Pages

Memaparkan catatan dengan label ehsan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ehsan. Papar semua catatan

Selasa, 6 Mac 2018

DALIL RUKUN AGAMA

DALIL RUKUN AGAMA

Para Ulama merumuskan bahwa rukun agama ada tiga, yaitu :
Iman
Islam
Ihsan

Rumusan tersebut didasarkan kepada hadits sohih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim sebagai berikut :

Sahabat 'Umar bin Khottob r.a. meriwayatkan bahwa suatu hari para sohabat sedang duduk bersama-sama Rosululloh s.a.w. mendadak muncullah seorang lelaki yang amat putih bajunya dan amat hitam rambutnya. Lelaki itu tidak diketahui dari mana asal. Tidak ada pula di antara para sohabat yang ada saat itu yang mengenal siapa dia. Lelaki itu duduk dan menempelkan lututnya ke lutut Rosululloh s.a.w.

Lelaki itu bertanya, "Wahai Muhammad, sampaikanlah kepadaku tentang ISLAM ?"

Rosululloh s.a.w. menjawab, "Islam adalah engkau bersyahadat bahwa sungguh tiada Tuhan selain Allah dan sungguh Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan solat, engkau membayar zakat, engkau berpuasa di bulan romadon dan engkau melaksanakan hajji ke baitulloh bila engkau mampu melakukan perjalanan ke sana.

Lelaki itu berkomentar, "Engkau benar"

Sahabat 'Umar bin Khottob r.a. menyampaikan bahwa kami (para sahabat) kaget - terheran-heran - lelaki itu bertanya dan ia pula yang membenarkannya.

Lelaki itu bertanya, "Lalu sampaikan kepadaku tentang IMAN ?"

Rosululloh s.a.w. menjawab, "hendaklah engkau beriman kepada Allah, kepada seluruh malaikat Allah, kepada seluruh kitab Allah, kepada seluruh rosul Allah, kepada hari akhir dan engkau beriman kepada qodar baik dan buruk.

Lelaki itu berkomentar, "Engkau benar" Ia lalu kembali bertanya, "Sampaikanlah kepadaku tentang IHSAN ?"

Rosululloh s.a.w. menjawab, "hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya lalu jika engkau tidak melihat-Nya yakinlah bahwa sungguh Dia melihatmu"

Lelaki itu bertanya kembali, "Sampaikan kepadaku tentang hari kiamat ?"

Rosululloh s.a.w. menjawab, "Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya"

Lelaki itu bertanya, "Sampaikan kepadaku tentang ciri-cirinya (kiamat) ?"

Rosululloh menjawab, "Hamba sahaya melahirkan majikanny dan engkau melihat orang yang telanjang kaki, telanjang badan, fakir lagi menggembala kambing saling meninggikan bangunan"

Kemudian lelaki itu pergi lalu suasana diam lama, sampai Rosululloh s.a.w. bertanya, "Wahai 'Umar, tahukah engkau siapa penanya tadi ?"

Aku ('Umar r.a.) menjawab, "Allah dan RasulNya yang lebih tahu"

Rasulullah s.a.w. bersabda, "Sesungguh dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kepada kalian"

Rabu, 5 Oktober 2016

Puasa menahan hawa nafsu menuju Takwa.

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

1. Syetan, Dunia, Hawa dan Nafsu tempat masuknya melalui Panca Indera.

Syetan masuk melalui Pendengaran.

"Maukah Aku beritakan kepadamu, kepada siapa Setan-Setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pendusta yg banyak dosa, mereka Menghadapkan PENDENGARAN (kepada Setan) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta."(Qs.26:221-223)

Dunia, Hawa dan Nafsu datang melalui pintu indera lainnya.

"Di jadikan terasa indah dalam Indrawi manusia cinta terhadap apa yang di inginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yg bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup Dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yg baik."(Qs.3:14)

"....Janganlah kedua Matamu berpaling dari mereka karena mengharap perhiasan kehidupan Dunia, dan janganlah engkau mengikuti orang yg Hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti Hawa Nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas."(Qs.18:28)

"Dan janganlah engkau Tujukan pandangan Matamu kepada kenikmatan yg telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, bunga kehidupan Dunia. Agar Kami uji mereka dgn itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."(Qs.20:131)

"Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikannya dgn itu, tetapi dia (melalui Panca indera) cenderung kepada Dunia dan mengikuti Hawa nafsunya,....(Qs.7:176)

2. Agama (Addin) tempatnya di Akal.

"Sesungguhnya Agama bagi orang yang ber-akal."(Al Hadits)

