Pages
Sabtu, 15 Julai 2017
Beginilah Keadaan Dunia Tanpa Kewujudan Syaitan dan Iblis
Selasa, 6 Jun 2017
Nafsu Nyata & Nafsu Tersembunyi
Nafsu Nyata & Nafsu Tersembunyi.
Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengubati yang tersembunyi itu sangat payah terapinya.”
Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap pada ketaatan, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi.Nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:
》Takut pada sesama makhluk,
》keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu.
》Rela pada kemahuan nafsu itu sendiri.
Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.
Sedangkan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.
Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki mata hatilah yang mengenal karakter itu.
Kerana itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik ibadah dan gerakan keagamaan, bahkan nafsu merangsang penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.
Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih ada di hatimu.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra, menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas kerana Allah jika anda meninggalkan kedua faktor di atas.”Ketika seseorang berlaku riya’ dalam khalwat(suluk), secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiah, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.
Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”
Karena, menurut Syeikh Zarruq ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.
Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”
Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya,kerana orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dicintainya."
Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang mempamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal maqam keruhanianya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”
Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan kemasyuran(populariti).”
Menghapuskan riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selainNya.
Isnin, 20 Mac 2017
Setiap yang bernyawa itu pasti merasai mati
"setiap yang bernyawa itu pasti merasai mati, kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." ( Al 'Ankabuut:57)
Perkataan NAF'S/diri di sini menunjukkan kepada diri ROH, karana nafas atau nyawa itu digerakkan oleh Ruh.
Diri ROH dan Diri NAF'S keduanya sudah terhimpun di alam insan diri kita ini . ROH bersifat taat dan bertaraf Ammar Robbi manakala NAF'S atau nafsu yakni inilah diri kita mempunyai asal kejadian yang berbeza, Nafs'/Nafsu ni yang mahu nak turun dunia. Nafs'/Nafsu inilah diri kita .
Dan tingkatan2 nafsu apabila disucikan naiklah kepada tingkatan amarah > lawamah> mulhamah >mutmainnah >radhiah > mardhiah >kamaliah.
Maka NAF'S atau Nafsu ini di awal kejadiannya bila ditanya oleh Allah Ta'ala siapa Aku dan siapa engkau ,dijawabnya aku aku ,engkau engkau lalu di rejam beratus tahun di dalam neraka panas.
Kemudian diangkat semula mengadap Allah Ta'ala dan ditanya lagi siapa Aku dan siapa engkau ,dijawabnya aku aku ,engkau engkau dijawab sama aku aku ,engkau engkau .
Maka di rejam beratus tahun di dalam neraka sejuk kemudian diangkat mengadap Allah Ta'ala di tanya lagi , tetap menajwab aku aku , engkau engkau .
Lalu diperintah oleh Allah Ta'ala dikurung di dalam penjara lapar dan dahaga beberapa lama kemudian di panggil mengadap Allah di tanya lagi . Barulah ia mengaku Engkau Tuhanku.
Maka NAF'S yang telah disucikan itu Allah Ta'ala gelarkan sebagai 'NAF'S Mutmainnah' yakni 'Jiwa yang tenang' sebagaimana FirmanNYA dan perintahNYA kepada NAF'S untuk memasuki syurganya ....
SELAMAT MEMERANGI HAWA NAFSU...AMIN YA RABAL ALAMIN.
Jumaat, 23 Disember 2016
MENGENAL ALLAH MELALUI MENGENAL DIRI SENDIRI
MENGENAL ALLAH MELALUI MENGENAL DIRI SENDIRI
Salah satu cara mengenal Allah ialah dengan mengenal diri sendiri. Maksudnya ialah hakikat diri yang sebenarnya.
Adapun yang dimaksudkan diri yang sebenarnya itu bukanlah diri yang bersifat lahiriah, kerana jasad ini tidak membawa makna yang sebenar untuk mengenal Allah SWT.
Pada abad modern ini, ramai dikalangan kita tidak mengenal dirinya yang sebenar. Mereka menganggap bahawa dirinya hanyalah tubuh badan yang terdiri daripada kulit, daging, tulang, darah dan sebagainya.
Yang dimaksudkan dengan sebenarnya ialah diri yang batin iaitu diri yang datang dan akan kembali kepada Allah SWT.
