Pages

Memaparkan catatan dengan label nafsu. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label nafsu. Papar semua catatan

Sabtu, 15 Julai 2017

Beginilah Keadaan Dunia Tanpa Kewujudan Syaitan dan Iblis

Manusia akan selalu digoda oleh syaitan dan iblis laknatullah yang menyebabkan terjerumus ke jalan menuju neraka. Manusia tidak akan terlepas dari godaan syaitan dan iblis sehinggalah sampai ajalnya. Iblis dan Syaitan tidak akan senang lenang membiarkan Bani Adam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Banyak manusia berpikir, jika demikian jahat iblis tersebut, mengapa Allah tidak membinasakannya saja. Tapi Allah tentu tidak menciptakan makhluk ini tanpa fungsi. Pernah suatu ketika, Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Nabi berharap ketiadaan iblis akan membuat manusia hidup lebih tenteram dan damai tanpa dosa. Namun, apa yang terjadi setelahnya membuat Nabi Sulaiman kembali melepaskan makhluk tersebut. Bagaimanakah keadaan dunia tanpa iblis dan syaitan? Berikut ulasannya.

Kisah ini dipetik dari buku Kisah-kisah Allah karya Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh. Dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana Nabi Sulaiman AS memiliki kekuatan penuh menundukan kalangan manusia, jin dan hewan.

Bahkan setan-setan kala itu menjadi pekerjanya untuk membawa dan mengimpor batu batuan, pasir serta bahan bangunan lain untuk membangun bangunan bangunan megah. Namun meski dengan kekayaan dan kekuasaan tersebut, ternyata Nabi Sulaiman mencari makan dari rezeki yang diperolehnya dengan berjualan tas di pasar. Padahal, didapur sang raja setiap hari selalu dimasak 4.000 unta, 5.000 sapi, dan 6.000 kambing.

Di dalam buku tersebut dituliskan sebuah riwayat saat Nabi Sulaiman AS memohon kepada Allah agar diperbolehkan memenjarakan Iblis.

“Ya Allah, Engkau telah menundukkan padaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung, dan para malaikat. Ya Allah aku ingin menangkap dan memenjarakan iblis, merantai serta mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.”

Namun, permintaan ini tidak serta merta dikabulkan oleh Sang Pencipta. Allah Ta’alaa kemudian mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, bahwa tidak ada baiknya jika iblis ditangkap atau dibinasakan “Wahai Sulaiman, tidak ada baiknya jika iblis ditangkap”.

Tapi Nabi Sulaiman tetap memohon, “Ya Allah, keberadaan mahluk terkutuk ini tidak ada kebaikan didalamnya”.

Allah berfirman, “Jika iblis ditangkap maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan. Nabi Sulaiman berkata, “Yaa Allah. aku ingin menangkap mahluk terkutuk ini selama beberapa hari saja. Kemudian Allah mengizinkan Nabi Sulaiman untuk menangkap iblis dan memenjarakannya.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman mengutus pekerjanya untuk berjualan tas ke pasar. Namun sesampainya di pasar, ada hal yang tidak biasanya terjadi. Pasar tersebut kosong tanpa penghuni. Semua pedagang menutup dagangan mereka. Pekerjanya lalu memberitahukan hal itu kepada Nabi Sulaiman alaihissalam.

Nabi Sulaiman as, bertanya :” Apa yang telah terjadi ?”
Pekerjanya menjawab, ” Kami tidak tahu “.

Pada malam itu, Nabi Sulaiman tidak makan dan hanya minum air saja. Pada hari berikutnya, anak buah Nabi kembali ke pasar untuk berjualan tas. Namun hal yang sama kembali terjadi. Pasar kosong dan tidak berpenghuni.


Ternyata setelah dicari tahu, manusia lebih banyak memilih menutup pasar. Mereka pergi ke masjid, dan menuju kuburan untuk mengingat kematian, menangis dan meratap. Mereka sibuk mempersiapkan bekal menuju ke akherat tanpa memperdulikan lagi keindahan duniawi.

Hal ini tentu membuat sang Nabi keheranan. “Apa yang sedang terjadi” pikirnya. Nabi Sulaiman lalu bertanya kepada Allah perihal ini. Kenapa orang orang tidak bekerja mencari nafkah ?

Lalu, Allah mewahyukan kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak bergairah bekerja mencari nafkah. Bukankan sebelumnya telah Ku-katakan kepadamu bahwa menangkap iblis tidak mendatangkan kebaikan.

Mendengar jawapan Allah SWT, Nabi Sulaiman kemudian melepaskan Iblis dan bala tentaranya. Keesokan harinya pasar kembali ramai setelah syaitan dan iblis dibebaskan. Manusia kembali bersemangat bekerja mencari harta dunia untuk makan dan memenuhi nafsunya.

Selasa, 6 Jun 2017

Nafsu Nyata & Nafsu Tersembunyi

Nafsu Nyata & Nafsu Tersembunyi.

Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Bagian nafsu dalam kemaksiatan itu jelas nyata. Sedangkan bagian nafsu di dalam ta’at, itu tersembunyi dan tidak nyata. Mengubati yang tersembunyi itu sangat payah terapinya.”

Bahwa nafsu itu memiliki kecenderungan maksiat dan melakukan maksiat itu sangat nyata dan jelas, karena naluri nafsu memang demikian. Namun ketika nafsu menyelinap pada ketaatan, kebajikan, amaliah, sangat tersembunyi.Nafsu dalam konteks ini memiliki tiga karakter:
》Takut pada sesama makhluk,
》keinginan (hasrat, nafsu) yg besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu.
》Rela pada kemahuan nafsu itu sendiri.

Munculnya ketiga karakter itu bersamaan dengan selera nafsu.
Sedangkan nafsu dibalik taat dan ibadah kita begitu tersembunyi. Tiba-tiba ia merasa lebih tinggi dibanding orang lain, lebih suci, kemudian muncul untuk manipulasi, dengan tujuan tertentu atau imbalan tertentu, yang menyebabkan riya’.

Mari kita bertanya pada diri sendiri dibalik nafsu yang tersembunyi ini. Apakah ketika kita beribadah, melakukan kebajikan dan amaliyah lainnya, agar kita disebut? Agar disebut lebih dibanding yang lain? Mendapat pujian dan kehormatan orang lain? Anda sendiri dan orang-orang sholeh yang memiliki mata hatilah yang mengenal karakter itu.
Kerana itu nafsu sering bersembunyi dibalik bendera agama, dibalik ibadah dan gerakan  keagamaan, bahkan nafsu merangsang penampilan orang-orang saleh, agar disebut saleh.

Disnilah Ibnu Athaillah juga mengingatkan berikutnya: “Kadang-kadang riya’ itu masuk padamu, ketika orang lain tidak memandangmu.”Kenapa demikian? Karena riya’ itu bertumpu pada pandangan makhluk. Ketika anda bersembunyi atau makhluk lain tidak mengenal anda, lalu anda diam-diam merasa ikhlas, karena makhluk lain tidak melihatmu, itu pun disebut riya’. Sebab unsur makhluk masih ada di hatimu.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh, ra, menegaskan, “Beramal demi pandangan manusia itu adalah syirik. Sedangkan tidak melakukan amaliah karena agar dipandang manusia, adalah riya’. Meninggalkan amal demi manusia adalah syirik. Ikhlas kerana Allah jika anda meninggalkan kedua faktor di atas.”Ketika seseorang berlaku riya’ dalam khalwat(suluk), secara diam-diam pula ia ingin disebut lebih utama dibanding yang lain. “Wah saya sudah suluk, saya sudah baiah, saya sudah khalwat… Sedangkan kalian kan belum… Jelas saya lebih baik dibanding anda…”. Bisikan lembut ini adalah bentuk ketakaburan dan riya’.

