Pages

Memaparkan catatan dengan label tuhan. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label tuhan. Papar semua catatan

Ahad, 7 Oktober 2018

Mempertanyakan Kembali Syahadat Kita

Mempertanyakan Kembali Syahadat Kita

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.
(QS. Al-Ikhlas 1-4)

Kalimat Ahadun Ahad, membuat saya terkenang dengan sosok Bilal bin Rabah, seorang budak milik kafir Quraisy Ummayah bin Khalaf, yang akhirnya dibeli oleh Abu Bakar As-Shiddiq dan dibebaskan.

Bilal, berdasarkan sejarah Islam, disiksa oleh tuannya agar kembali pada agama nenek moyangnya, agar kembali menyembah berhala.

Siksaan yang diterima Bilal tidak main-main: dicambuk, dipukul, bahkan ditindih oleh batu besar! Laa haula walaa quwwata illa billaah, bila Anda menggantikan tempat Bilal, akan sangat mungkin Anda langsung mati.

Tidak herankah Anda apa yang membuat Bilal begitu kuat menghadapinya? Bilal diberi makan dan minum oleh tuannya hanya agar memastikan dia tidak mati sebelum kafir kembali.

Mental, ya, kekuatan mental Bilal sangat kuat, jauh lebih kuat dari mental tuannya sendiri, Umayyah, yang bahkan malu ketika ditertawakan orang-orang karena tidak bisa membuat budaknya sendiri kembali kafir. Ada sesuatu yang benar-benar membuat orang-orang Arab saat itu heran, apa sih yang membuat Bilal begitu tabah?

Bilal hanya berkata ‘Ahad! Ahad! Ahad!’ saat disiksa tuannya, inilah dia jawabannya, Bilal hanya sudi mengakui Allah sajalah sebagai illah yang berhak disembah.

Dengan mengikrarkan syahadat, asyhadu allaa ilaaha illallaah wa asyhadu anna muhammadurrasulullaah, Bilal tahu konsekuensi dari syahadatnya, yaitu mengesakan Allah, dan memperakui  Muhammad sebagai pesuruh Allah.

Nah, dari sini kita bisa merenungkan, apakah kita sudah bersyahadat? Apakah kita sudah memahami dengan benar makna syahadat?

Siapkah dan sudahkah kita melakukan konsekuensinya? Oleh karena itu, mari, kita ulas bersama-sama kalimat syahadat yang selama ini kita lafazkan dalam sholat.

Laailaaha illallaah, secara tidak tepat sering diterjemahkan sebagai ‘tiada Tuhan selain Allah’, makna ini bisa jadi berbahaya.

Menjadi berbahaya sebab dapat merubah makna dalam lafadz bahasa Arab yang asli. Terjemahan kalimat tersebut perlu dibuat lebih spesifik lagi agar tidak menimbulkan penafsiran ganda.

Untuk melihat pemaknaan akibat terjemahan yang kurang tepat, mari ambil contoh kalimat berikut ini, “tidak ada kucing melainkan pasti berkumis”, makna kalimat tersebut adalah semua kucing pasti berkumis.

Nah, jika makna ‘tiada Tuhan selain Allah’ ditafsirkan dengan cara seperti ini, maka makna yang muncul adalah tidak ada Tuhan melainkan itu pasti Allah.

Pemaknaan ini justru sangat jauh dengan maksud mengesakan Allah, justru, pada pemaknaan seperti ini tersirat bahwa Allah SWT adalah segala sesuatu yang dianggap Tuhan, jika batu, bulan, atau berhala saya anggap Tuhan, maka itulah Allah. Saya tekankan sekali lagi bahwa pemaknaan dengan cara seperti ini adalah salah.

Makna yang lebih tepat adalah ‘Tiada illah yang berhak disembah kecuali Allah’, dari sini muncul kata illah yang perlu dipertajam makna agar tidak menimbulkan penafsiran berbeda.

Kata illah secara bahasa memang berarti ‘Tuhan’, namun apa yang dimaksud dengan Tuhan? Apakah syaratnya sesuatu itu dikatakan Tuhan?

Agar sesuatu dapat dikatakan tuhan, maka setidaknya ada beberapa keadaan yang mesti terpenuhi yaitu
1) dianggap mampu memperkenankan do’a ketika diseru;
2) menjadi tempat bergantung dan berlindung;
3) dicintai dan diikuti. Al-Qur’an sendiri juga memberikan contoh illah-illah selain Allah.

a) Hawa Nafsu.
Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai illah-nya (QS. Al-Furqon: 43)

b) Orang shaleh di masa lampau.
Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai illah selain Allah
(QS. At-Taubah: 31).

Makna illah selain Allah itu tidak sempit, tidak terbatas pada berhala saja, sebagaimana yang kebanyakan masyarakat kita saat ini pahami.

Ketika sesuatu sudah Anda cintai atau diikuti perkataanya, Anda berani melakukan apapun untuk sesuatu tersebut, maka berhati-hatilah, bisa jadi Anda tidak sempurna dalam mengesakan Allah. Sesuatu itu bisa jadi uang, jabatan, atau pasangan.

Jika selama kita masih mengakui illah selain Allah, maka kita tidak paham makna syahadat. Dengan begitu, keislaman kita masih dipertanyakan.

Rabu, 31 Mei 2017

Sesungguhnya Tuhan kamu hanya Allah

BAHAYA MEMPERKATAKAN TUHAN BUKAN ALLAH... DAN ALLAH BUKAN TUHAN KERANA TUHAN BANYAK, ALLAH HANYA SATU..

BAGI KITA UNTUK BERPEGANG DENGAN PEGANGAN YANG SELAMAT BILA DISEBUT TUHAN HANYA TERTUJU HANYA KEPADA ALLAH TUHAN YANG ESA SAHAJA..

SELAIN DARIPADA ALLAH BUKANLAH TUHAN

20.Surah Ţāhā (Verse 98)

"Sesungguhnya Tuhan kamu hanya Allah, yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang meliputi pengetahuanNya akan tiap-tiap sesuatu".