"Katakanlah; marilah aku bacakan apa yg diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dgn apapun, berbuat baik kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yg memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, janganlah kamu mendekati perbuatan yg keji, baik yg terlihat ataupun yg tersembunyi, janganlah kamu membunuh yg diharamkan Allah kecuali dgn alasan yg benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu menggunakan Akal."(Qs.6:151)

"Dan jika kamu bertanya kepada mereka, Siapakah yg menurunkan air dari langit lalu dgn itu dihidupkannya bumi yg sudah mati? Pasti mereka akan menjawab; Allah. Katakanlah; segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak menggunakan Akal.(Qs.29:63)

3. Islam tempatnya di Dada (Shudur).

"Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan Dada (Shudur) nya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya sesat, Dia jadikan Dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit....(Qs.6:125)

".....orang-orang yang dibukakan Dada (Shudur) nya oleh Allah untuk Islam, dia mendapat Cahaya dari Tuhannya...."(Qs.39:22)

4. Iman tempatnya di Hati (Qolbu).

"....Orang-orang yg mengatakan dgn mulut mereka; kami telah beriman. Padahal Qolbu (Hati) nya belum beriman...."(Qs.5:41)

"Sesungguhnya orang-orang yg beriman adalah mereka apabila diingatkan kepada Allah, gemetar Qolbu (Hati) nya...."(Qs.8:2)

"Orang-orang yg beriman dan Qolbu mereka menjadi tentram dgn mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah Qolbu menjadi tenteram."(Qs.13:28)

"....Orang-orang yg tidak beriman kepada Akhirat, Qolbu mereka mengingkari, dan mereka adalah orang yg sombong."(Qs.16:22)

"Dialah yg telah menurunkan ketenangan ke dalam Qolbu orang-orang beriman untuk menambah keimanan atas keimanan mereka...."(Qs.48:4)

"Orang-orang Arab Badui berkata; kami telah beriman. Katakanlah; kamu belum beriman, tetapi katakanlah; kami telah tunduk, karena Iman belum masuk ke dalam Qolbu (Hati) mu....(Qs.49:14)

5. Ihsan tempatnya di Fuad (Mata Hati).

"Fuad (Hati) nya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.(Qs.53:11)

....Ihsan adalah beribadahlah kamu seakan-akan Melihat Allah.....(HR. Muslim)

6. Takwa tempatnya di Lubb (Akal Hati).

"....Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Takwa. Dan ber-Takwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai Lubb! (Qs.2:197)

"....maka ber-Takwa-lah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai Lubb, agar kamu beruntung.(Qs.5:100)

"....Maka ber-Takwa-lah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai Lubb! Orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah menurunkan peringatan kepadamu.(Qs.65:10)

".....Sungguh, yang paling Mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang Paling ber-Takwa.....(Qs.49:13)

Jumaat, 13 Mei 2016

MENUKAR REZEKI KERANA KEPERLUAN HIDUP

MENUKAR REZEKI KERANA KEPERLUAN HIDUP

Di pintu masuk kawasan market pada suatu pagi,saya disapa oleh seorang tua untuk membeli udang galah yg dijualnya,ada hampir 10 ekor.

Saya hanya senyum kepadanya sambil memberi isyarat tidak mahu,tetapi seorang pemuda dibelakang saya bertanya berapa harga semuanya.RM50.00 kata orang tua itu,lalu dibayar oleh pemuda tersebut.Udang itu dimasuk dalam plastik,ada yg besar dan sederhana.

Bila uncang plastik itu diserah kepada pemuda itu,tetiba dia bertanya,"Pak Cik,ada tidak udang galah ini yang Pak Cik bawa balik untuk makan dirumah?"Orang tua itu tercengang mendengar soalan itu.

Dalam senyum dia berkata,"Encik,Allah beri rezeki udang ini untuk kami lihat sahaja kerana ada yang lain yang lebih perlu.Beras,gula,tepung untuk makan anak anak adalah lebih utama dari makan udang ini.

Jualan hari ini cukup untuk kami makan 4 atau 5 hari,berbanding jika kami makan udang ini hanya untuk sekali makan."Saya tunduk mendengar jawapanya,dalam hati meraung  menyebut kebesaran Allah.

Air muka pemuda itu cepat berubah menjadi redup mendengar jawapan itu,lalu dia menghulur kembali bungkusan udang itu kepada orang tua itu dan berkata,"Pak Cik,hari ini pak cik dan anak anak anak dapat makan gulai udang galah yg ditangkap oleh pak cik sendiri.Ambillah,saya sedekahkan semua."