Inilah mengapa Ibnu Athaillah melanjutkan: “Upayamu untuk meraih kemuliaan agar makhluk mengetahui keistemewaanmu, menunjukkan bahwa ubudiyahmu sama sekali tidak benar.”

Karena, menurut Syeikh Zarruq ra, manakala anda benar dalam ubudiyah pada Tuhanmu, pasti anda tidak senang jika yang lainNya tahu amalmu.

Sebagian Sufi mengatakan, “Tak seorang pun benar pada Allah Swt, sama sekali, kecuali jika ia senang bila cintanya tidak dikenal oleh yang lain.”

Ahmad bin Abul Hawary ra, mengatakan, “Siapa pun bila senang kebaikannya dipandang orang lain atau disebut-sebut, ia benar-benar musyrik dalam ibadahnya,kerana orang yang berbakti pada cinta, tidak senang bila baktinya dipandang oleh selain yang dicintainya."

Sahl bin Abdullah ra, mengatakan, “Siapa yang senang mempamer amalnya pada orang lain ia telah riya’. Dan siapa yang ingin dikenal maqam keruhanianya oleh orang lain, ia adalah pendusta.”

Ibrahim bin Adham nengatakan, “Tidak benar bagi Allah orang yang senang dengan kemasyuran(populariti).”

Menghapuskan riya’ dan membersihkannya, sudah seharusnya dilakukan dengan memandang kepada Allah Swt dan menolak selainNya.

Isnin, 20 Mac 2017

Setiap yang bernyawa itu pasti merasai mati

"setiap yang bernyawa itu pasti merasai mati, kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan." ( Al 'Ankabuut:57)

Perkataan NAF'S/diri di sini menunjukkan kepada diri ROH, karana nafas atau nyawa itu digerakkan oleh Ruh.

Diri ROH dan Diri NAF'S keduanya sudah terhimpun di alam insan diri kita ini . ROH bersifat taat dan bertaraf Ammar Robbi manakala NAF'S atau nafsu yakni inilah diri kita mempunyai asal kejadian yang berbeza, Nafs'/Nafsu ni yang mahu nak turun dunia. Nafs'/Nafsu inilah diri kita .

Dan tingkatan2 nafsu apabila disucikan naiklah kepada tingkatan amarah > lawamah> mulhamah >mutmainnah >radhiah > mardhiah >kamaliah.
Maka NAF'S atau Nafsu ini di awal kejadiannya bila ditanya oleh Allah Ta'ala siapa Aku dan siapa engkau ,dijawabnya aku aku ,engkau engkau lalu di rejam beratus tahun di dalam neraka panas.

Kemudian diangkat semula mengadap Allah Ta'ala dan ditanya lagi siapa Aku dan siapa engkau ,dijawabnya aku aku ,engkau engkau dijawab sama aku aku ,engkau engkau .

Maka di rejam beratus tahun di dalam neraka sejuk kemudian diangkat mengadap Allah Ta'ala di tanya lagi , tetap menajwab aku aku , engkau engkau .

Lalu diperintah oleh Allah Ta'ala dikurung di dalam penjara lapar dan dahaga beberapa lama kemudian di panggil mengadap Allah di tanya lagi . Barulah ia mengaku Engkau Tuhanku.

Maka NAF'S yang telah disucikan itu Allah Ta'ala gelarkan sebagai 'NAF'S Mutmainnah' yakni 'Jiwa yang tenang' sebagaimana FirmanNYA dan perintahNYA kepada NAF'S untuk memasuki syurganya ....

SELAMAT MEMERANGI HAWA NAFSU...AMIN YA RABAL ALAMIN.

Jumaat, 23 Disember 2016

MENGENAL ALLAH MELALUI MENGENAL DIRI SENDIRI

MENGENAL ALLAH MELALUI MENGENAL DIRI SENDIRI

Salah satu cara mengenal Allah ialah dengan mengenal diri sendiri. Maksudnya ialah hakikat diri yang sebenarnya.

Adapun yang dimaksudkan diri yang sebenarnya itu bukanlah diri yang bersifat lahiriah, kerana jasad ini tidak membawa makna yang sebenar untuk mengenal Allah SWT.

Pada abad modern ini, ramai dikalangan kita tidak mengenal dirinya yang sebenar. Mereka menganggap bahawa dirinya hanyalah tubuh badan yang terdiri daripada kulit, daging, tulang, darah dan sebagainya.

Yang dimaksudkan dengan sebenarnya ialah diri yang batin iaitu diri yang datang dan akan kembali kepada Allah SWT.

Ulama Ilmu ketuhanan atau Ilmu Tauhid berpegang kepada bahawa diri ini merupakan tangga untuk mengenal Allah, sesuai dengan dalil yang mengatakan: “Siapa yang mengenal Tuhannya.”

Dikalangan ulama tasauf atau ulama Ilmu ketuhanan selalu menasihatkan, ”carilah diri kamu dalam diri.”maksudnya, ialah menyuruh agar kita mencari hakikat diri kita yang sebenarnya terlebih dahulu.

Apabila kita telah menemukan diri kita yang sebenarnya pasti kita akan mengakui hakikat adanya Allah SWT.

Walaupun didalam Al Quran ‘diri’ itu disebut dengan belbagai istilah, tetapi tujannya adalah untuk mengingatkan kepada manusia supaya berfikir bahawa betapa luasnya ‘diri’ yang hakikat itu didalam manusia.

Diri manusia dilengkapi oleh Allah dengan sifat-sifat tertentu, kemudian sifat-sifat tersebut dinilai atau dihisab, samaada baik ataupun buruk.

Firman Allah SWT:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta dipertanggungjawabkannya.”

Allah menjelaskan kepada kita tentang istilah jiwa dan sifat-sifat yang terdapat pada jiwa, iaitu pendengaran, penglihatan disamping roh juga akan diuji tentang ketaqwaannya kepada Allah.

Itulah sebabnya ketika Allah berfirman kepada roh-roh atau jiwa, ianya sedia untuk berbakti dan melaksanakan perintah tersebut maka diciptakanlah jasad, lalu Allah menjadikan Adam.

Roh telah berikrar dan berjanji kepada Allah, maka untuk membuktikan dan berbuat sesuatu maka roh memerlukan tempat iaitu jasad.

Istilah batin disebut juga dalam Al Quran dengan Qalbu. Seandainya Qalbi tersebut diterangi dengan nur maka selamatlah seseorang itu. Maka sekiranya tiada Nur, gelaplah seseorang itu.

Qalbi mestilah mempunyai asas yang membolehkannya selamat yang hanya Allah saja yang boleh menentukannya. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada dalam diri berupa nafas, akal. nafsu dan roh, bila menjadi satu maka dinamakan dengan insan.

Qalbi didalam Al Quran diistilah sebagai diri atau hati. Qalbi sebenarnya mengetahui apa yang patut dibuat dan apa yang patut dilaksanakan mengikut nilai-nilai diri itu sendiri.