16.Surah An-Naĥl (Verse 51)

Dan Allah berfirman: "Janganlah kamu bertuhankan dua tuhan, kerana  sesungguhnya Tuhan itu hanyalah Tuhan yang satu; maka kepada Akulah sahaja hendaknya kamu gerun gementar.

37.Surah Aş-Şāffāt (Verse 87)

"Maka bagaimana fikiran kamu pula terhadap Allah Tuhan sekalian alam?"

56.Surah Al-Wāqi`ah (Verse 80)

Al-Quran itu diturunkan dari Allah Tuhan sekalian alam.

69.Surah Al-Ĥāqqah (Verse 43)

(Al-Quran itu) diturunkan dari Allah Tuhan sekalian alam.

JANGAN ADAKAN TUHAN YANG LAIN BERSAMA ALLAH..

6.Surah Al-'An`ām (Verse 19)

Bertanyalah (wahai Muhammad): "Apakah sesuatu yang lebih besar persaksiannya?"

(Bagi menjawabnya) katakanlah: "Allah menjadi Saksi antaraku dengan  kamu, dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini, supaya aku memberi amaran dengannya kepada kamu dan juga (kepada) sesiapa yang telah sampai kepadanya seruan Al-Quran itu. Adakah kamu sungguh-sungguh mengakui bahawa ada beberapa tuhan yang lain bersama-sama Allah?" Katakanlah:

"Aku tidak mengakuinya". Katakanlah lagi: "Hanyasanya Dia lah sahaja Tuhan Yang Maha Esa, dan sesungguhnya aku adalah berlepas diri apa yang kamu sekutukan (dengan Allah Azza Wa Jalla)".

15.Surah Al-Ĥijr (Verse 96)

(Iaitu) mereka yang mengadakan tuhan yang lain bersama-sama Allah, maka mereka akan mengetahui kelak (akibatnya).

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 22)

Janganlah engkau adakan tuhan yang lain bersama Allah (dalam ibadatmu), kerana akibatnya engkau akan tinggal dalam keadaan tercela dan kecewa dari mendapat pertolongan.

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 41)

Dan sesungguhnya Kami telah menerangkan jalan-jalan menetapkan iktiqad dan tauhid dengan berbagai cara di dalam Al-Quran ini supaya mereka beringat (memahami dan mematuhi kebenaran); dalam pada itu, penerangan yang berbagai cara itu tidak menjadikan mereka melainkan bertambah liar.

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 42)

Katakanlah (wahai Muhammad): "Kalaulah ada tuhan-tuhan yang lain bersama-sama Allah, sebagaimana yang mereka katakan itu, tentulah tuhan-tuhan itu akan mencari jalan kepada Allah yang mempunyai Arasy (dan kekuasaan yang mutlak).

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 43)

Maha Sucilah Allah dan tertinggilah Ia setinggi-tingginya, jauh dari apa yang mereka katakan itu.

17.Surah Al-'Isrā' (Verse 44)

Langit yang tujuh dan bumi serta sekalian makhluk yang ada padanya, sentiasa mengucap tasbih bagi Allah; dan tiada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memujiNya; akan tetapi kamu tidak faham akan tasbih mereka. Sesungguhnya Ia adalah Maha Penyabar, lagi Maha Pengampun.

21.Surah Al-'Anbyā' (Verse 21)

Adakah benda-benda dari bumi yang mereka jadikan tuhan-tuhan itu, dapat menghidupkan semula sesuatu yang mati?

21.Surah Al-'Anbyā' (Verse 22)

Kalau ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan yang lain dari Allah, nescaya rosaklah pentadbiran kedua-duanya. Maka (bertauhidlah kamu kepada Allah dengan menegaskan): Maha Suci Allah, Tuhan yang mempunyai Arasy, dari apa yang mereka sifatkan.

26.Surah Ash-Shu`arā' (Verse 213)

Maka janganlah engkau (wahai Muhammad) menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah, akibatnya engkau akan menjadi dari golongan yang dikenakan azab seksa.

36.Surah Yā-Sīn (Verse 23)

"Patutkah aku menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah? (Sudah tentu tidak patut, kerana) jika Allah yang Maha Pemurah hendak menimpakan daku dengan sesuatu bahaya, mereka tidak dapat memberikan sebarang syafaat kepadaku, dan mereka juga tidak dapat menyelamatkan daku.

36.Surah Yā-Sīn (Verse 24)

"Sesungguhnya aku (kalau melakukan syirik) tentulah aku pada ketika itu berada dalam kesesatan yang nyata.

36.Surah Yā-Sīn (Verse 74)

Dan tergamak mereka menyembah beberapa tuhan yang lain dari Allah, (dengan harapan semoga mereka mendapat pertolongan (dari makhluk-makhluk itu).

37.Surah Aş-Şāffāt (Verse 86)

"Patutkah kamu menyembah tuhan-tuhan yang lain dari Allah, kerana kamu memutar belitkan kebenaran semata-mata (bukan kerana benarnya)?

37.Surah Aş-Şāffāt (Verse 87)

"Maka bagaimana fikiran kamu pula terhadap Allah Tuhan sekalian alam?"

51.Surah Adh-Dhāriyāt (Verse 50)

(Katakanlah wahai Muhammad kepada mereka): "Maka segeralah kamu kembali kepada Allah (dengan bertaubat dan taat), sesungguhnya aku diutuskan Allah kepada kamu, sebagai pemberi amaran yang nyata.

51.Surah Adh-Dhāriyāt (Verse 51)

"Dan janganlah kamu adakan tuhan yang lain bersama Allah (dalam kepercayaan kamu), sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepada kamu sebagai pemberi amaran yang nyata".

TIADA TUHAN YANG LAIN LAGI SELAIN DARI ALLAH,

YANG DIANGGAP TUHAN OLEH ORANG-ORANG LAIN ITU SEBENARNYA BUKAN TUHAN..

BILA KITA BERPEGANG YANG DIANGGAP TUHAN OLEH ORANG KAFIR ITU ADALAH TUHAN MEREKA, INI MEMBAWA MAKNA KITA TURUT MENGAKUI TUHAN YANG LAIN SELAIN DARIPADA ALLAH..