Pemuda itu cepat berlalu,sedangkan orang tua itu sepert kebingungan seketika.Ketika meninggalkan tempat itu dg udangnya,saya melihat tangannya menyapu mata.

Bertuahlah pemuda itu memiliki hati yang dapat menjangka sesuatu yg disebalik pandangan.

Ada orang,rezekinya hanya untuk tatapan kerana perlu ditukar bagi mendapatkan sesuatu yg lebih perlu untuk hidup.

Contoh nya nelayan yg menangkap hasil tangkapan yg mahal harganya,akan semuanya dijual untuk mendapatkan wang bagi membeli keperluan hidup,sedangkan mereka makan ikan yg kecil,yg murah.

Maka kita yg berada patut juga belajar dari keadaan ini,ada rezeki yg kita perolehi mungkin tidak sesuai dengan taraf hidup kita.

Contoh walau kita ada pendapatan tetap,sebaiknya tidaklah berhutang besar untuk kemewahan yg melebihi kemampuan seperti membeli kereta mahal,menghias rumah lebih dari keperluan,berpakaian dan accessori berjenama yg tidak sepadan.

Maksud saya kisah ini seolah Allah mahu menunjukkan supaya manusia hidup mengikut kemampuan dan tarafnya,ukur baju dibadan sendiri.Pak Cik itu tak perlu makan udang galah kerana ia lebih perlu beras,tepung,gula dsbnya utk hidup.

Jika kita makan yg hebat,ingatlah ada orang menelan air liur,ada orang yg berpenat lelah kerananya, ada orang yg teringin tetapi tidak berupaya.

Sesekali kongsikan kenikmatan hidup kita dengan mereka yg miskin dg bersedekah,berbuat jamuan,memberi apa yg selalu kita makan,apa yg sedap pada lidah kita supaya orang lain juga merasa.

Janganlah kita hanya memikir diri kita sahaja, seperti pemuda ini yg terfikirkan keluarga penjual udang ini.Kita setiap hari makan hebat hingga berboyot perut,tetapi tak pernah sedetikkah terfikir insan lain yg memamah sayur kangkung, ikan temenung dan sambal belacan setiap hari.

Firman Allah,"Kamu sesekali tidak sampai kepada kebajikan yang sempurna,sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.Dan siapa saja yang kamu nafkahkan,maka sesungguhnya Allah mengetahui."Ali Imran 92.

www.facebook.com/maulabillah
www.facebook.com/tradezara

Selasa, 30 September 2014

Kenali Allah Sebelum Solat

Assalamualaikum…Salam persaudaraan dari penulis untuk semua kepada saudara pembaca sekelian.. tujuan saya wujudkan laman ini adalah untuk berkongsi dan berbagi ilmu pengetahuan andai apa yang ada pada saya atas kurnian dari “ALLAH” dapat di manfaat-kan sama-sama, bukan bermaksud untuk menunjuk-nunjuk. Bukan-kah Nabi S.A.W pernah bersabda:
Sebaik-baik manusia itu adalah yang banyak memberi manfaat kepada manusia lain.
Di dalam Al-Qur’an “ALLAH” S.W.T Juga berfirman ( QS:-Al- Asr:-
“ Watawa tsaubil haq, watawa tsaubil tsobri”) (“Berpesan-pesan lah kamu dengan kebenaran…Berpesan-pesan lah kamu dengan kesabaran”). Kebenaran dari Risalah ketuhanan dan sabar di dalam menyebarkan risalah-nya.
Mengapa kita perlu mengenal Allah sebelum solat..? Apakah jika tidak kenal Allah maka tidak boleh solat..? Bagaimana jika orang yang solat selama ini jika tidak kenal pada Allah..? Solat itu tetap wajib di jalankan, hanya apabila solat sudah di tingkatkan dengan mengenal akan ALLAH maka barulah itu di katakan benar-benar solat dan benar-benar menyembah. 