Firman Allah SWT maksudnya:
“Sesungguhnya berbahagialah sesiapa yang membersihkan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (As Sham: 9-10)

Wassalam

Selasa, 15 November 2016

Nafsu dan Akal menutupi Nur Makrifat

Nafsu dan Akal menutupi Nur Makrifat

Firman Allah :
“Dan pada dirimu itu, mengapakah kamu tidak melihat (tanda-tanda dan bukti kebesaranNya)?” (Adz-Dzaariyaat : 21)

Awal agama adalah mengenal Allah, awal mengenal Allah adalah mengenal diri. Kata ‘arifbillah: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka mengenal ia akan Tuhannya. Sesiapa yang mengenal Allah, maka binasalah (fana) dirinya.”

Firman Allah diatas sebagai pembuka segala rahsia dalam rahsia. Hanya Allah wajibal wujud dan Dia wujud pada DzatNya.

Adapun sekelian wujud yang lain bukan wujud pada dzatnya, tapi wujudnya diwujudkan oleh Allah. Makhluk diwujudkan Allah untuk menunjukkan sifat Keagungan dan KebesaranNya.

Firman Allah dalam hadis Qudsi :

كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق ليعرفوني

“Aku adalah ‘Kanzun Mahfiyyan’ (yang terpendam dan tertutup). Aku ingin ditemukan dan dikenali. Kuciptakan makhluk agar mereka mengenalKu.”

Makhluk dan diri kita tiada lain melainkan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan DiriNya. Pada kita Dia menunjukkan wujudNya, menunjukkan SifatNya, menunjukkan Asma’Nya dan menunjukkan Af’alNya.

Maka barangsiapa yang melihat dirinya dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’, mereka adalah golongan yang terdinding dengan waham (kegelapan awan nafsu dan khayalan akal).

Mereka adalah golongan yang syirik dalam penglihatan, pendengaran, sentuhan, pemikiran dan perasaan apabila hal tersebut tiada berhubung atau bertali simpul dengan Allah.

Melihat diri dan alam tanpa melihat ‘wajah Allah’ bersamanya adalah jahil murakab; Yakni jahil pada Tuhannya, tiada mengenal Ketunggalan sifat Allah dan jahil pada dirinya yakni tiada mengenal hak pada dirinya!

Firman Allah : 

“Dimana kamu hadap di situlah wajah Allah SWT.” (Al-Baqarah : 115)

Berkata Syaikh Ibnu ‘Athaillah Askandary dalam Syarah Hikam:

“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang menzahirkan tiap-tiap suatu daripada tiada kepada ada.”

“Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah yang telah zahir dengan tiap-tiap sesuatu.”

Bagaimana dapat dibayangkan bahawa sesuatu itu mendindingkanNya sedangkan Dialah jua yang telah zahir dalam tiap-tiap sesuatu dengan KudratNya dan dengan KeagunganNya daripada segala SifatNya.”

La ilaahaa illaLlah wahdahu laasyariikalah…
Tiada tuhan melainkan Allah dan tiada sekutu yang lain disisiNya!

Hak  jasad adalah kaku terbujur yang tiada dapat berfungsi apa-apa walaupun ada mata, telinga, mulut, hidung, tangan, akal dan hati. Ia tidak dapat menepis walau seekor lalat atau nyamuk jika hinggap padanya.

Ia  bisu, buta, pekak, tiada bernafas, bodoh, lemah dan tiada kehendak. Tiada siapa mahu menyimpan jasad kaku ini dalam rumah walaupun di kalangan ahli keluarga yang amat menyayanginya.

Jasad adalah sarung untuk diri kita (ruh) di alam dunia ini. Diri kita telah beribu tahun di alam ruh memuji dan memandang Allah mengikut kadar yang diizinkan.

Maka sampai saat Allah mahu diri kita melihat dan memujinya di alam zahir, maka diri kita dimasukkan dalam sarung badan manusia dari pelbagai jenis keturunan yang berlainan warna kulit, bentuk badan dan sebagainya.

Diri kita di alam ruh telah mengenal Allah dengan pandangan yang dibuka secara kasyaf dan memuji Allah dengan Nur Allah.

Diri kita (ruh) juga adalah kaku, tiada baginya sifat melainkan Allah persifatkan ia dengan  diperlihatkan, diperdengarkan, diperkalamkan, diperhidupkan, diperkehendakkan, diperilmukan dan diperkuasakan tanpa alat zahir seperti mata, telinga dan lainnya.

Apabila ia dimasukkan dalam sarung badan manusia, maka segala alat anggota badan berfungsi dengan kadar yang ditentukan sesuai di alam zahir pula.

Tiada tujuan lain kita dimasukkan dalam badan yang lengkap dengan alat-alat tersebut melainkan agar tetap bertauhid  dan bertasbih padaNya.
Firman Allah :

"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku." (adz-Dzaariyaat : 56)

Kita diperintah mentauhidkan DiriNya dalam pandangan, dalam pendengaran, dalam pernafasan, dalam rasa, dalam sentuhan dan  dalam gerak diam.

Firman Allah :

“… Maka ke mana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah.” (al-Baqarah: 115)

“Dan Allah bersama kamu di mana sahaja kamu berada.” (al-Hadid : 4)

“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (as-Shofat : 96)

Begitu juga kita diwajibkan mentauhidkan DiriNya dalam perbuatan yang merangkumi aspek kesyumulan kehidupan insan sama ada dalam ibadah, pendidikan, perubatan, pekerjaan, perniagaan, makan dan minum, perkahwinan, politik, perundangan, hiburan, pergaulan, akhlak, budaya dan lainnya.

Namun apabila diri kita berada dalam badan, segala makrifat  kita telah terdinding oleh dua daging  iaitu daging pada kepala (otak) dan daging pada sebelah kiri (jantung).

Pada otak dinamakan akal dan pada jantung dinamakan nafsu. Akal membawa kita kepada ketuhanan logik (Muktazilah)

Dan nafsu mengajak kita kepada ketuhanan diri (Qadariah).

Segala maklumat Alam Ruh, Alam Jabarut dan Alam Malakut  tersimpan kukuh dalam sirr sanubari setiap insan.

Ia tiada hilang dan perlu dibuka kembali agar tiada tertipu dengan keindahan dunia dan mengingatkan kembali asal dirinya.

Al-Quran dan Hadis adalah cahaya yang  memberi petunjuk bagi segala rahsia dalam rahsia.

Ia memberi jawaban kepada persoalan dari mana asal manusia, apa tujuannya di alam ini dan ke mana mereka akan pergi selepas ini.

Ia membuka rahsia alam di sebalik  alam yang tiada dapat dicapai dengan akal manusia yang amat terbatas.

Bermula alam tiada, diciptaNya qalam, alam ruh, alam malaikat, alam jin dan syaitan, alam zahir, alam barzakh dan alam akhirat.

