allah
Aku hidup dengan Hayatmu Ya Allah
Aku mendengar dengan Sama'mu Ya Allah
Aku melihat dengan Bashyarmu Ya Allah
Aku berkata2 dengan Qalammu Ya Allah
Allah Hu Haq

Selasa, 31 Januari 2017

Sifat 20 Bagi Allah SWT

دَاهِمْ بِنْ جَلَالْ:
Sifat 20 Bagi Allah SWT

Pengertian Sifat-sifat Allah

Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah yang wajib bagi setiap Muslim mempercayai bahawa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah.

Maka, wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang 20 dan perlu diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah.

Sifat yang mustahil bagi Allah adalah merupakan lawan kepada sifat wajib bagi Allah.

Ilmu Tauhid

Adapun Mubadi ilmu tauhid itu sepuluh perkara:

1. Nama ilmu ini yaitu ilmu Tauhid, ilmu Kalam, ilmu Sifat, ilmu Ussuluddin, ilmu ‘Aqidul Iman

2. Tempat ambilannya : yaitu diterbitkan daripada Qur’an dan Hadits

3. Kandungannya yaitu mengandung pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.

4. Tempat bahasannya atau Maudu’nya kepada empat tempat:

Pada Zat Allah Ta’ala dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padaNya dan sifat-sifat yang harus padaNya.

Pada zat rasul-rasul dari segi sifat-sifat yang wajib padanya, sifat-sifat yang mustahil padanya dan sifat-sifat yang harus padanya

Pada segala kejadian dari segi jirim dan jisim dan aradh sekira-kira keadaannya itu jadi petunjuknya dan dalil bagi wujud yang menjadikan dia

Pada segala pegangan dan kepercayaan dengan kenyataan yang didengar daripada perkhabaran rasul-rasul Allah seperti hal-hal surga dan neraka dan hari kiamat

5. Faedah ilmu ini yaitu dapat mengenal Tuhan dan percaya akan rasul dan mendapat kebahagian hidup didunia dan hidup di akhirat yang kekal.

6. Nisbah ilmu ini dengan lain-lain ilmu, yaitu ilmu ini ialah ilmu yang terbangsa kepada agama Islam dan yang paling utama sekali dalam agama Islam.

7. Orang yang menghantarkan ilmu ini atau mengeluarkannya yaitu, yang pertama mereka yang menghantarkan titisan ilmu tauhid dengan mendirikan dalilnya untuk menolak perkataan meraka yang menyalahi ialah dari pada ulama-ulama yang mashur yaitu Imam Abu Al hasan Al Asy’ari dan Imam Abu Mansur At Maturidi tetapi mereka pertama yang menerima ilmu tauhid daripada Allah Ta’ala ialah nabi Adam alaihissalam, dan yang akhir sekali Nabi Muhammad SAW.

8. Hukumnya, yaitu fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang yang mukallaf laki-laki atau perempuan mengetahui sifat-sifat yang wajib, yang mustahil dan yang harus pada Allah Ta’ala dengan jalan Ijmal atau ringkasan begitu juga bagi rasul-rasul Allah dan dengan jalan tafsil atau uraian

9. Kelebihannya yaitu semulia-mulia dan setinggi-tinggi ilmu daripada ilmu yang lain-lain, karena menurut haditsnya nabi:

Inallahata’ala lam yafrid syai’an afdola minattauhid wasshalati walaukana syai’an afdola mintu laf tarodohu ‘ala malaikatihi minhum raakitu wa minhum sajidu.

Artinya, Tuhan tidak memfardukan sesuatu yang terlebih afdhol daripada mengEsakan Tuhan. Jika ada sesuatu terlebih afdhol daripadanya niscaya tetaplah telah difardhukan kepada malaikatnya padahal setengah daripada malaikatnya itu ada yang ruku’ selamanya dan setengah ada yang sujud selamanya dan juga ilmu tauhid ini jadi asal bagi segala ilmu yang lain yang wajib diketahui dan lagi karena mulia , yaitu Zat Tuhan dan rasul dan dari itu maka jadilah maudu’nya semulia-mulia ilmu dalam agama Islam.