Bukankah solat itu suatu hal yang pertama akan di hitung pada hari  “Yaumul Mahsyar”  kelak. Kita akan di persoalkan tentang kepada siapa kita sembah, dan kepada siapa kita sujud. Membincangkan soal kepada siapa kita sembah kepada siapa kita sujud sudah tentu saudara pembaca semua menganggap penulis memperkotak-katikan soal agama, tetapi itu adalah hakikat Solat itu sendiri. Arwah guru penulis pernah berkata kepada penulis..
(“ Syaria’t tanpa hakikat tidak sempurna..hakikat tanpa syari’at tidak sah”)
Bagaimana yang dikatakan kenal Allah sebelum solat..? Jika di zaman jahiliah dahulu para Nabi bertanggungjawab mengajak kaumnya beriman kepada Allah.. manakala Rasul sejak zaman Baginda Nabi Adam a.s sehingga ke Rasul pilihan akhir zaman pula baginda bertanggungjawab mengajak kaum dan umatnya beriman kepada Sang pencipta yang Maha Agung yakni Allah S.W.T. Dan seterusnya menyebarkan risalah ketuhanan untuk menyempurnakan aqidah supaya menjadi manusia yang bertamadun.
Bagaimana pula di zaman kita..? Di zaman kita pula datuk dan nenek moyang kitalah yang bertanggungjawab memberitahu kepada (Kaum ) yakni keturunannya tentang kepada kepada siapa kita beriman dan menyembah dan kepada siapa pula kita beriman yang menyuruh kita mengikuti suruhan Allah, dan mengikuti sunnahnya... ini mesti dijelaskan..kerana ia amat berkait rapat dengan soal hubungan jasmani dan rohani.. penting. 

Ada Allah ada Muhammad..ada bulan ada matahari..ada jasmani ada rohani dua-dua hendaklah seiring, bagaimana jika diberikan dua kaki hanya digunakan satu sahaja untuk berjalan, dan diberi dua tangan hanya satu digunakan untuk melakukan kerja kan tidak sempurna begitu juga soal ibadat.
Bagaimana pula di zaman anak-anak kita..? Kitalah sebagai ibubapa yang wajib memberitahu perkara asas beriman kepada Allah dan Rasul kepada anak-anak kita..oleh itu menuntut ilmu itu wajib fardhu ain, maka kita perlu dibekalkan dengan ilmu yang mencukupi untuk diberitahu kepada anak-anak kita. 

Berbeza pula dengan orang yang telah sempurna ilmunya, kesudahan kepada kesempurnaan itu pula ialah mati, terputusnya segala kehendak dan keinginan nafsu syahwatnya yang bisa menyesatkannya, tidak begitu rakus lagi terhadap perhiasan dunia yang sentiasa menggoda bagi yang mengejarnya.
Hendaklah diberitakan kepada anak kita tentang ancaman Allah dan azabnya bagi orang yang melalaikan suruhan Rasulnya daripada melakukan perintah Allah. Ini kerana anak kita sejak umur linkungan tiga tahun keatas sangat mudah menerima apa saja yang kita ajarkan kepada mereka tetapi AWAS!!! 

Jangan sampai mereka jemu dari melakukannya, jika kita hanya asyik suruh sahaja tanpa memberitahu akan akibat dari tidak melakukannya, maka ini tidak akan berkesan keatas anak kita, kelak mereka akan berkata, mak bapak aku asyik suruh.. je aku solat.. aku boring la…apa akibatnya jika ini terjadi..? Anda sendiri yang dapat menjawabnya.
Ini yang dikatakan berdakwah..mengajak keluarga kita dan orang lain beriman kepada Allah dan Rasulnya seterusnya melaksanakan suruhan Allah dan Rasul serta memberitahu akan ancaman Allah akibat jika tidak melakukannya. 

jangan juga kita hanya menceritakan jika buat ini dapat pahala, buat itu dapat pahala, jika puasa dapat pahala, jika solat berjemaah dapat pahala, jika beriktikaf dapat pahala, buat baik sesama makhluk Allah dapat pahala, sedangkan itu semua sudah disediakan oleh Allah kepada sesiapa sahaja yang melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangannya.
Bahagian kita hanya laksanakan sahaja dengan ikhlas kepada Allah sebagai bersyukur dan berterima kasih diatas kurniaan nikmatnya keatas kita yang tidak dapat dihitung oleh pancaindera kita sedangkan itu semua adalah kurniaan darinya, nikmat mata boleh melihat, nikmat telinga boleh mendengar, nikmat boleh berfikir, nikmat kalam boleh berkata-kata, dan nikmat hati ada perasaan. 