Sesiapa yang berpegang dengan petunjuk keduanya (Al-Quran dan Hadis) dan memahami tafsiran keduanya mengikut jalan para ulama yang Haq, nescaya mereka akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pak Habib Syed Padzil Barakbah

Selasa, 18 Oktober 2016

Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka

RISALAH 14

المقالة الرابعة عشرة

فـي إتـبـاع أحـوال الـقــوم

قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : لا تدع حالة القوم يا صاحب الهوى أنت تعبد الهوى وهم عبيد المولى, أنت رغبتك في الدنيا ورغبة القوم في العقبى, أنت ترى الدنيا وهم يرون ربّ الأرض والسماء, وأنت أنسك بالخلق وأنس القوم بالحق، أنت قلبك متعلق بمن في الأرض وقلوب القوم بربّ العرش, أنت يصطادك من ترى وهم لا يرون من ترى بل يرون خالق الأشياء وما يرى, فاز القوم به وحصلت لهم النجاة, وبقيت أنت مرتهناً بما تشتهي من الدنيا وتهوى، فنوا عن الخلق والهوى والإرادة والمنى فوصلوا إلى الملك الأعلى, فأوقفهم على غاية ما رام منهم من الطاعة والجد والثناء }ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ{.المائدة54. فلازموا ذلك وواظبوا بتوفيق منه وتيسير بلا عناء, فصارت الطاعة لهم روحاً وغذاء, وصارت الدنيا إذ ذاك في حقهم نقمة وخزياً، فكأنها لهم جنة المأوى إذ ما يرون شيئاً من الأشياء حتى يروا قبله فعل الذي خلق وأنشأ فيهم ثبات الأرض والسماء, وقرار الموت والإحياء إذ جعلهم مليكهم أوتاداً للأرض الذي دحى, فكل كالجبل الذي رسى, فتنح عن طريقهم ولا تزاحم من لم يفده عن قصده الآباء والأبناء، فهم خير من خلق ربي وبث في الأرض وذرأ, فعليهم سلام الله وتحياته ما دامت الأرض والسماء

Wahai mereka yang menjadi hamba hawa nafsu mereka ! Janganlah kamu mengira bahwa diri kamu masuk ke dalam golongan mereka yang menjadi ahli Allah.

Kamu telah menghambakan diri kamu kepada hawa nafsu kamu, sedangkan mereka menghambakan diri mereka kepada Allah SWT. Kamu menghendaki dunia, sedangkan mereka menghendaki akhirat.

Kamu hanya melihat dunia ini saja, sedangkan mereka melihat Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Kesenanganmu terletak pada mahluk, sedangkan kesenangan mereka terletak pada Allah.

Hati kamu terikat kepada Dunia, tetapi hati mereka terikat kepada Allah Yang Maha Agung. Kamu adalah mangsa setiap apa yang kamu lihat, tetapi mereka adalah mangsa apa yang tidak kamu lihat, mereka melihat Allah yang menjadikan segala perkara yang tidak dapat dilihat dengan mata kepala.

Mereka telah mencapai tujuan hidup dan mendapatkan kesejahteraan, sedangkan kamu masih saja terbenam di dalam nafsu keduniaanmu.

Mereka menghilang dari mahluk, dari nafsu keduniaan dan dari kehendak mereka sendiri.

Sehingga dengan demikian, mereka dapat sampai ke hadlirat Illahi yang memberi mereka kekuatan untuk mencapai puncak wujud mereka, seperti menta’ati dan memuji Allah.

Inilah karunia Illahi yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Mereka menjadikan keta’atan kepada Allah dan pujian terhadap-Nya sebagai kewajiban mereka.

Mereka berpegang teguh kepada-Nya dengan pertolongan yang diberikan-Nya kepada mereka. Semua ini mereka lakukan tanpa mengalami kesukaran apa-apa. Maka jadilah ketaatan mereka itu sebagai nyawa dan santapan mereka.

Dengan demikian, dunia ini menjadi berkat bagi mereka dan memberikan nikmat kepada mereka, seakan-akan dunia ini telah menjadi surga bagi mereka.

Karena, apabila mereka melihat sesuatu, maka sebelum mereka melihatnya, mereka terlebih dahulu melihat perbuatan Allah yang menjadikan segalanya itu.

Orang-orang ini membekali diri dengan kekuatan yang ada di bumi dan di langit, serta menyenangkan mereka yang telah mati dan masih hidup.

Karena Tuhan mereka telah menjadikan mereka seperti pasak bumi (gunung) yang dijadikan-Nya ini. Oleh karena itu, mereka menjadi seperti gunung yang berdiri dengan megah dan agung.

Janganlah kamu mengacau mereka dan jangan pula kamu menghalangi perjalanan mereka yang ibu-bapak dan sanak-saudara mereka tidak dapat menyelewengkan mereka dari tujuan mereka.

Mereka adalah orang-orang terbaik yang dijadikan Allah di muka bumi ini. Keridhaan dan kesejahteraan dikaruniakan oleh Allah kepada mereka, selagi langit dan bumi masih ada.

Jika nafsu untuk kawin telah muncul di dalam pikiranmu

RISALAH 11

المقالة الحادية عشرة

فـي الــشــــهـوة

قـال رضـي الله تـعـالى عـنـه و أرضـاه : إذا ألقيت عليك شهوة النكاح في حالة الفقر وعجزت عن مؤنته فصبرت عنه منتظر الفرج من الباري عزَّ وجلَّ, إما بزوالها وإقلاعها عنك بقدرته التي ألقاها عليك وأوجدها فيك فيعينك أو يصونك وحياتك عن حمل مؤنتها أيضاً أو بإيصالها إليك موهبة مهنئاً مكفياً من غير ثقل في الدنيا ولا تعب في العقبى, وسماك الله عزَّ وجلَّ صابراً شاكراً لصبرك عنها راضياً بقسمته فزادك عصمة وقوة. فإن كان قسماً لك ساقها إليك مكفياً مهنئاً فينقلب الصبر شكراً, وهو عزَّ وجلَّ وعد الشاكرين بالزيادة في العطاء قال الله عزَّ وجلَّ : }لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ{.إبراهيم7.

وإن لم تكن قسماً لك فالغنى عنها بقلعها من القلب إن شاءت النفس أو أبت, فلازم الصبر وخالف الهوى وعانق الأمر وارض بالقضاء, وارج بذلك الفضل والعطاء, وقد قال الله تعالى : }إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ{.الزمر10.

Jika nafsu untuk kawin telah muncul di dalam pikiranmu, tetapi kamu miskin papa lalu kamu bersabar dengan harapan menunggu pertolongan Allah yang menjadikan kamu dan nafsu kamu itu, maka Allah pasti menolong kamu, baik dengan menghilangkan nafsu itu dari kamu maupun dengan memberimu rizki ataupun dengan mencukupkan kamu dengan berbagai cara, dengan meringankan beban dan meningkatkan derajat kamu di akhirat kelak.

Allah pasti menolongmu karena kesabaran dan keridhaanmu itu. Allah pasti menambah kesucian dan kekuatanmu. Jika Allah mencukupimu di dalam masalah rizki, maka kesabaranmu itu akan bertukar dengan syukur. Allah SWT menjanjikan akan menambahkan karunia-Nya kepada mereka yang bersyukur.

Firman Allah : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim: 7)

Jika sesuatu itu telah ditakdirkan bukan untuk kamu, maka janganlah kamu merasa kesal. Singkirkanlah perasaan itu jauh-jauh dari hatimu, baik sifat-sifat kebinatanganmu itu suka maupun tidak.

Bersabarlah dan lawanlah kehendak nafsumu itu serta bertawakallah dan berpegang teguhlah kepada perintah-perintah Allah.