10. Kesudahan ilmu ini yaitu dapat membedakan antara I’tikad dan kepercayaan syah dengan yang batil dan dapat pula membedakan antara yang menjadikan dengan yang dijadikan atau antara yang Qadim dengan yang muhadasNya
 

Ilmu Tauhid

Adapun pendahuluan masuk pada menjalankan ilmu tauhid itu berhimpun atas tiga perkara:

1. Khawas yang lima yaitu, Pendengar, Penglihat, Pencium, Perasa lidah dan Penjabat

2. Khabar Mutawatir, yaitu khabar yang turun menurun. Adapun khabar mutawatir itu dua bahagi:

a. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah orang banyak

b. Khabar Mutawatir yang datang daripada lidah rasul-rasul

 

3. Kandungannya yaitu mengandungi pengetahuan dari hal membahas ketetapan pegangan kepercayaan kepada Tuhan dan kepada rasul-rasulNya, daripada beberapa simpulan atau ikatan kepercayaan dengan segala dalil-dalil supaya diperoleh I’tikad yang yakin (kepercayaan yang putus/Jazam sekira-kira menaikkan perasaan/Zauk untuk beramal menurut bagaimana kepercayaan itu.
 

Akal

Adapun ‘Akal itu terbahagi kepada dua :

1. ‘Akal Nazori, yaitu akal yang berkehendak kepada fikir dan keterangan.

2. ‘Akal Doruri, yaitu akal yang tiada berkehendak kepada fikir dan keterangan.

Adapun Hukum ‘Akal itu tiga bahagi:

1. Wajib ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan tiadanya maka wajib adanya (Zat, Sifat dan Af’al Allah)

2. Mustahil ‘Akal, yaitu barang yang tiada diterima oleh akal akan adanya maka mustahil adanya (Segala kebalikan daripada sifat yang wajib, sekutu)

3. Harus ‘Akal, yaitu barang yang diterima oleh akal akan adanya atau tiadanya (Alam dan segala isinya yang baharu/diciptakan)
 

Mumkinun (Baharu Alam)

Adapun yang wajib bagi ‘Alam mengandung empat perkara:

1. Jirim, yaitu barang yang beku bersamaan luar dan dalam seperti, batu, kayu, besi dan tembaga

2. Jisim, yaitu barang yang hidup memakai nyawa tiada bersamaan luar dalam seperti manusia dan binatang

3. Jauhar Farad, barang yang tiada boleh dibelah-belah atau dibagi-bagi seperti asap, abu dan kuman yang halus-halus

4. Jauhar Latief, yaitu Jisim yang halus seperti ruh, malaikat, jin, syaiton dan nur

Wajib bagi Jirim, Jisim, Jauhar Farad dan Jauhar Latief bersifat dengan empat sifat:

1. Tempat, maka wajib baginya memakai tempat seperti kiri atau kanan, atas atau bawah, hadapan atau belakang

2. Jihat, maka wajib baginya memakai jihat seperti utara atau selatan, barat atau timur, jauh atau dekat

3. Berhimpun atau bercerai

4. Memakai ‘arad, yaitu gerak atau diam, besar atau kecil, panjang atau pendek dan memakai rasa seperti manis atau masam, masam atau tawar dan memakai warna-warna seperti hitam atau putih, merah atau hijau dan memakai bau-bauan seperti harum atau busuk
 

Hukum Adat Thobi’at

Adapun yang wajib bagi hukum adat Thobi’at yang dilakukan didalam dunia ini sahaja, seperti makan, apabila makan maka wajib kenyang sekedar yang dimakan begitu juga api apabila bersentuh dengan kayu yang kering maka wajib terbakar, dan pada benda yang tajam yang apabila dipotongkan maka wajib putus atau luka.