APA YANG MESTI KITA BERPEGANG IALAH ALLAH ADALAH TUHAN BAGI KESELURUHAN ALAM, TUHAN BAGI ORANG ISLAM DAN TUHAN BAGI ORANG-ORANG KAFIR.

APA YANG MEREKA ANGGAP SEBAGAI TUHAN SELAIN DARIPADA ALLAH, ITU BUKAN TUHAN, CUMA MEREKA SAHAJA YANG MENGANGGAP SEBAGAI TUHAN. APA YANG MEREKA SAGKA SEBAGAI TUHAN ITU BUKAN TUHAN..

YANG WAJIB DIPANGGIL  TUHAN HANYA ALLAH YANG MAHA ESA SAHAJA ...

JANGANLAH KITA NAK MENYUSAHKAN DIRI SENDIRI BERMAIN DENGAN ISTILAH-ISTILAH LAIN YANG MENGATAKAN ALLAH BUKAN TUHAN DAN TUHAN BUKAN ALLAH..

BIARLAH PEGANGAN KITA PUTUS DENGAN SATU PEGANGAN YANG PUTUS DAN TAHKIT BILA DISEBUT TUHAN ITU TERTUJU HANYA KEPADA ALLAH YANG MAHA ESA SAHAJA..

TIDAK ADA LAGI YANG LAIN YANG BOLEH DIDUDUKKAN SEBAGAI TUHAN, TIDAK ADA DUA, TIDAK ADA BERBILANG TUHAN, HANYA SATU TUHAN SAHAJA IAITU ALLAH... TUHAN YANG MAHA ESA..

BILA DISEBUT TUHAN ITULAH ALLAH.  TIDAK ADA LAGI TUHAN YANG LAIN SELAIN DARIPADA ALLAH...

JIKA KITA IKUT MENGATAKAN BAHAWA YANG DIANGGAP TUHAN OLEH ORANG KAFIR ITU ADALAH TUHAN MEREKA SECARA TIDAK DISEDARI KITA JUGA IKUT MENGAKUI BAHAWA ADA TUHAN LAIN UNTUK ORANG KAFIR..

YANG ORANG KAFIR ANGGAP SEBAGAI TUHAN MEREKA ITU SRBENARNYA BUKAN TUHAN TETAPI TELAH DIJADIKAN TUHAN OLEH MEREKA.. KITA TETAP BERPEGANG BAHAWA TUHAN ORANG KAFIR ADALAH ALLAH YANG MAHA ESA SAHAJA, TIDAK ADA TUHAN YANG LAIN UNTUK MEREKA, YANG MEREKA ANGGAP TUHAN MEREKA, ITU BUKAN TUHAN MEREKA, TUHAN MEREKA JUGA IALAH ALLAH YANG MAHA ESA....

2.Surah Al-Baqarah (Verse 139)

Katakanlah (wahai Muhammad): "Patutkah kamu (hai kaum Yahudi dan Nasrani) membuat bantahan terhadap kami mengenai pilihan Allah dan pengurniaanNya ? Padahal Dia lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami (faedah) amal kami dan bagi kamu pula (faedah) amal kamu (kalau diikhlaskan), dan kami adalah (mengerjakan amal dengan) ikhlas kepadaNya;

12.Surah Yūsuf (Verse 40)

Apa yang kamu sembah, yang lain dari Allah, hanyalah nama-nama yang kamu menamakannya, kamu dan datuk nenek kamu, Allah tidak pernah menurunkan sebarang bukti yang membenarkannya. Sebenarnya hukum (yang menentukan amal ibadat) hanyalah bagi Allah. Ia memerintahkan supaya kamu jangan menyembah melainkan Dia. Yang demikian itulah Ugama yang betul, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Rabu, 1 Jun 2016

SIAPAKAH TUHAN KAMU ?

SIAPAKAH TUHAN KAMU ?

20.Surah Ţāhā (Verse 49)
قَالَ فَمَن رَّبُّكُمَا يَا مُوسَىٰ

(Setelah mereka menyampaikan perintah Allah itu), Firaun berkata: "Jika demikian, siapakah Tuhan kamu berdua, hai Musa?"

20.Surah Ţāhā (Verse 50)
قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ

Nabi Musa menjawab: "Tuhan kami ialah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu: kejadian semulajadinya yang sesuai dengannya, kemudian Ia memberi petunjuk kepadanya akan cara menggunakannya".

20.Surah Ţāhā (Verse 51)
قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ

Firaun bertanya lagi: "Jika demikian, bagaimana pula keadaan kaum-kaum yang telah lalu?"

20.Surah Ţāhā (Verse 52)
قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

Nabi Musa menjawab: "Pengetahuan mengenainya ada di sisi Tuhanku, tertulis di dalam sebuah Kitab; Tuhanku tidak pernah keliru dan Ia juga tidak pernah lupa".

6.Surah Al-'An`ām (Verse 46)
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ اللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَارَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ قُلُوبِكُم مَّنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُم بِهِۗ انظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad): "Bagaimana fikiran kamu, jika Allah melenyapkan pendengaran serta penglihatan kamu, dan Ia pula memeteraikan atas hati kamu? Siapakah Tuhan selain Allah yang berkuasa mengembalikannya kepada kamu?" Lihatlah bagaimana Kami berulang-ulang menerangkan tanda-tanda kebesaran Kami (dengan berbagai cara), dalam pada itu, mereka tetap juga berpaling - ingkar.

13.Surah Ar-Ra`d (Verse 16)
قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّاۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِي الظُّلُمَاتُ وَالنُّورُۗ أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Bertanyalah (wahai Muhammad): "Siapakah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan langit dan bumi?" Jawablah: "Allah". Bertanyalah lagi: "Kalau demikian, patutkah kamu menjadikan benda-benda yang lain dari Allah sebagai Pelindung dan Penolong, yang tidak dapat mendatangkan sebarang manfaat bagi dirinya sendiri, dan tidak dapat menolak sesuatu bahaya?"