Ulama Ilmu ketuhanan atau Ilmu Tauhid berpegang kepada bahawa diri ini merupakan tangga untuk mengenal Allah, sesuai dengan dalil yang mengatakan: “Siapa yang mengenal Tuhannya.”
Dikalangan ulama tasauf atau ulama Ilmu ketuhanan selalu menasihatkan, ”carilah diri kamu dalam diri.”maksudnya, ialah menyuruh agar kita mencari hakikat diri kita yang sebenarnya terlebih dahulu.
Apabila kita telah menemukan diri kita yang sebenarnya pasti kita akan mengakui hakikat adanya Allah SWT.
Walaupun didalam Al Quran ‘diri’ itu disebut dengan belbagai istilah, tetapi tujannya adalah untuk mengingatkan kepada manusia supaya berfikir bahawa betapa luasnya ‘diri’ yang hakikat itu didalam manusia.
Diri manusia dilengkapi oleh Allah dengan sifat-sifat tertentu, kemudian sifat-sifat tersebut dinilai atau dihisab, samaada baik ataupun buruk.
Firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta dipertanggungjawabkannya.”
Allah menjelaskan kepada kita tentang istilah jiwa dan sifat-sifat yang terdapat pada jiwa, iaitu pendengaran, penglihatan disamping roh juga akan diuji tentang ketaqwaannya kepada Allah.
Itulah sebabnya ketika Allah berfirman kepada roh-roh atau jiwa, ianya sedia untuk berbakti dan melaksanakan perintah tersebut maka diciptakanlah jasad, lalu Allah menjadikan Adam.
Roh telah berikrar dan berjanji kepada Allah, maka untuk membuktikan dan berbuat sesuatu maka roh memerlukan tempat iaitu jasad.
Istilah batin disebut juga dalam Al Quran dengan Qalbu. Seandainya Qalbi tersebut diterangi dengan nur maka selamatlah seseorang itu. Maka sekiranya tiada Nur, gelaplah seseorang itu.
Qalbi mestilah mempunyai asas yang membolehkannya selamat yang hanya Allah saja yang boleh menentukannya. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada dalam diri berupa nafas, akal. nafsu dan roh, bila menjadi satu maka dinamakan dengan insan.
Qalbi didalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri.
Firman Allah SWT maksudnya:
“Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As Sham: 9-10)
Wassalam
Selasa, 15 November 2016
Nafsu dan Akal menutupi Nur Makrifat
Nafsu dan Akal menutupi Nur Makrifat
Firman Allah :
“Dan pada dirimu itu, mengapakah kamu tidak melihat (tanda-tanda dan bukti kebesaranNya)?” (Adz-Dzaariyaat : 21)
Awal agama adalah mengenal Allah, awal mengenal Allah adalah mengenal diri. Kata ‘arifbillah: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka mengenal ia akan Tuhannya. Sesiapa yang mengenal Allah, maka binasalah (fana) dirinya.”
Firman Allah diatas sebagai pembuka segala rahsia dalam rahsia. Hanya Allah wajibal wujud dan Dia wujud pada DzatNya.
Adapun sekelian wujud yang lain bukan wujud pada dzatnya, tapi wujudnya diwujudkan oleh Allah. Makhluk diwujudkan Allah untuk menunjukkan sifat Keagungan dan KebesaranNya.
Firman Allah dalam hadis Qudsi :
كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق ليعرفوني
“Aku adalah ‘Kanzun Mahfiyyan’ (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenalKu.”
Makhluk dan diri kita tiada lain melainkan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan DiriNya. Pada kita Dia menunjukkan wujudNya, menunjukkan SifatNya, menunjukkan Asma’Nya dan menunjukkan Af’alNya.
Maka barangsiapa yang melihat dirinya dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’, mereka adalah golongan yang terdinding dengan waham (kegelapan awan nafsu dan khayalan akal).
Mereka adalah golongan yang syirik dalam penglihatan, pendengaran, sentuhan, pemikiran dan perasaan apabila hal tersebut tiada berhubung atau bertali simpul dengan Allah.
Melihat diri dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’ bersamanya adalah jahil murakab; Yakni jahil pada Tuhannya, tiada mengenal Ketunggalan sifat Allah dan jahil pada dirinya yakni tiada mengenal hak pada dirinya!