Dan begitu juga pada air apabila diminum maka wajib hilang dahaga sekedar yang diminum. Adapun yang mustahil pada adat Thobi’at itu tiada sekali-kali seperti makan tiada kenyang, minum tiada hilang dahaga, dipotong dengan benda yang tajam tiada putus atau luka dan dimasukkan didalam api tiada terbakar.

Akan tetapi yang mustahil pada adat itu sudah berlaku pada nabi Ibrahim as di dalam api tiada terbakar dan pada nabi Isma’il as dipotong dengan pisau yang tajam tiada putus atau luka .

Adapun yang mustahil pada adat itu jika berlaku pada rasul-rasul dinamakan Mu’jizat, jika berlaku pada nabi-nabi dinamakan Irhas, jika pada wali-wali dinamakan Karamah, dan jika pada orang yang ta’at dinamakan Ma’unah dan jika berlaku pada orang kafir atau orang fasik yaitu ada empat macam:

1. dinamakan Istidraj pada Johirnya bagus dan hakikat menyalahi

2. dinamakan Kahanah iaitu pada tukang tenung

3. dinamakan Sa’uzah iaitu pada tukang sulap mata

4. dinamakan Sihir iaitu pada tukang sihir

Sifat-Sifat yang wajib bagi ‘akal tentang keTuhanan:

-Sifat Nafsiyah

-Sifat Salbiyah

-Sifat Ma’ani

-Sifat Ma’nawiyah

lalu dibahagi menjadi dua bahagi:

-Sifat Istighna (28 Aqa’id)

-Sifat Iftikhor (22 Aqa’id)

yang menghasilkan faham hakikat nafi mengandung isbat, isbat mengandung nafi (50 Aqa’id), lalu berlanjut pada huraian Sifat-sifat bagi Rasul, ditambah empat perkara rukun iman (18 Aqa’id), menghasilkan penjelasan aqa’idul iman yang 5 (lima jenis), aqa’idul iman 50, aqa’idul iman 60, aqa’idul iman 64, aqa’idul iman 66 dan aqa’idul iman 68.

Baharulah disimpulkan menjadi 4 rukun Syahadat dan adab-adabnya, serta menjelaskan penjelasan zikir, serta makna asma ALLAH

MA’RIFAT

Adapun

hakikat Ma’rifat itu berhimpun atas tiga perkara:

1. ‘Itikad Jazam, yaitu ‘Itikad yang putus tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafikulilhaq, yaitu Muafakat dengan yang sebenarnya mengikut Al Qur’an dan Hadits

3. Mu’addalil yaitu beserta dalil

Adapun Dalil itu dua bahagi:

1. Dalil naqal (naqli), yaitu Al Qur’an dan Hadits.

2. Dalil aqal (aqli), yaitu aqal kita

Adapun dalil wujud Allah Ta’ala pada orang awam yaitu Baharu alam seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an : Allahu khaliqu kullu syai’in, artinya: Allah Ta’ala yang menjadikan tiap-tiap sesuatu

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawas :

1. ‘Itikat jazam, tiada syak, dzon dan waham

2. Muwafakat ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan Ilham Ilahi

3. Dalil pada dirinya, seperti firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an: wa fii amfusikum afala tubsiruun, artinya: pada diri kamu tiadakah kamu lihat, dan juga Hadits Rasullullah, Man arofa nafsahu faqod arofa Robbahu, artinya barang siapa mengenal dirinya bahwasanya mengenal Tuhannya.

Adapun Hakikat Ma’rifat orang yang Khawasul khawas:

1. I’tikad jazam, tiada sak, dzon dan waham

2. Muwafakat Ilmunya, aqalnya dan hatinya dengan jalan kasaf Ilahi terkaya ia daripada dalil yakni tiada berkehendak lagi kepada dalil (Akal dhoruri) terus ia ma’rifat kepada Allah Ta’ala.