Bertanyalah lagi: "Adakah sama, orang yang buta dengan orang yang celik? Atau adakah sama, gelap-gelita dengan terang? Atau adakah makhluk-makhluk yang mereka jadikan sekutu bagi Allah itu telah mencipta sesuatu seperti ciptaanNya, sehingga ciptaan-ciptaan itu menjadi kesamaran kepada mereka?" Katakanlah: "Allah jualah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu, dan Dia lah Yang Maha Esa, lagi Maha Kuasa".

Khamis, 3 Julai 2014

MAKNA SYAHADATAIN

MAKNA SYAHADATAIN, JANGAN SEBUT ALLAH DENGAN KATA "TUHAN", 
SEBUTLAH DENGAN "ILAAH", "ROBB" & "ASMAUL HUSNA"
Sebutlah ALLAH dengan ILAAH, ROBB dan ASMAUL HUSNA-Nya. Jangan menyebut Allah dengan panggilan "TUHAN". Kata "TUHAN" berasal dari bahasa Sanskerta, "TU" artinya kepala, "HAN" artinya dewa-dewa atau berhala-berhala atau makhluk ghaib bangsa lelembut, jadi "TUHAN" artinya kepala dewa-dewa atau kepala berhala-berhala atau kepala makhluk ghaib bangsa lelembut. 
Jika kita bertanya kepada umat Islam dan mukmin, apakah Allah itu kepala dewa-dewa atau kepala berhala-berhala? jawabannya adalah "TIDAK". SUBHANALLAAHI 'AMMA YUSYRIKUUN (Mahasuci ALLAH dari apa yang telah mereka persekutukan). Allah adalah Robbuna, pengatur alam semesta, Allahu Ilaahuna yang disembah....
Jadi berhentilah menyebut Allah dengan sebutan "TUHAN", karena kata ini tidak layak untuk menyebut nama ALLAH. Maka jika kita menerjemahkan " LAA ILAAHA ILLALLAH" artinya "TIDAK ADA ILAAH KECUALI ALLAH", Jangan diterjemahkan "Tiada tuhan kecuali Allah". 
(Syekh As-Sayyid B.A. Al-Muhajir Ilalalah,1923-1926, Dalam Tafsir Syahadatain; H.O.S. Tjokroaminoto, Dalam Tafsir Makna Syahadatain, 1927)

Khamis, 12 Jun 2014

JANGAN JADIKAN NAFSU SEBAGAI TUHAN



JANGAN JADIKAN NAFSU SEBAGAI TUHAN
25.Surah Al-Furqān (Verse 43)
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا


Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: 
tuhan yang dipuja lagi ditaati? Maka dapatkah engkau menjadi pengawas yang menjaganya jangan sesat?


Disini kita kena mengambil faham apakah sebenarnya yang kita selalu sebutkan sebagai nafsu?

Nafsu ialah merasa keujudan diri kita iaitu kita merasa kita ini ada ( kita mengaku yang kita ini ada - selalu disebut dengan keakuan diri kita)

Bermula dengan mengaku diri kita ada, maka segala sifat ketuhanan yang lain yang ditajallikan atau yang ditunjukkan melalui diri kita sebagai tanda kewujudan, sebagai tanda kekuasaan Allah, sebagai ayat-ayat yang sedang menerangkan kewujudan dan kekuasaan Allah akan dirasai oleh keakuan diri kita sebagai milik kita sendiri,
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 3)
إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ


Sesungguhnya pada langit dan bumi terdapat tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 4)
وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِن دَابَّةٍ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ


Dan pada kejadian diri kamu sendiri, serta (pada kejadian) segala binatang yang dibiakkanNya, terdapat juga tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang meyakininya.
45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 5)
وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ


Dan (pada) pertukaran malam dan siang silih berganti, dan juga (pada) rezeki yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin, (semuanya itu mengandungi) tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, serta keluasan rahmatNya) bagi kaum yang mahu menggunakan akal fikiran.


45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 6)
تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ


Itulah ayat-ayat penerangan Allah yang kami bacakan kepadamu (wahai Muhammad) kerana menegakkan kebenaran; maka dengan perkataan yang manakah lagi mereka hendak beriman, sesudah penerangan Allah dan tanda-tanda kekuasaanNya (mereka tidak mahu memahami dan menelitinya)?

Bermula dari kita mengaku dan berasa kita ada (walaupun kita tahu yang ada hanya Allah tetapi kita rasa kita ada, inilah keakuan diri, keadaan inilah yang dikatakan nafsu iaitu kita mengaku dan berasa kita ada)

Sedangkan ada yang kita sedang rasa itu sebenarnya adalah ayat atau tanda-tanda yang Allah sedang menerangkan atau dengan kata lain Allah sedang menunjuk atau menampakkan wujud Dia..

Tetapi kita yang salah membuat pengakuan, kita tidak mengaku ada itu ada Allah tetapi kita mengaku ada itu ada kita.. Keakuan inilah merupakan keakuan diri yang dipanggil sebagai hawa nafsu...

Untuk terus memperkenal kan diriNya, sifatNya, asma'Nya dan perbuatanNya, Allah akan menunjukkan segala sifatNya melalui wujudnya tadi, oleh kerana kita telah mengaku wujud Allah sebagai ujud kita, secara automatik kita akan merasai segala sifat-sifat Allah yang Allah tunjukkan itu menjadi sifat kita.....

Bermula dengan mengaku segala sifat Allah yang sedang ditunjukkan sebagai untuk memperkenalkan dirinya adalah sifat kita, akan timbullah segala macam sifat mazmumah... (Seperti bangga diri, hasad dengki, mengadu domba, rasa tidak berpuas hati, dan lain-lain lagi)..

Oleh yang demikian kita disyorkan supaya tidak di ikut sertakan hawa nafsu didalam setiap amalan soleh kita...

Maksudnya kita tidak boleh mengaku segala sifat-sifat Allah yang sedang ditunjukkan samada pada badan diri , atau pada keseluruhan alam sebagai sifat kita sendiri atau sifat selain dari Allah...

Kita kena mengaku bahawa segala sifat-sifat Allah itu adalah sifat Allah, selagi kita tidak mengaku segala sifat-sifat Allah itu adalah sifat Allah, selagi itu kita rasa memiliki sifat-sifat Allah itu sebagai sifat kita sendiri...