Firman Allah :
“Dimana kamu hadap di situlah wajah Allah SWT.” (Al-Baqarah : 115)
Berkata Syaikh Ibnu ‘Athaillah Askandary dalam Syarah Hikam:
“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang menzahirkan tiap-tiap suatu daripada tiada kepada ada.”
“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah yang telah zahir dengan tiap-tiap sesuatu.”
“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang telah zahir dalam tiap-tiap sesuatu dengan KudratNya dan dengan KeagunganNya daripada segala SifatNya.”
La ilaahaa illaLlah wahdahu laasyariikalah…
Tiada tuhan melainkan Allah dan tiada sekutu yang lain disisiNya!
Hak jasad adalah kaku terbujur yang tiada dapat berfungsi apa-apa walaupun ada mata, telinga, mulut, hidung, tangan, akal dan hati. Ia tidak dapat menepis walau seekor lalat atau nyamuk jika hinggap padanya.
Ia bisu, buta, pekak, tiada bernafas, bodoh, lemah dan tiada kehendak. Tiada siapa mahu menyimpan jasad kaku ini dalam rumah walaupun di kalangan ahli keluarga yang amat menyayanginya.
Jasad adalah sarung untuk diri kita (ruh) di alam dunia ini. Diri kita telah beribu tahun di alam ruh memuji dan memandang Allah mengikut kadar yang diizinkan.
Maka sampai saat Allah mahu diri kita melihat dan memujinya di alam zahir, maka diri kita dimasukkan dalam sarung badan manusia dari pelbagai jenis keturunan yang berlainan warna kulit, bentuk badan dan sebagainya.
Diri kita di alam ruh telah mengenal Allah dengan pandangan yang dibuka secara kasyaf dan memuji Allah dengan Nur Allah.
Diri kita (ruh) juga adalah kaku, tiada baginya sifat melainkan Allah persifatkan ia dengan diperlihatkan, diperdengarkan, diperkalamkan, diperhidupkan, diperkehendakkan, diperilmukan dan diperkuasakan tanpa alat zahir seperti mata, telinga dan lainnya.
Apabila ia dimasukkan dalam sarung badan manusia, maka segala alat anggota badan berfungsi dengan kadar yang ditentukan sesuai di alam zahir pula.
Tiada tujuan lain kita dimasukkan dalam badan yang lengkap dengan alat-alat tersebut melainkan agar tetap bertauhid dan bertasbih padaNya.
Firman Allah :
"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku." (adz-Dzaariyaat : 56)
Kita diperintah mentauhidkan DiriNya dalam pandangan, dalam pendengaran, dalam pernafasan, dalam rasa, dalam sentuhan dan dalam gerak diam.
Firman Allah :
“… Maka ke mana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah.” (al-Baqarah: 115)
“Dan Allah bersama kamu di mana sahaja kamu berada.” (al-Hadid : 4)
“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (as-Shofat : 96)
Begitu juga kita diwajibkan mentauhidkan DiriNya dalam perbuatan yang merangkumi aspek kesyumulan kehidupan insan sama ada dalam ibadah, pendidikan, perubatan, pekerjaan, perniagaan, makan dan minum, perkahwinan, politik, perundangan, hiburan, pergaulan, akhlak, budaya dan lainnya.
Namun apabila diri kita berada dalam badan, segala makrifat kita telah terdinding oleh dua daging iaitu daging pada kepala (otak) dan daging pada sebelah kiri (jantung).
Pada otak dinamakan akal dan pada jantung dinamakan nafsu. Akal membawa kita kepada ketuhanan logik (Muktazilah)
Dan nafsu mengajak kita kepada ketuhanan diri (Qadariah).
Segala maklumat Alam Ruh, Alam Jabarut dan Alam Malakut tersimpan kukuh dalam sirr sanubari setiap insan.
Ia tiada hilang dan perlu dibuka kembali agar tiada tertipu dengan keindahan dunia dan mengingatkan kembali asal dirinya.
Al-Quran dan Hadis adalah cahaya yang memberi petunjuk bagi segala rahsia dalam rahsia.
Ia memberi jawaban kepada persoalan dari mana asal manusia, apa tujuannya di alam ini dan ke mana mereka akan pergi selepas ini.
Ia membuka rahsia alam di sebalik alam yang tiada dapat dicapai dengan akal manusia yang amat terbatas.