Adapun Ma’rifat itu tiga martabat:

1. Ilmul yaqin, yaitu segala Ulama

2. ‘Ainul yaqin, yaitu segala Aulia

3. Haqqul yaqin, yaitu segala Anbiya

Info di atas sebagai info tambahan untuk kuliah ilmu aqidah. Semoga bermanfaat. Amin

Dipanjangkan oleh
Alfaqiru ila rahmatillah
Dahim bin Jalal al-Jawiy

Isnin, 20 Oktober 2014

Sifat yang wajib bagi Allah sentiasa hadir pada rasa yang sedang di-rasai itu

Raja Abdul Rashid

rasa mendengar
rasa berkata
rasa berkehendak
rasa berkuasa
maka wajar-lah rasa ada Allah itu
sentiasa di-rasakan
fahami-lah
hayati-lah
rasai-lah
jalani-lah
ketujuh-tujuh sifat ini
ber-tauhid sahaja tahu
tapi tiada di-amalkan
macamana nak rasa ada Allah itu
ingat-lah
amal itu adalah perbuatan
perbuatan itu mesti bergerak atau berjalan
jalankan sahaja gerak itu
akan ada rasa pada rasa itu
bukan gerak kita lagi
tapi itu semua adalah geraknya Allah .....

Selasa, 30 September 2014

PETIKAN KITAB ASRAR AL-'ARIFIN

Adnan Dahalan

PETIKAN KITAB ASRAR AL-'ARIFIN
Ketahuilah hai segala anak Adam yang Islam, bahawa Allah SWT menjadikan kita daripada tiada bernama diberi nama, tiada berupa diberi rupa, lengkap dengan telinga, dengan hati, dengan nyawa, dengan budi. Sayugia kita cari Tuhan kita itu supaya kita kenal dengan makrifat kita, atau dengan khidmat kita kepada guru yang sempurna mengenali Dia, supaya jangan taqsir kita (menyesali).

Sementara belum bertemu dengan yang sempurna bermakrifat, pandang pada 15 bait, dan setiap bait mempunyai 4 cabang. Jika kamu faham akan 15 bait ini, lihat pada syarahannya pula kerana syarahannya itu perkataan makrifat Allah ada dengannya, nyata dalamnya, wallahu a’lam.

Bab pada menyatakan Makrifat Allah Taala serta SifatNya dan Asma’Nya

1. Segala kita yang menyembah nama, Sayugia diketahui apa yang pertama Kerana Tuhan kita yang sedia lama Dengan ketujuh sifat bersama-sama

2. Tuhan kita itu Yang Empunya Zat
Awalnya Hayyun pertama bilang Sifat Keduanya ‘Alimun dan rupa maklumat Ketiga Muridun kan sekalian Iradah


3. Keempat Qadirun dengan QudratNya tamam (sempurna) Kelimanya sifat bernama Kalam
Keenamnya Samak dengan adanya Dawam (Berkekalan) Ketujuh Bashar akan halal dan haram


4. Ketujuhnya itu adanya Qadim
Akan Isti’dad A’lamin sempurna Alim (Kesediaan) Kerana SifatNya ini dengan Kamalul Hakim (Sempurna dan Bijak) Bernama Bismillahir rahmanir rahim


5. A’lim ini Hakikat Muhammadun Nabiun Menurutkan makluman lengkapnya Qawi Daripada hakikatNya itu jahili dan wali Beroleh iktibarnya dengan sekalian peri


6. Tuhan kita itu empunya Kamil
Di dalam ilmuNya tiada pernah zawal (hilang) Rahman dalamnya perhimpunan Jalal Beserta dengan Rahim pada sekalian Jamal


7. Tuhan kita itu yang bernama A’liyin (Yang Tinggi) Dengan sekalian sifatNya yang sentiasa Baqa’ (Kekal) A’la jamii’l alamin atharath jadi Daripada sittu jihat sebab inilah Khali (Suci)