Ridhalah dengan takdir Tuhan, dan dalam keadaan ini, berharaplah akan mendapat keridhaan dan karunia-Nya.

Allah berfirman,
“Hanya orang sabar itu sajalah akan diberi ganjaran sepenuhnya tanpa batas. (QS. Az Zumar : 10) ”

Jumaat, 2 September 2016

APA ITU NAFSU ?

APA ITU NAFSU ?

Nafsu adalah elemen jiwa (unsur ruh) yang berpotensi mendorong pada tabi’at badaniyah/biologis dan mengajak diri pada berbagai amal baik atau buruk. Nafsu itu pula adalah ruh sebagaimana dimaksud dalam firman Allah surah At-Takwir ayat 7 :Artinya : “dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh)”.Nafsu di dalam ayat ini diartikan ruh.

Adapun nafsu memiliki tingkatan-tingkatan. Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun nafsi” yaitu terdiri dari :

(1) Nafsu Amarah tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Al-Bukhlu ertinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh ertinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad ertinya hasud
4. Al-Jahl ertinya bodoh
5. Al-Kibr ertinya sombong
6. Asy-Syahwat ertinya keinginan duniawi

(2) Nafsu Lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” ertinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Al-Laum ertinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr ertinya menipu
4. Al-Ujb ertinya bangga diri
5. Al-Ghibah ertinya mengupat
6. Ar-Riya’ ertinya pamer amal
7. Az-Zulm ertinya zalim
8. Al-Kidzb ertinya dusta
9. Al-ghoflah ertinya lupa

(3) Nafsu Mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. As-Sakhowah ertinya murah hati
2. Al-Qona’ah ertinya merasa cukup
3. Al-Hilm ertinya murah hati
4. At-Tawadhu’ ertinya rendah hati
5. At-Taubat ertinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr ertinya sabar
7. At-Tahammul ertinya bertanggung jawab

(4) Nafsu Muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” ertinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kearah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Al-Juud alertinya dermawan
2. At-tawakkul ertinya berserah diri
3. Al-Ibadah ertinya ibadah
4. Asy-Syukr ertinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho ertinya redha
6. Al-Khosyah ertinya takut akan melanggar larangan

(5) Nafsu Rodhiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” ertinya sangat rahsia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Al-Karom ertinya
2. Az-Zuhd ertinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas ertinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ ertinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh ertinya latihan diri
6. Al-Wafa’ ertinya tepat janji

(6) Nafsu Mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” ertinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Husnul Khuluq ertinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh ertinya meninggalkan selain Allah
3. Al-Luthfu bil kholqi ertinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah ertinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim ertinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim ertinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.

(7) Nafsu Kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” ertinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :

1. Ilmu Al’Yaqiin
2. Ainul Yaqiin
3. Haqqul Yaqiin

QOLBU = RUH = AKAL = NAFSU

Kenapa dikatakan demikian, kerana memang benar seperti itu adanya. Mari kita lihat bersama apabila ada di hadapan kita sosok mayat. Apabila saya tanyakan, mayat ini sudah tidak ada apanya : qolbunya, ruhnya, akalnya atau nafsunya. maka pasti jawabannya : “semuanya”.

Tidak salah apabila ada yang mengatakan qolbunya yang tidak ada, kerana ketika seseorang meninggal maka qolbunya yang selalu menjadi sumber perasa ketika masih hidup seperti ; sedih, senang, tenteram, menyesal, marah maka setelah meninggal perasaan di mayat itu hilang, dia tidak merasakan apa-apa lagi.
Tidak salah juga kalau orang berkata ruhnya yang tidak ada, kerana ruh adalah nyawa bagi mayat itu.

Setelah ruhnya tidak ada maka mayat itu tidak bernyawa lagi, tidak bernafas lagi tidak berdetak lagi jantungnya serta nadinyapun tidak berdenyut lagi. Apabila ada yang mengatakan akalnya yang tidak ada, maka ini juga betul karena setelah meninggalnya seseorang maka mayat orang tersebut tidak akan berfikir lagi dan tidak akan faham lagi dengan ilmu-ilmu yang dulu pernah dipelajarinya selagi hidup.

Terakhir jika dikatakan yang tidak ada itu nafsunya, maka ini pun betul. Karena nafsu itu adalah unsur dalam jiwa orang yang masih hidup yang memiliki keinginan-keinginan baik maupun buruk. Dengan demikian setelah menjadi mayat maka tidak ada lagi pada mayat itu nafsunya sehingga dia tidak memiliki keinginan apapun.

Sekarang dapat kita simpulkan kalau semua jawaban tersebut adalah benar, maka bererti keempat nama yang berbeda itu adalah satu, sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali r.a : qolbu, ruh, akal dan nafsu itu adalah satu. (syai’un wahidun).

R.A. Huzaifah Adiningrat

Ahad, 29 Mac 2015

TANDA ORANG YG DALAM PERJALANAN SPIRITUAL yang DIPERJALANKAN OLEH ALLAH SWT

Semua orang yang belajar dan mendalami Ilmu Ma'rifattullah akan mengalami PERJALANAN SPIRITUAL yang DIPERJALANKAN OLEH ALLAH SWT....dan salah satunya adalah FASE TIDAK BERNAFSU SEX lagi...

FASE ini menjadikan seseorang SAMA SEKALI TIDAK MEMILIKI GAIRAH SEX dan bukan karena akibat suatu penyakit tertentu sehingga jika terjadi pada laki-laki beristri maka sudah pasti " ISTRINYA BAKAL NGANGGUR..." bahkan pada keadaan tertentu dia sama sekali tidak mau menyentuh istrinya walaupun hanya sekedar bersalaman......, dan jika terjadi pada mereka yang masih LAJANG maka dia tidak ada keinginan untuk menikah......

FASE ini sifatnya sementara namun bisa terjadi bertahun - tahun dan diperlukan PENGERTIAN yang kuat dari pasangannya agar Rumah tangga tidak hancur berantakan......

Dalam satu riwayat di ceritakan ......bahwa Nabi KHIDIR As ketika di nikahkan oleh orang tuanya yang juga seorang RAJA menyampaikan sebuah syarat kepada calon istrinya sampai akhirnya mereka berpisah dan ketika Nabi Khidir di nikahkan lagi dengan wanita yang lain maka Nabi KHIDIR As menyampaikan sebuah syarat yang sama dengan yang di sampaikan pada istri sebelumnya.....sampai akhirnya mereka berpisah......

Syarat itu adalah :
" Nabi KHIDIR As TIDAK AKAN MENYENTUH ISTRINYA SEDIKITPUN...."

Agar tidak menghancurkan rumah tangga maka sebaiknya diperbanyak pertemuan, berbagi cerita dan rekreasi bersama anak - anak atau bersama keluarga......

Selasa, 1 Julai 2014

Puasa

Puasa

Dari Tulisan Pak Abu Sangkan

Ada sebuah hadist yang sangat popular yang sering kita dengar dalam setiap ceramah Ramadhan: "Berapa banyak orang menjalankan puasa, akan tetapi hanya mendapatkan rasa haus dan lapar …" ( shahih)

Abu Hurairaah ra berkata : Rasulullah Saw. bersabda: "jika kamu sedang puasa, maka jangan berkata keji, dan jangan marah-marah dan jika ada orang memaki atau mengajak berkelahi, hendaklah diberi tahu : saya sedang berpuasa." ( Bukhari, Muslim)

Abu Hurairah ra. Berkata: Bersabda Nabi Saw. "siapa yang tidak suka meninggalkan kata-kata dusta, dan perbuatan yang palsu, maka Allah tidak memerlukan daripadanya, puasa meninggalkan makan dan minumnya" ( Bukhari )

Dari penjelasan hadist diatas, sudah dapat dipastikan bahwa Allah tidak menerima puasanya orang yang sekedar menahan rasa lapar dan haus … dan Allah tidak menerima puasanya orang yang masih berkata keji dan dusta.