Bermula alam tiada, diciptaNya qalam, alam ruh, alam malaikat, alam jin dan syaitan, alam zahir, alam barzakh dan alam akhirat.
Sesiapa yang berpegang dengan petunjuk keduanya (Al-Quran dan Hadis) dan memahami tafsiran keduanya mengikut jalan para ulama yang Haq, nescaya mereka akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pak Habib Syed Padzil Barakbah
Selasa, 18 Oktober 2016
Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka
RISALAH 14
المقالة الرابعة عشرة
فـي إتـبـاع أحـوال الـقــوم
قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تدع حالة القوم يا صاحب الهوى أنت تعبد الهوى وهم عبيد المولى, أنت رغبتك في الدنيا ورغبة القوم في العقبى, أنت ترى الدنيا وهم يرون ربّ الأرض والسماء, وأنت أنسك بالخلق وأنس القوم بالحق، أنت قلبك متعلق بمن في الأرض وقلوب القوم بربّ العرش, أنت يصطادك من ترى وهم لا يرون من ترى بل يرون خالق الأشياء وما يرى, فاز القوم به وحصلت لهم النجاة, وبقيت أنت مرتهناً بما تشتهي من الدنيا وتهوى، فنوا عن الخلق والهوى والإرادة والمنى فوصلوا إلى الملك الأعلى, فأوقفهم على غاية ما رام منهم من الطاعة والجد والثناء }ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ{.المائدة54. فلازموا ذلك وواظبوا بتوفيق منه وتيسير بلا عناء, فصارت الطاعة لهم روحاً وغذاء, وصارت الدنيا إذ ذاك في حقهم نقمة وخزياً، فكأنها لهم جنة المأوى إذ ما يرون شيئاً من الأشياء حتى يروا قبله فعل الذي خلق وأنشأ فيهم ثبات الأرض والسماء, وقرار الموت والإحياء إذ جعلهم مليكهم أوتاداً للأرض الذي دحى, فكل كالجبل الذي رسى, فتنح عن طريقهم ولا تزاحم من لم يفده عن قصده الآباء والأبناء، فهم خير من خلق ربي وبث في الأرض وذرأ, فعليهم سلام الله وتحياته ما دامت الأرض والسماء
Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka ! Janganlah kamu mengira bahwa diri kamu masuk ke dalam golongan mereka yang menjadi ahli Allah.
Kamu telah menghambakan diri kamu kepada hawa nafsu kamu, sedangkan mereka menghambakan diri mereka kepada Allah SWT. Kamu menghendaki dunia, sedangkan mereka menghendaki akhirat.
Kamu hanya melihat dunia ini saja, sedangkan mereka melihat Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Kesenanganmu terletak pada mahluk, sedangkan kesenangan mereka terletak pada Allah.
Hati kamu terikat kepada Dunia, tetapi hati mereka terikat kepada Allah Yang Maha Agung. Kamu adalah mangsa setiap apa yang kamu lihat, tetapi mereka adalah mangsa apa yang tidak kamu lihat, mereka melihat Allah yang menjadikan segala perkara yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala.
Mereka telah mencapai tujuan hidup dan mendapatkan kesejahteraan, sedangkan kamu masih saja terbenam di dalam nafsu keduniaanmu.
Mereka menghilang dari mahluk, dari nafsu keduniaan dan dari kehendak mereka sendiri.
Sehingga dengan demikian, mereka dapat sampai ke hadlirat Illahi yang memberi mereka kekuatan untuk mencapai puncak wujud mereka, seperti menta’ati dan memuji Allah.
Inilah karunia Illahi yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mereka menjadikan keta’atan kepada Allah dan pujian terhadap-Nya sebagai kewajiban mereka.
Mereka berpegang teguh kepada-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada mereka. Semua ini mereka lakukan tanpa mengalami kesukaran apa-apa. Maka jadilah ketaatan mereka itu sebagai nyawa dan santapan mereka.
Dengan demikian, dunia ini menjadi berkat bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka, seakan-akan dunia ini telah menjadi surga bagi mereka.
Karena, apabila mereka melihat sesuatu, maka sebelum mereka melihatnya, mereka terlebih dahulu melihat perbuatan Allah yang menjadikan segalanya itu.
Orang-orang ini membekali diri dengan kekuatan yang ada di bumi dan di langit, serta menyenangkan mereka yang telah mati dan masih hidup.
Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka seperti pasak bumi (gunung) yang dijadikan-Nya ini. Oleh karena itu, mereka menjadi seperti gunung yang berdiri dengan megah dan agung.
Janganlah kamu mengacau mereka dan jangan pula kamu menghalangi perjalanan mereka yang ibu-bapak dan sanak-saudara mereka tidak dapat menyelewengkan mereka dari tujuan mereka.
Mereka adalah orang-orang terbaik yang dijadikan Allah di muka bumi ini. Keridhaan dan kesejahteraan dikaruniakan oleh Allah kepada mereka, selagi langit dan bumi masih ada.
Jika nafsu untuk kawin telah muncul di dalam pikiranmu
RISALAH 11
المقالة الحادية عشرة
فـي الــشــــهـوة
قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : إذا ألقيت عليك شهوة النكاح في حالة الفقر وعجزت عن مؤنته فصبرت عنه منتظر الفرج من الباري عزَّ وجلَّ, إما بزوالها وإقلاعها عنك بقدرته التي ألقاها عليك وأوجدها فيك فيعينك أو يصونك وحياتك عن حمل مؤنتها أيضاً أو بإيصالها إليك موهبة مهنئاً مكفياً من غير ثقل في الدنيا ولا تعب في العقبى, وسماك الله عزَّ وجلَّ صابراً شاكراً لصبرك عنها راضياً بقسمته فزادك عصمة وقوة. فإن كان قسماً لك ساقها إليك مكفياً مهنئاً فينقلب الصبر شكراً, وهو عزَّ وجلَّ وعد الشاكرين بالزيادة في العطاء قال الله عزَّ وجلَّ : }لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ{.إبراهيم7.
وإن لم تكن قسماً لك فالغنى عنها بقلعها من القلب إن شاءت النفس أو أبت, فلازم الصبر وخالف الهوى وعانق الأمر وارض بالقضاء, وارج بذلك الفضل والعطاء, وقد قال الله تعالى : }إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ{.الزمر10.
Jika nafsu untuk kawin telah muncul di dalam pikiranmu, tetapi kamu miskin papa lalu kamu bersabar dengan harapan menunggu pertolongan Allah yang menjadikan kamu dan nafsu kamu itu, maka Allah pasti menolong kamu, baik dengan menghilangkan nafsu itu dari kamu maupun dengan memberimu rizki ataupun dengan mencukupkan kamu dengan berbagai cara, dengan meringankan beban dan meningkatkan derajat kamu di akhirat kelak.
Allah pasti menolongmu karena kesabaran dan keridhaanmu itu. Allah pasti menambah kesucian dan kekuatanmu. Jika Allah mencukupimu di dalam masalah rizki, maka kesabaranmu itu akan bertukar dengan syukur. Allah SWT menjanjikan akan menambahkan karunia-Nya kepada mereka yang bersyukur.
Firman Allah : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim: 7)
Jika sesuatu itu telah ditakdirkan bukan untuk kamu, maka janganlah kamu merasa kesal. Singkirkanlah perasaan itu jauh-jauh dari hatimu, baik sifat-sifat kebinatanganmu itu suka maupun tidak.
Bersabarlah dan lawanlah kehendak nafsumu itu serta bertawakallah dan berpegang teguhlah kepada perintah-perintah Allah.
Ridhalah dengan takdir Tuhan, dan dalam keadaan ini, berharaplah akan mendapat keridhaan dan karunia-Nya.
Allah berfirman,
“Hanya orang sabar itu sajalah akan diberi ganjaran sepenuhnya tanpa batas. (QS. Az Zumar : 10) ”
Jumaat, 2 September 2016
APA ITU NAFSU ?
APA ITU NAFSU ?
Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah/biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Allah surah At-Takwir ayat 7 :Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”.Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh.
Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :
(1) Nafsu Amarah tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu ertinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh ertinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad ertinya hasud
4. Al-Jahl ertinya bodoh
5. Al-Kibr ertinya sombong
6. Asy-Syahwat ertinya keinginan duniawi
(2) Nafsu Lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” ertinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum ertinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr ertinya menipu
4. Al-Ujb ertinya bangga diri
5. Al-Ghibah ertinya mengupat
6. Ar-Riya’ ertinya pamer amal
7. Az-Zulm ertinya zalim
8. Al-Kidzb ertinya dusta
9. Al-ghoflah ertinya lupa
(3) Nafsu Mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah ertinya murah hati
2. Al-Qona’ah ertinya merasa cukup
3. Al-Hilm ertinya murah hati
4. At-Tawadhu’ ertinya rendah hati
5. At-Taubat ertinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr ertinya sabar
7. At-Tahammul ertinya bertanggung jawab
(4) Nafsu Muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” ertinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kearah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud alertinya dermawan
2. At-tawakkul ertinya berserah diri
3. Al-Ibadah ertinya ibadah
4. Asy-Syukr ertinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho ertinya redha
6. Al-Khosyah ertinya takut akan melanggar larangan
(5) Nafsu Rodhiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” ertinya sangat rahsia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom ertinya
2. Az-Zuhd ertinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas ertinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ ertinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh ertinya latihan diri
6. Al-Wafa’ ertinya tepat janji
(6) Nafsu Mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” ertinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq ertinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh ertinya meninggalkan selain Allah
3. Al-Luthfu bil kholqi ertinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah ertinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim ertinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim ertinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.
(7) Nafsu Kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” ertinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmu Al’Yaqiin
2. Ainul Yaqiin
3. Haqqul Yaqiin
QOLBU = RUH = AKAL = NAFSU
Kenapa dikatakan demikian, kerana memang benar seperti itu adanya. Mari kita lihat bersama apabila ada di hadapan kita sosok mayat. Apabila saya tanyakan, mayat ini sudah tidak ada apanya : qolbunya, ruhnya, akalnya atau nafsunya. maka pasti jawabannya : “semuanya”.
Tidak salah apabila ada yang mengatakan qolbunya yang tidak ada, kerana ketika seseorang meninggal maka qolbunya yang selalu menjadi sumber perasa ketika masih hidup seperti ; sedih, senang, tenteram, menyesal, marah maka setelah meninggal perasaan di mayat itu hilang, dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Tidak salah juga kalau orang berkata ruhnya yang tidak ada, kerana ruh adalah nyawa bagi mayat itu.
Setelah ruhnya tidak ada maka mayat itu tidak bernyawa lagi, tidak bernafas lagi tidak berdetak lagi jantungnya serta nadinyapun tidak berdenyut lagi. Apabila ada yang mengatakan akalnya yang tidak ada, maka ini juga betul karena setelah meninggalnya seseorang maka mayat orang tersebut tidak akan berfikir lagi dan tidak akan faham lagi dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah dipelajarinya selagi hidup.
Terakhir jika dikatakan yang tidak ada itu nafsunya, maka ini pun betul. Karena nafsu itu adalah unsur dalam jiwa orang yang masih hidup yang memiliki keinginan-keinginan baik maupun buruk. Dengan demikian setelah menjadi mayat maka tidak ada lagi pada mayat itu nafsunya sehingga dia tidak memiliki keinginan apapun.
Sekarang dapat kita simpulkan kalau semua jawaban tersebut adalah benar, maka bererti keempat nama yang berbeda itu adalah satu, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali r.a : qolbu, ruh, akal dan nafsu itu adalah satu. (syai’un wahidun).
R.A. Huzaifah Adiningrat
Ahad, 29 Mac 2015
TANDA ORANG YG DALAM PERJALANAN SPIRITUAL yang DIPERJALANKAN OLEH ALLAH SWT
Selasa, 1 Julai 2014
Puasa
Khamis, 12 Jun 2014
JANGAN JADIKAN NAFSU SEBAGAI TUHAN
Ahad, 8 Jun 2014
Larangan Allah
AKAN TIMBUL DIDALAM RASA DIRI ORANG YANG SEDANG MENGAKU SIFAT ALLAH ADALAH SIFAT ALLAH TELAH SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK KERANA SEDANG MERASAKAN ADA MAKHLOK, DIDALAM ILMU TELAH MENJELASKAN BAHAWA ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLOK.
OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH YANG SEDANG DINYATAKAN SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI DAN ADA MAKHLOK MAKA SECARA TIDAK DISEDARI /AUTOMATIK AKAN TIMBUL ANGGAPAN SYIRIK KEPADA SESIAPA YANG BERPEGANG SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN SEBAGAI SIFAT ALLAH SENDIRI... INI BERLAKU KERANA SEDANG MERASA ADA DIRI SENDIRI DISAMPING ADA ALLAH....