Pages

Memaparkan catatan dengan label Al Baqarah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Al Baqarah. Papar semua catatan

Jumaat, 29 Mei 2015

Jangan Silau dengan Kebaikan Orang Kafir

Kewajiban Berlepas Diri dari Kekafiran dan Orang Kafir
Pertama: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kita untuk membenci musuh-musuh Allah ta’ala, bukannya memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka.
Karena keimanan kepada kalimat tauhid “laa ilaaha illallah”, yaitu meyakini bahwa Allah ta’ala adalah satu-satunya yang pantas disembah, dan semua yang disembah selain-Nya adalah salah, menuntut setiap muslim untuk memusuhi musuh-musuh Allah (yaitu orang-orang yang kafir kepada-Nya) dan mencintai wali-wali-Nya (yaitu orang-orang yang beriman kepada-Nya).
Allah ta’ala menegaskan,
لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ
“Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir; berkasih sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, meskipun musuh Allah tersebut adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan karib kerabat mereka.” [Al-Mujadalah:  22]
Juga firman Allah jalla wa ’ala,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu PERMUSUHAN dan KEBENCIAN buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah yang satu saja.”[Al-Mumtahanah: 4]
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai orang-orang yang kamu cintai; sebahagian mereka (orang-orang kafir) hanya pantas menjadi orang-orang yang dicintai bagi sebahagian yang lain (orang-orang kafir pula). Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka sebagai orang-orang yang dicintai, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” [Al-Maidah: 51]
Kedua: Aqidah Islam yang benar, Aqidah As-Salafus Shalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengajarkan kepada kita agar jangan silau dan tertipu dengan “kebaikan” orang-orang kafir, sebab seluruh amalan mereka tertolak, tidak diterima oleh Allah tabaraka wa ta’ala. Hal itu disebabkan karena mereka telah melakukan dosa yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dan kafir kepada-Nya.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka harta-harta sedekah mereka (oleh Allah ta’ala) melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
Juga firman-Nya,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Juga firman-Nya,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Juga firman-Nya,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalanmu.” [Az-Zumar: 65]
Ketiga: Aqidah Islam yang benar, Aqidah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani adalah musuh yang akan terus berusaha menyesatkan kita.
Allah ta’ala berfirman,
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِير
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [Al-Baqoroh: 120]
Juga firman-Nya,
وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) memurtadkan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” [Al-Baqoroh: 217]
Keempat: Aqidah Islam yang benar, yang diyakini seluruh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, termasukAbu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad bahwa seluruh orang-orang kafir adalah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya. Allah ta’ala telah menghinakan mereka di dunia dan akhirat, bagaimana bisa seorang muslim memberikan penghormatan dan penghargaan kepada mereka…?!
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluq.” [Al-Bayyinah: 6]
Juga firman-Nya,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami!? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” [Al-Furqon: 44]
Juga firman-Nya,
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
Kelima: Aqidah Islam yang benar, Aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah dan Ijma’ Ulama, mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa para pendeta dan tokoh-tokoh agama Yahudi dan Nasrani adalah penipu umat, pemakan harta manusia dengan cara yang batil dan pemalsu kitab suci untuk meraup keuntungan duniawi dan menyesatkan manusia, maka janganlah tertipu dengan “kebaikan-kebaikan” mereka…!
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيرًا مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan Pendeta-pendeta Kristen benar-benar memakan harta manusia dengan cara yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” [At-Taubah: 34]
Juga firman-Nya,
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan (duniawi) yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” [Al-Baqorah: 79]

Ahad, 28 September 2014

DOA NABI IBRAHIM


DOA NABI IBRAHIM

2.Surah Al-Baqarah (Verse 124)



وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ





Dan (ingatlah), ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa Kalimah (suruhan dan larangan), maka Nabi Ibrahim pun menyempurnakannya. (Setelah itu) Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku melantikmu menjadi Imam (Pemimpin ikutan) bagi umat manusia". Nabi Ibrahim pun memohon dengan berkata: "(Ya Tuhanku!) Jadikanlah juga (apalah jua kiranya) dari keturunanku (pemimpin-pemimpin ikutan)". Allah berfirman: "(Permohonanmu diterima, tetapi) janjiKu ini tidak akan didapati oleh orang-orang yang zalim."


ORANG YANG ZALIM IALAH MEREKA YANG MENSYIRIKKAN ALLAH...

Ahad, 18 Mei 2014

PENDAPAT YANG MENGATAKAN ALLAH TIDAK BERZAT, ALLAH TIDAK BERSIFAT, ALLAH TIDAK BERNAMA, ALLAH TIDAK BERPEBUATAN

PENDAPAT YANG MENGATAKAN ALLAH TIDAK BERZAT, ALLAH TIDAK BERSIFAT, ALLAH TIDAK BERNAMA, ALLAH TIDAK BERPEBUATAN...

FIRMAN ALLAH :-
28.Surah Al-Qaşaş (Verse 88)

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ


Dan janganlah engkau menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah. Tiada Tuhan melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu akan binasa melainkan Zat Allah. BagiNyalah kuasa memutuskan segala hukum, dan kepadaNyalah kamu semua dikembalikan (untuk dihitung amal masing-masing dan menerima balasan).