Selagi kita belum berani mengaku segala sifat Allah yang sedang ditunjukkan oleh Allah dan dinikmati dan dirasai oleh badan diri kita selagi itu kita akan bertuhankan kepada hawa nafsu (keakuan diri), tidak bertuhan kepada Allah.

30.Surah Ar-Rūm (Verse 29)
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّاصِرِينَ


Orang-orang yang zalim itu (tidak berfikir), bahkan menurut hawa nafsu mereka (melakukan syirik) dengan tidak berdasarkan pengetahuan. Maka tiada sesiapa yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan oleh Allah (disebabkan bawaannya sendiri), dan tiada pula bagi mereka sesiapa yang dapat menolong melepaskan mereka dari azab.

45.Surah Al-Jāthiyah (Verse 23)
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ


Dengan yang demikian, bagaimana fikiranmu (wahai Muhammad) terhadap orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipatuhinya, dan ia pula disesatkan oleh Allah kerana diketahuiNya (bahawa ia tetap kufur ingkar), dan dimeteraikan pula atas pendengarannya dan hatinya, serta diadakan lapisan penutup atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya sesudah Allah (menjadikan dia berkeadaan demikian)? Oleh itu, mengapa kamu (wahai orang-orang yang
ingkar) tidak ingat dan insaf?


42.Surah Ash-Shūraá (Verse 15)
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْۖ وَقُلْ آمَنتُ بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِن كِتَابٍۖ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُۖ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۖ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْۖ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُۖ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَاۖ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ


Oleh kerana yang demikian itu, maka serulah (mereka - wahai Muhammad - kepada berugama dengan betul), serta tetap teguhlah engkau menjalankannya sebagaimana yang diperintahkan kepadamu, dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka; sebaliknya katakanlah: "Aku beriman kepada segala Kitab yang diturunkan oleh Allah, dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah jualah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal kami dan bagi kamu amal kamu. Tidaklah patut ada sebarang pertengkaran antara kami dengan kamu (kerana kebenaran telah jelas nyata). Allah akan menghimpunkan kita bersama (pada hari kiamat), dan kepadaNyalah tempat kembali semuanya (untuk dihakimi dan diberi balasan)".


Penciptaan tidak punya wujud sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya sifat sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya nama sendiri jika tidak diberi oleh Allah, tidak punya perbuatan sendiri jika tidak diberi oleh Allah...

Pendek kata jika tidak diberikan oleh Allah manusia itu tidak ada..
Jadi semuanya adakah kepunyaan pemberi atau kepunyaan penerima?....
Penerima tidak akan memiliki apa-apa, jika tidak diberi oleh pemberi...
Jadi dalam perkara ini sipenerima jangan nak merampas hak pemberi..
Semua apa yang ada pada penerima kesemuanya adalah hak mutlak pemberi sendiri bukan hak milik penerima..

Mesti dikembalikan sekarang ini juga, jika tidak dikembalikan dan rasa memiliki hak pemberi sebagai hak milik sendiri, inilah membawa makna sipenerima telah menjadikan dirinya sebagai pemilik mutlak (merampas hak pemberi)....

Dengan merasakan hak pemberi sebagai hak penerima sendiri, secara tidak disedari Sipenerima telah melantik dirinya yang disangka memiliki (ujud, sifat, nama dan perbuatan) sendiri sebagai tuhan selain dari Allah ...

Kerana sebenarnya ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia dan selain itu kesemuanya diberikan oleh Allah...... Dalam ertikata lain Allah sedang menunjukkan Ujud, sifat, asma' dan afa'alNya

Jadi kesemua apa yang ada pada manusia dan selain dari Allah adalah milik mutlak Allah bukan milik sebenar manusia dan selain dari Allah...

Salahkah kita mengakui segala ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia itu adalah milik Allah sendiri bukan milik manusia itu sendiri kerana jika Allah tidak memberi manusia tidak ada apa-apa.....

Masihkah kita tidak mahu mengakui bahawa manusia dan selain dari Allah itu kesemuanya adalah milik Allah, manusia dan sekalian Alam ini tidak ada apa-apa jika tidak diberikan oleh Allah sendiri...

Adakah manusia dan makluk lain itu ada dengan sendiri tanpa bergantung kepada wujud, sifat, asma' dan perbuatan Allah sendiri?

Kalau semuanya bergantung kepada Allah, kenapa kita masih tidak mahu mengaku kesemua itu milik Allah sendiri?

Masihkah kita mahu mengingkari bahawa ujud, sifat, nama dan perbuatan manusia semuanya adalah milik Allah...?



Manusia dan selain dari Allah tidak ada apa-apa, semuanya adalah milik Allah sendiri...

Ahad, 8 Jun 2014

Larangan Allah

Larangan Allah
Jangan sekutukan Allah dengan sesuatu
Jangan jadikan hawa nafsu sebagai tuhan
Jangan katakan aku tuhan selain dari Allah

6.Surah Al-'An`ām (Verse 19)
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةًۖ قُلِ اللَّهُۖ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْۚ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ وَمَن بَلَغَۚ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَىٰۚ قُل لَّا أَشْهَدُۚ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ

Bertanyalah (wahai Muhammad): "Apakah sesuatu yang lebih besar persaksiannya?"
(Bagi menjawabnya) katakanlah: "Allah menjadi Saksi antaraku dengan kamu, dan diwahyukan kepadaku Al-Quran ini, supaya aku memberi amaran dengannya kepada kamu dan juga (kepada) sesiapa yang telah sampai kepadanya seruan Al-Quran itu. Adakah kamu sungguh-sungguh mengakui bahawa ada beberapa tuhan yang lain bersama-sama Allah?"

Katakanlah: 
"Aku tidak mengakuinya". Katakanlah lagi: "Hanyasanya Dia lah sahaja Tuhan Yang Maha Esa, dan sesungguhnya aku adalah berlepas diri apa yang kamu sekutukan (dengan Allah Azza Wa Jalla)".

ADAKAH SELAIN DARI ALLAH YANG BERSIFAT DENGAN SIFAT-SIFAT TUHAN (ALLAH)...

HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT DENGAN SIFAT TUHAN..