Kalau kita perhatikan, disamping perlakuan syari'at secara fisik Allah sangat mengutamakan syari'at rohani. Karena rohani merupakan kenyataan diri yang sejati, sehigga kita diwajibkan untuk berkata jujur, berhati bersih, jernih, dan tidak menurutkan hawa nafsu yang selalu berkecenderungan kedalam nista.

Saya akan mengajak anda untuk mengikuti rangkaian perjalanan rohani yang berpuasa !

Mula-mula anda diperintahkan untuk meninggalkan makan, minum, bersetubuh (jimak). Selanjutnya dilarang berkata dusta, dengki, … dan perbuatan yang palsu. Setelah anda lakukan peredaman terhadap aktivitas gejolak fisik, selama satu bulan penuh. Apa yang anda rasakan, ... adalah redamnya gejolak (nafsu) yang kemudian mengakibatkan loncatan kesadaran dari kesadaraan fisik berubah menjadi kesadarah jiwa sejati, atau secara umum dikatakan kembali kepada fitrah (idul fitri) …

Adakah pengalaman yang serupa dengan puasa ? Ialah saat anda menjelang tidur, dimana aktivitas fisik sudah mulai mereda, ... saat farji sudah tidak lagi bernafsu terhadap wanita, ... saat mulut sudah tidak ingin makan dan bicara, ... saat telinga tidak ingin mendengarkan sesuatu, ... saat pikiran istirahat merekam aktivitas. Dan saat itulah roh anda lepas, memasuki kesadaran di alam mimpi. Anda tidak akan bisa memasuki alam ini jika tidak melalui proses peredaman fisik (hampa aktivitas fisik). Begitu juga hal nya dengan puasa, ... yang diawali dengan peredaman-peredaman emosional yang bergejolak selama satu bulan lamanya.

Jika anda mengerti tujuan puasa adalah kembali kepada kesadaran sejati (aku), maka anda akan memasuki kesadaran baru yaitu kesadaran roh suci seperti bayi …itulah kesejatian …itulah aku yang hakiki yang tidak pernah bohong, yang selalu mengikuti kehendak-kehendak Ilahi (qulil ruh min amri rabbi), ... katakan bahwa roh adalah selalu mengikuti amar-amar Tuhanku. ( QS. Al Isra':85)

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan menurut fitrah itu (QS. Ar Rum:30)

Kalau anda menyadari sebagai ruh yang suci (fitrah)..maka perilaku anda akan sesuai dengan fitrah Allah, yaitu baik yang ditulis dalam Alqur'an maupun yang berupa sunnatullah (kauniyah). .Inilah tujuan puasa, ... yaitu kembali kepada fitrah sejati.. seperti telah saya bahas pada latihan patrap, atau dalam artikel bab hakekat manusia, tentang kesadaran diri dan kesadaran universal.

Sadari bahwa diri anda yang sejati (roh) tidak pernah tidur..tidak pernah makan, … tidak mati … sehingga Tuhan perlu menyadarkan kita dengan jalan berpuasa di bulan Ramadhan. Seolah Dia berkata jadilah dirimu yang sejati (fitrah) karena dirimu yang sejati adalah roh yang dihembuskan dari Rabb-Nya..yang terjaga kesuciannya, ... jangan engkau menjadi kotor akibat kenistaan badanmu (QS. Al hijr : 28-29). 

Sungguh beruntung orang yang membersihkan jiwanya karena ia akan mendapat ilham ketaqwaan (QS. Asy syams :7-9)

Setelah anda terbebas (bersih) dari pengaruh fisik suasana menjadi sangat hening dan damai, yang lebih dominan sekarang adalah kata hati yang suci yang selama ini tenggelam sehingga dikatakan dia sebagai suara hati yang kecil … sebutan suara hati kecil itu sebenarnya adalah sejati diri kita, yang sering berlawanan dengan keinginan nafsu, dan nafsulah yang banyak mengendalikan gerakan tubuh kita selama ini. 

Untuk itulah Allah menggembleng jiwa kita untuk memunculkan rasa jati yang selalu mengajak kepada kebaikan. Jika hal ini berhasil … perilaku anda secara otomatis menjadi baik tanpa direkayasa oleh pikiran dan keinginan. Karakter itu mengalir tanpa ada usaha kita.
Inilah lailatul qadar, yang ditunggu-tunggu seluruh ummat,

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur'an) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan, Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar ( QS. Al Qadr : 1-5)

Idul fitri, ... adalah terbebasnya diri sejati dari pengaruh syawat, sehingga dirayakan menjadi hari kemenangan. Akan tetapi kadang kita menjadi salah kaprah terhadap peristiwa kemenangan jiwa dalam kebebasan dari pengaruh syahwat, yaitu berpesta pora kembali memenuhi keinginan syahwat. 

Namun jika anda betul-betul telah kembali suci maka akan tampak …dalam diri anda perubahan yang sangat luar biasa ….anda menjadi sangat baik ... ikhlas dalam segala hal ... menerima segala keputusan Allah, ... dan terasa kesejukan iman mengalir dalam aliran darah. 

Hal ini anda bisa coba pada kesempatan Ramadhan akan datang, sehingga tulisan saya bukanlah sebuah cerita dongeng yang tidak bisa dipertanggung jawabkan … namun anda benar-benar akan bisa merasakan secara langsung, tanpa rekayasa !!


Sungguh dahsyat getaran iman itu sampai terbit fajar, … anda tidak akan kuasa merasakan getaran taqwa yang turun dari Allah menyinari hati yang dibawa oleh para malaikat yang suci … anda benar-benar berubah … roh anda rela terhadap Tuhan serela-relanya

Khamis, 12 Jun 2014

JANGAN JADIKAN NAFSU SEBAGAI TUHAN



JANGAN JADIKAN NAFSU SEBAGAI TUHAN
25.Surah Al-Furqān (Verse 43)
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا


Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: 
tuhan yang dipuja lagi ditaati? Maka dapatkah engkau menjadi pengawas yang menjaganya jangan sesat?


Disini kita kena mengambil faham apakah sebenarnya yang kita selalu sebutkan sebagai nafsu?

Nafsu ialah merasa keujudan diri kita iaitu kita merasa kita ini ada ( kita mengaku yang kita ini ada - selalu disebut dengan keakuan diri kita)

Bermula dengan mengaku diri kita ada, maka segala sifat ketuhanan yang lain yang ditajallikan atau yang ditunjukkan melalui diri kita sebagai tanda kewujudan, sebagai tanda kekuasaan Allah, sebagai ayat-ayat yang sedang menerangkan kewujudan dan kekuasaan Allah akan dirasai oleh keakuan diri kita sebagai milik kita sendiri,
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 3)
إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ


Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 4)
وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِن دَابَّةٍ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ


Dan pada kejadian diri kamu sendiri, serta (pada kejadian) segala binatang yang dibiakkanNya, terdapat juga tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang meyakininya.
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 5)
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ


Dan (pada) pertukaran malam dan siang silih berganti, dan juga (pada) rezeki yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin, (semuanya itu mengandungi) tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, serta keluasan rahmatNya) bagi kaum yang mahu menggunakan akal fikiran.