2.Surah Al-Baqarah (Verse 127)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّاۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


Dan (ingatlah) ketika Nabi Ibrahim bersama-sama Nabi Ismail meninggikan binaan asas-asas (tapak) Baitullah (Kaabah) itu, sambil keduanya berdoa dengan berkata: "Wahai Tuhan kami! Terimalah daripada kami (amal kami); sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui;

MENDENGAR DAN MENGETAHUI ADALAH SIFAT ALLAH....

1.Surah Al-Fātiĥah (Verse 1)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ


Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

2.Surah Al-Baqarah (Verse 198)

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُوا فَضْلًا مِّن رَّبِّكُمْۚ فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِۖ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ


Tidaklah menjadi salah, kamu mencari limpah kurnia dari Tuhan kamu (dengan meneruskan perniagaan ketika mengerjakan Haji). Kemudian apabila kamu bertolak turun dari padang Arafah (menuju ke Muzdalifah) maka sebutlah nama Allah (dengan doa,"talbiah" dan tasbih) di tempat Masy'ar Al-Haraam (di Muzdalifah), dan ingatlah kepada Allah dengan menyebutnya sebagaimana Ia telah memberikan petunjuk hidayah kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu adalah dari golongan orang-orang yang salah jalan ibadatnya.


39.Surah Az-Zumar (Verse 45)

وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ


Dan (di antara keburukan orang-orang yang melakukan syirik): apabila disebut nama Allah semata-mata (di dalam doa dan sebagainya), segan serta liarlah hati mereka yang tidak beriman kepada hari akhirat; dan apabila disebut nama-nama yang mereka sembah dan puja yang lain dari Allah, mereka dengan serta merta riang dan gembira.

27.Surah An-Naml (Verse 88)

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ


Dan engkau melihat gunung-ganang, engkau menyangkanya tetap membeku, padahal ia bergerak cepat seperti bergeraknya awan; (demikianlah) perbuatan Allah yang telah membuat tiap - tiap sesuatu dengan serapi-rapi dan sebaik-baiknya; sesungguhnya Ia Amat mendalam PengetahuanNya akan apa yang kamu lakukan.

LAGI FIRMAN ALLAH

57.Surah Al-Ĥadīd (Verse 3)

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir; dan Yang Zahir serta Yang Batin; dan Dia lah Yang Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu.

Ddalam firman Allah seperti diatas Allah telah memberitahu bahawa Allahlah segala-galanya. Yang awal, yang akhir, yang zahir dan yang batin kesemuanya ialah Allah..

Untuk meringkaskannya, yang awal iaitu zat Allah, yang akhir iaitu asma' Allah, yang zahir iaitu afa'al Allah dan yang batin iaitu sifat Allah...

Kalau disusun mengikut susunan ialah kenyataan zat Allah iaiatu Dialah yang Awal, kenyataan sifat Allah Dialah yang batin, kenyataan asma' Allah Dialah yang akhir, kenyataan afa'al Allah Dialah yang zahir...

“Aku ini perbendaharaan tersembunyi,kemudian Aku ingin dikenal,kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku, dengan Allah-lah mereka mengenal Aku…”.
(Hadits Qudsi)


APABILA KESEMUANYA ALLAH, TIDAK ADA LAGI SELAIN DARI ALLAH....
LAA ILAHA ILLALLAH - TIADA ADA HANYA ALLAH - TIADA SESUATU YANG ADA HANYA ALLAH, TIADA MENYERUPAI ALLAH DENGAN SEGALA SESUATU, ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT ADA, KITA DAN SELAIN DARI ALLAH TIDAK MEMPUNYAI SIFAT ADA SENDIRI.

ADANYA DIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH SEBENARNYA SEDANG MENYATAKAN ADA ALLAH, ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH ADALAH SEBAGAI TANDA DAN AYAT-AYAT YANG SEDANG MENERANGKAN ADA ALLAH, BUKAN MENUNJUKKAN ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH

FIRMAN ALLAH 51.Surah Adh-Dhāriyāt (Verse 20)

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ


Dan pada bumi ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan dan kekuasaan Allah) bagi orang-orang (yang mahu mencapai pengetahuan) yang yakin,

51.Surah Adh-Dhāriyāt (Verse 21)

وَفِي أَنفُسِكُمْۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ


Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mahu melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)?

Badan diri kita dan keseluruh isi alam adalah kenyataan zat, sifat, asmak dan afa'al Allah..

MASAALAH YANG TIMBUL
APABILA KITA BERPEGANG DAN SEDANG MERASAI ADA DIRI KITA DAN ADA SELAIN DARI ALLAH, ADALAH ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH ( TIDAK MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH SEBAGAI TANDA YANG SEDANG MENUNJUKKAN ATAU SEDANG MENERANGKAN TENTANG ADA ALLAH).

MAKA ADA YANG SEDANG DIRASAI ADALAH ADA DIRI SENDIRI, BUKAN SEDANG MENERANGKAN TENTANG ADA ALLAH, SIFAT YANG SEDANG DIRASAI ADALAH SIFAT DIRI SENDIRI, BUKAN SIFAT YANG SEDANG MENERANGKAN TENTANG SIFAT ALLAH, NAMA YANG SEDANG DIRASAI ADALAH NAMA DIRI SENDIRI BUKAN DIRASAI SEBAGAI NAMA YANG SEDANG MENERANGKAN TENTANG NAMA ALLAH, PERBUATAN YANG SEDANG DIRASAI DAN DIHADAPI ADALAH PERBUATAN DIRI SENDIRI DAN BUKAN PERBUATAN YANG SEDANG MENERANGKAN TRNTANG PERBUATAN ALLAH...