DICIPTAKAN SEGALA MAKHLOK DARI TIADA KEPADA ADA, DAN PADA CIPTAAN MAKHLOK DINYATAKAN SEGALA SIFAT-SIFAT TUHAN UNTUK MENYATAKAN ALLAH SEBAGAI TUHAN,

KENYATAAN SIFAT KETUHANAN KEPADA MAKHLOK ADALAH UNTUK MENJADI BUKTI DAN TANDA-TANDA KEESAAN ALLAH, UNTUK MENYATAKAN SIFAT ALLAH, BUKAN UNTUK DISEKUTUKAN DENGAN ALLAH..

SETELAH DINYATAKAN SEGALA SIFAT KETUHANAN KEPADA MAKHLOK, SIFAT-SIFAT KETUHANAN ITU BUKANLAH SIFAT-SIFAT MAKHLOK YANG DICIPTAKAN ITU TETAPI SIFAT KETUHANAN YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ADALAH UNTUK MENJADI BUKTI ATAU TANDA ATAU AYAT-AYAT YANG SEDANG MENERANGKAN TENTANG KEESAAN ALLAH BUKAN UNTUK DIJADIKAN SEKUTU KEPADA ALLAH

(MAKSUDNYA SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ITU TETAP SIFAT ALLAH, BUKAN BERTUKAR MENJADI SIFAT MAKHLOK, KERANA ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN SEGALA SESUATU CIPTAANNYA..

MAKNANYA SETELAH DICIPTAKAN MAKHLOK DARI TIADA KEPADA ADA, MAKHLOK TETAP BERSIFAT DENGAN SIFAT ASLINYA IAITU TIADA, MATI, BODOH, LEMAH, BENCI, BUTA, TULI, BISU DAN LAIN-LAIN..

KERANA SEGALA SIFAT KETUHANAN YANG DIZAHIRKAN KEPADA MAKHLOK ITU ADALAH SIFAT-SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK UNTUK MENYATAKAN SIFAT ALLAH BUKAN UNTUK DISEKUTUKAN DENGAN ALLAH (BUKAN UNTUK DIMILIKI OLEH MAKHLOK)..

JADI SIFAT ALLAH TETAP DENGAN SIFAT ALLAH WALAUPUN DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK KERANA DINYATAKAN SEGALA SIFAT-SIFAT ALLAH KEPADA MAKHLOK SEBAGAI TANDA DAN KENYATAAN KENYATAAN SIFAT-SIFAT ALLAH... BUKAN MENJADI SIFAT MAKHLOK ITU SENDIRI (BUKAN UNTUK MENJADI SEKUTU KEPADA ALLAH)
JIKA KITA BERPEGANG SETELAH DINYATAKAN SIFAT ALLAH KEPADA MAKHLOK, SIFAT-SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN KEPADA MAKHLOK ITU MENJADI SIFAT MAKHLOK SECARA TIDAK DISEDARI (TERAMAT TERSEMBUNYI) KITA TELAH SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK CIPTAANNYA..

MERASAKAN ADA MAKHLOK DISAMPING ADA ALLAH SEBENARNYA SEDANG SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK..

OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA MAKHLOK, SEGALA SIFAT TUHAN YANG SEDANG DIRASA AKAN DIRASAKAN SEBAGAI SIFAT DIRI SENDIRI...

DIDALAM ILMU TAUHID MENGATAKAN ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN SESUATU SELAIN DARI ALLAH...

OLEH KERANA KITA SEDANG MERASAKAN SIFAT ADA ALLAH (YANG SEDANG DINYATAKAN UNTUK MEMBUKTIKAN SIFAT ADA ALLAH), SEBAGAI SIFAT ADA DIRI SENDIRI

SECARA AUTOMATIK AKAN TIMBUL DIDALAM AKAL FIKIRAN DAN RASA PERASAAN KITA SESIAPA YANG BERPEGANG ADA YANG TERNYATA KEPADA DIRI ADALAH ADA ALLAH YANG SEDANG DINYATAKAN SEBAGAI BUKTI KEESAAN ALLAH TELAH MENYENGUTUKAN ALLAH DENGAN DIRI SENDIRI, TELAH MENJADIKAN DIRI SENDIRI SEBAGAI TUHAN SELAIN DARI ALLAH... 

AKAN TIMBUL DIDALAM RASA DIRI ORANG YANG SEDANG MENGAKU SIFAT ALLAH ADALAH SIFAT ALLAH TELAH SEKUTUKAN ALLAH DENGAN MAKHLOK KERANA SEDANG MERASAKAN ADA MAKHLOK, DIDALAM ILMU TELAH MENJELASKAN BAHAWA ALLAH TIDAK BOLEH DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLOK.

OLEH KERANA SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH YANG SEDANG DINYATAKAN SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI DAN ADA MAKHLOK MAKA SECARA TIDAK DISEDARI /AUTOMATIK AKAN TIMBUL ANGGAPAN SYIRIK KEPADA SESIAPA YANG BERPEGANG SIFAT ALLAH YANG DINYATAKAN SEBAGAI SIFAT ALLAH SENDIRI... INI BERLAKU KERANA SEDANG MERASA ADA DIRI SENDIRI DISAMPING ADA ALLAH....

SEBENARNYA SESIAPA YANG SEDANG MERASAKAN ADA DIRI SENDIRI DISAMPING ADA ALLAH YANG SEDANG MENYENKUTUKAN ALLAH DENGAN DIRINYA KERANA SEBENARNYA ADA YANG DINYATAKAN PADA DIRI ITU ADALAH KENYATAAN ADA ALLAH YANG SEDANG MEMBUKTIKAN ADA ALLAH, BUKAN ADA DIRI SENDIRI...

ORANG YANG MENJADIKAN BUKTI ADA ALLAH SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI SEBENARNYA SEDANG SEKUTUKAN ALLAH DENGAN DIRI SENDIRI YANG TELAH DIANGGAP ADA...

KEPADA MEREKA YANG TETAP BERPEGANG HANYA ALLAH SAHAJA YANG BERSIFAT ADA KERANA SIFAT ADA YANG TERNYATA KEPADA MAKHLOK ADALAH KENYATAAN YANG SEDANG MENYATAKAN ADA ALLAH, BUKAN ADA DIRI SENDIRI DAN BUKAN ADA SELAIN DARI ALLAH...