Semua adalah nikmat pemberian dari Allah,tetapi tidak diberitahu akan akibat dari ancaman Allah jika meninggalkan segala suruhan Allah, maka dia tidak akan berasa takut jika meninggalkannya, sebab buat ni hanya dapat pahala jadi tak buat pun tak pelah, bapak aku mak aku bukannya tahu, sapa tahu aku buat ke tidak, sedangkan Allah sentiasa melihat, bagaimana yang dikatakan Allah sentiasa melihat ..? Rujuk dalil didalam  Al-Qur’an surah An-Nur:-
Allahun nur rutssama wa tiwal ardh, Allah itu cahaya di langit dan di bumi )
kita ini sentiasa tenggelam didalam cahayanya, oleh kerana Dia Maha Cahaya kita tidak nampak akan cahayanya, yang kita nampak hanyalah objek yang sudah di terangi dengan cahaya. Renungkanlah…
Inilah yang dikatakan kenal Allah sebelum solat, bukan bererti tidak kenal maka tak boleh solat,itu tanggapan yang salah, tetapi mengenal dan kenal itu lebih baik, kitalah yang bertanggungjawab kepada generasi kita disamping mengajak anak dan isteri kita mengenal kepada siapa kita beriman dan kepada siapa kita perlu takut.
Petikan dari kata-kata dari Sunan Kalijaga adalah mengajak kita berlumba di dalam membuat kebaikan”. Mari kita tanya pada diri kita apakah solat kita selama ini sudah sempurna ataupun  sebaliknya., bukan soal nak menunjukan solat siapa yang lebih bagus, akan tetapi sama-samalah kita menyelami hakikat solat  yang sebenar-benar solat, ini kerana solat bukanlah suatu hal yang mudah seperti yang di lakukan oleh anak kecil. Nabi S.A.W juga berpesan supaya kita tingkatkan solat kita, kerana solat juga ada tingkatanya dan Rohnya.
 Di dalam solat awal-awal lagi  kita di ajak untuk mengenal akan siapa yang kita sembah dan siapa yang kita sujud, tujuan supaya i’tiqod kita di dalam solat tidak lari dari apa yang hendak ditujukan, kerana sedikit kita cuai di dalam solat maka tersasarlah hakikat asal kita menyembah., kerana kita melampirkan satu lagi tuhan di samping Allah, tuhan yang bernama nafsu. 

Nabi S.A.W pernah bersabda: “ Tuhan manusia yang paling hina di muka bumi adalah nafsu”. Ini kerana bukan senang untuk mencapai tahap kusyuk dan masyuknya ketika di dalam solat, paling hina ketika kita sujud waktu itu pula nafsu kita membisikan kepada kita pelbagai hal-hal di luar solat membuatkan sujud kita itu telah lari dari tujuan sebenar hakikat solat, bukan lagi menyembah kepada yang haq sebaliknya menyembah kepada yang Fana, 

Ini juga boleh di kategorikan menyembah tuhan selain Allah di samping Allah yaitu “NAFSU”. Awas jika nafsu membaluti iman maka rosaklah nawaitu dan i’itiqod, rosaklah solat, ini yang di katakan syirik di dalam solat
 Baiklah.. kita kembali semula kepada bab solat yang ingin di bincangkan di sini, penulis rasa saudara pembaca semua tentu mengatakan kepada Allah lah kita sembah dan sujud kepada siapa lagi, apa yang ingin di sampaikan penulis ni sebenarnya..? 

Penulis juga ingin bertanya kembali, jika Allah yang kita sembah dan sujud, di mana tuan-nya..? Ada nama sudah pasti ada tuannya, mari kita lihat contoh umpama Bangsa Hindu dan Buddha sembahyang bagaimana..? oleh kerana mereka tidak kenal akan tuhan yang mereka sembah, maka  diciptakan tuhan yang berbilang-bilang itu untuk di sembah supaya ia jelas ada di depan mata mereka. Bagaimana pula dengan kita..? Kenalkah kita kepada  siapa yang di sembah..?
 Begitu juga dengan kita seboleh-bolehnya kita tahu dan kenal akan tuhan yang kita sembah, tetapi bagi kita berbeza dengan kedua-dua Ugama di atas kerana tuhanya boleh di andaikan, sedangkan Tuhan kita tidak boleh di andaikan dengan suatu apapun, kerana Tuhan kita Maha Ghaib di antara yang ghaib dan Maha Esa lagi Maha Melihat, barangsiapa tidak beriman kepada hal-hal yang ghaib maka belum lagi di katakan telah beriman kepada Allah. 