MAKA AKAN SENTIASA HADZIR DIDALAM RASA DAN PERASAAN SENDIRI, YANG ADA, YANG BERSIFAT, YANG BERNAMA DAN YANG BERPEBUATAN ADALAH DIRI KITA SENDIRI, APABILA SEDANG MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI, DIDALAM MASA YANG SAMA TIDAK AKAN MERASA ADA ALLAH KERANA SIFAT ADA ITU ESA, (TIDAK BERBILANG-BILANG)..

APABILA HENDAK MENGHURAIKAN TENTANG ADA DAN KEADAAN ALLAH DALAM KEADAAN SEDANG MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH (SECARA TIDAK DISEDARI AKAN TIMBUL DIDALAM RASA DAN PERASAAN SENDIRI UNTUK MEMBANDINGKAN ALLAH DENGAN ADA DIRI SENDIRI..

KITA TAHU TIDAK ADA SESUATU YANG SEBANDING DENGAN ALLAH, OLEH KERANA KITA SEDANG MERASAKN ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH, SECARA TIDAK DISEDARI AKAN TIMBUL PERBANDINGAN DIANTARA ALLAH DENGAN RASA ADA DIRI KITA SENDIRI..

KITA TAHU YANG ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN DIRI SENDIRI DAN DENGAN SELAIN DARI ALLAH...

OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH, SECARA RIDAK DISEDARI MITA AKAN MENGATAKAN ALLAH TIDAK BERZAT KERANA KITA SEDANG MEMBANDINGKAN ALLAH DENGAN DIRI KITA YANG SEDANG DIRASAI ADA, ZAT YANG SEDANG DIRASAI ADALAH SEDANG DIRASAI SEBAGAI ZAT DIRI SENDIRI MAKA SECARA TIDAK LANGSUNG KITA AKAN MENGATAKAN ADA ALLAH ITU TIDAK BERZAT KERANA KITA SEDANG MERASAKAN ZAT YANG SEDANG DIRASAI ITU ADALAH ZAT DIRI SENDIRI BUKAN SEDANG MERASAI ZAT YANG SEDANG DIRASAI ITU ADALAH ZAT ALLAH...

JIKA SEDANG MERASAI DAN MENGAKUI ZAT YANG SEDANG DIRASAI ITU ADALAH ZAT ALLAH (KERANA YANG WAJIB ADA HANYALAH ALLAH, DIRI KITA DAN SELAIN DARI ALLAH SEBENARNYA BERSIFAT DENGAN SIFAT ASALNYA IAITU TIDAK ADA,) KITA AKAN BERKATA ALLAH YANG BERZAT, DIRI KITA DAN SELAIN DARI ALLAH YANG TIDAK BERZAT..

JIKA SEDANG MERASAI DAN MENGAKUI ZAT YANG SEDANG DIRASAI ITU ADALAH ZAT DIRI KITA DAN ZAT SELAIN DARI ALLAH, (BERDASARKAN KEPADA ILMU PENGETAHUAN YANG MENGATAKAN ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLOKNYA) SECARA TIDAK DISEDARI KITA AKAN MENGHURAIKAN ALLAH TIDAK BERZAT, ALLAH TIDAK BERSIFAT, ALLAH TIDAK BERNAMA, DAN ALLAH TIDAK BERAFA'AL KERANA KITA SEDANG MERASAKAN ZAT, SIFAT, ASMA' DAN AFA'AL ALLAH SEBAGAI ZAT, SIFAT, ASMA' DAN AFA' AL DIRI KITA SENDIRI DAN ZAT, SIFAT, ASMA' DAN AFA'AL SELAIN DARI ALLAH...

DIDALAM ILMU PENGETAHUAN TELAH MENERANGKAN ALLAH TIDAK MENYAMAI DENGAN MAKHLOK (;ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLOKNYA),

KITA TAHU ADA ITU ADALAH SIFAT YANG WAJIB BAGI ALLAH, TETAPI KERANA SEDANG MERASA ADA DIRI SENDIRI (TIDAK MERASA YANG ADA HANYA ALLAH IAITU ADA YANG SEDANG DIRASAI ITU ADALAH TANDA YANG SEDANG MENYATAKAN ADA ALLAH TETAPI SEDANG MERASAI ADA DIRI SENDIRI DAN RASA ADA SELAIN DARI ALLAH),

OLEH KERANA ALLAH TIDAK MENYAMAI DENGAN MAKHLOK, DAN ADA ALLAH TELAH DAN SEDANG DIRASAI SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH, SECARA TIDAK DISEDARI KITA AKAN MENGHURAIKAN TENTANG ALLAH BERKAITAN HAL DAN KEADAAN YANG TIDAK ADA...(ALLAH TIDAK BERZAT, ALLAH TIDAK BERSIFAT, ALLAH TIDAK BERNAMA DAN ALLAH RIDAK BERAFA'AL,,)

SEBENARNYA YANG TIADA (BERZAT, BERSIFAT, BERASMA' DAN BERAFA'AL ADALAH SELAIN DARI ALLAH)...