8. Cahaya Atharath tiada akan padam Memberikan wujud pada sekalian a’lam Menjadikan makhluk siang dan malam Ila Eidal Abada tiada akan karam

9. Tuhan kita itu seperti bahrul a’tik (laut yang dalam) Ombaknya penuh pada sekalian tariq Laut dan ombak keduanya rafiq (rapat) Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq (karam)

10. Lautnya alim alunnya maklum
Keadaannya qasim ombaknya maksum (terpelihara) Taufannya syu’unnya mahkum (yang dihukum) Pada sekalian a’limin inilah rusum (kelaziman)


11. Jikalau sini kamu tahu akan wujud Itulah tempat kamu syuhud
Buangkan rupa mu pada sekalian qiud (perhubungan) Supaya dapat diri qaud (tetap)


12. Pada Wujud Allah itulah sayugia kau Qaim (berdiri) Buangkan rupa dan namamu daim (berkekalan) Nafikan rasamu daripada makhdum dan khadim Supaya sampai kepada amali yang khatim (kesudahan)


13. Jika engkau belum tetap seperti batu Hukum dua lagi khadim dan ratu (raja) Setelah lupa engkau daripada emas dan batu Mangkanya dapat menjadi satu

14. Jika belum fana’ daripada ribu dan ratus. Tiadakan dapat ada mu kau hapus Nafikan rasa mu itu daripada kasar dan halus Supaya dapat barang kata mu harus.

15. Hamzah Fansuri sungguhpun dhaif Hakikatnya hampir pada Dzatul Syarif Sungguhpun khafibun rupanya kasif (yang tebal) Wasilnya daim dengan bahrul latif Inilah Bait 15.

Petikan kitab Asrar Al- Arifin – Hamzah Al-Fansuri

1. Segala kita yang menyembah Nama
Sayugia diketahui yang pertama iaitu Nama Allah SWT, kerana pada hukum syariat, barangsiapa mengucap Laaila ha illallah masuk syurga (terlalu mudah) dan lagi sabda Rasulullah SAW yang mafhumnya: “Barangsiapa mengucap Laailahailallah dengan suci hatinya masuk syurga.”

Oleh kerana Nama yang Empunya Nama Esa, apabila Nama disebut maka terasa yang menyebut dengan Yang Empunya Nama. Pada hakikatnya, mengetahui Nama Yang Empunya Nama maka sempurna Islam mu. 

Sayugia diketahui dan dikenali namaNya Yang Dinamai Allah kerana firmanNya yang bermaksud: “Barangsiapa yang tiada mengenal Allah di sini, di akhirat pun tiada kenal (dan lebih jauh ia dari jalan yang benar).”

Kerana itu, kata ahli suluk akan orang yang tiada mengetahui Allah tetapi menyebut Nama Allah dengan ikhlas hatinya, iaitu Islam hukumnya; orang yang mengetahui, khas hukumnya; orang yang mengenal Allah, Khasul Khas hukumnya kerana orang yang mengenal Allah lebih tinggi daripada orang yang mengetahui Allah.

Seperti sabda Rasulullah SAW yang mafhumnya: ” Sembah Tuhanmu seperti kau lihat Dia (ini ibarat kepada orang yang mengenal Allah), jika tiada engkau melihat Dia, bahawa Dia melihat engkau (ini ibarat kepada orang yang mengetahui Allah). 

Lagi firman Allah lagi yang mafhumnya: “Sembah Tuhanmu hingga memberi dikau nyata (nyata bermakna tiada syak di dalamnya), inilah makna menyembah Nama.

Bab Ketahuilah apa yang pertama
Yakni tatkala bumi dan langit belum ada, arasy dan kursi belum ada, syurga dan neraka belum ada, semesta sekalian alam pun belum ada, apa yang pertama? Yang pertama ialah Zat semata, sendiriNya, tiada dengan Sifat, tiada dengan Asma’Nya, itulah yang pertama. 