45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 6)
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ


Itulah ayat-ayat penerangan Allah yang kami bacakan kepadamu (wahai Muhammad) kerana menegakkan kebenaran; maka dengan perkataan yang manakah lagi mereka hendak beriman, sesudah penerangan Allah dan tanda-tanda kekuasaanNya (mereka tidak mahu memahami dan menelitinya)?

Bermula dari kita mengaku dan berasa kita ada (walaupun kita tahu yang ada hanya Allah tetapi kita rasa kita ada, inilah keakuan diri, keadaan inilah yang dikatakan nafsu iaitu kita mengaku dan berasa kita ada)

Sedangkan ada yang kita sedang rasa itu sebenarnya adalah ayat atau tanda-tanda yang Allah sedang menerangkan atau dengan kata lain Allah sedang menunjuk atau menampakkan wujud Dia..

Tetapi kita yang salah membuat pengakuan, kita tidak mengaku ada itu ada Allah tetapi kita mengaku ada itu ada kita.. Keakuan inilah merupakan keakuan diri yang dipanggil sebagai hawa nafsu...

Untuk terus memperkenal kan diriNya, sifatNya, asma'Nya dan perbuatanNya, Allah akan menunjukkan segala sifatNya melalui wujudnya tadi, oleh kerana kita telah mengaku wujud Allah sebagai ujud kita, secara automatik kita akan merasai segala sifat-sifat Allah yang Allah tunjukkan itu menjadi sifat kita.....

Bermula dengan mengaku segala sifat Allah yang sedang ditunjukkan sebagai untuk memperkenalkan dirinya adalah sifat kita, akan timbullah segala macam sifat mazmumah... (Seperti bangga diri, hasad dengki, mengadu domba, rasa tidak berpuas hati, dan lain-lain lagi)..

Oleh yang demikian kita disyorkan supaya tidak di ikut sertakan hawa nafsu didalam setiap amalan soleh kita...

Maksudnya kita tidak boleh mengaku segala sifat-sifat Allah yang sedang ditunjukkan samada pada badan diri , atau pada keseluruhan alam sebagai sifat kita sendiri atau sifat selain dari Allah...

Kita kena mengaku bahawa segala sifat-sifat Allah itu adalah sifat Allah, selagi kita tidak mengaku segala sifat-sifat Allah itu adalah sifat Allah, selagi itu kita rasa memiliki sifat-sifat Allah itu sebagai sifat kita sendiri...

Selagi kita belum berani mengaku segala sifat Allah yang sedang ditunjukkan oleh Allah dan dinikmati dan dirasai oleh badan diri kita selagi itu kita akan bertuhankan kepada hawa nafsu (keakuan diri), tidak bertuhan kepada Allah.

30.Surah Ar-Rūm (Verse 29)
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ


Orang-orang yang zalim itu (tidak berfikir), bahkan menurut hawa nafsu mereka (melakukan syirik) dengan tidak berdasarkan pengetahuan. Maka tiada sesiapa yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan oleh Allah (disebabkan bawaannya sendiri), dan tiada pula bagi mereka sesiapa yang dapat menolong melepaskan mereka dari azab.

45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 23)
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ


Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipatuhinya, dan ia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa ia tetap kufur ingkar), dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yang
ingkar) tidak ingat dan insaf?


42.Surah Ash-Shūraá (Verse 15)
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْۖ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَاۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ


Oleh kerana yang demikian itu, maka serulah (mereka - wahai Muhammad - kepada berugama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau menjalankannya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka; sebaliknya katakanlah: "Aku beriman kepada segala Kitab yang diturunkan oleh Allah, dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah jualah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Tidaklah patut ada sebarang pertengkaran antara kami dengan kamu (kerana kebenaran telah jelas nyata). Allah akan menghimpunkan kita bersama (pada hari kiamat), dan kepadaNyalah tempat kembali semuanya (untuk dihakimi dan diberi balasan)".


Penciptaan tidak punya wujud sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya sifat sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya nama sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya perbuatan sendiri jika tidak diberi oleh Allah...

Pendek kata jika tidak diberikan oleh Allah manusia itu tidak ada..
Jadi semuanya adakah kepunyaan pemberi atau kepunyaan penerima?....
Penerima tidak akan memiliki apa-apa, jika tidak diberi oleh pemberi...
Jadi dalam perkara ini sipenerima jangan nak merampas hak pemberi..
Semua apa yang ada pada penerima kesemuanya adalah hak mutlak pemberi sendiri bukan hak milik penerima..

Mesti dikembalikan sekarang ini juga, jika tidak dikembalikan dan rasa memiliki hak pemberi sebagai hak milik sendiri, inilah membawa makna sipenerima telah menjadikan dirinya sebagai pemilik mutlak (merampas hak pemberi)....

Dengan merasakan hak pemberi sebagai hak penerima sendiri, secara tidak disedari Sipenerima telah melantik dirinya yang disangka memiliki (ujud, sifat, nama dan perbuatan) sendiri sebagai tuhan selain dari Allah ...

Kerana sebenarnya ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia dan selain itu kesemuanya diberikan oleh Allah...... Dalam ertikata lain Allah sedang menunjukkan Ujud, sifat, asma' dan afa'alNya

Jadi kesemua apa yang ada pada manusia dan selain dari Allah adalah milik mutlak Allah bukan milik sebenar manusia dan selain dari Allah...

Salahkah kita mengakui segala ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia itu adalah milik Allah sendiri bukan milik manusia itu sendiri kerana jika Allah tidak memberi manusia tidak ada apa-apa.....

Masihkah kita tidak mahu mengakui bahawa manusia dan selain dari Allah itu kesemuanya adalah milik Allah, manusia dan sekalian Alam ini tidak ada apa-apa jika tidak diberikan oleh Allah sendiri...

Adakah manusia dan makluk lain itu ada dengan sendiri tanpa bergantung kepada wujud, sifat, asma' dan perbuatan Allah sendiri?

Kalau semuanya bergantung kepada Allah, kenapa kita masih tidak mahu mengaku kesemua itu milik Allah sendiri?

Masihkah kita mahu mengingkari bahawa ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia semuanya adalah milik Allah...?



Manusia dan selain dari Allah tidak ada apa-apa, semuanya adalah milik Allah sendiri...

Ahad, 8 Jun 2014

Larangan Allah

Larangan Allah
Jangan sekutukan Allah dengan sesuatu
Jangan jadikan hawa nafsu sebagai tuhan
Jangan katakan aku tuhan selain dari Allah

6.Surah Al-'An`ām (Verse 19)
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةًۖ قُلِ اللَّهُۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰۚ قُل لَّا أَشْهَدُۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

Bertanyalah (wahai Muhammad): "Apakah sesuatu yang lebih besar persaksiannya?"
(Bagi menjawabnya) katakanlah: "Allah menjadi Saksi antaraku dengan kamu, dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini, supaya aku memberi amaran dengannya kepada kamu dan juga (kepada) sesiapa yang telah sampai kepadanya seruan Al-Quran itu. Adakah kamu sungguh-sungguh mengakui bahawa ada beberapa tuhan yang lain bersama-sama Allah?"