HAL INI TERAMAT SULIT UNTUK DIFAHAMI KERANA WAJIB BERPERANG DENGAN SIFAT KEAKUAN DIRI SENDIRI (HAWA NAFSU) KERANA SEDANG MENGANGGAP ADA ALLAH ADALAH ADA DIRINYA SENDIRI, ADA ALLAH ADALAH ADA SELAIN DARI ALLAH...

SELAGI TIDAK BOLEH MELEPASKAN RASA PERASAAN YANG SEDANG MERASAKAN ADA ALLAH SEBAGAI ADA DIRI SENDIRI SELAGI ITU TETAP BERADA DIDALAM KEADAAN SYIRIK SAMPAI BILA-BILA...

Sabtu, 12 April 2014

Inilah Zaman Ketika Otak Menjadi Tuhan?

Inilah Zaman Ketika Otak Menjadi Tuhan?
Suatu ketika di malam yang penuh dengan prihatin memikirkan umat, tiba-tiba Rasulullah Saw mendapatkan wahyu surat Ali ‘Imran [3] 190 -191 yang berbunyi :
"Inna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari laaayaatin li-ulii al-albaabi"
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,
"Alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari"
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Setelah mendapat wahyu ini seketika Rasulullah tidak kuat menahan tangisan sampai subuh, sehingga pada saat itu berkumpullah jamaah-jamaah menunggu untuk di imami Rasulullah Saw, akan tetapi Sang Terkasih tidak kunjung hadir, akhirnya sahabat Billal berkunjung kerumah Beliau Rasulullah Saw, saat Billal mengucapkan salam, dengan menjawab salam Billal tiba-tiba Sang Terkasih dengan suara paruh dan mata sembab seketika itu sahabat Billal bertanya kepada Baginda Rasul:
Ada apa wahai baginda Rasul? Tanya sahabat Billal
Celakah-celakalah wahai sahabat Billal orang yang membaca ayat ini tapi tidak mau berfikir tentang ayat ini!
Wahai saudara-saudaraku…
Dengan adanya wahyu yang barusan turun mari kita berfikir akan datang dimana umat itu tidak menemukan Tuhan akan ada zaman lebih dahsyat daripada zaman jahiliyah dimana pada saat itu orang-orang menyembah patung-patung yang diciptakan yang diletakkan disekeliling ka’bah, akan tetapi pada zaman itu lebih parah karena manusia akan menyembah pikiran dan otaknya.
Afala tatafakkarun….
Kenyataan ilmu pengetahuan sudah merambah kehidupan masyarakat baik itu ilmu agama ataupun umum. Banyak anak bangsa ini yang handal dan pandai, serta mempunyai title SARJANA sampai DOKTOR dan juga banyak anak bangsa yang diakui keilmuannya sampai keluar negeri, pendidikan dimana-mana maju dengan pesatnya sehingga tak ada orang yang tak terpelajar, HEBAT..!!!
Tapi kenyataannya semuanya tidak mampu untuk mewujudkan karakter bangsa sehingga semakin banyak ilmu dan kepandaian, semakin diagung-agungkan dan bangga dengan ilmunya, akhirnya jatuh dalam lubang pengakuan merasa mampu, merasa alim, merasa pandai, sehingga semakin pandai semakin merasa inilah “aku”!
Inilah yang akan muncul dan mungkin diri kita memotori bahwa munculnya otak akan disembah bagaikan Tuhan, walaupun lisan mengatakan Tuhanku adalah Allah, akan tetapi kenyataannya bangga dengan pikirannya, bangga dengan penemuannya bahkan dengan otaknya dia mengatakan seperti Fir’aun mengaku menjadi Tuhan.
Maka terjadi ketika Fir’aun hanya menggunakan akal dan pikiran tidak menggunakan hati yang suci, nikmat yang diberikan oleh Allah di “aku” 100% sehingga dia mengatakan “Ana Robbukumul A’la” (aku adalah Tuhanmu yang tertinggi), inilah kejahatan rohani bila kita lupa dengan kebersihan jiwa sehingga otak dipertuhankan, akhirnya manusia berani mengaku sebagai tuhan!
Inilah ayat menggunakan pikiran dan otak yang mampu untuk mengangkat jiwa sehingga jiwa sadar karena otak mampu bertafakkur terjadinya alam, tapi dengan adanya fenomena ini bagaimana ketika kita mendewa-dewakan otak, manusia akan semakin jahat karena tidak ada kolaborasi antara jiwa yang suci dengan otak dan pikiran.
Manusia mengaku sebagai “Sang Pencipta”, penemuan-penemuannya, orang mengaku dirinya mampu melakukan aktivitas padahal semua itu datang dari Allah (LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH) .
Apakah kita tidak menggunakan pikiran? artinya pikiran yang mampu menembus ke cakrawala batin sehingga manusia mengenal gerak-geriknya, apapun yang dilakukan semuanya bukan milik kita karena kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa karena asalnya tiada dan diadakan menjadi makhluk.
“Qul kullum min 'indillah (Katakanlah : "Semuanya datang dari sisi Allah")” An Nisa' [4]: 78
Maka fenomena alam terjadi di zaman ini banyak manusia termasuk mungkin diri kita menyembah otak kita, menyembah pikiran kita, menyembah penemuan-penemuan kita, tidak ada bedanya dengan zaman jahiliyah, ketika manusia menemukan bentuk patung-patung sesuai dengan imajinasinya saat itu patung yang diciptakan disembah oleh umat jahiliyah akan tetapi sekarang bukan menyembah patung akan tetapi menyembah ciptaan itu sendiri, di “aku” bahkan manusia lebih parah menyembah otak dan pikirannya sendiri.
Posisi kita dimana? Sedangkan Allah mengatakan gunakan otak dan pikiranmu untuk menemukan “AKU” Sang Pencipta, tapi sekarang kita berbalik menggunakan otak dan pikirannya untuk dijadikan Tuhan!
Alangkah biadabnya pikiran manusia termasuk diri saya ini, ketika diberi kepandaian, ilmu pengetahuan dan teknologi diberi oleh Allah luar biasa bagaikan hujan turun dari langit yang tiada henti-hentinya manusia tidak semakin dekat dengan Tuhan akan tetapi manusia semakin dekat dengan otak dan pikirannya, akhirnya disembah, disanjung, seakan-akan Tuhan ada di otak kepalanya, ada didalam tempurung kepalanya.
Turunkan ke hati wahai diri kami dan saudara-saudaraku…
Temui Tuhanmu dengan menggunakan hatimu bukan akal pikiranmu...
“Yawma laa yanfa'u maalun walaa banuuna, illaa man ataa allaaha biqalbin saliimin (Asy-Syu'araa [26] : 88 -89)
Dihari itu ketika kita akan menemui sakaratul maut yang hanya satu kali itu tiada yang manfaat, anak-anak kita dan dunia-dunia kita bahkan juga pikiran-pikiran kita bahkan juga aktivitas kita saat itu yang berlaku adalah melainkan orang sowan kepada Allah, yang sowan ini bukan otak dan pikiran akan tetapi hati, jiwa dengan hati yang bersih dan selamat!
Sedangkan kita menghadap kepada Allah masih merasa dan mengandalkan selainNYA!
Bagaimana posisi kita saat ini?
Maka besihkan dari anasir-anasir (nafsu) otak dan pikiran kita, begitupula kita yang hanya menggunakan otak dan pikiran kita, “Lillah Billah” akan menjadi wacana sehingga berbahaya karena hanya mengerti akan tetapi tidak mampu untuk mengetrapkan, tidak bisa merubah akhlaqul karimah dalam surah Ash Shaaf:
Kabura maqtan 'inda allaahi an taquuluu maa laa taf'aluuna (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan) (QS – Ash Shaff [61] : 2)
Bagaimana posisi kita?
Maka leburkanlah, tenggelamkanlah, karena semua milik Allah dan kita harus sadar bahwa diri kita bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, inilah yang kami maksud sadar bahwa diri kita NOL, karena NOL bukan ajaran akan tetapi kesadaran jiwa tidak memiliki perasaan dan kemampuan, karena Illa Billah miliknya Allah!
Untuk teman-temanku yang terkasih di Alam Hikmah, inilah selayang pandang perjalanan anak manusia dengan akal, otak dan pikirannya! Bahaya ketika otak tidak berkolaborasi dengan jiwa yang suci.
Otak kita bisa menyelamatkan hati apa belum?
Otak kita bisa berkolaborasi dengan hati belum?
Apa hati kita justru terpengaruh?
Sehingga hati kita malah menyembah otak, menyembah pikiran, tidak kenal kepada Sang Pencipta!
Silahkan otak dikembangkan akan tetapi hati jangan pernah dilupakan!
”Apabila segumpal daging itu baik maka baik semuanya dan apabila segumpal daging itu jahat maka jahat semuanya dan ketauhilah itulah hati!”
Bagaimana dengan hadist ini? dan bagaimana dengan upaya kita? apakah lupa bahwa ini pesan Rasulullah?
Ingat wahai saudaraku...!!!
Baik dan jeleknya manusia bukan dari otaknya akan tetapi dari hatinya, sedangkan otak dan pikiran yang dikuasai hati akan membantu manusia menjadi INTELEKTUAL WALI dan WALI YANG INTELEKTUAL yang sadar kepada Allah.
Akan tetapi ketika hati telah dikuasai otak dan pikiran maka akan muncul intelektual-intelektual yang melupakan Tuhannya walaupun lisan mengatakan aku menyembah Tuhan akan tetapi jiwa menyembah akal pikirannya!
Catatan perjalanan ”Si Fakir” yang hina