Adapun nama Zat itu Hu, makna Hu itu Ismu Isyaratin kepada Zat tiada dengan Sifat. Adapun Nama Allah rendah sepangkat daripada Nama Hu, tetapi (Nama Allah itu) perhimpunan segala nama seperti seorang Muhammad namanya. Jika ia berilmu, alim namanya; jika ia pandai, utusan namanya; jika ia tahu menyurat, khatib namanya; jika ia berniaga, saudagar namanya. 

Sekalian nama di bawah nama ini Muhammad jua kerana perhimpunan sekalian (nama itu) akan Nama Allah SWT Yang Menjadikan Makhluk, Khaliq namaNya; Yang Memberi Rezeki, Razak namaNya; yang menjadikan dengan hikmatNya, Hakim namaNya. 

Sekalian nama ini di bawah nama Allah jua kerana nama Allah perhimpunan segala nama, tetapi nama Hu lebih tinggi daripada nama Allah. adapun Zat lebih tinggi daripada nama Hu itu. Barangsiapa yang tahu maknanya ini, tahu ia akan yang pertama itu.

Bab Kerana Tuhan Kita yang Sedia Lama
Yakni qadim sidi, tiada dapat dibicarakan sekian lamanya yakni Qadim tiada dengan qadimNya, Awal tiada dengan awalNya, sidi ada. Tiada lulus bicara kepada QadimNya itu melainkan (bicara) ahli kasyaf jua. 

Mengikut kata ahli kasyaf, QadimNya itu mithal (suatu) buah (yang) bundar (bulat), tiada berhujung dan tiada berpohon, tiada permulaan dan tiada kesudahannya, tiada tengah dan tiada tepinya, tiada hadapan dan tiada belakangnya, tiada kiri dan tiada kanannya, tiada atas dan tiada bawahnya, inilah makna qadim sidi. 

Jika ditamsilkan (ibarat) daerah pun dapat kerana daerah tiada berawal dan tiada berakhir, kalau awal pun boleh dikatakan akhir, kalau akhirpun boleh dikatakan awal, sayugia perlu mengetahui Qadim Allah dengan sempurnanya. Inilah makna Qadim sidi lama. Bagaimana dapat bertemu dengan makrifat Allah Taala jika tiada tahu akan Qadim sidi.

Bab Dengan Ketujuh Sifat bersama
Yakni tiada bercerai dengan ketujuh sifatNya. Sungguhpun dikatakan Zat Allah Yang Pertama, tetapi jadi ia bercerai dengan ketujuh sifatNya, Nafas hukumnya. Bagi ulama syariat, Sifat Allah Ain, Zat Allah pun tiada, Ain Zat pun tiada. Mengikut ahli suluk, sifat Ain Zat. 

Misalnya, seseorang kerana ilmuNya maka bernama alim, kerana qudratNya maka bernama qadir, kerana iradatNya maka bernama murid, kerana kataNya maka bernama mutakalimin, kerana pendengaranNya maka bernama sama’, kerana penglihataNya maka bernama Basar. Ini lain daripada Zat Asli.

Nama sifat yang tujuh itu ialah:
1. Hayat
2. Alim
3. Iradat
4. Qudrat
5. Kalam
6. Sama’
7. Basar

Zat dengan ketujuh-tujuh sifat ini tidak bercerai. Adapun Sifat yang lain banyak tidak terhitung, tetapi sifat-sifat yang lain itu pun termasuk dalam sifat yang tujuh ini kerana sifat yang tujuh ini adalah yang tertinggi, seperti juga nama Allah adalah perhimpunan segala nama, sifat yang tujuh ini juga adalah perhimpunan segala sifat. Apabila tahu akan makna tujuh sifat ini maka dapat sempurna Kenal Allah.