Kita juga ditekan kan dengan sifat Ihsan ketika di dalam solat, sebut sahaja  soal Ihsan Nabi S.A.W juga pernah bersabda yang berbunyi:
“Ihsan itu adalah umpama andai kamu solat seolah-olah kamu melihat kepada Allah, jika kamu tidak melihat kepadanya ingatlah bahawasanya Allah sentiasa melihat kepadamu”
Ini yang dikatakan Ihsan ketika di dalam solat, hadirkan hati dan roh solat baru mencapai ihsan di dalam solat, kerana Allah itu Maha Melihat, sesuai dengan makna yang terkandung di dalam Al-Qu’ran Surah An-Nur :
(“Allahun nuurus tssamaa waatiwal ardh..Maksudnya ALLAH itu cahaya di langit dan di bumi”)
Apakala Allah itu cahaya di langit dan juga di bumi, maka kita senantiasa di dalam pengawasan dan perhatianNYA.
ALIF LAM LAM HAA itu suatu nama yang di ambil dari banyak-banyak nama yang terkandung di dalam 99 Asma’ ALLAH itu sendiri, agar senang dan mudah untuk di ingati, akan tetapi ALIF LAM LAM HAA yakni Allah itu hanya suatu nama, bukan sudah bererti diri yang hakiki itu sendiri, setiap umat manusia wajib mengenal Allah lebih-lebih lagi umat Islam khususnya. 

Sebaliknya apa yang kita sembah adalah……..(“ZAT ALLAH”) Allahu Akhbar….bukankah ZAT ALLAH yang berkuasa..? Bukankah Zat yang mencipta..menghidupkan dan mematikan..? Di dalam Al- Qur’an Allah juga ada berfirman:-
” Sembahlah Zat tuhanmu dan dirikanlah solat sebagai untuk mengingati AKU”.
Inilah yang di katakan i’tiqod dan nawaitu kita di dalam solat, ini hendaklah di sebut di dalam hati ketika mengangkat takbir di antara takbir dan takbiratul ihram, dan sujudku pada AF’ALRULLAH, ini yang di katakana Hakikat solat, disini-lah makhluk yang bernama Iblis ingkar untuk sujud pada “ADAM:” a.s seperti firman Allahu S.W.T di dalam surah Al-Baqoroh:-
 Allah berfirman kepada Malaikat dan Iblis supaya sujud kepada Adam, Hanya Malaikat yang sujud dan Iblis sebaliknya, kerana dia menyangka dia adalah sebaik-sebaik kejadian. Bukankah Allah telah berfirman bahawa “AKU ”ingin di kenali, maka sudah tentu mesti ada makhluk yang akan mengenali aku. Maka di ciptakan “ADAM a.s untuk membuktikan ke “WUJUDAN dan Ke ESAANya” setelah Allah bertajalli dari alam Lahut hingga ke alam Insan. Inilah yang di katakan Hakikat Sembahyang. Begitu juga di dalam I’tidal Ruku’ dan duduk diantara dua sujud juga ada hakikatnya, disini penulis bukan untuk mengupas secara mendalam tentang soal solat ini kerana hanya sekadar berkongsi dan berbagi ilmu pengetahuan. Jika saudara pembaca ingin mencarigali dengan lebih mendalam harus mencari guru yang benar-benar Mursyid dan dan Ahli Hakikat di dalam hal ini.
 Di dalam untuk meraih kusyuk dan sempurna di dalam solat itu tidak sekadar hanya apa yang saudara pembaca baca apa yang tertulis di atas, kerana masih banyak perlu di titik beratkan seperti soal rukun solat adab dan tertib ketika di dalam solat. Hukun solat itu terbahagi kepada tiga bahagian, adapun..
1) Hukum Qolbi
Dan adapun Hukum Qolbi adalah Nawaitu dan Hakikat kita mendirikan solat itu sendir

2) Hukum Qouli dan  
Dan adapun Hukum Qouli adalah bacaan kita ketika dalam solat, tidak hanya sekadar bacaan harus memahami akan maksudnya

3) Hukum Fi’li, 
Dan adapun Hukum Fi’li adalah perbuatan atau geraklaku kita di dalam solat
Nah jika salah satu tidak di lakukan adakah sempurna solat itu..? Didalam solat itu juga sudah terkandung apa yang di katakan (“ SyariatTharikat, Ma’arifat dan Hakikat) Syariat itu adalah perbuatan ataupun tingkahlaku kita di dalam solat, Tharikat itu zikir atau bacaan di dalam solat, Ma’arifat itu kita kenal akan kepada siapa kita sembah dan sujud seterusnya membawa kepada Hakikat. Bukankah sudah jelas hakikat kita di suruh sembah kepada yang Esa.seperti kata-kata setengah Ulama:-
 Beriman dahulu sebelum solat, seperti juga petikan kata-kata dari Arwah guru penulis:-
(“Iman, Islam, Tauhid , Ma’arifat,”)
Sejak dari zaman Nabi Adam a.s hingga zaman Nabi Isa a.s umat manusia telah diajak supaya beriman kepada yang Esa dan yang Maha Mencipta, sehinggalah sampai ke zaman Nabi S.A.W maka telah turunlah perintah solat itu keatas umat manusia. Sesuai dengan firman Allahu S.W.T  (“Awaludin Ma’arifatullah”) awal Ugama kenal Allah, kenal Allah maka kenalah kita kepada siapa yang kita sembah, penulis rasa cukuplah setakat ini dahulu yang dapat di tulis kan oleh penulis, ini kerana jika hendak membincangkan secara mendalam terlalu jauh dan dalam lautan ilmu Allah, hanya sebahagian manusia yang biasa mencapai martabat itu. 