OLEH KERANA SEDANG MERASAI DIRI SENDIRI DAN SELAIN DARI ALLAH YANG BERZAT, BERSIFAT, BERASMA' DAN BERAFA'AL, MAKA SECARA TIDAK DISEDARI KITA AKAN MENYATAKAN HAL YANG BERLAWANAN DENGAN APA YANG SEDANG DIRASAI SENDIRI... SEBAGAI ALLAH (ALLAH ITU LAISA KAMISLIHI SYAIK...)

JIKA SEDANG MERASAI YANG BERZAT, BERSIFAT, BERASMA' DAN BERAFA'AL ADALAH ALLAH, SECARA AUTOMATIK DIRI SENDIRI DAN SELAIN DARI ALLAH TIADA BERZAT, TIDAK BERSIFAT, TIDAK BERASMA' DAN TIDAK BERAFA'AL..

SEBENAR YANG BERSIFAT TIADA ITU SIAPA ? ADAKAH MAKHLOK ATAU ALLAH?
YANG BERSIFAT ADA ITU SIAPA?, ADAKAH ALLAH ATAU MAKHLOK?

BAGAIMANAKAH CARA YANG HENDAK DILAKUKAN SUPAYA MENDAPAT HIDAYAH DAN PETUNJUK DARI ALLAH AGAR DAPAT MERASAKAN ADA ALLAH DISETIAP DETIK DAN MASA... ?
APABILA SEDAH DAPAT MERASAKAN ADA ALLAH, TIDAK LAGI AKAN HADZIR RASA ADA DIRI SENDIRI DAN RASA ADA SELAIN DARI ALLAH...

SEPERTI SEKARANG INI KITA SEDANG MERASAI ADA DIRI SENDIRI KITA TIDAK PERNAH DAPAT MERASAKAN ADA ALLAH, KITA CUMA TAHU ALLAH ADA, TETAPI TIDAK MERASAI ADA ALLAH KERANA SEDANG MERASAI ADA DIRI SENDIRI...

KITA HANYA TAHU YANG ALLAH ITU BERSIFAT DENGAN SIFAT ADA, TETAPI KITA TIDAK MERASAI ADA ALLAH KERANA SEDANG MERASAI ADA DIRI SENDIRI (SEBENARNYA ADA ALLAH YANG SEDANG DIANGGAP DAN DIRASAI SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI)...

BAGAIMANAKAH KITA SEMUA HENDAK KEMBALI KEJALAM TAUHID SUPAYA TIDAK SEKUTUKAN ADA ALLAH DENGAN RASA ADA DIRI SENDIRI???

YANG LEBIH MENYEDIHKAN KITA SAMPAI MENGHURAIKAN TENTANG ALLAH SESUATU YANG TIADA KERANA SEDANG MERASAI ADA DIRI SENDIRI DAN ADA SELAIN DARI ALLAH..

SEMUGA KITA SEMUA AKAN DIBUKAKAN HIDAYAH DAN PETUNJUK OLEH ALLAH UNTUK KEMBALI BERTAUHID KEPADA ALLAH.... AMIN

Khamis, 8 Mei 2014

UGAMA TAUHID

UGAMA TAUHID

42.Surah Ash-Shūraá (Verse 13)

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ


Allah telah menerangkan kepada kamu - di antara perkara-perkara ugama yang Ia tetapkan hukumnya - apa yang telah diperintahkanNya kepada Nabi Nuh, dan yang telah Kami (Allah) wahyukan kepadamu (wahai Muhammad), dan juga yang telah Kami perintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa serta Nabi Isa, iaitu: "Tegakkanlah pendirian ugama, dan janganlah kamu berpecah belah atau berselisihan pada dasarnya". Berat bagi orang-orang musyrik (untuk menerima ugama tauhid) yang engkau seru mereka kepadanya. 

Allah memilih serta melorongkan sesiapa yang dikehendakiNya untuk menerima ugama tauhid itu, dan memberi hidayah petunjuk kepada ugamaNya itu sesiapa yang rujuk kembali kepadaNya (dengan taat).


3.Surah 'Āli `Imrān (Verse 67)

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Bukanlah Nabi Ibrahim itu seorang pemeluk ugama Yahudi, dan bukanlah ia seorang pemeluk ugama Kristian, tetapi ia seorang yang tetap di atas dasar Tauhid sebagai seorang Muslim (yang taat dan berserah bulat-bulat kepada Allah), dan ia pula bukanlah dari orang-orang musyrik.

2.Surah Al-Baqarah (Verse 135)

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُواۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Dan mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) berkata: "Jadilah kamu pemeluk ugama Yahudi atau pemeluk ugama Nasrani, nescaya kamu akan mendapat petunjuk".

Katakanlah (wahai Muhammad: "Kami orang-orang Islam tidak akan menurut apa yang kamu katakan itu) bahkan kami mengikut ugama Nabi Ibrahim yang tetap di atas dasar Tauhid, dan bukanlah ia dari orang-orang musyrik".

3.Surah 'Āli `Imrān (Verse 95)

قُلْ صَدَقَ اللَّهُۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ


Katakanlah (wahai Muhammad): "Benarlah (apa yang difirmankan oleh) Allah, maka ikutilah kamu akan ugama Nabi Ibrahim yang ikhlas (berdasarkan Tauhid), dan bukanlah ia dari orang-orang musyrik.

