Pages

Memaparkan catatan dengan label rukun iman. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label rukun iman. Papar semua catatan

Khamis, 13 April 2017

Empat Kitab Allah Yang Wajib Diimani

Terjemah Dan Syarh Aqidah Al-‘Awam‎

Bab VI
Kitab-Kitab Allah

Empat Kitab Allah Yang Wajib Diimani
أَرْبَـعَةٌ مِنْ كُتُبٍ تَفْصِيْلُهَا # تَوْرَاةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَنْزِيْلُهَا
زَبُوْرُ دَاوُدَ وَإِنْجـِيْلُ عَلَى # عِيْسَى وَفُرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَلاَ

“Rincian empat kitab (yang wajib diketahui) adalah Taurat(nya Nabi) Musa yang diturunkan membawa petunjuk, Zabur(nya Nabi) Dawud, Injil yang diturunkan atas Isa dan Furqan (al-Qur'an) yang diturunkan kepada sebaik-baik Nabi (Muhammad SAW).”

Shuhuf Nabi Ibrahim Nabi Musa
وَصُـحُفُ الْخَلِيْلِ وَالْكَلِيْمِ # فِيْهَا كَـلاَمُ الْحَكَمِ الْعَلِيْمِ
Shuhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa, di dalamnya terdapat firman Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui

Syarah:
Iman kepada kitab Allah SWT adalah percaya dan meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab kepada para rasul-Nya untuk dijadikan pedoman hidup manusia.

Dalam hal ini, beriman kepada kitab Allah SWT mencakup tiga perkara:

1. Percaya bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan oleh Allah SWT.

2. Beriman bahwa Allah SWT telah menurunkan beberapa kitab yang wajib diketahui. Yakni, al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW, Taurat kepada Nabi Musa as, Injil kepada Nabi Isa as dan Zabur kepada Nabi Dawud as.

3. Mempercayai kepada berita-berita yang dibawa oleh kitab-kitab tersebut.
Kenapa Allah SWT menurunkan kitab kepada para rasul-Nya?.

Tidak cukupkah manusia dengan akalnya dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dapat menentukan baik dan buruk untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat?

Jawaban dari pertanyaan ini bisa dilihat dari tiga sisi:

1. Akal manusia itu sangat terbatas. Begitu pula dengan ilmu yang diberikan Allah SWT kepada manusia hanya sedikit sekali. Ibarat setetes air yang berada di samudera yang luas membentang, itulah gambaran ilmu yang dimiliki manusia dibandingkan dengan ilmu Allah SWT.

2. Kalau manusia diberikan kebebasan sepenuh-nya, maka yang terjadi adalah manusia akan berbeda dalam mendefinisikan perkara baik yang dapat mengantarkannya menuju kebahagiaan dunia akhirat, serta perbuatan buruk yang menjadikan hidup manusia menjadi sengsara.

Contoh kecil tentang pergaulan bebas atau seks pra nikah. Bisa saja di suatu daerah, misalnya di Barat dianggap baik dan tidak akan menimbulkan kerusakan, tapi dalam budaya timur hal itu merupakan perbuatan asusila yang mendatang-kan kesengsaraan dunia dan akhirat. Di sinilah fungsi kitab Allah SWT yang menjelaskan berbagai hukum Allah SWT.

3. Tidak semua perbuatan dapat diketahui dengan akal manusia. Ada banyak hal yang membutuhkan petunjuk dari Allah SWT agar perbuatan itu dapat dikerjakan dengan cara yang benar.

Misalnya tentang tata cara beribadah kepada Allah SWT seperti shalat, puasa dan haji. Untuk mengetahui cara tersebut harus menunggu penjelasan dari Allah SWT melalui kitab dan rasul-Nya.

Tanpa penjelasan itu maka manusia tidak akan mengetahui tata cara beribadah yang benar kepada Allah SWT. Inilah diantara beberapa alasan kenapa Allah SWT menurunkan kitab kepada para rasul-Nya.