Akhir kata jika salah dan silap dari segi penyampaian saya harap ada teguran dari saudara pembaca sendiri yang sudahpun tahu banyak ilmu pengetahuan, saya sendiri masih lagi mencari akan makna dan tujuan di hantar ke muka bumi ini. Masih banyak lagi jika nak di bincangkan soal solat di sini, tentang Nafi dan Isbat, Roh solat dan Qiblat yang kita hadapkan, banyak… masih banyak lagi yang perlu di  nukilkan cukuplah sekadar ini saja dahulu yang dapat di tuliskan, sekian dahulu dan sedikit kata-kata dari saya:-
(“SESUNGGUHNYA SOLAT ITU PENEGUH JIWA SETIAP UMAT MANUSIA”)
Ini adalah lampiran baru di edit sambungan dari kandungan di atas membicarakan hal-hal kenal Allah dulu baru solat, bukanlah bererti tak kenal Allah maka tak boleh solat, semuanya sama datang dari tak tahu bukan terus tahu, tapi kalau dah tahu wajib lebih tekun mengerjakanya baru mencapai Hakikat sebenar menyembah yang Esa. 

Untuk mencapai kusyuk dan masyuk ketika di dalam solat kita wajib mengetahui beberapa perkara yang boleh memberi kita konsentrasi ketika hendak mendirikan solat, tetapi penulis hanya ringkaskan sedikit bab-bab mengenai perkara ini, perkara pertama ialah lupakan segala urusan dunia kerana itu boleh menggangu konsentrasi kita terhadap Allah, kerana kita berurusan dengan Allah dan hal yang berhubung dengan Akhirat, hanya paling lama lebih kurang sepuluh minit sahaja perlu kita putuskan segala hal yang berhubung dengan keduniaan.
Perkara kedua ialah penulis hendak berkongsi sedikit pengalaman dengan saudara pembaca semua iaitu, sebelum mendirikan solat tarik nafas perlahan-lahan sedalam-dalamnya hingga sampai ke kepala kemudian lepaskan pelahan-lahan melalui hidung juga ulangi sebanyak tiga kali, pembaca rasailah sendiri bagaimana rahsia yang penulis kongsikan dengan pembaca semua. Ini bertujuan untuk menghadirkan hati dan Roh solat itu sendiri, jika lalai di dalam mengerjakan solat maka Roh solat akan menghadap kepada Allah dan berkata,
“Ya Allah sesungguhnya dia telah mencuaikan aku maka engkau cuaikanlah ia”
Nau’zubillahi minzaalik…jika Allah telah mencuaikan kita maka terputuslah kita dari rahmat Allah, masya’Allah…jika ni’mat semua umat manusia dapat merasa bagaimana dengan Rahmat Allah..? Sesuai dengan ayat Allah yang berbunyi:-
(“ fawailullil mutsollin, Celakalah bagi orang yang lalai dalam solat”)
Sembahyang pun masuk neraka tak sembahyang lagi cepat masuk neraka, tabarokallah…
Dan lagi  ayat  Allah  yang berbunyi:-
(“Innahum fii tsholaatihim khoosyiuun, sesungguhnya mereka yang lalai di dalam mengerjakan ibadah”)
Subhaanallah….di dalam laman yang lepas penulis juga ada menyebutkan tentang Qiblat…bagaimana dengan qiblat yang kita semua tujukan pada hari ini..? sedangkan beralih arah sedikit sahaja kawan kita sudah menegur, eh qiblat engkau salah, habis bagaimana nak mengetahui arah qiblat yang betul..? 