4.Surah An-Nisā' (Verse 125)

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا


Dan tidak ada yang lebih baik ugamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah (dengan ikhlas), sedang ia berusaha mengerjakan kebaikan, dan ia pula mengikut ugama Nabi Ibrahim yang lurus (yang tetap di atas dasar tauhid); dan (kerana itulah) Allah menjadikan Nabi Ibrahim kesayanganNya.

6.Surah Al-'An`ām (Verse 79)

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًاۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ


"Sesungguhnya aku hadapkan muka dan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi, sedang aku tetap di atas dasar tauhid dan bukanlah aku dari orang-orang yang menyekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain)".
7.Surah Al-'A`rāf (Verse 172)
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۖ قَالُوا بَلَىٰۛ شَهِدْنَاۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ


Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu mengeluarkan zuriat anak-anak Adam (turun-temurun) dari (tulang) belakang mereka, dan Ia jadikan mereka saksi terhadap diri mereka sendiri, (sambil Ia bertanya dengan firmanNya): "Bukankah Aku tuhan kamu?" Mereka semua menjawab: "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami menjadi saksi". Yang demikian supaya kamu tidak berkata pada hari kiamat kelak: "Sesungguhnya kami adalah lalai (tidak diberi peringatan) tentang (hakikat tauhid) ini".


18.Surah Al-Kahf (Verse 14)

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا


Dan Kami kuatkan hati mereka (dengan kesabaran dan keberanian), semasa mereka bangun (menegaskan tauhid) lalu berkata: "Tuhan kami ialah Tuhan yang mencipta dan mentadbirkan langit dan bumi; kami tidak sekali-kali akan menyembah Tuhan yang lain dari padanya; jika kami menyembah yang lainnya bermakna kami memperkatakan dan mengakui sesuatu yang jauh dari kebenaran."


43.Surah Az-Zukhruf (Verse 28)

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ


Dan Nabi Ibrahim menjadikan kalimah tauhid (tiada sesuatu, yang ada hanya Allah) itu tetap kekal pada keturunannya, supaya mereka kembali (kepada tauhid itu, jika ada yang menyeleweng kepada syirik).
43.Surah Az-Zukhruf (Verse 29)

بَلْ مَتَّعْتُ هَٰؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّىٰ جَاءَهُمُ الْحَقُّ وَرَسُولٌ مُّبِينٌ


(Kebanyakan mereka tidak kembali kepada tauhid (tiada sesuatu, yang ada hanya Allah) dan Aku pula tidak segerakan azab mereka) bahkan Aku memberikan mereka dan datuk nenek mereka menikmati kesenangan hidup, sehingga datanglah kepada mereka kebenaran (Al-Quran), dan seorang Rasul yang menerangkan tauhid.

98.Surah Al-Bayyinah (Verse 5)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ


Pada hal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepadaNya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mereka mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang 
demikian itulah Ugama yang benar.


43.Surah Az-Zukhruf (Verse 86)

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ


Dan segala yang mereka sembah yang lain dari Allah, tidak mempunyai sebarang kuasa untuk memberikan syafaat pertolongan, kecuali sesiapa yang memberi penerangan mengakui kebenaran dengan mentauhidkan (tiada sesuatu, yang ada hanya Allah) Allah, Tuhan Yang Sebenar-benarnya secara mereka mengetahuiNya dengan yakin (bukan dengan kata-kata orang; maka merekalah yang mungkin diizinkan memberi dan mendapat syafaat itu).

73.Surah Al-Muzzammil (Verse 8)

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا


Dan sebutlah (dengan lidah dan hati) akan nama Tuhanmu (ALLAH - terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah kepadaNya dengan sebulat-bulat tumpuan.

2.Surah Al-Baqarah (Verse 130)

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَن سَفِهَ نَفْسَهُۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَاۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ


Tidak ada orang yang membenci ugama Nabi Ibrahim selain dari orang yang membodohkan dirinya sendiri, kerana sesungguhnya Kami telah memilih Ibrahim (menjadi nabi) di dunia ini; dan sesungguhnya ia pada hari akhirat kelak tetaplah dari orang-orang yang soleh yang (tertinggi martabatnya).

47.Surah Muĥammad (Verse 29)

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَن لَّن يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ


Patutkah orang-orang (munafik) yang ada penyakit (syak, ragu-ragu) dalam 
hatinya: menyangka bahawa Allah tidak sekali-kali akan mendedahkan 
perasaan dendam dan hasad dengki mereka (terhadap Nabi Muhammad s.a.w dan umatnya)?


47.Surah Muĥammad (Verse 30)

وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْۚ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ


Dan sekiranya Kami kehendaki, tentulah Kami akan memperkenalkan mereka kepadamu (wahai Muhammad), lalu engkau tetap mengenalinya dengan tanda-tanda (yang menjadi sifat) mereka; dan demi sesungguhnya, engkau akan mengenali mereka dari gaya dan tutur katanya. Dan (ingatlah kamu masing-masing), Allah mengetahui segala yang kamu lakukan.