Selasa, 18 Oktober 2016

Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka

RISALAH 14

المقالة الرابعة عشرة

فـي إتـبـاع أحـوال الـقــوم

قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تدع حالة القوم يا صاحب الهوى أنت تعبد الهوى وهم عبيد المولى, أنت رغبتك في الدنيا ورغبة القوم في العقبى, أنت ترى الدنيا وهم يرون ربّ الأرض والسماء, وأنت أنسك بالخلق وأنس القوم بالحق، أنت قلبك متعلق بمن في الأرض وقلوب القوم بربّ العرش, أنت يصطادك من ترى وهم لا يرون من ترى بل يرون خالق الأشياء وما يرى, فاز القوم به وحصلت لهم النجاة, وبقيت أنت مرتهناً بما تشتهي من الدنيا وتهوى، فنوا عن الخلق والهوى والإرادة والمنى فوصلوا إلى الملك الأعلى, فأوقفهم على غاية ما رام منهم من الطاعة والجد والثناء }ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ{.المائدة54. فلازموا ذلك وواظبوا بتوفيق منه وتيسير بلا عناء, فصارت الطاعة لهم روحاً وغذاء, وصارت الدنيا إذ ذاك في حقهم نقمة وخزياً، فكأنها لهم جنة المأوى إذ ما يرون شيئاً من الأشياء حتى يروا قبله فعل الذي خلق وأنشأ فيهم ثبات الأرض والسماء, وقرار الموت والإحياء إذ جعلهم مليكهم أوتاداً للأرض الذي دحى, فكل كالجبل الذي رسى, فتنح عن طريقهم ولا تزاحم من لم يفده عن قصده الآباء والأبناء، فهم خير من خلق ربي وبث في الأرض وذرأ, فعليهم سلام الله وتحياته ما دامت الأرض والسماء

Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka ! Janganlah kamu mengira bahwa diri kamu masuk ke dalam golongan mereka yang menjadi ahli Allah.

Kamu telah menghambakan diri kamu kepada hawa nafsu kamu, sedangkan mereka menghambakan diri mereka kepada Allah SWT. Kamu menghendaki dunia, sedangkan mereka menghendaki akhirat.

Kamu hanya melihat dunia ini saja, sedangkan mereka melihat Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Kesenanganmu terletak pada mahluk, sedangkan kesenangan mereka terletak pada Allah.

Hati kamu terikat kepada Dunia, tetapi hati mereka terikat kepada Allah Yang Maha Agung. Kamu adalah mangsa setiap apa yang kamu lihat, tetapi mereka adalah mangsa apa yang tidak kamu lihat, mereka melihat Allah yang menjadikan segala perkara yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala.

Mereka telah mencapai tujuan hidup dan mendapatkan kesejahteraan, sedangkan kamu masih saja terbenam di dalam nafsu keduniaanmu.

Mereka menghilang dari mahluk, dari nafsu keduniaan dan dari kehendak mereka sendiri.

Sehingga dengan demikian, mereka dapat sampai ke hadlirat Illahi yang memberi mereka kekuatan untuk mencapai puncak wujud mereka, seperti menta’ati dan memuji Allah.

Inilah karunia Illahi yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mereka menjadikan keta’atan kepada Allah dan pujian terhadap-Nya sebagai kewajiban mereka.

Mereka berpegang teguh kepada-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada mereka. Semua ini mereka lakukan tanpa mengalami kesukaran apa-apa. Maka jadilah ketaatan mereka itu sebagai nyawa dan santapan mereka.

Dengan demikian, dunia ini menjadi berkat bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka, seakan-akan dunia ini telah menjadi surga bagi mereka.

Karena, apabila mereka melihat sesuatu, maka sebelum mereka melihatnya, mereka terlebih dahulu melihat perbuatan Allah yang menjadikan segalanya itu.