Khamis, 10 April 2014

TUHAN KAMI IALAH ALLAH

TUHAN KAMI IALAH ALLAH

41.Surah Fuşşilat (Verse 30)


إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ


Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): "Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya kejadian yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu.

41.Surah Fuşşilat (Verse 31)


نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ


"Kamilah penolong-penolong kamu dalam kehidupan dunia dan pada hari akhirat; dan kamu akan beroleh - pada hari akhirat - apa yang diingini oleh nafsu kamu, serta kamu akan beroleh - pada hari itu - apa yang kamu cita-citakan mendapatnya.

41.Surah Fuşşilat (Verse 32)


نُزُلًا مِّنْ غَفُورٍ رَّحِيمٍ


"(Pemberian-pemberian yang serba mewah itu) sebagai sambutan penghormatan dari Allah Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani!"

41.Surah Fuşşilat (Verse 33)


وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


Dan tidak ada yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada (mengesakan dan mematuhi perintah) Allah, serta ia sendiri mengerjakan amal yang soleh, sambil berkata: "Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang Islam (yang berserah bulat-bulat kepada Allah)!"

41.Surah Fuşşilat (Verse 34)


وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ


Dan tidaklah sama (kesannya dan hukumnya) perbuatan yang baik dan perbuatan yang jahat. Tolaklah (kejahatan yang ditujukan kepadamu) dengan cara yang lebih baik; apabila engkau berlaku demikian maka orang yang menaruh rasa permusuhan terhadapmu, dengan serta merta akan menjadi seolah-olah seorang sahabat karib.

41.Surah Fuşşilat (Verse 35)


وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ


Dan sifat yang terpuji ini tidak dapat diterima dan diamalkan melainkan 

oleh orang-orang yang bersikap sabar, dan tidak juga dapat diterima dan diamalkan melainkan oleh orang yang mempunyai bahagian yang besar dari kebahagiaan dunia dan akhirat.


41.Surah Fuşşilat (Verse 36)


وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِۖ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika engkau dihasut oleh sesuatu hasutan dari Syaitan, maka hendaklah engkau meminta perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia lah yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

41.Surah Fuşşilat (Verse 37)


وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ


Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah malam dan siang, serta matahari dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari dan janganlah pula sujud kepada bulan, dan sebaliknya hendaklah kamu sujud kepada Allah yang menciptakannya, kalau betulah kamu hanya beribadat kepada Allah.