Rabu, 7 Mei 2014

ASMA'UL HUSNA

ASMA'UL HUSNA
Berikut adalah beberapa dalil yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Hadis tentang Asmaul Husna:
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai Asmaul Husna (nama-nama yang baik)." - (Al-Quran, Surah Thaa-Haa : 8)

Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" - (Al-Quran.Surah Al Israa': 110)
Dari Abu Huraira R.A.: Nabi saw. bersabda: "Allah itu memiliki sembilan puluh sembilan nama yang bagus. Barang siapa yang mampu menghafalnya, maka dia akan masuk syurga. Sesungguhnya Allah itu ganjil [esa] dan Dia menyukai [bilangan] yang ganjil." - Sahih Bukhari[1]
Asmaul Husna
No. Nama Arab Maksud
1 al-Rahman الرحمن Maha Pengasih
2 al-Rahim الرحيم Maha Penyayang
3 al-Malik الملك Maha Merajai/Memerintah
4 al-Quddus القدوس Maha Suci
5 al-Salam السلام Maha Memberi Kesejahteraan
6 al-Mukmin المؤمن Yang Memberi Keamanan
7 al-Muhaimin المهيمن Maha Pemelihara
8 al-Aziz العزيز Maha Gagah
9 al-Jabbar الجبار Maha Perkasa
10 al-Mutakabbir المتكبر Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11 al-Khaliq الخالق Maha Pencipta
12 al-Barik البارئ Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13 al-Musawwir المصور Yang Membentuk Rupa (makhluknya)
14 al-Ghaffar الغفار Maha Pengampun
15 al-Qahhar القهار Yang Memaksa
16 al-Wahhab الوهاب Maha Pemberi Kurnia
17 al-Razzaq الرزاق Maha Pemberi Rejeki
18 al-Fattah الفتاح Maha Pembuka Rahmat
19 al-Alim العليم Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20 al-Qabid القابض Yang Menyempitkan (makhluknya)
21 al-Basit الباسط Yang Melapangkan (makhluknya)
22 al-Khafid الخافض Yang Merendahkan (makhluknya)
23 al-Rafik الرافع Yang Meninggikan (makhluknya)
24 al-Muiz المعز Yang Memuliakan (makhluknya)
25 al-Muzil المذل Yang Menghinakan (makhluknya)
26 al-Samik السميع Maha Mendengar
27 al-Basir البصير Maha Melihat
28 al-Hakam الحكم Maha Menetapkan
29 al-Adl العدل Maha Adil
30 al-Latif اللطيف Maha Lembut
31 al-Khabir الخبير Maha Mengetahui Rahasia
32 al-Halim الحليم Maha Penyantun
33 al-Azim العظيم Maha Agung
34 al-Ghafur الغفور Maha Pengampun
35 al-Syakur الشكور Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36 al-Ali العلى Maha Tinggi
37 al-Kabir الكبير Maha Besar
38 al-Hafiz الحفيظ Maha Menjaga
39 al-Muqit المقيت Maha Pemberi Kecukupan
40 al-Hasib الحسيب Maha Membuat Perhitungan
41 al-Jalil الجليل Maha Mulia
42 al-Karim الكريم Maha Pemurah
43 al-Raqib الرقيب Maha Mengawasi
44 al-Mujib المجيب Maha Mengabulkan
45 al-Wasik الواسع Maha Luas
46 al-Hakim الحكيم Maka Bijaksana
47 al-Wadud الودود Maha Pencinta
48 al-Majid المجيد Maha Mulia
49 al-Bais الباعث Maha Membangkitkan
50 al-Syahid الشهيد Maha Menyaksikan
51 al-Haq الحق Maha Benar
52 al-Wakil الوكيل Maha Memelihara
53 al-Qawi القوى Maha Kuat
54 al-Matin المتين Maha Teguh
55 al-Wali الولى Maha Melindungi
56 al-Hamid الحميد Maha Terpuji
57 al Muhsi المحصى Maha Menghitung
58 al-Mubdik المبدئ Maha Memulai
59 al-Muid المعيد Maha Mengembalikan Kehidupan
60 al-Muhyi المحيى Maha Menghidupkan
61 al-Mumit المميت Maha Mematikan
62 al-Hai الحي Maha Hidup
63 al-Qayyum القيوم Maha Mandiri
64 al-Wajid الواجد Maha Penemu
65 al-Majid الماجد Maha Mulia
66 al-Wahid الواحد Maha Esa
67 al-Ahad الاحد Maha Esa
68 al-Samad الصمد Tempat Meminta
69 al-Qadir القادر Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70 al-Muqtadir المقتدر Maha Berkuasa
71 al-Muqaddim المقدم Maha Mendahulukan
72 al-Muakhir المؤخر Maha Mengakhirkan
73 al-Awwal الأول Maha Awal
74 al-Akhir الأخر Maha Akhir
75 al-Zahir الظاهر Maha Nyata
76 al-Batin الباطن Maha Ghaib
77 al-Wali الوالي Maha Memerintah
78 al-Mutaali المتعالي Maha Tinggi
79 al-Bar البر Maha Penderma
80 al-Tawwab التواب Maha Penerima Taubat
81 al-Muntaqim المنتقم Maha Penyiksa
82 al-Afu العفو Maha Pemaaf
83 al-Rauf الرؤوف Maha Pengasih
84 Malik al-Mulk مالك الملك Penguasa Kerajaan (Semesta)
85 Zu al-Jalal wa al-Ikram ذو الجلال و الإكرام Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86 al-Muqsit المقسط Maha Adil 87 al-Jamik الجامع Maha Mengumpulkan
88 al-Ghani الغنى Maha Berkecukupan
89 al-Mughni المغنى Maha Memberi Kekayaan
90 al-Manik المانع Maha Mencegah
91 al-Dar الضار Maha Memberi Derita
92 al-Nafik النافع Maha Memberi Manfaat
93 al-Nur النور Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94 al-Hadi الهادئ Maha Pemberi Petunjuk 95 al-Badik البديع Maha Pencipta
96 al-Baqi الباقي Maha Kekal
97 al-Waris الوارث Maha Pewaris
98 al-Rasyid الرشيد Maha Pandai
99 al-Sabur الصبور Maha Sabar