Orang-orang ini membekali diri dengan kekuatan yang ada di bumi dan di langit, serta menyenangkan mereka yang telah mati dan masih hidup.

Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka seperti pasak bumi (gunung) yang dijadikan-Nya ini. Oleh karena itu, mereka menjadi seperti gunung yang berdiri dengan megah dan agung.

Janganlah kamu mengacau mereka dan jangan pula kamu menghalangi perjalanan mereka yang ibu-bapak dan sanak-saudara mereka tidak dapat menyelewengkan mereka dari tujuan mereka.

Mereka adalah orang-orang terbaik yang dijadikan Allah di muka bumi ini. Keridhaan dan kesejahteraan dikaruniakan oleh Allah kepada mereka, selagi langit dan bumi masih ada.

Selasa, 20 Mei 2014

Bagaimanakah Cara Percaya kepada Rukun Iman.

Bagaimanakah Cara Percaya kepada Rukun Iman.


Serba Sedikit Tentang Percaya Kepada Rukun Iman.
Apakah maksud percaya kepada Allah.
Percaya kepada Allah itu, biarlah sampai kepada tahap tidak dikeranakan dengan suatu kerana. Tidak disebabkan dengan suatu sebab dan tidak disabitkan dengan suatu sabit!.
Percaya kepada Allah itu, hendaklah tidak dengan beralasan. Kerana Allah itu, adalah Allah. Yang nyata Allah, yang ghaib Allah, yang zahir Allah, yang batin Allah, yang awal Allah dan yang akhirpun Allah. Segala-galanya Allah, kenapa masih tak terlihat Allah……….
Tidak ada ruang untuk wujud (ada), ujud (menjadikan) dan mujud (dijadikan) sifat makhuk. Tidak ada ruang diantara awal dan akhir itu, ditengah-tengahnya adanya kita!.
Percayalah bahawasanya Allah itu, terang yang wajahNya lebih terang dari cahaya matahari. Dekat mata putih dengan mata hitam, lebih dekat lagi Allah. Nyatanya ibu bapa kita, sesungguhnya Allah itu lebih nyata dari kedua ibu bapa kita. Kenapa tak terlihat?.
Mengenal, melihat, memandang atau menatap wajah Allah itu, hendaklah denngan nyata- senyata nyatanya!. Tanpa terselindung oleh sesuatu. Allah bukan sesuatu tetapi zahir pada tiap sesuatu!.
Allah tidak ada hijab, tidak ada dinding dan tidak ada tabir, yang boleh menghalang kita dari menilik, menatap, memandang atau melihatNya!. Sebab yang menjadi terhijabnya kita dari tertilik Allah  itu, adalah kerana kita masih mengadakan “sifat keakuan”.
Percaya kepada Allah itu, hendaklah sampai sehingga kepada tahap tidak ada dalil. Kerana segala-galanya itu, adalah wujudnya Allah. La maujud Bilhaqqki Illalah.