Katakanlah: 
"Aku tidak mengakuinya". Katakanlah lagi: "Hanyasanya Dia lah sahaja Tuhan Yang Maha Esa, dan sesungguhnya aku adalah berlepas diri apa yang kamu sekutukan (dengan Allah Azza Wa Jalla)".

ADAKAH SELAIN DARI ALLAH YANG BERSIFAT DENGAN SIFAT-SIFAT TUHAN (ALLAH)...

HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT DENGAN SIFAT TUHAN..

DICIPTAKAN SEGALA MAKHLOK DARI TIADA KEPADA ADA, DAN PADA CIPTAAN MAKHLOK DINYATAKAN SEGALA SIFAT-SIFAT TUHAN UNTUK MENYATAKAN ALLAH SEBAGAI TUHAN,

KENYATAAN SIFAT KETUHANAN KEPADA MAKHLOK ADALAH UNTUK MENJADI BUKTI DAN TANDA-TANDA KEESAAN ALLAH, UNTUK MENYATAKAN SIFAT ALLAH, BUKAN UNTUK DISEKUTUKAN DENGAN ALLAH..

SETELAH DINYATAKAN SEGALA SIFAT KETUHANAN KEPADA MAKHLOK, SIFAT-SIFAT KETUHANAN ITU BUKANLAH SIFAT-SIFAT MAKHLOK YANG DICIPTAKAN ITU TETAPI SIFAT KETUHANAN YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ADALAH UNTUK MENJADI BUKTI ATAU TANDA ATAU AYAT-AYAT YANG SEDANG MENERANGKAN TENTANG KEESAAN ALLAH BUKAN UNTUK DIJADIKAN SEKUTU KEPADA ALLAH

(MAKSUDNYA SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ITU TETAP SIFAT ALLAH, BUKAN BERTUKAR MENJADI SIFAT MAKHLOK, KERANA ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN SEGALA SESUATU CIPTAANNYA..

MAKNANYA SETELAH DICIPTAKAN MAKHLOK DARI TIADA KEPADA ADA, MAKHLOK TETAP BERSIFAT DENGAN SIFAT ASLINYA IAITU TIADA, MATI, BODOH, LEMAH, BENCI, BUTA, TULI, BISU DAN LAIN-LAIN..

KERANA SEGALA SIFAT KETUHANAN YANG DIZAHIRKAN KEPADA MAKHLOK ITU ADALAH SIFAT-SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK UNTUK MENYATAKAN SIFAT ALLAH BUKAN UNTUK DISEKUTUKAN DENGAN ALLAH (BUKAN UNTUK DIMILIKI OLEH MAKHLOK)..

JADI SIFAT ALLAH TETAP DENGAN SIFAT ALLAH WALAUPUN DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK KERANA DINYATAKAN SEGALA SIFAT-SIFAT ALLAH KEPADA MAKHLOK SEBAGAI TANDA DAN KENYATAAN KENYATAAN SIFAT-SIFAT ALLAH... BUKAN MENJADI SIFAT MAKHLOK ITU SENDIRI (BUKAN UNTUK MENJADI SEKUTU KEPADA ALLAH)
JIKA KITA BERPEGANG SETELAH DINYATAKAN SIFAT ALLAH KEPADA MAKHLOK, SIFAT-SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ITU MENJADI SIFAT MAKHLOK SECARA TIDAK DISEDARI (TERAMAT TERSEMBUNYI) KITA TELAH SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK CIPTAANNYA..

MERASAKAN ADA MAKHLOK DISAMPING ADA ALLAH SEBENARNYA SEDANG SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK..

OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA MAKHLOK, SEGALA SIFAT TUHAN YANG SEDANG DIRASA AKAN DIRASAKAN SEBAGAI SIFAT DIRI SENDIRI...

DIDALAM ILMU TAUHID MENGATAKAN ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN SESUATU SELAIN DARI ALLAH...

OLEH KERANA KITA SEDANG MERASAKAN SIFAT ADA ALLAH (YANG SEDANG DINYATAKAN UNTUK MEMBUKTIKAN SIFAT ADA ALLAH), SEBAGAI SIFAT ADA DIRI SENDIRI

SECARA AUTOMATIK AKAN TIMBUL DIDALAM AKAL FIKIRAN DAN RASA PERASAAN KITA SESIAPA YANG BERPEGANG ADA YANG TERNYATA KEPADA DIRI ADALAH ADA ALLAH YANG SEDANG DINYATAKAN SEBAGAI BUKTI KEESAAN ALLAH TELAH MENYENGUTUKAN ALLAH DENGAN DIRI SENDIRI, TELAH MENJADIKAN DIRI SENDIRI SEBAGAI TUHAN SELAIN DARI ALLAH... 

AKAN TIMBUL DIDALAM RASA DIRI ORANG YANG SEDANG MENGAKU SIFAT ALLAH ADALAH SIFAT ALLAH TELAH SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK KERANA SEDANG MERASAKAN ADA MAKHLOK, DIDALAM ILMU TELAH MENJELASKAN BAHAWA ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLOK.

OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH YANG SEDANG DINYATAKAN SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI DAN ADA MAKHLOK MAKA SECARA TIDAK DISEDARI /AUTOMATIK AKAN TIMBUL ANGGAPAN SYIRIK KEPADA SESIAPA YANG BERPEGANG SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN SEBAGAI SIFAT ALLAH SENDIRI... INI BERLAKU KERANA SEDANG MERASA ADA DIRI SENDIRI DISAMPING ADA ALLAH....

SEBENARNYA SESIAPA YANG SEDANG MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI DISAMPING ADA ALLAH YANG SEDANG MENYENKUTUKAN ALLAH DENGAN DIRINYA KERANA SEBENARNYA ADA YANG DINYATAKAN PADA DIRI ITU ADALAH KENYATAAN ADA ALLAH YANG SEDANG MEMBUKTIKAN ADA ALLAH, BUKAN ADA DIRI SENDIRI...

ORANG YANG MENJADIKAN BUKTI ADA ALLAH SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI SEBENARNYA SEDANG SEKUTUKAN ALLAH DENGAN DIRI SENDIRI YANG TELAH DIANGGAP ADA...

KEPADA MEREKA YANG TETAP BERPEGANG HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT ADA KERANA SIFAT ADA YANG TERNYATA KEPADA MAKHLOK ADALAH KENYATAAN YANG SEDANG MENYATAKAN ADA ALLAH, BUKAN ADA DIRI SENDIRI DAN BUKAN ADA SELAIN DARI ALLAH...

HAL INI TERAMAT SULIT UNTUK DIFAHAMI KERANA WAJIB BERPERANG DENGAN SIFAT KEAKUAN DIRI SENDIRI (HAWA NAFSU) KERANA SEDANG MENGANGGAP ADA ALLAH ADALAH ADA DIRINYA SENDIRI, ADA ALLAH ADALAH ADA SELAIN DARI ALLAH...

SELAGI TIDAK BOLEH MELEPASKAN RASA PERASAAN YANG SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI SELAGI ITU TETAP BERADA DIDALAM KEADAAN SYIRIK SAMPAI BILA-BILA...