HAKIKAT ASMA' (NAMA-NAMA ALLAH S.W.T)
Ke mana sahaja kamu hadapkan muka kamu di situ Wajah Allah. ( Ayat 115 : Surah al-Baqarah )
Di dalam Perbendaharaan-Nya Yang Tersembunyi, ke mana sahaja di halakan pandangan hanya Wajah-Nya yang kelihatan. Wajah-Nya disaksikan sebagai:
Wajah-Nya menyata melalui sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Wajah-Nya disaksikan melalui Jamal-Nya dan Jalal-Nya. Wajah Jamal-Nya menyata melalui nama-nama: ar-Rauf, al-Wadud, al-Halim, al-Karim, al'Afuwwu, al-Ghaffar, al-Mannan, al-Hannan, as-Sobbur, asy-Syakur dan ar-Razak. Wajah Jalal-Nya menyata melalui Nama-nama: al-Jabbar, al-Muntaqim, al-‘Aziz, al-Muta'al, al-Mutakabbir, al-Muhaimin, al-Jalil, al-‘Adzim, al-Kabir, al-Mu'iz, al-Qabidh dan al-Khafidh. Nama-nama Tuhan ada yang menunjukkan kepada sifat dan ada yang menunjukkan kepada Zat. Aspek Zat yang boleh disifatkan dipanggil tasybih dan yang tidak boleh disifatkan dipanggil tanzih. Kesempurnaan jiwa hamba adalah berada di antara kedua-dua aspek tersebut:
Tiada sesuatupun yang sebanding dengan-Nya dan Dia Mendengar dan Melihat (Ayat 11 : Surah asy-Syura )
Walaupun Dia tidak serupa dengan sesuatu tetapi Dia adalah Mendengar dan Melihat. Allah s.w.t menyatukan kedua-dua aspek tersebut pada satu ayat. Bila kedua-dua aspek tersebut menyatu pada jiwa si hamba dia akan merasakan ketenteraman dan kedamaian.
Ada nama-nama-Nya yang kelihatan sebagai berlawanan di antara satu dengan yang lain. Al-Hayyun menghidupkan dan al-Mumit mematikan. Al-Hadi memberi petunjuk dan al-Muzil menyesatkan. Kelihatan seolah-olah ada perlumbaan di antara nama-nama yang berlawanan sifat. Muncullah as-Salam yang mensejahterakan sehingga tidak berlaku perlumbaan atau perlawanan. Sekaliannya berada dalam kesejahteraan, mengambil bidang masing-masing tanpa mengganggu bidang yang lain. Percantuman dua perkara yang berbeza melahirkan pengenalan yang sebenarnya.
Dia Yang Awal dan Dia juga Yang Akhir, Dia Yang Zahir dan Dia juga Yang Batin. ( Ayat 3 : Surah al-Hadiid )
As-Salam yang mensejahterakan membawa setiap nama kepada ketetapan bidang tugas masing-masing. Bila sekaliannya berada dalam ketetapan as-Samad melengkungi sekaliannya. As-Samad menjadi sempadan bagi satu nama dan juga sempadan bagi sekalian nama-nama. Kesemua nama-nama dikemudikan oleh al-Wahid, memperkenalkan Wahdaniatik, keesaan Tuhan. Al-Wahid memimpin sekalian nama-nama bagi memperkenalkan al-Ahad. Penyaksian terhadap Wahdaniatik Tuhan membawa pengakuan terhadap kedudukan-Nya sebagai al-Malik, Raja yang memerintah dan juga al-Malik-ul-Mulk, Raja kepada segala kerajaan, dan juga Rabbul Arbab, Tuhan yang menguasai sekalian bakat-bakat ketuhanan. Kesemuanya menceritakan yang satu iaitu ALLAH! ALLAH adalah nama yang paling agung yang mengandungi dan menyimpulkan sekalian nama-nama yang lain. ALLAHmenunjukkan terkumpulnya sekalian nama-nama dan ALLAH adalah juga nama bagi Zat.
Sesungguhnya ALLAH menguasai segala sesuatu ( Ayat 20 : Surah al-Baqarah )ALLAH yang memegang semua kekuasaan menetapkan:
Tidak ada satu pun yang melata melainkan Dia yang menguasai ubun-ubunnya. Dan Tuhanku adalah di atas jalan yang lurus. ( Ayat 56 : Surah Hud )
Allah s.w.t menetapkan nama-nama-Nya menjadi hakikat-hakikat yang menguasai sekalian kejadian-Nya. Setiap yang maujud ubun-ubunnya dipegang oleh nama Tuhan dan nama Tuhan yang menjadi hakikat itu mengheret makhluk yang di bawah bidang kekuasaan-Nya pada jalan yang Allah s.w.t telah tentukan. Tidak ada satu makhluk pun boleh bebas daripada nama Tuhan yang menjadi hakikat yang menguasainya. Nama al-Hadi membimbing seseorang kepada jalan yang benar. Semua guru-guru merupakan ‘cermin' tempat zahirnya kesan kekuasaan al-Hadi. Sesiapa sahaja yang mendapat bimbingan kepada jalan yang lurus dan sesiapa sahaja yang membimbingnya, pada hakikatnya al-Hadi yang memberi bimbingan. Al-Muzil mempunyai kekuatan untuk menyesatkan dan kekuatan ini terzahir pada makhluk-Nya yang bernama iblis. Sekalipun kelihatan iblis yang menyesatkan manusia tetapi iblis bukan berdiri dengan sendiri. Iblis tidak mempunyai sebarang kekuasaan. Allah s.w.t mengizinkan iblis menumpang kekuasaan al-Muzil. Oleh kerana iblis menumpang kekuasaan nama Tuhan maka tidak ada kekuasaan makhluk dapat mengalahkannya. Hanya satu sahaja kekuasaan yang mampu mengatasinya, iaitulah kekuasaan ALLAH yang menguasai segala kekuasaan. Lantaran itu Dia mengajarkan:
Daku berlindung kepada ALLAH dari syaitan yang direjamSegala kekuasaan tunduk kepada kekuasaan ALLAH. Allah yang memiliki segala kekuasaan itu menetapkan:
Barangsiapa dibimbing oleh Allah pada jalan yang benar, engkau tidak dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, engkau tidak dapat membimbingnya kepada jalan yang benar. ( Maksud Hadis )
Manusia hanya ada satu pilihan sahaja iaitu tunduk menyerah kepada Allah s.w.t. Penyerahan kepada Allah s.w.t merupakan kekuatan maksima yang tidak terkalahkan oleh kekuatan yang lain.
Oleh kerana nama-nama Tuhan menjadi hakikat yang menguasai segala sesuatu, maka tidak ada makhluk yang dapat mengubah perjalanan hakikat yang menguasainya. Unta tidak boleh meminta menjadi matahari. Bulan tidak boleh meminta menjadi bumi. Gunung tidak boleh meminta menjadi langit. Malaikat tidak boleh meminta menjadi manusia. Manusia tidak boleh meminta menjadi Tuhan. Setiap sesuatu dikawal oleh hakikat masing-masing. Dalam aspek ini setiap kejadian Tuhan tidak mempunyai pilihan. Mereka adalah hamba yang terikat. Sebagai satu kejadian yang dikawal oleh satu hakikat ia bebas bergerak di dalam sempadan hakikatnya. Oleh kerana nama Tuhan menjadi hakikat maka makhluk memperolehi bakat-bakat yang berkuasa melahirkan kesan. Hakikat yang menguasai manusia adalah hakikat yang paling lengkap dan sempurna. Tidak ada yang dapat mengatasi apa yang ada dengan manusia. Keistimewaan hakikat yang menguasai manusia menyebabkan di dalam sempadan kemanusiaan, manusia bebas melahirkan fikiran, perbuatan, kehendak dan pilihan. Dalam aspek ini manusia adalah hamba yang merdeka.
Hakikat yang menguasai makhluk itulah yang menyebabkan makhluk mendapat nikmat penciptaan dan nikmat kesinambungan kewujudan. Hakikat menjadi pemangkin atau hijab yang mempertahankan apa yang Tuhan ciptakan. Hubungan wujud makhluk dengan Wujud hakikat adalah perkaitan mumkinul wujud dengan Wajibul Wujud. Wujud hakikat adalah wujud ketuhanan, wujud pemerintah atau pentadbiran ketuhanan. Wujud makhluk adalah wujud yang diperintah, wujud yang menumpang, yang bergantung, berhajat dan berharap kepada wujud yang memerintah.
Hakikat bukanlah makhluk. Ia adalah suasana pentadbiran Tuhan. Qadak dan Qadar yang ditentukan Tuhan adalah di dalam sempadan hakikat yang daripada suasana tersebut berlakulah takdir. Takdir tidak menyimpang daripada hakikat yang menguasainya. Setiap makhluk di heret oleh hakikat yang menguasainya. Sesiapa yang berhakikatkan hakikat kenabian akan menjadi nabi. Sesiapa yang berhakikatkan hakikat kewalian akan menjadi wali. Sesiapa yang berhakikatkan Hakikat Manusia akan menjadi manusia.
Tiada perubahan dalam kalimat Allah itu. ( Ayat 64 : Surah Yunus )
Orang yang mengenal dirinya sebenarnya mengenali hakikat yang menguasai dirinya, iaitu suasana ketuhanan yang menguasai kewujudan dan penghidupannya. Mengetahui hakikat ketuhanan yang menguasai diri tidak menjadikan diri itu Tuhan. Tuhan tetap Tuhan tidak berubah menjadi hamba. Hakikat ketuhanan adalah pemerintah dan hamba pula adalah makhluk yang diperintah. Diri tetap berada pada taraf kehambaan walaupun mengenali hakikat ketuhanan.
Diri yang menetap pada kedudukan kehambaan dengan menyerah sepenuhnya kepada pemerintah itulah sebenarnya wali Tuhan. Wali Tuhan pada peringkat ini menetap pada makam kehambaan dengan menyaksikan Rububiah pada setiap ketika dan dalam semua suasana.