Apakah maksud atau beriman kepada Al-Quran.
Maksud beriman kepada Al-Quran itu, adalah hendaklah kita mendahului Allah berbanding diri kita. Quraan itu adalah kalam Allah. Kalam Allah itu, adalah perkataan Allah.  Bermaknanya disini, hendaklah kita mendahului kata-kata atau ketetapan Allah, berbanding kata kita atau ketetapan akal kita!.  Bilamana kita beriman kepada Al-Quran, bermakna kita dikehendaki mendahului ketetapan Allah, berbanding ketetapan ketetapan yang kita tetapkan!.
Apa yang terjadi atas kita itu, hendaklah kita tahu yang bahawasanya ketetapan kata Allah itu, telah mendahului kejadian apa yang berlaku. Sebelum kita rugi dalam perniagaan, sebelum kita putus kasih, sebelum bercerai atau sebelum  kita mati itu, sesungguhnya Allah sudah merugikan kita sebelum kita rugi.  Sebelum kita putus tunang, putus kasih atau bercerai itu, sesungguhnya kita telah diputus atau telah diceraikan oleh Allah mendahului putus atau bercerainya kita. Sebelum kita lahir atau sebelum kita mati, ketetapan Allah itu, telah mendahului kita. Sebenarnya sebelum kita lahir, Allah dan lahirkan kita dalam ilmuNya.
Sebelum kita mati, sesungguhnya ita itu telah dimatikan Allah, dalam ilmuNya. Sebelum kita masuk syurga atau neraga itu, sesungguhnya Allah sudah terlebih dahulu memasukkan kita kedalam neraka atau syurga!.
Kata-kata Allah itu, sesungguhnya telah medahulu kata-kata, niat atau kehendak kita!. Maka redha dan ikhlaslah dalam menerima segala cubaan atau musyibah yang berlaku. Beriman kepada  Al-Quraan itu, adalah mendahulu kata-kata Allah berbanding kata-kata kita!. Mendahului ketetapan Allah sebelumnya, berbanding apa yang berlaku.
Mana sebenar-benar Al-Quran?.
Yang kita sebut itu suara atau bunyi suara yang keluarnya dari bibir mulut. Yang kita baca itu, adalah berupa suratan atau berupa tulisan (dari dakwat) yang tertulis diatas yang berupa kertas.
Sedangkan Al-Quraan itu, adalah kalam Allah, bahasa Allah, kata-kata Allah, ucapan Allah dan suara Allah. Yang tidak berhuruf, tidak bersuara, tidak berjirim da tidak berjisim.
Adapun yang kita baca itu, adalah berupa kertas yang bertulilsan dengan dakwat. Dibakar hangus, direndam basah, ditanam dalam, digantung tinggi dan ditembak tembus. Sedangkan kata-kata Allah itu adalah berupa bahasa percakapan allah yang tidak samadengan suara bibir mulut kita?.
Jika Quran itu, bukan seperti suara bibir, bukan seperti tulisan atas kertas, dimanakah kata-kata Allah yang bernama Quran?.
Yang kita sebut itu, suara yang keluarnya dari anggota bibir, adapun kata-kata Allah itu, tidak sebagaimana suara bibir!. Yang kita baca itu, adalah kertas, sedangkan kata-kata Allah itu, tidak seperti kertas!. Manakah yang dikatakan sebenar-benar Al-Quran (sebenar-benar kata-kata Allah). Atau dalam bahasa mudah, Al-Quran itu, adalah percakapan Alah. Adapun percakapan Allah itu, bukan sebagai petuturan bibir mulut. dimana Al-Quran.
Al-Quran atau kata-kata Allah itu, adalah “KUN” . dari perkataan kun itulah, makanya terjadinya sekalian Alam.
Oleh itu,  sekalian Alam inilah “KUN” Allah, kata-kata Allah atau Al-Quran.

Apakah maksud beriman kepada Rasul.
Rasul itu ertinya pesuruh manakala pesuruh itu pula, adalah orang yang kena suruh. Adapun maksud beriman kepada Rasul itu, adalah mendahului kena suruh daripada yang menyuruh.
Maknanya disini bahawa sebelum kita melakukan sesuatu, sebenarnya kita telah melakukan sesuatu mengikut kehendak yang menyuruh, yang menyuruh itu, seungguhnya telah mendahului sebelum segala sesuatu sampai kepada yang kena suruh!.
Kita kena percaya dan penuh yakin bahawa sebelum segalanya sesuatu itu berlaku atau terjadi, sesungguhnya perlakuan dan kejadian itu, sesungguhnya telah pun berlaku dan telahpun siap terjadi sebelumnya!.
Setelah kita yakin dan penuh percaya kepada rasul (beriman kepada Rasul),  maka hendaklah kita taat, patuh  dan mengikut serta mematuhi apa sahaja yang telah dahulu ditetapkan sebelumnya. Ingatlah bahawsanya kita ini, orang yang kena suruh (pesuruh), kita ini kuli dan kita ini hanyalah hamba sahaya yang fakir, yang hanya menurut sahaja apa perintah atau kehendak yang telah ditetapkan!.
Jika diberi sakit, maka sakitlah kita, jjika diberi miskin, maka miskinlah kita, jika diberi musyibah, maka azablah kita dan jika diberi mati,maka matilah kita. selaku yang kena suruh, hendaklah kita patuh kepada apa yang ditetapkan atas kita.
Bilamana kita percaya kepada pesuruh (yang kena suruh), kita tidak boleh lagi mengeluh atau merungut dari apa yang telah ditetap dan yang telah ditakdirkan oleh Allah atas kita!.
Apakah maksud percaya kepada Malaikat
Untuk mengenal malaikat, hendaklah terlebih dahulu kita tahu akan tugas-tugasnya. Setelah kita kenal dan tahu akan tugasnya, barulah kita boleh kenal dan tahu siapa itu Malikat sebenarnya.  Seumpama tugas bagi pasukan bomba. Pasukan bomba adalah dengan tugas-tugas pemadam api. Pasukan polis pula menangkap pencuri dan pasukan ambulan pula menyelamat orang sakit dan sebagainya. Dengan mengenal tugas, maka kita akan kenal tuannya.
Begitu juga Malaikat. Bilamana kita kenal tugas malaikat, maka sudah tentu kita akan kenal siapa tuannya.
Tugas Malaikat Jibrail itu, adalah menurunkan wahyu. Malaikat Jibrail itu, jika dikiaskan kepada diri kita, ianya adalah merupakan “akal, fikiran atau otak”. Yang tugas menanggung pemikiran atau menerima tugasan memikir sebagaimana tugas Jibrail yang menurun wahyu. Jibrail itu, jika dikiaskan peda diri kita adalah “akal”!.
Malaikat Izrafil itu, tugasnya meniup serunai sanggkala. Serunai Malaikat Izrafil itu,  jika dikiaskan kepada diri kita, ianya adalah berupa (serunai), anggota “mulut” yang mengeluar suara dari kedua bibir mulut.
Malaikat Mikail pula tugasnya menurunkan hujan. Malaikat Mikail, jika dikiaskan kepada diri kita, ianya adalah berupa (hujan) “mata” yang menurunkan air mata.
Manakala Malaikat Izrail pula, tugasnya adalah menaik nyawa. Malaikat Izrail, jika dikiaskan kepada diri kita, ianya adalah berupa (naik turun nafas) “hidung” yang menurun dan menaikkan nafas.
Dari itu, kenallah kita akan siapa itu kiasan kepada para Malaikat!. Segalanya ada tafsiannya pada diri kita!.
Apakah maksud percaya kepada Qahda dan Qadar
Percaya kepada Qhada dan Qadar itu, adalah percaya kepada untung baik dan untung buruk. Segalanyanya baik dan buruk itu, sesungguhnya adalah datangnya dari Allah Taala.
Bilamana sesuatu itu datangnya daripada Allah Taala, maka segalanya itu akan kelihatan baik dan akan jadi segala-galanya cantik!.
Jika kereta kita kena langgar, kehilangan wang, kehilangan nyawa anak isteri sekalipun, kita kena percaya bahawa tiada suatu gerak sekalipun sebesar zarah, melainkan datangnya gerak itu biar sebesar zarah sekalipun, itu sesunggunya adalah datangnya dari kehendak dan keizinan Allah Taala.
Terimalah samaada baik atau buruk, kerana baik dan buruk itu, sesunguhnya adalah datangnya dari anuggerah dan kurniaan Allah. Bilamana datangnya dari kurniaan atau anugerah Allah, sealanya akan menjadi nikmat.
Drp hj shaari tanggal 1 hb mei. jam 3.20 pagi bersamaan hari rabu. Amin