Bukanlah bereti qiblat yang ingin penulis kongsikan ini benar-benar betul dan tepat, tapi sama-sama kita fikirkan, kesemuanya ada empat Qiblat, mari kita lihat apakah qiblat yang ingin penulis kongsikan bersama ini, bukan bereti qiblat yang kita hadapkan selama ini tidak betul, tapi inilah yang penulis ingin kongsikan,
(“ Qiblat Tubuh ke Baitullah, Qiblat Hati ke Baitulma’mur, Qiblat Roh ke-Arasy Qursy, Qiblat nyawa aku serah pada Allah”)
Jika ini ada dalam diri kita insya’Allah tidak ada sifat ragu-ragu dan was-was lagi dalam soal qiblat, semasa berdiri di atas tikar sembahyang maka bacalah keempat-empat qiblat tadi dan hadirkan roh solat supaya solat kita benar-benar sampai ke tempat yang nak di tuju, wuduk juga harus sempurna jika tidak solat kita hanya sia-sia, kerana solat adalah urusan Akhirat bukan urusan dunia, waspadalah pada urusan dunia..kejarlah urusan akhirat, kerana itulah tujuan kita di hantar ke dunia.
Alhamdulillah…penulis rasa lega dapat berbagi sedikit ilmu pengetahuan yang tak seberapa ini kepada pembaca semua, apapun ia adalah kurnian dari Allah, jika nak di bandingkan ilmu kita dengan Allah S.W.T umpama jarum di celup di tengah lautan lalu di angkat sisa air yang tinggal itulah umpamanya ilmu yang ada pada diri kita subhaanallah…

Maha luas lautan ilmu mu ya Allah. Bagi sesiapa ingin menggalinya, maka galilah dengan bijaksana. Penulis ingin berpesan kepada saudara pembaca semua, dirikanlah solat, kusyuklah di dalam mengerjakanya dan kenalilah Hakikat yang kita sembah, andai kita lalai dari mengerjakan solat dan lalai di dalam mengerjakanya maka sesungguhnya Allahu Taala telah berfiman di dalam hadith qudsy yang berbunyi:-
(“Yaa Ibaadi, kullukum dhollu illa man hadaituhu, fastahduuni ahdikum, wahai hambaku kalian semua sesat kecuali orang yang aku beri hidayah (petunjuk), maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk”)
Lihatlah asal muasal kita memang sudah tahu, setelah di turunkan kedunia apabila roh sudah di baluti jasad maka kita di lupakan akan asal pengetahuan kita, firman Allahu Taala lagi yang berbunyi:-
(“ Andai kalian beribadat lima ratus tahun ianya sedikit tidak menambah kekuasaanku, begitu juga andai kalian tidak beribadat kepadaku hal itu juga tidak mengurangkan sedikit pun kekusaanku”)
Astaghfirullah…bagaimana saudara pembaca sekalian..? Siapakah yang rugi..? Kitalah yang rugi, hal ini ini juga Allah telah berfirman di dalam suuratul Asr:-
(“ Wal asr, innalin tsaa nalafi khusyrin, illalladzhi na amanu waamilu tshoolihaat, Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang yang beramal soleh”)
Di dalam urusan mengenai Akhirat tidak ada sesiapa yang dapat menghulurkan bantuan kecual ilmu dan amal yang soleh, apabila kita meninggal kelak, sewaktu kita hendak di turunkan kedalam liang lahad akan kedengaran suara dari langit yang amat keras dan akan bertanya:-
Hai anak Adam bekal apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kehancuran ini?}
{ Hai anak Adam cahaya apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kegelapan ini?}
{ Hai anak Adam kekayaan apakah yang engkau bawa untuk menghadapi kefakiran ini?}
Siapakah yang akan menghulurkan bantuan untuk kita  menjawab..? Adakah orang yang berkata kepada kita buat apa sembahyang… tak dapat apa…tidak ada sesiapa saudaraku yang dapat menjadi peguambela pada hari yang telah di tetapkan Allah apabila di panggil pulang, melainkan kitalah yang bertanggungjawab mengembalikan yang Haq kepada yang “HAQ“. 

Persiapkanlah bekalmu sebelum ajalmu tiba, kerana maut tidak pernah berpisah dengan kita walau barang sesaat sekalipun, kita ibarat tanam-tanaman apabila tiba masanya kita akan di rengut dan di tuai seperti orang menuai padi apabila sudah tiba masanya, bukankan dasyat apabila mendengar perkataan rengut itu..? 

Sama-sama kita renungkan dan muhasabah diri. Baiklah kita sambung lagi perbincangan kita mengenai solat di lain waktu jika di izinkan Allah untuk penulis menulis lagi bab-bab mengenai solat dan mengenal Allah.

Selasa, 1 April 2014

Sifat malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan

“Sifat malu itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sumber sifat malu adalah muraqabatullah (rasa dekat dgn Allah). Sifat itu hadir ketika kita merasa bahawa kita sentiasa di bawah pantauan Allah swt. Dengan kata lain, ketika kita dalam keadaan ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. 

Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu,” begitu jawapan Rasulullah saw. atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.

Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Menundukkan pandangan juga sebahagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa.